Kamis, 16 Januari 2020

"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA

Akhirnya sambalbawang memberanikan diri merambah ke ranah musik. Berbalut nekat dan percaya diri. Belum berani ngomong soal skil, sih, maklum masih berstatus “newbi”, pakai banget lagi.

Memang beneran masuk dapur rekaman, meski tak sebagai frontman alias bukan jadi tukang vokalis. Bukan juga sebagai musisi. Cuma sebatas jadi penulis lagu. Menuju studio rekaman pun hanya berbekal lagu, gambaran lagunya mau gimana, ditambah sapa, senyum, dan banyak bertanya dari ujung ke ujung. Begitulah, dan yang penting akhirnya jreeng... lahirlah single bertitel “Mama” yang dinyanyikan Paulina, teman sambalbawang di Balikpapan. Klipnya udah dirilis per 1 Desember 2019 lalu, lho, di youtube.

Mengapa akhirnya rekaman, memang terpantik kondisi tak sengaja meski ada juga sih, unsur sengajanya. Beranjak dari pengalaman yang menyesakkan, yakni kehilangan mama, ibu tersayang, awal Agustus 2019 lalu, sambalbawang ingin memberikan hadiah untuknya. Sebuah lagu yang juga menyematkan foto sosok istimewa ini dalam klipnya. Oh ya, sebelum lanjut baca tulisan, ini lagunya di youtube. Langsung di klik, aja. Bisa banget sembari ikut nyanyi karena ada liriknya. 



Keinginan 'tuk bikin lagu sekaligus bikin klipnya, sebetulnya sudah jadi bahan obrolan sambalbawang bersama Paulina selama beberapa bulan. “Mama” sebenarnya malah bukan lagu utama yang ingin direkam lebih dulu. 

Namun seiring ada momentum, dan juga (waktu itu) sebentar lagi Hari Ibu 22 Desember 2019, kayaknya bakalan apik dan pas jika lagu Mama muncul duluan. Oke. Maka disusunlah rencana, dan berangkatlah menuju Algaris, salah satu studio rekaman di Kota Balikpapan tercinta ini. Sekaligus juga ngobrol untuk bikin klipnya. 

Urusan musik serahkan ke Algaris, agar cepat digarap, segera kelar, dan juga karena lagu diputuskan hanya pakai iringan kibor. Rencana awal sih, pakai gitar bolong, hehe. Sudah jua sambalbawang bersiap dengan gitar dan sudah menumpuk pedenya. Cuma, akhirnya batal, karena merasa kok agak-agak kurang cocok jika gitar ikut mengisi musik. Oke, akhirnya pakai kibor doang.

Enggak punya pengalaman berurusan sama rekaman, sambalbawang ya main intuisi dan tanya sana-sini. Soal "jalan cerita" dan "larinya" lagu inginnya bagaimana, langsung diskusi sama anak-anak Algaris. Musik akhirnya selesai, dan selanjutnya adalah take vokal. Ternyata, ini bagian terakhir dalam proses rekaman. Lumayan menguras tenaga dan waktu, karena butuh berjam-jam, bahkan sampai lewat tengah malam baru kelar. Besoknya badan langsung meriang. 

Setelah take vokal selesai, urusan berpindah ke penggarapan klip. Bikin klip lagu ternyata yang paling lama prosesnya. Apalagi enggak punya pengalaman bikin klip. Kendala mulai muncul. Materi klip pertama, dirasa enggak cocok. Setelah ganti konsep, akhirnya sambalbawang dan Pau—panggilan Paulina—sepakat mengangkat topik kawan-kawan yang mengekspresikan diri bersama ibu atau mendiang ibu mereka.

Langkah selanjutnya, segera mengontak teman-teman. Hampir 30 orang yang dikabari dan diajak berpartisipasi. Dari yang remaja, dewasa, bapak-ibu muda, pelajar, mahasiswa, sampai yang sudah 50-an tahun. Ada yang bawa foto dan mau ke studio untuk diambil klipnya, tapi ada juga yang memilih mengirim foto seperti kawan di Bandung, Magelang, dan Bengkulu.

Ada juga yang bawa balita dan bayinya. Semua kalangan mama, masuk, jadinya. Gado-gado-lah, komposisinya, tapi yang penting adalah semangatnya. Mereka juga punya cerita masing-masing terkait kedekatan dengan sosok ibu. Ah. Klip "Mama" akan jadi dokumentasi unik pula bagi mereka.

Syuting memilih tiga lokasi, yakni studio Algaris, Mangrove Center Balikpapan, dan Son’s Coffee Balikpapan. Asyiknya lagi, di hari syuting, teman baik asal Gresik, sedang piknik ke Balikpapan. Langsung sambalbawang angkut ke lokasi syuting. Ini dia foto bareng-bareng di sela-sela syuting di kawasan bakau Mangrove Center. 

Ternyata syuting untuk klip, enggak mudah, dan lumayan lama. Baru tahu juga kalau saat syuting, memakai opsi lagu dipercepat--kayak suara chipmunk--sehingga si talent--vokalis--mesti bekerja keras menyesuaikan. Untung deh, sambalbawang bukan yang jadi vokalis. Slamet, slamet. 

Setelah lagu selesai, segera didaftarkan ke platform Netrilis, dan akhirnya tayang (antara lain) di Spotify, Oktober lalu. Selang dua pekan, atau  1 Desember 2019, barulah klip diunggah ke yutub. Hehe, jadi lumayan paham bagaimana kronologis mendaftarkan lagu agar setidaknya punya “hak cipta” penanda orisinalitas lagu. 

Sambalbawang tak lupa memasukkan lagu Mama ke Smartfm, salah satu radio di Balikpapan, untuk diputar. Dengerin lagu sendiri, di radio, itu sesuatu bingits. Setidaknya itu diamini mereka yang pernah melewati masa muda di zaman jaya radio. Meski cara menikmatinya sekarang agak beda karena enggak pakai radio, tapi streaming. 

Sampai pertengahan Januari 2020 ini, klip "Mama" sudah membukukan sekitar 1.600 views. Lumayan (banget) untuk sebuah proyek awal. Senengnya. Eh.... sebentar... tadi ngomong apa? Proyek awal? Hmm... apa maksudnya? Ehehe, iya, bleh… karena ada lagi proyek lagu lainnya. Tunggu tanggal mainnya yaks. Yang sabar menanti, dan selalu pantau kanan-kiri biar enggak ketinggalan info.

Orait, kita kembali ke lagu. Mama sebenarnya bercikal bakal lagu lawas yang sambalbawang tulis tahun 2000 lalu. Buset dah, lamanya. Itu mah jaman sambalbawang masih kuliah dan pas kurus-kurusnya. Hehe. Jadi ceritanya gini. Sambalbawang dulu emang suka bikin lagu, salah satunya berjudul “Dikau”. Bukti fisik—print lirik lagu—bahkan masih sambalbawang simpan, lho. 

Tapi entah kenapa, selalu enggak puas sama lirik dan beberapa nada di lagu Dikau yang (sepertinya) bergenre pop menuju rock dan bernuansa love-love itu. Sempat ganti ke topik lingkungan, masih juga enggak nemu nada yang pas. Bingung juga nih, lagu kayak ngajak "berantem", apa maunya coba?

Akhirnya lagu perlahan-lahan mengendap sampai lumutan, menguap, dan nyaris terlupa. Tapi untunglah sambalbawang masih sesekali menyanyikan nadanya sembari gitaran, sehingga tidak lupa-lupa amat. Namanya juga lagu sendiri, kan, walau belum jadi tetep juga di genjrang-genjreng kalau keinget. 

Begitulah. Hingga momentum kehilangan ibu, sepertinya saat yang tepat untuk "memanggil" lagu yang separuh jadi itu. PR pertama adalah lirik. Sambalbawang coba mengubah liriknya ke topik tentang ibu. Eh ternyata langsung dapet lirik dan lagu segera jadi dalam beberapa hari. Tempo lagu lantas disesuaikan, sehingga jadi lebih lambat dari tempo lagu awal (Dikau). Jadilah lagu "Mama" yang simpel dengan lirik yang sederhana. Sebagian lirik lagu adalah penggalan doa sambalbawang untuk ibu. 

Capek, puas, aneh, asyik, dan amazing. Begitu gambaran gimana rasanya setelah merampungkan lagu. Tak hanya jadi lagu, sambalbawang juga dapat ilmu, wawasan, dan pengalaman-pengalaman baru. Orang biasa pun bisa punya lagu. Era sekarang benar-benar memudahkan orang awam kayak sambalbawang yang bukan musisi ini, untuk bersentuhan dengan musik, juga hal terkait lain, semisal klip lagu. Mereka yang punya hobi menyanyi, bisa menyanyi, dan punya mimpi, semakin punya akses mudah. 

Bagi Paulina, yang punya warna suara sopran ini, sang ibu--di Flores--adalah sosok idolanya. Dan tentang masuk dapur rekaman, juga menjadi pengalaman pertama. Pau, begitu dia sering dipanggil, sudah beberapa kali ikut audisi menyanyi sehingga urusan menyanyi memang bukan hal baru. 

Merampungkan rekaman, beberapa waktu lalu masih jauh dari bayangan. Mendadak jadi mengingat zaman dulu. Gimana ya 20 tahun lalu, jika sambalbawang beneran masuk dapur rekaman. Kala itu, sih ya punya band. Setidaknya pernah di tiga band, yang semuanya belum pernah melangkah lebih jauh. Lha wong cuma band "ceria" beranggotakan tetangga, dan teman main. Dulu lumayan sering main di studio musik kecil, dekat rumah, yang begitu jendela dibuka, bisa lihat sawah dan bapak ibu tani. 

Cerita-cerita soal studio musik zaman dulu, dan apa proyek sesudah lagu Mama, kita simpan untuk bahan tulisan artikel-artikel berikut. Kebanyakan sih, kalau dituang di tulisan satu ini, karena jadi panjang bukan kepalang, dan mungkin bakalan capek bacanya. Tenang, masih banyak artikel topik terkait musik segera menyusul. Termasuk event live musik 22 Desember lalu, dan cerita-cerita di baliknya, juga ada apa sesudahnya. Pokoknya seru.

Balik lagi ke topik lagu. "Mama" juga sambalbalbawang dedikasikan untuk semua ibu di muka bumi yang berjuang demi anak-anaknya. Ibu adalah harta bagi anak. Berbahagialah mereka yang ibunya masih hidup. Masih bisa ditemui, dipeluk, dan diantar ke mana-mana. Sayangilah ibu kita masing-masing, dengan segenap hati. Jangan pernah bikin ibu kita menangis sedih, kecewa, dan terluka.  

Sebelum menutup tulisan di blog, ini lirik lagu Mama :
“Mama, mawar terindah. Cantik mewangi, mewarnai hari-hari. Mama, rembulan sendu. Slalu memberi, tak mengharap tuk diberi. Mama, ingatkan aku. Bila salah melangkah, dan bila salah bertutur. Mama, peluk tubuhku. Kala batin terempas, tak tahu harus bagaimana. Kurindu belaimu. Redakan sedihku, tangis, luka, dan marahku. Kurindu senyummu. Tenangkan resahku, kecewa, sakit hatiku. Mama, ajari aku selembut hatimu, seteduh tatap matamu. Mama, berikan doamu. Restu dan maafmu. Ku kan baik-baik saja”.


Link Spotify Lagu MAMA: https://open.spotify.com/track/6mFoafcffNxOInrxqi8DMM?si=hkr0VyhMSGChaE70RvI4eg

Love you mom… ibuku, mamaku tersayang, Anastasia Yuwiyati..


Kamis, 12 Desember 2019

NGOBROL BARENG MPR SOAL EMPAT PILAR, NETIZEN BALIKPAPAN BERI CATATAN

Mudah menuliskan ini : Pancasila, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika. Bagaimana menjalaninya? Jujur saja, semakin ke sini, semakin banyak orang kurang peduli.

Majelis Permusyawaran Rakyat (MPR) menyematkan keempatnya sebagai “Empat Pilar MPR”. Menggetarkan. Sejenak terbayang lembaga Negara yang anggotanya 711 orang, gabungan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI ditambah anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) ini, pasti militan mengusung empat pilar tersebut.

Jadi, ketika MPR menghelat gathering bareng netizen Balikpapan, sepertinya bakal menarik. Maka berangkatlah saya ke acara yang diadakan di Quartz Office Tower Aston Balikpapan, Sabtu 7 Desember 2019 lalu.

Gathering Netizen MPR adalah ajang ngobrol bareng untuk memberi masukan dalam menyebarluaskan informasi lewat medsos tentang kelembagaan MPR. Tentulah itu juga tentang menyuarakan empat pilar. Secara garis besar, MPR mengajak netizen menyebarkan konten positif di medsos.

 “Empat Pilar ini, ibarat topik yang amat seksi sebagai bahan diskusi. Seperti gadis manis pujaan hati yang berjalan lewat di depan mata. Mau diajak omong, kok masih malu. Enggak dibahas, dan dia akan berlalu,” begitu kira-kira isi benak saya.

Oke, kembali ke Empat Pilar. Masih hangat di ingatan-dan sebagian masih terjadi-banyak peristiwa yang benar-benar “menampar” empat pilar itu. Yuk direntang beberapa kejadian: Pilkada Jakarta 2017, Pilpres 2019, perusakan tempat ibadah, pembubaran kegiatan budaya, hingga sejumlah insiden berbau intoleransi dan radikal yang sepertinya diberi “angin”. Hoax dan fitnah ibarat menjadi “menu” yang tak henti berseliweran. Belum poster di sana-sini yang kentara menyakiti keyakinan orang.

Satu kata untuk menggambarkan: ngeri. Banyak pihak telah menghadang kengerian itu, baik di jagad nyata maupun maya. Termasuk MPR.  Pertanyaan yang kemudian terlintas di benak adalah, seberapa militankah MPR, termasuk anggotanya, merealisasikan Empat Pilar itu?

Rasa-rasanya saya belum pernah, atau mungkin jarang melihat, mendengar atau membaca MPR—secara kelembagaan dan perorangan—ikut berada di jajaran terdepan melantangkan Empat Pilar dalam statemen terbuka saat sekian peristiwa di atas terjadi.

Semoga sih, saya salah. Tapi jujur saja, masyarakat, termasuk saya masih agak susah percaya. Sebab, kenyataan, sejumlah anggota DPR RI—yang juga adalah anggota MPR-- cukup sering jadi bahan pembicaraan netizen gegara sikap dan postingannya tidak mencerminkan Empat Pilar.

Menurut saya, yang tak kenal lelah alias militan meneriakkan Empat Pilar di ranah maya dan nyata, malah bukan anggota MPR. Mereka ini aktif dan kreatif mengunggah konten di medsos semacam fesbuk, instagram, twitter, hingga youtube.

Terus pertanyaannya, ke mana, ya, MPR?  Saya sudah bertanya ke banyak kawan yang juga pegiat medsos soal Empat Pilar itu. Khususnya lagi, apakah cukup familiar melihat MPR menyuarakan atau belum. Dan jawabannya adalah mata-mata yang malah menerawang. Sepertinya belum, kata mereka. Mencoba mengingat-ingat lagi, tapi tetap jua enggak ketemu. Meski di sisi lain mereka cukup yakin jika MPR pasti sudah sering menggaungkan keempat pilar tersebut.

Tanpa mengurangi respek dan hormat, sebagai warga Negara, saya lantas penasaran juga apakah Empat Pilar itu sudah dilakukan secara apik di lingkup internal? Bagaimana pengawasan internal MPR? Apakah anggotanya sudah cukup militan menyuarakan empat pilar? Apakah ada pengawasan ke para anggota MPR, terkait postingan mereka di medsos dan pergerakannya di alam nyata?

Saya akhirnya punya kesempatan bertanya, waktu gathering akhir pekan lalu itu. Kepala Biro Humas MPR Siti Fauziah yang menjawab.

“Seperti kata pepatah, dalam hati tidak bisa diukur. MPR berusaha keras menanamkan nilai-nilai luhur. Apakah semua anggota MPR tidak ada yang nyeleneh, kita (MPR) juga tidak bisa menjamin. Kita tetap memantau kegiatan (anggota) dan konten-kontennya (medsos), namun tidak semua kita buka kontennya. Tapi (pertanyaan) ini masukan yang baik,” kata Siti.

Sebuah jawaban yang belum memuaskan.  Meski di sisi lain Siti menekankan bahwa MPR sudah berkomitpen penuh. MPR punya banyak aktivitas, khususnya di ranah dunia nyata, untuk menyosialisasikan keempat pilar tersebut. Antara lain lomba cerdas cermat, acara seni  budaya, hingga acara ngobrol bareng netizen seperti di Balikpapan. Acara gathering bareng netizen di daerah-daerah ini misalnya sudah diawali tahun 2015.

MPR, menurut Siti, ingin warganet juga menyampaikan Empat Pilar tersebut di jagad maya. Meski hanya satu kata dalam postingan, jika itu bisa dilakukan tiap hari, sudah bagus. Para pegiat medsos termasuk bloger dan netizen  punya peran penting.

Ketua Balikpapan Blogger Community Bambang Herlandi juga menekankan, masyarakat perlu melihat MPR mengawasi internal anggota MPR, dan apa postingan mereka di medsos. Sementara Kepala Bagian PDSI Sekretariat Jenderal MPR Slamet berharap mendapat banyak masukan dari warganet.

Sebagian pegiat medsos, termasuk bloger, sudah menggaungkan semangat Empat Pilar itu dengan istilah yang lebih banyak memakai “Pancasila dan NKRI harga mati”. Sebagian juga aktif membagikan tautan berita yang bernuansakan Pancasila dan NKRI harga mati itu. Bahkan “melayani” duel argumen. Mereka-mereka ini yang ikut melecut semangat

Menjaga Pancasila, NKRI, UUD Negara Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika harus dilakukan di ranah maya dan nyata. Tidak cukup juga di ranah maya. Jadi, sambalbawang pun terus menanti MPR untuk “militan” menggaungkan empat pilar.

Kalau nanti-nanti ada lagi insiden intoleran dan radikal, atau yang semacamnya, MPR juga pasti akan bersuara lantang, kan? Jangan juga hanya di ranah maya. Jangan malu-malu atau diam-diam. MPR pasti akan terus menggaungkan kempat pilar itu, sama seperti saya. 


Kamis, 05 Desember 2019

TATAG LANANG, FASHION SHOW TUNGGAL PERTAMA SAMANTHA PROJECT

Salah satu impian terbesar sambalbawang bersama dek bojo dalam mengusung brand “SAMANTHA PROJECT” adalah menggelar fashion show tunggal. Akhirnya pecah telur, kesampaian juga, pertengahan November lalu.

Bukan acara “kaleng-kaleng”, tentu saja, event bertajuk “TATAG LANANG” di Borneo Bay Park Plaza Balikpapan Sabtu 16 November itu. Samantha Project, seperti biasa, mesti tampil unik. Ini gelaran fashion—fashion runway-yang beda dari yang pernah ada di kota ini, disiapkan lama dan matang, serta dieksekusi dengan tim yang solid.

Jadi, Mas Adi Prasetya—uhuk—alias sambalbawang ini, yang adalah “pemain belakang layar” di Samantha Project, ikut menjadi bagian penting dalam rapat berjilid-jilid yang terentang tiga bulan sebelum hari-H.


Bagi sambalbawang, yang jabatan resminya adalah "humas Samantha Project", fashion runway Tatag Lanang mesti beda dari gelaran fashion show di Balikpapan—juga Kaltim. Tatag Lanang mestinya bisa jadi tontonan fashion yang edukatif, fresh, mengasyikkan, dan memberi "warna" baru.

“Tatag” dalam Bahasa Jawa diartikan sebagai karakter pemberani, tidak memiliki rasa was-was. Orang yang “tatag” akan selalu menuntaskan pekerjaan, meski dengan segala keterbatasan dan kesulitan. “Lanang” dalam Bahasa Jawa berarti laki-laki.

Menurut dek bojo, alias Mbak Samantha, Tatag Lanang ini seturut karakter baju-baju desainnya. Artinya ada sebuah kebebasan terkontrol dalam mengekspresikan gaya berpakaian tanpa melupakan bagaimana kita ketika dilahirkan. Ini hak yang semestinya ada dalam memilih gaya busana bagi setiap orang.

Dek bojo ingin menunjukkan bahwa ada semacam “benang merah” karakter maskulin dan feminin yang itu dapat mewujud sekaligus dalam busana “Tatag Lanang”. Ini sejatinya adalah tentang olah rasa fashion dan sudut pandang.

Tidak mudah menggelar fashion show tunggal. “Tatag Lanang” tidak hanya sebatas gelaran fashion, ataupun ajang ekspresi Samantha Project. Tapi ini adalah kerja bareng, yang beranjak dari mimpi besar sekelompok anak muda, untuk ikut memberi warna fashion di Balikpapan.

Ini adalah titik finish dari persiapan selama tiga bulan, yang jauh sebelumnya sudah diawali dengan keinginan bersama. Namun Tatag Lanang juga sekaligus awal dari perjalanan panjang menuju event-event berikutnya yang lebih berwarna.

Ada 20 model yang memeragakan busana Tatag Lanang, seluruhnya laki-laki. Busana-busana berbahan linen, katun, dan lurik tersebut terinspirasi dari busana kimono dan yutaka Jepang. Dia memang banyak terinspirasi oleh busana-busana asal negeri matahari terbit itu.

Tatag Lanang terselenggara atas kerja sama sejumlah pihak, antara lain Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kota Balikpapan, serta Plaza Balikpapan. Ucapan terima kasih juga ditujukan ke grup Angara, yang 20-an menit mengiringi musik selama gelaran Tatag Lanang.

Tatag Lanang dirancang rapi. Ada sesi jumpa pers, kesiapan rilis ke media, hingga aktivitas di medsos oleh tim. Spanduk raksasa pun dibentangkan di lantai. Bertuliskan puluhan aksara Jawa yang melingkar, bertuliskan “Tatag Lanang”.

Tamu-tamu undangan, terutama para pelanggan usaha jahit Samantha, diminta untuk mengenakan baju di Tatag Lanang. Mereka pun berfoto ceria di photo booth. Tamu dan masyarakat, dalam sesi manikin, bisa melihat dari dekat koleksi yang ditampilkan 20 model cowok ini. Ketua Dekranasda Balikpapan Arita Rizal Effendi yang ikut menyaksikan gelaran Tatag Lanang, terkesan.

Samantha Project, usaha dek bojo bersama sambalbawang ini adalah brand fashion di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur yang berbasis usaha jahit rumahan. Beranjak dari pemikiran ingin membuka usaha modiste--jahit busana wanita, namun dengan aktivitas yang beragam. Menjadi penjahit kekinian, itulah semangat awalnya.

Debut dimulai pertengahan tahun 2014. Di masa-masa awal itu, dek bojo memakai nama Modiste Samantha. Nama “Samantha Project” dikenalkan saat mengikuti pameran Pop Up Market di kompleks Mal Balikpapan Baru, Oktober 2015. Sebelum Tatag Lanang digelar, Samantha telah 5 kali mengikuti trunk show.

Tatag Lanang berjalan sukses karena tim yang solid dan “lapar” akan hal-hal baru di kota minyak ini. Okeh, bagaimana dengan tahun depan? Ada deh. Selalu ada hal baru dilakukan Samantha Project. Ganbatte !!

TATAG LANANG
For more photos : instagram : @samanthaproject

visit our website : www.modistesamantha.com
Photos by Samantha's team

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
REPOTNYA "MEMELIHARA" DUA BLOG
BASA WALIKAN
7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
AKU DI BELAKANGMU, TIGER WONG
GATOTKACA TAK HANYA OTOT KAWAT BALUNG WESI
SARADAN
AMPAR-AMPAR PISANG, INI LHO ARTINYA



Senin, 04 November 2019

BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019

Selamat Hari Bloger Nasional 2019 !! Tahun ini merupakan peringatan yang ke-12. Sepertinya enggak ada pesta meriah di sana-sini. Tapi setidaknya di Balikpapan, Kalimantan Timur, hari spesial itu, 27 Oktober, dirayakan sederhana di rooftop Hotel Platinum

Menegaskan juga eksistensi Balikpapan Blogger Community, yang sama-sama menapak di usia ke-12 sebentar lagi. Dan memanggil para anggota komunitas bloger Kota Minyak untuk menyempatkan diri “kumpul hore”.

Hotel bintang empat di Jalan Soekarno-Hatta ini jadi sponsor perayaan Hari Bloger Nasional di Balikpapan. Kalau enggak dapat sponsor dan lokasi, bisa jadi perayaan hanya diisi saling mengucapkan selamat di grup WhatsApp, tanpa kopi darat, hehe.

Bolehlah angkat topi untuk mas Bambang Herlandi, Ketua Balikpapan Blogger Community yang berjibaku mengupayakan seremonial tersebut. Selama hampir lima jam, kami, 20-an bloger bisa sejenak haha-hihi di sisi teratas hotel itu.

Dua belas tahun silam, 27 Oktober 2007, Hari Bloger Nasional dicanangkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh. Kalau ditarik lagi ke belakang, media bloger pertama dikenalkan blogger.com—yang lalu diakuisisi google tahun 2002.

Beberapa tahun kemudian, barulah di Indonesia terjadi “demam” blog. Beberapa orang jadi terkenal gegara aktivitasnya ngeblog, bahkan sampai mencetak buku yang laris di pasaran. Raditya Dika misalnya, mengawali sukses dengan buku Kambing Jantan, yang merupakan kumpulan tulisan di blog pribadinya.

Seingat sambalbawang, hingga tahun 2010, demam ngeblog terasa. Orang-orang  mulai banyak ngeblog. Sebagian teman sambalbawang mengawali tulisan blog dengan tulisan ringan semacam curhat kecil-kecilan, cukilan cerpen, atau sebatas aktivitas rutinnya.

Seiring media sosial menyeruak, yang diawali facebook, blog tergusur perlahan. Sekian aplikasi percakapan hingga kehadian android –tahun 2013-- semakin meminggirkan era ngeblog ke pinggir. Blog-blog teman mulai enggak update. Mayoritas dari mereka, nulisnya sekarang jadi status di facebook.

Bahkan semakin ke sini, mereka semakin pindah ke instagram hingga youtube. Blog dianggap sudah kuno karena tidak bisa banyak memanjakan mata dan telinga. Kalah oleh instagram, you tube, bahkan WhatsApp.

Sambalbawang mulai ngeblog tahun 2013 yang merupakan tahun transisi. Sudah agak telat, sebenarnya. Meski sebenarnya aktivitas tulis-menulis bukan hal baru, mengingat pekerjaan sambalbang sebagai jurnalis sejak tahun 2004. Juga aktivitas sebelumnya saat masih SMA dan mahasiswa yang aktif menggarap bulletin.

Kembali ke seremonial sederhana Hari Bloger Nasional. Bambang Herlandi menyebut sekarang memang era medsos. “Blog kalah oleh medsos. Di medsos, kita enggak perlu mikir banyak dan tidak perlu nulis banyak. Cuma tinggal posting, selesai,” katanya.

Balikpapan Blogger Community, menurut dia, ramai hingga tahun ketiga. Bahkan ada yang ketemu jodohnya di sana. Selepas tahun ketiga, hiruk-pikuk blog berkurang sampai sekarang. “Setelah medsos marak, teman-teman mulai malas menulis. Bahkan lupa apa user nama dan password untuk masuk ke blog,” ujarnya lagi.

Bambang memerkirakan ada 200-an bloger di Balikpapan. Mereka dari berbagai “genre”. Sekitar 60 di antaranya masuk bergabung ke grup. Tidak semua bloger aktif menulis. Juga tidak semua rutin nongol atau hanya sekadar hadir untuk kopdar.

Sambalbawang baru masuk ke grup komunitas blog di Balikpapan ini akhir 2018. Karena pekerjaan pribadi dan kesibukan mengurus usaha jahit, praktis enggak nongol waktu kopdar. Hanya lumayan rajin memantau percakapan di grup. Cukup seru.

Salah satu pertanyaan yang kadang nyangkut di kepala adalah apakah sambalbawang bisa rajin nge-blog.Ini cukup krusial mengingat kondisi mata yang dalam dua tahun belakangan sepertinya mengalami penurunan performa.

Sambalbawang punya dua blog. Satu di blog sambalbawangkangadi.blogspot.com yang merupakan blog pribadi, sementara satunya lagi www.modistesamantha.com yang adalah blog usaha jahit baju. Yang pertama sudah menapak tahun ketujuh dan berisi 160-an artikel, satunya lagi sudah tahun keempat dan terisi 25 artikel.

Kawan-kawang di komunitas blog, sebagian sudah lumayan bisa mendapat rezeki dari akvititasnya ngeblog. Dari menang lomba atau kompetisi, hingga mendapat kesempatan me-review produk atau lainnya. 

Sambalbawang juga beberapa kali mengenalkan dua blog itu di forum seperti seminar, lokakarya, hingga pelatihan jurnalistik—hingga sebelum April 2019. Semangatnya adalah menumbuhkan minat menulis.

Secara langsung maupun tidak langsung, sambalbawang sudah merasakan manfaat ngeblog. Dan ini menarik, karena ditunjang passion menulis. Meski sekarang blog semakin terimpit, tapi tetap ada peluang, asalkan kita cukup kreatif.

Memanfaatkan medsos, adalah salah satunya. Blog tidak ditinggal, tapi cakupan para bloger mestinya diperluas ke medsos. Ini penting. Meski dalam hal itu, sambalbawang juga tidak bisa cukup mahir “menyelam”. Tapi yang jelas akan terus “menyelam”.

Ada hal menarik diutarakan Mas Bambang Herlandi. Seiring nanti Ibu Kota Negara (IKN) pindah Kaltim, tepatnya ke Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, maka Balikpapan akan menjadi tetangga IKN.

“Akan ada bloger-bloger yang datang dari Jakarta, juga dari Jawa, kemari. Namun akan tetap ada peluang bagi bloger di sini. Kami (bloger) akan membantu pemerintah,” kata Bambang sembari berharap Pemkot Balikpapan berpikiran senada.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Balikpapan Arita Rizal Effendi yang hadir di acara itu, mengajak para bloger menggali segenap potensi Balikpapan. “Menggali potensi ini, tidak harus yang baik-baik saja. Menggali juga apa kekurangan kota ini, tapi juga berikan solusi. Saya pun berharap literasi juga banyak digali oleh bloger,” ucap Arita.

Assistant Director of Sales Platinum Balikpapan Resyika juga mengungkapkan kegembiraannya bertemu dan menjamu para bloger. Sambalbawang sendiri juga baru pertama menginjakkan kaki ke rooftop di lantai 11 hotel ini.

Setelah perayaan sederhana Hari Bloger Nasional 2019, sambalbawang yang berstatus bloger “gado-gado” ini  jadi makin sering membaca (ulang) blog sendiri, juga blog lain. Dan merenung. Kira-kira hendak dibawa ke arah mana (lagi) dua blog milik sendiri, sambalbawang.blogspot.com dan www.modistesamantha.com.

Mungkin, bisa jadi, sudah di “rel” yang benar. Namun menuju Balikpapan sebagai calon tetangga IKN, memang harus perlu kerja ekstra. Ada ungkapan bahwa untuk mencapai tujuan yang terpenting bukan senjata tapi “the man behind the gun”.

Artinya adalah, yang terpenting dalam hidup bukan sekadar alat dan fasilitas, melainkan orang yang bisa menjalankan itu semua. Jadi, sambalbawang harus terus menjadi “the man behind the gun”, sebisa dan sebaik mungkin.

Jadi, mari kita para bloger lanjutkan ngeblog dan biasakan rutin posting artikel. Terserah apa genre tulisan dan apa tujuan utamanya. Jika belum bisa menjadikan blog jadi duit, maka jadikan blog sebagai ajang untuk melatih keterampilan menulis.

Dan blog komunitas bloger Balikpapan semoga juga semakin banyak terisi tulisan yang menginspirasi.

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
CHINMI JAGOAN KUNGFU DARI KUIL DAIRIN 

NONGKRONG DI ROOFTOP HOTEL PLATINUM BALIKPAPAN


Bisa jadi, sambalbawang akan mulai mengurangi nongkrong di kafe konvensional. Salah satu opsinya adalah di Hotel Platinum Balikpapan karena di sana ada juga tempat nongkrong yang menarik. Bisa di dalam hotel maupun di rooftop-nya.

Kebetulan, bertepatan dengan perayaan Hari Bloger Nasional 2019 pada 27 Oktober lalu, di Balikpapan, lokasinya di hotel itu. Sebelumnya, sambalbawangbawang ya cukup sering ke sana tapi hanya untuk urusan pekerjaan. Menginap sih, belum.

Hotel bintang empat ini punya 200 kamar. Dilengkapi dengan fasilitas spa, sauna, pusat kebugaran, restoran, hingga kolam renang. Tapi yang paling menarik, menurut sambalbawang, bukan itu. Melainkan lokasi nongkrong, tempat di mana masyarakat bisa datang.

Ada Gourmet Pastry & Delicatessen, Barium Bar & Lounge, serta sensasi di Rooftop Terrace—kafe di bagian tertinggi hotel, yakni di lantai 11. Keinginan untuk nongkrong langsung nancep begitu memasuki lobi hotel dan melihat lapangnya ruangan.



Bar memang opsi pertama untuk duduk dan memesan minuman atau makanan. Namun ada opsi lain yang menarik, yakni memilih duduk di lobi. Sedikit saran, sepertinya menarik jika datang malam hari karena bisa mendapat diskon di Gourmet.

Di Gourmet Pastry & Delicatessen yang sebelahan sama bar, kita cukup bayar 50 persen jika datang membeli pukul 7 pm – 11 pm alias jam 19.00-23.00. Ada macam-macam roti dan kue di sana, dari red velvet, cheese cake, black forest, hingga donat.

Asyik jika dipadukan dengan teh maupun kopi. Boleh juga menjajal aneka wine di Winery. Nongkrong juga terasa santai karena duduknya di sofa empuk. Kalau bosan dengan nuansa kafe umum, pasti menyenangkan ke sini.

Jessie Aprilia, Sales Eksekutif Hotel Platinum Balikpapan menyebut, fasilitas yang ada ini bisa menjadi opsi nongkrong masyarakat. “Bisa ngopi, makan, minum, dengan santai. Khusus untuk Gourmet, ternyata juga diminati masyarakat,” katanya.

Jika itu belum memuaskan, kita naik ke rooftop di lantai 11. Inilah sisi tertinggi hotel di Jalan Soekarno-Hatta yang pernah jadi tempat menginap Pakde Jokowi, presiden kita. Kalau mau mendapat suasana terbaik di rooftop, datanglah untuk menyaksikan sunset.

Perayaan Hari Bloger Nasional 2019 yang dirayakan Balikpapan Blogger Community 27 Oktober lalu dipusatkan di rooftop itu. Dengan angin berembus sepoi-sepoi, sembari menikmati kudapan, melihat pemandangan kota, dan menunggu matahari terbenam, itu sesuatu banget.

Menu di kafe rooftop ini banyak, dari western hingga masakan khas Asia. Semakin asyik tatkala menikmati live music. Melepas lelah di sore hari hingga menjelang malam, sepertinya pas jika lokasinya di sini.







  

Sabtu, 26 Oktober 2019

REPOTNYA "MEMELIHARA" DUA BLOG

"Memelihara” dua blog bikin sambalbawang pontang-panting. Repot, capek, menguras waktu, pikiran, dan juga tenaga. Sebab, dua blog yang beralamat di https://sambalbawangkangadi.blogspot.com/ serta www.modistesamantha.com tentu memerlukan tulisan secara kontinyu, dan cukup layak tayang.

Jelas bukan sekadar tulisan agar dua blog itu terkesan selalu update. Lebih ribet lagi karena ini juga soal membagi karakter menulis karena kedua blog itu beda “genre”. Secara fungsi juga berbeda. Sambalbawangkangadi adalah blog pribadi, blog "hore-hore" yang berisi aneka macam tulisan. Dari musik, film, otomotif, bola, seni-budaya, analisis ringan, hingga cerpen.

Sementara, blog/web satunya, yakni ww.modistesamantha.com lebih ke blog usaha, yang menceritakan keseharian tukang jahit baju. Ditambah foto-foto busana yang khas "Samantha banget", termasuk koleksi-koleksi yang ready to wear. Artikel-artikelnya sengaja dibuat cukup "renyah", sehingga enggak berat dibaca karena tidak membahas soal teknis jahit. Sedikit kesimpulan, blog Samantha sepertinya blog jahit “genre” baru di Tanah Air. Silakan menyambangi sejenak web itu, hehe.

Hingga menjelang akhir 2019 ini, blog sambalbawang sudah menapak tahun ketujuh, sedangkan www.modistesamantha.com berumur empat tahun. Blog sambalbawang telah terisi 160-an artikel, sedangkan blog Samantha baru membukukan 25 artikel—belum termasuk video dan foto.

Jumlah segitu, sebenarnya masih termasuk sedikit. Namun bisa juga terhitung lumayan banyak kalau dilihat dari sudut pandang lain. Mengisi blog secara kontinyu, bukan perkara mudah dan cepat. Buntu ide, mood yang jeblok, hingga rasa malas, masih sering mendera. Dua tahun terakhir, upload artikel di kedua blog tersebut disetel dalam kecepatan "woles".

Aktivitas dan beban kerja memang lagi bertubi-tubi. Terlebih keseharian sambalbawang—sejak awal 2004 hingga April 2019 lalu—adalah berkutat dengan tulis-menulis berita. Sebelum mengurus blog tahun 2013, sambalbawang sudah menulis. “Enggak capek nulis kah? Bikin berita saja kan sudah lama dan bikin capek, kok masih ditambah ngeblog,” begitu kata seorang kawan.

Iya, sih, capek nulis di sana-sini. Namun mungkin itulah yang dinamakan passion. Dan passion jugalah yang mengarahkan sambalbawang memilih ranah sebagai “bloger independen”. Bahasa mudahhya adalah, sambalbawang menulis apa yang disukai, dan enggak merisaukan rating. 

Soal kualitas tulisan artikel, biarlah menjadi ranah pembaca. Biarkan mereka yang menilai, sebagaimana sambalbawang juga menilai tulisan mereka--jika menulis. Oya, sambalbawang pernah mengenalkan, berbicara tentang dua blog ini dalam beberapa forum. Sejumlah artikel juga menginspirasi blog lain. Itu semua terasa menyenangkan.

Sambalbawang enggak hanya berkutat di ranah blog. Namun juga di ranah media sosial (medsos) semisal instagram dan facebook, meski yang terakhir disebut ini beneran enggak update. Bahkan akun twitter akhirnya juga bikin lagi, karena bertahun-tahun tak aktif dan "hangus". Jadi, yang diutamakan memang instagram, seiring perkembangan zaman, lah. Hehehe.

Yang penasaran boleh langsung menuju @samanthaproject dan @samanthaproject_storehouse. Kedua akun--yang sambalbawang jalankan bersama sodara bojo--ini terkait usaha jahit dan aktivitas fashion, mendukung www.modistesamantha.com.

Balik lagi ke topik mengapa dua tahun belakangan dua blog enggak rutin update artikel, ada faktor-faktor lain sebagai penyebabnya. Tahun lalu misalnya, sambalbawang juga nulas-nulis di salah satu blog komunitas seni di Balikpapan.

Seiring usaha yang mengangkat nama "Samantha Project", berarti juga Samantha tidak hanya mencebur ke ranah jahit. Ini adalah tentang seabrek kegiatan yang tiada habis. Untuk ukuran penjahit, sepertinya Samantha sudah "out of the box" karena "lari kemana-mana".

Urusan nulis di blog, di sisi lain, juga terganggu kepingan-kepingan ide. Dari rencana bikin buku--masih tahap awal--hingga nulis lagu. Maklum dulu sambalbawang juga pernah jadi "anak band" meski dengan skill "begitulah". Dan setahun terakhir, ingin sejenak kembali menggali memori lama.

Nah faktor lainnya adalah kondisi mata yang sepertinya makin lelah kala menatap layar. Maklum… faktor usia. Pekerjaan sebelumnya yang beneran memaksa mata sering menatap laptop dan ponsel, sepertinya memang terasa dampaknya di usia sekarang.  

Jadi, sedikit kesimpulannya, ada cukup alasan mengapa blog sambalbawang.blogspot.com dan www.modistesamantha.com tidak bisa terisi dengan rutin. Meski kalau soal alasan, itu ya tetap alasan.  Cuman, bedanya, alasan-alasan di atas tadi lumayan logis, setidaknya dari sudut padang sambalbawang. Ah, membela diri lagi, hehe.

Tapi selagi ingat dan mau menulis--ditambah ketika ada ide nyangkut di kepala--sambalbawang akan segera mengangkat pena, eh, membuka laptop. Karena menulis itu adalah “candu”… Tentu saja , “candu” yang baik. Saya menulis maka saya ada. Sekali lagi, hidup itu cuma mampir nulis…


Jumat, 20 September 2019

SERUNYA GRUP WHATSAPP TEMAN SEKELAS SD (2)

"Ceritakan weekend-mu sobat.." Begitu chat pertama yang muncul di layar ponsel hari ini, disertai link sebuah lagu barat, dan gambar sebuah cangkir. Jam menunjuk pukul 09.00. Sapaan pagi yang "renyah".

Seorang kawan, sebut saja Mister Le, berinisiatif mengawali obrolan di grup WhatsApp. Tak butuh waktu lama, bahkan di menit yang sama, sudah ada yang mbales. "Haloooo," seru anggota lainnya, sebut saja Miss D sembari mengirim emoticon cangkir berisi kopi bergambar jantung hati. 

Obrolan langsung seru dan "sengit". Dalam waktu satu jam, terbukukan hampir 100 chat. Siapa yang menyapa siapa, menjadi obyek sasaran obrolan yang diselingi ketawa. Baiklah, untuk yang satu ini memang masih tentang kenangan masa lalu. Memang pada susah move on mereka-mereka ini.

Ini masih tentang serunya grup WA yang anggotanya adalah temen sekelas saat dudung di bangku SD. Grup ini dibikin Maret 2013, hampir tujuh tahun, dan pesertanya 25 orang, alias sudah dua pertiga dari penghuni kelas.

Lumayan heran juga mengapa grup WhatsApp (WA) yang satu ini selalu bisa gayeng dan menemukan topik obrolan. Malah, masih ditambah agenda-agenda reuni, entah itu yang terencana hingga yang dadakan.


Nglumpukke balung pisah, ibaratnya begitu semangat grup satu ini yang dijalankan dengan cukup militan. Semua dapat bagian diguyoni, digarapi, dan tentu dicungkil ramai-ramai kisah masa lalunya 30-an tahun silam.


Intinya, apa yang bisa bikin ketawa dan "bergosip", itu yang dicungkil naik ke permukaan. Bisa dibahas seharian, malah. Enggak ada pangkat dan status kerjaan, di sini, semua sama rata. 

Satu hal yang sambalbawang suka dan salut, obrolan berbalut kangen-kangenan ini kadang berlanjut ke kopi darat (kopdar). Entah gimana, tapi asyiknya adalah, selalu ada semangat untuk reunian. Berapapun yang datang, pokoknya reuni.

Sambalbawang tahun ini sudah dua kali ikut reunian, Juli dan Agustus lalu. Satu yang terakhir saat sedang dalam suasana sedih, karena meninggalnya ibu. Sebagai pelipur lara, okelah, sebelum balik ke Bumi Etam (Kaltim), mari reunian. 

Peserta reuni bulan Juli ada tujuh. Lumayan, hampir seperempat dari total penghuni kelas—jika dihitung dari jumlah teman waktu kelas VI.  Ada yang dari Surabaya, pas di Kota Gudeg untuk urusan keluarga, menyempatkan diri hadir.

Mister Le, yang kini jadi juragan batako, datang. Pria yang dulu dikenal sebagai cowok berkharisma ini, mancal brompit alias motor dari Klaten, Jawa Tengah. Beberapa yang masih berdomisili di Jogja, dan mereka ini termasuk peserta rutin reunian, hadir pula. Dua orang yang datang, sudah jadi mamah-mamah, bawa buntut (anak). Generasi penerus "trah" ini sudah dilibatkan, bagus, hehe.  

Hanya berselang tiga pekan, sejak Agustus, eh ada lagi reunian. Momennya untuk menyambut ajakan seorang teman—sebut saja Mister D—yang kini menetap di Jakarta. Meski peserta hanya empat gelintir, reunian, ya, tetep jalan juga.

Untuk urusan reunian ini, tak hanya dijalankan di Yogyakarta saat ada kawan yang mudik atau mampir. Pernah pula dihelat di Jakarta dan Surabaya.  Dan tentu saja reunian di Balikpapan yang pesertanya hanya dua orang--walaupun secara visual, ada empat orang.

Sebab, “mantan pacar” dua orang itu, namanya persis seperti nama dua temen sekelas yang juga peserta grup. Entah ini kebetulan apa enggak, yang jelas, ini satu topik yang sering muncul untuk dibahas. Tentu dengan "bumbu-bumbu" dan "penyedap" lainnya.

Banyak “pengakuan” yang semakin terungkap lewat obrolan grup. Para anggota yang kini sudah berumur 40-an tahun, sebagian mulai berani “genit”. Celetukan seperti yang standar “met pagi”, lalu “met makan”, trus “lagi apa”, atau "mau aku suapin?", sampai “met bobo”, berseliweran tak karuan banyaknya.

Ditambah lagi kiriman beberapa gambar emoticon yang “begitu deh” nuansanya, namun malah bikin semakin gayeng nih obrolan. Yang sedang berjauhan sama bojone karena kerja di luar kota, digarapi. Yang sering “menyapa”, ya tetap digarapi. Dan yang jarang nongol, tetap juga digarapi dan dipanggil-panggil.  

Nah yang paling sering muncul di obrolan adalah mereka yang mengaku “enggak saru”.  Entah definisi “enggak saru” itu gimana, karena jelas itu hal yang debatable, setidaknya sampai hari ini. Hehe. Untunglah semua sudah pada gede-tuwo-lucu, dan “berjiwa besar” menghadapi obrolan-obrolan kayak gitu.

“Ojo kebayang aku terus to, nek nglindur pie jal,” celetuk peserta grup, sebut saja Mister B. Dan segera ditimpali oleh anggota cewek, sebut saja Miss M. “Iyo, e, sik tak lihat kok wajahmu. Mungkin ini yang dinamakan…laparr”.

“Dah makan belum?” celetuk Miss M di lain kesempatan yang langsung disamber Mister B. Obrolan lalu disambung si juragan batako, Mister Le, yang dulu sepertinya sempat menaruh perhatian sama Miss M.

Si Mister Le ini dulu sempat dianggap dekaaaat sama temen sekelas juga, sebut saja Miss S. Nah, si Miss S sekarang malah jadi istrinya Mister Pa yang sama-sama sekelas. Dulu, kita-kita enggak ada yang membayangkan kalau Mister Pa bakalan jadi suaminya Miss S.  Belum lagi kisah antara Mister L sama Miss D, atau polah tingkah Mister A dan Miss A--khusus yang ini nanti sambalbawang cungkilkan di tulisan blog edisi selanjutnya. Jika wes cukup bahan tulisannya.

Ada pula peserta super aktif, si Mister D tadi, yang selalu pede menyebut dirinya cakep—meski item. Sering jadi bahan candaan, tapi Mister D memang berhati baja. Tanpa Mister D yang bertipikal biker  ini, grup rasanya pasti sepi. Setidaknya ramainya obrolan berkurang 10-15 persen. Mister D sering kirim fotonya saat beraktivitas, yang tentu saja langsung sambalbawang delete. Hahahaha.

Mungkin hanya sekedar obrolan demi obrolan tanpa ujung di grup ini. Mungkin hanya sebatas menuntaskan kangen. Tapi, reunian cara begini cukup penting untuk menjaga kewarasan jiwa di tengah himpitan beban hidup yang berat. Gojek “kere” dan obrolan yang sepertinya 80 persen memakai Bahasa Jawa Ini, sungguh ngangeni dan nagih.

Dan inilah grup WA terlama yang masih eksis. Boleh nih, dikasih award ke adminnya. Award berupa salim dan sungkem, saja, sing murah. Semoga enggak pernah kehabisan obrolan sampai kapan pun. Semoga makin nambah anggotanya dan makin banyak “kisah-kasih” terungkap.






Baca Juga Artikel Lain :