Penciptanya Andjar Any, atau yang bernama asli KRT Andjar Any Singanagara. Ia seorang sastrawan kelahiran Ponorogo, Jawa Timur, yang juga dikenal sebagai wartawan
dan kritikus seni. Menurut penelusuran Wikipedia,
Andjar Any juga menciptakan banyak langgam Jawa lainnya. Beberapa langgam yang terkenal misalnya Nyidham Sari, Kasmaran, dan Jangkrik Genggong. Andjar Any meninggal
tahun 2008 lalu di usia 72 tahun.
Entah mengapa, bagi sambalbawang,
langgam Yen Ing Tawang Ana Lintang terasa menawan. Liriknya simpel, berbobot, indah, dan menghanyutkan suasana. Maknanya pun ternyata dalam, dan hebatnya, maknanya cukup
berbeda jika disandingkan dengan artinya secara harfiah (berdasarkan lirik). Langgam yang berciri khas Jawa, ketika menggambarkan sesuatu tidak secara langsung, namun memakai bahasa kiasan. Sebelum membahas
lebih jauh, yuk direntang lirik sekaligus artinya.
Yen ing tawang ana lintang, cah ayu. Aku ngenteni tekamu.
Marang mega ing angkasa, nimas. Sun takokke pawartamu.
Janji-janji aku eling, cah ayu, sumedhot rasaning ati.
Lintang-lintang ngiwi-iwi, nimas. Tresnaku sundul wiyati.
Dek semana janjiku, disekseni.
Mega kartika, kairing rasa tresna asih.
Yen ing tawang ana lintang, cah ayu. Rungokna tangising ati.
Pinarung swaraning ratri, nimas. Ngenteni bulan ndadari.
Artinya, lebih kurang begini :
Yen ing tawang ana lintang, cah
ayu (jika di langit terlihat bintang,
wahai cantik)
Aku ngenteni tekamu. (aku menanti
kedatanganmu)
Marang mega ing angkasa, nimas. (kepada
awan di angkasa, dik)
Sun takokke pawartamu.
(kutanyakan bagaimana kabarmu).
Janji-janji aku eling, cah ayu.
(janji-janjiku pasti kuingat, wahai cantik).
Sumedhot rasaning ati. (serasa
patah perasaan hati ini)
Lintang-lintang ngiwi-iwi, nimas.
(bintang-bintang seakan memanggil, dik).
Tresnaku sundul wiyati. (rasa
sayangku menyentuh hingga ke angkasa).
Dek semana janjiku, disekseni.
(saat itu janjiku disaksikan).
Mega kartika, kairing rasa tresna
asih. (langit yang berawan dan berbintang, mengiringi rasa cinta kasih).
Yen ing tawang ana lintang, cah
ayu. (jika di langit terlihat bintang, wahai cantik).
Rungokna tangising ati.
(dengarlah tangisan hati ini).
Pinarung swaraning ratri, nimas. (bersama
suara malam, dik).
Ngenteni bulan ndadari. (menanti
bulan purnama).
Sepintas, jika memerhatikan arti seturut lirik, kata
per kata, bisa jadi langsung diketahui maksudnya. Menceritakan tentang seorang laki-laki yang merindukan gadis cantik sang pujaan hati yang nun jauh di sana. Namun si lelaki hanya bisa membatin, berdoa, menunggu sembari
menatap langit kala siang dan malam, memastikan janji terpenuhi, dan cinta
tetap terjaga. Ah.
Namun, sambalbawang pernah
diberi tahu bahwa makna langgam tersebut tak sepenuhnya berarti plek sesuai lirik. Lupa dikasih tahu sama siapa, namun sepertinya salah satu
guru sekolah. Langgam Yeng Ing Tawang Ana Lintang ini berkisah tentang seorang ayah yang
menunggu kelahiran anak perempuannya. Benarkah?
Selang sekian tahun kemudian, kala mbah Gugel muncul, barulah sambalbawang sesekali iseng mencari tahu maknanya. Juga menyempatkan diri menengok beberapa
blog yang mengangkat topik tersebut. Dan ternyata memang maknanya begitu. Andjar Any menciptakan langgam ini saat menunggu kelahiran anak perempuannya.
Baiklah, urusan pemaknaan selesai, mari menengok keindahan lainnya. Di sana tercantum
beberapa kosakata Jawa Kuno atau sansekerta, antara lain ratri dan wiyati. Ratri artinya malam,
sedangkan wiyati berarti langit, udara, atau angkasa.
Sebenarnya, syair atau lirik “angkasa”
yang juga bahasa Jawa, sudah disematkan di awal langgam Yen Ing Tawang Ana Lintang, namun dipakai
lagi di bait selanjutnya. Hanya saja, dipilih kata “wiyati”. Dasanama (bahasa Jawa), atau anonim untuk menyatakan "malam", sebenarnya ada beberapa kata selain ratri, misalnya "wengi".
Namun, secara rasa, “ratri”
lebih indah dari “wengi” atau kosakata Jawa lain yang berarti malam
hari. Demikian juga “wiyati”. Kebetulan pula “wiyati” adalah juga nama ibunda
sambalbawang. Tresnaku sundul wiyati, berarti rasa cintaku menyundul atau menembus angkasa/langit/udara. Indah, bukan?
Sambalbawang juga penasaran
dengan sapaan “nimas”. Sebab, agak tidak lazim untuk
memanggil seorang perempuan di kalangan masyarakat. Nimas, lebih lekat
digunakan di lingkup ningrat (keraton). Sehari-hari, atau biasanya, kita lebih mengenal dan mendengar kata "nimas" tatkala menyaksikan wayang orang atau mendengar pembawa acara (MC) berbicara saat resepsi pernikahan.
Dalam langgam Yen Ing Tawang
Ana Lintang, digunakan dua sapaan, yakni “cah ayu” dan “nimas” yang sebenarnya
bermaksud kurang lebih sama. Kalau kita menyapa "nimas", bukankah identik dengan seseorang itu cantik, bukan? Kita bisa mendefinisikan cah ayu dan
nimas sebagai si anak perempuan, kekasih, atau si ibu yang tengah berjuang hidup—mati
melewati proses kelahiran.
Namun jika (memilih) situasinya sedang nandhang asmara (dilanda asmara), bisa juga cah ayu dan nimas itu adalah perempuan pujaan hati, atau kekasih. Perempuan yang bagi kita (laki-laki) sangat berarti, sangat indah, sehingga kita panggil dia dengan “nimas”. Sebuah panggilan terhormat dan tentu bagi perempuan (mana pun), itu sangat membahagiakan. Sapaan sayang yang juga bisa dibingkai sebagai bentuk kekaguman.
Namun jika (memilih) situasinya sedang nandhang asmara (dilanda asmara), bisa juga cah ayu dan nimas itu adalah perempuan pujaan hati, atau kekasih. Perempuan yang bagi kita (laki-laki) sangat berarti, sangat indah, sehingga kita panggil dia dengan “nimas”. Sebuah panggilan terhormat dan tentu bagi perempuan (mana pun), itu sangat membahagiakan. Sapaan sayang yang juga bisa dibingkai sebagai bentuk kekaguman.
Nimas serasa panggilan
sayang terindah yang “kastanya” paling atas. Wah, so sweet, dong. Namun di atas
semua analisis itu, jelas bahwa Yen Ing Tawang Ana Lintang adalah langgam
Jawa yang memang indah secara keseluruhan. Sepatutnya kita tahu lagu itu, mengerti keindahannya,
dan (kalau bisa) menyanyikan. Tresnaku sundul wiyati.. daleeeem….
Maka dari itu pula, sambalbawang
yang “kesengsem” Yen Ing Tawang Ana Lintang sejak remaja, ingin menuliskannya memakai
aksara Jawa. (mohon maaf jika tulisan Jawa goresan tangan sambalbawang ini, masih ada salah, dan tidak indah. Mohon maaf juga jika sambalbawang tidak sepenuhnya tepat "menggambarkan" arti langgam Yen Ing Tawang Ana Lintang ini).
Yen Ing Tawang Ana Lintang, dalam perkembangannya, dibawakan banyak penyanyi dengan berbagai style. Sambalbawang memilih tiga klip dari youtube, untuk menggambarkan jika langgam ini bisa dibawakan dengan tiga nuansa atau genre berbeda.
Yen Ing Tawang Ana Lintang, dalam perkembangannya, dibawakan banyak penyanyi dengan berbagai style. Sambalbawang memilih tiga klip dari youtube, untuk menggambarkan jika langgam ini bisa dibawakan dengan tiga nuansa atau genre berbeda.
Baca Juga :
GATOTKACA TAK HANYA OTOT KAWAT BALUNG WESI
BASA WALIKAN
MENGAPA HARUS NGEBLOG
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
HANACARAKA, AKSARA JAWA YANG INDAH
THE BEATLES FOREVER
7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
JERMAN TERSINGKIR MEMALUKAN DI PIALA DUNIA 2018, TAK PERLU BERSEDIH
GATOTKACA TAK HANYA OTOT KAWAT BALUNG WESI
BASA WALIKAN
MENGAPA HARUS NGEBLOG
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
HANACARAKA, AKSARA JAWA YANG INDAH
THE BEATLES FOREVER
7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
JERMAN TERSINGKIR MEMALUKAN DI PIALA DUNIA 2018, TAK PERLU BERSEDIH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar