Sabtu, 26 Oktober 2019

REPOTNYA "MEMELIHARA" DUA BLOG

"Memelihara” dua blog bikin sambalbawang pontang-panting. Repot, capek, menguras waktu, pikiran, dan juga tenaga. Sebab, dua blog yang beralamat di https://sambalbawangkangadi.blogspot.com/ serta www.modistesamantha.com tentu memerlukan tulisan secara kontinyu, dan cukup layak tayang.

Jelas bukan sekadar tulisan agar dua blog itu terkesan selalu update. Lebih ribet lagi karena ini juga soal membagi karakter menulis karena kedua blog itu beda “genre”. Secara fungsi juga berbeda. Sambalbawangkangadi adalah blog pribadi, blog "hore-hore" yang berisi aneka macam tulisan. Dari musik, film, otomotif, bola, seni-budaya, analisis ringan, hingga cerpen.

Sementara, blog/web satunya, yakni ww.modistesamantha.com lebih ke blog usaha, yang menceritakan keseharian tukang jahit baju. Ditambah foto-foto busana yang khas "Samantha banget", termasuk koleksi-koleksi yang ready to wear. Artikel-artikelnya sengaja dibuat cukup "renyah", sehingga enggak berat dibaca karena tidak membahas soal teknis jahit. Sedikit kesimpulan, blog Samantha sepertinya blog jahit “genre” baru di Tanah Air. Silakan menyambangi sejenak web itu, hehe.

Hingga menjelang akhir 2019 ini, blog sambalbawang sudah menapak tahun ketujuh, sedangkan www.modistesamantha.com berumur empat tahun. Blog sambalbawang telah terisi 160-an artikel, sedangkan blog Samantha baru membukukan 25 artikel—belum termasuk video dan foto.

Jumlah segitu, sebenarnya masih termasuk sedikit. Namun bisa juga terhitung lumayan banyak kalau dilihat dari sudut pandang lain. Mengisi blog secara kontinyu, bukan perkara mudah dan cepat. Buntu ide, mood yang jeblok, hingga rasa malas, masih sering mendera. Dua tahun terakhir, upload artikel di kedua blog tersebut disetel dalam kecepatan "woles".

Aktivitas dan beban kerja memang lagi bertubi-tubi. Terlebih keseharian sambalbawang—sejak awal 2004 hingga April 2019 lalu—adalah berkutat dengan tulis-menulis berita. Sebelum mengurus blog tahun 2013, sambalbawang sudah menulis. “Enggak capek nulis kah? Bikin berita saja kan sudah lama dan bikin capek, kok masih ditambah ngeblog,” begitu kata seorang kawan.

Iya, sih, capek nulis di sana-sini. Namun mungkin itulah yang dinamakan passion. Dan passion jugalah yang mengarahkan sambalbawang memilih ranah sebagai “bloger independen”. Bahasa mudahhya adalah, sambalbawang menulis apa yang disukai, dan enggak merisaukan rating. 

Soal kualitas tulisan artikel, biarlah menjadi ranah pembaca. Biarkan mereka yang menilai, sebagaimana sambalbawang juga menilai tulisan mereka--jika menulis. Oya, sambalbawang pernah mengenalkan, berbicara tentang dua blog ini dalam beberapa forum. Sejumlah artikel juga menginspirasi blog lain. Itu semua terasa menyenangkan.

Sambalbawang enggak hanya berkutat di ranah blog. Namun juga di ranah media sosial (medsos) semisal instagram dan facebook, meski yang terakhir disebut ini beneran enggak update. Bahkan akun twitter akhirnya juga bikin lagi, karena bertahun-tahun tak aktif dan "hangus". Jadi, yang diutamakan memang instagram, seiring perkembangan zaman, lah. Hehehe.

Yang penasaran boleh langsung menuju @samanthaproject dan @samanthaproject_storehouse. Kedua akun--yang sambalbawang jalankan bersama sodara bojo--ini terkait usaha jahit dan aktivitas fashion, mendukung www.modistesamantha.com.

Balik lagi ke topik mengapa dua tahun belakangan dua blog enggak rutin update artikel, ada faktor-faktor lain sebagai penyebabnya. Tahun lalu misalnya, sambalbawang juga nulas-nulis di salah satu blog komunitas seni di Balikpapan.

Seiring usaha yang mengangkat nama "Samantha Project", berarti juga Samantha tidak hanya mencebur ke ranah jahit. Ini adalah tentang seabrek kegiatan yang tiada habis. Untuk ukuran penjahit, sepertinya Samantha sudah "out of the box" karena "lari kemana-mana".

Urusan nulis di blog, di sisi lain, juga terganggu kepingan-kepingan ide. Dari rencana bikin buku--masih tahap awal--hingga nulis lagu. Maklum dulu sambalbawang juga pernah jadi "anak band" meski dengan skill "begitulah". Dan setahun terakhir, ingin sejenak kembali menggali memori lama.

Nah faktor lainnya adalah kondisi mata yang sepertinya makin lelah kala menatap layar. Maklum… faktor usia. Pekerjaan sebelumnya yang beneran memaksa mata sering menatap laptop dan ponsel, sepertinya memang terasa dampaknya di usia sekarang.  

Jadi, sedikit kesimpulannya, ada cukup alasan mengapa blog sambalbawang.blogspot.com dan www.modistesamantha.com tidak bisa terisi dengan rutin. Meski kalau soal alasan, itu ya tetap alasan.  Cuman, bedanya, alasan-alasan di atas tadi lumayan logis, setidaknya dari sudut padang sambalbawang. Ah, membela diri lagi, hehe.

Tapi selagi ingat dan mau menulis--ditambah ketika ada ide nyangkut di kepala--sambalbawang akan segera mengangkat pena, eh, membuka laptop. Karena menulis itu adalah “candu”… Tentu saja , “candu” yang baik. Saya menulis maka saya ada. Sekali lagi, hidup itu cuma mampir nulis…


Jumat, 20 September 2019

SERUNYA GRUP WHATSAPP TEMAN SEKELAS SD (2)

"Ceritakan weekend-mu sobat.." Begitu chat pertama yang muncul di layar ponsel hari ini, disertai link sebuah lagu barat, dan gambar sebuah cangkir. Jam menunjuk pukul 09.00. Sapaan pagi yang "renyah".

Seorang kawan, sebut saja Mister Le, berinisiatif mengawali obrolan di grup WhatsApp. Tak butuh waktu lama, bahkan di menit yang sama, sudah ada yang mbales. "Haloooo," seru anggota lainnya, sebut saja Miss D sembari mengirim emoticon cangkir berisi kopi bergambar jantung hati. 

Obrolan langsung seru dan "sengit". Dalam waktu satu jam, terbukukan hampir 100 chat. Siapa yang menyapa siapa, menjadi obyek sasaran obrolan yang diselingi ketawa. Baiklah, untuk yang satu ini memang masih tentang kenangan masa lalu. Memang pada susah move on mereka-mereka ini.

Ini masih tentang serunya grup WA yang anggotanya adalah temen sekelas saat dudung di bangku SD. Grup ini dibikin Maret 2013, hampir tujuh tahun, dan pesertanya 25 orang, alias sudah dua pertiga dari penghuni kelas.

Lumayan heran juga mengapa grup WhatsApp (WA) yang satu ini selalu bisa gayeng dan menemukan topik obrolan. Malah, masih ditambah agenda-agenda reuni, entah itu yang terencana hingga yang dadakan.


Nglumpukke balung pisah, ibaratnya begitu semangat grup satu ini yang dijalankan dengan cukup militan. Semua dapat bagian diguyoni, digarapi, dan tentu dicungkil ramai-ramai kisah masa lalunya 30-an tahun silam.


Intinya, apa yang bisa bikin ketawa dan "bergosip", itu yang dicungkil naik ke permukaan. Bisa dibahas seharian, malah. Enggak ada pangkat dan status kerjaan, di sini, semua sama rata. 

Satu hal yang sambalbawang suka dan salut, obrolan berbalut kangen-kangenan ini kadang berlanjut ke kopi darat (kopdar). Entah gimana, tapi asyiknya adalah, selalu ada semangat untuk reunian. Berapapun yang datang, pokoknya reuni.

Sambalbawang tahun ini sudah dua kali ikut reunian, Juli dan Agustus lalu. Satu yang terakhir saat sedang dalam suasana sedih, karena meninggalnya ibu. Sebagai pelipur lara, okelah, sebelum balik ke Bumi Etam (Kaltim), mari reunian. 

Peserta reuni bulan Juli ada tujuh. Lumayan, hampir seperempat dari total penghuni kelas—jika dihitung dari jumlah teman waktu kelas VI.  Ada yang dari Surabaya, pas di Kota Gudeg untuk urusan keluarga, menyempatkan diri hadir.

Mister Le, yang kini jadi juragan batako, datang. Pria yang dulu dikenal sebagai cowok berkharisma ini, mancal brompit alias motor dari Klaten, Jawa Tengah. Beberapa yang masih berdomisili di Jogja, dan mereka ini termasuk peserta rutin reunian, hadir pula. Dua orang yang datang, sudah jadi mamah-mamah, bawa buntut (anak). Generasi penerus "trah" ini sudah dilibatkan, bagus, hehe.  

Hanya berselang tiga pekan, sejak Agustus, eh ada lagi reunian. Momennya untuk menyambut ajakan seorang teman—sebut saja Mister D—yang kini menetap di Jakarta. Meski peserta hanya empat gelintir, reunian, ya, tetep jalan juga.

Untuk urusan reunian ini, tak hanya dijalankan di Yogyakarta saat ada kawan yang mudik atau mampir. Pernah pula dihelat di Jakarta dan Surabaya.  Dan tentu saja reunian di Balikpapan yang pesertanya hanya dua orang--walaupun secara visual, ada empat orang.

Sebab, “mantan pacar” dua orang itu, namanya persis seperti nama dua temen sekelas yang juga peserta grup. Entah ini kebetulan apa enggak, yang jelas, ini satu topik yang sering muncul untuk dibahas. Tentu dengan "bumbu-bumbu" dan "penyedap" lainnya.

Banyak “pengakuan” yang semakin terungkap lewat obrolan grup. Para anggota yang kini sudah berumur 40-an tahun, sebagian mulai berani “genit”. Celetukan seperti yang standar “met pagi”, lalu “met makan”, trus “lagi apa”, atau "mau aku suapin?", sampai “met bobo”, berseliweran tak karuan banyaknya.

Ditambah lagi kiriman beberapa gambar emoticon yang “begitu deh” nuansanya, namun malah bikin semakin gayeng nih obrolan. Yang sedang berjauhan sama bojone karena kerja di luar kota, digarapi. Yang sering “menyapa”, ya tetap digarapi. Dan yang jarang nongol, tetap juga digarapi dan dipanggil-panggil.  

Nah yang paling sering muncul di obrolan adalah mereka yang mengaku “enggak saru”.  Entah definisi “enggak saru” itu gimana, karena jelas itu hal yang debatable, setidaknya sampai hari ini. Hehe. Untunglah semua sudah pada gede-tuwo-lucu, dan “berjiwa besar” menghadapi obrolan-obrolan kayak gitu.

“Ojo kebayang aku terus to, nek nglindur pie jal,” celetuk peserta grup, sebut saja Mister B. Dan segera ditimpali oleh anggota cewek, sebut saja Miss M. “Iyo, e, sik tak lihat kok wajahmu. Mungkin ini yang dinamakan…laparr”.

“Dah makan belum?” celetuk Miss M di lain kesempatan yang langsung disamber Mister B. Obrolan lalu disambung si juragan batako, Mister Le, yang dulu sepertinya sempat menaruh perhatian sama Miss M.

Si Mister Le ini dulu sempat dianggap dekaaaat sama temen sekelas juga, sebut saja Miss S. Nah, si Miss S sekarang malah jadi istrinya Mister Pa yang sama-sama sekelas. Dulu, kita-kita enggak ada yang membayangkan kalau Mister Pa bakalan jadi suaminya Miss S.  Belum lagi kisah antara Mister L sama Miss D, atau polah tingkah Mister A dan Miss A--khusus yang ini nanti sambalbawang cungkilkan di tulisan blog edisi selanjutnya. Jika wes cukup bahan tulisannya.

Ada pula peserta super aktif, si Mister D tadi, yang selalu pede menyebut dirinya cakep—meski item. Sering jadi bahan candaan, tapi Mister D memang berhati baja. Tanpa Mister D yang bertipikal biker  ini, grup rasanya pasti sepi. Setidaknya ramainya obrolan berkurang 10-15 persen. Mister D sering kirim fotonya saat beraktivitas, yang tentu saja langsung sambalbawang delete. Hahahaha.

Mungkin hanya sekedar obrolan demi obrolan tanpa ujung di grup ini. Mungkin hanya sebatas menuntaskan kangen. Tapi, reunian cara begini cukup penting untuk menjaga kewarasan jiwa di tengah himpitan beban hidup yang berat. Gojek “kere” dan obrolan yang sepertinya 80 persen memakai Bahasa Jawa Ini, sungguh ngangeni dan nagih.

Dan inilah grup WA terlama yang masih eksis. Boleh nih, dikasih award ke adminnya. Award berupa salim dan sungkem, saja, sing murah. Semoga enggak pernah kehabisan obrolan sampai kapan pun. Semoga makin nambah anggotanya dan makin banyak “kisah-kasih” terungkap.






Baca Juga Artikel Lain :

Kamis, 18 Juli 2019

SERUNYA GRUP WHATSAPP TEMAN SEKELAS SD (1)

Entah sudah berapa puluh atau berapa ratus grup di aplikasi percakapan WhatsApp (WA) yang pernah sambalbawang ikuti. Dari grup teman sekampus, sekelas waktu SD, sepekerjaan, tetangga, hingga grup dadakan saat ada acara temporer. Juga grup-grup yang membahas topik tertentu.

Seperti ungkapan, pasti ada seleksi alam, itu memang benar. Ibarat badai, yang ada saat datang maupun pergi, grup WA pun bisa datang dan menghilang secara mendadak. Diundang masuk ke grup, bisa jadi menyenangkan, atau malah petaka kalau enggak cocok. Sementara, ketika ditendang ke luar grup, terkadang menyakitkan hati, tapi bisa juga melegakan kalau justru keinginan.

Salah satu resiko masuk grup ya mesti bersiap jika nanti keluar grup. Menyoal hilang-menghilang ini, pasti banyak sebabnya. Sambalbawang pernah mengalaminya sekian kali. Beberapa misalnya, ya memilih pamit dari grup karena grupnya mati suri, tidak ada informasi, bahkan nihil sapa-menyapa. 

Pernah juga ada yang (sepertinya) sengaja menghilangkan kontak dari list anggota, karena (mungkin) sambalbawang dianggap sudah tidak sevisi atau seobrolan. 

Ada pula yang anggotanya rontok satu persatu, karena grup hanya terkait acara atau aktivitas berdurasi pendek. Menyisakan sambalbawang sendirian, sebagai admin, tanpa pernah berperan sebagai admin karena saat masuk hanya diundang. Sambalbawang akhirnya hengkang, sekaligus menutup grup, daripada menghuni “grup hantu”.

Sambalbawang pernah juga berinisiatif keluar grup lantaran grup melenceng dari semangat awal. Dari grup WA terkait urusan pekerjaan yang akhirnya jadi grup sepi dan sepoi-sepoi, karena (nyaris) enggak ada informasi masuk, sampai grup “ya ampun” karena getol membahas topik “ketinggian” atau topik yang malah bikin kadar pinter turun.


Sekarang sambalbawang tergabung di 30-an grup WA. Barangkali jumlah segitu belum banyak bagi sebagian orang yang terbiasa eksis di jagat maya. Tapi bagi sambalbawang, 30 grup ini nyaris membuat “hilang ingatan”. Sering lupa kalau punya grup "penting", yang akhirnya lupa dibuka, atau ingat setelah sekian hari.

Terlepas dari faktor mata yang makin “manja” karena enggak kuat lama-lama menatap layar apalagi berurusan dengan huruf-huruf kecil, memang tak mudah untuk rutin memelototi hilir mudik percakapan grup. Ribet, bagi sambalbawang. Belum lagi dengan dua ponsel, karena hanya satu yang ternyata sering ditenteng, akibat faktor U.

Bahkan, ingat membawa dua ponsel pun, bisa lupa menengok pesan masuk. Belum ponsel yang habis baterai tapi tak disadari. Satu ponsel pernah lupa ditengok hingga tiga hari. Cerita lain, ponsel pernah "raib" di rumah hingga seminggu, lantaran lupa naruh di mana. Begitu dibuka, pesan yang masuk ibarat rentetan tembakan bermenit-menit.

Hilir mudik percakapan ternyata bisa sepadat ruas jalan Jakarta. Kalau lagi seru-serunya satu topik dibahas, dalam waktu satu jam, jika sambalbawang tak membuka grup, bisa tertinggal puluhan hingga ratusan chat. Itu baru satu grup WA. Dan sering lebih dari 3 grup yang kebetulan sering “tang-ting-tang-ting” nyaris berbarengan. 

Demi Asterix dan Obelix, kalau sudah begitu, sambalbawang menyerah. Maksudnya, tidak membuka semua chat obrolan. Dipilih satu-dua saja. Tapi, dari sekian grup WA yang masih rutin sambalbawang tengok tiap hari—meski tidak setiap saat—adalah grup sekelas saat duduk di bangku SD. Bahkan grup ini sudah berusia enam tahun.

Berawal Maret 2013, teman kejar-kejaran saat SD dulu, berinisiatif membuat grup seiring ngetrennya aplikasi percakapan WA yang menggeser euforia BBM-an. Dari beberapa anggota, akhirnya satu per satu teman sekelas terdeteksi keberadaannya, dan langsung “dijebloskan” ke grup.  

Sebagian teman menyambut dengan suka cita. Saling menanyakan kabar, domisili, pekerjaan, dan semacamnya. Seakan terpanggil kembali memori, terlempar sejenak ke seperempat abad silam saat masih bercelana pendek warna merah. Terpanggil juga gairah mengulak-ulik kisah lucu, wagu, hingga cerita rahasia masing-masing.

Dengan daya ingat yang lumayan tergerus seiring usia, tak semua kenangan tergali. Tapi di situlah pula keseruannya. Tak hanya tentang siapa yang suka siapa (dahulu kala), melainkan juga kisah ringan yang akhirnya terungkap. Oke, oke, salah satu bahasannya memang urusan asmara. 

Yah, asmara ala-ala monkey, lah. Secara saat itu kami masih malu kalau ketahuan suka siapa, apalagi dijodoh-jodohkan. Juga pastilah pernak-pernik ceritanya tidak seperti anak milenial masa sekarang. Dan setelah kami-menjelang (dan kini melewati) umur 40, barulah “berani” sedikit mengumbar kisah masa lalu.

Memang ada kisah yang masih rapat disimpan. Tapi sebagian cerita sudah terekspos karena memang "rahasia umum", hehe. Teman yang dulu nakal sekarang masih nakal bahkan rada saru, ya ada. Teman yang dulu cukup ramai, tapi sekarang agak pendiam, ada. Sebaliknya, ya ada. Macam-macam kategori, lah, pokoknya.

Ada yang badannya sudah agak “membulat” karena kini banyak makan, ada juga yang tetap kurus dan manis. Ada yang kini “memelihara” banyak tato di badannya, dan ada yang kini gondrong rambutnya. Ada yang cengkok ketawanya masih sama. Meski ada yang berubah, tapi masing-masing masih relatif hapal.

Sebagian masih menyimpan foto lawas, yang satu demi satu di-share ke grup. Biasanya, kami lalu tertawa-tawa mengomentari betapa culun dan “inosen” tampang kami. Belum ada yang nampak sangar atau nampak saru, hehe. Menyenangkan juga mengetahui masih ada yang menyimpan foto-foto itu. 

Bisa jadi, itu karena kami-kami ini ternyata juga banyak yang sekelas saat SMP, SMA, bahkan sekampus, dan sebelumnya sekolah di TK yang sama. Belum lagi banyak yang juga tetanggaan. Sambalbawang misalnya punya foto satu teman sekelas yang kebetulan tetangga, saat perayaan ulang tahun. 

By the way, sambalbawang punya satu cerita unik. Saat pindah ke Balikpapan, tahun 2011 lalu, sambalbawang tak mengira ternyata bakalan satu kota sama salah satu teman. Ajaibnya lagi, kami berangkat persis bareng. Selisih pesawatpun hanya 3 jam saat mendarat. Coba bayangkan kalau kami sepesawat. Bisa-bisa bakalan "berkelahi", minimal teriak-teriak histeris.

Lucunya lagi, kami tidak saling mengetahui kabar pindah kerja masing-masing. Alhasil ya saling terkaget ketika mendapati kenyataan saat berselancar di medsos. Bayangkan, tandem sambalbawang saat main bola dulu di posisi bek, pernah juga sebangku, pindah ke kota yang sama, nyaris berbareng waktunya. 

Teman ini terbilang cukup ajaib kisahnya. Sebagai bek, dia jelas bermain bola cukup buruk. Dan dia pun sudah mengamini itu. Seburuk apa, bisa dibaca di sini.Urusan main kelereng pun, juga enggak jago. Tapi dia pernah bikin kami geger –dan terkesima--karena sejumlah hal. Antara lain karena dia bikin (merakit) radio. 

Selain itu juga karena dia pernah punya pengalaman horor, yakni kejedot tiang kayu depan kelas saat bermain kejar-kejaran. Ambruknya di depan mata pula. Begitu “jeduk”, tumbang, dan terjerembab, langsung tak sadarkan diri. Kepala dia bocor. Sebagian darahnya terciprat ke baju sambalbawang. 

Ternyata keajaiban sambalbawang dan satu teman ini, tidak selesai dengan kesamaan hari kami tiba di Balikpapan. Ternyata nama istri kami masing-masing adalah juga dua nama teman sekelas saat SD juga. Badalaaah...Celakanya lagi, sepertinya itu sesekali menjadi topik diskusi tanpa henti di grup. Glek.

Selain kisah sambalbawang, banyak kisah lain yang asyik. Topik sesekali menjadi kian seru karena ada ada beberapa hal yang belakangan terungkap. Peristiwa yang tak terprediksi dan sempat lolos dari pengamatan seisi anggota grup. Misalnya ada yang sampai menikah, padahal dua-duanya masuk di grup. Lucunya adalah, sebagian dari kami (awalnya) enggak tahu. What, what? Eh betulan.. Ini meleset jauh dari "gosip" yang beredar tahun 90 silam. Hahaha. Kaget, sih, tapi sambalbawang jelas terharu nan bahagia.

Serangkaian obrolan yang ditumpuk, sempat pula berujung pada hal-hal serius hingga kesepakatan untuk kopi-darat alias bertemu. Untuk hal serius, misalnya, ada yang berinisiatif menggalang dana untuk membeli meja-kursi untuk adik-adik kami. Ah betapa sedih, melihat meja kursi mereka pada reyot. 

Untuk yang kesepakatan kopi-darat, alias reuni, sudah beberapa kali. Ada yang dibela-belain naik motor berangkat dari Klaten, Jateng, seorang teman yang kini jadi pengusaha. Orang ini, dulu mah, termasuk kompetitor karena “saling sikut” di papan klasemen rangking. Hahaha.

Urusan reuni, pernah juga terjadi secara dadakan. Saat bapak dirawat di rumah sakit, sejumlah teman-teman langsung menengok. Tak hanya sambalbawang yang gembira, namun ibu juga karena tak menyangka. Ah, tak sia-sia sambalbawang dulu sekelas sama kalian. Tos dulu, sama kalian, masbro dan mbakbro. 

Memang mustahil semua hadir saat reuni karena sudah pada menyebar domisilinya dan sebagian terhadang acara lain. Ada pula yang tinggal di luar negeri. Namun bertemu hanya beberapa, sudah membahagiakan. Agak janggal tapi lucu saat reuni berlangsung. Sambalbawang misalnya, akhirnya bertemu kawan tandem makan lotis. Masih kurus, masih begitu penampakannya, tapi masih nampak manis jua. Uhuk, batuk, batuk, batuk...

Ketemu juga sama teman si “pemakan chiki” yang dikenal cukup judes. Jadi menyesal juga mengapa dulu pernah jadi donatur makanan ringan itu ke dia. Tapi di satu sisi, beruntung pula dia sudah berubah. Sudah enggak judes, bahkan baik hati, Sepertinya ada faktor konsentrasi micin, sehingga dia bisa berubah. Hahaha.

Bersua pula dengan teman eks tetangga. Ini juga termasuk teman ajaib karena dulu, kami ramai-ramai ke rumahnya tak hanya untuk bertemu dia. Tapi juga untuk melihat gajah. What? Iya, gajah, karena pekerjaan bapaknya merawat gajah. 

Masih ingat juga, ada teman yang rumahnya luas sekali sehingga puas main petak umpet di dalam rumah, dan puas juga bermain kelereng di halaman. Teman unik lain, ada. Teman cewek ini bertangan kidal dan karenanya membuat sambalbawang sempat terpesona dan heran. Bisa jadi dia orang kidal pertama yang sambalbawang lihat. Akhirnya sering memerhatikan. Sempat menginspirasi untuk mencoba hal yang sama, yakni menulis pakai tangan kiri, meski akhirnya sambalbawang menyerah daripada diketawain ayam.


Ah jadi pengin reunian lagi. Masih banyak teman yang belum ketemu langsung. Namun reuni skala kecil sudah dilakukan teman-teman yang tinggal di Jakarta, Yogyakarta, dan Balikpapan. Meski yang terakhir ini hanya digawangi dua personel: sambalbawang dan si bek itu, atau tepatnya empat personel dengan rincian dua personel kategori “KW”.

Dan begitulah, grup WA sambalbawang yang berisi teman-teman sekelas SD, menjadi salah satu grup yang aktif. Hampir tiap hari selalu ada obrolan. Meski kadang topiknya sama, namun sepertinya selalu cukup fresh untuk dilontarkan. Dan rata-rata memori kami cukup baik untuk mengingat hal spesifik. Misal siapa yang dulu punya jam tangan kalkulator, hingga yang terkenal paling meriah, juga judes..

Sesekali, topik memang pernah rada “memanas” tapi dengan segera “mendingin”. Ah, semakin komplet saja bumbunya. Belum semua teman aktif menimbrung obrolan, dan sempat juga teman yang masuk lantas cabut dari grup. Tapi bagi sambalbawang enggak masalah. Namanya juga anggota grup, bebas masuk nimbrung tapi bebas juga jadi silent reader. Ada yang pernah masuk, tapi lantas keluar atas pertimbangan tertentu, ya no problem. 

Sudah 24 teman terangkum dalam grup WA sekelas SD ini. Masih ada 10-an teman sekelas yang belum masuk. Dilacak di fesbuk, pun, belum ketemu. Mungkin satu saat nanti grup ini bisa komplet. Meski itu agaknya mustahil karena ada teman yang pindah sekolah (dan belum terlacak), serta dua teman yang telah berpulang.

Salah satu yang meninggalkan kami –karena sakit-- adalah teman cewek Batak yang sangat baik. Dia pindah ke kota pelajar karena mengikuti orangtuanya. Dan dia satu-satunya di kelas yang enggak paham Bahasa Jawa, karena itu sering bertanya ke sambalbawang. Karena sambalbawang baik, ya dibantu. Hohoho. Dia sering bawa camilan ke sekolah.

Dia pernah menyanyikan lagu Batak dan menjelaskan artinya ke sambalbawang. Dan kami cukup sering haha-hihi saat pelajaran, sembari makan camilan “krip-krip” yang kami sembunyikan di laci meja. Pada enggak tahu, kan?  Atau sudah tahu? 

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :

Rabu, 29 Mei 2019

MAMMA MIA ! HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN

Sebagai fans berat super grup asal Swedia, ABBA, belum komplet jika belum me-review film musikal “Mamma Mia ! Here We Go Again”. Ini film yang menghibur, namun masih terbilang datar untuk urusan jalan cerita. Sisi bagusnya adalah, film itu, syukurlah, lebih menarik ketimbang film perdana pendahulunya, Mamma Mia !  

Mudah ditebak jalan cerita Mamma Mia kedua ini, karena nyaris tidak ada kejutan. Tokoh-tokoh pemerannya pun, mayoritas pemain lama yang membintangi sekuel perdana. Bisa jadi, Mamma Mia edisi kedua ini tak terlalu memberi warna dan something new jika kita datang menonton dengan harapan besar. Lebih terasa datar lagi jika kita adalah fans berat ABBA, seperti sambalbawang yang sudah mengenal ABBA sejak SMP.

Agak telat me-review Mamma Mia ! Here We Go Again sekarang karena filmnya sudah nongol setahun lalu. Namun karena baru sempat sekarang, ya langsung dituang saja dalam tulisan, ketimbang lantas menguap, hehe. Apalagi, sambalbawang sudah bikin review Mamma Mia ! Bisa ditengok di sini.

Tapi tentu, itu review dari sudut pandang pecinta musik ABBA yang bukan kritikus film sejati. Sambalbawang sudah dua kali menonton Mamma Mia ! Here We Go Again. Sepertinya cukup. Tetapi kalau mendengarkan lagu-lagu ABBA, sih, hampir tiap hari. 

Film kedua Mamma Mia ini biasa saja. Segera terbaca jika film memang semata untuk menghibur dengan menggelindingkan banyak lagu ABBA. Mata akan dimanja pemandangan alam, dan tentu saja, wajah "bening" para pemerannya. 

Sedikit saran, sebaiknya kita menonton film pertama “Mamma Mia !”dahulu  agar segera menangkap jalinan cerita “Mamma Mia ! Here We Go Again”. Atau, bisa memutar dulu lagu-lagu ABBA sesuai playlist lagu ABBA yang diboyong ke film tersebut. Keriangan lagu-lagu dan indahnya lirik lagu grup musik yang beken di rentang tahun 1974-1982 ini, bisa membantu menggambarkan bagaimana karakter ABBA, dan bagaimana film bercerita.

Mamma Mia ! Here We Go Again menyajikan kilas balik (flash back) Donna dan Sophie, pasangan ibu-anak. Bedanya, kali ini Donna yang mendapat banyak durasi tampil, karena ibunya dikisahkan sudah meninggal. Ini sebetulnya lumayan mengejukan. Masa Donna tega "dimatikan"? Can't belive that !

Sambalbawang tidak mengira film bakal memaparkan kematian Donna. Karakter yang diperankan artis kawakan Meryl Streep ini yang paling “menyelamatkan” film pertama di tengah tingginya ekspekstasi--karena Mamma Mia ! adalah film perdana. Sambalbawang yakin sebagian penonton cukup kecewa di awal, melihat sekuel keduanya.

Rentang 10 tahun sejak Mamma Mia ! hingga sekuel kedua, Donna--yang paling dinantikan penonton--malah “dimatikan”. Meski sebenarnya tidak, karena tetap ditampilkan. Jujur, sambawal bawang lebih berharap di sekuel kedua ini akan terungkap satu-dua misteri. Misalnya, sebenarnya siapa bapak kandung Sophie, hehe. Atau mengapa harus Donna yang mati duluan, mendahului sang ibu (Ruby).

Tapi ya sudah, kita nikmati saja film Mamma Mia kedua ini, sebagaimana film-film lainnya. Jalan cerita berpusat pada Sophie, dan rentetan flashback Donna muda—dan tentu saja Bill, Sam, dan Harry muda. Sophie bertekad membuka lagi Hotel Bella Dona, usaha penginapan milik sang ibu (Donna) di sebuah pulau, di Yunani. Sophie sudah mempersiapkan hari peresmian penginapan—bersama Sam yang dikisahkan di film pertama akhirnya menikah dengan Donna.

Re-opening penginapan nyaris batal karena pulau dan perairan sekitarnya dilanda badai. Namun akhirnya pesta terlaksana, tamu undangan hadir, dan semuanya berakhir bahagia. Sophie–yang diperankan Amanda Seyfriend--terus mendapat dukungan dari dua karib Donna, yakni Tanya dan Rosie.

Sophie diceritakan sudah menikah dengan Sky, dan mendapatkan kabar gembira: dirinya hamil. Kondisi yang sama seperti sang ibu sekian tahun silam. Bedanya adalah, Sophie sudah tahu siapa sang ayah dari anaknya. Hehe. Namun ada juga kesamaannya, sih, karena Sophie sebagaimana sang ibu, saat muda, adalah perempuan cantik nan enerjik, memesona pria--dan suka berpetualang di lautan cinta.

Kisah Sophie ditumpuk selang-seling secara rapi, dengan cerita seputar Donna saat usia muda yang bertemu dengan Bill, Sam, dan Harry muda. Donna muda yang cantik, terkesima pada sebuah pulau terpencil yang pemandangannnya eksotis: lautan biru, tebing bebatuan nan tinggi dan hijau, langit biru, serta tepian pantai nan indah. Pulau ini lalu ditempati, dan akhirnya Donna membuat penginapan.

Penggemar ABBA pasti datang menyaksikan film Mamma Mia 2 Here We Go Again untuk bernostalgia atau sekadar memanjakan mata serta telinga. Para penggemar ABBA yang selama ini “bermain” dengan fantasi, karena masih berharap super grup itu eksis. Harapan masih bertepuk sebelah tangan, karena selepas bubar di tahun 1982--atau 37 tahun silam--ABBA tak pernah reunian.

Seluruh dunia terkejut, karena hampir sepuluh tahun ABBA mengentak dunia dan menyematkan kegembiraan musik pop Eropa. Publik mulai mengenal musik Swedia, karena ABBA begitu meroket popularitasnya. Dari sisi kuantitas dan kualitas, ABBA jempolan, dan itu fakta tak terbantahkan.

Delapan album dengan 100-an lagu yang mayoritas mendulang sukses, menjadi bukti bagaimana sumbangsih ABBA pada jagat musik. Korelasinya adalah, harapan fans menjadi sangat tinggi. Ini perasaan yang lumayan persis dialami fans The Beatles, setidaknya sampai sebelum John Lennon meninggal karena ditembak. The Beatles boleh bubar, tapi penggemarnya tidak mau menganggap demikian. ABBA pun boleh bubar, tapi bagi para penggemar--alam bawah sadar mereka mengatakan--ABBA tidak pernah bubar.

ABBA tak pernah mau reuni, dan itu fakta yang menyedihkan. ABBA sebenarnya masih komplet personelnya. Agnetha, Benny, Bjorn, dan Anni-Frid “Frida” yang kini sudah usia kakek-nenek, sebetulnya tidak sepenuhnya meninggalkan panggung musik. Seperti di film Mamma Mia, Bjorn dan Benny tercantum  sebagai executive producer. Bjorn bahkan sempat nonggol sekilas, memerankan dosen saat acara wisuda sarjana. 

Selepas ABBA bubar, para personelnya hanya sekali tampil full team di atas panggung tahun 2006. Itupun tidak bermusik, melainkan hanya bernyanyi lagu The Way Old Friends Do. Dibukanya Museum ABBA di Swedia tahun 2013, juga hanya sekadar pelipur lara guna mengobati kangen. 

Rencana konser ABBA dalam format hologram, jika terealisir pun, tidak benar-benar sebagai ajang reuni karena mereka tidak akan tampil secara live. Empat personelnya tidak pernah mengungkapkan masalah secara terbuka mengapa tak lagi menjalankan ABBA, tapi mereka juga tidak menampakkan sikap bermusuhan.

Jika melihat bagaimana kehidupan para personel ABBA, kita bisa memahami menggapa ABBA tak berlanjut. Keempat personel ABBA adalah pasangan suami istri, namun bercerai. Setahun sebelum bubar, mereka berempat sudah berstatus duda dan janda. Dalam kondisi "genting" itu, satu album masih sempat mereka bikin. Keren. Sayangnya, keinginan keempatnya untuk tidak melanjutkan ABBA, lebih kuat ketimbang desakan fans.

Akhirnya, para fans ABBA, termasuk sambalbawang hanya bisa gigit jari. Dan hanya bisa menyambut gembira peristiwa yang bernuansa ABBA bermunculan, termasuk dua film musikal ABBA tersebut. Kami akan memasuki bioskop untuk mendengarkan lagu-lagu ABBA, dan ingin agar seluruh dunia kembali mengingat ABBA.

Karena itulah, alur cerita film sepertinya menjadi tidak terlalu penting. Mudah ditebak, cukup datar, dan nyaris tidak menghadirkan kejutan. Kalau toh disebut kejutan, ya memang ada, tapi hanya kejutan kecil seperti hadirnya ibu Donna alias nenek Sophie yakni Ruby --diperankan Cher.

Sebagai film musikal, mudah ditebak ketika lagu-lagu ABBA akan berseliweran mengiringi cerita. Di-pas-kan mana lagu yang tepat saat adegan yang mana. Untung saja, proses ini berjalan rapih. ABBA punya semua lirik lagu yang dibutuhkan, apakah bercerita tentang keriangan, kesedihan, harapan, ataupun impian. Jika dibandingkan film pertama, sekuel keduanya lebih baik.

Deretan artis senior sungguh membantu hidup dan cairnya cerita di film musikal bergenre komedi-romantis ini. Semua kebagian peran menyanyi dan menari. Tapi jangan membandingkan dengan suara duo vokalis ABBA—Agneta dan Frida. Angelic voice keduanya, masih tak tertandingi. 

Jika di film pertama, Meryl Streep “menyelamatkan” film dari para "diehard" ABBA, maka di film kedua, sambalbawang merasa suara vokal Lily James yang memerankan Donna muda, paling “menyelamatkan” film dari sisi lagu-lagu ABBA. 

Urusan vokal dan performa, para pemain nampak sudah memberikan hasil yang maksimal. Tak bisa menjangkau suara selevel duo angelic voice itu, tapi tak mengapa. Setidaknya mereka memang menjiwai dan juga fans ABBA, seperti pernah dilontarkan Amanda dan Lily dalam sebuah wawancara.

Mamma Mia 2, menurut catatan sambalbawang, merangkum 20 lagu ABBA. Thank You for The Music mengawali film, disusul When I Kissed The Teacher. Selanjutnya Chiquitita, One of Us, I Let The Music Speak,  Waterloo, SOS, Why Did It Have To Be Me,  I Have A Dream, dan Andante Andante.

Menyusul kemudian secara berurutan: The Name of The Game, Knowing Me Knowing You, Mamma Mia, Angel Eyes, Dancing Queen, Hasta Manana, I’ve Been Waiting for You, Fernando, My Love My Life, Super Trouper, dan Lay All Your Love on Me. Tidak semua dinyanyikan sama persis liriknya, karena mesti mengikuti alur film. 

Jumlah lagu ABBA yang dihadirkan di film kedua, tidak sebanyak di film pertama yang menjejalkan 22 lagu. Jika di film pertama tersaji lagu-lagu ABBA yang banyak dikenal orang, maka di film kedua, beberapa lagu ABBA yang kurang dikenal, dimunculkan, seperti I Let The Music Speak, Andante Andante, My Love My Life, hingga Hasta Manana.



Sebetulnya, itu lagu-lagu yang dikenal banget oleh fans ABBA. Bahkan menuai pujian banyak pihak karena dianggap sangat indah. Hanya memang, saking banyaknya lagu ABBA yang hits, deretan lagu itu enggak kebagian sama terkenalnya. Bagi (sebagian) generasi milenial, pasti asing dengan lagu-lagu ABBA yang hampir tidak pernah mereka dengar. 

Mereka mungkin hanya menikmati Mamma Mia sebagai film musikal biasa. Namun di jagat internet, banyak anak-anak muda yang sudah mengklaim sebagai fans ABBA, setelah mendengarkan lagu-lagunya. Siapa sih yang tidak jatuh hati dengan grup asal negara pembuat mobil Volvo ini, 

Kalau ada waktu, cobalah mencari dan memutar lagu-lagu ABBA yang "kasta kedua" itu, dan akan ketemu sebabnya mengapa ABBA menduduki strata atas dalam musik dunia. Hanya segelintir grup yang berada di level kesuksesan seperti ABBA, baik kualitas musikal maupun penjualan album.  

Berbicara tentang ABBA adalah berbicara tentang grup musik yang telah menjual lebih 400 juta album, berulang kali merajai tangga lagu sejumlah negara selama 9 tahun, dan hebatnya pengaruh mereka pada era music setelahnya. ABBA adalah talenta musik terbaik dari Swedia. “Hadiah dari Tuhan” begitu kata banyak netizen.

Kembali ke topik awal, kesimpulan sambalbawang adalah Mamma Mia 2 cukup sukses dan cukup menghibur sebagai film musikal. Meski begitu--bagi para fans ABBA--masih kurang mantap jiwa karena lagu-lagu ABBA tidak dinyanyikan utuh, atau tidak semelengking--mendekati--suara Agnetha dan tidak serenyah vokal Frida. Hanya Dancing Queen dan Mamma Mia yang dibawakan penuh.

Tetapi ya sudahlah. Pada akhirnya tetap lebih mengasyikkan mendengarkan lagu-lagu ABBA dan menyetel klipnya, ketimbang menyaksikan (lagi) filmnya. Tak bisa dimungkiri, “sihir” ABBA memang ada di lagu-lagu mereka. Mereka yang belum tersihir ABBA, tinggal menunggu waktu saja. Percayalah, hehehe.

"I'm your music, I'm your song" -- Andante andante

BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA :

Kamis, 23 Mei 2019

BASA WALIKAN

"Gek sangi, yo. Mengko 'ndak diseneni sahan pisu,” ujar seorang kawan sembari melihat jam. Dan, kerumunan remaja era 90-an yang lagi semangat-semangatnya hangout tapi masih taat jam malam itu pun, bubar. Sudah dini hari, ternyata. Tapi tak apalah sekali-kali pulang larut, kami kan laki-laki. Poya hoho.

Sambalbawang jadi teringat sejumput obrolan masa lalu, 22-25 tahun silam. Obrolan yang terdengar berbumbu kosakata-kosakata "alien" itu. Sedikit bingung mengartikan beberapa kata di atas seperti sangi, sahan, pisu, dan poya hoho? Itu bukan Bahasa Jawa, melainkan bahasa (basa) walikan. Remaja gaul di Yogyakarta saat itu pasti mengenal bahasa sleng yang mengadopsi aksara Jawa sebagai acuan tersebut.

Ini "bahasa" yang cukup keren dan pernah beken, lho. Setidaknya dari sudut pandang para remaja jadul masa lalu, termasuk sambalbawang. Jadi, mari sedikit mengulik basa walikan seiring menggali memori yang tersisa. Sebelum bahasa "asing" itu punah. Ah...

Sebetulnya kita tidak benar-benar asing dengan bahasa walikan. Sepertinya ada satu kata basa walikan yang sudah familiar yakni “dagadu”. Kalau sudah lupa, ayo diingat sebentar. Dagadu ini juga merek salah satu kaos oblong di Yogyakarta yang menasional. "Dagadu" dalam Bahasa (basa) Jawa artinya "matamu". Logonya bola mata. Cocik. Selain dagadu, ada lagi kosakata basa walikan yang ternyata masih bertahan, yakni sapaan “dab” yang berarti “mas”. Masih sering mendengar orang saling menyapa dengan "Halo, dab !", bukan?

Kembali ke sangi, sahan, pisu, dan poya hoho tadi, itu artinya “bali”—dalam bahasa Indonesia berarti pulang; “bapak”, “ibu”, dan “ora popo”—berarti tidak apa-apa. "Gek sangi, yo. Mengko diseneni sahan pisu" di atas tadi, artinya "segera pulang, yuk, nanti dimarahi bapak ibu".

Masa-masa sambalbawang usia SMP, basa walikan lagi ngetren-ngetrennya. Seperti remaja pada umumnya di kota pelajar, atas nama pergaulan dan "demi kekinian", sambalbawang cukup akrab dengan bahasa gaul itu. Enggak terlalu rumit memelajari, karena basa walikan mengadopsi pengucapan seturut aksara Jawa, yang lumayan sambalbawang paham. Masih ingat hanacaraka dan seterusnya, kan? Lebih susah nulis aksara Jawa ketimbang mengucapkannya--hanacaraka.

Bahasa prokem ini ada “rumusnya”. Tapi sebelumnya, kita rentang dulu aksara Jawa, pelan-pelan, agar mudah memahami dasar basa walikan. Baris pertama berbunyi “ha na ca ra ka”, baris kedua “da ta sa wa la”, baris ketiga “pa dha ja ya nya” sedangkan baris keempat atau terakhir “ma ga ba tha nga”.

Basa walikan diambil dengan cara mengganti kata di baris pertama dengan kata di baris ketiga, serta baris kedua diganti baris keempat. Demikian pula sebaliknya. "Ha" misalnya berpasangan dengan "pa". Contoh lain yakni "na" berpasangan dengan "dha", atau "ka" dengan "nya". Begitu seterusnya (lihat gambar). 

Seingat sambalbawang, tidak semua kata dalam bahasa Jawa yang diganti dengan basa walikan. Alasannya, tidak semua terjemahan kata ke basa walikan terdengar unik. Perlu digarisbawahi, faktor ini penting karena basa walikan tak hanya sebatas pengucapan, tetapi juga intonasi. Maka dari itu, dalam percakapan biasanya basa walikan hanya untuk satu-dua kata, beberapa kata, hingga separuh kalimat. Nyaris tidak pernah digunakan dalam satu kalimat (panjang) utuh. Kalau mengucapkannya terbata-bata  dan pelan (sembari mengingat), kan enggak seru.

Kapan basa walikan dipakai? Basa walikan hanya dipakai untuk percakapan antarteman--biasanya teman sebaya--dan dilarang keras diucapkan ke orang tua. Meskipun dalam perkembangan selanjutnya, sebagian ortu pun akhirnya paham bahasa gaul itu, karena penasaran.

Bahasa gaul ini dinamakan basa walikan karena karena membolak-balik (malik, wolak-walik) aksara Jawa. Kalau direntang ke belakang, perihal kapan kemunculan basa walikan, sambalbawang tidak tahu. Konon, dari cerita sambung-menyambung yang sampai ke telinga, basa walikan dulunya bahasa preman untuk menyamarkan maksud tujuan.

Sepertinya tidak ada buku khusus yang membahas basa walikan. Mengubek-ubek buku kawruh basa Jawa, sambalbawang enggak menemukan bab tentang basa walikan. Bahasa "ilegal" sih, hehehe. Meski begitu, ada beberapa aturan tak tertulisnya. Sambalbawang hanya ingat beberapa. Misalnya, huruf vokal (a, i, u, e, dan o) disematkan ke aksara pertama, yakni “ha”. Ambil contoh, poya hoho tadi berarti (h)ora popo.

Aturan lainnya adalah, tidak semua kata mengacu ke rumus baku basa walikan. Sejumlah kata akan dipenggal satu-dua huruf belakangnya agar terdengar enak di telinga dan enak diucapkan. “Dogos” misalnya, yang berarti motor, sebenarnya tidak baku berbunyi atau ditulis “dogos”, melainkan “dogoy”.

Namun karena “rasa” mengucapkan dan mendengarkan “dogos” lebih enak daripada “dogoy”, maka dogos-lah yang dipilih. Contoh lain--kata yang sering dipakai--misalnya“pahin” yang akhirnya digunakan daripada “pahiny”, untuk mengganti kata “apik”--yang berarti bagus dalam bahasa Indonesia.

Atau “jape methe” yang berarti bocahe dewe, untuk menunjukkan kawan baik alias kubu (orang) sendiri,.  Menilik rumus basa walikan di atas, mestinya bukan ditulis "jape methe" tetapi "sojape methe". Namun memang lebih enak mengucapkan “jape methe” bukan? Ada lagi, kata “rokok” ketika diubah ke basa walikan menjadi “bonyon”, bukan “yonyony”. Mengucapkannya jadi agak ribet.

Walaupun kata-kata dalam Basa Jawa bisa semuanya diubah ke basa walikan, namun tidak semua yang diubah. Sejauh sambalbawang tahu, agaknya cukup jarang, kata "kowe" atau kamu (Bahasa Indonesia), diubah menjadi "nyothe" dalam obrolan teman-teman. "Turu" atau tidur (Bahasa Indonesia) juga sepertinya tidak pernah diucapkan "guthu". Atau "aku" yang ketika diubah ke basa walikan menjadi "panyu", juga kurang populer. Mungkin karena nyothe, panyu, dan sejumlah kata lainnya memang jadi malah enggak keren terdengar di telinga.

Namanya juga basa sleng yang mengutak-atik hal baku (aksara Jawa), akhirnya memang sulit sempurna. Kebingungan dan "tabrakan" pemakaian huruf seturut rumus "hanacaraka", tak terhindarkan sehingga ada kata-kata dalam basa walikan yang tidak pas dan wagu kala diucapkan. Tapi, untunglah, ada kesepakatan bersama--tak tertulis--untuk mengondisikan sekian kosakata basa walikan. Ada kata yang diubah (dan diucapkan) menjadi basa walikan, namun ada pula yang tidak.

Beberapa basa walikan lain yang popular adalah muthig (duit), soco (bojo atau suami/istri), dosin/dosing (mobil), hire (piye), themon (wedok/cewek), satub (bagus), daladh (mangan/makan), lodse (ngombe/minum), ledhgug/ledhub (kentut), themi (wedi atau takut), libil (ngising atau buang air besar), gapi (tahi atau kotoran), bubu (susu), dan tentu saja dagadu (matamu).

Basa walikan--sepertinya--sering dipakai untuk menghaluskan umpatan atau kata-kata "terlarang" atau yang kurang patut jika diucapkan keras-keras. Seperti "dagadu" tadi, yang berarti "matamu", bisa diartikan sebagai umpatan. Matamu !! Tetapi karena mengucapkannya "hanya" dagadu--dan tidak semberi berteriak--maka tidak terkesan kata yang kasar, bukan? Begitu juga jika kita bilang "arep libil dhisik", jika hendak BAB, serasa lebih sopan daripada "ngising"--Bahasa Jawa.

Tetapi, sssst... jangan sembarangan mengucapkan pabu sacilad, ya. Atau mengobral kosakata lajel tanpa liat situasi kanan kiri. Hehehe.

*sebenarnya masih ada beberapa kosakata basa walikan yang populer, tapi karena terlalu vulgar, tidak sambalbawang tulis di sini.