Kamis, 25 Februari 2021

SEKILAS TENTANG PERANG DUNIA II

Trauma Perang Dunia I belum pulih, masyarakat Eropa kembali harus berperang. Bahkan dalam skala yang jauh lebih dasyat dan luas. Sekitar 50 juta orang diperkirakan tewas. Perang yang memilukan secara kemanusiaan, tapi menarik untuk terus dibicarakan.

Bagaimana awal mula perang dunia (PD) II, kita sederhanakan saja biar muat di satu artikel pendek ini, hehehe. Nanti, di artikel-artikel selanjutnya, kita akan bahas topik-topik lain yang terkait. Banyak loh yang bisa dikulik-kulik.

PD II diletupkan oleh Jerman. Negara ini kalah dalam Perang Dunia I (1914-1918). Pasca-PD I, Jerman dalam kondisi terpuruk. Mengapa? Jadi begini. Aturan perang, pihak yang kalah mesti membayar kerugian perang ke pihak pemenang. Itu seperti palu godam yang bikin perekonomian Jerman kacau dan nyaris ambruk. Pengangguran di mana-mana, kerusuhan muncul terus. 

Kepercayaan pada pemerintah—rezim Republik Wimar-- pun jeblok. Rakyat pun kecewa. Adolf Hitler (muda) gerah dan marah melihat nasib bangsanya. Harus melakukan sesuatu, karena masa depan Jerman suram. Veteran PD I dengan pangkat terakhir kopral itu, lalu menyusun pemberontakan. Kudeta. Hasilnya gagal dan dia masuk penjara. Dari tempat itu, Hitler menulis buku "Mein Kampf"--Perjuanganku.

Hitler sadar, dia harus mengubah cara pergerakannya. Keluar penjara, fokusnya beralih ke politik. Bakatnya ternyata di sana. Singkat kata, Hitler, dengan kepandaian dan kemampuan orasinya—yang diakui banyak orang mempunyai kekuatan magis—akhirnya bisa duduk di posisi puncak partai National Socialist atau Nazi. Publik Jerman semakin terpesona. 

Kekuasaan atas Jerman yang kemudian di tangan Hitler, berjalan selaras dengan rakyat yang mendamba pemimpin tegas dan membawa Jerman ke kejayaan. Hitler semakin melaju, ambisius, tampil di mana-mana, dan terus membakar semangat rakyat Jerman. Propaganda dijalankan.

Militer diperkuat dengan tujuan siap berperang, beriringan dengan dipacunya industri. Hitler ingin Jerman memperluas area darat Jerman di Eropa, sekaligus meyakini anggapannya bahwa bangsa Jerman (bangsa Arya) adalah ras terunggul dan berhak memimpin bangsa lain.

Api perang pun menyala, diawali invasi Jerman ke Polandia tahun 1939. Perancis, Belanda, Belgia, dan lainnya, menyusul ditaklukkan. Dunia kaget, tak mengira Jerman bakal berani perang lagi dan punya kekuatan besar. Dunia pun mulai mengenal strategi perang kilat (blitzkrieg) Jerman yang cepat, serentak, efektif, mematikan.

Jerman tidak sendirian. Ada dua temannya, Italia dan Jepang. Sayangnya Italia malah lebih banyak merepotkan ketimbang membantu dalam kampanye di Afrika. Ini memaksa Jerman mengirim banyak tentara dan peralatan tempurnya ke Afrika.

Dibukanya front timur melawan Rusia, di waktu yang salah--karena musim dingin--menjadi titik balik pasukan Jerman mulai mengalami kekalahan. Sementara perang melawan Inggris pun menuai kegagalan. Rusia dan Inggris tak selemah dugaan Hitler. Bahkan dua itulah yang terkuat.

Sementara itu, Jepang yang kebagian peran menginvasi negara-negara Asia, awalnya sukses. Negara-negara yang punya sumber daya alam melimpah, disasar, termasuk Indonesia. Kedatangan Jepang disertai “bumbu” janji bahwa negara itu akan mengenyahkan Belanda.

Jepang unjuk gigi kekuatan armada perangnya. Negeri sakura itu semakin pede dan semakin agresif. Pearl Harbor di Hawaii yang notabene pangkalan militer Amerika Serikat (AS), pun diserang secara besar-besaran. Dampaknya jelas : AS (mendapat momentum) masuk gelanggang perang di Asia Pasifik.  

Balik lagi yuk ke Jerman. Akibat kepedean melawan banyak negara, tapi tanpa melihat kekuatan sendiri, Jerman perlahan keteteran. Benar, secara teknologi, mesin-mesin Jerman jempolan. Prajuritnya juga oke. Tapi, mesin perang akan sia-sia jika minim prajurit, minim bahan bakar, dan diperparah dengan turunnya produksi peralatan.

Belum ditambah faktor Hitler yang semakin ke sini semakin salah strategi, tak memercayai jenderal-jenderalnya, dan makin “halu” sejak pertengahan perang : merasa bisa menang. Bagaimana dengan Jepang? Ya, sebelas-duabelas, sih, kondisinya. Sama. Taktik kamikaze dengan menubrukkan pesawat ke kapal, tak banyak mengubah arah perang. Jerman dan Jepang tak merencanakan dan tak punya cukup tenaga untuk berperang dalam jangka waktu lama.

PD II pun akhirnya rampung tahun 1945. Enam tahun yang sangat menguras biaya, air mata, darah, nyawa, dan menyisakan pelajaran berharga. Berbarengan desing peluru dan aroma mesiu, adu strategi, kecanggihan teknologi persenjataan, dan kisah-kisah heroik, banyak terselip cerita-cerita minor, penindasan dan pembantaian jutaan manusia.  

Pengepungan kota Berlin oleh tentara Merah (Rusia) dan bunuh dirinya Hitler, menyegel akhir PD I di Eropa. Sementara bom atom yang dijatuhkan di Kota Hiroshima dan Nagasaki, membuat Jepang yang sebelumnya mencanangkan perang total, menyerah tanpa syarat.

Seru toh membicarakan PD II. Artikel selanjutnya, masih di blog ini, pastinya, kita cerita lagi soal PD II dari sisi….. eng, ing, eng… Tungguin saja, masbro mbakbro.  

 

BACA ARTIKEL LAINNYA :

KOLEKSI BUKU DAN MAJALAH PERANG DUNIA II YANG TERUS BERTAMBAH 

LUAR BIAS, BEGITU BANYAK FILM DOKUMENTER PERANG DUNIA II 

AKHIRNYA MENCOBA (KEMBALI) BERPUISI 

7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA

MENGAPA HARUS NGEBLOG ?

AKU DI BELAKANGMU TIGER WONG 

KETEMU ANGKRINGAN RADEN, KEMBALI AGENDAKAN "NGANGKRING"

ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA 

NGOBROL BARENG MAS BENNI LISTIYO SEPUTAR MUSIK 80-90AN 

KAKEK-KAKEK AIR SUPPLY 

FORD LASER SONIC (BALADA FORDI -2) 

APA KABAR SUZUKI ? 

 


Minggu, 31 Januari 2021

EMPANG DAN "RAWA" BELAKANG RUMAH YANG HORE

Dulu, enggak pernah kepikiran bakalan punya empang. For what ? Tapi “halaman belakang” rumah yang berair lama-lama mulai terlihat rupawan. Setelah sekian waktu merenung, diputuskan untuk menambah peserta di ekosistem air itu. 

 Ikan nila jadi opsi paling menarik. Akhir Desember 2019, begitu nila nomer urut pertama nyemplung. Diikuti 499 teman—sebagian mungkin saudaranya-- yang semuanya masih seukuran kuku. Baru umur sebulan. Mereka mendiami area ekslusif berukuran panjang 3 meter, lebar 3 meter, sedalam 0,5-1,1 meter, dan berdinding jaring.

“Halaman belakang” rumah sambalbawang adalah hamparan air tawar yang total luasnya paling tidak dua hektar. Sebuah Rawa? Oh, bukan. Kawasan ini sebenarnya hanya cekungan tanah yang terbentuk 10-an tahun lalu, yang konon ikut disebabkan pengurukan tanah kawasan sebelah. Cekungan lama-lama terisi air (hujan). Oke, mari kita sebut itu “rawa”.

Ekosistem sebelumnya pun mati. Atau setengah mati. Berganti ekosistem baru. Pohon-pohon tinggi mengering lantaran perlahan busuk terendam air, berganti tanaman yang tahan kecelup air. Sebagian pohon yang kering masih berdiri---menunggu roboh.

Menurut cerita, dulu ada warga yang punya empang. Tapi jaringnya robek atau rusak. Atau entah gimana, yang jelas itulah yang diyakini memberi andil pada kemunculan generasi pertama ikan di sini. Setidaknya nila dan lele.

Semakin ke sini, tambah beragam ikan muncul. Ada gabus, pipih, betok, mas, hingga bawal. Entah bagaimana mereka bisa sampai kemari. Namun teori paling mungkin adalah, pasti ada orang baik hati yang dulu pernah nyebar bibit-bibit ikan itu.

Seiring empang dibikin, maka “jalan tembusannya” pun ikut dipikirkan. Karena itu, tembok belakang dijebol dikit, agar bisa dipasang pintu kayu. Kecil aja pintunya, yang penting bisa untuk lalu lalang. Jembatan ulin pun dibikin. Pendek aja, hanya semeter.

Lagian, jarak antara tembok belakang dengan pinggir jaring cuma 2 meter-an. Sedikit “halang rintang” memang, untuk naik-turun dari tangga ke tembok, lantaran pintu kayu yang seukuran jendela, tapi itu yang nampaknya paling oke.

Dan hari-hari beternak ikan secara ala-ala, dimulai. Mulai mengenal jenis pakan (pelet) , dan tentu tambah repot karena sebelumnya, di kolam kecil dalam rumah, sambalbawang sudah punya dua peliharaan kura-kura Brasil. Si Kumu dan Kimi.

Tapi dari aktivitas baru, muncul banyak pengetahuan baru. Misalnya mulai kenal sama keong mas. Populasinya buanyak banget di “rawa”. Satwa ini sejatinya termasuk hama. Tapi ternyata bisa untuk pakan kura-kura.

Sebelumnya Kumu dan Kimi makan potongan (sisa) ikan, tulang ayam, sampai kepala udang. Yang terakhir termasuk menu intesitas jarang banget—juga ribet. Nah dua yang pertama, relatif gampang—sebagian minta, pasti dikasih, hehehe.

Namanya peternak amatir, maka urusan perikanan, berjalan begitu saja. Tebar pelet, termasuk sisa nasi dan sayur, dan lauk—dan memastikan jaring tidak robek. Maklum, kawasan air ini juga habitat banyak biawak. Ikan adalah menu favorit mereka.

Tak heran juga, para biawak menjadi lebih sering anjangsana. Sekian kali kepergok lagi nangkring di jembatan (tinggal terjun ke empang). Enggak hanya itu, tapi ular juga beberapa kali hilir-mudik sekitar empang. Ratusan nila yang mulai beranjak gede, pasti bikin mereka tergiur, kan.

Terlepas dari pasti ada ikan yang jadi korban, situasi empang aman-aman saja. Sampai satu ketika, sambalbawang kaget ketika sebagian dari mereka mengambang. Mati. Kondisi ini sama dengan empang sebelah milik tetangga—yang ada lelenya.

Hujan deras yang intens, hampir tiap hari, menjadi biang masalah. Air rawa berubah kehitam-hitaman dan berbau macam belerang/besi. Terjadi sesuatu dengan level keasaman air. Ikan yang tidak bertahan, satu demi satu goodbye.

Dan tersisalah sekitar 50 persen ikan, sepertinya. Sedih. Sebenarnya bukan sedih memikirkan gagal panen, tapi sedih karena pasukan yang menyerbu pelet dan menciptakan kecipak-kecipak air nan merdu, berkurang drastis.

But, life must go on. Nila tersisa melanjutkan hidup. Seiring itu, mendadak timbul keinginan untuk mencoba memancing. Maksudnya memancing di luar empang. Satu paket pancing yang termurah harganya, Rp 180 ribu, cepat ditebus.

Sudah komplet, tinggal merangkai. Acara perdana mencemplungkan ikan, meski salah memasang senar dan umpannya catfood, langsung berbuah manis. Masih ada faktor luck, he. Dua lele lokal terjaring. Berat satu lele ini 200-250 gram.

Setelah itu, mulai sering memancing. Mulai kenal jangkrik dan bikin umpan sendiri dari pelet yang dicampur air—meski tidak kerasan. Tetangga sebelah ikut andil memberi tahu cara memancing yang benar. Dan, satu demi satu ikan pun terpancing.

Hanya saja, cara memancing masih konvensional. Mirip orang bikin teh celup. Cara yang benar seperti “begitu pelampung lari, maka tarik senar” sepertinya belum sambalbawang kuasai. Tapi, ikan tetap bisa dipancing meski sulit.

Lama-lama sambalbawang makin sering nongkrong di belakang rumah. Melihat pemandangan sembari mancing. Kalau enggak dapat ikan di rawa, maka pancing langsung dipindah masuk ke empang. Pasti dapat, lah, hahahha.

 Begitulah “rawa” belakang rumah menjadi lokasi asyik bagi sambalbawang. Menikmati alam, sembari duduk minum kopi atau teh. Nengok di bawah kaki ada kura-kura, nengok ke luar ada empang. Selingannya, sesekali biawak masuk halaman belakang.

“Rawa” kecil ini ternyata bermakna besar. Hati, pikiran bisa cukup adem hanya dengan menikmatinya. Sama seperti mereka, para pemancing yang sering nongkrong di seberang rawa. Meski ada satu yang sesekali menganggu: pemburu burung. Suara peluru angin mereka, 100 persen tidak pernah terdengar merdu di telinga. Sebel.

 

 

 BACA ARTIKEL LAINNYA :

AKHIRNYA MENCOBA (KEMBALI) BERPUISI

MERASAKAN "COKOTAN" BU TEJO DI FILM TILIK 

ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA 

YEN ING TAWANG ANA LINTANG 

AKU DI BELAKANGMU, TIGER WONG 

MENGAPA HARUS NGEBLOG ? 

 

Kamis, 05 November 2020

AKHIRNYA, KEMBALI (MENCOBA) BERPUISI

Nulis puisi ala-ala justru menjadi awal perkenalan sambalbawang ke dunia tulis-menulis. Sejak SMP kelas 1 mulai rutin corat-coret kata yang berujung jadi puisi. Aktivitas harian yang sebagian berbumbu kisah “cinta monyet” masa remaja adalah racikan pas memadukan kata-kata.

Kebetulan punya tandem teman yang juga lagi suka nulis puisi. Kami sering kongkwo sepulang sekolah, kadang memilih nangkring di pohon, untuk bikin puisi. Terus tuker-tukeran puisi yang kami tulis di buku. Lalu saling ketawa dan menertawakan. “Puisi opo iki? Melas,men” biasanya gitu jika puisi kami terlampau memelas dan “melo”. Bucin abis, istilah sekarang. 

Begitulah masa SMP bergulir dengan segepok puisi. Berlanjut ke ke masa awal SMA, sambalbawang makin seneng nulis puisi. Kali ini lebih “serius” karena sudah mulai mahir memakai mesin ketik. Sampai tahun pertama dan kedua kuliah, masih nulis puisi walau frekuensi berkurang. Aktivitas nulas-nulis puisi mulai tersendat dan mampet ketika sudah punya pacar. Wahahahaha.

Oya, di masa-masa SMA, sambalbawang mulai melirik peluang cari duit. Beberapa puisi dilempar ke media: koran, majalah, dan tabloid. Sebagian besar tidak ditayang, tapi seingat sambalbawang, beberapa bisa tembus. Kira-kira ada 6-7 puisi, yang pernah tayang. Ada honor yang dikit, tapi ada juga yang lumayan.

Masih teringat gembiranya mendapat honor pertama, kalau tidak salah dari salah satu tabloid remaja. Joget-joget di rumah, lalu bersepeda ke salah satu warung sate kambing terkenal di Jogja. Iyalah naik sepeda, emang boleh naik motor sama ortu?

Judulnya adalah : tumbas (beli) sate enak. Besoknya ke sana lagi dengan agenda beli tongseng. Besoknya disambung beli gule. Momen bersejarah terukir karena hatrik tiga hari makan menu kambing ‘mulu. Lupakan kolesterol. Dulu, enggak kenal istilah itu, apalagi mikir cara menghindari. Sate kambing termasuk menu wah. Serasa horang kayah, dah.

Selepas tahun ketiga kuliah, aktivitas menulis puisi semakin ditepikan. Dan ketika mulai kerja, makin menguap ktivitas itu dari daftar kegiatan. Sampai kemudian, yah katakanlah, 13-14 tahun kemudian, kembali ingin nulis puisi karena mendadak kangen. Kebetulan pula sudah punya blog. Jadi puisi tinggal sorong masuk.Plung.

Sayangnya buku kumpulan puisi sambalbawang dulu, raib entah di mana. Juga beberapa majalah dan koran (kliping) puisi. Sepertinya kejadian bocor genteng dan dikunyah tikus. Belum termasuk sekian puisi yang sempat nampang ke majalah dinding sekolah, dan selebaran hore lain. Hiks. Sedih. Mungkin itu karma karena tidak serius menyimpan. 

Akhirna ya cuma menulis puisi sebagai pelepas kangen. Sampai kemudian semangat menyeruak ketika kenal podcast “Zona Rindu” di platform spotify. Podcast ini garapan sohib lama saya Yeti (ig @ranselyeye) dan temennya, Abimasanu (abimasanu_). 

Jeng Yeti ini sudah sambalbawang kenal sejak tandem liputan bareng di awal 2004 di Jogja. Masih ingusan sebagai jurnalis. Saat masih ribut-robet berbalut heriok di lapangan. Cewek satu ini yang galak (kecuali sama sambalbawang, hehe) ini memang senang “bernapas” dengan puisi. Selepas tak lagi jadi jurnalis, kami masih saling kontak dan haha-hihi. 

Tawaran untuk nyumbang puisi, tentu tak dilewatkan. Meluncurlah puisi pertama, judulnya Telepon. “Telepon” nongol di spotify Juni 2020 lalu. Ini link-nya : https://open.spotify.com/episode/5IxcjoR4vcOYzN6BdTtUSW?si=6Pb52vvzTKWqCc48rEuw6Q&fbclid=IwAR2FXU4PfZnW3CqQtZteT8zAKYgstHW2RmEHxXMw5OTTyD2j9-V-w2eyOIA#login 

“Telepon” adalah tentang kerinduan sambalbawang pada ibu yang meninggal Agustus 2019. Aktivitas rutin, ditelepon dan menelepon ibu tiap 3-4 hari sekali, mendadak selesai. Sejak saat itu telepon (rumah)—yang jadi satu paket sama TV kabel—tak lagi terpakai. Berdebu. 

 Puisi kedua, meluncur sebulan kemudian, Juli. Kali ini tentang bapak. Di puisi berjudul “Bapak dan Sawah”, sambalbawang memunculkan bapak dari satu sisi terdalamnya. Ia begitu senang sawah, dan tahan berjam-jam hanya memandang sawah dan menyusuri saluran irigasi. 

Oya ini link-nya puisi itu : https://open.spotify.com/episode/3EtbYj0C2vB6Oc86JEQhad?si=vpYll3rrQhWiY0mtpVk-Lg&fbclid=IwAR0e4qw5mC5gTdVbuTeHJ_JT7kHbRiFpBF6Nbhc72dJf_QrTOE3ZAjAd7_A 

 Dalam sekian cerita, sambalbawang kerap menemani bapak ke sawah. Hanya melihat dari satu lokasi ke lokasi lain. Lalu bapak bercerita tentang pekerjaannya yang berkaita dengan saluran irigasi. Dan menitipkan harapan agar sambalbawang menaruh respek ke sawah. Juga ke petani. 

Yeaah, “doktrin” itu sepertinya lumayan manjur karena sambalbawang (sempat) bercita-cita jadi insinyur pertanian. Meski akhirnya “terpeleset” gembira kuliah di Fakultas Teknologi Pertanian, tetap ujung-ujungnya tidak bekerja di bidang pertanian. 

Terakhir sambalbawang menemani bapak beberapa bulan menjelang bapak meninggal, September 2018. Bapak memandang sawah dari balik jendela mobil dan menunjuk-nunjuk. Ah bapak. Tak bisa lagi turun menyentuh padi dan air irigasi. 

Terakhir bapak menyentuh langsung sawah mungkin tahun 2016 lalu. Kami naik motor dan bapak minta berhenti di beberapa titik. Dari sawah, pintu air, saluran irigasi, bolak-balik. Sambalbawang sih manut-manut saja. Lha juga suka sawah. Lagian, selepas kerja di kaltim, ketemu bapak kan jarang. Setahun paling dua kali mudik. 

Dan begitulah, segaris cerita tentang terceburnya sambalbawang ke ranah puisi. Ada pula beberapa puisi yang jadi lagu. Antara lain di sebagian besar lirik lagu “Mama” yang sambalbawang ciptakan. Ini link klip lagunya : https://www.youtube.com/watch?v=IL7X-_PDlRw  Atau klik saja nih di bawah..


Sepertinya bakal makin seru nih, aktivitas yang bakal tergelar ketika sambalbawang akhirnya nulis puisi lagi. Nantikan saja, dalam waktu dekat pastinya (ngarep). Semoga selambatnya awal tahun depan ada kabar fresh. Penasaran? Sama. Kita tunggu tanggal mainnya. Hehe. 

Tapi masih saja ada satu kendala sejak dulu. Sambalbawang tidak bisa atau enggak pernah mencoba serius untuk membaca puisi. Blaik…. 

 

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :

KETEMU ANGKRINGAN RADEN, KEMBALI AGENDAKAN "NGANGKRING" 

MERASAKAN "COKOTAN" BU TEJO DI FILM TILIK

CHINMI JAGOAN KUNGFU DARI KUIL DAIRIN 

MENGAPA HARUS NGEBLOG ?

ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA 

THE AQUARIAN 

TATAG LANANG FASHION SHOW TUNGGAL PERTAMA SAMANTHA PROJECT 

BASA WALIKAN

 7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA

MUSIK ZAMAN DULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS ? 

"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA

HANACARAKA AKSARA JAWA YANG INDAH 

NGOBROL BARENG MAS BENNI LISTIYO SEPUTAR MUSIK 80-90AN 

AMPAR-AMPAR PISANG, INI LHO ARTINYA

TENTANG HONDA (3) INILAH STAR'S FAMILY 

 

Selasa, 06 Oktober 2020

KETEMU ANGKRINGAN RADEN, KEMBALI AGENDAKAN "NGANGKRING"

Agaknya, penantian panjang sambalbawang mencari angkringan yang “benar” di Kota Balikpapan selesai.  Duh, senengnyaaa. Eh sebentar, apa maksudnya angkringan yang benar? Memangnya angkringan lain “salah”? Enggak gitu juga, kali. Makanya, baca dulu artikel ini.  

Ceritanya begini. Sambalbawang akhirnya nemu angkringan yang pas di selera: Angkringan Raden, Jalan Pattimura Balikpapan. Lha kok jadi bergembira-ria, ya karena banyak faktornya. Barangkali, yap, karena sambalbawang sepertinya sudah stop ngangkring sejak tahun 2016.  

Sebenarnya ya tetap (beberapa kali) ke angkringan. Tapi ya cuma sebatas duduk, makan-minum sekadarnya, disambi ngobrol. Lebih ke agenda ketemuan dan ngobrol sama teman, ketimbang memang sengaja ke angkringan untuk nyari makan malam enak atau hanya pingin menyeruput teh “serius”—teh nasgitelpet.

Sambalbawang sudah ke banyak angkringan. Dan sampai pada tahap berhenti berharap banyak pada rasa sajian makanan dan minuman di warung "ceret telu" itu. Baca artikel ini : Angkringan oh Angkringan . Oh iya, ini sekali lagi bukan tentang menu yang tidak enak, karena soal rasa adalah selera personal. Sambalbawang menggarisbawahi tentang rasa dan tampilan sajian angkringan yang bercita rasa Jogja—setidaknya mendekati. Maklum wong Jogja--sampai 9 tahun lalu, hehe. Menjumpai menu khas Jogja (dan sekitarnya) yang memorable cukup susah di Balikpapan sehingga alam bawah sadar selalu mencari mana nih warung Jogja.

Dan di situlah, problem terhampar. Sambalbawang, susah ketemu sajian menu-menu enak yang terangkum di satu lokasi angkringan. Ada yang tahu-tempe goreng tepungnya enak di angkringan satu, tapi menu lainnya, kok biasa. Ada angkringan yang punya menu bakwan (ote-ote) enak, tapi menu lainnya susah diterima lidah.

Ada angkringan yang nasi kucingnya lumayan sip, tapi "teman-temannya" tidak cukup yaksip. Ada angkringan yang tempe bacemnya lumayan, tapi tahu bacemnya tidak. Ada yang tempe goreng tepungnya enak, tapi lainnya terasa “flat”. Dulu, sekian tahun lalu sebetulnya sempat nemu 2-3 angkringan yang sejumlah menunya cocok, tapi bakul-nya wes tutup.

Intinya belum ada angkringan yang bisa memaksa sambalbawang untuk datang berkali-kali. Dalam arti seminggu sekali minimal ke angkringan. Kecuali angkringan Raden ini. Nah, sampai di sini sudah kerasa ajaib-nya kan. Secara tampilan, angkringan satu ini ya standar: gerobak di depan, sejumlah bangku di belakangnya. Lebih banyak angkringan lain yang “kinclong” penampakannya.

Menu di Angkringan Raden ya menu wajib di tiap angkringan. Antara lain sego (nasi) kucing, gorengan tempe-tahu (isi)-bakwan-gembus, sate telur puyuh (endhog gemak), sate hati-ampela, sate usus, tahu-tempe bacem, dan kepala ayam. Dan, tentu saja teh.

Ada beberapa menu pembeda Angkringan Raden dengan angkringan lain. Misalnya bakmi Jowo, ceker ayam, dan soto (saoto)--dinamakan soto seger. Juga sambalnya. Ceker dan bakmi Jowo ternyata favorit di sana. Beberapa kali ke angkringan itu, sambalbawang kebetulan menjumpai banyak orang yang kecewa karena kehabisan ceker bercita rasa pedas-gurih ini.

Nah yang juga bikin hepi sambalbawang adalah menu bakmi Jowo. Menu "langka" nih. Mencari bakmi Jowo adalah hal susah di Balikpapan. Maksudnya bakmi goreng/godog yang bertipikal “Jogja” dan "berani" bumbunya. Barangkali, di Balikpapan yang menggelar lapak bakmi Jowo ala Jogja, enggak lebih dari 5 lokasi.

Oke, sekali lagi soal rasa adalah selera. Kalau kita kembali ke definisi karakter awal angkringan, maka angkringan sekarang memang nyaris semuanya sudah menjauh dari itu. Zaman sudah berubah. Dulu ke angkringan identik dengan mengganjal perut--dan minum teh--sekarang lebih ke makan malam. Bisa jadi, karena itu, di angkringan sini, sambalbawang (pernah) menemukan menu semacam sayur lodeh, pecel, ayam goreng, ayam ala kentucky, cumi bakar, ikan goreng, aneka minuman sachet, aneka be-bakso-an, sampai gudeg.  

Menu-menu tadi bukan menu angkringan di era awal. Sambalbawang masih cukup inget bagainana menu angkringan saat kuliah di era akhir 1990-an. Angkringan ya simpel. Bangkunya aja cuma tiga, mengelilingi gerobak. Kalau kurang, si penjual akan menggelar tikar. Sambalbawang juga pernah ke pusatnya angkringan di Klaten tahun 2004 lalu sehingga masih teringat bagaimana style angkringan orisinil. Baca artikel ini : Angkringan, Lahir di Klaten, Ngetop di Jogja

Angkringan sekarang menyesuaikan dinamika masyarakat, dan daerah masing-masing. Dulu, menu semacam ayam goreng, bakmi Jowo, juga soto, tidak ada di angkringan. Minuman sacetan juga tidak bertengger di gerobak angkringan.

Tapi angkringan memang sudah berubah, menu dan tampilan. Angkringan kini lebih terlihat sebagai warung makan berbasis angkringan—dengan penanda gerobak. Tak bisa kita hindarkan pergeseran visual angkringan ini. Dulu, sebelum tahun 2006 (di Jogja), jam buka angkringan selepas maghrib, sekarang malah ada yang sejak pagi buka--di Jogja ada. Di Balikpapan, sambalbawang sih belum nemu yang gitu. Semua angkringan bukanya ya sore/petang sampai malam.

Balik ke angkringan Raden. Tempat makan ini sebenarnya buka sejak tahun 2011. Walaa ternyata wes suwe---kemana aja lu, bleh? Ahahahaha. Nah lucunya lagi, sambalbawang ternyata juga beberapa kali (mungkin 3-4 kali) pernah ke sana sama temen-temen. Hanya saja, di atas jam 21.00. Jam di mana menu-menu pokok di sana mulai habis.

Alhasil, sambalbawang “hanya” mengambil seputar gorengan—dan nasi kucing, serta teh. Terkesan sih, tapi isi kepala telanjur beranggapan bahwa semua angkringan sama rasa menunya. Jadi rasa penasaran mencoba menu lain atau datang awal di jam buka, tertepikan. Pertimbangan ke Angkringan Raden, awalnya ya lebih pada lokasinya deket rumah. Dan lokasinya ternyata “paling tengah” ketika sambalbawang dan beberapa teman ingin kumpul-hore malam hari.

Sampai kemudian, sambalbawang penasaran untuk ke angkringan itu lebih awal, saat buka, pukul 19.00. Mencoba order yang khusus (teh nasgitel), bakminya versi nyemek (berair dikit)—dibanyakin seledrinya--juga mencoba banyak menu. Eh, lha kok cocok. Dek Bojo (istri) juga cocok dengan menu di sana. Setelah capek urusan kerjaan jahit-menjahit baju, ke angkringan ini sepertinya cukup cihui untuk melepas penat dan bete. Penjahit butuh juga refreshing kuliner, kan. Hehe.

Dan begitulah akhirnya keterusan. Sejak empat bulan lalu, sambalbawang mulai lumayan sering ke sana. Juga sembari ngobrol ngalor-ngidul sama yang jualan. Raden Indarsjah, namanya, dibantu istrinya, memang sudah niat 100 persen jualan versi angkringan. Aha, jadi tahu mengapa nama angkringannya "Raden". Selain itu, nama Raden, katanya, juga terkesan simpel, mudah diingat.

Dulu si bapak ini bekerja di salah satu hotel di Balikpapan. Tugasnya meng-handle urusan dapur. Ah, pantes saja menunya jadi “serius” untuk ukuran angkringan. Sajian berpenampakan bersih. Menjadi menu kelas restoran, kayaknya sudah memenuhi syarat.

Pak Indar ini ternyata … asalnya dari Sleman. Woilaaaaa. Notabene tetanggaan dong sama sambalbawang—satu kecamatan. Wahahaha. Mungkin ini yang bikin menunya kok akur sama selera sambalbawang. Yang masak wong Jogja (Sleman-tepatnya) sih, meski dia sudah lama merantau ke Balikpapan.

Jadi, sambalbawang sekarang menghidupkan lagi saklar “on” untuk agenda ngangkring. Kehabisan menu di Angkringan Raden pun, sepanjang masih bisa ambil tahu isi atau tempe goreng tepung (tipis ala mendoan), dan menyeruput teh, sudah cukup. Gorengan di sini berkonsep "fresh from the oven" karena menganut prinsip : kalau habis, nggoreng lagi. Jika anda beruntung pas gorengannya anget, maka itu..sesuatu banget.

Hanya tersisa nasi kucing di sana, masih bisa dicocol sambal "Raden". Sambalnya dua versi, citarasa manis dan asam-manis. Btw, nasi kucingnya angkringan ini boleh jadi “juara”nya nasi kucing—menurut sambalbawang. Hakekat angkringan adalah sajian menu sederhana bukan ? --ya nasi, gorengan, baceman, dan teh.

Gimana, penasaran sama angkringan satu ini ? Kalau ada wong Jogja, atau penikmat (menu) angkringan sepertinya perlu ke sana. Tapi, kalau kembali ke soal rasa, itu selera yaaa.  Urusan selera, ini bukan seperti Indomie goreng yang disukai semua orang. Begitulah, jreng..


BACA ARTIKEL LAINNYA :

ANGKRINGAN LAHIR DI KLATEN, NGETOP DI JOGJA (TULISAN 2)

ANGKRINGAN OH ANGKRINGAN (TULISAN 1) 

JAHITKAN KAINMU KE MODISTE SAMANTHA BALIKPAPAN 

MAMA by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA

TATAG LANANG FASHION SHOW TUNGGAL PERTAMA SAMANTHA PROJECT 

MERASAKAN "COKOTAN" BU TEJO DI FILM TILIK 

ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA 

7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA

TEH NASGITEL-PET 

HANACARAKA AKSARA JAWA YANG INDAH 

BASA WALIKAN 

GATOTKACA TAK HANYA OTOT KAWAT BALUNG WESI 

CHINMI JAGOAN KUNGFU DARI KUIL DAIRIN 

REPOTNYA "MEMELIHARA" DUA BLOG 

AMPAR-AMPAR PISANG - INI LHO ARTINYA 

MBANGUN DESA YANG NGANGENI 

AKU DI BELAKANGMU TIGER WONG 

 

 

 


Minggu, 06 September 2020

MERASAKAN "COKOTAN" BU TEJO DI FILM TILIK

Dunia netizen lagi heboh sama Bu Tejo, tokoh utama di film pendek “Tilik”. Apa lagi coba kalau enggak soal nyinyir dan level ghibah-nya yang di atas rata-rata. Banyak yang suka Tilik, tapi tidak sedikit yang mempertanyakan di mana pesan moralnya. Hm, apapun itu, kita ternyata sudah merasakan "cokotannya" Bu Tejo.

 Sambalbawang hanyalah penikmat film kelas amatir. Jadi, ya enggak mau fokus membahas apa pesan moral film karya Wahyu Agung Prasetyo dan ditulis Bagus Sumartono itu. Terlalu berat, eh. Sebab film is just a film. Fungsi utamanya adalah untuk hiburan. Pahami itu dulu, sebelum lihat Tilik, juga sesudahnya. Nah perkara kita nanti bakal terhibur atau tidak, itu perkara lain. Seluruh pemeran film dan kru, juga enggak bisa memaksa kita untuk menyukai film itu.

Mari selintas mencermati pencapaian film sebelum jadi trending topic sekarang. Tilik produksi tahun 2018, dua tahun lalu. Film ini meraih Piala Maya untuk kategori film cerita pendek terpilih. Setelah melongok kanan-kiri, dapetlah penjelasan singkat piala itu. Jadi, Piala Maya adalah ajang tahunan yang diinisiasi para penggemar film online di akun twitter FILM_indonesia.

Tilik juga masuk seleksi Jogja-Netpac Asian Film Festival 2018 dan World Cinema Amsterdam 2019. Film produksi Ravacana Film ini tercipta dari hasil kerja sama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).  Dari hal-hal di atas tadi, kita punya (sedikit) gambaran kan, kalau Tilik ini film yang dibikin serius. Bukan film asal jadi yang asal cepat.

Piala Maya ini mungkin masih asing bagi sebagian masyarakat yang tidak mengikuti info film Tanah Air. Tapi sambalbawang cukup yakin, penikmat film pasti kenal. Jadi, setidaknya dari situ, kita bisa satu kata dulu : film Tilik memang dianggap sebagai film pendek paling bagus di tahun 2018 oleh (sebagian) penggemar film di Tanah Air.

Sambalbawang menyebut “sebagian” karena masih memberi ruang ke mereka yang (merasa) penggemar film tapi punya patokan sendiri mana film yang baik, mana yang enggak. Hanya saja, sebelum kita membahas “kualitas”,  film Tilik seyogyanya kita tempatkan di ranahnya sebagai film pendek, bukan film panjang, juga bukan sinetron.

Sambalbawang bukan diehard film, meski sering nonton film. Melihat film Tilik ya sebagai orang awam. Karenanya memang tak terlalu berharap Tilik bakalan sarat muatan edukasi, menyematkan pesan moral, atau sesuatu yang "wah". Cukuplah Tilik bisa menghibur. Lha wong di tahap itu saja, tidak semua film bisa menyita perhatian sambalbawang. Baik film pendek, film “setengah panjang”, maupun film panjang (bioskop).

Durasi 30-an menit, adegan di Tilik mayoritas terjadi di atas bak truk. Sekumpulan ibu hendak menjenguk bu Lurah yang dikabarkan ambruk sehingga dirawat di rumah sakit. Obrolan sejak awal didominasi Bu Tejo dan Yu Ning—dua tokoh utama. Topik obrolan berlanjut gosip soal Dian, kembang desa yang diduga kerjaannya “enggak bener”.

Pergosipan pun meluncur tak terkendali, dengan adegan sentral bu Tejo vs Yu Ning. Nama terakhir ini digambarkan lebih “lurus” dan mencoba tidak masuk pusaran ghibah. Tokoh lain, seperti pengendara truk (Gotrek), mas polisi, Yu Sam, dan Dian, hanya mendapat porsi (total) beberapa menit. Tilik memang mengerucutkan Bu Tejo vs Yu Ning.


Ending film ini juga lumayan mengguncang. Sebagian mungkin bakal merasa gemes. Kedekatan Dian dengan pria paruh baya (kayaknya sih) ex-husband bu Lurah, menimbulkan kesan kalau ghibah-nya Bu Tejo yang terbukti benar. Yu Ning, si "sosok baik" malah kalah, setidaknya di dua situasi. Pertama, langsung "menelan informasi". Yu Ning tidak mengkonfirmasi kondisi terkini bu Lurah : bisa dijenguk atau tidak hari itu. Ternyata Bu Lurah pun masih di ICU, tidak bisa ditengok.

Sia-sia dong ibu-ibu itu kepanasan di bak truk menuju rumah sakit di kota. Sedikit berandai, kalau saja hape bu Tejo tidak lowbat, kan bisa mengangkat telepon dari Dian yang sudah di rumah sakit duluan (agar para ibu menunda tilik-nya). Kedua, Yu Ning masih mengedepankan positif thinking ke Dian dan tidak mau asal tuduh, malah yang salah menganalisis. Situasi ini ya kadang miriplah sama kita jika di situasi serupa. Ho'oh kan ?

Mereka yang mantengin film ini, boleh jadi tergiring pada sikap emosional. Pertama ya menyoal bu Tejo dan Yu Ning, entah pro atau kontra. Yang kedua, mereka yang menyorot Dian--sebagian merasa kok Dian enggak dikasih banyak durasi tampil. Bukankah isu atau kejadian merebut (mantan) suami orang, selalu relevan setiap saat ? 

Sebentar, sebentar. By the way, enggak adakah yang mikir sebaliknya ? Ex-husband bu Lurah itu pria penyuka daun muda. Benak kita kan pasti--biasanya--sepakat tentang hal yang kayak gini. Nah kalau sepintas, isi kepala langsung ke topik satu ini : Dian adalah pelakor, ya berarti mungkin karena kita kebanyakan melahap berita “kriminal”, Sudah tidak berimbang, tidak bergizi pula.

Tilik menurut sambalbawang termasuk film yang biasa karena alurnya masih bisa ketebak. Ceritanya juga biasa, simpel. Tilik (bahasa Jawa berarti menjenguk) menjadi film tidak biasa (unik) karena faktor Bu Tejo tadi. Mengapa? Sepanjang saya nonton film di sana-sini, kayaknya nyaris enggak pernah lihat pemerannya begitu menghayati peran ghibah.

Film ini menjungkalkan keinginan mereka yang kebanyakan nonton film “baik” di mana tokoh yang dianggap “jahat” harus kalah atau tersingkir. Tokoh yang “alim” dan “tidak banyak omong”, harus jadi pemenang. Biar ada pesan moralnya, hihihi. Hm.. Sering nonton film laga dan superhero yang di akhir cerita pasti si tokoh baik pemenangnya, ya siap-siap kecewa nonton Tilik.

Tilik pasti disadari tim Ravacana bukan film yang akan memuaskan banyak orang. Fungsinya lebih ke hiburan. Kalau mau bicara tentang hal-hal berlebihan, itu ada di Tilik, sebagaimana film lain. Taruhlah adegan pak polisi kebingungan saat hendak dicokot, para ibu dorong truk, bahkan mengapa mereka naik truk—bukan pikap. Debat tak berujung Bu Tejo versus Yu Ning juga beberapa kelihatan dipaksakan (tuntutan film)--tapi itu ya sah. Ini kan film.

Kalau begitu, Tilik memang bukan berlebihan? Ayolah lihat film lain yang tokohnya superhero macam Spiderman, X-Men, sampai Batman. Coba bandingkan dengan komedi Mr Bean yang ngehits di era 90. Berlebihan mana coba, disbanding Tilik. Apakah kita mau protes Hollywood?

Sambalbawang juga enggak menganggap film Tilik ini sebagai film cerdas. Tilik lebih ke film yang pas “kena di hati” sebagian masyarakat, khususnya yang paham Bahasa Jawa dialek Jogja. Film ini ringkas, lugas, simpel dalam bercerita, tapi (jelas) bukan film murahan. Kerja keras dan lama loh, bikin film kayak gini. Bukan sekedar ngangkut ibu-ibu ke truk dan pasang kamera di depan mereka.

Siti Fauziah, pemeran Bu Tejo--yang masih termasuk usia milenial--sudah terasah aksi panggungnya. Dia orang teater. Sementara Briliana Dessy, pemeran Yu Ning, juga pernah main di beberapa film—yang pertama tahun 2009 dan sudah melakoni dari panggung ke panggung. Mereka yang katam di ranah seni pertunjukan, pasti sudah langsung tahu kalau Siti—Ozie panggilannya—dan Briliana, sudah tidak canggung di depan kamera.

Lihat aja bagaimana cukup “natural”-nya debat kusir Bu Tejo dan Yu Ning. Kita bisa ikut terbawa emosi. Kita pun bisa ketawa--bahkan hanya dengan lihat tingkah Bu Tejo. Ahahaha. Coba lihat juga beberapa acara selepas Tilik viral (cari sendiri di youtube, yaks). Ada adegan ketika bu Tejo duet (lagi) sama Yu Ning untuk me-roasting Desta. Scene ini lebih hahaha, jika dibandingkan (banyak) selebriti saat live/talkshow.  

Karakter julid dan nyinyir Bu Tejo yang diimbangi arifnya Yu Ning, sebetulnya sudah disematkan banyak film lain. Sinetron-sinetron kan juga banyak menggambarkan itu.  Cuma, ya beda. Karena basic-nya sudah beda. Ozie dan Briliana sama-sama terasah di panggung. Jelajah dan lapangannya lebih “cadas” dibanding sebagian pemain sinetron yang syutingnya banyak di dalam ruangan--jangn tertipu tampang Yu Ning yang kalem,eh.

Karakter ghibah ini hanya karakter di film---seperti dikatakan Ozie. Sama seperti, katakanlah Heath Ledger si pemeran Joker—yang notabene orang jahat. Lebih susah memerankan Joker ketimbang Batman, kan. Come on. So, jangan terus mempertanyakan pesan moral di film ini, atau juga apa sisi edukasinya. Eh, apakah kita sudah overdosis film yang alurnya “tokoh baik pasti menang”?  Apakah kita kebanyakan nonton film barat, sehingga kita lupa tentang banyak topik sekitar yang bisa diangkat.

Dalam hal ini Tilik jeli memotret salah satu karakter atau kebiasaan masyarakat, yakni suka bergosip---termasuk “memelihara” gosip. Cenderung mempercayai isu yang berkaitan hal negatif. Juga kebiasaan “ribut”. Ingat kan kalau di suatu acara, sering hadirin harus disuruh diam.  Selain ribut, juga kebiasaan “pecinta damai”—damai atau titik-titik, yang tergambar di adegan pak polisi.

Yang membuat menarik--dan kekuatan--film itu adalah memakai Bahasa Jawa. Inilah sedikiiiiit gambaran asyiknya bahasa daerah yang lebih cair sebagai bahasa obrolan. Bukankah bahasa daerah ini semakin pudar di era modern sekarang? Di Tilik, cukup apik (dan membumi) pemakaian bahasa Jawa secara baik dan benar. Yang muda berbahasa lebih halus (krama) ke yang muda.

 Ini film bahasa Jawa dengan dialek Yogyakarta, meski tidak seratus persen. Ozie yang bukan kelahiran Jogja melainkan Blitar—tapi sekolahnya di Jogja—sukses memerankan orang ngomong basa Jawa dialek Jogja secara cepat. Tidak mudah, itu, ferguso. Sambalbawan merasa, Tilik bukan film untuk menunjukkan karakter wong Jogja.

Sambalbawang yang besarnya di Jogja merasa film ini lebih ke menumbuhkan kecintaan pada bahasa Jawa. Diingatkan lagi tentang “cara tata karma”. Bahasa Jawa ini cukup rumit karena berlapis-lapis level kehalusan berbahasanya. Teratas krama hinggil.  Tilik pun mengingatkan bagaimana dialek bahasa daerah itu adalah sesuatu yang “kaya”.

Kaya makna, kaya interpretasi. Juga kaya “suara”--terdengar unik di telinga sehingga kita bisa langsung tersenyum bahkan jika enggak paham Bahasa Jawa. Ditunjang gestur tubuh dan dua-tiga joke “receh”, Tilik cukup berhasil memengaruhi emosi para pemirsa. Eh ada juga joke “kere” yang bernuansa (rada saru)—seperti saat ada yang nyeletuk “ularnya” pak Tejo. Juga ada sepenggal “kearifan lokal” lawas, ketika menerapkan cara jempol dikareti agar bisa nahan pipis.

Tilik memenuhi dahaga mereka pencari film yang ingin nonton film bercita rasa “lokal banget”. Dulu di era awal 90 sampai sebelum tahun 2000, masyarakat Jogja sempat diberi “vitamin” bernama “Mbangun Desa”. Sinetron sitkom ini menggambarkan dinamika kampung.  Sambalbawang pernah lho nulis artikel Mbangun Desa 

Dan ternyata, vitamin seperti itu semakin hari semakin susah didapat. Diganti vitamin yang bukan vitamin--bernama sinetron kejar tayang. Lokasi syuting yang sejuk, di dalam mobil, dan di rumah mewah, banyak dipilih karena sebagian artisnya mungkin emoh kepanasan. Kita kebanyakan diguyur sinetron tentang “horang kayah” di TV. Bu Tejo jelas horang kayah, tapi dia masih mau naik truk rame-rame. Masih mau kepanasan.

Jika selama ini kita mengamini ungkapan “Diam itu emas”, maka itu pun dijungkirkan di film Tilik. Bayangkan kalau Bu Tejo ini pendiam, film ini enggak bakal viral. Yu Ning yang awalnya agak pendiam juga akhirnya tidak diam, dan adu mulut juga. Orang yang ributnya seperti bu Tejo pasti ada di kanan-kiri kita. Dan sebagian mereka juga bertipe “solutip”. Akui saja.

Sambalbawang melihat film ini lebih ke film yang tujuannya menghibur. Udah, elo tonton aja. Kalau enggak suka, ya cabut. Penulis naskah sampai pemeran di film Tilik juga enggak keberatan kalau ada yang tidak suka film mereka. Tilik bukan film untuk memuaskan semua pihak. Perkara pesan moralnya apa, ya itu tergantung juga sudut pandang tiap orang.

Jika berpikiran kalau Tilik enggak ada sisi moral atau bobot edukasinya, ya sah-sah saja. Ghibah, gosip,  nylekop (asal ngomong) menyoal topik pelakor, menghakimi status hubungan (saat Dian bareng anaknya bu Lurah), sampai adegan polisi hendak dicokot—akhirnya menyerah dan dikasih bungkusan—mudah dibilang enggak ada muatan edukasinya.

Tapi kalau berpikiran Tilik adalah upaya insan film di daerah menghadirkan tontonan yang menghibur tapi masih memberi ruang bagi beberapa potongan “nostalgia” ala Jogjanan---yang bahasa Jawanya masih dekat dialek Jogja--Tilik berhasil. Sambalbawang angkat topi dan salim tangan. Buktinya Tilik dibicarakan, bukan? Mereka yang bukan wong Jogja juga bisa menikmati film itu meski membaca subtitle dalam Bahasa Indonesia.

Pada akhirnya Tilik adalah film. It’s just a movie. Tapi film yang cukup berbeda. Perbedaan yang sepertinya bisa menawar dahaga kita-kita yang kangen tayangan sinetron yang “membumi”.  Kalau mau dicari kekurangannya sih ya ada beberapa. Sambalbawang misalnya merasa beberapa adegan memang bernuansa hiperbolis--yah namanya juga film.

Berdiri di atas truk misalnya. Kok enggak duduk. Terus, kalau tidak salah, ada adegan Yu Ning telepon tapi nada deringnya kok hape lawas. Padahal sebelumnya dia sempat nyeletuk ber-Wa di grup. Sepertinya enggak ada hape masa kini yang bunyi deringnya gitu. Lalu, adegan pak polisi, juga terasa berlebihan---meski lucu. Lucunya di mana, ya di Bu Tejo itu.

Mau dirunut lagi, Tilik juga tidak sesuai judulnya. Enggak ada adegan menjenguk (sampai ketemu bu Lurah di rumah sakit). Banyak juga ya “celah” yang terserah kita melihatnya sebagai apa. Tapi yak arena ini film, maka so far ya wes. Kita juga enggak pernah protes film Batman dan film Jurrasic Park yang lebih “mengkhayal” dan hiperbolis.

Jadi, nontonlah Tilik secara santai. Siapkan saja teh hangat dan camilan secukupnya. Kalau mau tontonan yang (jelas) lebih mendidik, ya lihat film-film pendidikan. Enggak mau nonton, atau menyesal nonton karena tidak mendapat aspek edukasinya, ya enggak salah.

Film itu ya seperti musik. Banyak jenis dan banyak genre. Satu genre bisa setumpuk musisinya. Satu genre film bisa (ibarat) sejuta filmnya.. Musik itu soal selera, demikian pula film. Untuk film pun, buanyak macamnya dan genrenya. Kalau suka film serius atau film “berat”, mungkin kurang selera sama Tilik. Begitulah proses (dan nasib) film menggelinding setelah dipublikasikan.  

Dan bener kan, Bu Tejo tak hanya bisa ghibah level dewa. Dia bisa juga nyokot (menggigit) tanpa beneran menggigit. Sudah kerasa kan “cokotannya” Bu Tejo ? Ketika Bu Tejo bisa menggiring masyarakat melihat film Tilik, dan mendebatkannya, artinya ya sukses. Tilik adalah film yang "membumi", bikin banyak orang penasaran, nonton, dan ketawa. 

Btw, banyak juga lho film dengan memakai bahasa Jawa--yang juga ditranslate dengan teks Bahasa Indonesia. Enggak cuma Tilik. Jadi jangan hanya lihat film Tilik. Tonton juga film-film (pendek) lainnya dari sineas kita sendiri. Bravo film Indonesia dan mereka yang berjuang demi itu.

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :

MBANGUN DESA YANG NGANGENI 

GATOTKACA TAK HANYA OTOT KAWAT BALUNG WESI

CHINMI JAGOAN KUNGFU DARI KUIL DAIRIN

MENGAPA HARUS NGEBLOG

MUSIK ZAMAN DULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG LEBIH BERKUALITAS ? 

7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA 

AKU DI BELAKANGMU, TIGER WONG 

ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA 

JURASSIC WORLD VS JURASSIC PARK 

NASIBMU SUZUKI 

THE AQUARIAN ? 

AMPAR-AMPAR PISANG, INI LHO ARTINYA 

NGOBROL BARENG MAS BENNI LISTIYO SEPUTAR MUSIK 80-90AN 


 

 catatan: Foto dari screenshot film Tilik di youtube.