Ternyata, tidak gampang menumbuhkan nada. Bahkan memunculkan sepenggal lirik, pun, seakan tak kuasa. Berjam-jam sambalbawang memeluk gitar, dan menggumam ratusan kali suara yang diinginkan menjadi nada. Ah, tidak pernah jadi.
Merentang sekian kemungkinan bunyi, siapa tahu mengerucut menjadi alunan lagu, setidaknya satu bait. Mengais imajinasi, berharap menjumpai secercah irama yang bisa membuatku berseru : Aha. Namun itu belum kunjung tiba.
Berganti ke ukulele yang mungil, tetap sama. Hanya meluncurkan beberapa tembang yang kemudian berujung memarkir kembali benda itu. Kembali beranjak meraih gitar, menyentak senar demi senar, penggal demi penggal.
Tapi entah, lidah tetap kelu, angan masih buntu. Jemari masih tertahan pada enam dawai ini. Terlalu sulit mencipta lagu sekarang, sementara lagu-lagu lama, terbuang tanpa sempat terekam dalam kertas maupun pita.
Betapa mengasyikkan mencipta lagu, seperti saat-saat dahulu. Ketika masih merentang asa dan mimpi. Seperti bermain judi, tanpa tahu apakah itu kan terwujud. Beberapa mimpi dan asa itu kini telah terbeli, tetapi aku masih ingin bermimpi.
Masih juga ingin menggantung asa kembali. Seperti dahulu, lelaki kecil berbadan kurus yang memegang erat gitarnya sembari menatap langit di kala malam. Yang bisa menertawai siang dan sore, tapi tergetar menjelang senja.
Lelaki kecil yang sudah tidak lagi kecil itu, kini masih memeluk gitarnya. Berjuang menguras energi dengan jemari tangannya di atas dawai. Nada itu pasti bisa dicari. Nada itu pasti nanti menghampiri, dan tertangkap.
Oh, he'll regret it someday,
But this boy wants you back again.
That boy isn't good for you.
Though he may want you too.
This boy wants you back again.
Oh, and this boy would be happy.
Just to love you, but oh my.
That boy won't be happy.
Till he's seen you cry.
This boy wouldn't mind the pain.
Would always feel the same.
If this boy gets you back again.
Sambalbawang menyanyikan lagu ini di depan teman-teman SD, lebih 25 tahun
silam. Memberanikan diri melantangkan lagu itu, padahal belum paham cara melafalkan,
apalagi arti liriknya.
This Boy, judul lagu ini, penyanyi aslinya The Beatles, grup yang melegenda
di era 60-70an. Entah mengapa, atau sengaja maupun tidak, itulah lagu Beatles
pertama yang sambalbawang hapalkan liriknya.
Kenangan akan lagu itu tiba-tiba muncul ketika beberapa waktu lalu sebuah
televisi menayangkan cuplikan lagunya.
This Boy, menepikan sejenak lagu-lagu Beatles
lain yang abadi. Seperti Hey Jude, Yesterday, She Loves You, Please-Please Me, Obladi-Oblada, The
Ballad of John and Yoko, dan Something.
Demikian juga Oh Darling, Help, Strawberry Fields Forever, I Saw Her
Standing There, Come Together, Across The Universe, hingga A Hard Days Night. Semua lagu itu tak
lekang dimakan waktu.
Namun This Boy-lah yang pertama bisa sambalbawang cerna dan nyanyikan. Bersamaan
dengan euforia mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals. Memantengin radio seakan itu
harta karun.
Menyimak liriknya, This Boy dapat diartikan lagu yang bercerita tentang seorang
anak laki-laki. Dia cinta dengan seorang perempuan yang merupakan pacar anak
laki-laki lain.
Sedih, ya. Emang. Tapi percayalah bukan semangat kesedihan itu yang saya
sertakan ketika menyanyikan This Boy, dulu. Malah sambalbawang menyanyikan dengan
mantap.
Dan, malam ini, saya mau nyanyi lagu itu dulu. Mencoba mengingat kira-kira
dulu saya nyanyinya bagaimana. Siap-siap dulu. Mana gitar, mana gitaaar?
Saat akhir tahun, banyak orang mematok resolusi
untuk tahun depan. Begitu juga sambalbawang di akhir tahun 2014, merentang resolusi alias keinginan untuk tahun 2015.
Keinginan pertama adalah "memelihara" Harmankardon, audio yang konon ciamik. Yang
penampakannya di toko dibanderol minimal 3-4 juta. Alkisah, suara si doi,
melenting, jernih, merdu, dan gandem. Cocok buat nyetel lagu-lagu jadul agar semakin “hanyut”.
Yang kedua, travelling sama istri ke Bali dan ke Jepang. Sumpah saya belum
pernah berwisata ke pulau dewata. Cuma sempat sekali menapak, ketika pesawat transit ke Bandara Ngurah Rai sebelum lanjut ke
NTT. Itu pun sambalbawang mendekam di pesawat.
Kalau ke Jepang, hm ini motivasi terselubung. Kalkulasi dan
kalkulatornya mesti canggih dan presisi agar uang tidak tekor. Pengen salaman sama Ninja, dan anjangsana ke museumnya. Dan syukur-syukur jika bisa berpapasan sama pengarang
komik Doraemon, dan juga artis Maria Ozawa. Aha.. (sluurp)
Keinginan ketiga, ingin ada makluk baru terbuat dari besi di garasi yang bernama
Glpro. Doi motor idaman di era 90-an yang tak sempat terbeli, tepatnya, tidak kuat
terbeli. Sekarang harganya si GL ini berkisar Rp 5-6 juta. Kalau toh duit sudah ada, tetapi mau dapat di mana
coba tuh kendaraan?
Karenanya, jika bisa mengembat Glpro ya syukur, apalagi kalau kondisinya terawat. Tapi kalau tak dapat, ya tetap syukur.
Mungkin level obsesi diturunkan ke Yamaha V75. Untuk mengenang kisah-kasih
selama kuliahan, yang lebih banyak pahitnya sih, hahahaha.
Resolusi keempat, merestorasi Fordi. Gerobak satu ini udah uzur, sudah
hampir berusia seperempat abad. Sudah mulai agak rewelan dan walau tidak
mogok total. Sudah mulai harus ganti sejumlah onderdil. Awal tahun fordi rencananya, operasi perut dulu, karena oli
mesin-transmisi merembes.
Sesudahnya, mengaktifkan musik di kabin fordi. Spiker-nya sih masih komplet. Mungkin
tape player Clarion yang masih nempel, harus dievakuasi, untuk diganti CD player. Pernah tanya ke toko varasi, harganya Rp 1,5 juta termasuk ongkos pasang. Duh...
Resolusi kelima, membeli sepeda gunung untuk nemenin mas Polygon di
rumah. Agar bisa naik-naik ke puncak gunung sama bini. Dengan kenyataan 70 persen wilayah
Balikpapan berupa perbukitan, rasa-rasanya sepeda MTB paling cocik. Meski memang, sepeda onthel ya bukan berarti tidak cocok. Campuran
besi-baja bikinan 60-80 th silam, memang nyaman dipancal, tetapi rada kurang safety jika jalanan naik turun tidak karuan.
Resolusi keenam adalah “membangun” Vespa Sprint 77. Doi sudah cukup sip, tapi masih kurang sip. Perbaikan di tangki dan kaki-kaki
nampaknya bisa lebih membuatnya nyaman dan mantap digeber. Ah, sayangnya harus pelan-pelan.
Resolusi ketujuh, mengumpulkan semua VCD orisinal dokumenter
tentang perang dunia kedua. Butuh kerja ekstra keras, karena masih jauh
dari selesai. Baru terkumpul 3-4 CD. Obsesi: menebus kumpulan VCD Word War II di Gramedia yang total jendral 12 CD dibanderol Rp 750.000. Melihat rekening tabungan, nyali jadi
ciut.
Resolusi kedelapan, mempunyai tanaman cabai yang tumbuh subur.
Sebenarnya udah pernah punya tiga tanaman cabai di rumah Balikpapan, dan sudah
panenan beberapa kali. Tapi entah mengapa ketiganya lalu layu, karena dicabut
si kucing garong. Kucignya jahat..
Resolusi kesembilan, memiliki gitar listrik, satu saja. Dulu pernah punya
gitar listrik tapi ada kawan yang menelikung dari belakang. Sebel, tapi mau bagaimana lagi. Cukup sudah jadi sinterklas bagi orang lain, bukan? Pokoknya
akan beli, walau tidak tahun ini, pun tahun depan. Someday, lah, pasti teraih. Untuk membawa pulang gitar listrik ini dari toko, mesti menyiapkan tunai Rp 5 juta. Itu estimasi termurah untuk gitar listrik, ditambah amplifier, pencetan kaki, dan perkabelan.
Resolusi yang terakhir, cukup syerem, yaitu memelihara ular. Yang ini paling mustahil
terealisasi karena sejumlah alasan. Pertama, istri bisa pingsan, mengingat binatang melata ini termasuk urutan pertama satwa yang bagi dia "nggilani". Padahal hanya pengen melihara ular kobra,
koq, satu ekor saja, cukup. Lengkap dengan kurungan yang 100 persen aman sehingga si kobra tidak bisa lolos keluar. Kalau kobra nggak boleh, mungkin yang tidak berbisa semacam sanca. “Tidak!” kata
istri sambalbawang, dengan galaknya... (keluh)..
Seorang kawan pernah ketawa heran,
ketika mengetahui sambalbawang kurang suka (baca : tahan) terkena embusan pendingin udara
(AC). Sambalbawang sendiri pun heran. Apa mau dikata, tiupan dingin dari mesin ini sering membuat kelabakan, padahal yang lain justru tersenyum damai. Barangkali sambalbawang mewarisi DNA dari ibu,
yang juga tidak kuat menahan dingin AC. Kondisi ini sudah teramati sejak kecil. Selama ini, tidak terjadi sesuatu. Sampai pada satu pengalaman tahun lalu. Situasinya adalah berada di dalam pesawat, selama empat jam, menuju Shanhai, China. Dua jam berlalu dengan penuh perjuangan. Selimut sudah dibenamkan ke badan, penutup kepala, kaus kaki dan kaus tangan terpasang sempurna, jaket menempel badan. Bahkan kaos sampai dobel selapis. Namun tetap jua tidak kuasa mengusir hawa dingin yang merasuk kulit, menembus daging, dan menyapa tulang sampai ke sumsumnya. Sel-sel otak serasa mulai membeku. Mata serasa kering.
Ujung jari nampak mengerut, tengkorak kepala serasa menciut, kepala mulai berdenging dan pusing. Perlahan, badan serasa mati rasa. Bolak-balik
terpaksa ke bilik kamar mandi yang ukurannya, karena hanya itulah tempat terhangat di
dalam kabin pesawat. Sampai tujuan, turun pesawat, tubuh terasa ringan. Seakan menerapkan "Langkah Sutera", jurus andalan Master Lone, tokoh protagonis di komik kungfu Tiger Wong. Selang beberapa saat, dunia serasa membaik.
Pengalaman lainnya berurusan dengan AC, yakni saat menumpang mobil
travel alias "taksi gelap" trayek Balikpapan-Samarinda. Jika keripik Maicih yang terpedas adalah level 10, maka dinginnya AC di mobil ini ya sepertinya level 10. Atau level 9. Tak tahan dingin, sambalbawang membuka jendela, dan langsung kena semprot
penumpang lain. Alhasil sampai Samarinda, badan sudah meriang, tengkorak kepala seakan menciut, dan mata berkunang-kunang.
Apakah masalah selesai jika naik mobil sendiri? Saya dan saudara bojo juga sering cepat-cepatan. Maksudnya istri
cepat-cepat menghidupkan AC jika mulai berkeringat. Sedangkan saya cepat-cepat
mematikan AC jika merasa hawa di dalam mobil sudah lumayan sejuk.
Sebenarnya, embusan AC tidak jadi soal jika desirannya pelan, sepoi, dan tidak terlalu menusuk. Sederhananya, embusan AC cukup bersuhu 25 derajat celcius dan kekuatan embusan cukup seperempat dari embusan level nomor 1 di mobil. Idealnya lagi, lubang AC di mobil ditaruh di deket kaca belakang. Bingung, kan?
Tapi, tidak kuat tersiram angin AC bukan berarti fatal. Karena itu pula, saya masih bisa enjoy
mengerjakan banyak hal walau keringat bercucuran. Bahkan, terpapar sengatan mentari selama
berjam-jam, saya masih sehat. Masih bisa dadah-dadah.
Berdiri di lapangan
saat matahari tepat menerpa ubun-ubun, sejauh ini aman-aman saja. Ketika yang lain mulai mengomel kepanasan, saya masih anteng. Ketika yang lain mulai kipas-kipas, saya masih juga anteng. Dan ketika tiba-tiba AC berhembus, saya malah pusing. Saya mah gitu orangnya...
Tapi tunggu dulu,
kalau dingin alami yang bukan AC, daya tahan tubuh saya tidak terlalu buruk. Masih bisa. “Itu karena ada sirkulasi udara. Jadi ada angin keluar, ada angin yang masuk,” begitu kata seorang kawan, menjelaskan. Masuk logika, masuk. Pernah seseorang pernah
bertanya. Saya disuruh memilih. Mau piknik ke luar negeri secara gratis tapi
saat musim dingin, atau piknik ke dalam negeri. Sembari ketawa saya menjawab cepat, “Piknik di dalam negeri, lah,".
Benda ini, yang bernama ponsel, sekarang benar-benar melekat erat di tangan. Bukan dalam level kecanduan, atau ketagihan akut, tetapi telah menjadi kebutuhan sangat mendesak maha penting. Menunjang pekerjaan, begitulah. Dulu waktu masih kuliah, sambalbawang sempat berikrar bahwa tidak butuh ponsel dan berharap pekerjaan ke depan bisa sejalan dengan keinginan. Ini tak lepas dari kondisi mata yang memang tidak terlalu mendukung untuk menatap layar. Tetapi zaman kiranya bergerak cepat melampaui kemampuan otak dan keinginan hati menerima kenyataan. Mau tidak mau, sambalbawang--dan hampir semua penghuni bumi ini--takluk juga oleh teknologi dan hal terkait. Ponsel akhirnya jadi kebutuhan.
Ponsel pertama koleksi sambalbawang adalah Nokia 5110. Dibeli persis ketika baru melakoni pekerjaan sebagai juru
warta di awal tahun 2014 lalu. Ponsel yang masih menggunakan antena itu keluaran lawas, karena sudah nongol tahun 1998 silam. Sambalbawang masih ingat harga ponsel itu, Rp 350.000, kala ditebus dari salah satu konter di kawasan Demangan, Yogyakarta. Ponselnya berstatus Black Market (BM), yang berarti hanya garansi toko. Beresiko sih, sebenarnya. Namun saat itu tidak terlalu memerhatikan hal-hal seperti itu. Pokoknya bisa dapat ponsel yang hidup, bisa menelpon-ditelepon, bisa mengirim dan menerima pesan singkat (SMS), maka, bereslah sudah. Saat itu, seri Nokia yang ngetren adalah Nokia 3310. Bentuknya candybar, simpel, dan tidak pake
antene. Kemunculannya menghebohkan. Sebabnya ya karena ponsel ini tidak pakai antena, dan gampang dipakai. Keypad-nya lumayan empuk. Saya yakin Nokia mendapat
julukan hape sejuta umat dari publik, karena kesuksesan seri 3310 dan
5110.
Melongok ke para kompetitor,
ponsel yang trendi waktu itu adalah Siemens, khususnya seri C35. Ponselnya juga bertipe candybar, dan merupakan suksesor Siemens seri C25. Nah, "si-emen" serti C35 ini punya salah
satu fitur unik yakni internet, tapi saya dan semua kawan enggak paham bagaimana memanfaatkan
fitur itu. Harga Siemens
C35 yang baru, dulu, berkisar sejutaan. Kalau bekas, sekitar Rp 600.000. Lumayan mencekik leher dompet . Hanya bisa gigit jadi sambil
memandanginya terpajang menggoda di etalase toko. Jadi, tetap berpuas diri dengan Nokia 5110.
Seiring kebutuhan,
sambalbawang membutuhkan satu ponsel lagi. Mulai rajin, deh, menyambangi kios-kios ponsel
di seantero Klaten, kota pertama penempatan bekerja. Setelah menanti dua
pekan, dapatlah hape idaman Nokia 3310 itu, meski berstatus second. Hape ini dibanderol Rp 400.000. Nokia 3310, ehm, adalah ponsel pertama yang bisa dimasukkan ke kantong celana. Cukup fenomenal, lho. Setidaknya mungkin separuh dari narasumber saya, sepertinya punya ponsel tersebut.
Di penghujung 2004, ponsel layar warna mulai menyeruak muncul. Cetar membahana gaungnya, memicu semua konter untuk memajang habis-habisan. Konter-konter baru tumbuh dengan gegap gempita. Tak hanya warna layar, tapi fitur ponsel pun mulai berjibun dan variatif. Kelebihannya antara lain, bisa memutar musik, nada
deringnya poliponik, dan tentu saja, lebih banyak game-nya. Tak hanya Snake, doang. Dan tentu saja, game itu langsung terlihat jadul. Sulit membayangkan bahwa saya dulu cukup gembira menjumpai ada game ini. Benda untuk nelpon yang bisa untuk nge-game. Sekarang, saya yakin, game ini pun bahkan tidak menarik bagi anak TK. Geliat ponsel layar warna makin gencar di akhir 2005. Saya juga ikut heboh dengan membeli beberapa tabloid untuk memantau pergerakannya. Namun belum memutuskan membeli karena harganya muahal. Kesempatan merehabilitasi ponsel, akhirnya tiba, ketika pulang ke Jogja, akhir 2005. Setelah berkeliaran ke sana-sini, sasaran tembak adalah Nokia 3210. Akhirnya doi dapat dibawa pulang,sekaligus menandai ponsel
layar warna pertama di rumah. Dua tahun ponsel ini menemani,
sebelum akhirnya diminati ayahanda.Seiring ponsel GSM yang tumbuh dan modelnya makin keren, awal 2006, ponsel CDMA mulai menampakkan
wujudnya. Walaupun ponsel CDMA zaman itu masih dengan layar monokrom. Namun pelan-pelan ponsel CDMA mulai dikenal dan saya pun terpaksa ikut
mengoleksi dengan alasan tuntutan pertemanan dan pekerjaan.
Pilihan jatuh ke Nokia 1255. Ponsel CDMA yang ini dulu banyak versi black market (BM)-nya, yang dibanderol jauh lebih murah ketimbang ponsel berstatus garansi resmi. Tapi banyak kawan yang menenteng ponsel 1255 kualitas BM itu. Dan benar saja, ponsel satu ini tidak cihui, sering henghong. Nasib 1255 ini berakhir dengan barter di konter, diganti Motorola W150i. Ponsel baru lebih tahan banting, tapi juga tidak terlalu nyaman dipakai. Keypad keras, letak fitur dan tombol pun membingungkan. W150i pun, dengan berat hati dilego kembali ke konter, dan sebagai gantinya Nokia 2112 karena tetap butuh ponsel format CDMA. Nokia yang ini pun ternyata henghong melulu, sehingga harus dievakuasi dari kantong. Berikutnya datang Samsung SCH S299 yang untunglah, waras performanya.
Tahun berganti
tahun, ponsel selanjutnya datang dan pergi menghuni saku celana. Seiring meredupnya dunia CDMA, maka ponsel CDAM pun mulai tiarap. Nomor Fleksi, dan sempat juga Esia, terpaksa dikubur. Jagat perponselan lantas dikuasai Blackberry, yang setelah setahun di Balikpapan, terpaksa saya beli di akhir 2011. Blackberry Bold ini awalnya berkinerja baik, tapi setelah dua tahun, mulai sering rewel. Setelah dua kali kerusakan, BB sambalbawang bawa lagi ke service center-nya. Mbak-nya bilang biaya reparasi total bisa mencapai Rp 1,5 juta. Terima kasih banyak, saya pulang, dan BB saya bungkus di kardus. Era BB masih berkuasa, hape android perlahan masuk dan berlari cepat. BB-pun menjadi terasa lamban dan tidak trendi. Hape android berjuluk Oppo Clover pun menjadi tawaran menarik, karena harganya terjangkau. Dik Oppo ini yang saya genggam sampai sekarang. Kembali ke kisah ponsel-ponsel masa lalu, beberapa masih disimpan dengan baik dan terawat. Seperti Nokia 1200, yang lebih kodang disebut Nokia senter karena ada
fasilitas senter-nya. Nokia 5110 juga masih dipelihara walau kondisinya sudah
tewas dengan damai 3-4 tahun silam. Nokia 3210 juga sudah pensiun, tapi kardusnya masih terpelihara baik, juga struk pembeliannya. Juga Samsung
SCH S299, ponsel CDMA layar warna pertama yang saya punya, masih tergeletak di kotak, dengan kondisi cukup sehat. Mereka ditemani beberapa ponsel yang pernah sambalbawang tenteng wira-wiri liputan. Kadang, koleksi ponsel ini masih sambalbawang pandangi. Dilap satu per satu. Sambil merentang kisah dahulu kala, sembari menyeruput kopi. Betapa.... BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA : MENGAPA HARUS NGEBLOG
Tidak mengecewakan meskipun masih di bawah ekspektasi. Kira-kira begitu pendapat sambalbawang setelah nonton film Pendekar Tongkat Emas. Harus diakui, ini film laga bergenre silat produksi dalam negeri yang bisa jadi paling menarik.
Sebenarnya jalinan cerita lumayan gampang ditebak. Menceritakan ambisi kekuasaan berbalut dendam, merangkul kisah masa lalu, ditempeli cerita pengkhianatan, tapi tetap ditaburi contoh perbuatan baik. Hasil akhir, si baik pemenangnya.
Cempaka, diperankan secara apik oleh aktris kawakan Cristine Hakim menjadi pembuka cerita. Hanya saja durasi bermenit-menit kelamaan. Tapi barangkali itulah pengantar terbaik untuk mempercepat penonton memahami alur cerita.
Usia uzur memaksa Cempaka yang menguasai jurus Tongkat Melingkar Bumi--yang konon tak terkalahkan--meski menurunkan ilmu ke satu dari empat murid. Jurus keramat itu hanya bisa menitis ke pribadi yang baik. Satu "paket" dengan ilmu itu adalah tongkat emas.
Tiga dari empat murid Cempaka adalah anak dari musuh-musuh yang pernah ditaklukkan Cempaka. Mereka adalah Biru (diperankan Reza Rahardian), Gerhana (Tara Basro), dan Dara (Eva Celia). Satu murid lainnya, dan yang termuda, adalah Angin (Aria Kusumah). Angin adalah murid "temuan", lantaran dibuang oleh orang tuanya.
Dari sinilah jalinan cerita menggelinding. Cempaka yang sakit--karena diracun Gerhana dan Biru--merasa saatnya sudah dekat. Cempaka lantas memutuskan menyerahkan tongkat emas ke Dara. Itu membuat Biru dan Gerhana marah. Tongkat emas seharusnya diwariskan ke Biru, murid paling senior. Angin--yang masih usia anak--memihak Dara.
Biru dan Gerhana lalu mengawali aksi keji membunuh sang guru, Cempaka. Sayangnya Cempaka enggak diberi ruang untuk unjuk kebolehan di sisa akhir tenaganya. Sedikit ngganjel di hati karena Cempaka kok gampang dibunuh, tapi ya sudahlah, itu haknya si pembuat film.
Sebelum tewas, Cempaka sempat berpesan ke Dara. Apabila Cempaka tewas sebelum sempat menurunkan ilmunya itu, Dara harus menemui seseorang bernama Naga Putih.
Sementara itu, Biru dan Gerhana terus mencari korban. Dara dan Angin tentu saja yang ada dalam daftar. Untunglah di saat genting muncul Elang (Nicholas Saputra), yang belakangan diketahui adalah anak Naga Putih.
Siapa Naga Putih? Usut punya usut, Naga Putih dan Cempaka itu pernah terlibat cinta sesaat saat mereka muda, yang akhirnya "menghasilkan" si Elang tadi.
Tapi saat itu Cempaka dan Naga Putih yang berguru dalam satu padepokan, harus berpisah. Sang guru di padepokan memilih Cempaka sebagai pewaris tongkat emas. Naga Putih yang tak mau lagi berjibaku di dunia persilatan, dengan getir membawa bayi Elang. Mereka naik perahu, menyepi jauh dari keramaian. Tak lupa sumpah diucapkan, yang intinya mereka berdua tak akan saling mencampuri urusan masing-masing.
Jalan cerita selanjutnya ya masih mudah ditebak. Biru dan Gerhana mengarang cerita bahwa Dara dan Angin-lah yang membunuh Cempaka. Padepokan silat tetangga percaya cerita itu, dan ikut memburu Dara dan Angin. Pertarungan tak terhindarkan. Dara lolos, tapi Angin menemui ajal karena melindungi Dara.
Dara yang ingin secepatnya balas dendam, ditenangkan Elang. Belum saatnya, karena ilmu Dara tak bakal bisa menandingi Biru, maupun Gerhana. Balas dendam tanpa persiapan hanya berujung kematian sia-sia.
Maka berlatihkan Dara dan Elang. Seiring waktu mereka mengerti kalau ilmu Tongkat Melingkar Bumi akan lebih dasyat jika dipraktekkan berdua. Seperti dahulu ketika Cempaka (muda) dan Naga Putih duet tanding dan menjadi jawara tanpa tanding.
Laga klimaks dalam film tentu saja duel Elang dan Dara melawan Biru dan Gerhana. Tongkat emas di tangan Biru ternyata tak berdaya. Hasil akhir laga, Biru dan Gerhana tewas, meninggalkan anaknya yang lalu diangkat Dara sebagai anak sekaligus murid.
Film produksi Miles Film dan Kompas Gramedia (KG) Studio ini menjadi menarik karena ada adegan yang menampilkan penggal kata-kata puitis. Misalnya waktu Cempaka memberi wejangan atau saat di awal cerita menyampaikan narasi. Namun kehebatan Cristine Hakim harus diakui membawa pengaruh.
Mira Lesama, Riri Reza, Ifa Isfansyah, Seno Gumira, hingga Jujur Prananto yang didapuk menggarap skenario, cukup sukses menjalin adegan laga yang "berteman" dengan kisah drama. Tapi, asyiknya, mereka masih setia pada alur cerita yang simpel.
Mereka juga jeli memilih pemeran bukan dari atlet beladiri yang dilatih berakting. Melainkan aktor dan aktris yang diajari dulu beladiri oleh penata koreografi asal Hongkong, Xion Xin Xin--yang dulu pernah jadi pemeran pengganti Jet Lee. Setidaknya ada "garansi" kualitas adegan jual-beli pukulan, dan untunglah itu yang tersaji di film.
Kalau mencerna duel demi duel, kentara terlihat kualitas gambar coba digeber total. Adegan-adegan tidak nampak berlebihan. Tidak ada aksi melayang yang kaku, atau naik senjata terbang. Gerhana yang terkena tendangan bertubi-tubi, ya langsung ambruk, diam tak bergerak. Enggak mendelik, mengejang, atau melontarkan satu-dua kata sebelum game over.
Jeritan khas film laga bikinan dalam negeri seperti "ciaaat" dan "Hiyaaat" juga diparkir, kagak dijejalkan ke film. Aksi terbang yang lebay, dentuman tenaga dalam, dan sumpah serapah, juga enggak dikasih tempat. Ini benaran dibikin jadi film laga klasik yang simpel.
Latar belakang alam Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur yang berupa padang rumput dan sungai berair jernih lumayan memberi nuansa. Mungkin juga jadi indah karena film-film silat sebelumnya kebanyakan berlatar belakang serba Jawa.
Jika pernah nonton film Lord of The Ring dan The Hobbit, tentu akan terpesona akan alam Selandia Baru. Maka barangkali usai menyaksikan film Pendekar Tongkat Emas, bisa mengagendakan piknik ke Sumba. Sambalbawang juga punya rencana itu. Kapan terwujud, ya entah. Siapa tahu ada pembaca review film di blog sambalbawang ini yang akan ngasih sponsor.
Sebelum lupa, untuk mengakhiri tulisan, sambalbawang akan memberi sedikit kritik. Enggak fair juga kan, jika setelah memuji, tapi enggak memberikan kritik ke film berbiaya Rp 25 miliar itu.
Pertama, sambalbawang agak terganggu dengan istilah "datuk" yang merupakan dewan persilatan tertinggi. Istilah "datuk" ini kan kurang bernuansa Indonesia. Agaknya lebih cocok diganti dengan "sesepuh silat", atau apa lainnya gitu. Kedua, adegan laganya. Memang enggak bisa berharap adegannya setara film laga negara barat. Namun adegan laga di film ini masih terlalu sederhana. Atau mungkin sambalbawang yang terlampau berharap ya. Mungkin agak menarik juga kalau dikasih satu-dua adegan slow motion agar sedikit dramatis. Kalau berharap Dara dan Elang akan banyak memakai tongkat emas, juga siap-siap saja kecewa. Gerhana tidak keok dengan tongkat itu. Dan hanya Biru, yang kena ajian pamungkas. Saat Biru mengayun balok kayu dan disambut tongkat emas--yang dipegang bareng oleh Dara dan Elang--tongkatnya menembus kayu. Kemudian menembus badan Biru. Yah nampaknya itulah "kesaktian" si jurus keramat tersebut. Kritik selanjutnya, adalah penggalan cerita yang rada kurang nendang di beberapa adegan. Cempaka misalnya, kok ya enggak sadar kalau diracun (pelan-pelan) oleh Biru dan Gerhana. Lalu si Naga Putih, di usia tua juga enggak dikasih kesempatan nongol unjuk kebolehan. Padahal si Naga kan mestinya mengajari Elang dan Dara untuk tandem membawakan jurus Tongkat Melingkar Bumi. Dan si Elang kan juga lumayan bisa jurus itu.... Hehe. Kritik keempat, adalah kok ada penggal adegan yang enggak perlu. Seperti ketika Elang pergi ke desa tapi ternyata hanya untuk menagih utang. Sambalbawang jadi membayangkan, Elang akan lebih bersahaja kalau pekerjaannya bertani atau jadi guru sekolah. Eh ya bener, kan. Terlepas dari kritik, sambalbawang beri apresiasi ke film ini. Jujur saja, ini film yang sudah dinanti bertahun-tahun. Koreografi beladirinya lebih sip dan serius, serta logis, ketimbang serial Misteri Gunung Merapi--yang pernah tayang 10-15 tahun lalu. Juga ketimbang film kolosal Saur Sepuh di era 80-an silam. Memang dari segi alur cerita, ya datar. Tapi untung saja, adegan bisa dirangkai efektif, enggak bertele-tele. Fokus pada beberapa tokoh dan setia pada plot cerita. Imbasnya bikin film ini mudah dicerna. Dan bukanlah film silat memang enggak perlu dibikin rumit jalan ceritanya, bukan? Duel demi duel dan aksi tongkat lumayan memukau. Inilah mungkin puncak tertinggi kualitas film silat di Tanah Air. Pesan yang hendak dituangkan, mengena. Enggak perlu jadi orang paling hebat untuk terpilih sebagai yang paling pantas mengemban tugas berat. Kebaikan dan kerendahan hati adalah modal utama. Saya bangga nonton film ini meski hanya bareng delapan orang di dalam bioskop. Hiks, tapi tak mengapa. Selamat dan salut untuk semua artis pemeran dan kru film. Salam juga untuk dek Gerhana. Kamu yang paling tjakep, deh. Boleh minta nomer telponnya? BACA JUGA ARTIKEL LAIN: EVEREST MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN MAMMA MIA FILM MUSIKAL FULL LAGU ABBA MENGAPA HARUS NGEBLOG JURASSIC WORLD VS JURASSIC PARK THE BEATLES FOREVER ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA Pendekar Tongkat Emas
Tiger Wong, pendekar kungfu yang masih muda, memutuskan berangkat sendirian ke Thailand. Ini tentang dendam pribadi yang harus dituntaskan : menuntut balas atas kematian sang adik, yakni Little Dragon, yang dibunuh oleh Chan Ou Wan--seorang jagoan kungfu.
Tak mudah menemukan Chan. Bahkan, masalah langsung menghadang karena kelompok hitam--organisasi tempat bernaung Chan--menghalalkan semua cara untuk meringkus Tiger. Begitu mendarat di bandara, Tiger sudah dijebak. Dia dituding menyelundupkan narkoba, yang tahu-tahu barang itu sudah di dalam tas.
Singkat cerita, Tiger diburu. Jelas nekat dia sendirian ke Thailand, yang notabene adalah sarang musuh. Namun pemuda ini, berbekal kungfu andalannya, Sembilan Matahari, cukup pede. Tiger meladeni pertarungan demi pertarungan. Namun lawan seakan tak pernah kekurangan personel, mulai dari tukang pukul, pasukan bersenjata hingga pendekar andalan. Dari yang menyerbu pakai golok, senapan mesin, sampai yang menyamar sebagai penjual nasi goreng. Untunglah, beberapa kawan karib Tiger tidak membiarkan Tiger pergi tanpa mereka. Diam-diam Tiger disusul, meskipun semua tahu apa resikonya. Mereka adalah Gold
Dragon dan Guy, dua sohib Tiger sejak kecil, yang juga mahir kungfu. Perkiraan mereka berdua benar, Tiger sungguh membutuhkan bantuan. Btw ini vlog review Tiger Wong yang akhirnya saya bikin barusan, agar lebih hore. Silakan dilihat:
Dua kelompok yang berbisnis ilegal, yakni Merah dan
Hitam, berbagi wilayah kekuasaan di negara gajah putih itu. Kelompok Merah, yang dipimpin Barbarian, menguasai lautan. Sementara Kelompok Hitam, yang diistilahkan dengan sebutan "Pemuja Sejagat" dan dikomandani Supreme, areanya daratan. Kedua kelompok itu berbisnis ilegal, salah satunya narkotika.
Ada satu lagi kelompok, yakni Putih yang diplot sebagai kelompok orang-orang baik, berbisnis legal, dan tidak suka mencari masalah. Infinitive White adalah pimpinan kelompok ini. Putih tidak terlalu menonjolkan kekuatan dan tidak suka membuka konfrontasi. Namun Kelompok Putih juga tidak berdiam diri. Infinitive punya orang-orang yang loyal, dan--tentu saja--pasukan khusus.
"Tiger Wong" adalah judul komik berformat majalah, yang muncul pertama kali di Indonesia, di rentang tahun 1990-1991 lalu. Komik itu secara garis besar
menggambarkan perseteruan tiga kelompok tersebut. Tiger dan kawan-kawan terlibat dalam satu duel ke duel lain, melawan beragam tokoh yang silih berganti.
Sengitnya duel dan "pendetilan" jurus-jurus kungfu menjadi bumbu utama komik ini. Seperti bagaimana ketika tendangan atau pukulan berdampak ke tulang. Ambil contoh saat duel Tiger versus Pluto, bagaimana tendangan Tiger meremukkan tulang-tulang lawannya--berikut suaranya. Dan namanya juga komik kungfu (jadul pula), tak ketinggalan adegan yang serasa tidak logis. Seperti tendangan sekuat tenaga yang dihadapi hanya dengan dua telunjuk jari. Ah, tapi itu tak terlalu menganggu sambalbawang--yang saat itu masih remaja dan hanya sebatas menikmati komik "modern" bertopik kungfu. Aksi-aksi kungfu tambah seru karena ditingkahi tipu-tipu-daya, pengkhianatan, asmara yang rumit, hingga kuatnya tali persahabatan. Masing-masing kubu punya keterkaitan jalan cerita, terutama yang pakai bumbu asmara tadi.
Sang tokoh, "Mas Macan" punya banyak jurus. Satu jurus paling andalan adalah Sembilan Matahari. Kecepatan dan kuatan kaki Tiger, diceritakan menggetarkan setiap lawannya. Karibnya, Gold Dragon tak kalah keren dalam beraksi. Doi punya jurus andalan Cakar Peremuk Tulang dan Sodokan Penggetar
Jantung. Tapi yang istimewa, Dragon menguasai Baju Besi Emas level atas, sebagai pelindung. Satu lagi, Gold Dragon lihai memainkan nunchaku. Pendekar berambut pirang dengan luka sayat di pipi ini, partner duel Tiger.
Sementara Guy, seorang biarawan muda yang santun, tetapi menguasai jurus-jurus suci. Guy sebenarnya tidak terlalu suka adu jotos dan bahkan terkesan terlalu baik, karena malah mendoakan musuh yang dikalahkan. Guy mendapat kekuatan dari jurus-jurus suci yang dirapal dengan doa. Kekuatannya melebihi perkiraannya sendiri.
Para pendekar putih ini punya beberapa teman sealiran yang muncul belakangan. Empat karib masa kecil, yakni Baldie, Kid Ganteng, Ming Mata Empat, dan Draco, ternyata juga tak membiarkan Guy dan Gold Dragon diuber-uber musuh. Keempatnya ini punya ilmu yang sekian tingkat di bawah Tiger, bahkan Guy. Tapi mereka cukup cerdik, dan kompak, untuk saling mendukung. Tokoh Putih lainnya adalah Master White, keponakan Infinitive White. Putih juga punya sejumlah anggota militan semisal Furry Rhodent, Sad Administrator, Paman Happy, hingga sejumlah orang di tim (khusus) Hawkeye--yang keberadaannya tak terendus oleh lawan. Hanya saja, kemampuan kungfu mereka masih di bawah para pendekar musuh. Gemes juga sih, hehe, karena mereka cepat game over.
Merah dan Hitam punya segudang pendekar mumpuni. Namun, kalau boleh jujur, dari tiga kelompok itu, kekuatan putih yang terlemah, baik secara kuantitas maupun kualitas. Dalam cerita, kubu Hitam alias Pemuja Sejagat, penuh pendekar yang sepertinya tiada habis hingga episode terakhir.
Para punggawa Hitam misalnya Gembong Tengkorak, Chan Ou Wan, Jupiter, Pluto, Panglima Naga IV, Bocah Ajaib, Tiga Iblis, Tendy, Supreme Muda dan
Supreme Tua. Ada juga tokoh "kelas" medioker seperti Herman, Nyonya Peracun, hingga Penembak Meriam. Dari semuanya itu, Supreme Tua, ayah Supreme Muda, kungfunya paling jago.
Dari kubu merah, Barbarian punya anak buah yang
setia dan sepertinya lebih kompak ketimbang anggota Pemuja--yang sering terlibat intrik internal. Merah diperkuat antara lain Pterosaur, Rahang Tajam, Hiu Merah, Ayam Hutan, Ular Hijau, Puma, Penyihir Jala, Penyihir Jangkar, hingga Rubah
Api. Para pucuk pimpinan punya jurus andalan--tentu saja. Barbarian menguasai level atas jurus Sengatan Listrik Purba, Infinitive White punya Penantang Fuu Hyee, sedangkan Supreme mengandalkan Pembuka Surga Hin Yuen. Kalau merunut ke jalan cerita, Sengatan Listrik Purba yang digambarkan paling top, karena (dahulu) pernah mengalahkan Pembuka Surga Hin Yuen.
Tiger Wong adalah komik berformat majalah yang ngetren di awal tahun 1990, ketika sambalbawang baru saja lulus SD, dan masuk SMP. Inilah komik kungfu pertama yang “mengguncang” para remaja saat itu. Bahkan, sambalbawang sempat mencontoh gaya meditasi ala Sembilan Matahari, kaki di atas sedangkan tangan menekuk di bawah. Hihi. Komik terbagi atas 96 edisi ini, terbit dua minggu sekali, harganya Rp 2.000. Meski kertasnya coklat, tapi sudah full color, sehingga puas membacanya sampai halaman terakhir. Tapi di edisi menjelang akhir, harganya merangkak menjadi Rp 2.500. Harganya murah? Eit, tunggu dulu, itu harga zaman purba. Harus dikonversi dulu.
Dulu, 24 tahun silam, di Yogyakarta, semangkuk mi ayam masih dibanderol Rp 300-Rp 350. Satu bungkus Anak Mas Rp 150. Naik bus umum Damri masih Rp 100. Jadi, kalkulasi sambalbawang, Rp 2.000 waktu itu mungkin setara Rp 45.000-Rp 50.000 di zaman sekarang. Mahal, kan? Menilik gambar dan kualitas gambar dan kertasnya, komik Tiger Wong
termasuk biasa-biasa saja. Gambarnya pun terlihat rada kaku, karena kadang proporsi tubuh : kepala-badan-kaki-tangan, tidak kompak. Mungkin sebagian gambar tokoh agak kebesaran otot. Namun itu dulu tidak terlalu diikirkan, sih, hehe.
Keunikan komik ini adalah jalan
ceritanya yang lumayan asyik. Sang pengarang, Toni Wong, bisa merangkai cerita yang mudah dipahami, meski kemudian rada njelimet setelah menapak edisi 50 ke atas. Cerita komik ini menyelipkan intrik, alur flash back, dan tentu saja, serba-serbi di luar "jual beli pukulan", semisal kisah asmara Gold Dragon dengan Chime, adik Barbarian.
Komik yang judul aslinya “Oriental Heroes” ini memang ingin mengaduk-aduk emosi pembaca. Tokoh-tokoh Putih banyak yang kalah, entah tewas ataupun dipecundangi. Satu demi satu teman Tiger bertumbangan, meski itu juga dialami Merah dan Hitam. Pimpinan Putih,
Infinitive White, malah yang mati duluan ketika markas besarnya diserbu Hitam. (ada koreksi: Infinitive mati dicakar Pterosaur--makasih). Agak tidak asyik karena masih penasaran. Doi kan belum sempat duel sengit versus Barbarian maupun Supreme. Master White, sayangnya juga tewas duluan karena bunuh diri. Dari kubu Hitam, Pluto yang keok duluan di episode
ke-26 karena dituntaskan Tiger. Jupiter (anak Supreme) juga dihabisi Tiger. Dan, seperti sudah bisa ditebak, Chan malah hidup sampai edisi terakhir. Toni Wong juga sukses bikin sambalbawangjengkel.
Di akhir cerita, digambarkan Tiger dan Gold terkepung oleh para pentolan Kelompok Merah. Posisinya sudah sulit. Akhir cerita pun jadi mengambang. Keinginan sambalbawang menyaksikan Kelompok Putih yang menang, akhirnya sirna. Ending-nya saja tidak paham. Tapi bisa diraba kalau akhirnya, Tiger ya tewas. "Akan ada Tiger yang lain..." begitu narasinya. Ah..
Tapi ya sudahlah, itu memang haknya Toni Wong untuk memainkan
kisah dan mengambangkan ending yang terhenti di edisi ke-96. Terlepas dari akhir cerita, komik ini ingin saya koleksi. Dulu ya pernah
berlangganan, tapi hanya bertahan tak lebih enam edisi, karena ortu tidak kuat.
Mau membeli, kok harganya mahal banget, sehingga hanya beberapa edisi yang terbeli. Beberapa lainnya menyewa dari taman bacaan--dengan kondisi sejumlah halaman disobek orang (sedih). Mulai edisi di atas 30, sepertinya kok makin susah dapat. Atau dulu enggak tahu nyari di mana ya, hehe.
Akhirnya ya enggak bisa tuntas baca sampai akhir, juga enggak paham awal cerita komik ini. Tapi setelah 20 tahun berselang, awal tahun 2012 lalu, ada secercah harapan. Ceritanya adalah, sodara bojo a.k.a istri sedang
berselancar di jagat internet untuk mencari buku-buku komik. Dan, malah ketemu si pengoleksi komik Tiger Wong yang mau melego komiknya
itu, komplet 96 edisi dengan kondisi fisik 70-75 persen. Mata langsung berbinar, komik langung dieksekusi.
Dan, di sinilah sekarang--rak buku--mas Tiger Wong dkk.. Malam ini sambalbawang
pengen baca kisahmu lagi, mulai dari edisi perdana "Api Balas Dendam" sampai edisi terakhir "Selamat Jalan Tiger?". Masih terus nagih nih, liat jurus Sembilan Matahari dan aksimu saat menuntaskan Pluto.
Dengan mantap, sambalbawang mengikrarkan diri sebagai bagian kelompok Putih. Aku dibelakangmu
Tiger, jangan khawatir !