Jumat, 05 Maret 2021

LUAR BIASA, BEGITU BANYAK FILM DOKUMENTER PERANG DUNIA II

Apa yang belum terceritakan di buku, majalah, dan artikel-artikel seputar Perang Dunia II? Pastilah visualisasinya. Dan kita beruntung, cukup banyak film dokumenternya. Lewat cakram optis, kanal youtube, hingga di tayangan berseri Natgeo, semua bisa membayangkan suasana PD II dan menyelami lebih dekat setiap pertempuran dan cerita.

Benar-benar luar biasa. Dokumentasi itu masih bisa kita lihat sampai sekarang, padahal perangnya sudah rampung 75 tahun lalu. Masih susah lho, membayangkan ada orang-orang yang berani mengangkat kamera merekam pertempuran dari dekat. Di darat, laut, maupun udara. Sempat-sempatnya, eh.. Sebagian dari mereka bahkan sampai kehilangan nyawa.

Tidak terhitung berapa gulungan pita terselamatkan, bisa diperbaiki, dan yang dipindah formatnya ke digital. Jika tulisan dan foto bisa bercerita banyak tentang PD II, maka rekaman video memberi nuansa lain. Kita, misalnya, bisa membayangkan bagaimana situasi pertempuran. Tapi tetap saja belum cukup mengerti seberapa dekat bahayanya bagi si pengambil gambar.

Ada lho, dokumentasi video dari kru kapal perang Amerika di tengah-tengah serangan kamikaze pesawat-pesawat Mitsubishi Zero Jepang. Kita bisa jadi ngerti bagaimana hantaman pesawat itu langsung menimbulkan bola api besar dan mengepulkan asap pekat. Ada pula video dokumentasi pengapnya kondisi di dalam kapal selam U-Boat Jerman. Ada juga rekaman suasana parade tentara Jerman di depan Hitler, saat awal-awal perang.

Kita juga bisa menyaksikan blitzkrieg (serangan kilat) Jerman dari konvoi panzer-panzer saat menginvasi Polandia. Barisan atau lebih tepatnya parade tentara Jerman saat memasuki Paris, Perancis, setelah menaklukan kota itu, ada videonya. Masih ingat raungan sirene pesawat Ju-Stuka Jerman? Melalui film dokumenter, kita bisa mendengar sirine yang memekakkan telinga dan menciutkan nyali pasukan lawan ketika pesawat itu menukik ke bawah.


Gerak maju pasukan Jerman ke daratan Rusia (operasi Barbarrosa) yang tersendat gegara lumpur tebal dan musim dingin, tak ketinggalan terdokumentasi. Sekaligus saat mereka balik dipukul mundur. Gelombang tentara Merah Rusia yang tinggal setengah km dari bunker Hitler, juga ada rekamannya, baik dari sisi Jerman maupun Rusia. Termasuk saat-saat terakhir Hitler.

Pihak yang dalam posisi menekan atau hampir menang, punya kesempatan lebih banyak untuk membuat rekaman demi rekaman. Masih ingat kan, visualisasi seperti cendawan raksasa yang terbentuk pascabom atom dijatuhkan? Terlepas dari dasyatnya bom, persiapan membawa bom itu juga ada dokumentasi visualnya. Di film-film dokumenter, bahkan komplet dibahas bagaimana polemiknya, pro-kontra, jauh sebelum bom itu dirakit.

Pendaratan pasukan sekutu (D-Day) di pesisir Perancis, di tahun 1944, yang merupakan operasi amphibi terbesar, juga cukup banyak terdokumentasi. Banyak pula cerita para prajurit yang melihat satu demi satu kawannya tertembak, tapi tak bisa banyak menolong. Ransel saja sudah berat dan terus dihujani peluru waktu menuju pantai.

Melalui film dokumenter, kita bisa melihat hancurnya bangunan-bangunan di London karena kiriman bom pesawat Jerman—termasuk roket V-1. Juga hancurnya kota-kota di Jerman karena Inggris balik membalas, bahkan barengan sama Amerika. Film dokumenter juga tak lupa menampilkan halaman depan sejumlah surat kabar Inggris dan kondisi pasukannya, dengan iringan suara sang perdana menteri, Winston Churchill yang berpidato membakar semangat rakyat: We shall never surrender ! 


Sebagian dari video (yang masih hitam-putih) itu merupakan video rampasan perang—yang pasti belum sempat dimusnahkan pihak lawan. Ada juga yang mengangkat wawancara para veteran perang yang selamat dari pertempuran mematikan. Juga dari keluarga mereka.

Sambalbawang tidak punya banyak dokumentasi video PD II. Baru “sempat” mengoleksi beberapa VCD. Semuanya dibeli di toko. Beberapa judul misalnya Hiroshima (BBC); Auschwitz-The Nazis & The Final Solution (BBC); War of The Century-When s.Hitler Fought Stalin (BBC); Jeremy Clarkson War Stories-The True Stories of Two Audacious World War II Mission.

Secara garis besar, isi VCD itu sudah tahu, kan. Dari judulnya aja sudah tergambar. Ambil yang Jeremy Clarkson dulu. Doumentasi ini gaweannya Jeremy yang notabene juga presenter acara otomotif Top Gear. Dia mewancarai (menulis kisah) prajurit veteran PD II yang mendapat Victoria Cross, penghargaan militer tertinggi.

Dalam War of The Century, kita menonton cepatnya tentara Jerman dan kendaraan mereka merangsek masuk tanah Rusia. Rusia akhirnya mengambil langkah mundur, yang belakangan terbukti jitu. Semakin jauh kendaraan melaju, rantai logistik pun makin panjang, bukan?

Ditambah musim dingin yang amat dingin (sampai diistilahkan sebagai Jenderal Winter), pasukan Jerman yang tidak cukup persiapan--karena nyaris tidak berbekal pakaian hangat, jelas bertumbangan. Bisa bayangkan suhu yang hampir 50 derajat di bawah nol ? Tak hanya prajurit yang tumbang, oli mesin kendaraan pun beku. Menarik loh cerita ini.

Oke kita kembali ke koleksi film. Karena VCD yang bisa diburu, terbatas, kita ganti obrolan ke dokumentasi video di Natgeo dan yang bertebaran di kanal berbagi video (youtube). Di sinilah “surga” bagi para penyuka kisah-kisah PD II. Beneran, banyak cerita menarik dituang di sana.

Sambalbawang “melahap” semua (atau hampir semua) tayangan seri documenter PD II di Natgeo (sebagian ada juga di youtube). Di sini kisah-kisah dinukilkan secara rapi dan menarik. Misalnya tentang galangan tempat kapal-kapal selam Jerman diperbaiki, dan bagaimana pihak lawan melumpuhkannya.

Banyak pertempuran epik disajikan dari kemenangan armada udara Inggris melawan serbuan pesawat Jerman (Battle of Britain); penyerbuan ke pulau Iwo Jima; pertempuran Midway; hingga “kampanye” Jerman di sisi utara Afrika yang dipimpin Erwin Rommel.

Ada pula film dokumenter yang mengangkat cerita napak tilas ke lokasi-lokasi bersejarah, seperti benteng Atlantik-nya Hitler di Norwegia; tempat latihan pesawat tempur Jerman; bunker-bunker Jerman yang kokoh; hingga ke perairan lokasi karamnya kapal-kapal perang. Ada juga kisah bertahan hidup tentara di belantara Australia.

Sebagian dokumentasi video itu berkonsep diceritakan ulang. Disusun dari keping-keping dokumentasi video, dijalin menjadi cerita beralur. Ada pula yang dibikin filmnya (secara serius) dengan adegan-adegan yang mendukung. Misalnya di film-film dokumentasi tentang Hilter, diperankan oleh mereka yang wajah dan posturnya cukup mirip dengan Hitler. Wuih..

Tayangan-tayangan tersebut jadi terasa lebih sip karena dilengkapi analisis-analisis berdasarkan data dan pengamatan lapangan. Di episode Perang Dunia II yang ditayangkan kanal Natgeo misalnya, bercerita tentang awal invasi Jerman ke tanah Rusia. Jerman mengerahkan ribuan pesawat, termasuk pembom legendaris Junkers JU-88.

 Selama PD II, Jerman memproduksi lebih 9.000 JU-88. Tapi sedikit yang selamat pascaperang. Nah satu JU-88 ini ditemukan di dasar danau di Norwegia, lalu direstorasi. Pesawat itu terbilang fenomenal, karena tercepat di eranya. Kecepatan menukiknya 360 mil per jam. Fast bomber. Akurasi menjatuhkan bom, juga apik. JU-88 lincah, cepat, tapi juga rentan sisi pertahanannya. Di film dokumenter itu, menariknya juga dipaparkan situasi kokpit, termasuk kecanggihan JU-88 yang sudah mengadopsi sistem autopilot. JU-88 bisa mengatur otomatis sudut menukik, berhenti menukik (setelah menjatuhkan bom), dan kembali menanjak. Ini penting karena dalam sejumlah kasus, manuver itu berimbas pada tekanan gravitasi yang bisa bikin kru pesawat pingsan.

Jerman berjaya di awal dengan JU 88. Dua hari pertama invasi ke Rusia, 2.000 pesawat Rusia bisa dihancurkan. Kebanyakan pesawat Rusia ini masih di darat. Istilahnya, pesawat-pesawat itu dalam posisi siting duck. Mangsa empuk. Rusia kaget, tak mengira diserang secepat itu. bahkan lebih buruk lagi, Rusia tak mengira Jerman menyerang--karena itu berarti melanggar kesepakatan damai.

Lanjut ke cerita. Invasi tertahan meski Jerman tinggal 300 km menuju Moscow. Hitler memilih mengamankan dulu ladang minyak Kaukasus. Masukan dari para jenderal--di antaranya Jenderal Hadler--agar Jerman langsung merebut Moscow, tak diindahkan. Waktu terbuang, momen hilang. Jerman bahkan sudah telat memulai kampanye perang di Rusia karena musim dingin tiba. 

Dan begitulah Jerman berbalik menelan kekalahan demi kekalahan karena meremehkan Rusia. Di sisi lain, Jerman tersudut pula dari sisi barat (pasca D-Day). Banyak hal menarik terjadi usai PD II. Di film dokumenter Natgeo itu misalnya, Jenderal Hadler bekerja di angkatan darat AS, dan dia membukukan cara kerja Nazi Jerman. Salah satu pilot JU-88, setelah perang,

Ada pula film tentang pendaratan pasukan AS ke Iwo Jima Jepang. Pulau kecil itu dipertahankan mati-matian oleh Jepang dan bagaimana strategi Jepang memanfaatkan setiap detil pulau itu sebagai benteng. Pertaruhan Jepang sangat besar. Kalau Iwo Jima (yang ada pangkalan terbangnya) sampai direbut, maka tanah Jepang terancam bombardir pesawat.

Iwo Jima adalah pertempuran paling berdarah selama PD II di wilayah Pasifik. Amerika pun tak mengira korban jiwa dari kedua pihak bakal sebanyak itu (total sekitar 26.000 orang). Mungkin inilah pertempuran terepik di mana tentara Jepang bertahan dengan kecerdikan dan segala keterbatasannya—lantaran sudah terdesak.

Bahkan sampai ada filmnya loh, berjudul “Letters from Iwo Jima”. Ini bisa dibilang termasuk film tentang PD II yang favorit bagi sambalawang. Bagaimana Jepang, bisa dibilang bertempur sampai serdadu terakhir. Eh, ada yang belum nonton film ini? Ayo buruan nonton. Ini film bagus, lho. Sambalbawang bahkan sampai nonton beberapa kali. Yuk tengok sedikit film itu.


Sangat banyak film yang dibikin berdasar pertempuran PD II, kisah-kisah kepahlawanan para prajurit, atau yang hanya "menumpang" di cerita. Masih ingat kan sama film Band of Brothers, Midway, hingga Admiral Yamamoto. Dan oh ya tentu saja Furry-- menceritakan lima prajurit di satu tank Amerika yang bertempur menghadang pasukan Jerman. 

Begitulah setiap inchi PD II selalu menarik untuk diceritakan, ditulis ulang, dianalisis dari berbagai versi, hingga difilmkan. Lewat tayangan bergerak, kita melangkah lagi lebih “dekat” ke pertempuran demi pertempuran. Bener-bener tidak enak dan mengerikannya sebuah perang. Kita bisa membayangkan, merasakan, seandainya jadi tentara. Atau minimal jadi warga yang ketakutan karena pesawat menderu di atas sambil memuntahkan bom.

PD II yang berdurasi enam tahun tak hanya dimenangkan di medan laga. Sebagian harus dimenangkan dari laboratorium. Ada begitu banyak ilmuwan yang mempelajari senjata musuh dan mencari teknologi untuk menghadang dan mengunggulinya. Pertempuran juga ikut dimenangkan dari menderunya pabrik-pabrik yang tak henti memproduksi peralatan dan peluru. Pertempuran juga sangat ditentukan pihak mana yang paling punya bahan bakar. Itulah sebab pasukan Jerman yang sedang ngebut ke Moscow, diperintah Hitler untuk belok dulu, merebut kilang minyak lawan.

Wuuh, sampai ke mana-mana pembahasan soal PD II di artikel ketiga ini. Kita sudahi saja, ya, ntar jadi kepanjangan nih artikel. Sudah lumayan panjang nulis pun, kayaknya baru secuil yang tersampaikan. Enggak apa-apa. PD II memang topik yang terlampau menarik dan tidak mungkin dituang dalam beberapa tulisan. Setuju ? Sip. Oke, bahasan yang sekira terlewat, biarlah nanti untuk dituang di artikel keempat (kapan yaaaa).

 

BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA :

KOLEKSI BUKU DAN MAJALAH PERANG DUNIA II YANG TERUS BERTAMBAH 

SEKILAS TENTANG PERANG DUNIA II

7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA

KETEMU ANGKRINGAN RADEN BALIKPAPAN, KEMBALI "NGANGKRING" 

BAWA KAINMU, JAHITKAN KE SAMANTHA PROJECT

MERASAKAN "COKOTAN" BU TEJO DI FILM TILIK 

AKU DI BELAKANGMU, TIGER WONG 

CHINMI JAGOAN KUNGFU KUIL DAIRIN 

ABBA, TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA 

MENGAPA HARUS NGEBLOG ? 

BASA WALIKAN 

MUSIK JADUL VS JAMAN NOW, MANA LEBIH BERKUALITAS ? 

NGOBROL BARENG MAS BENNI LISTIYO SEPUTAR MUSIK 80-90AN 

THE BEATLES FOREVER 

THE AQUARIAN 

TENTANG HONDA (3) INILAH STAR'S FAMILY 


Jumat, 26 Februari 2021

KOLEKSI BUKU DAN MAJALAH PERANG DUNIA II YANG TERUS BERTAMBAH

Perang Dunia II rampung 75 tahun silam. Jalannya perang dan cerita sekitarnya sudah terdokumentasi di banyak buku, majalah, hingga novel. Belum yang diangkat ke layar lebar sampai film dokumenter. Bejibun pula tulisan dan analisis yang dituang ke media, portal opini, blog, dan vlog. 

Mungkin seperti jumlah bintang, saking banyaknya. Hebatnya lagi, itu seakan tidak ada habisnya. Cerita seputar Perang Dunia (PD)  II masih terus digali sana-sini, dari berbagai aspek dan kepentingan. Diceritakan ulang, dikemas ulang, sampai dianalisis ulang.

Sialnya, atau lebih tepat, gilanya, PD II memang topik yang super menarik. Kita seperti menciduk air dan mata air yang tak pernah kering.  Enam tahun Perang Dunia II dengan skala yang masif, jelas punya lebih banyak kisah ketimbang PD I yang berdurasi 4 tahun.

Dokumentasi seputar PD II, termasuk peninggalan-peninggalannya, terus menarik minat banyak orang. Sambalbawang pun termasuk, hehehe. Kapan persisnya tertarik PD II, kayaknya sih di tahun 1990-1991 lalu, waktu lagi panas-panasnya Perang Teluk II. Lho, apa hubungannya?

Jadi begini. Waktu itu, selain tentu saja mengabarkan jalannya Perang Teluk jilid kedua, media juga sesekali mengulas, atau sekedar flashback ke PD II. Juga Perang Vietnam. Jangan sampai perang di semenanjung sana itu sampai jadi perang besar.

Pernah sambalbawang membaca artikel (lupa di koran mana)  tentang PD II.  Sepertinya menarik. Baca sih baca, tapi saat itu, sambalbawang lebih tertarik ke berita-berita olahraga (sepakbola), dan artikel terkait musik—atau sekilas tentang grup musik sampai lirik lagu.

Ketertarikan mulai muncul (lagi) ketika televisi menayangkan serial “Tour of Duty” tahun 1993/1994. Film sekian episode itu berlatar perang Vietnam di medio tahun 70an — dan anehnya,  setelah sekian tahun sambalbawang baru menyadari kalau tuh film jelas dari sudut pandang Amerika Serikat (AS). Pantesan..

Lho, trus hubungannya apa? Sebentar, cess... Kita lanjutkan ceritanya. Film itu tambah bikin penasaran, bagaimana sebenarnya perang. Sama seperti filmnya apa enggak. Dan seterusnya. Akhirnya jadi ngerti juga kalau sebenarnya AS yang tidak tahan berperang lama di belantara Vietnam. Desakan publik menolak perang, AS pun keluar arena.

Rasa penasaran terhenti lagi karena mesti mengawali tahap baru, yakni kuliah, hehe. Mungkin baru di tahun kedua (akhir), kepanggil lagi rasa itu. Seiring semakin suka keluyuran ke perpustakaan-perpustakaan dan menghabiskan waktu berjam-jam di sana.

Entah buku apa terkait PD II yang sambalbawang baca, beneran sudah lupa. Hanya ingat kalau beberapa bacaan itu (yang sebagian berbahasa Inggris) mengangkat topik umum saja, seperti sekilas PD II, dan juga seputar PD I. Sebagian lain, ya topik khusus semacam panzer Jerman, taktik kamikaze Jepang, hingga bom atom yang menghanguskan Hiroshima dan Nagasaki.

Bisa dikatakan, saat itu—ya di awal masa kuliah—semakin tahu ada kaitan kemerdekaan kita dengan hiruk-pikuk jalannya PD II di kawasan Eropa dan Asia. Proklamasi kemerdekaan kita, misalnya, benar-benar cerdik mengambil momentum babak belurnya Jepang.

Pengetahuan sebelumnya—yang sepertinya hanya bersumber utama buku sejarah—sampai bangku SMA, baru memberi pemahaman penggal per penggal seputar PD II. Ditambah belum cukup tertarik, maka seputar PD II hanya terbaca secara permukaan. Seupil saja, malah.

Selama masa kuliah, belum ada buku-buku seputar PD II yang dibeli. Bukannya enggak pernah beli buku, tapi waktu itu sedang tersita minatnya ke buku-buku puisi, utamanya karangan Kahlil Gibran dan Rabindranath Tagore. Itu yang dicari. Masih “berjiwa puitis” sih, hehehe.

Kita skip cepat beberapa tahun sampai ke masa awal bekerja sebagai jurnalis, awal 2004. Semakin terbuka banyak ruang dan kesempatan berburu buku. Makin rajin berburu buku. Sampai pada akhirnya ketemu deh, yang dinanti : sepaket buku yang mengangkat PD II, karangan PK Ojong. Ada empat buku; Perang Eropa Jilid I – III, dan Perang Pasifik.

Koleksi pertama, dengan cepat disusul koleksi selanjutnya. Satu demi satu buku terkumpul. Juga majalah, VCD documenter, sampai miniatur pesawat.  Bahkan empat buku PK Ojong tadi, sambalbawang sampai beli dua kali. Ternyata bapak suka.

Begitulah sambalbawang pada akhirnya sampai pada kesimpulan memang menyukai bacaan (juga film dan documenter) yang berbalut PD II. Aktivas berburu yang sebelumnya hanya datang ke kios buku, dilanjutkan ke ranah maya, sejak tahun 2011. Beli buku dan majalah bekas secara online (daring).

Kalau ke pameran buku dan ke toko buku, sampai sekarang, sambalbawang utamanya tetap mencari buku-buku seputar PD II. Meski ya tidak semua buku terkait dibeli. Bisa jebol dong nih dompet, kalau semua diangkut pulang. By the way, di rak, sudah punya berapa koleksi buku dan majalah ? Sepertinya sih sudah 50 lebih. Belum termasuk buku tentang perang lainnya semaca Perang Vietnam, dan Perang Korea. Waah… Sampai sebegitunya.. Yah, namanya juga seneng.  

Selain empat buku karangan PK Ojong tadi, beberapa judul buku koleksi sambalbawang yakni : das Panzer, Strategi dan Taktik Lapis Baja Jerman (Fernando R Srivanto); Blitzkrieg, The Rise of Hitler to The Fall of Dunkrik (Len Deighton); Adolf Hitler (M Muhibuddin); Penerbang Angkatan Laut Jepang 1937-1945 (Osamu Tagaya & John White) Sejarah Divisi Gunung Waffen SS (Nino Oktorio).

Buku-buku lainnya : Ardennes 1944 Pertaruhan Terakhir Hitler (James R Arnold); Wings of War, Great Combat Tales of Allies and Axis Pilots During World War II ( James P Busha);  Kisah Diktator-diktator Psikopat (Syamdani); Battles of Word War II – Dieppe 1942 Prelude to D-Day (Ken Ford); Band of Brothers (Stephen E Ambrose); Secret Weapons of World War II (William B Breuer); Konflik Bersejarah; Runtuhnya Hindia Belanda (Nino Oktorio); dan War of Balikpapan (Herry Trunajaya BS & Muhammad Asran).

Di jajaran majalah, yang terbanyak memang majalah Angkasa (Edisi koleksi). Beberapa judul misalnya; Pesawat Pembom Sepanjang Masa; 60 Tahun Pengeboman Hiroshima & Nagasaki; Kamikaze, Kesatuan Udara Bunuh Diri Jepang; Kedigdayaan Nazi Jerman; Perang Asia Timur Raya 2 – Kejatuhan Dai Nippon;  Serangan ke Pearl Harbor, Serbuan Pengobar Perang Pasifik.

Masih di majalah Angkasa, koleksi lainnya : Kisah-kisah Heroik Penjaga NKRI; 100 tahun Penerbangan Wright Bersaudara; Great Commanders of The Battle Fields; Operasi Amfibi, Seluk Beluk Pendaratan ke Pantai Musuh; Die Waffen SS; The Nazi’s War Machines; Nazi’s Special Forces, Pasukan Inti Kekuatan Nazi; The Most Epic Tank Battle of Deutches Afrika Korps; Pistol & Revolver.

Seri Angkasa berikutnya : Kisah Hebat AK-47 dan Lima Senapan Legendaris;  The Worst Military Disaster; The Great Sea Warfare, Pertempuran Laut Paling Menentukan di Dunia. Sementara untuk koleksi lain, yakni Majalah Commando, misalnya: War Machine Series – Battleships & Battlecruisers; T-72 Main Battle Tank. Monster Darat Rusia. Lainnya, Uniforms of World War II (Peter Darman).

Dari semua itu, mana yang paling favorit? Susah menjawabnya, eh. Gini saja... Kalau boleh sambalbawang kasih saran, ada baiknya membaca dulu empat buku karangan PK Ojong itu kalau ingin tahu PD II. Agar sedikit banyak mengerti duduk perkara, polemik, dan dampaknya. Selain itu, pendapat pribadi sih, empat buku itu asyik dibaca, jelas, dan secara kronologis, dapet.

Di buku Perang Eropa Jilid I misalnya, ada sedikit pengantar bagaimana Hitler yang ambisi dan kefanatikannya menyulut api perang. Beberapa kisah legendaris, juga tertuang sekilas, misalnya sepak terjang Erwin Rommel, jenderal Jerman paling disegani. Juga operasi Barbarossa, ketika Jerman menyerbu Soviet Rusia. Ada juga cerita bagaimana upaya sekutu menghancurkan kapal-kapal tempur Jerman yang menakutkan.

Edisi Angkasa : Serangan ke Pearl Harbor, juga bisa jadi bacaan menarik untuk mengetahui beberapa aspek di balik peristiwa itu. Armada udara Kekaisaran Jepang, dengan 441 pesawat, memang menghabisi pangkalan AS itu. Tujuh kapal perang AS, hancur dan tenggelam. Tapi dari sudut militer, AS tidak lantas lumpuh, karena seluruh kapal induknya selamat. Serangan itu adalah titik awal konflik terbuka perseteruan AS-Jepang yang sudah dimulai tahun 1930.

Berikutnya, sambalbawang comot majalah Angkasa edisi Pesawat Pembom Sepanjang Masa. Seberapa penting pesawat pembom? Mari cari tahu di majalah itu. Jadi, ketika Sekutu mulai menerbangkan banyak pesawat pembom secara bersamaan, siang dan malam, Jerman perlahan luluh lantak. AS terbilang telat “main” di udara, tapi begitu melepas B-17 Flying Fortress, dan teruji di udara. Pesawat itu diakui sebagai pembom dengan pertahanan terbaik.

Jerman membuka PD II dengan mengirim “gelombang” JU-87 Stuka, pesawat cepat dan kuat. Pesawat yang menggentarkan nyali semua lawan, dengan ciri khas sirinenya— lantas sering disebut Terompet Jericho--lantaran memekakkan telinga. Di udara pula, nantinya armada udara Jerman keteteran untuk pertama kali saat menghadapi gigihnya perlawanan pesawat-pesawat Inggris. Di ujung akhir PD II, Amerika menerbangkan B-17 ke Hiroshima dan Nagasaki untuk menjatuhkan bom atom. 

Begitulah, jreng. Setiap buku dan majalah PD II memberi banyak sudut pandang dan cara memandang dan menganalisis laga demi laga di banyak front. Kita jadi tahu bagaimana strategi “jual-beli pukulan” dua pihak di lapangan menerapkan teknologi persenjataan terbaru. Juga masalah demi masalah yang harus dihadapi para prajurit dan jenderal.

Jadi, apakah koleksi buku PD II sambalbawang masih akan terus bertambah? Pasti…  Tungguin vlog youtube Sambalbawang kang Adi ya, yang bakal bahas topik ini. Yihaaa.

 

BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA :

SEKILAS TENTANG PERANG DUNIA II 

LUAR BIASA, BEGITU BANYAK FILM DOKUMENTER PERANG DUNIA II 

 7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA

TEH NASGITEL-PET 

MENGAPA HARUS NGEBLOG ? 

ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA 

GATOTKACA, TAK HANYA OTOT KAWAT BALUNG WESI 

CHINMI, JAGOAN KUNGFU DARI KUIL DAIRIN 

MAMA by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA 

BASA WALIKAN 

 LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK

TATAG LANANG, FASHION SHOW TUNGGAL PERTAMA SAMANTHA PROJECT 

AKU DI BELAKANGMU, TIGER WONG 

AMPAR-AMPAR PISANG, INI LHO ARTINYA 

YEN ING TAWANG ANA LINTANG 

JURASSIC WORLD vs JURASSIC PARK 

NASIBMU SUZUKI 

Kamis, 25 Februari 2021

SEKILAS TENTANG PERANG DUNIA II

Trauma Perang Dunia I belum pulih, masyarakat Eropa kembali harus berperang. Bahkan dalam skala yang jauh lebih dasyat dan luas. Sekitar 50 juta orang diperkirakan tewas. Perang yang memilukan secara kemanusiaan, tapi menarik untuk terus dibicarakan.

Bagaimana awal mula perang dunia (PD) II, kita sederhanakan saja biar muat di satu artikel pendek ini, hehehe. Nanti, di artikel-artikel selanjutnya, kita akan bahas topik-topik lain yang terkait. Banyak loh yang bisa dikulik-kulik.

PD II diletupkan oleh Jerman. Negara ini kalah dalam Perang Dunia I (1914-1918). Pasca-PD I, Jerman dalam kondisi terpuruk. Mengapa? Jadi begini. Aturan perang, pihak yang kalah mesti membayar kerugian perang ke pihak pemenang. Itu seperti palu godam yang bikin perekonomian Jerman kacau dan nyaris ambruk. Pengangguran di mana-mana, kerusuhan muncul terus. 

Kepercayaan pada pemerintah—rezim Republik Wimar-- pun jeblok. Rakyat pun kecewa. Adolf Hitler (muda) gerah dan marah melihat nasib bangsanya. Harus melakukan sesuatu, karena masa depan Jerman suram. Veteran PD I dengan pangkat terakhir kopral itu, lalu menyusun pemberontakan. Kudeta. Hasilnya gagal dan dia masuk penjara. Dari tempat itu, Hitler menulis buku "Mein Kampf"--Perjuanganku.

Hitler sadar, dia harus mengubah cara pergerakannya. Keluar penjara, fokusnya beralih ke politik. Bakatnya ternyata di sana. Singkat kata, Hitler, dengan kepandaian dan kemampuan orasinya—yang diakui banyak orang mempunyai kekuatan magis—akhirnya bisa duduk di posisi puncak partai National Socialist atau Nazi. Publik Jerman semakin terpesona. 

Kekuasaan atas Jerman yang kemudian di tangan Hitler, berjalan selaras dengan rakyat yang mendamba pemimpin tegas dan membawa Jerman ke kejayaan. Hitler semakin melaju, ambisius, tampil di mana-mana, dan terus membakar semangat rakyat Jerman. Propaganda dijalankan.

Militer diperkuat dengan tujuan siap berperang, beriringan dengan dipacunya industri. Hitler ingin Jerman memperluas area darat Jerman di Eropa, sekaligus meyakini anggapannya bahwa bangsa Jerman (bangsa Arya) adalah ras terunggul dan berhak memimpin bangsa lain.

Api perang pun menyala, diawali invasi Jerman ke Polandia tahun 1939. Perancis, Belanda, Belgia, dan lainnya, menyusul ditaklukkan. Dunia kaget, tak mengira Jerman bakal berani perang lagi dan punya kekuatan besar. Dunia pun mulai mengenal strategi perang kilat (blitzkrieg) Jerman yang cepat, serentak, efektif, mematikan.

Jerman tidak sendirian. Ada dua temannya, Italia dan Jepang. Sayangnya Italia malah lebih banyak merepotkan ketimbang membantu dalam kampanye di Afrika. Ini memaksa Jerman mengirim banyak tentara dan peralatan tempurnya ke Afrika.

Dibukanya front timur melawan Rusia, di waktu yang salah--karena musim dingin--menjadi titik balik pasukan Jerman mulai mengalami kekalahan. Sementara perang melawan Inggris pun menuai kegagalan. Rusia dan Inggris tak selemah dugaan Hitler. Bahkan dua itulah yang terkuat.

Sementara itu, Jepang yang kebagian peran menginvasi negara-negara Asia, awalnya sukses. Negara-negara yang punya sumber daya alam melimpah, disasar, termasuk Indonesia. Kedatangan Jepang disertai “bumbu” janji bahwa negara itu akan mengenyahkan Belanda.

Jepang unjuk gigi kekuatan armada perangnya. Negeri sakura itu semakin pede dan semakin agresif. Pearl Harbor di Hawaii yang notabene pangkalan militer Amerika Serikat (AS), pun diserang secara besar-besaran. Dampaknya jelas : AS (mendapat momentum) masuk gelanggang perang di Asia Pasifik.  

Balik lagi yuk ke Jerman. Akibat kepedean melawan banyak negara, tapi tanpa melihat kekuatan sendiri, Jerman perlahan keteteran. Benar, secara teknologi, mesin-mesin Jerman jempolan. Prajuritnya juga oke. Tapi, mesin perang akan sia-sia jika minim prajurit, minim bahan bakar, dan diperparah dengan turunnya produksi peralatan.

Belum ditambah faktor Hitler yang semakin ke sini semakin salah strategi, tak memercayai jenderal-jenderalnya, dan makin “halu” sejak pertengahan perang : merasa bisa menang. Bagaimana dengan Jepang? Ya, sebelas-duabelas, sih, kondisinya. Sama. Taktik kamikaze dengan menubrukkan pesawat ke kapal, tak banyak mengubah arah perang. Jerman dan Jepang tak merencanakan dan tak punya cukup tenaga untuk berperang dalam jangka waktu lama.

PD II pun akhirnya rampung tahun 1945. Enam tahun yang sangat menguras biaya, air mata, darah, nyawa, dan menyisakan pelajaran berharga. Berbarengan desing peluru dan aroma mesiu, adu strategi, kecanggihan teknologi persenjataan, dan kisah-kisah heroik, banyak terselip cerita-cerita minor, penindasan dan pembantaian jutaan manusia.  

Pengepungan kota Berlin oleh tentara Merah (Rusia) dan bunuh dirinya Hitler, menyegel akhir PD I di Eropa. Sementara bom atom yang dijatuhkan di Kota Hiroshima dan Nagasaki, membuat Jepang yang sebelumnya mencanangkan perang total, menyerah tanpa syarat.

Seru toh membicarakan PD II. Artikel selanjutnya, masih di blog ini, pastinya, kita cerita lagi soal PD II dari sisi….. eng, ing, eng… Tungguin saja, masbro mbakbro.  

 

BACA ARTIKEL LAINNYA :

KOLEKSI BUKU DAN MAJALAH PERANG DUNIA II YANG TERUS BERTAMBAH 

LUAR BIAS, BEGITU BANYAK FILM DOKUMENTER PERANG DUNIA II 

AKHIRNYA MENCOBA (KEMBALI) BERPUISI 

7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA

MENGAPA HARUS NGEBLOG ?

AKU DI BELAKANGMU TIGER WONG 

KETEMU ANGKRINGAN RADEN, KEMBALI AGENDAKAN "NGANGKRING"

ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA 

NGOBROL BARENG MAS BENNI LISTIYO SEPUTAR MUSIK 80-90AN 

KAKEK-KAKEK AIR SUPPLY 

FORD LASER SONIC (BALADA FORDI -2) 

APA KABAR SUZUKI ? 

 


Minggu, 31 Januari 2021

EMPANG DAN "RAWA" BELAKANG RUMAH YANG HORE

Dulu, enggak pernah kepikiran bakalan punya empang. For what ? Tapi “halaman belakang” rumah yang berair lama-lama mulai terlihat rupawan. Setelah sekian waktu merenung, diputuskan untuk menambah peserta di ekosistem air itu. 

 Ikan nila jadi opsi paling menarik. Akhir Desember 2019, begitu nila nomer urut pertama nyemplung. Diikuti 499 teman—sebagian mungkin saudaranya-- yang semuanya masih seukuran kuku. Baru umur sebulan. Mereka mendiami area ekslusif berukuran panjang 3 meter, lebar 3 meter, sedalam 0,5-1,1 meter, dan berdinding jaring.

“Halaman belakang” rumah sambalbawang adalah hamparan air tawar yang total luasnya paling tidak dua hektar. Sebuah Rawa? Oh, bukan. Kawasan ini sebenarnya hanya cekungan tanah yang terbentuk 10-an tahun lalu, yang konon ikut disebabkan pengurukan tanah kawasan sebelah. Cekungan lama-lama terisi air (hujan). Oke, mari kita sebut itu “rawa”.

Ekosistem sebelumnya pun mati. Atau setengah mati. Berganti ekosistem baru. Pohon-pohon tinggi mengering lantaran perlahan busuk terendam air, berganti tanaman yang tahan kecelup air. Sebagian pohon yang kering masih berdiri---menunggu roboh.

Menurut cerita, dulu ada warga yang punya empang. Tapi jaringnya robek atau rusak. Atau entah gimana, yang jelas itulah yang diyakini memberi andil pada kemunculan generasi pertama ikan di sini. Setidaknya nila dan lele.

Semakin ke sini, tambah beragam ikan muncul. Ada gabus, pipih, betok, mas, hingga bawal. Entah bagaimana mereka bisa sampai kemari. Namun teori paling mungkin adalah, pasti ada orang baik hati yang dulu pernah nyebar bibit-bibit ikan itu.

Seiring empang dibikin, maka “jalan tembusannya” pun ikut dipikirkan. Karena itu, tembok belakang dijebol dikit, agar bisa dipasang pintu kayu. Kecil aja pintunya, yang penting bisa untuk lalu lalang. Jembatan ulin pun dibikin. Pendek aja, hanya semeter.

Lagian, jarak antara tembok belakang dengan pinggir jaring cuma 2 meter-an. Sedikit “halang rintang” memang, untuk naik-turun dari tangga ke tembok, lantaran pintu kayu yang seukuran jendela, tapi itu yang nampaknya paling oke.

Dan hari-hari beternak ikan secara ala-ala, dimulai. Mulai mengenal jenis pakan (pelet) , dan tentu tambah repot karena sebelumnya, di kolam kecil dalam rumah, sambalbawang sudah punya dua peliharaan kura-kura Brasil. Si Kumu dan Kimi.

Tapi dari aktivitas baru, muncul banyak pengetahuan baru. Misalnya mulai kenal sama keong mas. Populasinya buanyak banget di “rawa”. Satwa ini sejatinya termasuk hama. Tapi ternyata bisa untuk pakan kura-kura.

Sebelumnya Kumu dan Kimi makan potongan (sisa) ikan, tulang ayam, sampai kepala udang. Yang terakhir termasuk menu intesitas jarang banget—juga ribet. Nah dua yang pertama, relatif gampang—sebagian minta, pasti dikasih, hehehe.

Namanya peternak amatir, maka urusan perikanan, berjalan begitu saja. Tebar pelet, termasuk sisa nasi dan sayur, dan lauk—dan memastikan jaring tidak robek. Maklum, kawasan air ini juga habitat banyak biawak. Ikan adalah menu favorit mereka.

Tak heran juga, para biawak menjadi lebih sering anjangsana. Sekian kali kepergok lagi nangkring di jembatan (tinggal terjun ke empang). Enggak hanya itu, tapi ular juga beberapa kali hilir-mudik sekitar empang. Ratusan nila yang mulai beranjak gede, pasti bikin mereka tergiur, kan.

Terlepas dari pasti ada ikan yang jadi korban, situasi empang aman-aman saja. Sampai satu ketika, sambalbawang kaget ketika sebagian dari mereka mengambang. Mati. Kondisi ini sama dengan empang sebelah milik tetangga—yang ada lelenya.

Hujan deras yang intens, hampir tiap hari, menjadi biang masalah. Air rawa berubah kehitam-hitaman dan berbau macam belerang/besi. Terjadi sesuatu dengan level keasaman air. Ikan yang tidak bertahan, satu demi satu goodbye.

Dan tersisalah sekitar 50 persen ikan, sepertinya. Sedih. Sebenarnya bukan sedih memikirkan gagal panen, tapi sedih karena pasukan yang menyerbu pelet dan menciptakan kecipak-kecipak air nan merdu, berkurang drastis.

But, life must go on. Nila tersisa melanjutkan hidup. Seiring itu, mendadak timbul keinginan untuk mencoba memancing. Maksudnya memancing di luar empang. Satu paket pancing yang termurah harganya, Rp 180 ribu, cepat ditebus.

Sudah komplet, tinggal merangkai. Acara perdana mencemplungkan ikan, meski salah memasang senar dan umpannya catfood, langsung berbuah manis. Masih ada faktor luck, he. Dua lele lokal terjaring. Berat satu lele ini 200-250 gram.

Setelah itu, mulai sering memancing. Mulai kenal jangkrik dan bikin umpan sendiri dari pelet yang dicampur air—meski tidak kerasan. Tetangga sebelah ikut andil memberi tahu cara memancing yang benar. Dan, satu demi satu ikan pun terpancing.

Hanya saja, cara memancing masih konvensional. Mirip orang bikin teh celup. Cara yang benar seperti “begitu pelampung lari, maka tarik senar” sepertinya belum sambalbawang kuasai. Tapi, ikan tetap bisa dipancing meski sulit.

Lama-lama sambalbawang makin sering nongkrong di belakang rumah. Melihat pemandangan sembari mancing. Kalau enggak dapat ikan di rawa, maka pancing langsung dipindah masuk ke empang. Pasti dapat, lah, hahahha.

 Begitulah “rawa” belakang rumah menjadi lokasi asyik bagi sambalbawang. Menikmati alam, sembari duduk minum kopi atau teh. Nengok di bawah kaki ada kura-kura, nengok ke luar ada empang. Selingannya, sesekali biawak masuk halaman belakang.

“Rawa” kecil ini ternyata bermakna besar. Hati, pikiran bisa cukup adem hanya dengan menikmatinya. Sama seperti mereka, para pemancing yang sering nongkrong di seberang rawa. Meski ada satu yang sesekali menganggu: pemburu burung. Suara peluru angin mereka, 100 persen tidak pernah terdengar merdu di telinga. Sebel.

 

 

 BACA ARTIKEL LAINNYA :

AKHIRNYA MENCOBA (KEMBALI) BERPUISI

MERASAKAN "COKOTAN" BU TEJO DI FILM TILIK 

ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA 

YEN ING TAWANG ANA LINTANG 

AKU DI BELAKANGMU, TIGER WONG 

MENGAPA HARUS NGEBLOG ? 

 

Kamis, 05 November 2020

AKHIRNYA, KEMBALI (MENCOBA) BERPUISI

Nulis puisi ala-ala justru menjadi awal perkenalan sambalbawang ke dunia tulis-menulis. Sejak SMP kelas 1 mulai rutin corat-coret kata yang berujung jadi puisi. Aktivitas harian yang sebagian berbumbu kisah “cinta monyet” masa remaja adalah racikan pas memadukan kata-kata.

Kebetulan punya tandem teman yang juga lagi suka nulis puisi. Kami sering kongkwo sepulang sekolah, kadang memilih nangkring di pohon, untuk bikin puisi. Terus tuker-tukeran puisi yang kami tulis di buku. Lalu saling ketawa dan menertawakan. “Puisi opo iki? Melas,men” biasanya gitu jika puisi kami terlampau memelas dan “melo”. Bucin abis, istilah sekarang. 

Begitulah masa SMP bergulir dengan segepok puisi. Berlanjut ke ke masa awal SMA, sambalbawang makin seneng nulis puisi. Kali ini lebih “serius” karena sudah mulai mahir memakai mesin ketik. Sampai tahun pertama dan kedua kuliah, masih nulis puisi walau frekuensi berkurang. Aktivitas nulas-nulis puisi mulai tersendat dan mampet ketika sudah punya pacar. Wahahahaha.

Oya, di masa-masa SMA, sambalbawang mulai melirik peluang cari duit. Beberapa puisi dilempar ke media: koran, majalah, dan tabloid. Sebagian besar tidak ditayang, tapi seingat sambalbawang, beberapa bisa tembus. Kira-kira ada 6-7 puisi, yang pernah tayang. Ada honor yang dikit, tapi ada juga yang lumayan.

Masih teringat gembiranya mendapat honor pertama, kalau tidak salah dari salah satu tabloid remaja. Joget-joget di rumah, lalu bersepeda ke salah satu warung sate kambing terkenal di Jogja. Iyalah naik sepeda, emang boleh naik motor sama ortu?

Judulnya adalah : tumbas (beli) sate enak. Besoknya ke sana lagi dengan agenda beli tongseng. Besoknya disambung beli gule. Momen bersejarah terukir karena hatrik tiga hari makan menu kambing ‘mulu. Lupakan kolesterol. Dulu, enggak kenal istilah itu, apalagi mikir cara menghindari. Sate kambing termasuk menu wah. Serasa horang kayah, dah.

Selepas tahun ketiga kuliah, aktivitas menulis puisi semakin ditepikan. Dan ketika mulai kerja, makin menguap ktivitas itu dari daftar kegiatan. Sampai kemudian, yah katakanlah, 13-14 tahun kemudian, kembali ingin nulis puisi karena mendadak kangen. Kebetulan pula sudah punya blog. Jadi puisi tinggal sorong masuk.Plung.

Sayangnya buku kumpulan puisi sambalbawang dulu, raib entah di mana. Juga beberapa majalah dan koran (kliping) puisi. Sepertinya kejadian bocor genteng dan dikunyah tikus. Belum termasuk sekian puisi yang sempat nampang ke majalah dinding sekolah, dan selebaran hore lain. Hiks. Sedih. Mungkin itu karma karena tidak serius menyimpan. 

Akhirna ya cuma menulis puisi sebagai pelepas kangen. Sampai kemudian semangat menyeruak ketika kenal podcast “Zona Rindu” di platform spotify. Podcast ini garapan sohib lama saya Yeti (ig @ranselyeye) dan temennya, Abimasanu (abimasanu_). 

Jeng Yeti ini sudah sambalbawang kenal sejak tandem liputan bareng di awal 2004 di Jogja. Masih ingusan sebagai jurnalis. Saat masih ribut-robet berbalut heriok di lapangan. Cewek satu ini yang galak (kecuali sama sambalbawang, hehe) ini memang senang “bernapas” dengan puisi. Selepas tak lagi jadi jurnalis, kami masih saling kontak dan haha-hihi. 

Tawaran untuk nyumbang puisi, tentu tak dilewatkan. Meluncurlah puisi pertama, judulnya Telepon. “Telepon” nongol di spotify Juni 2020 lalu. Ini link-nya : https://open.spotify.com/episode/5IxcjoR4vcOYzN6BdTtUSW?si=6Pb52vvzTKWqCc48rEuw6Q&fbclid=IwAR2FXU4PfZnW3CqQtZteT8zAKYgstHW2RmEHxXMw5OTTyD2j9-V-w2eyOIA#login 

“Telepon” adalah tentang kerinduan sambalbawang pada ibu yang meninggal Agustus 2019. Aktivitas rutin, ditelepon dan menelepon ibu tiap 3-4 hari sekali, mendadak selesai. Sejak saat itu telepon (rumah)—yang jadi satu paket sama TV kabel—tak lagi terpakai. Berdebu. 

 Puisi kedua, meluncur sebulan kemudian, Juli. Kali ini tentang bapak. Di puisi berjudul “Bapak dan Sawah”, sambalbawang memunculkan bapak dari satu sisi terdalamnya. Ia begitu senang sawah, dan tahan berjam-jam hanya memandang sawah dan menyusuri saluran irigasi. 

Oya ini link-nya puisi itu : https://open.spotify.com/episode/3EtbYj0C2vB6Oc86JEQhad?si=vpYll3rrQhWiY0mtpVk-Lg&fbclid=IwAR0e4qw5mC5gTdVbuTeHJ_JT7kHbRiFpBF6Nbhc72dJf_QrTOE3ZAjAd7_A 

 Dalam sekian cerita, sambalbawang kerap menemani bapak ke sawah. Hanya melihat dari satu lokasi ke lokasi lain. Lalu bapak bercerita tentang pekerjaannya yang berkaita dengan saluran irigasi. Dan menitipkan harapan agar sambalbawang menaruh respek ke sawah. Juga ke petani. 

Yeaah, “doktrin” itu sepertinya lumayan manjur karena sambalbawang (sempat) bercita-cita jadi insinyur pertanian. Meski akhirnya “terpeleset” gembira kuliah di Fakultas Teknologi Pertanian, tetap ujung-ujungnya tidak bekerja di bidang pertanian. 

Terakhir sambalbawang menemani bapak beberapa bulan menjelang bapak meninggal, September 2018. Bapak memandang sawah dari balik jendela mobil dan menunjuk-nunjuk. Ah bapak. Tak bisa lagi turun menyentuh padi dan air irigasi. 

Terakhir bapak menyentuh langsung sawah mungkin tahun 2016 lalu. Kami naik motor dan bapak minta berhenti di beberapa titik. Dari sawah, pintu air, saluran irigasi, bolak-balik. Sambalbawang sih manut-manut saja. Lha juga suka sawah. Lagian, selepas kerja di kaltim, ketemu bapak kan jarang. Setahun paling dua kali mudik. 

Dan begitulah, segaris cerita tentang terceburnya sambalbawang ke ranah puisi. Ada pula beberapa puisi yang jadi lagu. Antara lain di sebagian besar lirik lagu “Mama” yang sambalbawang ciptakan. Ini link klip lagunya : https://www.youtube.com/watch?v=IL7X-_PDlRw  Atau klik saja nih di bawah..


Sepertinya bakal makin seru nih, aktivitas yang bakal tergelar ketika sambalbawang akhirnya nulis puisi lagi. Nantikan saja, dalam waktu dekat pastinya (ngarep). Semoga selambatnya awal tahun depan ada kabar fresh. Penasaran? Sama. Kita tunggu tanggal mainnya. Hehe. 

Tapi masih saja ada satu kendala sejak dulu. Sambalbawang tidak bisa atau enggak pernah mencoba serius untuk membaca puisi. Blaik…. 

 

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :

KETEMU ANGKRINGAN RADEN, KEMBALI AGENDAKAN "NGANGKRING" 

MERASAKAN "COKOTAN" BU TEJO DI FILM TILIK

CHINMI JAGOAN KUNGFU DARI KUIL DAIRIN 

MENGAPA HARUS NGEBLOG ?

ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA 

THE AQUARIAN 

TATAG LANANG FASHION SHOW TUNGGAL PERTAMA SAMANTHA PROJECT 

BASA WALIKAN

 7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA

MUSIK ZAMAN DULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS ? 

"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA

HANACARAKA AKSARA JAWA YANG INDAH 

NGOBROL BARENG MAS BENNI LISTIYO SEPUTAR MUSIK 80-90AN 

AMPAR-AMPAR PISANG, INI LHO ARTINYA

TENTANG HONDA (3) INILAH STAR'S FAMILY