Jumat, 27 Maret 2020

BALADA JADI "KAUM REBAHAN" GEGARA CORONA

Sudah hampir dua minggu, sambalbawang banyak ngandang di rumah. Istilah kerennya work from home. Bahkan seminggu terakhir, mungkin hampir 24 jam sehari beneran mendekam-ria di Ndalem Samantha, home sweet home. 

Kalau terpaksa keluar ya hanya ke beberapa tempat dan itu dirasa penting. Lho keluar rumah juga? Ha, iya. Lha, butuh ke SPBU karena kendaraan pas habis bensinnya. Pakan ikan juga pas lagi habis. Belum ke laundri karena kualitas air keran pas keruh kecoklatan. Juga mesti ke minimarket untuk beli macam-macam seperti mi instan, camilan, tisu, hingga kopi.

Belum lagi 2-3 kali harus menuju pasar untuk beli sayur, tahu, telur, sampai jahe. Melambai juga ke paklek sayur keliling pas kehabisan cabai, yang berarti keluar rumah jua meski sejengkal langkah. Masih ditambah sejenak haha-hihi sama tetangga.

Tapi intinya, aktivitas itu semua berlangsung dalam tempo sesingkat-singkatnya. Enggak seperti sebelumnya--dua pekan lalu--ketika masih bisa "lenggang kangkung" alias nyantai. Sekarang, kok jadi seperti balapan. Belanja ke minimarket, segera comot barang dan bergegas ke kasir. Motor langsung distarter dan pelintir gas. Pernah hampir terlewat ketika disapa seorang teman.

Buseeet. Ritme hidup jadi ngebut gini saat di luar rumah. Begitu pulang, sampai rumah, otomatis menuju botol hand sanitizer di atas meja kamar tamu. Semprot tangan agar psikis merasa cukup "aman" karena bakteri dan teman-temannya--apa pun makhluk tak kasat mata--di telapak tangan ini, pasti ko'it. 

Mensterilkan area tangan berlanjut ke wastafel untuk cuci tangan pakai sabun. Setelah selesai, masih ditambah cuci kaki. Sebelumnya, jaket dan celana panjang juga langsung “dikarantina”, taruh di sudut ruangan. Mendadak juga tidak terlalu sembrono lagi, enggak main lempar baju. 

Keseharian jadi agak lebih "higienis". Tapi beneran merindukan masa-masa ketika begitu masuk rumah langsung "terbang" menuju kasur atau ndlosor ke lantai, tanpa perlu ganti baju dan celana. Ritme hidup mulai berubah. Bergerak cepat kala di luar, tapi malah jadi slow saat di dalam rumah.

Sambalbawang mendadak “mati gaya”, dan ujung-ujungnya hanya muter-muter seantero rumah. Nonton youtube, baca buku, lihat Natgeo, film, main gitar, memasak ini-itu, bersihin sana-sini, dan juga… banyak sleep. Masih kurang, sambalbawang jadi mengisi rutin instagram. Jreng from home. Coba cek ke ig, yaks, hehe.

Sekitar 10 hari, sudah tidak ada ritme rutin seperti biasa dilakoni mereka yang bergelut di usaha jahit. Sambalbawang dan dik bojo sudah nggak ke Kebun Sayur atau ke toko di Jalan Sudirman untuk belanja kain dan bahan jahit. Menghabiskan stok.

Namanya usaha jahit, ya berkaitan dengan “ngadang” orang. Tapi pelanggan juga banyak mendekam di rumah. Sama-sama waswas bin rada parno untuk keluar rumah. Semuanya kini dipaksa menjalankan imbauan work from home. Hanya beberapa pelanggan yang datang ke rumah, karena waktunya baju mereka selesai.  Beberapa lain memakai jasa ojek online.

Acara nongki-nongki sama teman, sudah dibuang. Agenda piknik ke Malang (sekaligus bablas mudik ke Jogja) di akhir Maret ini, juga sudah dilipat--untung belum beli tiket pesawat. Jadwal nonton film di bioskop, dan jalan-jalan ke mal, sepertinya juga sudah di-delete dulu sampai setidaknya bulan depan.

Mendadak, sambalbawang merasa sebagai “kaum rebahan”. Meski tetap membereskan urusan rumah, mengurus “pasukan ikan nila” di empang belakang rumah, hingga hunting keong (dua hari sekali) untuk pakan dua kura-kura piaraan, tetap saja sambalbawang merasa ikut andil menjadi “kaum rebahan”.

“Kaum rebahan” ini istilah yang disematkan ke mereka, terutama kaum milenial yang sering terpaku menatap ponsel, bermedsos ria, disambi ber-WA ria, sembari tiduran di kasur. Cukup jempol untuk menari-narikan pendapat ke jagat maya.

Begitu cepatnya penularan COVID-19 alias virus Corona menjadi alasan di balik work from home, yang akhirnya bikin kita banyak mendekam di rumah. Pemerintah mesti menerapkan bermacam cara guna menghadang kecepatan si virus yang setelah menghantam Tiongkok, kini menyasar cepat ke negara lain.

Work from home, dulu, bisa jadi dianggap “surga” bagi para pekerja kantoran atau yang kerjaannya masih harus berurusan sama kantor.  Bersekolah dari rumah, mungkin juga enggak terpikir oleh para pelajar yang pasti sempat mengalami masa-masa bosen sekolah, dan di lubuk hatinya mendamba “sesekali ingin bolos”. 

Saat ini, work from home, malah ada gunanya. Malah jadi imbauan. Kita malah diminta untuk diem saja di rumah. Setidaknya ini membantu banget bagi para tenaga medis agar tidak terjadi lonjakan pasien di rumah sakit. Jadi, tak ada salahnya kita banyak mendekam dulu di rumah, sampai masalah Corona ini dituntaskan. 

Work from home akhirnya disebut-sebut sebagai aktivitas "rebahan". Sebetulnya ya agak-agak kurang pas sih, karena sebagian orang--termasuk sambalbawang--enggak melulu (jarang) mantengin hape sambil tiduran. Tapi ya, bener juga sih kalau parameternya adalah durasi badan nyentuh kasur--haduh mengapa kini mata mendadak lebih akrab sama bantal, sih..

Jadi, gegara work from home, ritme harian melambat dan jauh lebih santai. Meski jelas sulit dan butuh terbiasa banget untuk bisa beneran mendekam di rumah seharian. Bahkan meredam hasrat jalan-jalan, pun, terasa menyiksa. Tapi, iya benar, secara tidak langsung banyak di rumah juga ada dampak positif, misalnya menghemat duit karena jadi memasak terus dan mengurangi frekuensi jajan. Tetapi di sisi lain, pemasukan juga seret, dan ini bikin pening kepala juga.  

Ritme usaha menukik. Mesin-mesin jahit bahkan tidak menderu sejak dua hari lalu. Order jahit sih ada, tapi pelanggan menunda mengambil. Mereka pun ngumpet di rumah masing-masing. Imbasnya dik bojo sambalbawang, juga jadi males menjahit--meski tetap juga dijahit perlahan. Sambalbawang sebagai co-asisten dik bojo, juga terhenti aktivitasnya.

Cerita sendu lainnya, dua pelajar SMK yang mengikuti Praktik Kerja Industri (Prakerin) di rumah, juga sudah off sejak pekan lalu, seiring instruksi sekolah. Setelah sebulan rumah diwarnai kehadiran mereka, rumah mendadak sepi lagi. Padahal mereka lagi semangat-semangatnya karena senang dapat lokasi Prakerin di usaha sambalbawang yang bertitel "Modiste Samantha" a.k.a Samantha Project ini.

Biasa muter--sering sampai malam--dan kini dipaksa diem di rumah, badan sambalbawang kok rasanya malah meriang. Bisa jadi karena kebanyakan lihat atau nonton berita seputar Corona. Nonton orang-orang pada pakai masker dan sarung tangan, bisa bikin jadi rada parno. Saat melintas di jalanan, lihat warung sepi, juga sedih. Roda perekoniman masyarakat benar-benar terpuruk.

Tapi sambalbawang yakin para tenaga medis, pemerintah, dan semua yang berada di garda depan berperang lawan Corona, jauh lebih beresiko. Kita-kita yang di rumah, kalau terpaksa ke luar rumah, mungkin masih bisa menerapkan social distancing—bahkan phsycal distancing. Tetap bisa, ya itu tetap dalam skala relatif sih.

Tapi mereka di garda depan, mustahil menerapkan social dan physical distancing itu. Nyawa benar-benar jadi taruhan. Apa yang kita bisa? Jika tidak bisa membantu langsung, jadi kaum rebahan, sudah cukup bagi mereka. Plus doa, tapi. 

Masa cuma rebahan doang. Tapi wait.. doa dan rebahan juga belum cukup. Perlu juga untuk tidak panic buying dan panik berlebihan. Untuk yang terakhir ini, ya mesti butuh ketenangan hati.  Membeli barang seperlunya, karena itu juga berkaitan dengan keluarnya rupiah dari dompet.

Barusan sambalbawang menengok ke dapur. Melihat stok dapur. Ada 10 mi instan dan dua bungkus mi kering. Beras sudah beli minggu kemarin, cukup 5 kg. Baru saja beli telur 20 butir, karena stok habis. Sebungkus kopi, teh, roti tawar, 500 gram gula pasir, dan tiga renteng susu kental manis sachetan untuk “teman” kopi.

Oh ya, ada juga kue kering coklat, dan keripik singkong sebagai camilan. Beberapa ruas jahe di dalam kulkas, sebungkus kecil sambel pecel, beberapa wortel, sawi seikat, tomat 7 butir, dan cabai rawit sebungkus kecil. Cukuplah… 

May God Bless Us..

Kamis, 27 Februari 2020

LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK

Passion bermusik memang cukup menyita perhatian, energi, duit, juga waktu. Menunggu direalisasikan, sepertinya itu yang terjadi. Sekian lama sambalbawang merenung, sampai ketika permenungan tanpa henti tadi lantas seperti ketemu jawaban ketika ajakan "ngeband" disambut dua teman. Akhirnya, jadilah “LILAC”, band berformat duo, dengan personel Paulina dan Arnold.

LILAC dibentuk akhir Desember 2019 lalu. Sebenarnya, mereka sudah bareng naik panggung kala membawakan lagu “Mama”, bertepatan dengan perayaan Hari Ibu 22 Desember 2019, di Son’s Coffee  Balikpapan.  Lagu “Mama” adalah single pertama dari Paulina. Saat itu Arnold membantu mengiringi musik, pakai gitar akustik. Lagu “Mama” yang temponya agak lambat, dibikin lebih cepat.

Sambalbawang semangat mendorong mereka bikin band. Segera meluncur single perdana bertitel “Dewi” 17 Januari lalu yang direkam di studio Algaris. Paulina Jaru yang jadi vokalis, sedangkan Arnold Yansen mengurusi musiknya. Makasih-makasih ya kawan-kawan di Algaris Production Balikpapan yang juga sudah bantuin.

Dan wuzzz.. gerak cepat. Hanya berselang dua hari, Lilac sudah naik pentas, di Disway Café, Borneo Paradiso.  Makasih juga untuk mas Doni, yang sudah ngasih kesempatan perdana.  Lilac dibantu Ary dan Wandi sebagai additional player untuk gitar dan kajon. 

Event selanjutnya, 24 Januari 2020, Lilac mengisi acara BPN Noodle Fest di Plaza Balikpapan. Lilac membuka performance Keisya Indonesian Idol. Kali ini additional player, nambah satu lagi, yakni Faisal, di bass. Di dua event itu, Lilac juga membawakan “Mama” yang diaransemen cepat.  “Mama” versi cepat  akhirnya “diakuisisi” menjadi lagu Lilac.

Lilac kembali merilis lagu baru, bertitel “Saat”, 12 Februari.  Malam harinya, Lilac live music di The Gade Café (kafe pegadaian) Jalan Sudirman. Lagu “Saat” langsung diperdengarkan. Oya makasih juga untuk Genetic, homeband di The Gade Café yang mau berbagi dengan Lilac di panggung.


Selepas dari the Gade, Lilac kembali ke Disway Café 21 Februari. Formatnya tetap plus tiga additional player tadi. Selang 8 hari, atau 29 Februari besok (malam), Lilac akan tampil di Plaza Balikpapan.  Kali ini eventnya bertajuk Andalas Customer Day. 


Pop Progresif dipilih sebagai genre music Lilac.  Meski begitu, Lilac membebaskan masyarakat menilai genre musik Lilac. Paulina dan Arnold menyebut, warna musik Lilac sedikit banyak dipengaruhi sejumlah band atau penyanyi. Antara lain Wong, Potret, Es Nanas, Evo, Minoru, Andra & The Backbone, Kotak, Geisha, Peterpan, hingga Celine Dion. Wuih terasa banget musik era 90an, awal 2000-an, dan medio 2000-an di musik Lilac.

Oyaa hampir kelupaan.  Nama “Lilac” dipilih karena dianggap pas menggambarkan semangat dan “warna” lagu-lagu grup musik ini. Lilac dikenal sebagai salah satu bunga yang indah, harum, juga sarat makna. Antara lain melambangkan kasih sayang, cinta, optimistis, kemurnian, kebijaksanaan, karakter hangat, hingga mengaitkannya dengan mistis—lantaran aroma harumnya.

Lilac adalah bunga yang disukai semua orang yang menyukai bunga. Demikian juga grup musik Lilac muncul untuk menghadirkan musik yang berbeda, namun tetap mudah dinikmati. Oks, gitu dulu, deh, garis besar tentang band Lilac. Disambung ke artikel selanjutnya ya untuk cerita yang belum tertuang di sini. 

But wait, peran sambalbawang di Lilac, sebelah mana tuh. Oh, sambalbawang cukup di urusan nulis lagu ala-ala saja, deh. Sembari jadi “tim hore” Lilac di awal perjalanan mereka.  Urusan musik, biarlah mereka menjalankan sendiri.  Selain juga enggak paham soal musik, juga karena sambalbawang sepertinya enggak akan kembali “kalungan gitar”. Biarlah musik menjadi passion mereka dan ekspresi kegembiraan mereka, untuk diluapkan di Lilac. 

Sambalbawang yang bukan terbilang sebagai musisi, hanya menemani langkah mereka. Menuntaskan passion bermusik yang belum tuntas di masa lalu. Good luck to Lilac. Akan ada banyak tantangan, cerita, peluang, kendala, hal-hal yang unpredictable, dan lain-lain di depan. 

Salam Lilac ! Long live music !
Instagram @lilacofficialbpn

Jumat, 17 Januari 2020

HAPPY MOTHER'S DAY 2019, LIVE ACCOUSTIC "MAMA"

Cerita kali ini adalah kelanjutan setelah lagu “Mama” by Paulina dirilis. Kesempatan live perform pertama datang, di sebuah kafe deket rumah, 22 Desember 2019 lalu. Bertepatan dengan Hari Ibu, memang pas banget momentumnya.


Live accoustic Paulina & Friends, begitu judul acaranya. Sempat bingung juga mau ngasih titel apa sebelum akhirnya memilih ”friends”. Son’s Coffe di kompleks Wika, yang juga salah satu lokasi syuting klip “Mama”, dipilih sebagai tempat unjuk gigi pertama.

Setelah klip lagu di youtube diunggah per 1 Desember 2019, sambalbawang dan Paulina sudah mulai bergerilya mencari gitaris atau pemain kibor yang cocok. Sebagai persiapan juga jika nanti mengisi acara-acara live music.

Obrolan dengan pihak kafe langsung mengisyaratkan lampu hijau. Kesempatan perform, terbuka, dan tentu saja segera disambar. Seiring itu, Paulina membawa kawannya yang juga gitaris salah satu band di Balikpapan, yakni Arnold. Pas sudah komposisinya.

Beberapa lagu ditampilkan dengan iringan satu gitar. Lagu “Mama” dinyanyikan dua kali, di awal dan penghujung live music untuk menyajikan lagu dalam dua format. Tempo lambat dan tempo cepat, sekaligus juga untuk membandingkan. Ini dia perform mereka, membawakan lagu Mama yang tempo agak cepat. Jangan kaget, versi akustiknya lumayan beda jauh sama versi asli klip "Mama", hehe. Mohon maaf juga jika suara kurang mantep, maklum merekamnya hanya pakai ponsel.


Pau—panggilan Paulina—menyebut “Mama” sebagai salah satu lagu terbaik yang bercerita tentang ibu. Liriknya pendek, simpel, sederhana. Namun ia merasa maknanya dalam. “Saya berharap lagu ini bisa diterima, dan menambah kekuatan rasa cinta antara anak dan ibunya,” begitu kata Paulina.

Sambalbawang juga berharap lagu Mama yang ditulisnya ini bisa diterima masyarakat. Melengkapi sekian banyak lagu bertopik ibu yang sudah dikenal publik, dan juga menambah satu lagi lagu untuk Kota Balikpapan.

 Ibu adalah segalanya. Sambalbawang yakin, kita tak akan tahu seberapa penting dan tak tergantikannya peran serta kehadiran ibu. Juga sampai seberapa rindu kita merindukannya, sebelum kita benar-benar ditinggalkan.

Owner Son’s Coffee,  Pak Gatoet Saputra merepons bagus minat anak-anak muda mengembangkan talenta bermusiknya. Kafe yang berlokasi di kompleks Wika ini memang mendukung acara-acara musik. Usai acara, Pak Gatoet juga gembira bernyanyi lagu-lagu jadul sembari memainkan kibor.

Balik ke lagu “Mama” yang dibawakan dengan tempo rada cepat, ternyata ada maksudnya. Ini berkaitan dengan proyek selanjutnya. Semacam “jembatan” pengantar ke proyek lagu setelah ini, tetap dengan Pau sebagai vokalis.

Ah, semakin penasaran saja, kan. Tunggu sebentar lagi kejutannya. Don’t miss it.

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :

Kamis, 16 Januari 2020

"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA

Akhirnya sambalbawang memberanikan diri merambah ke ranah musik. Berbalut nekat dan percaya diri. Belum berani ngomong soal skil, sih, maklum masih berstatus “newbi”, pakai banget lagi.

Memang beneran masuk dapur rekaman, meski tak sebagai frontman alias bukan jadi tukang vokalis. Bukan juga sebagai musisi. Cuma sebatas jadi penulis lagu. Menuju studio rekaman pun hanya berbekal lagu, gambaran lagunya mau gimana, ditambah sapa, senyum, dan banyak bertanya dari ujung ke ujung. Begitulah, dan yang penting akhirnya jreeng... lahirlah single bertitel “Mama” yang dinyanyikan Paulina, teman sambalbawang di Balikpapan. Klipnya udah dirilis per 1 Desember 2019 lalu, lho, di youtube.

Mengapa akhirnya rekaman, memang terpantik kondisi tak sengaja meski ada juga sih, unsur sengajanya. Beranjak dari pengalaman yang menyesakkan, yakni kehilangan mama, ibu tersayang, awal Agustus 2019 lalu, sambalbawang ingin memberikan hadiah untuknya. Sebuah lagu yang juga menyematkan foto sosok istimewa ini dalam klipnya. Oh ya, sebelum lanjut baca tulisan, ini lagunya di youtube. Langsung di klik, aja. Bisa banget sembari ikut nyanyi karena ada liriknya. 



Keinginan 'tuk bikin lagu sekaligus bikin klipnya, sebetulnya sudah jadi bahan obrolan sambalbawang bersama Paulina selama beberapa bulan. “Mama” sebenarnya malah bukan lagu utama yang ingin direkam lebih dulu. 

Namun seiring ada momentum, dan juga (waktu itu) sebentar lagi Hari Ibu 22 Desember 2019, kayaknya bakalan apik dan pas jika lagu Mama muncul duluan. Oke. Maka disusunlah rencana, dan berangkatlah menuju Algaris, salah satu studio rekaman di Kota Balikpapan tercinta ini. Sekaligus juga ngobrol untuk bikin klipnya. 

Urusan musik serahkan ke Algaris, agar cepat digarap, segera kelar, dan juga karena lagu diputuskan hanya pakai iringan kibor. Rencana awal sih, pakai gitar bolong, hehe. Sudah jua sambalbawang bersiap dengan gitar dan sudah menumpuk pedenya. Cuma, akhirnya batal, karena merasa kok agak-agak kurang cocok jika gitar ikut mengisi musik. Oke, akhirnya pakai kibor doang.

Enggak punya pengalaman berurusan sama rekaman, sambalbawang ya main intuisi dan tanya sana-sini. Soal "jalan cerita" dan "larinya" lagu inginnya bagaimana, langsung diskusi sama anak-anak Algaris. Musik akhirnya selesai, dan selanjutnya adalah take vokal. Ternyata, ini bagian terakhir dalam proses rekaman. Lumayan menguras tenaga dan waktu, karena butuh berjam-jam, bahkan sampai lewat tengah malam baru kelar. Besoknya badan langsung meriang. 

Setelah take vokal selesai, urusan berpindah ke penggarapan klip. Bikin klip lagu ternyata yang paling lama prosesnya. Apalagi enggak punya pengalaman bikin klip. Kendala mulai muncul. Materi klip pertama, dirasa enggak cocok. Setelah ganti konsep, akhirnya sambalbawang dan Pau—panggilan Paulina—sepakat mengangkat topik kawan-kawan yang mengekspresikan diri bersama ibu atau mendiang ibu mereka.

Langkah selanjutnya, segera mengontak teman-teman. Hampir 30 orang yang dikabari dan diajak berpartisipasi. Dari yang remaja, dewasa, bapak-ibu muda, pelajar, mahasiswa, sampai yang sudah 50-an tahun. Ada yang bawa foto dan mau ke studio untuk diambil klipnya, tapi ada juga yang memilih mengirim foto seperti kawan di Bandung, Magelang, dan Bengkulu.

Ada juga yang bawa balita dan bayinya. Semua kalangan mama, masuk, jadinya. Gado-gado-lah, komposisinya, tapi yang penting adalah semangatnya. Mereka juga punya cerita masing-masing terkait kedekatan dengan sosok ibu. Ah. Klip "Mama" akan jadi dokumentasi unik pula bagi mereka.

Syuting memilih tiga lokasi, yakni studio Algaris, Mangrove Center Balikpapan, dan Son’s Coffee Balikpapan. Asyiknya lagi, di hari syuting, teman baik asal Gresik, sedang piknik ke Balikpapan. Langsung sambalbawang angkut ke lokasi syuting. Ini dia foto bareng-bareng di sela-sela syuting di kawasan bakau Mangrove Center. 

Ternyata syuting untuk klip, enggak mudah, dan lumayan lama. Baru tahu juga kalau saat syuting, memakai opsi lagu dipercepat--kayak suara chipmunk--sehingga si talent--vokalis--mesti bekerja keras menyesuaikan. Untung deh, sambalbawang bukan yang jadi vokalis. Slamet, slamet. 

Setelah lagu selesai, segera didaftarkan ke platform Netrilis, dan akhirnya tayang (antara lain) di Spotify, Oktober lalu. Selang dua pekan, atau  1 Desember 2019, barulah klip diunggah ke yutub. Hehe, jadi lumayan paham bagaimana kronologis mendaftarkan lagu agar setidaknya punya “hak cipta” penanda orisinalitas lagu. 

Sambalbawang tak lupa memasukkan lagu Mama ke Smartfm, salah satu radio di Balikpapan, untuk diputar. Dengerin lagu sendiri, di radio, itu sesuatu bingits. Setidaknya itu diamini mereka yang pernah melewati masa muda di zaman jaya radio. Meski cara menikmatinya sekarang agak beda karena enggak pakai radio, tapi streaming. 

Sampai pertengahan Januari 2020 ini, klip "Mama" sudah membukukan sekitar 1.600 views. Lumayan (banget) untuk sebuah proyek awal. Senengnya. Eh.... sebentar... tadi ngomong apa? Proyek awal? Hmm... apa maksudnya? Ehehe, iya, bleh… karena ada lagi proyek lagu lainnya. Tunggu tanggal mainnya yaks. Yang sabar menanti, dan selalu pantau kanan-kiri biar enggak ketinggalan info.

Orait, kita kembali ke lagu. Mama sebenarnya bercikal bakal lagu lawas yang sambalbawang tulis tahun 2000 lalu. Buset dah, lamanya. Itu mah jaman sambalbawang masih kuliah dan pas kurus-kurusnya. Hehe. Jadi ceritanya gini. Sambalbawang dulu emang suka bikin lagu, salah satunya berjudul “Dikau”. Bukti fisik—print lirik lagu—bahkan masih sambalbawang simpan, lho. 

Tapi entah kenapa, selalu enggak puas sama lirik dan beberapa nada di lagu Dikau yang (sepertinya) bergenre pop menuju rock dan bernuansa love-love itu. Sempat ganti ke topik lingkungan, masih juga enggak nemu nada yang pas. Bingung juga nih, lagu kayak ngajak "berantem", apa maunya coba?

Akhirnya lagu perlahan-lahan mengendap sampai lumutan, menguap, dan nyaris terlupa. Tapi untunglah sambalbawang masih sesekali menyanyikan nadanya sembari gitaran, sehingga tidak lupa-lupa amat. Namanya juga lagu sendiri, kan, walau belum jadi tetep juga di genjrang-genjreng kalau keinget. 

Begitulah. Hingga momentum kehilangan ibu, sepertinya saat yang tepat untuk "memanggil" lagu yang separuh jadi itu. PR pertama adalah lirik. Sambalbawang coba mengubah liriknya ke topik tentang ibu. Eh ternyata langsung dapet lirik dan lagu segera jadi dalam beberapa hari. Tempo lagu lantas disesuaikan, sehingga jadi lebih lambat dari tempo lagu awal (Dikau). Jadilah lagu "Mama" yang simpel dengan lirik yang sederhana. Sebagian lirik lagu adalah penggalan doa sambalbawang untuk ibu. 

Capek, puas, aneh, asyik, dan amazing. Begitu gambaran gimana rasanya setelah merampungkan lagu. Tak hanya jadi lagu, sambalbawang juga dapat ilmu, wawasan, dan pengalaman-pengalaman baru. Orang biasa pun bisa punya lagu. Era sekarang benar-benar memudahkan orang awam kayak sambalbawang yang bukan musisi ini, untuk bersentuhan dengan musik, juga hal terkait lain, semisal klip lagu. Mereka yang punya hobi menyanyi, bisa menyanyi, dan punya mimpi, semakin punya akses mudah. 

Bagi Paulina, yang punya warna suara sopran ini, sang ibu--di Flores--adalah sosok idolanya. Dan tentang masuk dapur rekaman, juga menjadi pengalaman pertama. Pau, begitu dia sering dipanggil, sudah beberapa kali ikut audisi menyanyi sehingga urusan menyanyi memang bukan hal baru. 

Merampungkan rekaman, beberapa waktu lalu masih jauh dari bayangan. Mendadak jadi mengingat zaman dulu. Gimana ya 20 tahun lalu, jika sambalbawang beneran masuk dapur rekaman. Kala itu, sih ya punya band. Setidaknya pernah di tiga band, yang semuanya belum pernah melangkah lebih jauh. Lha wong cuma band "ceria" beranggotakan tetangga, dan teman main. Dulu lumayan sering main di studio musik kecil, dekat rumah, yang begitu jendela dibuka, bisa lihat sawah dan bapak ibu tani. 

Cerita-cerita soal studio musik zaman dulu, dan apa proyek sesudah lagu Mama, kita simpan untuk bahan tulisan artikel-artikel berikut. Kebanyakan sih, kalau dituang di tulisan satu ini, karena jadi panjang bukan kepalang, dan mungkin bakalan capek bacanya. Tenang, masih banyak artikel topik terkait musik segera menyusul. Termasuk event live musik 22 Desember lalu, dan cerita-cerita di baliknya, juga ada apa sesudahnya. Pokoknya seru.

Balik lagi ke topik lagu. "Mama" juga sambalbalbawang dedikasikan untuk semua ibu di muka bumi yang berjuang demi anak-anaknya. Ibu adalah harta bagi anak. Berbahagialah mereka yang ibunya masih hidup. Masih bisa ditemui, dipeluk, dan diantar ke mana-mana. Sayangilah ibu kita masing-masing, dengan segenap hati. Jangan pernah bikin ibu kita menangis sedih, kecewa, dan terluka.  

Sebelum menutup tulisan di blog, ini lirik lagu Mama :
“Mama, mawar terindah. Cantik mewangi, mewarnai hari-hari. Mama, rembulan sendu. Slalu memberi, tak mengharap tuk diberi. Mama, ingatkan aku. Bila salah melangkah, dan bila salah bertutur. Mama, peluk tubuhku. Kala batin terempas, tak tahu harus bagaimana. Kurindu belaimu. Redakan sedihku, tangis, luka, dan marahku. Kurindu senyummu. Tenangkan resahku, kecewa, sakit hatiku. Mama, ajari aku selembut hatimu, seteduh tatap matamu. Mama, berikan doamu. Restu dan maafmu. Ku kan baik-baik saja”.


Link Spotify Lagu MAMA: https://open.spotify.com/track/6mFoafcffNxOInrxqi8DMM?si=hkr0VyhMSGChaE70RvI4eg

Love you mom… ibuku, mamaku tersayang, Anastasia Yuwiyati..


Kamis, 12 Desember 2019

NGOBROL BARENG MPR SOAL EMPAT PILAR, NETIZEN BALIKPAPAN BERI CATATAN

Mudah menuliskan ini : Pancasila, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika. Bagaimana menjalaninya? Jujur saja, semakin ke sini, semakin banyak orang kurang peduli.

Majelis Permusyawaran Rakyat (MPR) menyematkan keempatnya sebagai “Empat Pilar MPR”. Menggetarkan. Sejenak terbayang lembaga Negara yang anggotanya 711 orang, gabungan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI ditambah anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) ini, pasti militan mengusung empat pilar tersebut.

Jadi, ketika MPR menghelat gathering bareng netizen Balikpapan, sepertinya bakal menarik. Maka berangkatlah saya ke acara yang diadakan di Quartz Office Tower Aston Balikpapan, Sabtu 7 Desember 2019 lalu.

Gathering Netizen MPR adalah ajang ngobrol bareng untuk memberi masukan dalam menyebarluaskan informasi lewat medsos tentang kelembagaan MPR. Tentulah itu juga tentang menyuarakan empat pilar. Secara garis besar, MPR mengajak netizen menyebarkan konten positif di medsos.

 “Empat Pilar ini, ibarat topik yang amat seksi sebagai bahan diskusi. Seperti gadis manis pujaan hati yang berjalan lewat di depan mata. Mau diajak omong, kok masih malu. Enggak dibahas, dan dia akan berlalu,” begitu kira-kira isi benak saya.

Oke, kembali ke Empat Pilar. Masih hangat di ingatan-dan sebagian masih terjadi-banyak peristiwa yang benar-benar “menampar” empat pilar itu. Yuk direntang beberapa kejadian: Pilkada Jakarta 2017, Pilpres 2019, perusakan tempat ibadah, pembubaran kegiatan budaya, hingga sejumlah insiden berbau intoleransi dan radikal yang sepertinya diberi “angin”. Hoax dan fitnah ibarat menjadi “menu” yang tak henti berseliweran. Belum poster di sana-sini yang kentara menyakiti keyakinan orang.

Satu kata untuk menggambarkan: ngeri. Banyak pihak telah menghadang kengerian itu, baik di jagad nyata maupun maya. Termasuk MPR.  Pertanyaan yang kemudian terlintas di benak adalah, seberapa militankah MPR, termasuk anggotanya, merealisasikan Empat Pilar itu?

Rasa-rasanya saya belum pernah, atau mungkin jarang melihat, mendengar atau membaca MPR—secara kelembagaan dan perorangan—ikut berada di jajaran terdepan melantangkan Empat Pilar dalam statemen terbuka saat sekian peristiwa di atas terjadi.

Semoga sih, saya salah. Tapi jujur saja, masyarakat, termasuk saya masih agak susah percaya. Sebab, kenyataan, sejumlah anggota DPR RI—yang juga adalah anggota MPR-- cukup sering jadi bahan pembicaraan netizen gegara sikap dan postingannya tidak mencerminkan Empat Pilar.

Menurut saya, yang tak kenal lelah alias militan meneriakkan Empat Pilar di ranah maya dan nyata, malah bukan anggota MPR. Mereka ini aktif dan kreatif mengunggah konten di medsos semacam fesbuk, instagram, twitter, hingga youtube.

Terus pertanyaannya, ke mana, ya, MPR?  Saya sudah bertanya ke banyak kawan yang juga pegiat medsos soal Empat Pilar itu. Khususnya lagi, apakah cukup familiar melihat MPR menyuarakan atau belum. Dan jawabannya adalah mata-mata yang malah menerawang. Sepertinya belum, kata mereka. Mencoba mengingat-ingat lagi, tapi tetap jua enggak ketemu. Meski di sisi lain mereka cukup yakin jika MPR pasti sudah sering menggaungkan keempat pilar tersebut.

Tanpa mengurangi respek dan hormat, sebagai warga Negara, saya lantas penasaran juga apakah Empat Pilar itu sudah dilakukan secara apik di lingkup internal? Bagaimana pengawasan internal MPR? Apakah anggotanya sudah cukup militan menyuarakan empat pilar? Apakah ada pengawasan ke para anggota MPR, terkait postingan mereka di medsos dan pergerakannya di alam nyata?

Saya akhirnya punya kesempatan bertanya, waktu gathering akhir pekan lalu itu. Kepala Biro Humas MPR Siti Fauziah yang menjawab.

“Seperti kata pepatah, dalam hati tidak bisa diukur. MPR berusaha keras menanamkan nilai-nilai luhur. Apakah semua anggota MPR tidak ada yang nyeleneh, kita (MPR) juga tidak bisa menjamin. Kita tetap memantau kegiatan (anggota) dan konten-kontennya (medsos), namun tidak semua kita buka kontennya. Tapi (pertanyaan) ini masukan yang baik,” kata Siti.

Sebuah jawaban yang belum memuaskan.  Meski di sisi lain Siti menekankan bahwa MPR sudah berkomitpen penuh. MPR punya banyak aktivitas, khususnya di ranah dunia nyata, untuk menyosialisasikan keempat pilar tersebut. Antara lain lomba cerdas cermat, acara seni  budaya, hingga acara ngobrol bareng netizen seperti di Balikpapan. Acara gathering bareng netizen di daerah-daerah ini misalnya sudah diawali tahun 2015.

MPR, menurut Siti, ingin warganet juga menyampaikan Empat Pilar tersebut di jagad maya. Meski hanya satu kata dalam postingan, jika itu bisa dilakukan tiap hari, sudah bagus. Para pegiat medsos termasuk bloger dan netizen  punya peran penting.

Ketua Balikpapan Blogger Community Bambang Herlandi juga menekankan, masyarakat perlu melihat MPR mengawasi internal anggota MPR, dan apa postingan mereka di medsos. Sementara Kepala Bagian PDSI Sekretariat Jenderal MPR Slamet berharap mendapat banyak masukan dari warganet.

Sebagian pegiat medsos, termasuk bloger, sudah menggaungkan semangat Empat Pilar itu dengan istilah yang lebih banyak memakai “Pancasila dan NKRI harga mati”. Sebagian juga aktif membagikan tautan berita yang bernuansakan Pancasila dan NKRI harga mati itu. Bahkan “melayani” duel argumen. Mereka-mereka ini yang ikut melecut semangat

Menjaga Pancasila, NKRI, UUD Negara Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika harus dilakukan di ranah maya dan nyata. Tidak cukup juga di ranah maya. Jadi, sambalbawang pun terus menanti MPR untuk “militan” menggaungkan empat pilar.

Kalau nanti-nanti ada lagi insiden intoleran dan radikal, atau yang semacamnya, MPR juga pasti akan bersuara lantang, kan? Jangan juga hanya di ranah maya. Jangan malu-malu atau diam-diam. MPR pasti akan terus menggaungkan kempat pilar itu, sama seperti saya. 


Kamis, 05 Desember 2019

TATAG LANANG, FASHION SHOW TUNGGAL PERTAMA SAMANTHA PROJECT

Salah satu impian terbesar sambalbawang bersama dek bojo dalam mengusung brand “SAMANTHA PROJECT” adalah menggelar fashion show tunggal. Akhirnya pecah telur, kesampaian juga, pertengahan November lalu.

Bukan acara “kaleng-kaleng”, tentu saja, event bertajuk “TATAG LANANG” di Borneo Bay Park Plaza Balikpapan Sabtu 16 November itu. Samantha Project, seperti biasa, mesti tampil unik. Ini gelaran fashion—fashion runway-yang beda dari yang pernah ada di kota ini, disiapkan lama dan matang, serta dieksekusi dengan tim yang solid.

Jadi, Mas Adi Prasetya—uhuk—alias sambalbawang ini, yang adalah “pemain belakang layar” di Samantha Project, ikut menjadi bagian penting dalam rapat berjilid-jilid yang terentang tiga bulan sebelum hari-H.


Bagi sambalbawang, yang jabatan resminya adalah "humas Samantha Project", fashion runway Tatag Lanang mesti beda dari gelaran fashion show di Balikpapan—juga Kaltim. Tatag Lanang mestinya bisa jadi tontonan fashion yang edukatif, fresh, mengasyikkan, dan memberi "warna" baru.

“Tatag” dalam Bahasa Jawa diartikan sebagai karakter pemberani, tidak memiliki rasa was-was. Orang yang “tatag” akan selalu menuntaskan pekerjaan, meski dengan segala keterbatasan dan kesulitan. “Lanang” dalam Bahasa Jawa berarti laki-laki.

Menurut dek bojo, alias Mbak Samantha, Tatag Lanang ini seturut karakter baju-baju desainnya. Artinya ada sebuah kebebasan terkontrol dalam mengekspresikan gaya berpakaian tanpa melupakan bagaimana kita ketika dilahirkan. Ini hak yang semestinya ada dalam memilih gaya busana bagi setiap orang.

Dek bojo ingin menunjukkan bahwa ada semacam “benang merah” karakter maskulin dan feminin yang itu dapat mewujud sekaligus dalam busana “Tatag Lanang”. Ini sejatinya adalah tentang olah rasa fashion dan sudut pandang.

Tidak mudah menggelar fashion show tunggal. “Tatag Lanang” tidak hanya sebatas gelaran fashion, ataupun ajang ekspresi Samantha Project. Tapi ini adalah kerja bareng, yang beranjak dari mimpi besar sekelompok anak muda, untuk ikut memberi warna fashion di Balikpapan.

Ini adalah titik finish dari persiapan selama tiga bulan, yang jauh sebelumnya sudah diawali dengan keinginan bersama. Namun Tatag Lanang juga sekaligus awal dari perjalanan panjang menuju event-event berikutnya yang lebih berwarna.

Ada 20 model yang memeragakan busana Tatag Lanang, seluruhnya laki-laki. Busana-busana berbahan linen, katun, dan lurik tersebut terinspirasi dari busana kimono dan yutaka Jepang. Dia memang banyak terinspirasi oleh busana-busana asal negeri matahari terbit itu.

Tatag Lanang terselenggara atas kerja sama sejumlah pihak, antara lain Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kota Balikpapan, serta Plaza Balikpapan. Ucapan terima kasih juga ditujukan ke grup Angara, yang 20-an menit mengiringi musik selama gelaran Tatag Lanang.

Tatag Lanang dirancang rapi. Ada sesi jumpa pers, kesiapan rilis ke media, hingga aktivitas di medsos oleh tim. Spanduk raksasa pun dibentangkan di lantai. Bertuliskan puluhan aksara Jawa yang melingkar, bertuliskan “Tatag Lanang”.

Tamu-tamu undangan, terutama para pelanggan usaha jahit Samantha, diminta untuk mengenakan baju di Tatag Lanang. Mereka pun berfoto ceria di photo booth. Tamu dan masyarakat, dalam sesi manikin, bisa melihat dari dekat koleksi yang ditampilkan 20 model cowok ini. Ketua Dekranasda Balikpapan Arita Rizal Effendi yang ikut menyaksikan gelaran Tatag Lanang, terkesan.

Samantha Project, usaha dek bojo bersama sambalbawang ini adalah brand fashion di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur yang berbasis usaha jahit rumahan. Beranjak dari pemikiran ingin membuka usaha modiste--jahit busana wanita, namun dengan aktivitas yang beragam. Menjadi penjahit kekinian, itulah semangat awalnya.

Debut dimulai pertengahan tahun 2014. Di masa-masa awal itu, dek bojo memakai nama Modiste Samantha. Nama “Samantha Project” dikenalkan saat mengikuti pameran Pop Up Market di kompleks Mal Balikpapan Baru, Oktober 2015. Sebelum Tatag Lanang digelar, Samantha telah 5 kali mengikuti trunk show.

Tatag Lanang berjalan sukses karena tim yang solid dan “lapar” akan hal-hal baru di kota minyak ini. Okeh, bagaimana dengan tahun depan? Ada deh. Selalu ada hal baru dilakukan Samantha Project. Ganbatte !!

TATAG LANANG
For more photos : instagram : @samanthaproject

visit our website : www.modistesamantha.com
Photos by Samantha's team

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
REPOTNYA "MEMELIHARA" DUA BLOG
BASA WALIKAN
7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
AKU DI BELAKANGMU, TIGER WONG
GATOTKACA TAK HANYA OTOT KAWAT BALUNG WESI
SARADAN
AMPAR-AMPAR PISANG, INI LHO ARTINYA