Selasa, 25 Agustus 2020

NGOBROL BARENG MAS BENNI LISTIYO SEPUTAR MUSIK ERA 80-90

Artikel hore sambalbawang di blog ini yang seputar musik—terakhir soal musik jadul vs zaman now, berlanjut ke obrolan ranah maya. Akhirnya “menyeret”  temen lama, mas Benni untuk menggelar live instagram bareng. Topiknya ya cuma seputar musik era 80-90. Eh, malah berlanjut ke siaran radio.

 

Mas Benni, yang nama lengkapnya Benni Listiyo ini termasuk "makhluk" lumayan langka. Sudah nyemplung ke dunia per-radio-an sejak sambalbawang masuk kuliah, wawasannya soal musik wuaa banget, lah. Tatkala sambalbawang masih praktikum di fakultas sebelah, dan kadang masih menenteng mesin tik, Mas Ben sudah manggung di venue top kampus. Salah satunya ketika dia dan kawan-kawan “merekayasa” lagu-lagu KLA Project dalam pertunjukan "Klamelan" tahun 1999 lalu.

Jadi, cocok deh dedengkot Radio Sonora Yogyakarta ini untuk mengulik soal musik lawasan. Edisi perdana segera dimunculkan, yakni live instagram di @lukasadiprasetya dan @benni_listiyo dalam “Ngobrol Santai” bertopik “Musik dan Lagu Era 80-90an Adalah yang Terbaik?”. Live ig ini pada 12 Juni, pukul 20.00-21.00 wib. Lalu edisi kedua, siaran di Radio Sonora Yogyakarta untuk program “Indonesiana” pada 27 Juni pukul 14.00-16.00 wib. Di sesi siaran radio ini, ada juga Mas Hasta, penyiar. Kami bertiga ngalor-ngidul ngobrolin musik.

Obrolan berlangsung seru. Jujur saja, sambalbawang lumayan pontang-panting merefresh ulang wawasan soal permusikan. Lha wong cuma penikmat musik, eh semeja sama pemerhati musik. Wakaka.. Salim dulu sama mereka. Baiklah, lanjut obrolan. Menilik umurnya, Mas Ben ini pasti di kategori diehard lagu lawasan. Tapi, asyiknya, musik-musik terkini, barat sampe timur, juga rutin jadi “makanan” sehari-hari. 

Coba langsung todong, ah. "Mas, bagusan musik mana, era dulu apa sekarang?". Orangnya  menjawab kalem, “Musik itu soal selera”. Hm, ini jawaban win-win solution apa gimana ya. Orangnya lalu bilang kalau setiap zaman atau era, unya sejarah dan cerita tersendiri. Tak terkecuali soal musik. Dia mengawali “analisis” dari sudut pandang industri musik. “Era keemasan, terutama di Indonesia, memang terjadi sejak awal 1980. Semakin mudah orang mengakses musik dibanding era 70-an,” katanya.

Sambalbawang setuju. Awal 80-an seakan era peralihan segenap dinamika industri musik. Masih era kaset, sih, tapi video klip mulai dibikin lebih bagus dan serius. Televisi mulai dikenal dan tersebar luas—meski stasiunnya masih satu, yakni TVRI. Radio yang makin banyak dan makin jauh jangkauannya.  


Awal 1980, kata Mas Ben, kualitas rekaman dan musikalitas semakin apik. Toko-toko alat musik semakin banyak, walau masih sebatas kota besar. Era piringan hitam masih ada, namun kaset yang persebarannya lebih tinggi. Toko-toko kaset pun bermunculan, mengimbangi maraknya acara musik di radio dan TV. 

Ajang musik juga bertebaran. Kita coba mendata sekilas. Ada Bintang Radio dan Televisi--ditayangkan TVRI. Ada pula Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR), festival rock Log Zhelebour, Festival Lagu Populer, Selecta Pop, Aneka Ria Safari, dan tentu saja Album Minggu Kita. Belum lagi festival-festival pelajar dan mahasiswa yang jumlahnya tak terhitung.

Sementara di kanal radio, kawula muda juga “dibombardir” lagu. Sambalbawang ingat, ketika kakak beranjak dewasa--medio 1980--radio di rumah seperti menyala nyaris seharian. Mereka yang remaja dan dewasa di era 80, pasti tahu “Jogjakarta Top Hits” dan “Tangga Lagu Terbaik”—dua dari sekian banyak “rangkingisasi” lagu terwahid, waktu itu. Radio berperan besar membentuk wawasan lagu. Juga memberi tahu lagu-lagu di era 80 awal--mengingat saat itu sambalbawang masih balita.

Karena itu, sambalbawang masih bisa (sedikiiiit) “mengejar” obrolan Mas Ben meski tetap tergagap-gagap. Hehe.. Kalah kelas, sih. Kalah tua, juga. Mungkin mudanya dia lebih "liar" dari masa muda sambalbawang. Baiklah. Nah, lebih lanjut Mas Ben bilang, band-band bermunculan secara luar biasa di era awal 80. Nyaris semua genre tumbuh dan pasar menerima. Dari Jazz sampai dangdut. Dari Pop sampai rock. Dengan semua “turunan”-nya. Semua jaya.

Awal 1980, band-band beraliran jazz seperti Krakatau, Karimata, dan Emerald, muncul. Sementara di deretan penyanyi antara lain Vina Panduwinata, Fariz RM, Farid Hardja, Hetty Koes Endang, Chrisye, Harvey Malaiholo, Nicky Astria, Ikang Fawzi, Arie Wibowo, Atiek CB, Trie Utami, Anggun C Sasmi, Obbie Messakh, Deddy Dukun, Dian Pramana Poetra, dan lain-lain. Beberapa dari mereka pun, ada yang bermusik di grup, seperti Fariz. Di "jalur" lain, kita juga kenal banyak penyanyi unik seperti Gombloh.

Selanjutnya, di akhir era 80, muncul sejumlah band/grup top seperti God Bless, Kantata Takwa, Slank, KLa Project, dan Trio Libels. Jangan lupa, Iwan Fals pun menancapkan masterpiecenya di akhir 80 lewat album Mata Dewa. Musikalitas mereka semua ini, jelas top. “Mereka, musisi dan musik 80-an, yang akhirnya memengaruhi musik era 90-an yang berkembang dengan lebih beragam,” kata Mas Ben.

Era 90-an, musik Indonesia “meledak”. Nyaris semua rumah punya TV. Dan TVRI tak sendirian lagi, karena TV swasta bermunculan. Musik dalam negeri dan barat—terutama klip lagunya, semakin banyak dikenal. Banyak grup dengan genre baru naik permukaan. Gigi, Humania, Dewa, Boomerang, Netral, Kahitna, AB Three, Rida Sita Dewi, Sheila on 7, Jikustik, Shaggy Dog. Java Jive, /rif, Jamrud, Tipe-X, Wayang, Base Jam, Naif, dan Padi—yang muncul di akhir 90-an. 

Juga, tentu saja, beberapa penyanyi seperti Iwa K, Titi DJ, Doel Sumbang, Reza, Anang, Krisdayanti, sampai Nike Ardilla. Genre musik komedi, juga mendapat tempat. Siapa tidak kenal Padhyangan Project dan Project Pop ? Belum lagi memasukkan daftar penyanyi anak-anak. Kalau dibahas dari ranah lirik, era ini terbilang komplet. Lagu lirik puitis sampai lirik yang jauh dari kata puitis, ada.

“Hampir semua dari band dan penyanyi di era 80 dan 90 mewakili genre tersendiri. Mereka punya karakter. Kita pasti tahu begitu denger satu lagu, itu lagu siapa. Dan itu suara siapa. Enggak perlu lihat klipnya. Itu luar biasa,” kata Mas Ben.

Tidak heran ketika generasi yang kini berumur 40 tahun (40-50 tahun) menyebut era 80-90 adalah era musik terbaik. Generasi ini benar-benar “diguyur” musik banyak genre dan dari banyak musisi berkualitas jempolan. Juga disuguhi sekian banyak konser musik. Di tingkat bawah, festival kecil semacam lomba band internal dan antarsekolah, juga tumbuh subur. Perusahaan label rekaman, sebut saja satu, JK Records, tak ketinggalan gencar mengorbitkan deretan artisnya.

“Kita jadi sangat familiar dengan lagu persada, juga mancanegara. Kita dengerin radio dan TV, dan juga dapat bacaan dari media cetak dan majalah yang mengupas musik dan penyanyi. Siapa tidak kenal majalah HAI, coba? Majalah ini jadi acuan, sumber bacaan. Belum baca, ya kurang gaul, belum keren,” katanya.

Di era 80-90, musik juga seakan terseleksi. Label rekaman masih pegang kendali atas lagu siapa yang dirasa bisa dijual komersial. Kalau perusahaan rekaman tidak tertarik, ya lagu yang masuk akan “ditendang”. Dulu, enggak ada cara lain selain menembus itu, dan bermuara ke album (kaset). Yang suaranya enggak merdu atau enggak ada uniknya, ya bisa “ketendang” pula. Bahkan jika tembus sampai peluncuran album tapi kasetnya jeblok di pasaran, maka ya siap-siap kena putus kontrak. Ngeri-ngeri sedap.

Semua rangkuman fenomena musik 80-90 tadi, lanjut Mas Ben, bersanding dengan bagaimana musisi menapak jalan yang betul-betul terjal. Dulu, untuk rekaman saja susah. Band misalnya, ya pasti mengirim demo lagu ke stasiun radio. Bisa lebih dari satu lagu. Celakanya, belum tentu ditayangkan. Jadi, ketika lagunya tayang di radio, luar biasa.  Apalagi kalau sampai bisa bikin klip. Itu ibarat mimpi. Kalau bisa sampai tahap ini, kamu bakal "disembah" sama temen-teman.

Begitu ya. Okay, mari kembali ke pertanyaan menggelitik. Musik era mana sih, yang terbaik. Era 80-90 itu atau era sekarang (selepas 2000)? Sedikit mengingat, di era tahun 2000 ke atas, juga banyak band bagus, lho Mas Ben. Sebut saja, Cokelat, Wali, Utopia, Kotak, Geisha, Laluna, Ratu, Endank Soekamti. Di tingkat daerah, musik “aliran” indie juga sedang menggelora. Di Jogja, misalnya, ada Sri Redjeki dan Produk Gagal. 

 

Mas Ben kembali menyebut musik itu soal selera. Lagu-lagu sekarang, kata dia, sebenarnya ya bagus secara kualitas. Hampir sempurna secara recording dan musikalitas. Band dan penyanyi lebih mudah merekam dan mendistribusikan lagu, sedangkan masyarakat lebih gampang mengakses. Semakin banyak dan cepat cara untuk dikenal. Publik seakan mendapatkan "surga musik". Kalau sejenak menengok ke belakang, era CD (akhir 90) yang langsung disusul era MP3 di rentang 2004-2005, memang seketika membuka keran. Terlebih lagi ketika kanal youtube muncul dan mulai dikenal tahun 2010. Dan kini eranya sudah masuk spotify, joox dan lain sebagainya.

“Lagu sekarang, ya bagus. Berkarakter juga. Tapi kurang beragam. Kita bisa agak susah membedakan karakter suara penyanyi atau band, dan musiknya. Begitu dengar lagu yang belum pernah kita dengar, sekarang kita bisa agak lama mikir, ini lagu siapa, vokalnya siapa. Saat ini terutama vokal penyanyi cewek berkarakter, tidak banyak,” ujar Mas Ben.

Radio tempatnya bekerja, lanjut dia, sampai sekarang masih menerima banyak single dari banyak penyanyi maupun band. Satu lagu belum cukup popular atau dikenal, tapi sudah muncul single baru. Ini tentu kreativitas, tapi dulu kondisinya beda. Musisi era dulu berkarya dan banyak yang tidak memedulikan apakah karyanya bakal hits atau dikenal. Alhasil banyak lagu luar biasa, lahir. Sebaliknya, lagu bagus yang tidak sempat hits, juga banyak.

"Banyak lagu saat sekarang, sih, iya. Tapi tidak semua lagu didengarkan semua orang. Banyak pilihan dan banyak platform, soalnya. Dulu, kawula muda terkondisikan mendengar banyak lagu dari banyak musisi. Dulu kan hanya ada TVRI dan radio.  Kita tahu lagu-lagu ya dari sana. Kita seneng lagu rock, ya tetap hapal banyak lagu pop. Lagu bagus kita kenal, lagu yang biasa-biasa saja pun, kita juga mungkin tahu karena pernah dengar,” kata Mas Ben.  

Nah sekarang ke soal susahnya mereka yang usia 40-50 untuk move on dari musik 80-90an (bahkan 70-an). Itu, menurutnya, karena rentang waktu yang lama bagi mereka menikmati musik di kala remaja dan dewasa. Coba yuk hitung dimulai dari umur 10 tahun, usia ketika mengenal musik. Mereka yang berumur 40 tahun sekarang, setidaknya sudah 30-an tahun telinganya mendengar, mengenal, dan menghapal lagu. Sementara kawula muda sekarang, anggap saja berumur 25 tahun, menjalani tahap itu 15-an tahun.  

Generasi Mas Ben dan kakaknya (40-50 tahun) sudah di masa yang tidak lagi update banyak seputar lagu terkini. Banyak waktu sudah tersita untuk pekerjaan dan keluarga.Wajar jika asing dengan lagu terkini, apalagi yang dulu tidak ada di jamannya. Bener juga sih. Sambalbawang juga kayaknya enggak lagi update lagu terkini sejak tahun 2009/2010. Selepas itu ya hanya beberapa penyanyi dan band yang masih nyangkut di kepala.

“Generasi lawas, banyak yang sudah malas dengar lagu sekarang. Meski begitu, sebagian ya masih tetap denger karena lagu kekinian kan terdengar di mana-mana. Mereka tahu, denger, tapi enggak banyak tahu penyanyi sekarang. Kecuali yang benar-benar ngehits. Benar, generasi lawas punya memori banyak lagu. Tapi sebagian generasi sekarang juga kenal banyak lagu lawas kok, karena mereka mau mencari dan mendengar banyak lagu lawas dibawakan ulang penyanyi atau band era sekarang,” ucap Mas Ben.

Apa sih yang terjadi di era 2000 ke atas sehingga mengubah banyak hal? Teknologi yang berkembang sangat pesat. Masyarakat makin mudah mengakses lagu. Sayangnya ini pula yang akhirnya berdampak pada semangat berkarya para musisi. Sekarang, jadi musisi susah dapat royalti dari penjualan kaset dan CD. Sekarang ini, lagu yang susah-susah dibikin, begitu keluar, eh dengan mudahnya dibajak dan disebar luaskan. Era CD bajakan berisi lagu format MP3, yang awalnya berperan mengacak-acak situasi. Lalu musik makin mudah diunduh seiring internet merambah sendi kehidupan. 

“Musisi sekarang dapat penghasilan ya dari pentas, dari konser, dari main di kafe atau bar. Sebelumnya (era 2000-an), mereka juga masih bisa dapat dari ring back tone (RBT) --alias nada sambung. Tantangan jadi musisi semakin berat,” kata dia.

Lagu berkualitas, lama-kelamaan semakin jarang muncul. Sekarang, siapa saja dan di mana saja, semua bisa merekam lagu memakai ponsel dan laptop. Ditunjang pula banyak software yang bertebaran. Kualitas suara vokal pun dengan mudah bisa dikoreksi. Tak perlu lagi masuk studio rekaman untuk bikin lagu. Bahkan tak perlu alat musik untuk bikin suara alat musik. Ketika lagu selesai, ya tidak perlu banyak memikirkan kualitas, karena tinggal di-share ke medsos antara lain youtube. 

Bisa saja enggak perlu punya lagu bagus, asal punya banyak follower, maka yang lihat lagu bakal banyak. Bahkan sekarang, lanjut Mas Ben, eranya malah menjadi semakin lucu (dari sudut pandang mereka yang berumur 40 tahun ke atas).

“Sekarang, yang lucu dan wagu bisa mendadak viral, mengalahkan lagu bagus. Cuma berbekal ‘jeng-jeng-jeng’ tapi bisa tenar. Mungkin hal-hal seperti itu yang bikin orang sekarang males mikir. Termasuk males mikir bikin lagu dan bagaimana bermusik yang baik dan bagaimana menjadi musisi yang tahan banting. Termasuk di sini, semakin sedikit musisi yang menjalani tahap demi tahap untuk mengasah skill. Dulu, musisi beneran terasah skill-nya karena terbiasa main di depan penonton. Makanya banyak band dan penyanyi yang aksi panggungnya luar biasa dan ikonik. Sekarang, banyak band dan penyanyi yang langsung hilang tak lama setelah muncul,” kata Mas Ben.

Kesimpulan akhir, menurut Mas Ben, musik tetap soal selera. Tiap era tidak bisa disamaratakan, karena kondisi dan tantangannya berbeda. Respons publik juga sudah berbeda untuk mengapresiasi. Plus-minus jelas ada di setiap era dan tak terhindarkan. Mereka yang jadul ya sah banget mengklaim musik era mereka adalah terbaik. Tapi kawula muda sekarang juga bebas memilih dan mendengar musik yang mereka sukai. Kawula muda suka musik sekarang dan tidak suka musik jadul, ya boleh juga.

Kabar baiknya--dari sudut pandang kaum jadul--adalah, sebagian anak muda zaman now mengakui dasyatnya musik era 80-90an. Tapi mereka sudah tidak hidup di zaman itu dan tidak bisa merasakan sejauh mana gelegar-nya. Zaman memang sudah berubah. Anak muda yang sekarang memegang kendali musik. Mereka yang sudah (menuju) generasi old, ya sudah mulai menapak “masa nostalgia”. Saatnya sekarang, yang muda yang berkarya. Begitulah… Haduh capeknya nulis artikel ini, hehehe.

 

BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA :

AKU DI BELAKANGMU, TIGER WONG 

ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA

LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK  

MAMA by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA 

 GATOTKACA TAK HANYA OTOT KAWAT BALUNG WESI

CHINMI JAGOAN KUNGFU DARI KUIL DAIRIN 

7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA 

MENGAPA HARUS NGEBLOG 

APA KABAR SUZUKI ? 

FORD LASER SONIC - BALADA FORDI (1) 

THE BEATLES FOREVER 

AMPAR-AMPAR PISANG, INI LHO ARTINYA 

ANGKRINGAN OH ANGKRINGAN (TULISAN 1) 

THE AQUARIAN ? 

SEKILAS TENTANG PERANG DUNIA II 

LUAR BIASA, BEGITU BANYAK FILM DOKUMENTER PERANG DUNIA II 

BANYAK MOTOR SEDIKIT MEREK, SEDIKIT MOBIL BANYAK MEREK 

TENTANG HONDA (3) INILAH STAR'S FAMILY 

 

 

 

 

Kamis, 30 Juli 2020

THE AQUARIAN ?

Antara percaya dan enggak percaya, akhirnya saya letakkan sebagai hasil “permenungan” hore saat membaca ramalan zodiac. Mungkin baru dua tahun terakhir, mulai baca lagi. Terakhir waktu masih duduk di bangku SMP. Ramalan soal asmara, pastinya, hahaha. Saat itu, ya enggak percaya karena sepertinya salah semua tuh ramalan.

Garis besarnya adalah, saya masih tidak terlalu yakin masuk naungan zodiac Aquarius apa Pisces (meski 95 persen yakin masuknya ke Aqua, sih). Berada di tanggal persimpangan (you know lah), membuat ramalan dua zodiac ini, saya baca semua. Hasilnya? Bukannya bingung, malah banyak ketawanya. Secara umum, sepertinya memang condong ke Aquarius. Tapi kayaknya ada beberapa yang “berbau” Pisces.

Tapi karena dek bojo zodiacnya (jelas) Pisces, nampaknya saya hanya kebagian secuil karakter Pisces.  Secuil yang beneran selapis. Lalu, sedikit “survey” kecil-kecilan akhirnya membuat saya banyak baca lagi tentang karakter zodiac dari berbagai sumber. Debat internal tentang Aquarius atawa Pisces ini, ternyata ada juga yang meresahkan. Lumayan banyak. Syukurlah, tidak hanya saya sendiri yang lahir di rentang tanggal “perempatan jalan” itu. Uhuk...

Banyak bacaan atau ramalan zodiak menyebut mereka, para aquaris (aquarian) sebagai orang yang nyeleneh, cerdas/cerdik, kreatif, tipikal pemberontak, gampang berteman tapi sekaligus mudah kesepian, misterius (?), sensitif, keras kepala, susah ditebak, sampai punya selera humor yang rada nyelekit. Malah ada yang menyebut, aquarius zodiac alien karena aneh, dan segelintir yang paham pikirannya. Jika di antara 12 zodiac harus ada yang dikeluarkan dari "kelas", maka itu adalah Aquarius. Zodiac ini paling "dingin". Datar emosinya.

Sementara Pisces digambarkan punya bakat seni, artistik, intuitif, moody, imajinatif, dan simpel. Singkatnya, Pisces terpengaruh banget sama perasaan. Ini zodiak yang empatinya besar. Kalau seisi dunia zodiaknya Pisces, maka tidak akan ada konflik. Pisces juga dikenal senang menyendiri, dan mudah mengantuk alias suka tidur. Nih zodiak jago bikin bingung orang. Pisces tidak suka tampil di permukaan, tapi mereka bisa. Bahkan yang ajaib, meski bukan tipikal suka kompetisi sengit, Pisces tetap berusaha memenangkan kompetisi.
.
Semua karakter dua zodiak itu, entah, ya ada yang masuk di karakter sambalbawang alias saya ini. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, karakter antarzodiak tetap berbumbu “senggolan”. Saling terkait, saling kena-mengenai, dan “gas tipis-tipis”. Intinya semua zodiac punya plus minus, keunikan, dan aspek misteriusnya. Timbangan-nya, sama. Jadi karakter semacam kreatif, cerdas, intuitif, bakat seni, sampai selera humor, sepertinya cukup universal.
 
Terlepas dari itu, ada senaknya sih, Karena saya bisa memilih sebagai Aquarian. Sementara di lain kesempatan, saya pun bisa bilang, punya kartu member di “Pisces”. Kalau pas enggak cocok sama ramalan Aquarius, maka bisa switch ke Pisces. Demikian juga sebaliknya. Yah, buat hiburan saja sih.

Nah, kalau ada pertanyaan santai, siapa dari sekian tokohterkenal, siapa yang paling mcncerminkan karakter zodiak? Nampaknya sambalbawang bakal memilih Cristiano Ronaldo, striker Juventus, yang (kebetulan) Aquarian.. Gitu, jreng.     



BACA JUGA ARTIKEL LAIN :

 

Selasa, 30 Juni 2020

NAIK KELAS : DARI NYETIR MOBIL "KURANG SEHAT" KE MOBIL BOKS

Suatu hari di tahun 2001. 

Keringat semakin deras keluar dari semua penjuru badan. Benda beroda empat ini menggeram, meraung-raung seperti singa yang tidak tahu harus berbuat apa. “Kopling, lepas. Gasnya, injak. Rem tangan, angkat, cepat. Gas, gaass !!” bapak berulang memberi instruksi seperti komandan prajurit yang gemes melihat anak buahnya kebingungan.


“Lho, kok malah mundur?” teriak bapak lagi yang langsung dibarengi “paduan suara” klakson di belakang bersamaan suara berdecit, bersumber dari sekian ban yang dipaksa berhenti secara serentak.Terdengar aneka “pisuhan” yang jauh dari kata merdu. Panik ! Kunci kontak langsung putar ke kiri, rem tangan pun angkat lagi ke atas. Dan, saya pun meloncat ke luar.


Meninggalkan bapak yang menyelesaikan semua urusan agar benda ini tak melintang di simpang empat salah satu ruas jalan di Jogja. Suasana semakin chaos. “Mata’ne !!” teriak seorang pengendara mobil. Saya hanya bisa berdiri gemetar di tepi jalan, menunggu bapak meminggirkan mobil. Jelas ini pengalaman cukup buruk untuk saya yang baru belajar nyetir dan langsung dipaksa ke jalan raya.


“Mobilnya enggak beres, pak,” protes saya ke bapak. Saya enggak paham apapun tentang kendaraan, apalagi mobil. Tapi yakin mobil ini pasti kurang sehat. Di tahun segitu, mobil station wagon keluaran era awal 1980-an, yang notabene keluar setelah “era pikap trontong”, sudah termasuk sepuh. Belum tua-tua amit sih. Tapi mobil ini sudah nampak payah, barangkali kurang dirawat pemilik sebelumnya. 
Oke, baiklah, ini memang tentang daya beli dan kebutuhan, ketika bapak memutuskan membeli mobil berwarna hijau. Tapi masalahnya lebih pada kondisi mobil—yang karena sesuai harga—jauh dibawah kondisi ideal, atau normalnya kendaraan. Ada harga ada barang, memang tidak semata hanya ungkapan.


Gara-gara kondisi keuangan juga, bapak batal langsung memasukkan mobil ke bengkel untuk servis besar. Hanya servis ringan. Hanya sedikit lebih membaik, setidaknya dari volume dan warna asap yang berkurang. Masalah intinya jelas tak diselesaikan. Mesin 1.000 CC terasa kurang bertenaga, knalpot menyembur asap (agak) hitam, rem depan-belakang masih kurang pakem, kopling yang “pendek”, hingga  rem tangan yang kagak “menggigit”. 

Getaran mesin juga tidak bisa stasioner. Kalau pedal gas enggak diinjak, deru mesin akan (langsung) mati. Komplet deh kisah “neraka” belajar nyetir. Tapi bapak bersikeras agar saya mulai belajar. “Sebelum mobil ini nanti mungkin dijual, kamu harus bisa nyetir,” kata bapak. Sebagai anak, saya hanya bisa nurut dan pasrah. Hari-hari mendebarkan pun selanjutnya terjadi. Again and again.

Harus saya akui, bapak punya skill lumayan untuk urusan nyetir. Sejak tahun 1970 dan bahkan sampai terakhir kali memegang stir tahun 2014, bapak tidak pernah mengalami insiden. Nyenggol saja belum pernah. Berkendara tanpa emosi dan selalu tidak pernah terlihat mengantuk. Parkir pun bisa dibilang sekali jadi. Nyetir mobil yang “tidak beres” seperti ini, sepertinya bukan masalah baginya.


Terlepas dari hiruk-pikuk belajar nyetir, akhirnya saya pun bisa. Horeee. Meski sebetulnya lebih tepat ke berani nyetir daripada bisa nyetir. Kalau harus dikasih nilai, skil nyetir saya di masa-masa awal itu pastilah (maksimal) 6. Tapi kalau urusan berani, bisa jadi lumayan (nekat). Skil (masih) minim tapi tak berpikir demikian. 

“Skil itu dimulai dari sikil” begitu ‘kata pegangan’ saya. Btw gimana visual Suzi Carry th 1983/1984, seperti yang saya cantumin di atas. Nah Carry yang punya bapak saya, penampakannya jauh lebih buruk dari gambar mobil itu..

Bahkan hal terburuk mobil my lovely dad itu, selain tenaganya yang rada melempem adalah asap hitam pekat yang semakin menyembur "riang gembira" dari knalpot terlebih saat menanjak.Belum lagi bodi mobil yang rada bolong sana-sini sehingga panas mesin naik menghangatkan pantat, dan asap lolos menyeruak masuk kabin. 

Semua kursi berderit, tak ada AC, plafon seperti tidak menempel atap, tak ada musik, hingga lantai yang tak terlapis karpet. Semua kaca sepertinya juga enggak rapat menempel, sehingga pada bergetar. Mungkin angkot pun masih lebih good looking--karena minimal ada piranti musiknya.


Dan begitulah. Tapi dari mobil begitu itu, saya berlanjut ke petualangan selanjutnya yang seru. Belum genap sebulan bisa menjinakkan mobil (dan dapat SIM), sebuah tantangan datang tanpa diundang. Seorang kawan, Vendy, mengajak, tepatnya meminta saya nyetir mobil operasional kantornya untuk nganterin barang makanan. Dia kerja di perusahaan yang mendistribusikan makanan. 

Saya sih mengaku bisa nyetir, meski secara teknis ya cuma nyetir khusus maju. Urusan atret (memundurkan mobil), belum bisa mulus. Selalu bikin alur "ular" yang bikin siapa saja pemirsanya pasti akan mesam-mesem. Saya cuma paham menggerakkan tuas persneling-nya ke posisi “R” dan langkah berikutnya adalah gas tipis-tipis.Yang penting mobilnya mundur, berarti sudah bener mengoperasikan kopling, persneling, dan gas. Mundur ke arah mana, dan analisis jarak, itu mah, beda soal.


Singkat cerita, tantangan tadi saya terima. Mobil boks Mitsubishi Colt L300 yang mesti saya kemudikan. Kawan saya itu bilang, temannya yang biasa jadi sopir, lagi sakit. Tapi barang-barang harus diantar ke sejumlah toko di Sleman dan Bantul. Tidak bisa tidak. Bagi saya (yang waktu itu masih berbadan kurus-gepeng), varian L 300 terlihat berukuran lumayan besar. Mengingat sebelumnya latihan nyetir memakai mobil yang lebih kecil dan mungil.


Beruntungnya, masa muda memang tidak atau belum kenal rasa takut. Pikiran belum cukup ribet dan panjang. Nyali juga masih setebal tali tambang yang baru keluar dari pabrik. Saya mikirnya simpel : mobil milik bapak saya lebih buruk kondisinya ketimbang kendaraan perusahaan ini. Apalagi coba, yang lebih parah dari sebuah mobil lawas "antimainstream"? Mobil lawas yang pedal gas, kopling, dan rem-nya kayak musuh’an, ngajak berantem driver-nya? Selain itu, kapan lagi coba, bisa nyetir mobil boks.Uui..

Oke berangkaat. Tapi, begitu masuk ruang kemudi L300, saya bingung. Blaiiiik, mana tongkat persneling-nya. Kok enggak ada di sebelah bawah-kiri. Ternyata... ada di sebelah stir, area dasbor. Lhaa, lhaaa, kok beda posisi gini? Matiii, belandaaaa. Gimana, jreng. Telanjur masuk kokpit, nih, tak mungkin batal. Harga diri, broo... Akhirnya ya tetap berpikir untuk nekat. 

“Piye (bagaimana). Piye?” tanya Vendy yang notabene juga temen saya satu band ini, berkali-kali. Ada nada-nada cemas melihat saya lumayan lama “ungkak-ungkek” hanya untuk sekedar mengeluarkan kendaraan ini dari parkiran kantornya ke tepi jalan raya. Padahal parkiran kantornya lapang, dan jalanan pun (saat itu) belum terlalu ramai.

Akhirnya setelah sekian menit, sepertinya oke. Sepintas kondisi kendaraan memang terbukti seperti perkiraan, lebih sehat dari mobil saya. Lha iya, lah. Secara tahun keluaran saja sudah menandakan. Yang ini masih terbilang baru, setidaknya belum lima tahun. Sedangkan mobil saya sudah 20-an tahun umurnya.


Tapi masalah masih ada karena spion tengah di ruang kemudi L300 seakan tidak berfungsi. Lha? Namanya aja kendaraan yang belakangnya boks, mana kelihatan suasana belakang mobil via spion tengah? Berkendara hanya mengandalkan spion kanan dan kiri. Dan ini berarti butuh penyesuaian. Solusinya : Vendy yang saya paksa agar sering menongolkan kepalanya ke luar, sebagai “spion tambahan” untuk live report setiap saat.  


Dan meluncurlah saya pakai kendaran itu. Bukan hal mudah beraptasi. Jika sebelumnya, saya nyetir mobil yang blas kurang bertenaga, begitu di mobil ini, mendadak bisa langsung ngacir begitu gas diinjak. Biasa ngerem "jauh hari" gegara rem tidak pakem, eh di L300 remnya langsung bereaksi. Rasanya seperti mau nabrak-nabrak larinya. Apalagi setelah melepas rem tangan, mobil terasa meloncat.

My life is my adventure ini berlangsung pagi sampai sore, Enggak cuma nyetir, saya juga sekalian membantu angkat-junjung kardus keluar-masuk sekian toko. Akhirnya selesai. Eh sebentar. Apakah terjadi insiden selama perjalanan? Oh…. ada. Beberapa. Sepanjang durasi seharian wira-wiri yang totalnya bisa puluhan km itu, pasti kawan saya pasti "senam jantung". Wajahnya tegang dan selalu komat-kamit "Ati-ati, ati.. awas, awas,".  

Insiden lain yang saya ingat adalah hampir menabrak buk--semacam bangku terbuat dari semen yang ada di tepi jalan, biasanya di sisi kanan-kiri jembatan. Setiap mau parkir juga bikin kawan saya jantungan, karena belum paham soal mengalisis jarak. Doa saya sesaat sebelum sampai tiap toko adalah "semoga jangan sampai berurusan sama parkir mundur". Doa hanya terkabul beberapa.

Hanya saja, untungnya, parkir mundur dengan kondisi belakang lapang. Lega, tapi juga masih "kayak uler". Dan tentu saja pakai acara teriak dari teman saya. Begitulah. Berharap tidak ada insiden terjadi, tapi sayangnya itu terjadi juga. Dan insiden "terberat" adalah bemper belakang menabrak pohon kelapa----tapi hanya terhantam sedikit (menurut versi saya) karena refleks cepat menginjak rem.


“Pohonnya gak kelihatan dari spion kanan dan kiri,” begitu alasan saya. Lha, pohonnya kan di belakang mobil, di tengah-tengah pula, sedangkan saya lagi posisi atret (mundur). Dan itu repot. Alasan saja sih, sebenarnya, hehehe. “Mata’ne !! Pohon kelapa lumayan gede gini masa gak kelihatan?” dia membalas. “Konsentrasi penuh mundurin mobil, nih. Mana sempat lihat pohon di belakang,” jawab saya sekenanya. 


“Kowe iso ngundurke mobil ora tho (Kamu bisa memundurkan mobil tidak)?” dia bertanya, walau saya yakin dia tahu jawabannya. “Belum bisa,sih. Tapi sudah tahu gimana caranya secara teori,” jawab saya. Ah… Kawan saya pasti pusing gimana laporan soal mobil kantornya ini. Bagian ini enggak perlu saya tulis, ya, hehe. Tapi kawan saya pasti tahu, ketika kami pulang selamat, itu sudah anugerah.

Yang pasti, hari itu saya merasa "naik kelas". Menjadi lebih pede menyetir mobil jenis apapun--sampai kemudian berani ambil alih kemudi, nyetir ke Jakarta dan sukses "selamat" keluar-masuk tol untuk pertama kali. Lalu apakah urusan atret sudah lancar? Jujur saja, ya belum. Tapi yang penting mobilnya tetap bisa mundur, dan enggak nabrak, bukan?
(Nb : dua foto mobil lejen ini ambil dari internet yaks) 

Senin, 15 Juni 2020

SECUIL MILITAN DIBALIK KEBERANIAN NGAMEN "OUT OF THE BOX"


Masih anyaran jadi mahasiswa. Saya mencoba sok gaul keluar lingkup kampus dan akhirnya kenalan sama kawan lumayan "gila". Topik obrolan ternyata nyambung, kami pun cepat akrab. Sampai kemudian berujung sebuah ajakan. "Kamu punya gitar, kan. Ayo ngamen besok," begitu katanya di suatu malam, seusai kami nongkrong di warung angkringan. 

Darah muda saya sedang membara waktu itu. Hawa reformasi masih terasa, mungkin itu sebab ajakannya langsung saya sanggupi. Yang penting, tidak sendirian ngamennya. Saya berharap dia yang akan di depan, vokalis utama merangkap gitaris. Sedangkan saya cukup gitaris kedua, tepatnya mbantuin nge-ritem. 

Saya juga berharap gitarnya lebih bagus dari gitar saya, dan tentu juga suaranya. Tapi blaiiiiik, kedua-duanya malah lebih buruk. Gitarnya "remuk", susah disetem. Bunyinya pun standar, kalau tidak mau dibilang ya fales. Tapii.. hal terburuk bukan itu. Melainkan saya juga mesti ikut nyanyi. "Mosok aku sing nyonthong (ngomong/nyanyi) terus berjam-jam," begitu katanya. 

Kecut.. But that's Oke, tantangan diterima walau tetap cemas karena akan jadi pengalaman pertama mbarang (ngamen-Bahasa Jawa) yang enggak hore. Terasa bakal dapat pengalaman horor. Tapi pantang mundur. Hitung-hitung pengalaman pertama nyanyi yang bisa berujung rupiah. 

Pokoknya siap dikritik, karena suara saya jelas tidak "suara-genic". Apalagi skil bergitar yang masih minimalis. Belum ditambah, perkara ngomong di depan umum yang saat itu ya bisa dan belum pede. Saya takut diketawain. Tapi tak mungkin balik kanan. 

Dan hari "bersejarah" berbalut "kutukan" itu tiba. Sebelum berangkat, dia membeberkan strateginya ngamen. Nyanyi bergantian, dan rutenya dari sini ke sana. But, wait..... lho kok bawa toples yang terisi separuh dengan uang logam??? 

"Kamu dan aku ngamennya gini. Kita malah sarankan orang untuk mengambil duit ini, tapi jangan banyak-banyak. Yang penting orang itu mau dengerin kita," kata dia. 

Perkara apakah orang itu akan ambil duit, atau malah nambahin duit ke toples, biarkan jadi misteri. Cara gitu, lanjutnya, malah memacu adrenalin. "Ini cara ngamen model opo?" sempat saya protes. 

Dia cuma ketawa. Akhirnya malam itu beneran kejadian, kami menyusur jalanan. Singgah dari lesehan satu ke lesehan lain, dan ...menjadi bahan ketawaan. Ada beberapa yang langsung menggeleng dan bilang "sanes'e", artinya "lainnya". Artinya lagi, silakan ngamen di tempat lain. Aseeem, iiik. 

Waktu sampai di pasangan yang lagi pacaran, seketika si cowok bertindak seperti melindungi yayangnya. Saya jelas tersinggung. Tapi ketika menoleh sebelah, ke teman saya itu, saya jadi punya cukup gambaran, si cowok tadi ya tidak salah. 

Dengan penampilan lumayan "ambyar", kaos dan jins bolong-bolong, plus sebatang rokok diselipkan di daun telinga, kawan saya ini sah terlihat "kurang higienis" dan barangkali cukup menakutkan. Belum lagi suaranya yang kurang (baca: tidak) merdu. Belum lagi pedenya yang enggak ketulungan.

Tapiii, "Neraka" sebenarnya adalah ketika saya giliran nyanyi. Berbekal kesepakatan bahwa opsi lagu harus lagu yang kami berdua tahu, maka yang dipilih hanya lagu-lagu simpel yang berkunci gitar seputar C, D, G dan F. Diselingi AM, DM, Em. Begitulah. 

Sepanjang "pertunjukan", serasa semua orang menahan tawa. Sudah tak menghitung berapa puluh penonton yang geleng-geleng dan hanya melongo takjub menyaksikan (kualitas) perform kami. Kaos yang melapis tubuh kurus ceking ini sudah basah. Saking derasnya keringat. 

Yang saya nyanyikan antara lain lagunya Koes Plus dan Gombloh. Mungkin kalau ada personel Koes Plus dan Gombloh (almarhum) melihat, pasti bakalan nangis tersedu-sedu. Celakanya lagi, begitu nyanyi, saya nyaris lupa apa chord-nya. "Santai saja, salah ya tinggal ganti chord," kata teman saya itu. Enteng bener ngomongnya. 
 
Untunglah, masih muda. Darah muda banyak menolong. "Ketebalan" muka yang sudah diseting "setembok-temboknya" lumayan jadi bekal agar kuat ngamen (sembari menahan malu). Bagaimana teman saya? Ohoho, wajahnya sudah jadi tembok.

Akhirnya setelah keliling dari petang sampai tengah malam, acara ngamen selesai. Lega. Segera menuju angkringan untuk mengaso. Bergelas teh hangat saya tenggak, sembari komat-kamit "Slamet, slamet, slamet...Syukur nggak ada yang ngantemi (mukulin) saya". 

Sementara kawan saya cengengesan menunjukkan toplesnya. Yang ajaibnya malah terlihat lebih penuh dari sebelumnya. Secara hitung-hitungan rupiah, sebenarnya hasil ngamen sudah habis untuk beli makan malam dan udud.. 

Oke cerita ngamen tadi sudah berakhir. Besok-besoknya masih merasa "trauma" sih. Bukan ngamen cara gini yang saya pikirkan bakal menjadi pengalaman ngamen (serius) pertama. Tapi karena sudah telanjur, kebacut, ya sudah. 

Tapi saya tetap berharap identitas saya tidak ketahuan. Syukur juga enggak ketemu teman pas ngamen. Bisa rontok pede saya kalau itu terjadi. Ketauan ngamen sih gak masalah, malah bisa bangga. Tapi ketahuan ngamen dengan modal suara cempreng, dengan tandem yang kondisinya "sebelas-dua belas" sama saya, ditambah cara ngamen yang tak lazim, itu barulah potensi masalah. 

Sampai suatu ketika, selang sekiaan minggu, saya "kepaksa" mampir ke salah satu warung lesehan yang kami datangi ngamen. Ditraktir temen, judulnya. Blaiiik, yang jual masih mengingat saya. 

Dan sapaannya kira-kira gini, "Eh mas yang kapan hari mbarang ya. Mana temennya sampeyan? Lagi off ya hari ini? Oya ngamennya kemaren itu, wangun lho,". Dan saya cuma bisa bales nyengir garing. 

Wangun (Bahasa Jawa) itu berarti "bagus". Tapi di satu sisi, wangun juga bisa bermakna sindiran halus yang berarti kebalikannya dari "bagus. Dengan kata lain, artinya : jelek, atau minimal : wagu.  

Alhasil, acara makan malam, malah menjadi siksaan kedua. Rasanya pengen segera lari ke luar warung dan menuju kantor kelurahan untuk ganti KTP. Secara mental, waktu itu, di umur yang belum genap 20 tahun, saya enggak siap. Selama beberapa waktu setelah itu, pengalaman ngamen tadi serasa aib. 

Mungkin, mungkin kalau saya sekarang punya mesin waktu, bakal kembali di malam di mana saya ngamen. Mau mencari saya sendiri ....lalu saya jotosi dan pisuhi. "Enggak ada aktivitas lainnya po yaa, sampai harus ngamen cara gitu," paling gitu makian saya. 

Tapi kayaknya, saya akan bilang terima kasih. Makasih pernah melakukan hal konyol dan "tidak penting" itu. Makasih pernah diketawain banyak orang, sampai dengkul ini gemetar. Makasih sudah pernah diajak gila. 

Minimal saya belajar bagaimana satu lagi definisi dan praktik lapangan tentang "militan". Bukan tentang melakukan hal terbaik seturut kebisaan atau keterampilan. Tapi memilih berani, sebisa mungkin, sepede mungkin (meski cukup ketakutan), menampilkan apa yang kita tidak cukup bisa atau menguasai. Yang penting nampil dulu, pasang badan. Urusan lain, termasuk dampaknya, ya pikir belakangan.



Dan sekian tahun berselang, saya masih mengukur kadar kemilitanan saya.... (catatan malam hari, sembari bergitar. Yap gitar yang saya pakai ngamen 22 tahun silam itu).