Passion bermusik memang cukup menyita perhatian, energi, duit, juga waktu.
Menunggu direalisasikan, sepertinya itu yang terjadi. Sekian lama sambalbawang merenung, sampai ketika permenungan tanpa henti tadi lantas seperti ketemu jawaban ketika ajakan "ngeband" disambut dua teman. Akhirnya, jadilah “LILAC”, band
berformat duo, dengan personel Paulina dan Arnold.
LILAC dibentuk akhir Desember 2019 lalu.
Sebenarnya, mereka sudah bareng naik panggung kala membawakan lagu “Mama”, bertepatan
dengan perayaan Hari Ibu 22 Desember 2019, di Son’s CoffeeBalikpapan.Lagu “Mama” adalah single pertama
dari Paulina. Saat itu Arnold membantu mengiringi musik, pakai gitar
akustik. Lagu “Mama” yang temponya agak lambat, dibikin lebih cepat.
Sambalbawang semangat mendorong mereka bikin band. Segera
meluncur single perdana bertitel “Dewi” 17 Januari lalu yang direkam di studio
Algaris. Paulina Jaru yang jadi vokalis,
sedangkan Arnold Yansen mengurusi musiknya. Makasih-makasih ya kawan-kawan di Algaris
Production Balikpapan yang juga sudah bantuin.
Dan wuzzz.. gerak cepat. Hanya berselang dua hari, Lilac
sudah naik pentas, di Disway Café, Borneo Paradiso. Makasih juga untuk mas Doni, yang sudah ngasih
kesempatan perdana.Lilac dibantu Ary
dan Wandi sebagai additional player untuk gitar dan kajon.
Event selanjutnya, 24 Januari 2020, Lilac mengisi acara BPN
Noodle Fest di Plaza Balikpapan. Lilac membuka performance Keisya Indonesian Idol.
Kali ini additional player, nambah satu lagi, yakni Faisal, di bass. Di dua
event itu, Lilac juga membawakan “Mama” yang diaransemen cepat. “Mama” versi cepat akhirnya “diakuisisi” menjadi lagu Lilac.
Lilac kembali merilis lagu baru, bertitel “Saat”, 12
Februari.Malam harinya, Lilac live
music di The Gade Café (kafe pegadaian) Jalan Sudirman. Lagu “Saat” langsung
diperdengarkan. Oya makasih juga untuk Genetic, homeband di The Gade Café yang mau
berbagi dengan Lilac di panggung.
Selepas dari the Gade, Lilac kembali ke Disway Café 21
Februari. Formatnya tetap plus tiga additional player tadi. Selang 8 hari, atau
29 Februari besok (malam), Lilac akan tampil di Plaza Balikpapan.Kali ini eventnya bertajuk Andalas Customer
Day.
Pop Progresif dipilih sebagai genre music Lilac. Meski begitu, Lilac membebaskan masyarakat
menilai genre musik Lilac. Paulina dan Arnold menyebut, warna musik Lilac
sedikit banyak dipengaruhi sejumlah band atau penyanyi. Antara lain Wong,
Potret, Es Nanas, Evo, Minoru, Andra & The Backbone, Kotak, Geisha, Peterpan,
hingga Celine Dion. Wuih terasa banget musik era 90an, awal 2000-an, dan medio
2000-an di musik Lilac.
Oyaa hampir kelupaan.Nama “Lilac” dipilih karena dianggap pas menggambarkan semangat dan
“warna” lagu-lagu grup musik ini. Lilac dikenal sebagai salah satu bunga yang
indah, harum, juga sarat makna. Antara lain melambangkan kasih sayang, cinta,
optimistis, kemurnian, kebijaksanaan, karakter hangat, hingga mengaitkannya
dengan mistis—lantaran aroma harumnya.
Lilac adalah bunga yang disukai semua orang yang menyukai
bunga. Demikian juga grup musik Lilac muncul untuk menghadirkan musik yang
berbeda, namun tetap mudah dinikmati. Oks, gitu dulu, deh, garis besar tentang band Lilac. Disambung
ke artikel selanjutnya ya untuk cerita yang belum tertuang di sini.
But wait,
peran sambalbawang di Lilac, sebelah mana tuh. Oh, sambalbawang cukup di urusan nulis
lagu ala-ala saja, deh. Sembari jadi “tim hore” Lilac di awal perjalanan mereka. Urusan musik, biarlah mereka menjalankan sendiri.Selain juga enggak paham soal musik, juga
karena sambalbawang sepertinya enggak akan kembali “kalungan gitar”. Biarlah musik
menjadi passion mereka dan ekspresi kegembiraan mereka, untuk diluapkan di
Lilac.
Sambalbawang yang bukan terbilang sebagai musisi, hanya menemani langkah mereka. Menuntaskan passion bermusik yang belum tuntas di masa lalu. Good luck to Lilac. Akan ada banyak
tantangan, cerita, peluang, kendala, hal-hal yang unpredictable, dan lain-lain di depan.
Cerita kali ini adalah kelanjutan setelah lagu “Mama”
by Paulina dirilis. Kesempatan live perform pertama datang, di sebuah kafe
deket rumah, 22 Desember 2019 lalu. Bertepatan dengan Hari Ibu, memang pas
banget momentumnya.
Live accoustic Paulina & Friends, begitu judul
acaranya. Sempat bingung juga mau ngasih titel apa sebelum akhirnya memilih ”friends”.
Son’s Coffe di kompleks Wika, yang juga salah satu lokasi syuting klip “Mama”,
dipilih sebagai tempat unjuk gigi pertama.
Setelah klip lagu di youtube diunggah per 1 Desember
2019, sambalbawang dan Paulina sudah mulai bergerilya mencari gitaris atau
pemain kibor yang cocok. Sebagai persiapan juga jika nanti mengisi acara-acara
live music.
Obrolan dengan pihak kafe langsung mengisyaratkan
lampu hijau. Kesempatan perform, terbuka, dan tentu saja segera disambar. Seiring
itu, Paulina membawa kawannya yang juga gitaris salah satu band di Balikpapan, yakni Arnold. Pas sudah komposisinya.
Beberapa
lagu ditampilkan dengan iringan satu gitar.
Lagu “Mama” dinyanyikan dua kali, di awal dan penghujung live music
untuk menyajikan
lagu dalam dua format. Tempo lambat dan tempo cepat, sekaligus juga
untuk membandingkan. Ini dia perform mereka, membawakan lagu Mama yang
tempo agak cepat. Jangan kaget, versi akustiknya lumayan beda jauh sama
versi asli klip "Mama", hehe. Mohon maaf juga jika suara kurang mantep,
maklum merekamnya hanya pakai ponsel.
Pau—panggilan Paulina—menyebut “Mama” sebagai salah
satu lagu terbaik yang bercerita tentang ibu. Liriknya pendek, simpel,
sederhana. Namun ia merasa maknanya dalam. “Saya berharap lagu ini bisa
diterima, dan menambah kekuatan rasa cinta antara anak dan ibunya,” begitu kata
Paulina.
Sambalbawang juga berharap lagu Mama yang ditulisnya
ini bisa diterima masyarakat. Melengkapi sekian banyak lagu bertopik ibu yang
sudah dikenal publik, dan juga menambah satu lagi lagu untuk Kota Balikpapan.
Ibu adalah segalanya. Sambalbawang yakin, kita tak
akan tahu seberapa penting dan tak tergantikannya peran serta kehadiran ibu. Juga
sampai seberapa rindu kita merindukannya, sebelum kita benar-benar ditinggalkan.
Owner Son’s Coffee,Pak Gatoet Saputra merepons bagus minat anak-anak muda mengembangkan
talenta bermusiknya. Kafe yang berlokasi di kompleks Wika ini memang mendukung
acara-acara musik. Usai acara, Pak Gatoet juga gembira bernyanyi lagu-lagu
jadul sembari memainkan kibor.
Balik ke lagu “Mama” yang dibawakan dengan tempo
rada cepat, ternyata ada maksudnya. Ini berkaitan dengan proyek selanjutnya.
Semacam “jembatan” pengantar ke proyek lagu setelah ini, tetap dengan Pau
sebagai vokalis.
Ah, semakin penasaran saja, kan. Tunggu sebentar
lagi kejutannya. Don’t miss it.
Akhirnya sambalbawang memberanikan
diri merambah ke ranah musik. Berbalut nekat dan percaya diri. Belum berani
ngomong soal skil, sih, maklum masih berstatus “newbi”, pakai banget lagi.
Memang beneran masuk dapur
rekaman, meski tak sebagai frontman alias bukan jadi tukang vokalis. Bukan juga sebagai musisi. Cuma sebatas jadi penulis lagu. Menuju studio rekaman pun hanya berbekal lagu, gambaran lagunya mau gimana, ditambah sapa, senyum, dan banyak bertanya dari ujung ke ujung. Begitulah, dan yang penting akhirnyajreeng... lahirlah single bertitel “Mama” yang dinyanyikan Paulina, teman sambalbawang di Balikpapan. Klipnya udah dirilis per 1 Desember 2019 lalu, lho, di youtube.
Mengapa akhirnya rekaman, memang terpantik kondisi tak
sengaja meski ada juga sih, unsur sengajanya. Beranjak dari pengalaman yang menyesakkan, yakni
kehilangan mama, ibu tersayang, awal Agustus 2019 lalu, sambalbawang ingin memberikan
hadiah untuknya. Sebuah lagu yang juga menyematkan foto sosok istimewa ini dalam klipnya. Oh ya, sebelum lanjut baca tulisan, ini lagunya di youtube. Langsung di klik, aja. Bisa banget sembari ikut nyanyi karena ada liriknya.
Keinginan 'tuk bikin lagu sekaligus bikin klipnya, sebetulnya sudah jadi bahan obrolan
sambalbawang bersama Paulina selama beberapa bulan. “Mama” sebenarnya malah bukan lagu utama
yang ingin direkam lebih dulu.
Namun seiring ada momentum, dan juga (waktu itu) sebentar lagi Hari Ibu 22 Desember 2019, kayaknya bakalan apik dan pas jika lagu
Mama muncul duluan. Oke. Maka disusunlah rencana, dan berangkatlah menuju Algaris, salah satu studio
rekaman di Kota Balikpapan tercinta ini. Sekaligus juga ngobrol untuk bikin klipnya.
Urusan musik serahkan ke Algaris, agar cepat digarap, segera kelar, dan juga karena lagu diputuskan hanya pakai iringan kibor. Rencana awal sih, pakai gitar bolong, hehe. Sudah jua sambalbawang bersiap dengan gitar dan sudah menumpuk pedenya. Cuma, akhirnya batal, karena merasa kok agak-agak kurang cocok jika gitar ikut mengisi musik. Oke, akhirnya pakai kibor doang. Enggak punya pengalaman berurusan sama rekaman, sambalbawang ya main intuisi dan tanya sana-sini. Soal "jalan cerita" dan "larinya" lagu inginnya bagaimana, langsung diskusi sama anak-anak Algaris. Musik akhirnya selesai, dan selanjutnya adalah take vokal. Ternyata, ini bagian terakhir dalam proses rekaman. Lumayan menguras tenaga dan waktu, karena butuh berjam-jam, bahkan sampai lewat tengah malam baru kelar. Besoknya badan langsung meriang. Setelah take vokal selesai, urusan berpindah ke penggarapan klip. Bikin klip lagu ternyata yang paling lama prosesnya.
Apalagi enggak punya pengalaman bikin klip. Kendala mulai muncul. Materi klip pertama, dirasa enggak cocok. Setelah ganti konsep, akhirnya sambalbawang dan Pau—panggilan Paulina—sepakat mengangkat
topik kawan-kawan yang mengekspresikan diri bersama ibu atau mendiang ibu mereka.
Langkah selanjutnya, segera mengontak teman-teman. Hampir 30 orang yang dikabari dan diajak berpartisipasi. Dari yang remaja,
dewasa, bapak-ibu muda, pelajar, mahasiswa, sampai yang sudah 50-an tahun. Ada yang bawa foto dan mau ke
studio untuk diambil klipnya, tapi ada juga yang memilih mengirim foto seperti kawan di Bandung, Magelang, dan Bengkulu.
Ada juga yang bawa balita dan bayinya. Semua kalangan mama, masuk,
jadinya. Gado-gado-lah, komposisinya, tapi yang penting adalah semangatnya. Mereka juga punya cerita
masing-masing terkait kedekatan dengan sosok ibu. Ah. Klip "Mama" akan jadi dokumentasi unik pula bagi mereka.
Syuting memilih tiga lokasi, yakni studio Algaris, Mangrove Center Balikpapan, dan Son’s Coffee Balikpapan. Asyiknya lagi, di hari syuting, teman baik asal Gresik, sedang piknik ke Balikpapan. Langsung sambalbawang
angkut ke lokasi syuting. Ini dia foto bareng-bareng di sela-sela syuting di kawasan bakau Mangrove Center.
Ternyata syuting untuk klip, enggak mudah, dan lumayan lama. Baru tahu juga kalau saat syuting, memakai opsi lagu dipercepat--kayak suara chipmunk--sehingga si talent--vokalis--mesti bekerja keras menyesuaikan. Untung deh, sambalbawang bukan yang jadi vokalis. Slamet, slamet.
Setelah lagu selesai, segera didaftarkan ke platform Netrilis, dan akhirnya tayang (antara lain) di Spotify, Oktober lalu. Selang dua pekan, atau 1 Desember 2019, barulah klip diunggah ke yutub. Hehe, jadi lumayan
paham bagaimana kronologis mendaftarkan lagu agar setidaknya punya “hak cipta” penanda orisinalitas lagu.
Sambalbawang tak lupa memasukkan lagu Mama ke Smartfm, salah satu radio di Balikpapan, untuk diputar. Dengerin lagu sendiri, di radio, itu sesuatu bingits. Setidaknya itu diamini mereka yang pernah melewati masa muda di zaman jaya radio. Meski cara menikmatinya sekarang agak beda karena enggak pakai radio, tapi streaming.
Sampai pertengahan Januari 2020 ini, klip "Mama" sudah membukukan sekitar 1.600 views. Lumayan (banget) untuk sebuah proyek
awal. Senengnya. Eh.... sebentar... tadi ngomong apa? Proyek awal? Hmm... apa maksudnya? Ehehe, iya, bleh… karena ada lagi proyek lagu lainnya. Tunggu tanggal mainnya yaks. Yang sabar menanti, dan selalu pantau kanan-kiri biar enggak ketinggalan info.
Orait, kita kembali ke lagu. Mama sebenarnya bercikal
bakal lagu lawas yang sambalbawang tulis tahun 2000 lalu. Buset dah, lamanya. Itu mah jaman sambalbawang masih kuliah dan pas kurus-kurusnya. Hehe. Jadi
ceritanya gini. Sambalbawang dulu emang suka bikin lagu, salah satunya berjudul “Dikau”.
Bukti fisik—print lirik lagu—bahkan masih sambalbawang simpan, lho.
Tapi entah kenapa, selalu enggak puas
sama lirik dan beberapa nada di lagu Dikau yang (sepertinya) bergenre pop
menuju rock dan bernuansa love-love itu. Sempat ganti ke topik lingkungan, masih
juga enggak nemu nada yang pas. Bingung juga nih, lagu kayak ngajak "berantem", apa maunya coba?
Akhirnya lagu perlahan-lahan mengendap sampai
lumutan, menguap, dan nyaris terlupa. Tapi untunglah sambalbawang masih sesekali menyanyikan nadanya sembari gitaran, sehingga tidak lupa-lupa amat. Namanya juga lagu sendiri, kan, walau belum jadi tetep juga di genjrang-genjreng kalau keinget. Begitulah. Hingga momentum kehilangan ibu, sepertinya saat yang tepat untuk "memanggil" lagu yang separuh jadi itu. PR pertama adalah lirik. Sambalbawang coba mengubah liriknya ke topik tentang ibu. Eh ternyata langsung dapet lirik dan lagu segera jadi dalam beberapa hari. Tempo lagu lantas disesuaikan, sehingga jadi lebih
lambat dari tempo lagu awal (Dikau). Jadilah lagu "Mama" yang simpel dengan lirik yang sederhana. Sebagian lirik lagu adalah penggalan doa sambalbawang untuk ibu.
Capek, puas, aneh, asyik, dan amazing. Begitu gambaran
gimana rasanya setelah merampungkan lagu. Tak hanya jadi lagu, sambalbawang juga dapat ilmu, wawasan, dan pengalaman-pengalaman baru. Orang biasa pun bisa punya lagu. Era sekarang benar-benar memudahkan orang awam kayak
sambalbawang yang bukan musisi ini, untuk bersentuhan dengan musik, juga hal terkait lain, semisal klip lagu. Mereka yang punya hobi menyanyi, bisa menyanyi, dan punya mimpi, semakin punya akses mudah.
Bagi Paulina, yang punya warna suara sopran ini, sang ibu--di Flores--adalah sosok idolanya. Dan tentang masuk dapur rekaman, juga menjadi pengalaman pertama. Pau, begitu dia sering dipanggil, sudah beberapa kali ikut audisi menyanyi sehingga urusan menyanyi memang bukan hal baru.
Merampungkan rekaman, beberapa waktu lalu masih jauh dari bayangan. Mendadak jadi mengingat zaman dulu. Gimana ya 20 tahun lalu, jika sambalbawang beneran
masuk dapur rekaman. Kala itu, sih ya punya band. Setidaknya pernah di tiga band, yang semuanya belum pernah melangkah lebih jauh. Lha wong cuma band "ceria" beranggotakan tetangga, dan teman main. Dulu lumayan sering main di studio musik kecil, dekat rumah, yang begitu jendela
dibuka, bisa lihat sawah dan bapak ibu tani.
Cerita-cerita soal studio musik zaman dulu,
dan apa proyek sesudah lagu Mama, kita simpan untuk bahan tulisan artikel-artikel berikut.Kebanyakan sih, kalau dituang di tulisan satu ini, karena jadi
panjang bukan kepalang, dan mungkin bakalan capek bacanya. Tenang, masih banyak artikel topik terkait musik segera menyusul. Termasuk event live musik 22 Desember lalu, dan cerita-cerita di baliknya, juga ada apa sesudahnya. Pokoknya seru.
Balik lagi ke topik lagu. "Mama" juga
sambalbalbawang dedikasikan untuk semua ibu di muka bumi yang berjuang demi
anak-anaknya. Ibu adalah harta bagi anak. Berbahagialah mereka yang ibunya masih hidup. Masih bisa ditemui, dipeluk, dan diantar ke mana-mana. Sayangilah ibu kita masing-masing, dengan segenap hati. Jangan pernah bikin ibu kita menangis
sedih, kecewa, dan terluka.
Sebelum menutup tulisan di blog, ini lirik lagu Mama :
“Mama, mawar terindah. Cantik mewangi,
mewarnai hari-hari. Mama, rembulan sendu. Slalu memberi, tak mengharap tuk
diberi. Mama, ingatkan aku. Bila salah melangkah, dan bila salah bertutur.
Mama, peluk tubuhku. Kala batin terempas, tak tahu harus bagaimana. Kurindu
belaimu. Redakan sedihku, tangis, luka, dan marahku. Kurindu senyummu.
Tenangkan resahku, kecewa, sakit hatiku. Mama, ajari aku selembut hatimu,
seteduh tatap matamu. Mama, berikan doamu. Restu dan maafmu. Ku kan baik-baik
saja”.
Link Spotify Lagu MAMA: https://open.spotify.com/track/6mFoafcffNxOInrxqi8DMM?si=hkr0VyhMSGChaE70RvI4eg
Love you mom… ibuku, mamaku tersayang,
Anastasia Yuwiyati..
Mudah menuliskan ini : Pancasila, Undang-undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka
Tunggal Ika. Bagaimana menjalaninya? Jujur saja, semakin ke sini, semakin
banyak orang kurang peduli.
Majelis Permusyawaran Rakyat (MPR) menyematkan keempatnya
sebagai “Empat Pilar MPR”. Menggetarkan. Sejenak terbayang lembaga Negara yang
anggotanya 711 orang, gabungan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI ditambah
anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) ini, pasti militan mengusung empat pilar
tersebut.
Jadi, ketika MPR menghelat gathering bareng netizen
Balikpapan, sepertinya bakal menarik. Maka berangkatlah saya ke acara yang
diadakan di Quartz Office Tower Aston Balikpapan, Sabtu 7 Desember 2019 lalu.
Gathering Netizen MPR adalah ajang ngobrol bareng untuk
memberi masukan dalam menyebarluaskan informasi lewat medsos tentang
kelembagaan MPR. Tentulah itu juga tentang menyuarakan empat pilar. Secara
garis besar, MPR mengajak netizen menyebarkan konten positif di medsos.
“Empat Pilar ini, ibarat topik yang amat seksi sebagai bahan
diskusi. Seperti gadis manis pujaan hati yang berjalan lewat di depan mata. Mau
diajak omong, kok masih malu. Enggak dibahas, dan dia akan berlalu,” begitu kira-kira
isi benak saya.
Oke, kembali ke Empat Pilar. Masih hangat di ingatan-dan
sebagian masih terjadi-banyak peristiwa yang benar-benar “menampar” empat pilar
itu. Yuk direntang beberapa kejadian: Pilkada Jakarta 2017, Pilpres 2019, perusakan
tempat ibadah, pembubaran kegiatan budaya, hingga sejumlah insiden berbau
intoleransi dan radikal yang sepertinya diberi “angin”. Hoax dan fitnah ibarat
menjadi “menu” yang tak henti berseliweran. Belum poster di sana-sini yang
kentara menyakiti keyakinan orang.
Satu kata untuk menggambarkan: ngeri. Banyak pihak telah
menghadang kengerian itu, baik di jagad nyata maupun maya. Termasuk MPR. Pertanyaan yang kemudian terlintas di benak
adalah, seberapa militankah MPR, termasuk anggotanya, merealisasikan Empat Pilar itu?
Rasa-rasanya saya belum pernah, atau mungkin jarang melihat,
mendengar atau membaca MPR—secara kelembagaan dan perorangan—ikut berada di
jajaran terdepan melantangkan Empat Pilar dalam statemen terbuka saat sekian
peristiwa di atas terjadi.
Semoga sih, saya salah. Tapi jujur saja, masyarakat, termasuk saya masih
agak susah percaya. Sebab, kenyataan, sejumlah anggota DPR RI—yang juga adalah anggota
MPR-- cukup sering jadi bahan pembicaraan netizen gegara sikap dan postingannya
tidak mencerminkan Empat Pilar.
Menurut saya, yang tak kenal lelah alias militan meneriakkan Empat Pilar di ranah maya dan nyata, malah bukan anggota MPR. Mereka ini aktif dan kreatif mengunggah konten di medsos semacam fesbuk, instagram, twitter,
hingga youtube.
Terus pertanyaannya, ke mana, ya, MPR? Saya sudah bertanya ke banyak kawan
yang juga pegiat medsos soal Empat Pilar
itu. Khususnya lagi, apakah cukup familiar melihat MPR menyuarakan atau belum. Dan jawabannya adalah mata-mata yang malah menerawang. Sepertinya belum, kata mereka. Mencoba mengingat-ingat lagi, tapi tetap
jua enggak ketemu. Meski di sisi lain mereka cukup yakin jika MPR pasti sudah sering menggaungkan keempat pilar tersebut.
Tanpa mengurangi respek dan hormat, sebagai warga Negara,
saya lantas penasaran juga apakah Empat Pilar itu sudah dilakukan secara apik di
lingkup internal? Bagaimana pengawasan internal MPR? Apakah anggotanya sudah
cukup militan menyuarakan empat pilar? Apakah ada pengawasan ke para anggota
MPR, terkait postingan mereka di medsos dan pergerakannya di alam nyata?
Saya akhirnya punya kesempatan bertanya, waktu
gathering akhir pekan lalu itu. Kepala
Biro Humas MPR Siti Fauziah yang menjawab.
“Seperti kata pepatah, dalam hati tidak bisa diukur. MPR
berusaha keras menanamkan nilai-nilai luhur. Apakah semua anggota MPR tidak ada
yang nyeleneh, kita (MPR) juga tidak bisa menjamin. Kita tetap memantau
kegiatan (anggota) dan konten-kontennya (medsos), namun tidak semua kita buka
kontennya. Tapi (pertanyaan) ini masukan yang baik,” kata Siti.
Sebuah jawaban yang belum memuaskan. Meski di sisi lain Siti menekankan bahwa MPR sudah
berkomitpen penuh. MPR punya banyak aktivitas, khususnya di ranah dunia nyata,
untuk menyosialisasikan keempat pilar tersebut. Antara lain lomba cerdas cermat, acara
seni budaya, hingga acara ngobrol bareng
netizen seperti di Balikpapan. Acara gathering bareng netizen di daerah-daerah ini
misalnya sudah diawali tahun 2015.
MPR, menurut Siti, ingin warganet juga menyampaikan Empat Pilar tersebut di jagad maya. Meski hanya satu kata dalam postingan, jika itu bisa
dilakukan tiap hari, sudah bagus. Para pegiat medsos termasuk bloger dan netizen punya peran penting.
Ketua Balikpapan Blogger Community Bambang Herlandi juga menekankan, masyarakat perlu melihat MPR mengawasi internal anggota MPR, dan apa postingan mereka di medsos. Sementara Kepala Bagian PDSI Sekretariat
Jenderal MPR Slamet berharap mendapat banyak masukan dari warganet.
Sebagian pegiat medsos, termasuk bloger, sudah menggaungkan
semangat Empat Pilar itu dengan istilah yang lebih banyak memakai “Pancasila
dan NKRI harga mati”. Sebagian juga aktif membagikan tautan berita yang
bernuansakan Pancasila dan NKRI harga mati itu. Bahkan “melayani” duel argumen.
Mereka-mereka ini yang ikut melecut semangat
Menjaga Pancasila, NKRI, UUD Negara Republik Indonesia, dan
Bhineka Tunggal Ika harus dilakukan di ranah maya dan nyata. Tidak cukup juga
di ranah maya. Jadi, sambalbawang pun terus menanti MPR untuk “militan” menggaungkan
empat pilar.
Kalau nanti-nanti ada lagi insiden intoleran dan radikal, atau
yang semacamnya, MPR juga pasti akan bersuara lantang, kan? Jangan juga hanya
di ranah maya. Jangan malu-malu atau diam-diam. MPR pasti akan terus menggaungkan kempat pilar itu, sama seperti saya.
Salah satu impian terbesar sambalbawang bersama dek bojo dalam mengusung brand “SAMANTHA PROJECT” adalah menggelar
fashion show tunggal. Akhirnya pecah telur, kesampaian juga, pertengahan November lalu.
Bukan acara “kaleng-kaleng”, tentu saja, event bertajuk “TATAG
LANANG” di Borneo Bay Park Plaza Balikpapan Sabtu 16 November itu. Samantha
Project, seperti biasa, mesti tampil unik. Ini gelaran fashion—fashion runway-yang beda dari yang pernah ada di kota ini, disiapkan lama dan matang, serta dieksekusi dengan tim yang solid.
Jadi, Mas Adi Prasetya—uhuk—alias sambalbawang ini, yang adalah “pemain
belakang layar” di Samantha Project, ikut menjadi bagian penting dalam rapat
berjilid-jilid yang terentang tiga bulan sebelum hari-H.
Bagi sambalbawang, yang jabatan resminya adalah "humas Samantha Project", fashion runway Tatag Lanang mesti beda dari
gelaran fashion show di Balikpapan—juga Kaltim. Tatag Lanang
mestinya bisa jadi tontonan fashion yang edukatif, fresh, mengasyikkan, dan memberi "warna" baru.
“Tatag” dalam Bahasa Jawa diartikan sebagai karakter pemberani,
tidak memiliki rasa was-was. Orang yang “tatag” akan selalu menuntaskan
pekerjaan, meski dengan segala keterbatasan dan kesulitan. “Lanang” dalam
Bahasa Jawa berarti laki-laki.
Menurut dek bojo, alias Mbak Samantha, Tatag Lanang ini seturut
karakter baju-baju desainnya. Artinya ada sebuah kebebasan terkontrol dalam
mengekspresikan gaya berpakaian tanpa melupakan bagaimana kita ketika
dilahirkan. Ini hak yang semestinya ada dalam memilih gaya busana bagi setiap
orang.
Dek bojo ingin menunjukkan bahwa ada semacam “benang merah”
karakter maskulin dan feminin yang itu dapat mewujud sekaligus dalam busana
“Tatag Lanang”. Ini sejatinya adalah tentang olah rasa fashion dan sudut
pandang.
Tidak mudah menggelar fashion show tunggal. “Tatag Lanang” tidak
hanya sebatas gelaran fashion, ataupun ajang ekspresi Samantha Project. Tapi
ini adalah kerja bareng, yang beranjak dari mimpi besar sekelompok anak muda,
untuk ikut memberi warna fashion di Balikpapan.
Ini adalah titik finish dari persiapan selama tiga bulan, yang
jauh sebelumnya sudah diawali dengan keinginan bersama. Namun Tatag Lanang juga
sekaligus awal dari perjalanan panjang menuju event-event berikutnya yang lebih
berwarna.
Ada 20 model yang memeragakan busana Tatag Lanang, seluruhnya
laki-laki. Busana-busana berbahan linen, katun, dan lurik tersebut terinspirasi
dari busana kimono dan yutaka Jepang. Dia memang banyak terinspirasi oleh
busana-busana asal negeri matahari terbit itu.
Tatag Lanang terselenggara atas kerja sama sejumlah pihak,
antara lain Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kota Balikpapan, serta Plaza
Balikpapan. Ucapan terima kasih juga ditujukan ke grup Angara, yang 20-an menit
mengiringi musik selama gelaran Tatag Lanang.
Tatag Lanang dirancang rapi. Ada sesi jumpa pers, kesiapan rilis
ke media, hingga aktivitas di medsos oleh tim. Spanduk raksasa pun dibentangkan
di lantai. Bertuliskan puluhan aksara Jawa yang melingkar, bertuliskan “Tatag
Lanang”.
Tamu-tamu undangan, terutama para pelanggan usaha jahit Samantha,
diminta untuk mengenakan baju di Tatag Lanang. Mereka pun berfoto ceria di
photo booth. Tamu dan masyarakat, dalam sesi manikin, bisa melihat dari dekat
koleksi yang ditampilkan 20 model cowok ini. Ketua Dekranasda Balikpapan Arita
Rizal Effendi yang ikut menyaksikan gelaran Tatag Lanang, terkesan.
Samantha Project, usaha dek bojo bersama sambalbawang ini adalah
brand fashion di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur yang berbasis usaha jahit
rumahan. Beranjak dari pemikiran ingin membuka usaha modiste--jahit busana
wanita, namun dengan aktivitas yang beragam. Menjadi penjahit kekinian, itulah
semangat awalnya.
Debut dimulai pertengahan tahun 2014. Di masa-masa awal itu, dek
bojo memakai nama Modiste Samantha. Nama “Samantha Project” dikenalkan saat
mengikuti pameran Pop Up Market di kompleks Mal Balikpapan Baru, Oktober 2015. Sebelum
Tatag Lanang digelar, Samantha telah 5 kali mengikuti trunk show.
Tatag Lanang berjalan sukses karena tim yang solid dan “lapar”
akan hal-hal baru di kota minyak ini. Okeh, bagaimana dengan tahun depan? Ada deh. Selalu ada hal baru
dilakukan Samantha Project. Ganbatte !!
Selamat Hari Bloger Nasional 2019 !! Tahun ini merupakan peringatan yang ke-12. Sepertinya enggak
ada pesta meriah di sana-sini. Tapi setidaknya di Balikpapan, Kalimantan Timur, hari spesial
itu, 27 Oktober, dirayakan sederhana di rooftop Hotel Platinum
Menegaskan juga eksistensi
Balikpapan Blogger Community, yang sama-sama menapak di usia ke-12 sebentar
lagi. Dan memanggil para anggota komunitas bloger Kota Minyak untuk
menyempatkan diri “kumpul hore”.
Hotel bintang empat di Jalan
Soekarno-Hatta ini jadi sponsor perayaan Hari Bloger Nasional di Balikpapan.
Kalau enggak dapat sponsor dan lokasi, bisa jadi perayaan hanya diisi saling
mengucapkan selamat di grup WhatsApp, tanpa kopi darat, hehe.
Bolehlah angkat topi untuk mas
Bambang Herlandi, Ketua Balikpapan Blogger Community yang berjibaku
mengupayakan seremonial tersebut. Selama hampir lima jam, kami, 20-an bloger
bisa sejenak haha-hihi di sisi teratas hotel itu.
Dua belas tahun silam, 27 Oktober
2007, Hari Bloger Nasional dicanangkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika
Muhammad Nuh. Kalau ditarik lagi ke belakang, media bloger pertama dikenalkan
blogger.com—yang lalu diakuisisi google tahun 2002.
Beberapa tahun kemudian, barulah di
Indonesia terjadi “demam” blog. Beberapa orang jadi terkenal gegara aktivitasnya
ngeblog, bahkan sampai mencetak buku yang laris di pasaran. Raditya Dika
misalnya, mengawali sukses dengan buku Kambing Jantan, yang merupakan kumpulan
tulisan di blog pribadinya.
Seingat sambalbawang, hingga tahun
2010, demam ngeblog terasa. Orang-orang mulai banyak ngeblog. Sebagian teman
sambalbawang mengawali tulisan blog dengan tulisan ringan semacam curhat
kecil-kecilan, cukilan cerpen, atau sebatas aktivitas rutinnya.
Seiring media sosial menyeruak, yang
diawali facebook, blog tergusur perlahan. Sekian aplikasi percakapan hingga
kehadian android –tahun 2013-- semakin meminggirkan era ngeblog ke pinggir.
Blog-blog teman mulai enggak update. Mayoritas dari mereka, nulisnya sekarang
jadi status di facebook.
Bahkan semakin ke sini, mereka semakin
pindah ke instagram hingga youtube. Blog dianggap sudah kuno karena tidak bisa
banyak memanjakan mata dan telinga. Kalah oleh instagram, you tube, bahkan
WhatsApp.
Sambalbawang mulai ngeblog tahun
2013 yang merupakan tahun transisi. Sudah agak telat, sebenarnya. Meski
sebenarnya aktivitas tulis-menulis bukan hal baru, mengingat pekerjaan
sambalbang sebagai jurnalis sejak tahun 2004. Juga aktivitas sebelumnya saat
masih SMA dan mahasiswa yang aktif menggarap bulletin.
Kembali ke seremonial sederhana Hari
Bloger Nasional. Bambang Herlandi menyebut sekarang memang era medsos. “Blog
kalah oleh medsos. Di medsos, kita enggak perlu mikir banyak dan tidak perlu
nulis banyak. Cuma tinggal posting, selesai,” katanya.
Balikpapan Blogger Community,
menurut dia, ramai hingga tahun ketiga. Bahkan ada yang ketemu jodohnya di
sana. Selepas tahun ketiga, hiruk-pikuk blog berkurang sampai sekarang.
“Setelah medsos marak, teman-teman mulai malas menulis. Bahkan lupa apa user
nama dan password untuk masuk ke blog,” ujarnya lagi.
Bambang memerkirakan ada 200-an
bloger di Balikpapan. Mereka dari berbagai “genre”. Sekitar 60 di antaranya
masuk bergabung ke grup. Tidak semua bloger aktif menulis. Juga tidak semua
rutin nongol atau hanya sekadar hadir untuk kopdar.
Sambalbawang baru masuk ke grup
komunitas blog di Balikpapan ini akhir 2018. Karena pekerjaan pribadi dan
kesibukan mengurus usaha jahit, praktis enggak nongol waktu kopdar. Hanya lumayan
rajin memantau percakapan di grup. Cukup seru.
Salah satu pertanyaan yang kadang
nyangkut di kepala adalah apakah sambalbawang bisa rajin nge-blog.Ini cukup
krusial mengingat kondisi mata yang dalam dua tahun belakangan sepertinya
mengalami penurunan performa.
Sambalbawang punya dua blog. Satu di
blog sambalbawangkangadi.blogspot.com yang merupakan blog pribadi, sementara
satunya lagi www.modistesamantha.com
yang adalah blog usaha jahit baju. Yang pertama sudah menapak tahun ketujuh dan
berisi 160-an artikel, satunya lagi sudah tahun keempat dan terisi 25 artikel.
Kawan-kawang di komunitas blog,
sebagian sudah lumayan bisa mendapat rezeki dari akvititasnya ngeblog. Dari
menang lomba atau kompetisi, hingga mendapat kesempatan me-review produk atau
lainnya.
Sambalbawang juga beberapa kali
mengenalkan dua blog itu di forum seperti seminar, lokakarya, hingga pelatihan
jurnalistik—hingga sebelum April 2019. Semangatnya adalah menumbuhkan minat
menulis.
Secara langsung maupun tidak
langsung, sambalbawang sudah merasakan manfaat ngeblog. Dan ini menarik, karena
ditunjang passion menulis. Meski sekarang blog semakin terimpit, tapi tetap ada
peluang, asalkan kita cukup kreatif.
Memanfaatkan medsos, adalah salah
satunya. Blog tidak ditinggal, tapi cakupan para bloger mestinya diperluas ke
medsos. Ini penting. Meski dalam hal itu, sambalbawang juga tidak bisa cukup
mahir “menyelam”. Tapi yang jelas akan terus “menyelam”.
Ada hal menarik diutarakan Mas Bambang
Herlandi. Seiring nanti Ibu Kota Negara (IKN) pindah Kaltim, tepatnya ke
Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, maka Balikpapan akan
menjadi tetangga IKN.
“Akan ada bloger-bloger yang datang
dari Jakarta, juga dari Jawa, kemari. Namun akan tetap ada peluang bagi bloger
di sini. Kami (bloger) akan membantu pemerintah,” kata Bambang sembari berharap
Pemkot Balikpapan berpikiran senada.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional
Daerah (Dekranasda) Kota Balikpapan Arita Rizal Effendi yang hadir di acara
itu, mengajak para bloger menggali segenap potensi Balikpapan. “Menggali
potensi ini, tidak harus yang baik-baik saja. Menggali juga apa kekurangan kota
ini, tapi juga berikan solusi. Saya pun berharap literasi juga banyak digali
oleh bloger,” ucap Arita.
Assistant Director of Sales Platinum
Balikpapan Resyika juga mengungkapkan kegembiraannya bertemu dan menjamu para
bloger. Sambalbawang sendiri juga baru pertama menginjakkan kaki ke rooftop di
lantai 11 hotel ini.
Setelah perayaan sederhana Hari Bloger
Nasional 2019, sambalbawang yang berstatus bloger “gado-gado” ini jadi makin sering membaca (ulang) blog
sendiri, juga blog lain. Dan merenung. Kira-kira hendak dibawa ke arah mana
(lagi) dua blog milik sendiri, sambalbawang.blogspot.com dan www.modistesamantha.com.
Mungkin, bisa jadi, sudah di “rel”
yang benar. Namun menuju Balikpapan sebagai calon tetangga IKN, memang harus
perlu kerja ekstra. Ada ungkapan bahwa untuk mencapai tujuan yang terpenting bukan
senjata tapi “the man behind the gun”.
Artinya adalah, yang terpenting dalam
hidup bukan sekadar alat dan fasilitas, melainkan orang yang bisa menjalankan
itu semua. Jadi, sambalbawang harus terus menjadi “the man behind the gun”,
sebisa dan sebaik mungkin.
Jadi, mari kita para bloger
lanjutkan ngeblog dan biasakan rutin posting artikel. Terserah apa genre
tulisan dan apa tujuan utamanya. Jika belum bisa menjadikan blog jadi duit,
maka jadikan blog sebagai ajang untuk melatih keterampilan menulis.
Bisa jadi, sambalbawang akan mulai mengurangi nongkrong di
kafe konvensional. Salah satu opsinya adalah di Hotel Platinum Balikpapan karena di sana ada juga tempat nongkrong yang menarik. Bisa di dalam hotel
maupun di rooftop-nya.
Kebetulan, bertepatan dengan perayaan Hari Bloger Nasional
2019 pada 27 Oktober lalu, di Balikpapan, lokasinya di hotel itu. Sebelumnya,
sambalbawangbawang ya cukup sering ke sana tapi hanya untuk urusan pekerjaan. Menginap
sih, belum.
Hotel bintang empat ini punya 200 kamar. Dilengkapi dengan
fasilitas spa, sauna, pusat kebugaran, restoran, hingga kolam renang. Tapi yang
paling menarik, menurut sambalbawang, bukan itu. Melainkan lokasi nongkrong, tempat
di mana masyarakat bisa datang.
Ada Gourmet Pastry & Delicatessen, Barium Bar &
Lounge, serta sensasi di Rooftop Terrace—kafe di bagian tertinggi hotel, yakni
di lantai 11. Keinginan untuk nongkrong langsung nancep begitu memasuki lobi
hotel dan melihat lapangnya ruangan.
Bar memang opsi pertama untuk duduk dan memesan minuman atau
makanan. Namun ada opsi lain yang menarik, yakni memilih duduk di lobi. Sedikit
saran, sepertinya menarik jika datang malam hari karena bisa mendapat diskon di
Gourmet.
Di Gourmet Pastry & Delicatessen yang sebelahan sama
bar, kita cukup bayar 50 persen jika datang membeli pukul 7 pm – 11 pm alias
jam 19.00-23.00. Ada macam-macam roti dan kue di sana, dari red velvet, cheese
cake, black forest, hingga donat.
Asyik jika dipadukan dengan teh maupun kopi. Boleh juga
menjajal aneka wine di Winery. Nongkrong juga terasa santai karena duduknya di
sofa empuk. Kalau bosan dengan nuansa kafe umum, pasti menyenangkan ke sini.
Jessie Aprilia, Sales Eksekutif Hotel Platinum Balikpapan
menyebut, fasilitas yang ada ini bisa menjadi opsi nongkrong masyarakat. “Bisa
ngopi, makan, minum, dengan santai. Khusus untuk Gourmet, ternyata juga
diminati masyarakat,” katanya.
Jika itu belum memuaskan, kita naik ke rooftop di lantai 11.
Inilah sisi tertinggi hotel di Jalan Soekarno-Hatta yang pernah jadi tempat
menginap Pakde Jokowi, presiden kita. Kalau mau mendapat suasana terbaik di
rooftop, datanglah untuk menyaksikan sunset.
Perayaan Hari Bloger Nasional 2019 yang dirayakan Balikpapan
Blogger Community 27 Oktober lalu dipusatkan di rooftop itu. Dengan angin berembus
sepoi-sepoi, sembari menikmati kudapan, melihat pemandangan kota, dan menunggu
matahari terbenam, itu sesuatu banget.
Menu di kafe rooftop ini banyak, dari western hingga masakan khas Asia. Semakin asyik tatkala menikmati live music. Melepas lelah di sore hari hingga menjelang malam, sepertinya pas jika lokasinya di sini.