Kamis, 29 September 2016

SUPRA GTR 150, SI BEBEK (RASA) SPORT

Bebek rasa sport. Itu kesimpulan tatkala melihat dan menjajal sejenak performa Supra GTR 150, varian anyar Honda yang dirilis awal tahun 2016 ini. Bagi yang berharap Supra GTR 150 ini masih bercita rasa Supra, siap-siap saja untuk terkejut. Supra yang ini tidak sekalem kakak-kakaknya.

Setelah sekian bulan penasaran, akhirnya sambalbawang berkesempatan juga melakukan test drive motor yang sempat menghebohkan para biker itu. Sore hari, sambalbawang meminjam sejenak motor itu dari diler Honda Harapan Utama, Balikpapan. Penasaran kan memang harus dituntaskan biar kelar. Ini dia tampangnya.




Jauh sebelumnya, Mei lalu, sambalbawang sudah berpapasan dengan GTR 150. Namun hanya sempat memelototi tampangnya, ketika serombongan bikers mampir Balikpapan, di sela-sela turing antarpulau. Sempat ngobrol dengan beberapa biker, katanya GTR 150 sip untuk turing.

Jadi, mari kita bahas sedikit gimana makhluk ini. Diawali, tentu saja dari tampang. Dimensinya cukup bongsor, dengan lekukan-lekukan sudut tajam. Mengingatkan sejenak dengan sosok bebek sport yang dibesut pabrikan lain. Namun bodi GTR 150 lebih “menjulang” dan seimbang.

Beranjak ke tampang depan, desain lampunya sepintas mengajak memori bernostalgia mengingat si legendaris Supra X 125 yang tak lekang dimakan usia. Tapi, bedanya ya tetap jauh sih, karena lampu depan GTR 150 ini sudah menganut dual LED, lampu jauh dan dekatnya terpisah.

Menuju ke bahan material, plastik bodi penutup tampang dan bagian tebeng, meski tidak terlalu tebal, tapi cukup “serius” dan rapat, dibanding kawanan bebek lain. Menandakan bebek sport ini tidak akan banyak berisik “mengepakkan sayap” kala bergetar mesinnya.

Jika dipantengin dari samping dan belakang, tampilan GTR 150 termasuk kalem jika parameternya adalah sport murni. Namun tampaknya inilah satu daya tarik, agar kaum hawa-yang ingin tampil sedikit macho-pun melirik. Ibarat berotot, boleh, tapi nggak perlu harus seperti binagarawan. Kan? Aha.

Kembali ke topik utama. Oh ya, satu yang paling mengesankan adalah desain knalpot. Cukup slim, kokoh, namun sporty dan good looking. Dentuman suaranya pun, tidak malu-maluin, tapi juga tidak bikin sebel pengendara sebelah. Tidak juga bikin pak RT terpaksa keluar rumah sambil bawa pentungan, kala ini motor lewat gang kampung.

Dengan moncong mendongak ke belakang lumayan tinggi, GTR 150 akan aman dan baik-baik saja jika dipaksa melewati genangan air hingga 40 cm. Inilah bebek-dan mungkin juga bebek sport- yang secara teori paling aman menerabas banjir. Bisa jadi opsi bagi mereka yang kerap lewat daerah banjir.

Beranjak ke fitur, terutama melongok panel-panel indikator, nuansanya sih, standar. Gabungan analog dan digital. Penunjuk RPM masih berupa jarum, tapi selain itu sudah digital. Apik. Semua penanda indikator, cukup jelas terbaca. Kalau toh dicari satu “kelemahan”, sepertinya hanya menyoal penanda RPM yang space-nya kegedean. Sepertinya dari sektor inilah GTR 150 terasa masih ada “bebek” nya.

Okey. Cukup pantauan secara visual. Sekarang saatnya berkendara alias test drive. Lima menit pertama, langsung terbaca mengapa bebek ini diklaim bersahabat kalau diajak turing jarak sedang hingga jauh, dan naik-naik ke puncak gunung. Para biker yang terlanjur beli GTR 150, sepertinya tidak menyesal.

Dari aspek ergonomi, lumayan dapet. Diajak putar-putar Kota Balikpapan, tangan dan telapak tangan tidak pegal. Posisi kaki juga nyaman. Posisi stang yang tinggi membuat badan tidak dipaksa membungkuk. Sambalbawang yang tinggi badannya 171 cm, masih bisa menebar senyum ke kanan-kiri saat berkendara.

Konfigurasi kopling manual lumayan sukses disematkan di Supra GTR 150. Tuas kopling empuk ditarik jemari tangan, tugas persneling gigi di kaki, pun, enteng dipijak. Saat posisi gigi berpindah, entakannya lumayan anteng. Jika terbiasa mengendarai motor cowok, mengendarai GTR 150 yang bertipe mesin DOHC dan setingan giginya sampai enam ini, bisa sambil “merem”, lantaran mudah. Nggak perlu narik kopling ful tenaga, gigi sudah bisa dipindah dengan smooth. Enyak kan.

Beranjak ke suspensi, GTR 150 lebih bersahabat ketimbang bebek sport lain. Sambalbawang sengaja “menghajar” jalanan aspal berlubang, dan sejenak melewati jalan bergelombang-berbatu-batu, dan ternyata...motor ini cukup anteng. Suspensi belakang bertipe tunggal (mono shock), tak hanya sekadar mempermanis tampilan sisi tengah motor, tapi juga oke meredam getaran. Berikutnya, tentang jok, sebenarnya cukup keras, namun pengendara terbantu oleh fungsi suspensi yang lumayan sip.

Roda depan berukuran 90/80-17 sedangkan belakang 120/70-17. Dimensi yang cukup lebar untuk memeluk aspal, dan mantap untuk mencengkeram saat pedal rem diinjak. Dobel rem cakram, depan-belakang, menjadi nilai tambah. Sambalbawang mencoba mengerem rada “kejam” saat laju motor cukup kencang. Supra GTR 150 ini akur-akur saja, mau berhenti tanpa bikin pengendaranya panik.

Lalu, mesinnya bagaimana? Supra GTR 150 berkubikasi 149 cc dan berteknologi injeksi penuh ini, terbilang cukup bertenaga. Sepintas dicicipi, karakter mesinnya mirip Sonic, tapi lebih kalem. Lebih jinak, dikit. Di putaran bawah, sedang, hingga tingi, tenaganya masih bisa “ngisi”.

Mesin tetap cukup adem lantaran ada radiatornya. Dibawa lari sampai 90 km per jam, motor ini belum melayang. Masih bisa “nancep” ke aspal. Handling juga tidak “lepas”. Tapi ngapain juga kencang-kencang membejek gas sampai segitunya, kalau kecepatan nyaman ada di kisaran 50-70 km per jam. Turing kan tidak harus ngebut, kan?

Melongok ke fitur lain, memang terasa ada yang dikorbankan demi tampilan GTR 150 yang ca’em ini. Apa saja itu? Pertama, bagasi. Hanya tersedia sejumput space yang itu pun tidak muat untuk sebiji jas hujan. Paling hanya muat notes. Tapi, ruang kecil ini sebaiknya tidak diisi barang, karena untuk "bernapas" mesin.

Kedua, tidak ada cantolan tempat menggantungkan bawaan di bagian tebeng. Dengan desain rapat segitu, motor ini memang bukan motor untuk belanja ke pasar. Dibikin cantolan sih, bisa dan sah-sah saja, kan ini urusan selera dan fungsionalitas. Meski konfigurasi tebeng-nya tidak mentolerir untuk itu. Tapi kan kalau turing, masa juga sembari bawa plastik isi soto.

Supra GTR 150-yang dilanjutkan dengan All New Supra GTR 150-diklaim hanya menghabiskan 1 liter BBM untuk menempuh jarak 42-an km. Ini termasuk hemat, bro and sis. Ada rider bilang motor ini bisa dipancal sampai 120-an km tanpa mesin tersengal-sengal kehabisan napas. Tapi karena sambalbawang bukan penggila speed, melainkan pendamba kenyamanan berkendara, maka, tidak terlalu penting membuktikan batas speed tersebut.

Oya satu lagi, untuk menikmati sensasi berkendara yang ideal, Supra GTR 150 ini meminta minuman jenis pertamax, bukan BBM subsidi. Pertalite, sih, sepertinya cukup oke, tapi sebaiknya kita suapin pertamax. Bebek nan “mewah” gini, bermesin injeksi pula, cocoknya ya dikasih pertamax.

Singkat kata, bebek sport ini bisa diajak berpetualang tanpa bikin pantat cepat terasa pegal, dan tetap dapat santai berkendara. Boncenger juga cukup diperhatikan “nasibnya” lantaran jok Supra GTR 150 tidak nungging-nungging amat. Turing berdua ke luar kota, masih bisa hepi sampai tujuan.

Diler Honda di Kota Minyak ini, membanderol Supra GTR 150 Rp 22-Rp 23 juta di Balikpapan. Sambalbawang tidak mau menilai ini harga yang murah atau tidak, lantaran harga kan menyesuaikan bagaimana material dan performa kendaraan. Pilihlah motor sesuai keinginan dan kebutuhan. Kalau masih suka ke pasar, motor ini enggak cocok. Kalau suka turing, tapi santai-santai saja melahap km demi km, GTR 150 bisa dipinang di diler. Begitu, jreng...


BACA JUGA

7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
ZUNDAPP LAMBRETTA JAWA CB200 DI PAMERAN MACI BALIKPAPAN
TENTANG HONDA (3) INILAH STAR'S FAMILY
TENTANG HONDA (2) DARI ASTREA 700 HINGGA ASTREA 800
TENTANG HONDA (1) DARI PISPOT SAMPAI PITUNG
BANYAK MOTOR SEDIKIT MEREK, SEDIKIT MOBIL BANYAK MEREK
SUZUKI NEX - IRIT LINCAH MANTAP KALEM
FORD LASER SONIC - BALADA FORDI (1)
AVANZA VS WULING VS EXPANDER

Senin, 19 September 2016

NGGAK MAU BIKIN TEH ENAK, BIKIN SIRUP SAJA, SANA

Entah mengapa, belakangan ini, atau tepatnya empat tahun terakhir, saya anti minum es teh di warung. Bukan lagi soal tehnya beraroma vanila, tetapi lebih ke si penjual yang nggak mau denger permintaan konsumen.

Saya, sebagai konsumen, sebetulnya berhak menentukan "rasa", ketika sudah ngomong "tehnya panas, manis, kental", dan sudah diiyakan si penjual. Dalam hal ini, saya sudah menghilangkan keinginan citarasa "sepet".

Komposisi teh yang sejati, ya empat unsur tadi. Jika ingin sempurna, ya tehnya beraroma melati. Nasgitelpet, panas-legi-kentel-sepet. Rumus bakunya gitu. Dan, saya sudah lumayan berdamai ketika mau menerima teh rasa vanila-jika itu yang terhidang.

Namun, teh yang dihidangkan di warung, 90 persen sepertinya "asal teh". Lebih ke air segelas yang kecemplungan secara tidak ikhlas oleh teh celup. Bahkan kalau boleh berpendapat, teh celup bikinan saya, pun, masih jauh lebih enak.

Oke, jika penjual memilih minuman sebagai "tambang uang", daripada makanan. Namun tidak bisa donk teh dihidangkan asal-asalan. Bahkan, "sembarang" teh pun, masih masuk akal, bagi saya, daripada "sembarang" cara bikin teh.

Alasannya, semua teh bisa dibikin enak. Menjadi tidak enak jika cara bikinnya salah. Airnya kebanyakan, takaran tehnya kelewat pelit, airnya sudah nggak segar, diseduh tidak dalam kondisi mendidih, terlalu lama disimpan,

Diperparah lagi kalau takaran gulanya, kelewatan. Maksud saya, untuk ukuran saya yang terbiasa minum teh manis saja, tarakarannya tetap kelewatan. Kebangetan. Kebayang, kan? Teh yang nikmat memang manis, tapi ingat, itu setelah ada faktor "nas-tel-pet"nya, yang terpenuhi. Kalau hanya manis doang, ya tidak enak. Apalagi jika satu teh celup untuk empat gelas.

Jika syarat teh enak diabaikan, teh akan terasa ambyar. Celakanya lagi, salah satu "benteng" terakhir penjual teh di Balikpapan, yakni warung angkringan, nyaris tidak ada yang menganggap teh itu minuman penting.

"Teh (rasa ambyar) seperti ini saja, laku. Ngapain repot bikin teh yang repot," sepertinya itu pikiran banyak penjual dari tingkat warung, restoran, hingga angkringan. "Mbikin teh itu, ya repot," begitu kata salah satu pedagang angkringan yang syukurlah, masih resah jika teh bikinannya gagal-dan tidak berani menyajikan teh asal ke saya.

Karena teh seperti "candu", maka, jika makan di warung, saya tetap membeli minuman teh. Tapi teh botol, atau teh dalam kemasan kotak. Setidaknya, keduanya, baik teh botol maupun teh yang dikemas kotak itu, rasanya masih lebih serius daripada teh yang "asal teh" itu.

Kalau mau rasa teh yang enak, ya mesti mau repot. Sedikit repot, tepatnya. Mau tahu kerepotan lain? Teh itu nggak enak jika diwadahi gelas plastik, maupn diaduk memakai sendok plastik. Nah, jadi, kalau mau mudah, ya bikin minuman sirup saja. Atau bikin es batu. Ho, oh, kan?



Senin, 15 Agustus 2016

KEMBALI BERSUA ( cerpen 8 )

Kaos berwarna putih, tanpa lengan, dan celana pendek berbahan jins yang digunting sampai di atas lutut. Itu kostummu sore ini. Bedak sedikit tebal, menempel di wajah. Bau badan yang sepertinya campuran antara sabun mandi dan parfum ketengan,

Kamu melihatku. Tatapan matamu seakan menyelidik. Seakan pula berharap, entah harapan apa. Harapan yang nantinya berujung uang, atau harapan bahwa sesosok pria di depannya ini bukan seseorang yang akan mengusirnya.

Hani, namanya. Umur 34. Asal dari sebuah kota di Jawa Tengah. Janda satu anak. Tubuh ramping, tinggi 155 cm, kecil mungil, rambut kepang, suara serak, dan sebungkus rokok kretek di tangan. Tangan satunya lagi, menggenggam bungkusan plastik berisi es teh. 
  
"Kita, aku yakin, pernah bersua di suatu tempat," ujarku membuka percakapan. Berharap dia "terpancing" obrolan pembuka ini. Rokoknya tidak jadi disulut. Hani menatapku. "Kamu kah pria itu? Maksudku salah satu pria itu?"

"Sepertinya bukan," kataku. "Namun aku pernah melihatmu. Bersama salah satu kawanku. Mungkin 2-3 tahun lalu. Bukan di sini," jawabku. Sebelum dia membuka mulut, aku berkata lagi, "Salah satu temanmu, yang aku ingat, saat itu berteriak-teriak,"

"Aku tidak tahu kejadian setelah itu. Yang aku ingat, aku langsung ditarik kawanku yang mendadak muncul entah dari mana. Kami segera menyingir dari tempat tersebut," ucapku.

"Tapi aku mengenalmu karena satu jam sebelumnya sempat berbincang denganmu. Kamu sempat menawarkan sepotong tempe goreng dan teh, kepadaku. Meski, yah, berbagi mulut gelas denganmu," kataku pada Hani.

Dia terdiam. "Aku lupa, Banyak pria kutawari minuman karena itu kebiasaanku. Mungkin aku akan rada ingat besok, tapi kalau sekarang, aku lupa," katanya sembari mengangkat bahu. "Nanti deh, kalau ada waktu, kuingat-ingat lagi," ucapmu.

Di sebuah gang sempit, sore itu, aku bersua Hani. Rumah-rumah di sepanjang gang ini, berimpitan. . Sore yang rada ramai. Salah satu "pesertanya" adalah seorang penjual gorengan. Sebut saja Bu Titik.

Bu Titik ini langganan Hani. Dan sore itu, Hani memang sedang menunggunya. Bu Titik, dengan wajah ceria, menurunkan gendongannya, menggelar dagangan. Plastik kresek dibuka. Dua tahu, dua tempe, dua bakwan. Enam atau tujuh cabai, disertakan.

"Aku ditraktir dong," tiba-tiba Hani berkata dengan nada manja. "Ah, tadi kamu kutanya, ketus," sahutku. "Kamu sih pakai nanya-nanya. Ngapain. Sudah tho, Traktir aku donk," katanya sewot. Matanya melotot, lubang hidungnya membesar.

"Oke. Begini perjanjiannya. Kamu kutraktir tapi aku kamu temenin sebentar. Paling 30 menit lagi," kataku membuka penawaran. Dia menjawab, "Oke, deal".. Hani mendatangi tempatku duduk, dan mengambil tempat di sebelahku.

Aku bisa melihat tengkuk dan lekuk kakinya. Dia balik menatap heran. "Ngapain sih kamu liat-lihat," katanya dengan nada bicara sedikit sebal. "Aku pernah melihatmu, dua-tiga tahun lalu. Dan aku hanya bertanya padamu, apakah itu benar?" ujarku.

"Kamu mau bakwan, ini satu untukmu," jawabmu cuek. "Ah sok tahu saja kamu. Emang hanya kamu yang datang menemuiku?" lanjut Hani. Aku mengambil bakwan yang kamu sodorkan. "Matamu bulat. Rambutmu bagus. Kamu baik. Dan kamu semestinya tidak merokok," kataku.

Dia terdiam..Lalu berkata, "Hanya satu orang yang pernah mengatakan kata-kata itu kepadaku. Aku memang pernah bersua denganmu. Tapi mengapa juga kamu menemuiku?" 

"Aku tidak berencana menemuimu. Namun aku berada di tempat yang sama pada saat yang sama denganmu, Aku pun tidak tahu apakah akan bersua denganmu lagi. Tapi sebelum aku pergi, bolehkan aku meminta senyummu?"

Hani tambah heran, Memiringkan kepalanya. Menatap aku tak berkedip. Semenit-dua menit. Dia lalu tersenyum renyah, dan berkata, "Apakah aku dulu pernah berkata bahwa suatu saat akan bertemu denganmu?".. Kujawab," Betul." 












  

Rabu, 20 Juli 2016

NABRAK MAKHLUK MANIS DI LAPANGAN (CERPEN-7)

Lucunya, aku mendadak mengingatmu. Setelah sekian tahun, dan sederet peristiwa terlewati. Tiba-tiba aku ingin mengingat senyum renyah, dan cekung lesung pipitmu. Juga dua bola mata sebulat kelereng, dan deretan gigi nan rapi di balik kawat gigi.

Menjelang malam, aku bertandang ke rumahmu. Berjalan kaki, menenteng raket bulutangkis, dan botol air minum. Kamu-dan adikmu yang sering menganggu itu-telah menantiku di teras rumah. Seperti biasa, ini malah kita, bukan?

Aku dan kamu melangkah memasuki lapangan. Ganda campuran, begitulah konsep kerja sama aku dan kamu. Di dunia kita, banyak ganda lawan yang sudah kita kalahkan, bukan? Tapi tanding antar teman begini, tak ada medalinya.

Aku selalu menantikan laga. Dan aku suka bisikanmu.  "Jangan biarkan mereka menang," katamu dengan muka serius, yang jujur saja, lebih terlihat jenakanya. "Kalau menang, aku pinjem buku ceritamu, ya," jawabku. Dia menyahut, "Beres.."

Lengan mungilmu keras mengayun. Langkah kakimu mengejar ke mana arah laju bola kok. Ah, aku suka mendengar lepas tawamu saat lawan tak sanggup mengembalikan bola. Dan aku suka melihat peluh deras berjatuhan dari dagumu.

Kadang, aku menunggu senyum kikukmu saat beradu pandang. Aku pun masih ingat bau keringatmu. Dan aku mengingat raut sebal wajahmu ketika bapakmu menjemput karena jam jarum telah menunjuk angka 12 malam.

Hei, kita beberapa kali bertabrakan gara-gara memburu laju bola. Cukup keras benturan itu, sampai membuat tubuh mungilmu terpelanting dan jatuh. Dan aku selalu mengulurkan tangan, membantumu bangkit. Pipimu pasti memerah saat itu.

Aku tertawa terbahak-bahak malam ini. Dua puluh tahun setelah kita memutuskan gantung raket, tanpa pernah melangkah bersama.Aku yakin kamu pun terbahak-bahak di sana.


BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
THE AQUARIAN ?


Senin, 11 Juli 2016

HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG... UNYIL KUCING !!!

Anak-anak jaman dulu berhutang banyak dengan sosok ini. Drs Suyadi alias Pak Raden. Tanpa dia, tidak akan ada film boneka si Unyil, yang memaksa kita duduk manis setiap Minggu pukul 08.00 di depan TV.  Selama 30 menit, Unyil sebagai tokoh utama, bersama Ucrit, Melani, Cuplis, Usrok, bergantian mengisi kecerian di pagi hari.

Pak Raden, Pak Ogah dan tandem sejatinya yakni Pak Ableh, juga Bu Bariah, pun, tak ketinggalan muncul. Ada juga Kinoy, adiknya Unyil, serta Bun Bun, adiknya Melani. Mereka tinggal di Desa Sukamaju. Hidup berdampingan dengan damai, ceria, meski kadang ada kejadian. Komplet juga dengan hutan, dan para satwanya. Ah.

Pak Raden itu galak, tapi kami mencintainya. Pak Raden marah-marah ketika Unyil dan Ucrit sembunyi di pagar tanaman depan rumahnya. Unyil dan Ucrit diusir. Pak Raden juga malah “ngasih tahu” penjahat ke mana arah larinya Unyil dan Ucrit. Tapi Pak Raden nggak salah. Malah, Pak Raden itu sebenarnya orang baik.

Pak Raden, eh, Pak Suyadi lah yang mengkreasi film boneka yang ngetop di awal 80 itu. Dia secara “halus” menyematkan nilai toleransi, dan nilai positif lainnya, dalam kesederhanaan jalan cerita si Unyil. Coba simak salah satu judul film ini “Pengorbanan Seorang Ibu”, misalnya.

Adegan diawali dari Unyil yang tengah menunggu Ucrit yang sedang sembahyang di gereja. Ah di latar belakang sana, ada bangunan gereja. Mereka berdua hendak bermain. Agenda wajib anak-anak jaman dulu. Nggak ikut main, nggak keren,lah. 

(nb: ini gambar nyomot dari internet..)

Datanglah Usrok, yang lalu diajak Unyil. Usrok sih oke-oke saja. Namun Usrok yang sedang repot bawa belanjaan ini, mesti pulang ke rumah dulu. Unyil sontak meledek, katanya, “Kok kayak perempuan, pakai belanja,”. Usrok menjawab, “Ah ya enggak, ini kan bantu ibu,”.

Sampai segini, dasyat kan makna obrolan ringan itu. Lanjut ke cerita. Ucrit sudah pulang dari gereja, dan bersama Unyil nyampiri Usrok. Tapi Usrok lagi disuruh ibunya menyapu halaman sampai bersih. “Kebersihan itu untuk dirimu dan lingkungan. Rumah ini kita dapat dengan susah payah,” kata ibu Usrok. Secara sambalbawang "kenyang" ngontrak rumah, ini nasehat nan bijak. Setuju !

Nah, karena permainan harus ada Usrok agar seru, maka solusi yang diambil Unyil dan Ucrit adalah.....membantu Usrok menyapu agar cepat selesai. Muaranya, biar Usrok diizinkan ibunya untuk bermain. “Wah gawat ni, kalau begitu kita bantu nyapu,” ujar Unyil. Keren kan, solusinya. Apapun dilakukan demi bisa main bareng. Ini khas anak zaman dulu, hihi.

Ketika Usrok lagi kena jaga dalam permainan, Unyil dan Ucrit segera lari sembunyi. Celakanya mereka ini sembunyi (tapi ribut) di rerimbunan pagar tanaman rumah pak Raden, yang tentu saja langsung diusir si empunya rumah. “Apa ini rame-rame kayak pasar. Pergi,” hardik Pak Raden, yang lalu dijawab Unyil dan Ucrit sembari ketawa. “Mana tahaaan...”. 

Akhirnya ketemu juga rerimbunan ideal tempat ngumpet. Saat sembunyi itulah, seorang kakek lewat sembari bernyanyi “Walang Kekek”. Si kakek nggak nyadar dompetnya jatuh. Unyil spontan mengambil dan berseru kalau uangnya cukup banyak, bisa untuk jajan. Tapi Ucrit spontan mengingatkan, “Jangan, Nyil. Itu tidak baik. Kasian kakek.Siapa tahu uangnya untuk anak dan cucunya. Yuk kita kembalikan,”.

Di bagian lain, si kakek mulai panik lantaran dompetnya raib. “We lha, mati aku. Sing jenenge dompet ki endi parane (wah mati aku. Yang namanya dompet, di mana)” kata kakek. Untunglah dia lantas ketemu pak hansip, yang segera membantu mencarikan.

Sementara itu, di sudut kampung, Unyil dan Ucrit disergap seorang perampok yang ternyata juga melihat kala dompet kakek itu saat terjatuh. Ucrit yang apes, ketangkap, Sedangkan Unyil berhasil kabur tunggang langgang, dengan membawa dompet itu. Unyil akhirnya bersua pak hansip dan si kakek. Pak hansip pun sigap bertindak.

Adegan berikut, si kakek ingin memberi sedikit uang ke Unyil cs, karena nemukan dompetnya. Tapi Unyil menolak. Hebat, kan? Nah, singkat cerita, di hari lain, Unyil bersama Usrok dan Ucrit sengaja main ke rumah si kakek tersebut. Mereka disambut gembira. “Ini cucuku yang jujur, yang ngembalikan dompet,” kata kakek.

Tiga sekawan kecil ini lalu pamit, tapi ditahan. Si kakek menawarkan untuk mendongeng dan tentu saja itu tak bisa ditolak. Anak-anak gitu, lho. Dengar ada yang mau ndongeng, sakau, deh. Nah, sebelum si kakek mendongeng, dia masuk dulu rumah untuk mematikan kompor (yang tentu masih minyak tanah). Mau tahu celetukan si kakek gimana. Gini: “Sayang minyaknya. Penghematan energi,”. Kalau dipanjangkan, itu penghematan minyak tanah. Hihi. 

Lanjut. Tiga sekawan ini lalu ngobrol-ngobrol iseng, “Rupanya kakek sudah tidak punya nenek,”.. “Gampang, nenek yang tinggal di pinggir hutan, kita berikan saja ke kakek ini,”... “Hus ngawur...”. Mereka pun cekikikan. Untung saja, si kakek nggak denger.

Nah, balik lagi ke kakek itu. Dongeng pun dimulai, Kisahnya tentang seorang anak nakal, yang tinggal di tepi hutan bersama ibunya. Sang ayah sudah tiada. Si anak yang bernama Atu ini, hobi berburu, dan bangga setiap pulang menenteng buruannya. Demikian pula hari itu, ia menyumpit anak kera. Kelakuan Atu, bikin ibunya sedih.

Sementara itu, jauh di dalam hutan, induk rusa, induk kelinci dan induk kera tengah berkumpul dan ngobrol. Mereka membahas tabiat Atu yang sudah menghabisi nyawa anak-anak mereka. “Hutang garam bayar garam. Hutang jiwa bayar jiwa,” begitu kata induk kera. 

Lalu ketiga satwa ini bertemu ibunya Atu. Mereka menyampaikan hal itu. Ibunya Atu pun sedih. “Anakku jangan diapa-apakan. Sebagi gantinya, ambillah nyawaku sekarang juga,” kata si ibu yang turut larut dalam kesedihan para induk satwa.

Namun para induk satwa itu, tidak mau. Sesampainya di rumah, ibu menasehati Atu.. “Membunuh binatang adalah perbuatan sangat berdosa. Binatang itu memiliki perasaan seperti kita. Mereka akan bersedih bila anak mereka ada yang membunuh....” Busyet.. Daleeeem....

Ah, rasanya sekian dulu sekilas ceritanya. Versi lengkap silakan pemirsa cari sendiri di belantara youtube. Filmnya cepet kok, tidak sampai 20 menit. Tapi banyak makna tersurat dan tersirat... Hm. sambalbawang coba mendeskripsikan, jadi segini nih:.

- Hormat kepada ibu dan kakek
- Setia kawan
- Jujur
- Toleransi beragama
- Bertanggung jawab
- Sayang binatang
- Kepolosan anak-anak
- Yang jahat selalu kalah
- Penghematan energi
- Anak cowok tidak gengsi belanj ke pasar...

Kesimpulannya, terima kasih ya (alm) Pak Raden.. Kamu memang top se-top-top-nya..
Hompimpa, alaium gambreng... Unyil kucing !!!

Ehm.. sekadar catatan, "hompimpa, alaium gambreng" itu, setelah sambalbawang baca di sekian alamat, berarti: "Dari Tuhan kembali ke Tuhan, Mari kita bermain".
Buseet, kan.. Daleeeem....


BACA JUGA
BAHASA JAWA (1) BAHASA YANG (MUNGKIN) TERUMIT
GATOTKACA TAK HANYA OTOT KAWAT BALUNG WESI
LILAC SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
JURASSIC WORLD VS JURASSIC PARK
AKU DI BELAKANGMU, TIGER
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
LEBIH BAIK NAIK VESPA

Rabu, 29 Juni 2016

THE BEATLES FOREVER

Empat anak muda asal Liverpool ini pasti tidak menyangka jika setengah abad kemudian orang masih menyanyikan dan memainkan lagu-lagu mereka. Efek Beatles, alis "virus Beatlemania" melampaui apa yang mereka pikirkan. The Beatles tidak benar-benar mati.

 Berselancar ke dunia maya, mudah menemukan video yang diunggah para penggila Beatles dari seluruh negara. Macam-macam bentuk, genre, format, hingga kreasinya. Dari grup band yang memainkan lagu Beatles semirip mungkin, acapela, berkostum serupa Beatles, mem-ponikan rambut, sampai yang ngasih tutorial memainkan gitar, bas, hingga drum.

The Beatles sebenarnya sudah tamat di awal tahun 1970. Meninggalkan begitu saja fans-nya yang kebingungan lantaran telanjur “gila” atau sudah menuju “gila”.  Sebegitu gilanya sampai ada yang tidak mau menganggap grup itu bubar. The Beatles tidak mati, karena yang mati hanya John Lennon--begitu argumennya. Dan ketika 30 tahun kemudian, tahun 2001, George Harisson meninggal, fans masih menganggap The Beatles ada.

Hm, itu juga yang sambalbawang pikir sih. Barangkali, Lennon (jika masih hidup) dan juga Paul Mc Cartney menyesal telanjur menyemai perseteruan yang berujung perpecahan grup. Dan sepertinya itu juga yang dirasakan duo lainnya, George Harisson maupun Ringo Starr. Bagaimana pun, mereka berempat sudah ditahbiskan sebagai Beatles.

Selepas The Beatles bubar, jalur solo karir ditempuh para personelnya. Apakah sukses? Iya, itu pasti. Siapa coba bisa menahan pesona mereka bereempat. Namun kalau mau jujur, sebetulnya, tak ada yang bisa menandingi level kesuksesan saat mereka masih bersama mengusung nama The Beatles. Pun ketika Lennon usai Beatles bubar lalu meluncurkan hits "Imagine" yang luar biasa, tetap orang mengingat dia sebagai dedengkot Beatles.

Bukankah masih ada yang tidak bisa--atau bahkan enggak mau--membedakan mana lagu Beatles dan mana yang lagu Lennon? Sambalbawang kira, Lennon boleh mungkin enggan kalau lagu-lagunya yang dibikin pasca-Beatles bubar, akan dianggap sebagai lagunya Lennon Beatles. Namun Lennon pastilah hanya bisa gigit jari.

Penggemar Beatles tak mau peduli itu lagu siapa. Suka cita memainkan lagu Imagine, setelah sebelumnya tampil "Mbitles", jamak terlihat di panggung ketika band-band mengkover lagu Beatles.. Demikian pula Paul. Setelah meninggalkan Beatles, Paul punya grup Wings, yang lumayan berkibar. Paul lantas bersolo karir dan mencetak beberapa hits hingga era pertengahan 90-an, salah satunya "Hope of Deliverance".

Bagaimana dengan Harisson dan Ringo? Mereka berdua memang tidak “sekencang” dua rekannya dalam bermusik dan bersolo karir pasca Beatles bubar. Tetapi Harrison dan Ringo tetap aktif di jalur musik, juga berkolaborasi dengan banyak musisi. Dunia jelas tahu kiprah mereka. Uniknya, beberapa kali mereka tampil di panggung, dan ...menyanyikan lagu Beatles. Meski sebagian ya lagu ciptaan sendiri. Nah, tetap saja mereka susah move on

Penggemar Beatles yang merana, akhirnya mendapat kabar baik yang menyegarkan. Beatles reunian--meski minus Lennon. Saat itu datang ketika tiga personel tersisa, menelurkan album anthologi di tahun 1995, dengan lagu andalan "Free As A Bird". Lagu koleksi Lennon--yang ditulis tahun 1977-- ini diserahkan Yoko, istrinya, ke tiga personel Beatles. Album itu berisi banyak lagu lain, sebagian dari proses rekaman lagu-lagu Beatles yang tidak dipakai (di album resmi).

Luar biasa. Bukan perkara mudah tentunya, untuk "menempelkan" suara Lennon dan meramunya. Dan hasilnya, Beatles meledakkan lagi euforia, dalam kurun waktu 15 tahun sejak meninggalnya Lennon yang ditembak fans-nya sendiri. Untuk pertama kalinya pula, sejak tahun 1970, setelah menanti 25 tahun, Beatlemania mendengar lagi keempatnya bermusik. Sejak saat itu, terutama Paul, semakin sering membawakan lagu-lagu Beatles.

Ditarik ke belakang, ke Lennon, dia enggak pernah menyinggung minat untuk membangun ulang Beatles. Namun Lennon pun tak bisa menahan fans yang kadung jatuh cinta dengan Beatles. Sampai detik ini, sambalbawang pun masih ngefans berat sama band satu ini. Lagipula, siapa sih yang tidak jatuh hati sama Beatles?

Band amazing 4 ini beranggotakan empat orang. Benar, Lennon dan Paul adalah ujung tombaknya. Namun Beatles besar karena Paul, Lennon, Ringo, dan Harisson. Empat talenta bersatu dalam waktu dan tempat, juga rentang waktu yang tepat. Ini sihir nan dasyat. Beatles itu ya Paul. Beatles itu ya Lennon, Beatles itu ya Ringo, Harisson itu pun Beatles.

Ini mirip dengan kondisi Warkop, dimana Dono itu ya Warkop, Demikian pula Indro dan Kasino. Ketika Kasino meninggal, Dono dan Indro bisa (dan diakui) mengibarkan bendera Warkop mewakili Kasino. Saat Kasino menyusul berpulang, Indro mewakili Dono dan Kasino sebagai Warkop.

Banyak orang bilang, Beatles menganut genre rock. Namun musik mereka juga bernuansa pop, rock, maupun klasik. Musik mereka di awal kemunculannya, cukup jauh berbeda dengan warna musik di akhir perjalanan. Beatles sepertinya mengalami tiga periode masa bermusik, yang saling berkaitan dan membuat musiknya semakin membuat berdecak kagum.

Periode pertama, adalah di era kelahiran tahun 1962-1965 di mana musik mereka ceria, cepat, singkat, dengan lirik-lirik simpel dan “ringan”. Ditancapkan sejak album pertama: Please-please Me. Di era ini pula, yakni tahun 1964, Beatles sukses menembus Amerika Serikat  lewat single “I Want To Hold Your Hand”.


Periode kedua, era 65-67, saat musik mereka mulai menjadi lebih “kaya” dan “liar” yang ditandai penambahan aneka instrumen dan keberanian meracik lagu. Tonggaknya adalah Sgt Pepper’s Lonely Hearts Club Band yang menjadi album terdasyat. Jika agak penasaran dengan seberapa “edan” imajinasi Beatles, barangkali bisa sejenak mendengarkan "A Day In The Life" :



Lagu “Yesterday” yang dinobatkan sebagai lagu Beatles yang paling banyak dirilis ulang dan diputar, muncul di era kedua ini. “Revolution” yang ada di album Revolver, juga bikin kening tercenung, lantaran sound gitar yang sangat “berisik”. Atau setidaknya paling noisy suara gitarnya dibanding lagu-lagu Beatles (yang nge-rock) sebelumnya.

Kemudian periode selanjutnya, setelah tahun 67 hingga bubar, musik Beatles berisi campuran suasana, antara “murung”, emosional, sedih, dan agak-agak dark. Album "Abbey Road" bisa ditengok sebagai penandanya. Di era ini lahir sejumlah lagu luar biasa, semacam “Something” karya Harrison, "Let It Be", "Don't Let Me Down", dan “Oh Darling”.

Tanpa mengesampingkan Harrison dan Ringo, Lennon dan Paul memang piawai. Terlepas dari perbedaan karakter, kemampuan musikalitas mereka saling melengkapi. Lennon seorang introvert yang urakan, sementara Paul ekstrovert yang ceria. Lagu-lagu John lebih "idealis" sedangkan Paul menyukai bikin lagu populer. Tapi keduanya punya “DNA” yang membuat tak ada yang membantah jika mereka ditahbiskan sebagai duet terhebat dalam sebuah grup band.

Beatles hanya delapan tahun mengguncang dunia, tetapi dunia bergetar hingga lebih 50 tahun. Sampai sekarang, dan seterusnya.  

Barangkali, cuma The Beatles yang bisa bikin.. delapan hari setiap minggu. Kamu ingin tahu sebuah rahasia? Aku akan mengikuti matahari, melintasi alam semesta. Ku melihat dia berdiri di sana. Yang kau butuhkan hanya cinta. Di sini, di sana, dan di mana-mana. Dalam hidupku, ku merasa baik-baik saja, dengan sedikit bantuan dari temanku.


BACA JUGA :
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK 
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
KONSER REUNI ABBA DALAM BENTUK HOLOGRAM ?
AGNETHA FALTSKOG vs ANNI-FRID "FRIDA" LYGNSTAD ABBA
MAMMA MIA ! HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
KAKEK-KAKEK AIR SUPPLY
THIS BOY
ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA
LAGU-LAGU ABBA, LIRIK DAN VIDEO
7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
ANGKRINGAN OH ANGKRINGAN (TULISAN 1)
JURASSIC WORLD VS JURASSIC PARK

Nb: Foto-foto Beatles sambalbawang ambil dari internet

Sabtu, 25 Juni 2016

FORD LASER SONIC - BALADA FORDI (2)

      Entah tinggal berapa populasi Laser Sonic yang tersisa di Indonesia. Dan entah siapa juga yang masih mengingatnya. Sedan kompak cap Amrik-tapi agaknya diproduksi Jepang-yang dilansir awal 90 ini, sangat jarang nongol di jalan. Mungkin sudah pada punah. Dan entah mengapa pula, dari sekian varian Laser yang dilahirkan Ford sejak 1986-1998, varian Sonic termasuk jarang.

      Sedikit beruntung sambalbawang memiliki Laser Sonic berkubikasi 1.300 cc ini. Dalam kondisi yang boleh dibilang 90 persen orisinil, luar dalam. Berhubung sudah membesut Sonic-yang saya panggil Fordi-ini sejak 2009, setidaknya sambalbawang cukup sedikit paham gimana itu Sonic dan kesehariannya. Lumayan paham karakternya.
      Setiap ngobrol soal sedan Ford Laser, sudah suratan takdir, orang dengan mudah mengaitkan dengan taksi. Memang benar, karena dulu Laser memang identik dengan taksi. Namun dari sekian varian Laser, ada yang tidak difungsikan sebagai taksi. Seri Champ, juga Sonic, termasuk salah satunya. Keduanya ada di jalur non plat kuning.
      Sonic barangkali varian yang unik dari Laser’s family. Untuk ukuran mobil sedan buatan tahun 1991-1993, Sonic, apa mau dikata, memang ibarat “anak tiri”. Sonic adalah sedan simpel-minimalis. Ketika Mazda yang merupakan sodara sekandung nan (agak) kembar, muncul dengan speedometer digitalnya, Sonic masih masang speedo analog.
       Ketika di era 80-an sedan-sedan sudah punya fitur power window, power steering, dan power lainnya, Sonic masih manual. Buka jendela masih meng-engkol. Bahkan Laser-laser yang nongol sesudah Sonic, dan malah berwujud kotak, sudah power steering. Nasib.
       Namun, barangkali memang itulah uniknya Sonic. Dicipta untuk menjadi mobil sederhana, yang merakyat, namun masih rada "priyayi". Hahaha. Tapi ngomong-ngomong, mencari serba neka tentang Sonic Laser ini agak susah.
      Mencoba melongok berselancar ke internet, agak susah nemu blog-blog atau situs yang membahas khusus soal Laser Sonic. Ada sih, tapi belum komplet. Iseng-iseng nyari iklannya versi Indonesia, juga nggak nemu. Malah nemu video iklan Sonic yang dijual untuk negara Australia (semoga tidak salah) .  Nengok ke situs jual beli, juga susah nemuin Sonic.
       Satu hal tentang Laser Sonic, berdasarkan pengalaman sambalbawang, adalah, sedan ini cukup nyaman dan menyenangkan. Fun driving, lah. Jika ingin power mesin, mungkin tidak akan mendapatkan di Sonic, mengingat mesinnya segitu. Jika AC dinyalakan, tenaga mesin pun sontak ngedrop cukup lumayan. Mungkin seperempat tenaga tersita.
      Tapi ini memang sedan untuk berkendara santai, sodara, bukan untuk salip sana salip sini, apalagi untuk brutal driving. Ini sedan santai. Resume selama memakai, Sonic hemat BBM. Mungkin 1liter bisa menempuh 10 km. Lumayan kan.
      Untuk urusan handling lumayan, demikian juga suspensi. Ruang kabin lega dan kepala sambalbawang aman dari hantaman atap. Perpindahan gigi yang cukup soft. Mesin lumayan halus suaranya, namun ini dengan catatan jika AC-nya tak dinyalakan.  Tetapi kalau AC dibangunkan, suaranya cukup menganggu telinga. Swear, deh.
      Sambalbawang mengisi Fordi dengan pertalite, dan kadang-kadang pertamax kalau lagi kumat isengnya.  Mungkin atas sebab itu, Sonic piaraan sambalbawang ini cukup bertenaga. Pernah coba dipancal abis gasnya, spedo nunjuk angka 110. Gas belum abis, tapi lantaran detak jantung mulai balapan,  gas diturunkan lagi.
      Cukup asyik mencermati kinerja tiga pedal di bawah setir. Pedal gas cukup anteng dijejak. Pedal kopling mantap diinjak, Pedal rem pun asyik dan kualitas pengeremannya pun cukup top. Berani diadu dengan sedan pabrikan sebelah yang lahir di tahun yang sama.
      Berani taruhan, siapa yang pernah nyetir Sonic (terawat) akan mengamini pendapat sambalbawang. Posisi berkendara, nyaman. Mungkin karena dijual juga untuk konsumen luar, Sonic ini terasa lapang untuk ukuran orang Indonesia. Posisi boncenger depan, mm, rileks. Penumpang di bangku belakang pun cukup nyaman menyelonjorkan kaki.
      Panel instrumen jelas, mudah dilihat, dipahami, dan dipencet sana-sini. Bagasi belakang terasa lega dan lapang. Pernah sambalbawang iseng memuat tiga ban mobil, eh ternyata masih muat. Secara visual, Sonic good looking, apabila dipantengin dari luar. Dari dalam, Sonic mengadopsi interior yang kalem, dengan dominasi warga abu-abu.
      Untuk kinerja audio, Sonic ada di posisi standar. Sambalbawang sempat mengalami audio bawaan Sonic, juga spiker kit-nya hehe. Kualitas suara yang disemburkan, standar. Tapi tidak malu-maluin. Sekadar catatan, spiker bawaan Sonic, mereknya Panasonic. Tape-nya Clarion.
     Oh ya sodara, banyak orang bilang jeroan Laser Sonic itu sekandung dengan Mazda 323 Interplay. Benarkah? Lama-lama sambalbawang merasa tidak semua itu benar. Setelah sekian kali ganti sparepart, tentu saja, kesimpulan itu akhirnya mengerucut. 
     Salah satunya ketika sambalbawang ganti karet (selang) radiator. Bahkan pihak bengkel pun sempat bingung karena salah prediksi. Juga waktu ganti batok lampu lantaran batok bawaan telah menguning dan baret. Nggak dapat aslinya, terpaksa ganti pakai Corolla.  Sambalbawang berkesimpulan, Sonic memang nyaris tak ada padanan spare part-nya.
      Bicara soal mesin, inilah hebatnya Sonic. Mesinnya bandel, seperti siswa yang suka bolosan tapi selalu dapat ranking. Nggak pernah overheat, Namun Sonic tetap ada penyakitnya. Setidaknya sambalbawang nemuin satu, yakni suara ‘srek-srek’ di transmisi.
     Lima tahun lebih ndak ada bengkel tahu solusi atas masalah itu, sampai kemudian bengkel langganan, menganalisis itu karena gigi lima-nya kocak. Akhirnya beres, meski sempat sekali balik ke bengkel untuk menyempurnakan perbaikan.
      Saat paling asyik merasakan angler dan antengnya deru mesin Sonic, adalah pada malam hari yang dingin dan sepi. Melaju di jalan aspal nan lurus dan AC tidak dihidupkan. Terasa ini sedan yang nyaman. Tiada power steering menjadi tak terasa, karena bantingannya lembut.
      Ada keunggulan, tentu ada kelemahan. Sonic pun demikian. Kelemahan Sonic utama ada pada power mesin yang rada drop saat menyalakan AC. Tiada power seetring agak menyusahkan jika cewek yang dibelakang kemudi saat urusan parkir.
     Dasbord yang dikonsep sederhana, ala sedan jadul, tak memungkinkan menaruh barang sebotol minuman. Kalau bawa botol minuman, ya taruh di samping kaki. Mencari bengkel yang paham mesin Sonic, juga terbukti susah, setidaknya di Balikpapan.
      Harga sparepart Sonic pun mahal. Karbu Sonic milik sambalbawang yang asli, akhirnya harus istirahat setelah dipakai 23 tahun. RPM mulai tidak stabil. Karbu sudah lelah. Mencari aslinya, nemu di harga Rp 3,3 juta, sambalbawang mundur teratur.  
      Akhirnya dapat juga karbu Kijang kapsul yang dibanderol sepertiga dari karbu Laser yang asli. Masalah pun selesai. Namun karbu asli-yang masih berfungsi setidaknya 70 persen-tetap sambalbawang simpan, barangkali besok bisa berguna. Pada prinsipnya sambalbawang penganut ori. Sonic piaraan sambalbawang ini, sepertinya yang paling ori se-Indonesia.
      Kesimpulan akhir: bimbang mau jual Sonic ini, atau tidak. Hahahaha... Kayaknya sih, enggak. (nb; masih pakai foto fordi dengan dek bojo di sampingnya)..