Seringkali, selepas senja menampakkan diri, aku bertandang ke rumahnya. Sering aku menanti hujan deras karena saat itulah kamu pasti ada di rumah. Meski hujan deras berarti ancaman ngadat bagi motor bututku, namun inilah waktu terbaikku.
Seraut wajah manis itu menyembul dari balik pintu kayu. Seperti malam-malam sebelumnya, Tak ada satu gram senyum riang terpampang. Yang kupandangi adalah satu kilogram senyum nan garing. Aku tak tahu mengapa keriangan itu tak kau miliki.
Tiga puluh menit berlalu tanpa ada obrolan bermutu.Tiga puluh menit terkuras separuhnya hanya karena kamu merasa perlu bolak-balik masuk ke dalam rumah. Ada kebohongan di situ. Aku melihatnya dari semua bahasa tubuhmu.
Aku tidak peduli berapa mobil menghuni garasi rumahmu.Aku tidak peduli berapa hektar tanahmu, atau berapa kuintal emasmu. Aku tidak ambil pusing dengan kampusmu yang terkenal, bahkan aku pun tidak menyoal indahnya namamu.
Tapi aku tidak mengerti, mengapa tatapan indah yang kamu bagi ke teman-temanmu itu, tidak bisa kamu beri kepadaku. Aku tidak mengerti mengapa senyum ceria yang kamu tebar, tidak satupun yang kau layangkan untukku.
Mungkin berbicara denganku akan membuatmu pusing, atau melukai bibirmu yang indah. Atau melelahkan matamu yang lentik itu. Atau bakal merontokkan rambutmu yang terurai. Berbicara denganku, barangkali mengurangi cantikmu.
"Bolehkan aku menyita waktumu, lima menit saja," kataku, ketika tangan mungil itu sepertinya hendak menutup pintu. "Untuk apa?" sahutnya. Aku mengulurkan sebuah buku tulis untukmu, berwarna ungu, kesukaanmu.
"Bacalah, nanti, setelah aku pulang. Ini kumpulan puisi untukmu, ungkapan hatiku," kataku. Dia tak menjawab, hanya memiringkan sedikit kepalanya. Tapi memang aku tidak memerlukan jawaban, ataupun satu kata pun.
Segera kukenakan mantel hujan, menghidupkan motor bututku, dan berlalu dari sini. Aku tak mau membayangkan apa perasaannya, saat tidak menjumpai satu tulisan pun di buku itu. Mungkin marah, mungkin renyah.
Hingga keesokan harinya aku bersua denganmu. "Kamu mempermainkan aku, ya?" ucapmu. Aku terkekeh. "Bagaimana bisa aku mempermainkanmu, jika kamu begitu indah di mataku,". Dia menjawab,"Lalu, apa maksudmu?".
"Puisiku adalah buku itu sendiri, Kamu bilang hobi membaca. Kamu bilang suka menulis cerpen dan puisi.. Aku juga tahu kalau kamu suka warna ungu. Aku pun tahu kamu menyukai gambar sampul buku, yang berupa tokoh kartun itu," sahutku.
Kamu tertegun. Aku berlalu. Aku tidak perlu setumpuk puisi untuk mengungkapkan perasaanku padamu, kawanku yang cantik. Sebab aku sendirilah, puisi itu. Dan maaf, aku tak ada waktu melihat air matamu berjatuhan.
Kamis, 09 Juni 2016
Senin, 06 Juni 2016
JANGGAL - cerpen (4)
Senyummu mengembang, malu-malu. "Jangan peluk aku di sini," bisikmu saat kedua tanganku merentang terbuka. "Aku takut ketahuan," jelasmu. "Ketahuan siapa?" tanyaku heran. "Ya ketahuan orang-orang rumah, lah. Rumahku kan deket," tukasmu.
Baiklah, jika itu pintamu. Tapi aku jadi ikut latah celingukan ke kanan-kiri. Jangan-jangan ada yang melihat. "Lha, kamu ngapain? Memangnya ada yang kenal kamu di sini?" ucapmu sembari ketawa ngakak, lalu menarikku menuju parkiran.
"Aduh,ngapain juga kamu bawa mobil?" tanyaku. "Lha mau naik apa lagi? Bapakku juga lagi nggak memakai mobil, jadi kubawa dulu sebentar menjemputmu," jawabmu santai. Tapi kamu mendadak bilang, "Cepetan, jangan kelamaan,".. Lha...
Duduk di sebelahnya, aku langsung memerosotkan posisi duduk. Seakan ada sniper mengintai dari kejauhan. Kaca hitam mobil lawas ini, tiba-tiba seperti kurang gelap. Dia menyetir pelan-pelan, maklum masih belum terlalu lancar. Jika ini adalah film kartun, bisa kugambarkan mobil ini berjinjit saat meninggalkan stasiun.
Lima menit, sepuluh menit berlalu. Tawamu tiba-tiba meledak, seperti turis kelupaan paspor tapi lolos dari pintu imigrasi. "Aku seperti melihat ketoprak dagelan," katamu. Maksudnya? "Kita yang yang sedang bermain di ketoprak dagelan," terangmu.
Aku paham maksudmu menyebutkan "ketoprak", Tapi kalau soal "dagelan", itu yang belum kumengerti. Barangkali maksudmu adalah tingkah kita. Sepertinya begitu, mengingat sekian agenda aneh yang tidak jelas, dan akan kita lakukan.
Baiklah kuingat sejenak. Agenda utama kita, setelah merencanakan pertemuan, adalah berpelukan dan bergandengan tangan sepanjang hari. Sembari menyusuri kota. Tapi setelah ketemu ternyata hanya makan gorengan di warung pinggir jalan, dan ngobrol sembari menonton ikan di akuarium. Memang sih, ikannya banyak dan lucu... Tapi....
"Nah, sadar juga, kamu akhirnya," katamu dengan nada sewot. Mata lentikmu yang bulat melotot indah. Tapi, tunggu, tak akan kubiarkan dia menang. Aku membalas. "Di antara kita, paling-paling kamu duluan yang akan menelepon,".
"Aku tahu nomor telepon rumahmu, dan kamu menyimpan nomor telepon rumahku," jawabmu, mengakhiri pertemuan selama 12 jam tersebut, Aku yakin, benar-benar yakin menang "taruhan" sampai ketika beberapa waktu setelah pertemuan ini, ternyata aku yang empat kali meneleponmu. Sementara, kamu baru sekali.
BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
MENGAPA HARUS NGEBLOG
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019
Baiklah, jika itu pintamu. Tapi aku jadi ikut latah celingukan ke kanan-kiri. Jangan-jangan ada yang melihat. "Lha, kamu ngapain? Memangnya ada yang kenal kamu di sini?" ucapmu sembari ketawa ngakak, lalu menarikku menuju parkiran.
"Aduh,ngapain juga kamu bawa mobil?" tanyaku. "Lha mau naik apa lagi? Bapakku juga lagi nggak memakai mobil, jadi kubawa dulu sebentar menjemputmu," jawabmu santai. Tapi kamu mendadak bilang, "Cepetan, jangan kelamaan,".. Lha...
Duduk di sebelahnya, aku langsung memerosotkan posisi duduk. Seakan ada sniper mengintai dari kejauhan. Kaca hitam mobil lawas ini, tiba-tiba seperti kurang gelap. Dia menyetir pelan-pelan, maklum masih belum terlalu lancar. Jika ini adalah film kartun, bisa kugambarkan mobil ini berjinjit saat meninggalkan stasiun.
Lima menit, sepuluh menit berlalu. Tawamu tiba-tiba meledak, seperti turis kelupaan paspor tapi lolos dari pintu imigrasi. "Aku seperti melihat ketoprak dagelan," katamu. Maksudnya? "Kita yang yang sedang bermain di ketoprak dagelan," terangmu.
Aku paham maksudmu menyebutkan "ketoprak", Tapi kalau soal "dagelan", itu yang belum kumengerti. Barangkali maksudmu adalah tingkah kita. Sepertinya begitu, mengingat sekian agenda aneh yang tidak jelas, dan akan kita lakukan.
Baiklah kuingat sejenak. Agenda utama kita, setelah merencanakan pertemuan, adalah berpelukan dan bergandengan tangan sepanjang hari. Sembari menyusuri kota. Tapi setelah ketemu ternyata hanya makan gorengan di warung pinggir jalan, dan ngobrol sembari menonton ikan di akuarium. Memang sih, ikannya banyak dan lucu... Tapi....
"Ah biarin, deh. Aku kan memang aneh," katamu sembari menggandeng tanganku dan merebahkan rambut ponimu ke pundakku. Aku sih sepakat bahwa kamu orang aneh, cewek aneh, karena beberapa saat kemudian kamu malah mengajakku menikmati hujan, Maksudnya, berhujan-hujan beneran. Hujan deres plus angin kencang, malah.
"Aku suka hujan, dan aku suka memelukmu," ucapmu. Aaah, so sweet, meski kamu mengucapkan itu sembari menyeruput minuman kemasan dan memandangi motor-motor yang terjebak hujan. "Kapan lagi aku bisa memelukmu?" lanjutmu.
"Cinta tidak harus memiliki, bukan?" jawabku mencoba bijaksana. Kamu langsung tertawa, lalu berkata, "Aku sebentar lagi dimiliki. Mungkin kamu yang harus segera memiliki siapa gitu," Waduh, skak mat, kalau begini....Entah harus menjawab apa, mendadak aku malah tertawa.
"Nah, sadar juga, kamu akhirnya," katamu dengan nada sewot. Mata lentikmu yang bulat melotot indah. Tapi, tunggu, tak akan kubiarkan dia menang. Aku membalas. "Di antara kita, paling-paling kamu duluan yang akan menelepon,".
"Aku tahu nomor telepon rumahmu, dan kamu menyimpan nomor telepon rumahku," jawabmu, mengakhiri pertemuan selama 12 jam tersebut, Aku yakin, benar-benar yakin menang "taruhan" sampai ketika beberapa waktu setelah pertemuan ini, ternyata aku yang empat kali meneleponmu. Sementara, kamu baru sekali.
BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
MENGAPA HARUS NGEBLOG
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019
Rabu, 01 Juni 2016
SEGELAS TEH UNTUKMU
Harum serpihan daun-daun dan potongan batang-barang kering berwarna kecoklatan ini sungguh menggoda. Baunya, rasanya, warnanya, sudah sangat akrab denganku sejak aku melafalkan kata-kata pertama di dunia. Dia selalu menjadi teman yang menyenangkan di pagi maupun sore. Ada setiap hari.
Mari meraciknya. Letupan-letupan air mendidih dari panci pertanda temperatur yang tepat. Untuk menenggelamkan serpihan-serpihan daun, yang kadang juga batangnya berwarna coklat pucat, ini. Mengubah warna air menjadi coklat keemasan, namun bening.
Semerbak baunya malu-malu menguar dari tiap pori serpihan daun dan batang-batang itu. Mengepulkan sebersit asap putih. Sebelum terlambat, kutuang air panas beraroma menarik ini ke dalam gelas kaca. Menyaringnya, namun awas, jangan terlalu halus.
Sisakan partikel-partikel kecil serupa kerikil super mini namun lembut, biarkan mengendap di dasar gelas. Satu setengah sendok gula pasir, bakal menjadikan ramuan ini sempurna, Dan tentu, jangan lupa menghancurkan gula hingga kristal terakhir.
Buih-buih kecil akan riang mengumpul di tengah pusaran air, bolehlah diangkat jika racikan ini akan dihidangkan. Tapi, sah-sah saja membiarkannya sebagai hiasan permukaan airnya. Biarkan sejenak panas terlepas, tidak perlu terburu. Lima menit, cukuplah.
Duduklah sejenak dengan santai. Sedikit lantunan musik akan merasuk dalam setiap mili racikan ajaib ini. Kosongkanlah pikiran, sebentar saja. Pandanglah bening coklat keemasan itu, dan berterima kasihlah pada yang menciptakannya.
Tiuplah sedikit permukaan airnya. Cecaplah sebentar untuk merasakan sensasi panas-manis-kental-dan sepat, yang bertumpukan menyatu. Teguklah sekali-dua kali, lalu letakkan gelas kaca ini. Pandanglah sekali lagi. Lalu habiskan.
Hangat menyeruak berlomba menjelajah seluruh tubuh. Aroma melati yang kuat namun bersahabat, dan menyenangkan, adalah milikmu. Aku sejenak teringat ibu yang menghadirkan racikan ini untuk pertama kalinya, dengan penuh sayang.
Dan aku, malam ini, meraciknya dengan segenap jiwa, untukmu kekasihku tersayang..Segelas teh istimewa untukmu, aku yakin bisa menjadi penambal lelahmu seharian. Membahagiakan tatkala melihat senyummu mengembang usai menyeruput minuman ini.
Kedua matamu yang bulat nan jenaka, membesar. Berkejap-kejab kegirangan. Gelas ini kamu genggam erat, seakan ingin menyerap panas dan sarinya ke dalam telapak tangan. "Sempurna," katamu, sembari tertawa renyah.
BACA JUGA :
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019
Mari meraciknya. Letupan-letupan air mendidih dari panci pertanda temperatur yang tepat. Untuk menenggelamkan serpihan-serpihan daun, yang kadang juga batangnya berwarna coklat pucat, ini. Mengubah warna air menjadi coklat keemasan, namun bening.
Semerbak baunya malu-malu menguar dari tiap pori serpihan daun dan batang-batang itu. Mengepulkan sebersit asap putih. Sebelum terlambat, kutuang air panas beraroma menarik ini ke dalam gelas kaca. Menyaringnya, namun awas, jangan terlalu halus.
Sisakan partikel-partikel kecil serupa kerikil super mini namun lembut, biarkan mengendap di dasar gelas. Satu setengah sendok gula pasir, bakal menjadikan ramuan ini sempurna, Dan tentu, jangan lupa menghancurkan gula hingga kristal terakhir.
Buih-buih kecil akan riang mengumpul di tengah pusaran air, bolehlah diangkat jika racikan ini akan dihidangkan. Tapi, sah-sah saja membiarkannya sebagai hiasan permukaan airnya. Biarkan sejenak panas terlepas, tidak perlu terburu. Lima menit, cukuplah.
Duduklah sejenak dengan santai. Sedikit lantunan musik akan merasuk dalam setiap mili racikan ajaib ini. Kosongkanlah pikiran, sebentar saja. Pandanglah bening coklat keemasan itu, dan berterima kasihlah pada yang menciptakannya.
Tiuplah sedikit permukaan airnya. Cecaplah sebentar untuk merasakan sensasi panas-manis-kental-dan sepat, yang bertumpukan menyatu. Teguklah sekali-dua kali, lalu letakkan gelas kaca ini. Pandanglah sekali lagi. Lalu habiskan.
Hangat menyeruak berlomba menjelajah seluruh tubuh. Aroma melati yang kuat namun bersahabat, dan menyenangkan, adalah milikmu. Aku sejenak teringat ibu yang menghadirkan racikan ini untuk pertama kalinya, dengan penuh sayang.
Dan aku, malam ini, meraciknya dengan segenap jiwa, untukmu kekasihku tersayang..Segelas teh istimewa untukmu, aku yakin bisa menjadi penambal lelahmu seharian. Membahagiakan tatkala melihat senyummu mengembang usai menyeruput minuman ini.
Kedua matamu yang bulat nan jenaka, membesar. Berkejap-kejab kegirangan. Gelas ini kamu genggam erat, seakan ingin menyerap panas dan sarinya ke dalam telapak tangan. "Sempurna," katamu, sembari tertawa renyah.
BACA JUGA :
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019
Selasa, 24 Mei 2016
PETE YANG MENGHARUKAN
Obrolan malam itu, bersama seorang kawan, membahas tentang
pete. Topik tidak penting, sebenarnya, tetapi sungguh menggelitik.“Mana, mana, tunjukkan saya manfaat pete secara medis,” begitu ujar kawan sambalbawang yang “mengharamkan” pete. Iya lah, wong dia tidak pernah menyantap pete.
Sambalbawang pun merasa terenyuh. Ternyata masih ada orang di republik
tercinta ini yang mati-matian menolak citarasa menakjubkan dari pete. Walau
kami sepakat hitam di atas putih tentang enaknya cabai, namun kami jauh berbeda prinsip dan haluan soal
pete.
Kawan sambalbawang ini, memang tidak pernah berurusan dengan
pete di sepanjang umurnya yang kini menyentuh kepala empat. Sedangkan
sambalbawang menempatkan pete sebagai menu istimewa, dan bahkan sempat bercita-cita punya kebun pete sehektar.
Sebenarnya, sambalbawang tidak akrab dengan pete sejak kecil. Karena orangtua memang tidak suka pete, maka sepertinya tidak pernah ada menu pete yang terhidang di meja. Namun saat urusan makan di warung, barulah sambalbawang
mencicipinya. Ternyata suka.
Pete, celakanya, memang masih dianggap bagai anak tiri. Ibarat dalam sebuah permainan sepak bola, pete adalah pemain cadangan, yang
dianggap kualitasnya kelas dua. Tidak pernah turun sebagai starter, tidak pula ada
jaminan main pada babak kedua, tapi
harus ada di deretan pemain.
Pete sejatinya adalah pesona. Dalam sayur lodeh, pete adalah rahasia kelezatan, bersama
dengan tempe besengek. Demikian juga dalam sayur jipang, bahkan nasi goreng.
Ibuk sambalbawang pernah memasak lodeh memakai pete, tapi petenya diangkat saat
sayur matang. Beneran anak tiri, kan..
Untunglah, dalam perjalanan, sambalbawang ketemu sodara bojo
yang maniak pete. Hasrat malu-malu akan pete, langsung terkelupas. Pete pun
jadi menu wajib, setidaknya beberapa minggu sekali. Dikonversi menjadi sambal
pete, digoreng, dan sebagai bumbu lodeh.
Menyantap menu pete selalu menjadi kegembiraan yang akut. Layaknya
sambalbawang dulu semasa kecil menyantap dua bungkus Anak Mas dalam sehari, dan masih
memiliki sekantong Chiki di lemari. Apalagi petenya seger, berwarna hijau merona. Sakau, deh.
Kembali ke kawan sambalbawang itu, agaknya memang butuh pete. Oh ya
untuk manfaat pete yang sekuat tenaga dia tentang ini, solusinya memang mesti dicari
sendiri. Dicari sembari mengunyah pete yang “berendam” dalam kubangan sambal
rawit.
Dicari dalam sepiring nasi pulen yang direndam sayur lodeh.
Dicari dalam butiran-butiran pete yang sedikit item-gosong karena efek minyak goreng.
Nikmati saja dan rasakan kegembiraan tatkala pete merasuki rongga mulut, dan turun ke perut.
Lupakan soal bau mulut dan bau kentut. Bukankah untuk
mencapai keinginan, memang dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan? Bukankah semua orang juga
mengesampingkan kolesterol saat gembira mengigit jeroan dan sate kambing?
Satu-satunya hal ketika pete tidak terlalu menarik adalah saat ada si ulil nyembul keluar malu-malu tanpa rasa bersalah, dari permukaan mengkilat si pete. Tetapi itu lebih sebatas kasuistik saja, kok. Percayalah sama sambalbawang. Pete itu penting untuk manusia.
Tidak perlu sungkan mengakui ketergantungan akan pete. Banggalah bahwa pete enak itu ada di Indonesia. Bergembiralah, karena cita rasa pete itu .... mengharukan....
BACA JUGA
TEH NASGITEL PET
KOKORO NO TOMO
10 BREGADA KERATON YOGYAKARTA YANG KEREN
JADI "GURU" DADAKAN DI PERBATASAN
PELUKAN (CERPEN)
Satu-satunya hal ketika pete tidak terlalu menarik adalah saat ada si ulil nyembul keluar malu-malu tanpa rasa bersalah, dari permukaan mengkilat si pete. Tetapi itu lebih sebatas kasuistik saja, kok. Percayalah sama sambalbawang. Pete itu penting untuk manusia.
Tidak perlu sungkan mengakui ketergantungan akan pete. Banggalah bahwa pete enak itu ada di Indonesia. Bergembiralah, karena cita rasa pete itu .... mengharukan....
BACA JUGA
TEH NASGITEL PET
KOKORO NO TOMO
10 BREGADA KERATON YOGYAKARTA YANG KEREN
JADI "GURU" DADAKAN DI PERBATASAN
PELUKAN (CERPEN)
Senin, 16 Mei 2016
MELEBARKAN SAYAP SAMANTHA PROJECT
Dan, menyalak-lah mesin jahit malam ini, seperti malam-malam
sebelumnya. Waktu yang nampaknya paling ideal bagi saudara bojo menuangkan
idenya. Merancang baju, atau mengerjakan order jahitan, dengan segenap jiwa.
Membawa bendera modiste Samantha Balikpapan alias “Samantha Project”.
Usaha jahit sudah ditetapkan. Skala rumahan. Tapi, jangan salah, ini bisa sama seriusnya seperti eyang Claudio Ranieri meramu
starting-XI pasukan Leicester City, wkwkwkw. Bedanya, eyang Ranieri
sehari-hari menganalisa video pertandingan di King Power Stadium sono, sedangkan
dek bojo mantengin buku mode dan tayangan fashion dari youtube di Ndalem Samantha yang full musik.
Tak terasa 1,5 tahun Samantha“mewarnai” Kota Balikpapan tercinta. Ada dua ranah dijabani seturut namanya itu. Pertama, usaha jahit pastinya, yang dikasih nama Modiste Samantha. Kedua, brand fashion yang dikasih label Samantah Project. Masih tergolong bayi, masih balita bingit, yang untuk jalan pun merangkak dan musti
pelan-pelan. Asyiknya, namanya juga bayi, melakoni hal baru dan menjumpai
barang baru, tentu bersemangat penuh.
Setelah meninggalkan dunia jurnalistik yang digeluti 6
tahun, menekuni pernak-pernik kerajinan selama hampir setahun, disambung nyambi
freelancer setahunan juga, saudara bojo banting stir ke dunia fashion. Buka lapak modiste, jadi tukang jahit.
Berguru di “Sri Jiwo Insitute” alias mamah sendiri sejak
kecil, sodara bojo akhirnya melengkapi takdir. Masuk ke dalam keluarga besar
penjahit, meski nggabungnya di kloter terakhir. Mungkin, ini semua memang soal waktu saja. Waktu
yang berbalut kesempatan, dan tempat, tentu saja.
Ketika menebus mesin jahit konvensional, empat tahun lalu,
saudara bojo masih belum minat. Mungkin masih terbayang keasyikan sebagai
jurnalis (dulu), maka tulis-menulis masih dihayati. Lha wong mendatangkan dollar
juga, ternyata, walau sebatas uang lelah.
Sejumlah karya “embiro” Samanta, lahir dari mesin jahit
konvensional ini, yang sekarang lebih banyak sambalbawang pakai sebagai meja untuk
meletakkan laptop. Termasuk baju-baju anak, yang dulu memang konsep awal Samantha
Project. Konsepnya bergeser seiring kenyataan bahwa yang suka tampil
modis-gaya, bukan si anak. Tapi ibuknya, hehe.
Tapi, mesin jahit konvensional lama-lama terlihat kurang
cepet “berlari”. Juga terasa lebih ribet. Posisinya mesti terdegradasi, menepi, digantikan
mesin jahit listrik. Dan sekarang, peralatan jahit-menjahit pun memenuhi ruangan rumah.
Kain-kain pun mulai disusun memenuhi rak, sebagai opsi bagi pelanggan untuk
memadu-padankan selera berbusana.
“Mbaknya desainer, belajar di mana?” begitu tanya beberapa
orang. “Belum desainer kok, saya masih tukang jahit. Belajarnya di Sri Jiwo Institute,” begitu kadang-kadang jawaban sodara bojo sembari
tertawa. “Mbaknya bisa nggambar sket baju?” tanya beberapa teman. “Masih
belajar nggambar,” balas sodara bojo.
Oh memang, sodara bojo masih belajar nggambar sket. Beberapa
gambarnya pun bikin Sambalbawang ngekek ketawa lantaran gambar kakinya
kepanjangan. “Ah tapi kan, yang penting bisa merancang, dan menjahit,” begitu
sambalbawang, menghibur.
Maka, dengan senang hati, Samantha Project meluncurkan satu
demi satu produk hand-made yang “tidak biasa”, desainnya “ringan” alias simpel-sederhana,
dan asyik dipakai harian. Hm.. mana kainmu, atau pilih dari koleksi kami, dan
jahitkan ke Samantha Project.
Penasaran? Silahkan
kunjungi Instagram kami:
@samanthaproject @samantha_project_storehouse
BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
GATOTKACA TAK HANYA OTOT KAWAT BALUNG WESI
PETE YANG MENGHARUKAN
Jumat, 13 Mei 2016
KAKEK-KAKEK AIR SUPPLY
“2 Maret 1994”, tanggal ini tertera di kaset Air Supply Love
Songs milik sambalbawang. Untuk ukuran remaja SMP, waktu itu, Air Supply sebenarnya sudah termasuk
band yang hampir habis masanya. Lagu hits grup itu yang terakhir, “Goodbye” muncul
di tahun 1990.
Grup musik asal Australia ini digawangi duo: Graham Russel dan Russel Hitchcock. Mereka mulai tenar di era akhir 70-an dan semakin berkibar di awal 80-an. Siapa sih yang enggak kenal lagu mereka "Making Love Out Of Nothing At All" yang dirilis tahun 1983 itu.
Sejak remaja, sambalbawang sudah akrab dengan
lagu-lagu mereka, bahkan sebagian sampai hapal. Lagu-lagu asmara-romantis,
sepertinya cukup cocok dengan suasana hati yang sedang mencari dan meratapi
kelamnya masa-masa remaja yang salah satunya lantaran tanpa pacar.
Air Supply menemani di hampir setiap acara belajar sambalbawang-selain
juga band/penyanyi lain macam Bon Jovi, The Beatles, Metallica, KLa Project, Iwan Fals, Queen, Aerosmith, White Lion, Cranberries, Nirvana, Metallica, GNR, Roxette, Dewa 19, Gigi, dan Chrisye. Saat
hujan adalah salah satu waktu paling pas untuk menyetel Air Supply. Kena di
hati.
Tak pernah membayangkan kalau 20 tahun kemudian, sambalbawang bakalan bisa
nonton Air Supply. Dan enggak pernah pula
mengira nontonya bisa sampai dua kali. Iyak, dua kali. Kesempatan pertama jatuh pada 5 Maret 2013, saat mereka
menggelar konser bertajuk “Air Supply World Tour-Asia 2013” di Hotel Novotel,
Balikpapan, Kaltim. Saat itu, sambalbawang ke sana dalam rangka liputan. Asik. Itu di atas fotonya, tercipta dari kamera sendiri.
Pada kesempatan kedua, barulah sodara bojo yang notabene adalah pemilik usaha jahit Modiste Samantha a.k.a Samantha
Project, bisa nemenin. Di tengah kerumunan penonton, seiring Graham dan Russel
memulai lagu “Even The Nights Are Better”, sambalbawang pun mulai "sakau". Tereak-tereak. Lupakan malu, hehe.
Berikutnya meluncur “Just As I Am’, kemudian “Every Woman In
The World”, trus “Here I Am”. Next, ada “I
Can Wait Forever”, lanjut “Two Less Lonely People In The World”, trus “Lost In
Love”. Dan sudah bisa ditebak, berikutnya “Making Love Out Of Nothing At All”
itu. Lagu wajib "Goodbye" tentu saja ada di daftar lagu..
Lengkingan vokal Russel Hitchcock yang sudah berumur 65 tahun, memang
tidak lagi setinggi saat masih muda. Graham Russel yang kidal, main gitar, dan
berumur 64 tahun, juga rada membatasi nada-nada tinggi. Tapi aksi mereka tetap keyeeeen.
Semangat membahana sembari lantang bernyanyi. Sampai
tiba-tiba sodara bojo berteriak kencang di telinga sambalbawang. “Kok kayaknya cuman
kamu yang paling hapal lirik lagunya?” Ah, pertanyaan yang sama ketika temen
nyeletuk pas di konser band ini di Balikpapan. “Mas Adi hapal banget liriknya. Ketahuan
usianya...” Blaiiik...
Antara susah dan
gampang sih, menjawab mengapa banyak lirik masih hapal. Ah, kalian tidak mengerti gimana lirik itu sangat berarti bagi sambalbawnag. Dulu. Iya,laaaaah dulu. Sekarang sih, ya masih, hehe. Hingga detik ini sambalbawang juga tetap ngefans sama dua kakek ini. Tjatet !!
BACA JUGA :
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA
24 FINALIS DUTA WISATA BALIKPAPAN 2017 PAKAI BAJU SAMANTHA
FORD LASER SONIC - BALADA FORDI (2)
HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG UNYIL KUCING
MENGAPA HARUS NGEBLOG
BACA JUGA :
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA
24 FINALIS DUTA WISATA BALIKPAPAN 2017 PAKAI BAJU SAMANTHA
FORD LASER SONIC - BALADA FORDI (2)
HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG UNYIL KUCING
MENGAPA HARUS NGEBLOG
Kamis, 12 Mei 2016
MBANGUN DESA YANG NGANGENI
Iseng-iseng menonton sebuah sinetron, ternyata
daya tahan sambalbawang hanya lima menit. Langsung berpindah saluran agar jiwa lebih sehat. Dan, mendadak teringat sinetron Si Doel Anak Sekolahan, lalu
terlempar lagi ke Mbangun Desa. Ah, yang terakhir ini, berkesan banget.
Mbangun Desa diselingi suasana khas pedesaan yang asyik. Lokasi syuting sering di sawah, kebun, jalanan kampung. Anak-anak sliweran,atau lagi mainan di halaman rumah (tanah). Ayam-ayam berlarian. Unen-unen (tembang) tak ketinggalan. Acara wedangan minum teh, jelas ada. Ahahaha, Jogja bangeeet...
Era 90-an lalu, TVRI Yogyakarta menayangkan "Mbangun Desa", setiap
akhir pekan. Ini sinetron yang sambalbawang rindu dan sepertinya nyaris tidak pernah absen
menontonnya. Tayangan berbahasa Jawa dan kadang dicampur Bahasa Indonesia ini,
betul-betul keren. Bikin gemes, gregetan, lalu ketawa. Akhirnya jadi “candu”,
ketagihan level dewa.
Memang, memang, nuansanya masih berbalut Orde Baru karena
tema tayangannya biasanya diembel-embeli “pesan” pemerintah terkait pembangunan
desa. Topiknya beragam. Dari pentingnya KB, hingga program pertanian, pendidikan, keamanan kampung, dan seterusnya.
Tokoh utamanya, Susilo Nugroho yang berperan sebagai Den
Baguse Ngarso; Heru Kesawa Murti sebagai Pak Bina alias pak kades; Sepnu
Heriyanto sebagai Kuriman; Sudiharjo sebagai Kang Sronto; dan Muji Rahayu sebagai Yu
Sronto.
Dalam dunia nyata, Muji Rahayu ini adalah istrinya Heru
Kesawa Murti. Nah, pak Heru ini juga sebagai penulis naskah Mbangun Desa. Terus, dalam perkembangan sinetron bergenre situasi komedi ini, ada pula sejumlah tokoh lain seperti Yati
Pesek, yang didapuk sebagai istri Den Baguse.
Selama 30-an menit, Mbangun Desa diisi suasana, obrolan,
intrik, "adu mulut" dan gambaran-gambaran yang “desa banget”. Den Baguse, didapuk peran sebagai orang
lumayan kaya di kampungnya, tapi sekaligus sok tahu, sok pinter, sombong, suka perintah sana-sini, maklum "priyayi" sih. Hehe. Den Bagus ini juga sering “tombak cucukan”,
penyebar gosip.
Lalu, Kuriman, si pemuda desa, berambut gondrong, yang temperamental, grusa-grusu, dan kadang berpijak ke kubu yang memberinya keuntungan. Kuriman sepertinya diplot gampang dipengaruhi sana-sini dan ditarik kesana-kemari, Tapi hatinya, baik, loh. Kuriman sering tampil sebagai pemuda desa yang apikan, gapyak, dan mengomando gotong-royong.
Pak Bina, si tokoh bijaksana, mengambil porsi sebagai penengah dan pembuat solusi. Apapun masalahnya, dia bisa dimintai saran. Dia dihormati warga karena sederhana, otaknya "mlethik" alias cukup moncer. Namun kadang-kadang ya salah perhitungan, dan rada pelupa. Kadang juga "keminther". Seingat sambalbawang sih, gitu.
Pak Bina, si tokoh bijaksana, mengambil porsi sebagai penengah dan pembuat solusi. Apapun masalahnya, dia bisa dimintai saran. Dia dihormati warga karena sederhana, otaknya "mlethik" alias cukup moncer. Namun kadang-kadang ya salah perhitungan, dan rada pelupa. Kadang juga "keminther". Seingat sambalbawang sih, gitu.
Nah, "duet" Sronto, yang akhirnya akrab dipanggil Sronto
Lanang-Sronto wedhok, menjadi “bumbu” penyegar dan gregetan karena tampang dan karakter ke-ndesoan-nya. Sronto
ini, dalam cerita, adalah orang suruhan (dan kepercayaan) Den Baguse Ngarso. Sronto orangnya lugu, polos, apik'an, sederhana, dan nrimo, tapi karena itu
gampang dikibulin.
Jalinan cerita Mbangun Desa, yang memotret kehidupan desa ini, kadang juga terkait pesan pemerintah. Nah, pesan pemerintah itu jadi asyik “disantap” tatkala para pemeran memang orang “seni” yang berkarakter dan jempolan. Den Baguse sukses bikin saya
sebel sepanjang tayangan, karena kemaki,
kemlethak, jemotos, lah. Sronto, tokoh senior ketoprak ini, juga berhasil bikin saya gemes karena selalu nrimo.
Kekuatan utama Mbangun Desa, ada pada tokoh pemeran yang sudah matang pentas dari panggung ke panggung. Meski, tak bisa dimungkiri, faktor Den Baguse yang juga bernama lain "Ngarso Pareng" ini, yang paling menyita perhatian (karena nyebelin, hehe). Meski sejujurnya, sebagai penonton, kita menanti Den Baguse ini di skak mat oleh Pak Bina dkk, atau sial sepanjang tayangan.
Kekuatan utama Mbangun Desa, ada pada tokoh pemeran yang sudah matang pentas dari panggung ke panggung. Meski, tak bisa dimungkiri, faktor Den Baguse yang juga bernama lain "Ngarso Pareng" ini, yang paling menyita perhatian (karena nyebelin, hehe). Meski sejujurnya, sebagai penonton, kita menanti Den Baguse ini di skak mat oleh Pak Bina dkk, atau sial sepanjang tayangan.
Den Baguse bikin geretan, tapi gregetan pula melihat Sronto yang pasif, tidak pernah
membantah, dan sering diperalat Den Baguse. Yu Sronto terkadang lebih “berani” ketimbang
suaminya, tapi juga hanya satu strip di atasnya. Sami mawon. Tapi, keduanya
saling mendukung.
Kuriman hadir sebagai sosok yang kadang nyebai, kadang
menyenangkan, dan kadang ra dong-an. Tergantung siapa yang memengaruhi, ke
situlah Kuriman berkiblat. Tapi karena
Kuriman termasuk tokoh pemuda, maka penting juga perannya. Urusan mengerahkan pemuda desa, kadang bisa mengandalkan masbro Kuriman ini.
Salah satu dari beberapa tokoh yang muncul belakangan di serial ini, adalah Yati Pesek sebagai
Den Ayune Ngarso. Juga ada anaknya Pak Bina. Yati Pesek misalnya cukup memberi “warna” karena dialah yang ternyata ditakuti Den Baguse
Ngarso. Hohoho. Kalau Den Ayune Ngarso marah, Den Baguse bakal bingung, panik.
Dalam setiap episode, Den Baguse selalu “ngisruh” dan Pak
Bina jadi tukang penjelas situasi. Banyak masalah, akhirnya dipungkasi Pak Bina
yang kalem. Kuriman bisa reda tensinya, Den Baguse bisa manthuk-manthuk sambil
mbesengut. Tapi intinya, ada solusi.
Sering digambarkan, pungkasan cerita sinetron tanpa iklan
ini, semua pihak nglurug ke rumahnya Pak Bina malam-malam. Masalah dibawa ke
forum, dirembug, dan selesai. Semua bisa jabat tangan. Musyawarah mufakat, lah,
intinya.
Tak hanya dapat ketawanya. Tapi ada nilai kebersamaan, kerukunan yang disematkan. Tak ada yang
ngomong SARA, tak ada yang tokoh yang mendelik-mendelik. Nggak ada yang menye-menye. Dan itu tidak ada
di sinetron-sinetron sekarang, yang sudah nggak lucu, ndak mutu pula.
Mbangun Desa diselingi suasana khas pedesaan yang asyik. Lokasi syuting sering di sawah, kebun, jalanan kampung. Anak-anak sliweran,atau lagi mainan di halaman rumah (tanah). Ayam-ayam berlarian. Unen-unen (tembang) tak ketinggalan. Acara wedangan minum teh, jelas ada. Ahahaha, Jogja bangeeet...
Ah, jadi teringat Pak Heru Kesawa Murti, yang meninggal
tahun 2011 lalu. Sambalbawang pernah ketemu beberapa kali, dan tanpa sadar selalu
memanggil dengan “Pak Bina”. Sduah seperti otomatis memanggil demikian. Begitu juga pas ketemu Pak Susilo, manggilnya ya “Den
Bagus”. Saat bersua pak Sudiharjo, sambalbawang pun memanggilnya pak Sronto. Hehe. (Sronto meninggal Juli 2016).
Hiks, sambalbawang beneran kangen Mbangun Desa.... belum nemu dokumentasi tayangannya di youtube...
baca juga :
CHINMI JAGOAN KUNFU KUIL DAIRIN
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
MUSIK ZAMAN DAHULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS?
HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG UNYIL KUCING
YEN ING TAWANG ANA LINTANG
ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA
TENTANG HONDA (1) DARI PISPOT SAMPAI PITUNG
AKU DI BELAKANGMU, TIGER WONG
JURASSIC WORLD VS JURASSIC PARK
TEH NASGITELPET
KONSER REUNI ABBA DALAM BENTUK HOLOGRAM ?
BANYAK MOTOR SEDIKIT MEREK, SEDIKIT MOBIL BANYAK MEREK
baca juga :
CHINMI JAGOAN KUNFU KUIL DAIRIN
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
MUSIK ZAMAN DAHULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS?
HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG UNYIL KUCING
YEN ING TAWANG ANA LINTANG
ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA
TENTANG HONDA (1) DARI PISPOT SAMPAI PITUNG
AKU DI BELAKANGMU, TIGER WONG
JURASSIC WORLD VS JURASSIC PARK
TEH NASGITELPET
KONSER REUNI ABBA DALAM BENTUK HOLOGRAM ?
BANYAK MOTOR SEDIKIT MEREK, SEDIKIT MOBIL BANYAK MEREK
Langganan:
Postingan (Atom)



