Minggu, 19 April 2015
(NYARIS) SEMUANYA MENUNDUK
Tertawa kini tak lagi menjadi menu harian yang bisa mudah digapai bersama. Bahkan hanya sejengkal berlarian, barangkali tak lagi menarik. Teralihkan oleh layar sekian inchi yang mendorong kita agar (terus) dianggap melek teknologi.
Aku merindukan anak-anak bercelana pendek warna merah dan berkemeja putih, berlarian di halaman sekolah. Merindukan mereka bergerombol muncul dari sebuah gang, pada sebuah sore, dengan bola sepak yang mereka tendang-tendang.
Aku merindukan mereka yang menggenggam kelereng dan sepotong kreweng yang ditaruh di kantong celana. Merindukan mereka yang bersemangat menggaris tanah dan berteriak bahwa pertandingan dimulai.
Aku merindukan mereka meronce karet gelang dan saling berdiskusi untuk memilih karet gelang terbaik untuk dirakit menjadi tali. Aku merindukan kibaran rambut anak-anak yang meloncat-loncat tanpa henti sembari tertawa.
Aku merindukan melihat sesosok pria kecil yang pulang ke rumah dalam kondisi dekil namun tertawa girang. Dan orang tua mereka yang menyambut dengan sedikit marah, namun segera memupusya dengan segelas teh hangat.
Aku merindukan mereka, yang menemani sang ibu berbelanja ke pasar dan membantu memasak meski hanya mencucikan sayuran dan mengupas bawang, Aku merindukan mereka yang menyapa sang ayah di kala sore, dan bercengkrama bersama.
Benda ini semakin membuatku marah... Marah pada diri sendiri dan keadaan, tanpa tahu harus berbuat apa. Hanya bisa menghela napas panjang ketika melihat mereka, yang seharusnya berlarian, hanya terpekur di depan layar itu.
Menunduk. Nyaris, nyaris semua anak-anak kini "takluk" pada benda itu. Siapa yang jago main kelereng dan lompat tali, sekarang? Siapa yang masih mau menjamah dapur, untuk memasak menu untuk ayah bundanya?
Keluh...
BACA JUGA
PETE YANG MENGHARUKAN
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019
Kamis, 16 April 2015
TENTANG HONDA (2) DARI ASTREA 700 SAMPAI ASTREA 800
By the way, gimana sih wujud Astrea 700 yang menyambung era Pitung ini? Namanya aja seri awal, Astrea perdana ini jelas terlihat unsur coba-cobanya. Desain berubah banyak dari pendahulunya. Doi tampil kotak, dari batok lampu, spion, tebeng, lampu sein, sampai lampu belakang. Kecuali blok mesin yang masih menganut gaya C70, berikut pengapiannya masih memasang platina.
Penasaran lihat tampang Astrea? Ini nih fotonya, Ndoro. Sambalbawang comot dari internet. Makasih banget untuk yang sudah memajang foto ini.
Barangkali, inilah bebek Honda pertama kali yang bodinya disapu cat warna hitam dan putih, menenami warna klasik sebelumnya: merah dan hijau. Elemen karet mulai banyak disematkan di sini, seperti pembungkus batang spion.
Sayang,
kemunculan si benih Astrea di tahun 1981-1983 tidak mampu segemilang era C50, C70, bahkan C80. Jika ditarik ke
kanan-kiri, saya rasa, itu tak lepas dari para kompetitor. Yamaha, dengan
deretan bebek dua tak-nya, juga mulai mendongkrak dapur pacu. Bebek Kawasaki
dua tak, juga ikut berebut kue, meski tidak bisa dibilang sukses.Keluarlah si Astrea 700 ini, yang jenis pertamanya berkelir hitam dan merah. Dulu, saya yakin, doi sempat ngetop, tapi era tahun 2000-an, makluk ini sudah mulai langka terlihat di jalanan. Seorang kawan bahkan menggeletakkan begitu saja SuperCub-nya di garasi rumah.
Pernah hadir SuperCub Astrea 700 ini di keluarga saya. Tapi, ya tidak terlalu terkesan meski jelas terbukti doi motor harian yang cukup mumpuni dan irit bensin. Desain lampu, sein, lampu belakang, semuanya kaku. Semakin kurang serasi dengan desain knalpot yang canggung antara mempertahankan model cerutu atau mulai membazoka.

Saya mencoba menganalisis sendiri, ah. Jadi, Astrea 800 pada waktu itu, adalah desain tercantik dari para bebek yang ada. Pengapian sudah menganut CDI, bentuk mengotak tapi tidak sekaku kakaknya. Satu lagi, mesin 86 CC si Astrea ini, bener-bener bandel, dan haluuus. Boleh saya bertaruh, inilah varian Honda yang paling halus suara mesinnya (jika motor dalam kondisi terawat).
Pada Astrea 800 inilah, posisi kunci starter pertama kalinya disematkan di posisi patennya yang bertahan hingga kini. Yup di sisi kanan, bawah setang kanan. Perlu dicatat pula, inilah motor Honda pertama yang lampu belakangnya mengotak tiga sudut. Juga, dilindungi dengan “teralis”, meskipun nampak agak wagu.
Astrea 800
inilah generasi bebek Honda pertama yang wajah setangnya berukuran lebar. Agak syok juga sih mengingat bebek sebelumnya pada mungil. Tapi karena ukuran wajah setang yang lebar itulah, melihat panel
instrumennya pun jadi lega. Kalau tidak salah, ada panel penunjuk kondisi oli
mesinnya. Cukup hore pada zaman itu. Kelemahan atau kekurangan Astrea 800, barangkali pada desain kepala yang kegedean. Rada kontras dengan bodi yang masih tergolong mungil dan ban depan belakang yang masih mengadopsi ukuran 2.25 dan 2.50. Haha. Satu lagi kejanggalan, tiang spionnya nggak modis, kepanjangan.
Astrea 800 yang dibikin terakhir tahun 1986, menandai era terakhir Honda memasang konsep tiga percepatan pada bebek-bebeknya. Inilah menariknya. Jujur saja, Astrea yang ini termasuk varian bebek Honda idaman. Suatu saat ingin sambalbawang miliki, dan kendarai naik-turun bukit di Kota Balikpapan.
Tidak untuk menjadikannya motor harian. Hanya, sekadar pengingat dan menuntaskan rasa penasaran pada keunikannya. Karena, saya yakin, pada Astrea 800 inilah, Honda dikenal pertama kalinya sebagai pabrikan yang jago menghasilkan bebek-bebek raja tanjakan.
Salam wek-wek..
BACA JUGA : TENTANG HONDA (3) INILAH STAR'S FAMILY (ASTREA STAR)
BACA JUGA : TENTANG HONDA (1) DARI HONDA PISPOT SAMPAI UNYIL
BACA JUGA : SUPRA GTR 150 SI BEBEK (RASA) SPORT
BACA JUGA : BANYAK MOTOR SEDIKIT MEREK, SEDIKIT MOBIL BANYAK MEREK
BACA JUGA : NASIBMU SUZUKI
BACA JUGA : SUZUKI NEX LINCAH IRIT KALEM
BACA JUGA : MOTOR-MOTOR OKE YANG JEBLOK DI PASARAN
BACA JUGA : 7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
BACA JUGA : LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
BACA JUGA : avanza vs wuling vs xpander
BACA JUGA : LEBIH BAIK NAIK VESPA
BACA JUGA : 24 FINALIS DUTA WISATA BALIKPAPAN 2017 PAKAI BAJU SAMANTHA
BACA JUGA : TENTANG HONDA TIGER
BACA JUGA : FORD LASER SONIC - BALADA FORDI (2)
BACA JUGA : TENTANG HONDA TIGER
BACA JUGA : AKU DI BELAKANGMU, TIGER WONG
BACA JUGA : THE SAMANTHA
BACA JUGA : HORE IKUT LELANG HAPE JADUL
BACA JUGA : MUSIK ZAMAN DAHULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS?
BACA JUGA : "MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
*semua foto diambil dari internet
Rabu, 15 April 2015
AKU, SIANG, DAN MALAM
Aku masih muda, marah, terluka
Selalu terlupa di keramaian kota
Aku ingin menumpahkan murka pada siang
Karena datang terlalu cepat dan pulang terlalu lambat
Aku masih muda, marah, terluka
Sedikit terlupa di pinggiran kota
Aku ingin malam lebih panjang
Resahku ingin bercerita lebih lama
Malam dan siang memang berkawan
Membagi waktu dengan ceria
Malam senang mendekap mesra
Siang senang merangkul seharian
Tapi siang pun sering memarahiku
Dan malam tak mau menimbun perasaan
Mereka enggan membohongi egonya
Memilih untuk mengguncangku
Siang dan malam..
Menidurkan sekaligus membangunkan
Memelukku, memakiku
Tertawa terbahak sambil menunjukku
Malam menyuruhku bermimpi
Siang memaksaku berlari
Mereka hampir berhasil kini
Selangkah lagi, jiwa terkunci
Namun mataku terlalu lelah untuk terlelap
Raga tak cukup kuat untuk terjaga
Aku hanya bisa membiarkan
Siang dan malam bersama-sama.. memelukku
BACA JUGA ARTIKEL LAIN:
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
HANACARAKA AKSARA JAWA YANG INDAH
BASA WALIKAN
NGGUDEG DULU
THE AQUARIAN ?
MAMMAIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
Rabu, 01 April 2015
TENTANG HONDA (1) DARI PISPOT SAMPAI PITUNG
Setelah meluncur kesana-kemari, akhirnya nemu juga penampakan si Unyil. Makasih banget sama yang mempostingnya di internet. Begini nih, tampang Unyil.
Pispot bukan termasuk keluarga pitung alias C70--varian paling legendaris dari jajaran bebek lawasan Honda. Ukuran tubuh, selisih dikit. C70 tidak seperti para "adiknya", alias Si Pitung itu, yang diproduksi lebih massal.
Tapi barangkali karena tampilannya yang mungil, mirip Unyil, tokoh utama di serial anak-anak Si Unyil, yang merajai TVRI di era 70-an. Sebutan Unyil muncul belakangan, karena orang lebih dulu menyebut C50 sebagai Pispot.
Unyil a.k.a Pispot dibikin pertama kali tahun 1958. Bodi dan mesinnya diracik di negeri pembuatnya. Merentang ke belakang, tahun 1958 adalah 13 tahun setelah Kota Hiroshima dan Nagasaki di bom atom oleh Amrik. Peristiwa itu menyegel akhir Perang Dunia II, dan membuat nyaris semua industri di Jepang, rontok.
Namun Jepang cepat bangun dan menyadari bahwa industri otomotifnya--selain elektronik--harus mengejar pertumbuhan ekonomi di barisan depan. Harus ekspansi ke mana-mana. Pengalaman menjajah, ahahaha, nampaknya memberi gambaran bagi para insinyur Jepang bahwa berjualan motor adalah yang paling menguntungkan. Dan, cepat. Apalagi, Jepang sudah berpengalaman soal permesinan.
Hm... tapi mari sejenak kita lihat “peta” otomotif dan sejumput suasana di era akhir 1950 itu. Kebutuhan penduduk bumi akan transportasi, telah terbaca, dan semakin kencang. Di sisi lain, sepeda--yang sampai tahun 1950 jadi favorit--mulai dianggap kurang cepat. Ketika jalanan mulai banyak diperhalus (diaspal), kebutuhan akan sepeda motor, mulai menyusul kebutuhan akan mobil.
Coba sejenak melihat si Unyil periode awal yang lampu depannya nampak “melorot”, tampilannya kan seperti moped. Tapi, perbedaan Pispot dan moped, tentu saja ada dan banyak. Pispot ogah mewarisi “pedal sepeda” ala moped sebagai pengungkit start. Pispot sudah dilengkapi lampu sein, yang itu belum dipunyai personel keluarga moped.
Tentang lampu sein tersebut, boleh jadi merupakan satu kisah unik. Inilah salah satu gebrakan Honda yang "mengguncang". Lha wong Vespa--yang mulai laris di pertengahan tahun 1960--baru menyadari perlunya pakai lampu sein (juga spion) di era 80-an ketika memunculkan varian Exclusive. Berarti Honda selangkah di depan dong? Akur?
Menyoal nama, Pitung mengacu pada era tahun keluarnya varian itu: pitungpuluh. Ini seturut pula kapasitas dapur pacunya, yang dipatok pada 72 CC. Motor ini "meledak" di pasaran. Honda Pitung yang laris manis ini punya julukan lain, lho, yakni “Astuti”. Embuh gimana jalan ceritanya kok bisa demikian, tapi kita amini saja.
Saat itu, motor mesin dua tak lebih dianggap bertenaga, kuat di tanjakan, dan simpel ketimbang empat tak. Namun sebelum pabrikan lain mengambil alih posisi, Honda dengan cerdik meluncurkan varian C70 a.k.a Pitung tersebut. Tonggak kedigdayaan Honda pun, dimulai. Kelak, Kawasaki yang paling duluan mengejar Honda untuk membuat bebek empat tak pertamanya--dengan varian Binter Joy.
Oke, kembali ke Pitung. Tampilannya memang keren bin cakep. Stang lengan kecil tetap dipertahankan. Posisi lampu depan dinaikkan, jadi seakan bertetangga kanan-kiri sama lampu sein yang nonjol keluar dari tangan setang. Dua fairing menjadi sayapnya.
Dari sisi tampang keseluruhan, Pitung masih rada mirip Unyil kecuali beberapa bagian, seperti di lampu depan. Knalpot, suspensi, model rangka, lengkungan, sapit urang, hingga lengan ayun si Pitung, masih Unyil banget. Bodi Pitung hanya mengenal dua warna nampaknya, yakni merah sama hijau.
Beberapa menit berselancar di dunia mbah Google, akhirnya nemu bentuk C70 yang bikin pecinta motor klasik bakal gelisah ingin memiliknya. Gini nih, C70 yang kesohor :
Era pitung sepertinya langsung menyetop era motor gede (moge). Moge dianggap sebagai motor yang kurang praktis dari segi apapun. Hehe, ya iya, lah. Lalu, dari hasil tanya sana-tanya sini, sambalbawang mendapat kesimpulan: Pitung terbayak adalah produksi tahun 1973-1979. Menariknya lagi, efek Honda bebek awal ini bikin Vespa ikut tancap gas.
Coba sejenak kita balik ke Pispot. Motor ini muncul tahun 1958, saat Vespa masih adem-ayem dengan variannya yang lahir di era tahun 1953-1957 dengan ciri khas lampu nangkring di spakbor depan, dan mengusung mesin berkubikasi 150 CC. Vespa pun masih anteng di awal kemunculan Pispot.
Tetapi, pabrikan Italia itu menyadari masifnya Honda. Vespa tersentak, dan segera mencetak skuter bermesin kecil. Lahirlah skuter yang bermesin 90 CC di tahun 1970-1971. Cukup mengejutkan bagi para skuteris saat itu, lantaran varian sebelumnya bermesin gambot 150 CC.
Namun kemunculan Vespa yang bodinya pun mungil ini cukup sukes menjaga keloyalan penggemar Vespa untuk tidak berpindah ke lain hati. Mencomot cerita ayahanda, skuter kecil ini banyak dipakai remaja cewek saat itu. Namun skuter kecil ini memang bukan untuk menghadang Pitung, karena berbeda "genre".
Meski demikian, Vespa terus menggelontorkan deretan variannya seperti Super dan Sprint, direntang kelahiran Pitung. Semakin mulai membaca peluang pasar, Honda pun membikin Pitung secara massal. Sama-sama massal karena Vespa Super dan Sprint juga dibikin secara massal.
Vespa dan Honda sama-sama berjaya di era itu. Namun melihat perbedaan tipikal mesin, persebaran dua motor ini awalnya tersegmentasi. Sambalbawang amati, Vespa yang bermesin 2 tak, menawarkan torsi tenaga melimpah, sehingga "merajai" perbukitan dan pegunungan. Sedangkan Pispot hingga Pitung yang menggembol mesin 4 tak, banyak "dipelihara" di perkotaan dan pedesaan yang topografinya relatif enggak berbukit.
Beruntung dan jelinya Honda, Pitung memang penyempurnaan Unyil. Performa dan wajah Pitung secara sepintas pun, lebih asyik ketimbang pendahulunya. Lebih good looking--lah. Di Pitung, posisi lampu dinaikkan, sehingga lampunya seperti "bertetangga" kanan-kiri sama lampu sein yang nonjol keluar dari tangan setang.
Sedangkan secara wujud, Pitung masih rada mirip sama Unyil. Dari bodi sampai bentuk knalpot, dan suspensi yang masih mengusung tipe lengan ayun. Tebeng plastik kanan-kiri, dan bagian tengah masih menyatu. Tuas chooke menempel di kepala setang, persis di depan mata pengendara. Unyu..dah..
Beranjak ke bagian panel indikator, petunjuk posisi gigi percepatan hanya ada satu lampu, yakni netral. Lampunya berwarna hijau. Hahaha. Rentang kecepatan juga berhenti di angka 100. Oya ada juga panel odometer. Konon kecepataan maksimal Pitung hanya sampai 80 km per jam. Tapi untuk ukuran dulu, sudah lumayan banget. Satu lagi yang menarik, ruang untuk saringan karburator di Pitung, berbentuk mirip lambung manusia.
Di era akhir Pitung, kalau tidak salah tahun 1977, mulai dikenalkan varian yang telah membawa piranti stater elektrik. Ini (kalau tidak salah) era pertama motor bebek yang memakai starter elektrik. Catet, 'Ndan. Jadi penasaran lihat gimana wujud aki (accu), yang ternyata hanya terdiri atas tiga bilik sel ini. Mungilnyaaaaa.
Pitung diproduksi cukup lama, sekitar 13-14 tahun. Beberapa penyegaran, pun, juga dilakukan. Sebagai catatan lagi, selama periode Unyil-Pitung itu, varian Honda juga dikenal sebagai varian "Super Cub", yang secara garis besar, terbagi atas tiga generasi. Generasi pertama, kedua, dan ketiga.
Untuk memberi tempat bagi varian-varian lain, Honda akhirnya menghentikan edisi terakhir Pitung pada tahun 1981, dan meluncurkan Astrea 700. Seperti apa sih fenomena dan wujud Astrea 700? Sabar ya, tunggu tulisan sambalbawang selanjutnya. Ada kok di blog ini. Salam hore.
Lebih Baik Naik Vespa
NASIBMU SUZUKI
SUZUKI NEX LINCAH IRIT KALEM
MOTOR-MOTOR OKE YANG JEBLOK DI PASARAN
FORD LASER SONIC - BALADA FORDI (2)
7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
*semua foto diambil dari sumber internet
Minggu, 29 Maret 2015
BANYAK MOTOR SEDIKIT MEREK, SEDIKIT MOBIL BANYAK MEREK
Padahal, janin pun paham bahwa mayoritas orang Indonesia adalah pengguna motor. Iya,kan? Lantas, apa yang terjadi dan mengapa demikian? Sebelum menganalisis, sambalbawang coba detilkan dulu apa saja merek kendaraan yang beredar, yaks.
Untuk kategori mobil, kita sudah hapal merek yang banyak bertebaran, yakni tiga sekawan asal Jepang: Toyota, Daihatsu, dan Honda. Tapi, negeri Sakura juga punya merek lain semisal Suzuki, Mitsubishi, Isuzu, Nissan, dan Mazda. Setahun terakhir--sejak 2014--muncul merek Datsun yang "lahir kembali" setelah absen 30-an tahun. Sedikit catatan, Datsun era baru ini nebeng Nissan.
Sementara, dari daratan Benua Eropa, diisi merek-merek terkemuka yang sudah mapan, antara lain, BMW, Mercedes-Benz, Volkswagen (VW), Opel, Peugeot, Citroen, Volvo, Renault, hingga Fiat, yang sebagian besar berjenis sedan. Negeri Paman Sam--Amerika Serikat--hanya menyumbang merek Ford serta Chevrolet.
Korea Selatan ikut berebut "kue" meski telat datang, melalui duo KIA dan Hyundai. Kesuksesan negeri ginseng bikin gadget dan piranti elektronik, nampaknya melecut Korsel untuk menyempurnakan jajaran mobil-mobilnya. KIA dan Hyundai, di era 2000-an ibarat belum terdengar. Tapi sekarang? Lihat saja di jalan.
Bagaimana dengan negara sebelah? Bisa dibilang begitu meski belum full penetrasi. Malaysia sudah unjuk gigi melalui Proton. Tapi yang nongol di Indonesia masih terhitung seiprit, kebanyakan berwujud sedan, yang sebagiannya dijadikan armada taksi.
Okey, mari coba kita hitung berapa jumlah merek mobil yang sambalbawang sebutkan di atas. Ada 22 merek ! Itu pun belum memasukkan merek yang jarang berseliweran, yang biasanya kelas premium alias mewah. Misalnya Jaguar, Jeep, Mini, Audi, Subaru, dan Land Rover.
Belum pula merek lain seperti Tata asal India, Cherry asal Tiongkok, dan Holden dari Australia. Jika yang tiga terakhir ini digabung, totalnya jadi 32 merek. Wah.
Ayo coba bandingkan dengan merek-merek motor di Tanah Air yang hanya tiga terbesar diisi Honda, Yamaha, dan Suzuki. Mereka bertahun-tahun anteng tak tergoyahkan, dengan Honda di posisi teratas. Di belakang mereka hanya Kawasaki dan Vespa. Merek negeri pizza itu empat tahun terakhir mulai mencoba gencar menggeber varian-varian barunya (yang matik).
Masih dari Asia, jangan lupakan India yang ikut mengeluarkan beberapa merek. Ada juga motor antik, sport kelas menengah ke atas, dan moge, mohon maaf, tidak saya sertakan dalam tulisan ini. Bukan apa-apa sih, cuma sebagai penyeimbang suasana saja.
Jadi, total jendral, hanya ada lima merek motor yang mengisi nyaris setiap jengkal jalanan kita. Di sini sambalbawang belum memasukkan merek lain seperti Viar, TVS, dan KTM, karena nyaris enggak nampak memenuhi jalanan. Untuk motor angkutan--yang dipasangi bak--tidak saya kalkukasi ya.
Singkat kata, setidaknya hanya ada lima merek motor yang berseliweran di jalanan Negeri ini. Rada-rada ajaib, bukan? Mengapa itu terjadi? Bagaimana bisa pengguna motor yang berlimpah ini, tak disediakan opsi merek yang banyak?
Kalau toh itu tetap bagian opsi, sepertinya hanya sebatas varian yang ditawarkan. Dari ranah motor, ada tipe bebek (cub), matik, hingga motor sport/cowok. Varian itu pun masih "terbelah" terutama di segmen bebek dan matik, khususnya menyangkut volume dapur pacu mesin, utamanya di 100 CC dan 125 CC.
Memang, pilihan warna pada motor lumayan bisa meluaskan lagi pilihan merek yang ditebus dari dealer. Namun, secara prinsip, sami mawon, sama saja. Enggak nemu keasyikannya. Banyak orang, termasuk sambalbawang yang rindu pada varian-varian unik.
Ingatan pun terbang ke Kawasaki Kaze.. (maaf nih terpaksa menyebut merek sama variannya). Berharap masih ada tipe bebek, seperti tertera di brosur yang sambalbawang dapat.
Namun terpaksa deh gigit jari. Kawasaki, pabrikan motor yang dulu di era Perang Dunia II kondang sebagai pembuat mesin kapal dan pesawat itu, ternyata memang tak mengeluarkan lagi tipe bebek sejak dua tahun silam. Sedihnya.
Kawasaki realistis menyempitkan pangsa pasar sesuai kondisi. Pilihan terbaiknya hanya menelurkan tipe sport, dan itulah yang dilakukan. Dari seluruh tipe yang dipajang, termurah adalah Bajaj Pulsar. Namun dia kan tetap bukan Kawasaki.
Mencoba melongok ke Vespa, kondisinya rada setara dengan Kawasaki. Vespa tak bisa bermain di harga murah---dulu pun Vespa tidak dikenal sebagai motor murah. Namun banderol harga yang di atas rata-rata mau tak mau berujung pada menciutnya nyali.
Mereka yang ingin nostalgia sama Vespa dan berharap menemukan skuter kekinian, ya harus mengubur dalam-dalam harapannya. Semua Vespa baru bertransmisi matik. Enggak salah juga Vespa bertransformasi mengikuti tren zaman.
Dua tipe matiknya sudah sambalbawang jajal. Namun, sebagai skuteris penyemplak endog 61 dan sprint 77, sambalbawang memang belum sanggup “mengoper” jiwa dan sensasi-perasaan unik berkendara Vespa dari jenis jadul ke modern.
Mengingat sudah ada tujuh seri Honda pernah singgah di rumah, mulai dari Supercub hingga Revo yang sekarang sambalbawang pakai, nampaknya motor baru dengan merek Honda, bukan opsi menarik. Butuh kuda besi merek lainnya.
Karena belum punya motor matik dan dipicu rasa penasaran, sambalbawang akhirnya memutuskan membeli matik. Karena sudah banyak yang memelihara matik Yamaha, dan selera istri yang suka motor mungil, dipilihlah merek Suzuki.
Sesimpel itu ternyata, urusan memilih motor (dan mereknya). Namun sambalbawang masih belum puas dengan kenyataan bahwa hanya tersedia lima merek motor yang tersedia. Ingin ada motor bebek merek keluaran Eropa. Kalau bisa yang bermerek BMW. Ngarep...
Tapi rasanya itu mustahil karena di luar negeri, tepatnya di negara pembuatnya sono nooo, motor tidak terlalu dipikirkan. Lagipula paling hanya Asia Tenggara dan Afrika yang penduduknya suka (ngefans) montoran.
Pabrikan otomotif di benua sana lebih suka bikin mobil ketimbang motor yang sebiji mesti dijual di Indonesia dengan batasan harga Rp 13 juta-Rp 20 juta. Bisa-bisa pabrikan Eropa dan Amrik downgrade, kalau ngikut harga segitu.
Harga Vespa matik saat ini, bisa jadi sekilas gambaran sahih kisaran harga motor bikinan Eropa. Bisa jadi, jika ada pabrikan asal Eropa bikin motor bebek, harganya bakal minimal Rp 30 juta. By the way, kalau motor bebek yang harga segitu? Tutup mata, dah.
Lagipula, kalangan menengah, konon katanya mulai tumbuh di hampir setiap negara. Bahasa gampangnya, lebih banyak orang yang kuat dan ingin beli mobil. Konsumen motor naik pesat, tapi pembeli mobil juga naik jumlahnya. "Kue" otomotif tetap tersaji.
Produsen mobil pun paham bahwa pemilik mobil lebih bisa dikuras uangnya untuk biaya servis, perawatan, dan pembelian suku cadang. Bukankah nyaris setiap mobil adalah "peserta" rutin bengkel? Ini beda jika dibandingkan dengan "dunia motor".
Sekadar gambaran kecil, motor yang kurang terawat, dan bahkan tak ada aki-nya, masih bisa jalan. Asal hidup mesinnya. Lampu dan sein dibiarkan mati, spion minus kaca, jok robek, pijakan kaki raib, bahkan sampai karburator yang "banjir", bukan masalah.
Beda kondisinya dengan mobil. Rada mustahil membayangkan orang menyetir tanpa lampu depan menyala di malam hari. Apalagi aki-nya bermasalah. Jika motor macet, gampang penanganannya, karena tinggal dituntun ke tepi.
Tapi kalau mobil ngadat, urusan mendorongnya butuh minimal dua orang (Satu ndorong satu nyetir). Serangkaian fakor itu, menurut analisis sederhana sambalbawang, bermuara pada kesimpulan yang sudah terjadi: pabrikan motor yang sanggup eksis ya hanya itu-itu saja.
L4, alias lu lagi lu lagi. Sampai kapan pun, ya begono. Merek mobil ya akan itu-itu saja. Merek motor, apalagi, ya bakalan gitu-gitu doang. Keluh..
BACA JUGA : TENTANG HONDA (1) DARI HONDA PISPOT SAMPAI UNYIL
BACA JUGA : 7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
BACA JUGA : AVANZA VS WULING VS XPANDER
BACA JUGA : TENTANG HONDA (2) DARI ASTREA 700 SAMPAI ASTREA 800
BACA JUGA : MOTOR-MOTOR OKE YANG JEBLOK DI PASARAN
BACA JUGA : LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
BACA JUGA : BALADA JADI "KAUM REBAHAN" GEGARA CORONA
Selasa, 10 Februari 2015
KILAUMU BAGAIKAN MUTIARA
Ini dia foto dik Mutiara sedang beraksi, hasil jepretan saya saat Proliga di Balikpapan, awal Februari 2015.
Sorakan yang ditujukan pada dirinya menggema di ruangan Gedung Convention dan Sport Centre Balikpapan (Dome), sore itu, ditanggapi Mutiara dengan rileks. Konsentrasinya tak terganggu.
Dengan rasa pede yang sepertinya telah mengalahkan usianya, dia bermain cantik. Gedung olahraga ini pun riuh. Mutiara menjadi pemain yang sepertinya ada di mana-mana sepanjang laga. Bola serve-nya pun lumayan, tidak keras menukik-menghujam ke daerah lawan, tapi yang penting sampai.
Mutiara wira-wiri di depan jaring, mencari, membuka ruang, jatuh bangun, dan mengeksekusi kesempatan untuk melambungkan bola yang akan disambar rekannya yang bertubuh lebih menjulang. Senyum terkembang jika timnya dapat poin.
Tapi wajahnya sendu, pasif, yah setidaknya itu ekspresi yang terekam. Seakan mengulang ekspresi beberapa saat yang lalu, ketika poin terakhir kemenangan pada set kelima direbut tim lawan.
Menghadapi pertanyaan wartawan, Mutiara sesekali tersenyum dan mengerutkan kedua bibirnya. Rambutnya yang panjang seleher, dikuncir rapi ke belakang. Kostum tim berwarna merah yang dikenakannya, masih basah oleh keringat.
Saya juga ikut terpana, tentu saja. Tak ketinggalan ikut menjepret wajah gadis manis itu meski kali ini cukup dengan ponsel. Makhluk yang menarik, memang sebaiknya dipotret. Bukankah demikian? He.
Meski begitu Mutiara sesekali jadi bahan obrolan antara para pria jurnalis. Aha. Gadis yang lahir 16 November 1997, atau lima bulan setelah saya masuk kuliah itu (glek), memang fotogenic. Mau dijepret dari sudut mana saja, jadi. Bahkan pula dari arah depan ketika parasnya terhalang jaring net.
Baca Juga :
TEH NASGITEL PET
GATOTKACA TAK HANYA OTOT KAWAT BALUNG WESI
JURASSIC WORLD VS JURASSIC PARK
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
LEBIH BAIK NAIK VESPA
MAMMAMIA FILM MUSIKAL FULL LAGU ABBA



