Minggu, 29 Maret 2015

BANYAK MOTOR SEDIKIT MEREK, SEDIKIT MOBIL BANYAK MEREK

Tema tulisan kali ini enggak penting-penting amat, cuma rada mengusik. Bikin gatal dan gemes jika tidak digaruk, ibaratnya begitu, kalau enggak diungkap. Jadi gini, Sambalbawang heran mengapa jumlah merek mobil yang beredar di jalanan Indonesia, lebih banyak ketimbang merek motor. 


Padahal, janin pun paham bahwa mayoritas orang Indonesia adalah pengguna motor. Iya,kan? Lantas, apa yang terjadi dan mengapa demikian? Sebelum menganalisis, sambalbawang coba detilkan dulu apa saja merek kendaraan yang beredar, yaks. 

Untuk kategori mobil, kita sudah hapal merek yang banyak bertebaran, yakni tiga sekawan asal Jepang: Toyota, Daihatsu, dan Honda. Tapi, negeri Sakura juga punya merek lain semisal Suzuki, Mitsubishi, Isuzu, Nissan, dan Mazda. Setahun terakhir--sejak 2014--muncul merek Datsun yang "lahir kembali" setelah absen 30-an tahun. Sedikit catatan, Datsun era baru ini nebeng Nissan.
    
Sementara, dari daratan Benua Eropa, diisi merek-merek terkemuka yang sudah mapan, antara lain, BMW, Mercedes-Benz, Volkswagen (VW), Opel, Peugeot, Citroen, Volvo, Renault, hingga Fiat, yang sebagian besar berjenis sedan. Negeri Paman Sam--Amerika Serikat--hanya menyumbang merek Ford serta Chevrolet. 
    
Korea Selatan ikut berebut "kue" meski telat datang, melalui duo KIA dan Hyundai. Kesuksesan negeri ginseng bikin gadget dan piranti elektronik, nampaknya melecut Korsel untuk menyempurnakan jajaran mobil-mobilnya. KIA dan Hyundai, di era 2000-an ibarat belum terdengar. Tapi sekarang? Lihat saja di jalan.
     
By the way, kalau ngobrolin merek KIA, sambalbawang jadi inget sama mobil Timor (Kia Sephia) yang mengaspal tahun 1997 lalu saat masih hangat-hangatnya krisis moneter (krismon). Sejumlah mobil Timor bahkan sampai sekarang masih terlihat mengaspal dan mayoritas sudah dipermak.
    
Bagaimana dengan negara sebelah? Bisa dibilang begitu meski belum full penetrasi. Malaysia sudah unjuk gigi melalui Proton. Tapi yang nongol di Indonesia masih terhitung seiprit, kebanyakan berwujud sedan, yang sebagiannya dijadikan armada taksi.
    
Okey, mari coba kita hitung berapa jumlah merek mobil yang sambalbawang sebutkan di atas. Ada 22 merek ! Itu pun belum memasukkan merek yang jarang berseliweran, yang biasanya kelas premium alias mewah. Misalnya Jaguar, Jeep, Mini, Audi, Subaru, dan Land Rover.
   
Belum pula merek lain seperti Tata asal India, Cherry asal Tiongkok, dan Holden dari Australia. Jika yang tiga terakhir ini digabung, totalnya jadi 32 merek. Wah.
    
Ayo coba bandingkan dengan merek-merek motor di Tanah Air yang hanya tiga terbesar diisi Honda, Yamaha, dan Suzuki. Mereka bertahun-tahun anteng tak tergoyahkan, dengan Honda di posisi teratas. Di belakang mereka hanya Kawasaki dan Vespa. Merek negeri pizza itu empat tahun terakhir mulai mencoba gencar menggeber varian-varian barunya (yang matik). 
   
Masih dari Asia, jangan lupakan India yang ikut mengeluarkan beberapa merek. Ada juga motor antik, sport kelas menengah ke atas, dan moge, mohon maaf, tidak saya sertakan dalam tulisan ini. Bukan apa-apa sih, cuma sebagai penyeimbang suasana saja.
    
Jadi, total jendral, hanya ada lima merek motor yang mengisi nyaris setiap jengkal jalanan kita. Di sini sambalbawang belum memasukkan merek lain seperti Viar, TVS, dan KTM, karena nyaris enggak nampak memenuhi jalanan.  Untuk motor angkutan--yang dipasangi bak--tidak saya kalkukasi ya.
    
Singkat kata, setidaknya hanya ada lima merek motor yang berseliweran di jalanan Negeri ini. Rada-rada ajaib, bukan? Mengapa itu terjadi? Bagaimana bisa pengguna motor yang berlimpah ini, tak disediakan opsi merek yang banyak?
    
Kalau toh itu tetap bagian opsi, sepertinya hanya sebatas varian yang ditawarkan. Dari ranah motor, ada tipe bebek (cub), matik, hingga motor sport/cowok. Varian itu pun masih "terbelah" terutama di segmen bebek dan matik, khususnya menyangkut volume dapur pacu mesin, utamanya di 100 CC dan 125 CC.

Memang, pilihan warna pada motor lumayan bisa meluaskan lagi pilihan merek yang ditebus dari dealer. Namun, secara prinsip, sami mawon, sama saja. Enggak nemu keasyikannya. Banyak orang, termasuk sambalbawang yang rindu pada varian-varian unik. 
    
Ingatan pun terbang ke Kawasaki Kaze.. (maaf nih terpaksa menyebut merek sama variannya). Berharap masih ada tipe bebek, seperti tertera di brosur yang sambalbawang dapat. 
      
Namun terpaksa deh gigit jari. Kawasaki, pabrikan motor yang dulu di era Perang Dunia II kondang sebagai pembuat mesin kapal dan pesawat itu, ternyata memang tak mengeluarkan lagi tipe bebek sejak dua tahun silam. Sedihnya.
    
Kawasaki realistis menyempitkan pangsa pasar sesuai kondisi. Pilihan terbaiknya hanya menelurkan tipe sport, dan itulah yang dilakukan. Dari seluruh tipe yang dipajang, termurah adalah Bajaj Pulsar. Namun dia kan tetap bukan Kawasaki.
    
Mencoba melongok ke Vespa, kondisinya rada setara dengan Kawasaki. Vespa tak bisa bermain di harga murah---dulu pun Vespa tidak dikenal sebagai motor murah. Namun banderol harga yang di atas rata-rata mau tak mau berujung pada menciutnya nyali. 
    
Mereka yang ingin nostalgia sama Vespa dan berharap menemukan skuter kekinian, ya harus mengubur dalam-dalam harapannya. Semua Vespa baru bertransmisi matik. Enggak salah juga Vespa bertransformasi mengikuti tren zaman.
    
Dua tipe matiknya sudah sambalbawang jajal. Namun, sebagai skuteris penyemplak endog 61 dan sprint 77, sambalbawang memang belum sanggup “mengoper” jiwa dan sensasi-perasaan unik berkendara Vespa dari jenis jadul ke modern. 
    
Mengingat sudah ada tujuh seri Honda pernah singgah di rumah, mulai dari Supercub hingga Revo yang sekarang sambalbawang pakai, nampaknya motor baru dengan merek Honda, bukan opsi menarik. Butuh kuda besi merek lainnya. 
    
Karena belum punya motor matik dan dipicu rasa penasaran, sambalbawang akhirnya memutuskan membeli matik. Karena sudah banyak yang memelihara matik Yamaha, dan selera istri yang suka motor mungil, dipilihlah merek Suzuki.
   
Sesimpel itu ternyata, urusan memilih motor (dan mereknya). Namun sambalbawang masih belum puas dengan kenyataan bahwa hanya tersedia lima merek motor yang tersedia. Ingin ada motor bebek merek keluaran Eropa. Kalau bisa yang bermerek BMW. Ngarep...
   
Tapi rasanya itu mustahil karena di luar negeri, tepatnya di negara pembuatnya sono nooo, motor tidak terlalu dipikirkan. Lagipula paling hanya Asia Tenggara dan Afrika yang penduduknya suka (ngefans) montoran.


Pabrikan otomotif di benua sana lebih suka bikin mobil ketimbang motor yang sebiji mesti dijual di Indonesia dengan batasan harga Rp 13 juta-Rp 20 juta. Bisa-bisa pabrikan Eropa dan Amrik downgrade, kalau ngikut harga segitu.     
   
Harga Vespa matik saat ini, bisa jadi sekilas gambaran sahih kisaran harga motor bikinan Eropa. Bisa jadi, jika ada pabrikan asal Eropa bikin motor bebek, harganya bakal minimal Rp 30 juta. By the way, kalau motor bebek yang harga segitu? Tutup mata, dah.
   
Lagipula, kalangan menengah, konon katanya mulai tumbuh di hampir setiap negara. Bahasa gampangnya, lebih banyak orang yang kuat dan ingin beli mobil. Konsumen motor naik pesat, tapi pembeli mobil juga naik jumlahnya. "Kue" otomotif tetap tersaji.
   
Produsen mobil pun paham bahwa pemilik mobil lebih bisa dikuras uangnya untuk biaya servis, perawatan, dan pembelian suku cadang. Bukankah nyaris setiap mobil adalah "peserta" rutin bengkel? Ini beda jika dibandingkan dengan "dunia motor".
    
Sekadar gambaran kecil, motor yang kurang terawat, dan bahkan tak ada aki-nya, masih bisa jalan. Asal hidup mesinnya. Lampu dan sein dibiarkan mati, spion minus kaca, jok robek, pijakan kaki raib, bahkan sampai karburator yang "banjir", bukan masalah.
   
Beda kondisinya dengan mobil. Rada mustahil membayangkan orang menyetir tanpa lampu depan menyala di malam hari. Apalagi aki-nya bermasalah. Jika motor macet, gampang penanganannya, karena tinggal dituntun ke tepi. 
     
Tapi kalau mobil ngadat, urusan mendorongnya butuh minimal dua orang (Satu ndorong satu nyetir). Serangkaian fakor itu, menurut analisis sederhana sambalbawang, bermuara pada kesimpulan yang sudah terjadi: pabrikan motor yang sanggup eksis ya hanya itu-itu saja. 
     
L4, alias lu lagi lu lagi. Sampai kapan pun, ya begono. Merek mobil ya akan itu-itu saja. Merek motor, apalagi, ya bakalan gitu-gitu doang. Keluh.. 

Selasa, 10 Februari 2015

KILAUMU BAGAIKAN MUTIARA

“Mutiara.... Mutiara...Mutiara”

Namanya Tri Retno Mutiara. Kulitnya kuning langsat, tinggi badan semampai, matanya bulat-bening, giginya berderet rapi, dan senyumnya dilempar dengan intensitas yang "irit". Gadis ini berusia 17 tahun ini, sedap dipandang, dan seorang atlet bola voli. Tjakep.

Ini dia foto dik Mutiara sedang beraksi, hasil jepretan saya saat Proliga di Balikpapan, awal Februari 2015.


Sorakan yang ditujukan pada dirinya menggema di ruangan Gedung Convention dan Sport Centre Balikpapan (Dome), sore itu, ditanggapi Mutiara dengan rileks. Konsentrasinya tak terganggu. 

Dengan rasa pede yang sepertinya telah mengalahkan usianya, dia bermain cantik. Gedung olahraga ini pun riuh. Mutiara menjadi pemain yang sepertinya ada di mana-mana sepanjang laga. Bola serve-nya pun lumayan, tidak keras menukik-menghujam ke daerah lawan, tapi yang penting sampai.

Mutiara, tosser asal tim Jakarta Electric itu hanyut dalam permainan ketika puluhan lensa kamera para wartawan mengarah padanya, membidik gerakan demi gerakannnya. Mengambil fotonya dalam format close-up, tentu saja tidak dilewatkan. 

Mutiara wira-wiri di depan jaring, mencari, membuka ruang, jatuh bangun, dan mengeksekusi kesempatan untuk melambungkan bola yang akan disambar rekannya yang bertubuh lebih menjulang. Senyum terkembang jika timnya dapat poin. 

Hampir dua jam berlalu, laga pun usai. Di saat teman setim mengaso, Mutiara mewakili mereka. Mutiara duduk di ruangan khusus untuk media, bersiap menggelar jumpa pers, bersama sang pelatih. Pertanyaan demi pertanyaan, diladeninya.

Tapi wajahnya sendu, pasif, yah setidaknya itu ekspresi yang terekam. Seakan mengulang ekspresi beberapa saat yang lalu, ketika poin terakhir kemenangan pada set kelima direbut tim lawan.

Menghadapi pertanyaan wartawan, Mutiara sesekali tersenyum dan mengerutkan kedua bibirnya. Rambutnya yang panjang seleher, dikuncir rapi ke belakang. Kostum tim berwarna merah yang dikenakannya, masih basah oleh keringat. 

“Cantik, betul,” gumam salah satu wartawan sembari mengarahkan kamera berkali-kali ke sosok yang selama pertandingan putara pertama Proliga ini, menyita perhatian penonton. 

Saya juga ikut terpana, tentu saja. Tak ketinggalan ikut menjepret wajah gadis manis itu meski kali ini cukup dengan ponsel. Makhluk yang menarik, memang sebaiknya dipotret. Bukankah demikian? He. 

Balik ke cerita, usai jumpa pers, para wartawan kembali menjalankan tugasnya membuat berita dan segera "melupakan" Mutiara ketika deadline tak mau diajak kompromi. Apalagi, hari itu tak hanya satu pertandingan. 

Meski begitu Mutiara sesekali jadi bahan obrolan antara para pria jurnalis. Aha. Gadis yang lahir 16 November 1997, atau lima bulan setelah saya masuk kuliah itu (glek), memang fotogenic. Mau dijepret dari sudut mana saja, jadi. Bahkan pula dari arah depan ketika parasnya terhalang jaring net.

Jepretan foto dari ponsel saya termasuk paling jelek. Tapi tak apalah, toh saya juga akhirnya dikirimi foto dik Mutiara dari seorang kawan. Tentu, dengan angel yang lebih cihui.

Foto-foto close up dik Mutiara memang asyik. Tetapi menurut pendapat saya, sepertinya lebih mengasyikkan melihat Mutiara berjibaku di lapangan dan menepuk-nepuk bola, daripada melihat dia duduk manis di kursi. Ehm.

Karena itulah saya asyik memperhatiannya ketika dia melakukan serve, ketika mencoba mengeblok bola, hingga ketika mengumpan dengan jitu. Tentu saja, banyak pemain lain lebih mahir dari dia.  

Dik Mutiara tertawa riang ketika timnya mendapat poin. Dia mengepalkan tangan ketika bola darinya membuahkan angka. Dan wajahnya murung ketika timnya kalah.

Tapi Dik Mutiara masih mau (atau entah kebetulan) melemparkan senyum ketika dia saya panggil, beberapa saat usai jumpa pers di ruang sebelah selesai. Memang hanya senyum basa-basi, sih, tapi tak apa-apa. Bisa buat cerita ke anak-cucu, nih.

Mengingat dik Mutiara itu, saya jadi teringat lagu. Liriknya begini: Kilaumu Bagaikan mutiara... (mencomot lirik lagunya Dewa19 di lagu Restu Bumi). Ah, ah, myehehe... 


Baca Juga  :  
TEH NASGITEL PET
GATOTKACA TAK HANYA OTOT KAWAT BALUNG WESI
JURASSIC WORLD VS JURASSIC PARK
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
LEBIH BAIK NAIK VESPA
MAMMAMIA FILM MUSIKAL FULL LAGU ABBA

Minggu, 08 Februari 2015

MARI BERENANG, SIAPA TAKUT ?


Mari Berenang, Siapa Takut ??

Beberapa kali sambalbawang naik ketinting--kapal kayu bermesin tunggal--menyusur sejumlah sungai di Kalimantan Timur dan Utara. Satu sensasi, pastinya. Selalu begitu. Sungai Mahakam, Kayan, Segah, Krayan, Sangatta, adalah beberapa yang pernah sambalbawang susuri. Termasuk juga perairan Derawan, yang nota bene adalah bagian dari Selat Makassar.

      Begitu masuk “kokpit” ketinting maupun speedboat, mata ini biasanya langsung mencari di mana life jacket. Sambalbawang cukup bisa berenang (ala-ala sih) namun jelas belum selevel mas-mas pengemudi (motoris) kapal yang sejak kecil akrab dengan sungai dan laut. Bahkan juga tidak semahir anak-anak SD yang sering latihan di kolam renang.

    Sebagai manusia yang amat sangat tidak terlalu mahir berenang, level berenang sambalbawang, ada di kategori sangat "beginner". Perenang tipe kolam renang sejati, lah. Berenang yang beneran santai, slow, bahkan mungkin kelewat santai. Tak ketinggalan memakai kacamata renang yang wajib rapat, senam-senam kecil sebelum mencebur, dan hanya menempuh rute sangat pendek. Satu lagi aturan wajib para perenang amatir ini, yakni, jangan terlalu jauh dari tepi kolam.

   Karena itulah, sambalbawang sadar diri jangan gegabah jika berurusan dengan air. Entah itu di sungai, laut, maupun kolam renang. Pengalaman empat kali nyaris tenggelam--sekali di laut, tiga kali di kolam renang--saat masih belajar dulu, masih lumayan membekas. Mengingatkan bahwa phobia air belum sepenuhnya sirna.

     Dan betul saja, beberapa waktu lalu saat nyemplung di perairan Sangalaki, Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kaltara, itu (tenggelam) hampir saja terjadi. Lelah karena sebelumnya "slulap-slulup" tak kenal waktu di Danau Kakaban, dan perairan Derawan, membuat terlena. Yup betul, ikan-ikan Nemo dkk yang nyelap-nyelip di karang itu sukses membuat lupa waktu.

    Sejumlah pari manta yang berada di depan mata, memaksa sambalbawang menepikan lelah yang  mendera sejak setengah jam sebelumnya. Segera mencebur ke laut. Seorang warga yang menjadi penunjuk jalan ke mana arah berenang, langsung mengkode untuk cepat mengikutinya. Menunjukkan lagi titik snorkeling yang asyik. Orait. Bungkus !

    Asyik bersnorkeling, mas tadi merasa saya bisa ditinggal. Lalu beralihlah dia ke titik lain. Saat itulah baru sadar kalau badan ini sudah 100 meter-an dari spedboat. Perasaan masih tenang. Air tidak masuk kacamata, juga mulut. Namun tiba-tiba paha kanan saya kram. Masih agak tenang. Sambalbawang lalu memutuskan balik ke speedboat.

    Namun baru beberapa kayuhan, kramnya tambah kencang. Malah sepertinya perut juga mulai kaku. Panik menyergap. Tenaga mulai terkuras, dan mendadak badan lemas. Barulah terasa bahwa dua kali sesi nyelam santai ber-snorkeling sebelumnya, beneran takaran overdosis bagi sambalbawang. Stamina sudah terkuras separuh duluan, sebelum nyebur ke perairan Sangalaki ini. Kombinasi salah.

    Dan, ternyata memang sambalbawang tidak kuat lagi berenang karena sebelah kaki mulai kram. Punggung kaki sudah menekuk-kuk ke bawah. Panik makin menyergap. Tinggal dua tangan yang masih bisa mendayung air, dan itu bukan opsi menarik. Saya lihat mas pemandu kok ya jauhnya 50-an meter. Jarak segitu, mendadak seperti jauh banget.

    Akhirnya sambalbawang memilih teriak. “Oi Maaaas, aku kraaam !!”. Tangan melambai ke arah kamera, eh ke si-mas tadi. Syukurlah, dia segera mendengar teriakan parau bin tercekat ini, dan cepat menghampiri. Singkat cerita sambalbawang bisa selamat dipulangkan ke speedboat, tanpa ada kisah sempat tenggelam. Lega.

   Lho sebentar, kok bisa mengapung, padahal kan sudah kram? Juga sudah panik, kan? Hm, ya bisa aja, dong, karena sambalbawang memakai.... life jacket. Memakai dengan benar. Jadi badan tinggal disetel mengambang doang sewaktu kram tadi.  Ternyata harus gini ya (nyaris kelelep) untuk beneran merasakan manfaat perlunya antisipasi.

   Namun, nampaknya di kehidupan nyata seputar transportasi air, life jacket tidak populer. Tiga minggu terakhir misalnya, sudah terjadi tiga kecelakaan sungai di Kaltim dan Kaltara, menimpa dua speedboat dan satu feri kayu. Delapan orang terseret arus.

   Tahun 2012 lalu, sebuah kapal juga tenggelam di Sungai Mahakam, Kabupaten Kutai Timur dan merenggut nyawa 28 orang. Astaga. Salah satu benang merahnya adalah, sepertinya banyak penumpang yang tidak mengenakan life jacket.

   Seorang yang mahir berenang pernah cerita bahwa kemampuan berenang tak terlalu membantu jika nekat melawan arus deras, maupun dalam kondisi tertentu. Misalnya kepala terbentur benda keras atau kita malah dipeluk orang yang panik karena tidak bisa berenang.

   Intinya, untuk bisa berenang tentu harus dalam kondisi sadar dan memahami cara menyelamatkan diri. Tetapi sebelum itu, lebih baik tetap memakai life jacket sebelum mencebur atau tercebur ke air. Tinggi manusia dewasa ada di rentang 150-200 cm.

     Dengan kata lain, air kedalaman dua meter di kolam renang pun sudah bisa menenggelamkan manusia. Sambalbawang jadi memahami ketakutan orang pada air sehingga skill berenang tampaknya hanya dikuasai sebagian kecil manusia di bumi. 

   Banyak teman sambalbawang yang pobia air, bahkan ada di level akut. Benar-benar takut mencebur meskipun itu di kolam renang. Saya sebetulnya ya pobia air karena baru bisa berenang menjelang lulus kuliah. Pobia tingkat tinggi, malah. Beneran, bukan sulap bukan sihir.

   Namun karena dorongan beberapa teman dan keinginan menemani bapak tercinta menyelam di dasar kolam renang, akhirnya dalam tempo 3-4 bulan, sambalbawang akhirnya bisa berenang. Namun, jika skill berenang terentang nilai 0-100, nilai sambalbawang adalah (pasti) 30 maksimal. Saking parahnya.

   Tapi tak apalah. Setidaknya mengenakan life jacket jika snorkeling di laut, maupun danau, cukup membantu ketenangan diri. Atau jika di kolam renang, ya berenang dekat-dekat tepian. Satu lagi, kacamata renang wajib menempel ke mata. Apalagi jika nyempung kolam renang.  Jadi, mari kita berenang dan snorkeling ke sana dan ke sini.
(NB: foto sambalbawang berenang di Derawan akhir 2014)



BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
EVEREST
MENGAPA HARUS NGEBLOG

Rabu, 21 Januari 2015

MENANG

MENANG

Sekian detak waktu yang silam
Kuhampiri dia dalam keheningannya
Mencoba menyapa, di suatu senja yang patah
Mengais sejumput senyum nan manis

Sekian hari berlalu cepat tanpa terhitung
Entah berapa sering mimpi terentang
Dan selalu mendapat senyum yang manis
Namun senantiasa terasa pahit menyentak

Tidak ada yang berawal, tidak ada yang selesai
Begitu katamu, dalam suatu percakapan yang garing
Seketika membuatku terdiam
Mencari jawabannya di sela-sela waktu yang memburu
Berharap menemukan pembenaran sesaat

Ini adalah tentang aku, begitu katamu
Tak ada yang bisa mengubah, tak ada yang berubah
Dan tak ada yang salah dan disalahkan
Karenanya, tak ada yang mesti berbenah
Katamu lagi, jangan juga waktu dipatri sebagai alasan

Aku tertawa, kamu pun terbahak
Kamu memberiku senyum yang manis nan pahit
Kuberikan padamu tatapan pahit yang manis
Aku mengangkat koperku, pulang
Aku yang menang 

  

BACA JUGA ARTIKEL LAIN
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019

Minggu, 18 Januari 2015

WHERE ARE YOU ?

         Ternyata, tidak gampang menumbuhkan nada. Bahkan memunculkan sepenggal lirik, pun, seakan tak kuasa. Berjam-jam sambalbawang memeluk gitar, dan menggumam ratusan kali suara yang diinginkan menjadi nada. Ah, tidak pernah jadi.
        Merentang sekian kemungkinan bunyi, siapa tahu mengerucut menjadi alunan lagu, setidaknya satu bait. Mengais imajinasi, berharap menjumpai secercah irama yang bisa membuatku berseru : Aha. Namun itu belum kunjung tiba.
       Berganti ke ukulele yang mungil, tetap sama. Hanya meluncurkan beberapa tembang yang kemudian berujung memarkir kembali benda itu. Kembali beranjak meraih gitar, menyentak senar demi senar, penggal demi penggal.
      Tapi entah, lidah tetap kelu, angan masih buntu. Jemari masih tertahan pada enam dawai ini. Terlalu sulit mencipta lagu sekarang, sementara lagu-lagu lama, terbuang tanpa sempat terekam dalam kertas maupun pita. 
      Betapa mengasyikkan mencipta lagu, seperti saat-saat dahulu. Ketika masih merentang asa dan mimpi. Seperti bermain judi, tanpa tahu apakah itu kan terwujud. Beberapa mimpi dan asa itu kini telah terbeli, tetapi aku masih ingin bermimpi.
     Masih juga ingin menggantung asa kembali. Seperti dahulu, lelaki kecil berbadan kurus yang memegang erat gitarnya sembari menatap langit di kala malam. Yang bisa menertawai siang dan sore, tapi tergetar menjelang senja.
      Lelaki kecil yang sudah tidak lagi kecil itu, kini masih memeluk gitarnya. Berjuang menguras energi dengan jemari tangannya di atas dawai. Nada itu pasti bisa dicari. Nada itu pasti nanti menghampiri, dan tertangkap.
      Begitulah...
     
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA :

Rabu, 07 Januari 2015

THIS BOY

That boy took my love away,
Oh, he'll regret it someday,
But this boy wants you back again.
That boy isn't good for you.
Though he may want you too.
This boy wants you back again.
Oh, and this boy would be happy.
Just to love you, but oh my.
That boy won't be happy.
Till he's seen you cry.
This boy wouldn't mind the pain.
Would always feel the same.
If this boy gets you back again.

      Sambalbawang menyanyikan lagu ini di depan teman-teman SD, lebih 25 tahun silam. Memberanikan diri melantangkan lagu itu, padahal belum paham cara melafalkan, apalagi arti liriknya.

     This Boy, judul lagu ini, penyanyi aslinya The Beatles, grup yang melegenda di era 60-70an. Entah mengapa, atau sengaja maupun tidak, itulah lagu Beatles pertama yang sambalbawang hapalkan liriknya.

      Kenangan akan lagu itu tiba-tiba muncul ketika beberapa waktu lalu sebuah televisi menayangkan cuplikan lagunya. 


       This Boy, menepikan sejenak lagu-lagu Beatles lain yang abadi. Seperti Hey Jude, Yesterday, She Loves You, Please-Please Me, Obladi-Oblada, The Ballad of John and Yoko, dan Something.
     
       Demikian juga Oh Darling, Help, Strawberry Fields Forever, I Saw Her Standing There, Come Together, Across The Universe, hingga A Hard Days Night. Semua lagu itu tak lekang dimakan waktu.

       Namun This Boy-lah yang pertama bisa sambalbawang cerna dan nyanyikan. Bersamaan dengan euforia mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals. Memantengin radio seakan itu harta karun.

        Menyimak liriknya, This Boy dapat diartikan lagu yang bercerita tentang seorang anak laki-laki. Dia cinta dengan seorang perempuan yang merupakan pacar anak laki-laki lain.

      Sedih, ya. Emang. Tapi percayalah bukan semangat kesedihan itu yang saya sertakan ketika menyanyikan This Boy, dulu. Malah sambalbawang menyanyikan dengan mantap.

      Dan, malam ini, saya mau nyanyi lagu itu dulu. Mencoba mengingat kira-kira dulu saya nyanyinya bagaimana. Siap-siap dulu. Mana gitar, mana gitaaar? 


BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
THE BEATLES FOREVER 
 



Jumat, 02 Januari 2015

RESOLUSI TAHUN 2015

Saat akhir tahun, banyak orang mematok resolusi untuk tahun depan. Begitu juga sambalbawang di akhir tahun 2014, merentang resolusi alias keinginan untuk tahun 2015.

Keinginan pertama adalah "memelihara" Harmankardon, audio yang konon ciamik. Yang penampakannya di toko dibanderol minimal 3-4 juta. Alkisah, suara si doi, melenting, jernih, merdu, dan gandem. Cocok buat nyetel lagu-lagu jadul agar semakin “hanyut”.

Yang kedua, travelling sama istri ke Bali dan ke Jepang. Sumpah saya belum pernah berwisata ke pulau dewata. Cuma sempat sekali menapak, ketika pesawat transit ke Bandara Ngurah Rai sebelum lanjut ke NTT. Itu pun sambalbawang mendekam di pesawat.

Kalau ke Jepang, hm ini motivasi terselubung. Kalkulasi dan kalkulatornya mesti canggih dan presisi agar uang tidak tekor. Pengen salaman sama Ninja, dan anjangsana ke museumnya. Dan syukur-syukur jika bisa berpapasan sama pengarang komik Doraemon, dan juga artis Maria Ozawa. Aha.. (sluurp)

Keinginan ketiga, ingin ada makluk baru terbuat dari besi di garasi yang bernama Glpro. Doi motor idaman di era 90-an yang tak sempat terbeli, tepatnya, tidak kuat terbeli. Sekarang harganya si GL ini berkisar Rp 5-6 juta. Kalau toh duit sudah ada, tetapi mau dapat di mana coba tuh kendaraan?

Karenanya, jika bisa mengembat Glpro ya syukur, apalagi kalau kondisinya terawat. Tapi kalau tak dapat, ya tetap syukur. Mungkin level obsesi diturunkan ke Yamaha V75. Untuk mengenang kisah-kasih selama kuliahan, yang lebih banyak pahitnya sih, hahahaha.

Resolusi keempat, merestorasi Fordi. Gerobak satu ini udah uzur, sudah hampir berusia seperempat abad. Sudah mulai agak rewelan dan walau tidak mogok total. Sudah mulai harus ganti sejumlah onderdil. Awal tahun fordi rencananya, operasi perut dulu, karena oli mesin-transmisi merembes. 

Sesudahnya, mengaktifkan musik di kabin fordi. Spiker-nya sih masih komplet. Mungkin tape player Clarion yang masih nempel, harus dievakuasi, untuk diganti CD player. Pernah tanya ke toko varasi, harganya Rp 1,5 juta termasuk ongkos pasang. Duh...

Resolusi kelima, membeli sepeda gunung untuk nemenin mas Polygon di rumah. Agar bisa naik-naik ke puncak gunung sama bini. Dengan kenyataan 70 persen wilayah Balikpapan berupa perbukitan, rasa-rasanya sepeda MTB paling cocik.

Meski memang, sepeda onthel ya bukan berarti tidak cocok. Campuran besi-baja bikinan 60-80 th silam, memang nyaman dipancal, tetapi rada kurang safety jika jalanan naik turun tidak karuan.

Resolusi keenam adalah “membangun” Vespa Sprint 77. Doi sudah cukup sip, tapi masih kurang sip. Perbaikan di tangki dan kaki-kaki nampaknya bisa lebih membuatnya nyaman dan mantap digeber. Ah, sayangnya harus pelan-pelan. 

Resolusi ketujuh, mengumpulkan semua VCD orisinal dokumenter tentang perang dunia kedua. Butuh kerja ekstra keras, karena masih jauh dari selesai. Baru terkumpul 3-4 CD. Obsesi: menebus kumpulan VCD Word War II di Gramedia yang total jendral 12 CD dibanderol Rp 750.000. Melihat rekening tabungan, nyali jadi ciut.

Resolusi kedelapan, mempunyai tanaman cabai yang tumbuh subur. Sebenarnya udah pernah punya tiga tanaman cabai di rumah Balikpapan, dan sudah panenan beberapa kali. Tapi entah mengapa ketiganya lalu layu, karena dicabut si kucing garong. Kucignya jahat..

Resolusi kesembilan, memiliki gitar listrik, satu saja. Dulu pernah punya gitar listrik tapi ada kawan yang menelikung dari belakang. Sebel, tapi mau bagaimana lagi. Cukup sudah jadi sinterklas bagi orang lain, bukan?

Pokoknya akan beli, walau tidak tahun ini, pun tahun depan. Someday, lah, pasti teraih. Untuk membawa pulang gitar listrik ini dari toko, mesti menyiapkan tunai Rp 5 juta. Itu estimasi termurah untuk gitar listrik, ditambah amplifier, pencetan kaki, dan perkabelan. 

Resolusi yang terakhir, cukup syerem, yaitu memelihara ular. Yang ini paling mustahil terealisasi karena sejumlah alasan. Pertama, istri bisa pingsan, mengingat binatang melata ini termasuk urutan pertama satwa yang bagi dia "nggilani".

Padahal hanya pengen melihara ular kobra, koq, satu ekor saja, cukup. Lengkap dengan kurungan yang 100 persen aman sehingga si kobra tidak bisa lolos keluar. Kalau kobra nggak boleh, mungkin yang tidak berbisa semacam sanca. 

“Tidak!” kata istri sambalbawang, dengan galaknya... (keluh)..

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019
BASA WALIKAN