Selasa, 21 Agustus 2018

KONSER REUNI ABBA DALAM BENTUK HOLOGRAM ?

ABBA, supergrup asal Swedia di era 70-an, bakal menggelar tur lagi tahun 2019, setelah tur terakhir mereka tahun 1977 lalu. Jelas saja ini kabar yang dinanti sekaligus mengagetkan bagi para fans ABBA yang sudah menanti, bahkan nyaris bermimpi, atau malah sudah bermimpi selama 40-an tahun, berharap mereka suatu saat menggelar reuni.
ABBA adalah salah satu “keajaiban” musik Swedia, juga (musik pop) dunia. Mereka membawa corak musik baru, euro pop, untuk mengajak seluruh dunia berdansa dalam warna musik yang baru, yang fresh. Selama kurun waktu tahun 1974 hingga tahun 1982, ABBA sudah membukukan 8 album yang sukes di pasaran dengan angka penjualan menembus lebih 400 juta keping. Hanya segelintir grup band di muka bumi yang sanggup mencetak rekor tersebut, yang antara lain juga ditorehkan The Beatles.
Dan ketika ABBA bubar, penikmat musik--yang tidak hanya fans ABBA--pun berduka. Terimbas dari hebatnya dampak perceraian—keempat personelnya pernah saling menikah—ABBA pun akhirnya retak. Mereka sepertinya tidak pernah secara gamblang menyatakan ABBA bubar, namun itulah yang terjadi. Tidak pernah lagi ada reuni sesudahnya. Begitu saja mereka meninggalkan jutaan fans mereka dalam kepingan tanda tanya tak berujung.
Agnetha Faltskog, Benny Andersson, Bjorn Ulvaeus, dan Anni-frid Lyngstad, lansung bersolo karir, tanpa pernah menoleh lagi ke belakang, untuk membuka peluang reuni. Namun, mereka tidak pernah sesukses seperti kala mereka masih tergabung di ABBA. Desakan agar mereka reuni pun selalu didengungkan dari tahun ke tahun.
Sebenarnya keempat personel ABBA, secara terpisah, juga pernah membawakan lagu-lagu ABBA yang (mayoritas) hits. Tahun 2016 lalu, mereka juga bertemu ketika Bjorn mengawali membuka restoran di Stockholm Swedia. Sayangnya, boro-boro memikirkan reuni, berfoto berempat saja, atau secuil menyanyi pun, sepertinya enggak, karena sambalbawang belum menemukan dokumentasinya. 
Pembukaan Museum ABBA di Swedia, Mei 2013 lalu, yang disambut gegap gempita semua warga Swedia, dan dengan poster ABBA bertebaran dimana-mana, juga tidak mampu menuju pada kemungkinan para anggotanya untuk menggelar reuni. Bahkan tawaran yang tak terhitung lagi banyaknya juga nominal uangnya, mereka tolak. Itulah sikap ABBA. Ah tentu saja, mereka sudah memiliki cukup kekayaan. Bagi setiap personel ABBA, ABBA adalah masa lalu.
Apa yang dicari oleh ABBA, tepatnya oleh (mantan) personelnya? Entahlah, tapi yang pasti bukan uang. Sekian lama tanpa kabar, April 2018 lalu, ABBA mengumukan rencana konser reuninya yang bakal dihelat tahun 2019. Tetapi tunggu dulu, konser yang bagaimana ini? Sejumlah pemberitaan menyebut itu sebagai “proyek tur avatar” alias menggunakan teknologi hologram. Apa pula ini maksudnya?
Belum ada keterangan lagi terkait itu. Kita hanya bisa menduga, yang bakal manggung hanya hologram mereka saja, bukan mereka secara fisik. Dalam keterangan di akun Instagram resmi ABBA, disebutkan pula bahwa satu lagu akan dirilis berjudul “I Stil Have Faith In You”. Jadi, apakah konser setelah 42 tahun itu nanti akan menarik, ya tergantung dari sudut mana melihat.
Terlalu lama raib, ABBA ternyata masih dikenang sebagai empat personel yang muda dan enerjik. Dan pasti, dua vokalis mereka yang begitu primadona saat itu, Agnetha dan Frida. Sebagian fans ABBA tidak “rela” Agnetha dan Frida menua. Menengok ke klip-klip ABBA yang ada di youtube terlihat itu memang benar adanya. Masih ada yang memuji kecantikan dan suara kedua vokalis (utama) ABBA itu.
Namun kedua cewek (yang sekarang sudah masuk kategori nenek) ini, setelah ABBA bubar (atau mati suri) tahun 1982, baru tampil lagi menyanyi tahun 2016. The Way Old Friends Do, adalah lagu yang mereka bawakan. Fans ABBA pun histeris, namun ya hanya sebatas itu. Selepasnya, kembali berharap, mungkin rada “berhalusinasi”, bahwa ABBA akan manggung mengakhiri periode mati surinya.
Kurang apa coba keyakinan para fans ABBA yang masih berharap--kalau tidak bisa disebut bermimpi--bahwa Agnetha, Frida, Bjorn, dan Benny suatu saat akan bereuni. Mereka (para fans) melihat personel ABBA masih terikat juga dengan ABBA, karena menyanyikan lagu-lagu ABBA. Frida, misalnya, pernah beberapa kali menyanyikan Dancing Queen.  Ini dia videonya: 

Benny, cukup sering memainkan piano untuk membawakan lagu ABBA, baik sendirian atau berkolaborasi dengan musisi dan penyanyi lainnya. Seperti “Thank You for The Music", beberapa kali dimainkan sendiri oleh Benny. Dan ini salah satu videonya :

Selepas dari ABBA, Agnetha merintis solo karir dan sempat mencetak tiga album. Tahun 2013, dia bernyanyi duet dengan Gary Barlow, dan itu menjadi penampilan live-nya yang pertama dalam 25 tahun terakhir. Dalam sebuah wawancara bertahun-tahun pascabubarnya ABBA, Agnetha--yang merupakan personel ABBA termuda, juga pernah menyanyikan lagu seperti “SOS”. Ini dia videonya, setelah berselancar di internet. 

Bjorn (tua) pun demikian, pernah terekam mendendangkan “Take A Chance” meski hanya sebentar. Begini penampakannya. 


Dan bahkan, band U2 pernah menyanyikan lagu "Dancing Queen" bersama Bjorn dan Benny. Nah, ini buktinya. 
Kalau melihat yang begini, jadi rada aneh juga akhirnya. Keempat personelnya terikat ke ABBA, tapi tak mau reunian. Sementara di sisi lain, mereka tidak pernah bisa lebih besar dari ABBA setelah ABBA berakhir. 
Kondisi ini rada persis dengan The Beatles, yang kisah solo karir keempat personelnya tidak pernah sanggup melampaui, atau setidaknya mendekati kesuksesan saat masih tergabung dalam The Beatles. Apakah berlaku anggapan “berhentilah saat di puncak ketenaran, agar tidak merasakan sakit ketika jatuhnya ketenaran secara perlahan”, dianut oleh ABBA?Sambalbawang enggak tahu.
Sebenarnya, yang diperlukan Agnetha, Bjorn, Benny, dan Anni (Frida) adalah mendengarkan keinginan fans mereka. Mengesampingkan kepedihan akibat perceraian mereka. Betapa mereka mestinya menyadari, lagu-lagu ABBA dicintai sampai sekarang, itu adalah benar adanya. Keempat kakek dan nenek itu, tinggal melambaikan tangan, dadah-dadah, sembari naik panggung. Diiringi sekian musisi dan backing vocal yang menjaga lengkingan Agnetha yang pastinya tidak semelengking dulu saat dia berumur 25-an tahun.   
Itu saja, cukup sebenarnya. Terlepas dari urusan rumit mereka—dan perceraiannya, semestinya mereka tetap tahu bahwa fans menunggu mereka reuni. Tentu saja tak bisa berharap performa panggung mereka sama seperti 40-an tahun lalu. Namun berharap mereka mau memenuhi ekspektasi para fans, setidaknya bisa dipertimbangkan.
Itu saja. Lalu bagaimana dengan konser “hologram” ABBA tahun depan (2019)? Sambalbawang sendiri tidak terlalu tertarik, kecuali nanti ada kejutan mereka berempat hadir di panggung lalu menyanyi. Nonton aksi panggung dalam wujud hologram—atau secara digital, apa serunya coba? Selain berfantasi seakan-akan menyaksikan konser live ABBA (yang personelnya masih muda) di tahun 1970-an dulu.
Daripada pusing mikirin konser “hologram” atau apa namanya itu, mendingan memutar lagi lagu-lagu ABBA. Sembari berfantasi Agnetha dan Frida memang tidak pernah tua alias muda terus. Lho kok fantasinya hanya ke Agnetha dan Frida, ya iya lah, sambalbawang kan cowok.

                          Dancing Queen, lagu masterpiece ABBA (1976)

Senin, 20 Agustus 2018

HANACARAKA, AKSARA JAWA YANG INDAH


Sebetulnya sambalbawang enggak pandai-pandai amat menulis aksara (huruf) Jawa, apalagi membacanya. Mungkin malah lebih lancar sewaktu masih duduk di bangku SD dan SMP. Selepas itu praktis lupa-lupa ingat karena hanya sesekali corat-coret. Sekedar mengasah ingatan yang semakin parah, seiring bertambahnya usia. 

Sekian tahun “berpuasa” menulis aksara Jawa, saatnya sekarang kembali banyak-banyak menengok dan mencoba lagi "menyelami" aksara yang unik, indah, dan menawan ini. Sebisa mungkin, sedapatnya, karena banyak yang terlupa. Sempat juga mengalami blank di sana-sini, sehingga akhirnya membolak-balik referensi. Dadi wong Jawa, ojo nganti ilang Jawane, menjadi orang Jawa, ya jangan sampai hilang ke-Jawa-annya, kira-kira begitulah yang sambalbawang pikirkan. Akasara inilah kekayaan budaya Jawa yang maha luhur.

Untunglah, sambalbawang menyukai aksara itu. Sebagian masih terpetakan di dalam kepala. Beruntung pula, aktivitas 3-4 tahun terakhir, disela-sela kerjaan, juga tidak benar-benar pernah meninggalkan kebiasaan membaca. Ah, jadi teringat, dulu, pernah sambalbawang berkirim surat kepada seseorang memakai aksara Jawa. Hasilnya, tentu saja, dicap aneh. Hehe.

Ketika hendak mengasah lagi kemampuan menulis (dan membaca) aksara Jawa, mungkin terasa sulit dan berat jika lama meninggalkan dan melupakannya. Ditambah lagi, mungkin terasa enggak ngetren karena era sekarang adalah memprioritaskan bahasa asing. Sah-sah saja, sih, anggapan itu. Kenyataan memang menunjukkan bahwa skil berbahasa asing, banyak diperlukan di dunia kerja.

Namun menurut sambalbawang, menguasai bahasa daerah, sama pentingnya dengan menguasai bahasa asing. Bahkan, kalau boleh memaksa, bahasa daerah lebih penting ketimbang bahasa asing. Iya, dong, kita hidup di mana, coba? Hehe. Kecuali kalau tinggal di luar sono.

Dalam kaitan terampil berbahasa Jawa, adalah juga soal menulis dan membaca aksara Jawa. Ini mungkin lebih mudah ketimbang mengulik seni dan budaya--jika kita termasuk kalangan awam. Menguasai aksara Jawa, enggak perlu mahir-mahir amat, sudah cukup. 

Tapi sebelumnya, kita sejenak merunut asal (cerita) aksara Jawa ini. Sambalbawang memilih buku “Kawruh Basa Jawa Pepak” sebagai pegangan. Buku ini karangan Sugeng Haryo Raharjo dan diterbitkan CV Widya Karya Semarang. Biar agak mudah, sambalbawang men-transkrip sekalian (dan menerjemahkan artinya) ke Bahasa Indonesia. Juga sedikit menambahkan kata untuk "menarikan" kisahnya.

Diceritakan, Prabu Ajisaka (Aji Saka)—dari kerajaan Medang Kamulan—memiliki dua abdi (pengiring) yang setia. Sembada dan Dora, namanya. Suatu hari, sang prabu pergi mengembara ditemani oleh Sembada, sedangkan Dora diminta tinggal, namun diberi tugas menjaga sebuah keris. Ajisaka berpesan kepada keduanya bahwa keris itu tidak boleh diberikan ke siapa pun, kecuali dirinya (Ajisaka).

Sekitar lima tahun kemudian, Prabu Ajisaka menyuruh Sembada untuk mengambil keris tersebut. Maka berangkatlah Sembada dan menyampaikan pesan sang prabu kepada Dora. Namun Dora bertahan dengan apa yang sudah diamanatkan Ajisaka. Demikian juga Sembada, bersikukuh dengan tugas yang diamanatkan. Tak terelakkan, bertempurlah kedua abdi tersebut sampai mati.

Sementara itu, Prabu Ajisaka yang tidak sabar menunggu Sembada, akhirnya menyusul pulang. Betapa kaget melihat Sembada dan Dora sudah dalam kondisi sekarat menuju mati. Sang prabu pun teringat pesannya dan menyadari kedua abdinya itu setia pada pesannya. Sama-sama setia.

Prabu Ajisaka yang sedih hatinya, lalu menulis sebuah surat yang sekarang kita kenal sebagai aksara Jawa. Empat baris kalimat (hanacara, datasawala, padhajayanya, magabathanga) ini, ada artinya, yakni: 

Ha Na Ca Ra Ka (tersebutlah cerita tentang--dua orang--utusan/abdi yang setia)
Da Ta Sa Wa La (utusan itu, mereka berdua, terlibat perselisihan, lalu berkelahi/bertempur) 
Pa Dha Ja Ya Nya (sama-sama sebanding kesaktiannya)
Ma Ga Ba Tha Nga (kedua abdi itu pun menjadi bangkai, tewas)

Ke-16 suku kata di atas ada penulisan hurufnya. Untuk menyambungkannya sehingga menjadi satu kalimat yang utuh dan benar, diperlukan beberapa piranti seperti pasangan, sandhangan, swara, hingga angka (Jawa). Ada beberapa hal dimana sebuah kalimat tidak ditulis langsung seturut aksara tersebut, dan harus memakai sandhangan, pasangan, dan lain-lainnya itu. Namun yang ini, kita bahas saja di artikel selanjutnya, termasuk cerita panjang terkait Prabu Ajisaka. 

Nah, apakah sudah mulai tertarik aksara Jawa? Ayolah nguri-uri budaya, sebelum kekayaan luar biasa ini punah di tanah sendiri. Inilah aksara Jawa yang indah dan mengagumkan, berikut sandhangan, pasangan, dan lain-lainnya. Nulis aksara Jawa? Siapa takut? 

Aksara Jawa :

THE BEATLES FOREVER
MUSIK ZAMAN DULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS?
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
MAMMA MIA ! FILM MUSIKAL FULL LAGU ABBA
MENGAPA HARUS NGEBLOG

TENTANG HONDA (3) INILAH STAR'S FAMILY 

 

Jumat, 29 Juni 2018

JERMAN TERSINGKIR MEMALUKAN DI PIALA DUNIA 2018, TAK PERLU BERSEDIH

Kejutan yang amat “membahagiakan” terjadi pada Piala Dunia 2018. Timnas Jerman tersingkir di fase awal (grup), dikandaskan oleh para “ksatria Taeguk” Korsel, dua gol tanpa balas. Tim Jerman pulang dengan rasa malu yang tak terkira, karena posisi akhir mereka di dasar klasemen, dengan koleksi gol minus dua.

Mengapa kejutan itu terasa begitu “membahagiakan”, tentu ada alasannya. Bagi mereka yang mengikuti perjalanan Die Mannschaf sejak puluhan tahun, pastilah tak sulit memahami. Salah satunya, ya, karena tim Jerman termasuk pembunuh tim-tim semenjana dan tim-tim yang bermain apik.

Tim-tim yang heroik penampilannya, pun, tumbang menyedihkan jika bersua Jerman. Sebagian kemenangan Jerman menyisakan luka perih bagi lawannya, karena sering tercipta di menit-menit akhir pertandingan. Semakin pedih pula karena gol-gol Jerman pun sering berbau keberuntungan atau kekurangjelian wasit. 

Kita coba buka lembaran Piala Dunia 2014 Brasil. Empat tahun silam, saat bersua Argentina di laga puncak, gol semata wayang tim Jerman tercipta pada menit-menit akhir. Sebagian orang tentu bilang Jerman menang di konsistensi dan konsentrasi, tapi tidak selalu begitu. Sekian puluh persen kemenangan Jerman karena lawannya sedang apes.

Masih dengan keberuntungan Jerman lawan Argentina, tetapi di laga final Piala Dunia 1990. Jerman unggul dengan skor sama, 1-0. Gol kontroversial dari sepakan penalti pada menit ke-85 oleh Andreas Brehme, mengandaskan impian si boncel Maradona merengkuh trofi dunia ketiganya. Jalannya laga ini bahkan sempat dinobatkan sebagai final Piala Dunia terburuk.

Masih kurang? Cungkil lagi turnamen Piala Eropa 1996, pada laga final yang mempertemukan Jerman versus Republik Ceko. Skor 2-1 untuk Jerman. Gol penentu kemenangan Jerman tercipta pada menit ke-95. Di Piala Eropa 1996 itulah, untuk pertama kali aturan golden goal (gol emas) diterapkan, dan Jerman yang memetik keberuntungan.

Balik lagi ke Piala Dunia 2010, tatkala Jerman bersua Inggris di babak 16 besar. Dalam kedudukan tertinggal 1-2, Frank Lampard melesakkan tendangan dan bola masuk gawang Jerman, setelah sebelumnya memantaul ke mistar. Ajaibnya, wasit tidak mengesahkan gol itu. Waktu itu teknologi VAR sayangnya belum ada. Meski begitu, dari tayangan ulang, bola terlihat sudah melewati garis gawang.

Masih ingat juga final Piala Dunia 1974 ketika tim Jerman (Barat) memupus mimpi tim Oranye Belanda memeluk trofi pertamanya? Saat itu Belanda lagi hebat-hebatnya dan indah-indahnya, karena punya Cruyff, yang mempimpin teman-temannya menerapkan filosofi total football. Tapi, Jerman yang punya sang kaisar, Franz Beckenbauer, meredamnya. Skor akhir 2-1, dan pemain Jerman yang mengangkat piala.

Kalau mau dipanjangkan ceritanya, masih banyak rentetan hasil laga Jerman yang dinaungi dewi fortuna, bahkan "dewa" fortuna pun sepetinya ikut, yang semuanya terjadi pada turnamen besar. Belum lagi gol-gol pasukan Jerman di menit akhir juga pada injury time, yang bikin patah hati fans lawan. Berani taruhan, banyak fans tim semenjana, yang masih “dendam” sama Jerman sampai sekarang.

Masih terbayang saat Jerman mencetak gol di “detik” terakhir kala melawan Swedia, pada penyisihan grup Piala Dunia 2018, beberapa hari lalu. Skor pun akhirnya terkunci 2-1 untuk kemenangan Jerman--yang bermain dengan 10 pemain. Meskipun Swedia yang tersenyum belakangan karena malah yang akhirnya lolos, kasus-kasus seperti ini, amat langka menimpa Jerman.

Melawan Jeman dalam turnamen besar dan laga krusial, berarti melawan tim yang seakan-akan “disayang” Tuhan, “dibantu” wasit, dan "dipeluk" oleh dewa-dewi keberuntungan. Saking gimananya, sampai-sampai sambalbawang punya istilah “Waktu Jerman” untuk menunjukkan bagaimana Jerman beneran beruntung lantaran seakan diberi bermenit-menit perpanjangan waktu.  

Enggak perlu mengambil contoh yang jauh tentang seberapa beruntungnya Jerman. Contoh yang dekat-dekat saja. Melawan timnas Korsel, meski laga berakhir 2-0 untuk Korsel, wasit baru meniup peluit akhir 10 menit sesudah waktu normal 90 menit. Sepuluh menit !! Dan sebetulnya, masih banyak contoh lain yang waktu pertandingan bisa bonus bermenit-menit saat Jerman tertinggal atau ketika hanya perlu satu gol.

Kekalahan Jerman atas Korsel akan menjadi topik menarik, sampai bertahun-tahun ke depan. Barangkali, ini salah satu kejutan terbesar Piala Dunia yang sudah berlangsung lebih 80 tahun ini. Pada Piala Dunia 1994 dan Piala Dunia 2002, Jerman selalu menang saat bertemu Korsel, masing-masing dengan skor 3-2 dan 1-0. Korsel memang pernah menang atas Jerman, dengan skor 3-1,  tapi di laga persahabatan tahun 2004. Sejarah memihak Jerman.

Namun, ksatria Korsel yang sudah tersisih dari perhelatan di tanah Rusia ini, masih ingat ketika “kakak-kakak” mereka mengandaskan tim Jerman 14 tahun silam. Kenangan ingin diulang. Mengalahkan Jerman jelas kado terindah untuk warga Korsel. Bukan tiga poin yang dirasakan indahnya, tapi kebanggaan mempermalukan sang juara bertahan. 

Jerman menjadi satu-satunya tim yang menang sempurna di semua laga kualifikasi Piala Dunia 2018. Namun jejak rekam itu, syukurlah, tak dihiraukan Korsel. Sebaliknya, Korsel yang mencetak sejarah karena inilah pertama kali Jerman bisa kecolongan dua gol pada injury time babak kedua. Enggak pernah gawang Jerman sesial ini.

Korsel jugalah tim Asia pertama yang bisa menyegel Jerman di gelaran Piala Dunia. Disiplin menjaga semua jengkal lapangan dan menutup rapat ruang tembak, diterapkan sempurna oleh pasukan gingseng. Tetapi di atas itu semua, Korsel tidak gentar nama besar Jerman. Semangat serupa, sebelumnya ditunjukkan Meksiko, sesama penghuni grup, sehingga bisa menang 1-0 meski digempur habis-habisan oleh Jerman sepanjang laga. 

Nama besar Jerman dari tahun ke tahun di perhelatan akbar dunia, selalu bisa bikin keder lawan. Belum masuk ke lapangan, pun, tim Jerman mungkin sudah 50 persen memenangi laga. Bayangan nama besar ini terus terpupuk, dibesar-besarkan, serta diiringi sejumlah predikat, mulai dari tim spesialis turnamen hingga tim yang bermental juara. 

Dalam sejarah adu penalti Piala Dunia-yang dimulai dalam Piala Dunia 1978-Jerman sudah melakoni empat kali, dan semua berakhir dengan kemenangan. Jika digabung dengan Piala Eropa, Jerman dua kali menjalani, dan dua kali pula menang. Dengan kata lain, sudah enam kali tim Panzer masuk babak tos-tosan, dan seluruhnya berakhir dengan kemenangan. Kurang beruntung apa, coba, tim Jerman ini.

Namun di Rusia, Jerman disadarkan bahwa victory disease, penyakit kemenangan, itu, memang ada. Jerman sekarang bukan Jerman empat tahun lalu yang lapar gelar tetapi anggota tim Jerman yang sudah puas karena negaranya pernah menggenggam trofi juara, tepatnya piala keempat. Mayoritas pemainnya pun veteran episode Brasil 2014.

Jerman agak lupa melihat sejarah nasib para juara bertahan. Jawara Piala Dunia 2010 yakni Spanyol, misalnya, keok dan tersingkir dalam penyisihan grup Piala Dunia 2014. Demikian juga nasib Italia, juara 2006 yang habis di Piala Dunia 2010. Juga pemenang Piala Dunia 1998 Perancis, yang tidak bisa berbicara banyak di Piala Dunia 2002.

Jerman memupuk kebanggaan berlebih sehingga mereka tidak sadar meremehkan kemampuan lawan. Publik Jerman pun, mungkin sudah yakin Jerman menang, apalagi ketika hendak melawan Korsel. Sejak tahun 1990, Jerman sepertinya sangat jarang kalah, dan sangat jarang tidak beruntung. Main datar-datar aja, tim Jerman menang. Main buruk pun, tim Jerman masih juga bisa menang.

Jerman, baru bisa kalah jika bersua tim yang benar-benar sedang mengalami masa keemasan. Seperti Spanyol yang memiliki Xavi dan Iniesta di Piala Dunia 2010 yang mengandaskan Jerman di semifinal, juga di final Piala Eropa 2008. Atau Brasil di Piala Dunia 2002,  dengan "sang fenomena" Ronaldo-nya, yang sukses memukul Jerman di laga puncak dengan skor 2-0. 

Italia saat Piala Dunia 1982, dengan Paolo Rossi-nya, juga mengandaskan Jerman 3-1 di partai final. Atau saat masa kejayaan Argentina tahun 1986 kala Piala Dunia digelar di Meksiko. Dengan daya “sihir” Maradona, Jerman takluk 1-0 di final. Jangan lupakan pula kisah tim dinamit Denmark dengan motor Laudrup bersaudara yang sukses merontokkan Jerman 2-0, di final Piala Eropa 1992. Okelah Jerman kalah, tapi ingat, cerita itu pun berarti Jerman menapak banyak final, meski berakhir sebagai finalis.

Tetapi, cerita kekalahan Jerman itu, pun, masih kalah banyak ketimbang jumlah kisah kesuksesan Jerman. Tim ini telah menggapai 8 final Piala Dunia, dan memenangi 4 kali (termasuk saat masih bernama Jerman Barat). Di gelaran Piala Eropa, Jerman pun sudah mencapai 6 final, dan merengkuh 3 gelar. Kurang apa lagi coba prestasi tim panzer ini.

Panzer Jerman, identik dengan tim yang performa mesinnya lambat panas, persis mesin diesel kendaraan. Terjemahannya adalah permainan Jerman biasanya semakin efektif dan efesien dari laga ke laga. Babak penyisihan, Jerman kadang tak mencerminkan bakal bernasib bagus, tapi saat event digelar, Jerman digdaya. Semakin menuju menit ke-90, Jerman semakin mengerikan dalam menyerang. Dan entah “bumbu”-nya apa, tim Jerman hampir pasti bisa lolos di saat kritis.

Makanya tidak heran, ketika Jerman terlempar dari perhelatan akbar Piala Dunia 2018, banyak kawan bersorak dan berbagia. Menangis terharu saking girangnya. Rasanya memang cukup, keberuntungan Jerman. Panzer Jerman sudah uzur, saatnya diparkir sejenak. Era Jerman, saatnya diganti era tim lain. Pemerataan gelar juara, sepertinya cukup fair. Masa Jerman lagi yang juara, kan enggak seru.

Akan ada banyak analisis, baik sekarang maupun nanti, mengapa Jerman angkat koper lebih cepat di Rusia. Namun satu alasan di antaranya, adalah, Jerman tidak lagi mempunyai striker "killer" seperti Miroslav Klose, Jurgen Klinsmann, atau Oliver Bierhoff. Alasan lain, yang semoga benar, yakni dewi fortuna sedang malas memeluk Jerman. Empat piala dunia, sepertinya cukup dulu bagi Jerman. 

Tetapi, jangan lupa, bahwa Jerman tetaplah Jerman. Benar, mungkin inilah skuat Jerman terburuk sepanjang masa. Tetapi ini adalah Jerman. This is Germany. Sisa-sisa “nafas” Jerman masih ada. Salah satunya “Waktu Jerman” tadi, saat melawan Korsel di mana injury time bisa selama itu. Juga saat melawan Swedia. Dalam Piala Dunia 2018, Jerman hanya kurang beruntung, bukan sial. Dan ingat, kekalahan atas Korsel "hanya" terjadi di fase penyisihan grup, bukan di fase gugur, atau final.


Kekalahan Jerman tak usah disesali. Jerman sudah menumpuk banyak kemenangan dan keberuntungan di turnamen besar. Jerman juga sudah bikin menangis banyak timnas-berikut para fans-yang tersingkir dengan gol-gol kontroversial ala Jerman. Jika ada yang belum percaya sebegitu beruntungnya Jerman dalam ajang Piala Dunia, cobalah sejenak menengok edisi Piala Dunia 1990 sampai sekarang.

Kembali ke Rusia. "Panzer-panzer" Jerman sepertinya memang berat melangkah di tanah Rusia tahun ini. Kalau mengulik sejarah, dalam Perang Dunia II, Jerman pernah melancarkan invasi ke Rusia, lewat Operasi Barbarossa. Namun gagal. Justru tentara Rusia balik mendesak Jerman sampai ke tanahnya sendiri. Rusia militan. Dan di Piala Dunia 2018, Jerman dikandaskan dua tim militan, Korsel dan Meksiko.

Jadi, apa yang terjadi selanjutnya di Piala Dunia 2018? Tentu jauh lebih menarik dan membahagiakan karena Jerman sudah tersingkir. “Bertaruh dalam laga Jerman, kurang seru. Karena bisa dipastikan Jerman yang menang. Apa serunya bertaruh jika hasil laga bisa ditebak,” kata seorang kawan.

Barangkali, tim terbaik dunia memang masih Jerman, jika melihat secara keseluruhan apa yang mereka capai di turnamen-turnamen besar, atau laga-laga krusial. Sedangkan tim terbaik kedua, mungkin juga adalah tim cadangannya. Tapi di Piala Dunia kali ini, lupakan cerita soal tim Jerman.

Jerman sudah pulang kampung, sudah masuk kotak. Bye bye Jerman. Ah, indahnya Piala Dunia 2018 tanpa tim Panzer di babak 16 besar. Setiap pertandingan terasa indah.   


--sambalbawang—penggemar bola di Balikpapan 

BACA JUGA
AKU DI BELAKANGMU, TIGER WONG
LEBIH BAIK NAIK VESPA
GATOTKACA TAK HANYA OTOT KAWAT BALUNG WESI
THE AQUARIAN ?

Selasa, 19 Juni 2018

MEMORI JERSEY JUVENTUS

Jersey Juventus pernah menghuni lemari pakaian sambalbawang, 20-an tahun silam. Kaos seragam resmi klub berjuluk si Nyonya Tua asal  Turin, Italia ini, berwarna biru, dan ber-strip kuning, Bukan jersey utama klub tersebut.

Kala itu, Juventus memang lagi  moncer di liga Italia, dan sanggup berbicara di pentas Eropa. Dihuni para pemain yang menjadi kunci di timnas  negara masing-masing, Juventus adalah tim para dewa. Sepertiga skuatnya adalah anggota timnas Italia, sebut saja Del Piero, Vieri, Roberto Baggio, Ciro Ferrara, Birindelli, Tachinardi, Peruzzi, dikenal. 

Tapi jersey yang sambalbawang miliki ini, bukanlah jersey kaos resmi. Dengan kata lain, kostum KW alias imitasi banget, yang tentu saja enggak enak dipakai. Satu tingkat di atas kaos gratisan yang dibagi saat kampanye, level kenyamannya. Panas betul pas dipakai berlarian di lapangan. Juga enggak menyerap keringat. 

Tetapi, no problem, lah. Yang penting saat itu bagi sambalbawang, adalah menjalani laga demi laga dengan ceria. Pakai jersey itu dari lapangan ke lapangan, untuk melakoni laga home dan away. Ngerinya. Karena jersey-nya dibikin kawan-kawan satu perguruan sekolah, maka dipakainya juga di laga-laga “resmi” lingkup sekolah. Serasa jadi Ciro Ferrara, lah. Skala hore, tapi. Hahaha.

Saat itu, medio tahun 1990, masih percaya bingit kalau timnas Italia adalah timnas paling top. Meski tak pernah menyabet gelar bergengsi, seperti Piala Dunia maupun Eropa. Juventus melanjutkan era AC Milan. 

Tahun berganti tahun, sekian piala dunia sudah berlangsung. Tak menyangka kalau di Piala Dunia 2018, Italia malah enggak lolos kualifikasi zona Eropa. Menemani Belanda yang juga absen.

Dan sekarang. Piala Dunia 2018 sudah dimulai. Setelah satu putaran tim-tim berlaga, rasanya aneh ketika tidak “menemukan” timnas Italia bertanding. Mendadak inget Juventus, mendadak ingat Buffon.

Dan mendadak ingat pernah “berseragam” Juventus. Dengan nomor punggung 2, dan bertuliskan “Prasetya”.  Posisi? Jelas bek, lah. Mana lagi posisi yang pas, karena sejak SD pun, sambalbawang sudah di posisi itu.

Ah, jadi pingin menghadang aksi CR7 dan Si Kutu 

Rabu, 04 April 2018

DI RELUNG KAMARKU

Aku harus tahu di mana rumahmu. Cukup sudah ku bermimpi.

Motor bututku segera ku pacu menuju terminal, usai jam sekolah. Segera ku bersembunyi di balik angkot-angkot kusam yang catnya sudah mengelupas, sebelum dirimu sampai ke tempat ini. 

Gadis manis dengan rambut hitam tergerai sebahu itu, pun, muncul. Setelah bertukar canda dengan karibmu, dirimu segera meloncat masuk ke angkot.

Angkot tua itu bergerak pelan keluar terminal, dan semakin menambah lajunya saat di jalanan. Asap hitan knalpot menerpa wajahku yang bersembunyi di balik helm. Dari balik kaca angkot aku melihat engkau yang sedang melamun. Ah, sepasang mata yang manja dan jenaka. Kadang tatapan matamu mengarah ke belakang, membuatku menunduk, menyembunyikan wajah pucatku.

Sekali lagi ku bergegas menepi ketika dirimu turun, berganti menunggu bus antarkota. Hanya terentang jarak tak lebih 20 meter darimu sekarang. Oh Tuhan, jangan sampai aku ketahuan. Doa baru terkabul sepuluh menit kemudian ketika sebuah bus antarkota menepi saat kau melambaikan tangan.

Laju bus kuimbangi dengan tersengal-sengal. Sungguh bukan hal mudah berpacu dengan bus yang tidak juga berhenti jika dibawah kaki ini tersemat mesin kecil dari sebuah motor keluaran tahun 70-an. Drama kejar-kejaran ini akhirnya berakhir.

Kakimu ringan meloncat ke luar, dan segera berjalan bergegas. Inilah barangkali saat-saat mendebarkan, paling mendebarkan dalam hidupku yang baru hidup 17 tahun di dunia ini. Oh Tuhan, pintaku lagi, jangan kau buat dia menengok ke belakang.

Seperempat jam berjalan, gadis berseragam putih abu-abu ini kemudian berbelok ke kiri, menuju ke pekarangan rumah yang luas. Pohon nusa indah terhampar di sudutnya. Pohon rambutan dan mangga di sudut lainnya.

Aku membayangkan akan berbincang-bincang seru dengannya. Tentang kaset Nirvana yang baru dia beli dan sempat kulihat itu dipamerkan ke kawan-kawannya. Tentang kesukaannya membaca novel dan komik-komik. Juga tentang lagu kesukaanmu, “Di Relung Kamarku” yang dinyanyikan Katon Bagaskara.

Atau juga tentang sedikit luka gores di siku yang kamu dapat bulan lalu, karena terjatuh saat bermain basket. Mungkin tentang keceriaanmu di sekolah. Bahkan aku pun mau hanya mendengarkanmu seharian bercerita tentang kisah-kisahmu.

Tapi sekarang aku harus mengetuk pintu rumah ini. Bulatkan tekad. Baiklah. Tiga ketukan di pintu dan seraut wajah itu sudah di depan mataku. Aku ingin memeluk, menciumnya, namun lamunanku langsung buyar seketika. Matanya terbelalak. “Kamu ngapain ke sini? Kamu membuntutiku?”

Kuyakin wajah ini sudah pucat pasi. Bukan ini yang kuharapkan, Tuhan. Aku tak bisa menjawab pertanyaanmu selain hanya tertunduk malu. Lesu. Aku tidak ingin kamu menolakku. Aku ingin berbicara denganmu. Aku meneriakkan itu keras-keras, dalam hati. 

“Aku enggak punya waktu,” katamu, dan tentu saja aku tahu itu bohong. Aku adalah teman sekolahmu. Jadwal pelajaran kita sama, bukan? “Kau dengar tidak? Aku tidak punya waktu,” ucapmu lagi.

Aku dengar. Aku sadar. Aku disuruhnya pulang saat itu juga. Dengan keberanian terakhir, aku mengangkat wajah 'tuk memandangimu. Memberanikan diri memandang seraut wajah nan ayu, yang barangkali diwariskan oleh ibumu.

Mata yang bundar, menawan, indah, nan sayu. Tubuh yang mungil semampai. Sayang, gadis di depanku ini tak membolehkanku bertamu walau sejenak. Aku membalikkan badan, segera berlalu tanpa kata. Lunglai. Aku tidak mau enerima kekalahan.

"Aku bisa membuatmu jatuh hati kepadaku. Entah kapan, tapi pasti suatu saat nanti," janjiku dalam hati.

Mungkin aku akan ke rumah ini nanti. Untuk bercerita lagi tentang apa mimpi-mimpiku, kepadamu. Mungkin kamu akan mulai tertarik padaku, atau setidaknya pada ceritaku. Tentang setumpuk mimpiku, berboncengan denganmu naik motor butut ini, membelah malam di kaki Merapi.

s
Aku bisa mengiringi dirimu bernyanyi lagu yang kamu sukai. Bukankah kau menyukai lagu ini? “Tidak kah kau tahu, kuselalu mencari waktu, tuk bertemu denganmu. Lihatlah kedua mataku bersinar resah, dan jiwaku 'tlah lelah”.

Mungkin nanti, 20-an tahun kemudian, dirimu 'kan mencari waktu, tuk sekadar sejenak bertemu diriku. Saat itu kamu akan tahu seberapa gilanya aku karenamu. Saat itu kamu mungkin merasa menyesal pernah melukaiku.


(cerpen)

Sabtu, 24 Februari 2018

PENGEN BIKIN BANTAL DESAIN SENDIRI, "KITA" BALIKPAPAN, JAWABANNYA

Modiste Samantha melakukan ekspansi baru di awal tahun 2018. Tak hanya bikin baju, tetapi juga bikin bantal, 100 persen handmade. Bantal dan bantal boneka, tepatnya, dengan merek "KITA".

Ide sudah terbesit sejak pertengahan 2017. Namun keterbatasan tenaga dan waktu belum memungkinkan. Sampai akhirnya terwujud ketika Barakati-brand fashion yang mengkususkan diri pada pembuatan rok-mau bergabung.

Bahasa teknisnya adalah dua penjahit yang sama-sama bantalholic, bergabung. Mbak Samantha di Samantha Project, serta Mbak Yuli dan Mbak Lina dari Barakati.

Dan meluncurkan produk KITA, yang pertama kali dipajang dalam pameran di parkiran Gedung Dome, Balikpapan 7-10 Januari 2018. KITA resmi hadir di Balikpapan. Hadiiiir.

Pameran itu digawangi Forum Usaha Kreatif Sama-sama (Fokus) Balikpapan, salah satu komunitas seni dan industri kreatif di Balikpapan. Disambung sebulan kemudian, di lokasi yang sama, dalam event yang bertajuk Mathilda Fest.

Awal yang baik dan sesuai keinginan. Sudah juga diundang untuk berbagi cerita di radio Smartfm Balikpapan, pekan lalu. Masuk radio, euy, Ah, ini termasuk cita-cita sebenarnya. Dream comes true.

Jadi, KITA yang masih "melekat"dengan Samantha Project ini, kini "melekat"juga dengan Barakati. Markasnya pun ada dua, dengan markas utama yakni Galeri KITA di Cluster Berau CB 8/14 Wika, Balikpapan, yang juga workshop Modiste Samantha.

Semua bisa dibikin. Dari bantal mainstream, bantal duduk, bantal donat, bantal segitiga, guling, bantal leher, dan bantal yang bentuknya absurb. Mau bikin bantal setinggi 1,5 meter, juga bisa. Asal bisa dapet dakron (isi bantal), beres.

Meski made by order, KITA juga punya buanyaaak bantal aneka bentuk yang ready to wear. Bisa jadi opsi bagi para bantalholic. KITA menyediakan kain pembungkus bantalnya, meski motif (gambar) masih cukup terbatas.

Stok saat ini yang ada di Galeri KITA, yakni motif Tintin (seperti foto), Justice League, lurik aneka warna dan corak, dan kain-kain katun sejumlah warna. Ke depan, bakal semakin lengkap, dengan motif komik, kartun, dan lain-lainnya. Tunggu saja yaa.

Penasaran, kan. Datangi aja Galeri KITA di Cluster Berau, Wika, Balikpapan.

Foto lebih lengkap silakan berkunjung ke alamat instagram: @official.kitabalikpapan
SMA.telp, WA juga bisa di nomor : 082149417505 (Atha), atau 081254502125 (Lina).
baca juga  Bantal "KITA" kolaborasi samantha dan barakati

Salam KITA yeay...


itu dia "penampakan" Mbak Samantha dan Mbak Yuli, dua punggawa KITA. oke, btw, sambalbawang di sebelah mana? Ya yang motret, atuuuuh.

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
MENGAPA HARUS NGEBLOG

TENTANG HONDA (3) INILAH STAR'S FAMILY 

Jumat, 12 Januari 2018

TAHUN BARU 2018, KAPAN KE JEPANG EUY....

Hanya tahun yang berubah. Awal hari di tahun ini. Mungkin akan seperti yang sudah-sudah. Tapi mungkin juga tidak. Sesuatu akan terjadi, itu pasti. Apakah itu, tidak tahu.

Malam pergantian tahun, melewatkan bersama seseorang yang sudah lama mendampingi. Merentang rencana demi rencana. Tali pesimistis direntang tali optimistis. Menjadi satu gambar tanda tanya nan besar.

Semua akan seperti tahun lalu,kecuali beberapa hal. Satu yang tidak berubah adalah semangat untuk melaluinya. Dan tentu saja bergelas-gelas teh di pagi hari.

Tak ada yang menakutkan di tahun ini, kecuali ketiadaan semangat yang syukurlah tidak pernah mengghinggapi. Lantas apa harapanmu tahun ini? Itu katamu.

Simpel. Menjalani apa yang sudah ada, ditambahi sekian target yang realistis. Diselipi agenda piknik yang harus senantiasa ada. Berbuat baik sebisa mungkin.

Kapan ke Jepang? Itu tanyamu lagi. Krik..krik..krik..

BACA ARTIKEL LAIN :
MENGAPA HARUS NGEBLOG