Sabtu, 13 Juni 2015

PERTAMA ( cerpen - 1 )

        Pada sebuah siang hari, di penghujung Desember, 18 tahun silam. Di tepi jalan, tersiram terik mentari, menunggu sekian manusia yang masuk satu per satu ke dalam bilik kaca. Hampir 30 menit, akhirnya giliranku. Sekeping uang logam kukeluarkan, dengan tergesa kumasukkan ke mesin berbentuk kotak yang berwarna biru ini.
        "Halo?" suara di seberang, terdengar pelan. "Halo, ini siapa?" ulangnya. "Hai....ini aku, Setya" sahutku, tak kalah pelan, beberapa saat kemudian. "Oh kamu, toh. Ada apa, ya?" katanya. Nada bicaranya masih datar, seakan tidak bersemangat. Membuatku ragu untuk mengawali obrolan. Sebuah ajakan, tepatnya.         "Apa kabar?" balasku. Dan, ah, baru kusadari itu adalah sapaan terkonyol sedunia, karena baru tadi pagi kami betemu di kampus. Kodok pun tahu itu. "Baik, lah. Lha kita kan tadi ketemu," ujarnya seketika. Nah, kan, sudah ketebak jawabannya.
         Masih ketus nada bicaranya. Gagang telepon kugenggam dengan erat. Kotak bernama boks telepon umum ini kuketuk-ketuk, Mencoba mencari inspirasi kata-kata yang ampuh untuk menyambung obrolan yang mulai menuju garing. "Iya, tadi kan ketemu. Hehe," aku menjawab sekenanya.
        "Oke. Lalu?" suara di seberang melanjutkan pertanyaan. Aku yakin dia paham ini adalah obrolan nan tandus laksana gurun sahara. Tapi, untunglah, dia sudah mulai paham ke mana arah pembicaraanku. Setidaknya, nada suaranya mulai sedikit ramah. "Ada apa?"..
       "Mmmm, bolehkah aku mengajakmu mengikuti misa di gereja, Sabtu besok?" kataku sembari terbata-bata. Disusul keringat mengucur di sekujur badan serta kepala. Beberapa detik berlalu, suasana hening. Orang di luar bilik kaca ini mulai serius memehatikanku. Agaknya, dari luar, aku terlihat seperti patung yang tengah menelepon.
        "Baiklah. Kamu jemput aku, ya," terdengar suaranya. Akhirnya. Lega. Disepakati, kami akan bersama-sama mengikuti misa Sabtu malam. Tempatnya di sebuah gereja. Bukan gereja tempatnya misa mingguan, juga bukan gereja yang biasa kudatangi.
      "Malu kalau ketemu teman," begitu alasanya. Sama seperti alasanku. Ini adalah acara pertamaku mengajak seorang perempuan. Apakah ini kencan? Ah, tidak juga. Atau dia yang sungkan menolak ajakanku? Aku tidak tahu. Ah, untuk apa memikirkan itu.
       Yang penting aku bisa mengajaknya. Mungkin menapak tahapan selanjutnya yang orang-orang sebut dengan kencan. Aha, kencan. "Kencan, kencan.. Kencan, kencan..." suara itu terus teringang di telingaku hingga 24 jam ke depan.

.....

       Sabtu sore. Cuaca cerah. Dunia merestuiku. Asyik. Kupacu pelan motorku, si bebek dua tak yang umurnya lebih tua empat tahun dari tahun kelahiranku. Butuh 30 menit menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan, tak henti-henti aku merapal "mantra" agar rencana tidak berantakan.
     Akhirnya sampai juga aku di depan rumahnya. Rumah yang sederhana, sesederhana perempuan yang sebentar lagi kuajak pergi. Pintu kuketuk, dan dia sendiri yang membuka. Seorang gadis manis ada di depanku. Dengan senyum terpasang indah di wajahnya yang mungil.
     Ah, ada sang kakak di belakang si dia. Menatap dengan penuh selidik siapa gerangan lelaki yang berani mengajak adiknya pergi. Jurus basa-basi harus segera diluncurkan untuk mendapat tiket kencan. Ah, kencan lagi yang otak ini pikirkan. 
      Singkat cerita, tiket mengajak dia untuk keluar rumah, kudapat. Dengan catatan harus pulang lagi kerumah sebelum pukul 21.00. Ah itu soal gampang. Aku pasti mengembalikan ke rumah gadis bermata mungil ini. Orkestra detak jantung mulai bergemuruh, seiring motor kustrarter. Yes ! Hari bersejarah ini harus kucatat. 22 Desember. Catat !   
     Setumpuk kata melintas di kepala sepanjang perjalanan. Barangkali kamu pun demikian. Andaikan aku bisa melihat raut wajahmu saat itu. Kalau saja aku boleh berandai-andai, aku ingin kamu memelukku. Melingkatkan tanganmu ke pinggangku. Andai. Tapi, aku bisa merasakan posisi dudukmu jauh di sisi belakang jok. Dan ada tas di antara kita.
     "Mungkin, aku pria kesekian yang mengajakmu ke gereja. Tetapi kamulah wanita pertama di semesta ini yang kuajak ke gereja," satu sisi pikiranku berbicara padaku. Ah. Entahlah. "Mungkin dia wanitamu kelak. Ambillah hatinya, miliki dia," sisi lain pikiranku menimpali.
      Di tengah silang imajinasi itu, kami melaju berdua, membelah ruas-ruas jalan. Ah, 15 menit rasanya terlalu cepat sampai ke gereja. Kami bahkan belum sempat bercakap-cakap. Dua-tiga perempatan terlampaui tanpa berhenti karena lampu lalu lintas menyala hijau.
     Akhirnya, sampailah kami di gereja itu. Kami duduk di salah satu sudut. Misa pun dimulai, lagu demi lagu dinyanyikan. Sungguh, aku ingin mendengar suaramu. Merdukah suaramu saat bernyanyi. Seindah apa suaramu? Namun nampaknya kamu hanya membuka mulut, tanpa disertai suara.
       Satu setengah jam aku duduk bersebelahan dengannya. Tanpa satu kata pun yang terlontar. Sepertinya aku ingin berteriak agar seisi gereja ini mendengar. Inilah perempuan yang menyita malam dan siangku. Inilah perempuan yang tatapannya meremukkan rongga dada dan mencekat nafasku.
       Tiga atau empat kali aku mencoba mencuri pandang. Tapi, sialnya, selalu ketahuan. Dan berakhir dengan kepalanya yang langsung menunduk. Sungguh, aku malu dan tersipu. Tapi karena aku lelaki, aku tidak boleh terlihat malu, kan? Aku mencoba menyelami pikirannya. Mungkin dua merasa malu jika ketahuan teman. Karena itu, sikap tubuhnya pasif.
     Begitulah.... Aku tidak pernah menyangka bahwa itulah kali pertama dan juga kali terakhir dia mau kuajak pergi berdua. Begitulah. Tidak ada yang salah bukan? Hanya ada yang keliru. Sebab, sampai hari ini, setiap mengikuti misa di gereja itu, aku selalu duduk di kursi tempat kita duduk, dahulu..

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
PELUKAN (CERPEN)
BASA WALIKAN

Kamis, 11 Juni 2015

KRETEEEEK, KRETEEEEK,.... NIKMATNYA

    Entah sejak kapan sambalbawang punya kebiasaan melakukan cracking atau membunyikan tulang-tulang dan sendi demi sebuah sensasi kelegaan sesaat tatkala mendengar bunyi “kreeek” atau "kleteek".
     Serentetan bunyi yang ritmis dan melodis. Juga terkadang hanya bersuara lirih “tik..” atau "tak" yang bersumber dari relung-relung tulang kaki, tangan, punggung, dan leher. Atau kadang malah bersuara "kraaaak" seperti dahan patah terinjak. Tidak bisa dibilang merdu, tapi sedap terasa.
    Mungkin sejak duduk di bangku TK, sambalbawang rutin melakukan cracking secara tidak sengaja, untuk sekedar membunyikan jari-jemari yang pegal karena capek main kelereng. Namun kebiasaan ini semakin menjadi-jadi kala remaja dan dewasa, bahkan sampai sekarang belum sembuh. Ada sejumput kelegaan terpancar begitu selesai melantunkan “orkestra” tulang ini.
    Setiap hari, mungkin malah tiap jam jika tidak dalam kondisi tidur, sambalbawang melakukan cracking. Sengaja maupun enggak. Dari sekadar merentang ruas tulang jari tangan dan kaki, hingga memutar pinggang. Dari menekan punggung kaki, mendonggakkan kepala, hingga “mematahkan” leher. Ketika menunduk mencari pulpen jatuh, pun, juga kadang merasa perlu lencari cara untuk memunculkan bunyi “tik-klutuk-ctak,” dari punggung.
    Keahlian craking makin bertambah ketika kuliah. Diajari oleh sohib saya bernama Pay a.k.a Fahruddin, yang kini menjadi pegawai negeri sipil di ibu kota. Dulu, sembari mendengarkan lagu Iwan Fals di kos-nya, Pay menurunkan "ajiannya" ke saya. Adegan selanjutnya, gantian tulang-tulang dia yang saya remukkan. Haha. 
    Memang, skill untuk urusan gini, tidak penting. Namun, jujur aja, cracking memang mengasyikkan. Di kemudian hari, "ajian" itu saya tularkan ke sohib sambalbawang lainnya. Meski, ya tetap belum ada yang level ilmnya setingkat sambalbawang. Hihi.
   Balik ke belakang, cara mengkretek si-Pay itu, sebenarnya menganut falsafah yang kalem. Korban, eh, yang dipijit, tinggal telungkup, tangan diletakkan disamping, bukan di depan dada. Posisi badan rilek, kepala "lempar" ke kiri/kanan.  
   Sementara itu, posisi "pelaku" nangkring di atas punggung "korban". Tempatkan tapak tangan di kedua sisi punggung korban, tapi awas jangan mengenai tulang belakang. Lalu, mencari titik terbaik, untuk merasakan susunan pertulangan. Nah ini yang butuh jam terbang. Kalau sudah cocik, tekan dengan kekuatan sedang. 
   Kreeeek. kreteeek... Suara seperti tulang yang diremuk, atau kadang mirip tulang yang patah, pun, terdengar. Seiring dengan itu, lenguhan kenikmatan pun terlagukan. "Ini hari apa? Aku siapa, kamu siapa," begitu kata seorang teman menggambarkan sensasi betapa kretekan ini sungguh nikmat. 
    Cracking memang cihui. Seakan-akan sanggup melonggarkan otot dan sendi yang pegal dan kaku. Tulang yang penat seperti ditarik ceria, dan dibikin lega. Namun ternyata cracking tidaklah seindah rasanya, jika ditengok dari sisi kesehatan.
    Suara "kreteek" itu sebetulnya apa? Dari sejumlah literatur disebutkan persendian manusia mempunyai cairan dan gas yang jika ditekan/didorong akan mengeluarkan suara “kretek-kretek”. Kok bisa ya suaranya gitu, entah.
    Cracking tidak berbahaya jika tidak sering dilakukan, tapi jangan jadi kebiasaan. Sayangnya inilah yang terjadi pada saya yang fana ini. padahal, dampaknya, bisa saja terjadi trauma ringan pada tulang dan pergeseran jaringan ikat. Haduhlala...
    Cracking pada leher disebut-sebut yang paling berbahaya. Area leher, mestinya tak dibengkok-bengkokkan gitu. Namun celakanya itu kok yang paling aduhai rasanya. Sebagai jalan tengah solusi, ya memang kudu dilakukan hati-hati. 
    Tapi sekali lagi, itu kok ya sulit. Sejenak melihat rekaman video di youtube, ternyata banyak orang yang cara meng-cracking leher-nya lebih “ganas” ketimbang saya. Asal puntir, bahkan sampai ada yang berbunyi "klak". Ngerinya.
   Beberapa waktu terakhir, sambalbawang mencoba lebih kalem dalam mengkretek diri, tapi kadang bablas juga, mesti tak sengeri tayanya di youtube. Setidaknya, satu tangan masih menopang dagu ketika tangan lain "mengekseskusi" batang leher.
    Ketika leher terasa pegal, maka otomatis mesti ditarik perlahan ke samping. Karena tidak bunyi-bunyi juga, nariknya dikuatin. Lho, mana bunyi itu? Kok masih enggak bunyi juga nih leher, maka level dorongan ditambah. Akhirnya satu sentakan menuntaskan sekian hentakan yang gagal tadi. 
   Terdengarlah bunyi “kreek” disertai efek “dueeeng” yang membuat kepala ini sedikit “berdentang”. Selama 1-2 detik berikutnya, seakan hilang sehelai kesadaran dan mata ini hanya bisa ketap-ketip. Sejumput penyesalan pun datang belakangan, karena takut leher patah. 
    Namun segera kenikmatan menerpa, menyelubungi jiwa. Kelegaan melingkupi, seperti terlepas dari beban berat. Kecemasan tadi, mendadak lalu tertutup kenekatan sesaat demi meraih sensasi aneh yang ngeri-ngeri sedap ini.
   Berulang kali, sambalbawang mencoba menghentikan kebiasan cracking ini. Memang sudah berkurang jauh, mengingat usia sudah menuju uzur dan tulang tak seleastis dulu. Namun tetap saja tiap hari tulang ini harus diremukin. Setidaknya jemari tangan, kaki, punggung kaki, pinggang, dan leher. Lho kok semua?
   Sungguh tidak mudah menghentikan kebiasaan ini. Hanya sebatas mengurangi dan membatasi, yang sepertinya paling logis bisa sambalbawang lakukan. Sambil menulis ini pun, sudah dua kali tulang-tulang jari "bernyanyi". Kreteeeek.... Nikmatnya.



Rabu, 10 Juni 2015

TENTANG HONDA (3) INILAH STAR'S FAMILY

     Kemunculan varian Astrea Star, motor mungil berkapasitas mesin 90 cc bikinan Honda, di tahun 1986, menjadi tonggak penting cikal bakal desain mesin bebek pabrikan itu. Saat era Astrea Star inilah Honda juga sukses mendesain bodi yang ramping. Unjuk kerja mesin pun mumpuni. 
     Mari sejenak menengok penampakan keluarga Star ini. Batok lampu yang persegi dan tidak kebesaran, knalpot ramping yang tidak lagi serupa cerutu (astrea 800), stang dan spion mungil, jok yang tipis namun nyaman. Blok mesin berwarna putih dan masih distempel “Made in Japan”.
    Tebeng plastik ala Astrea 800 masih dipertahankan, namun jauh lebih kecil ukurannya. Namun lengan ayun depan, masih mengadopsi Astrea 800, tetapi dengan level "bantingan" yang jauh lebih lembut. 
    Secara tampang, Star proporsional jika membandingkan ukuran dan kapasitas mesin. Beda dengan varian Astrea 800 yang rasa-rasanya masih keberatan di bagian kepala dan agak janggal di bagian ekor. 
     Star membawa perubahan besar dari desain-desain Honda bebek. Juga dari sisi kenyamanan. Untuk pertama kali, ruang indikator pada kepala bebek Honda, desainnya indah. Masih berwujud kotak (mengotak) namun yang tidak kegedean.
    Kemunculan Astrea Star langsung bikin jatuh hati banyak orang. Diler-diler langsung dipenuhi motor itu. Namun yang bikin orang sulit melupakan Star adalah performanya. Mesinnya sih hanya 90 cc namun sanggup menyemburkan tenaga cukup gahar, dengan suara yang merdu. Ini dia penampilan Star seri tahun-tahun perdananya, yang sambalbawang ambil dari internet.


    Dengan cepat Star menjelma menjadi primadona motor bebek. Para bebek lain seangkatannya, sulit mengejar. Di rentang tahun 1986-1998, Star diproduksi. Periode keemasan Star agak terganggu ketika Grand muncul tahun 1991-1999. Generasi Star pun "tertekan" sejenak tatkala Astrea Prima terbit di tahun 1988-1991.
    Saat krisis ekonomi melanda, tahun 1997 lalu, daya beli masyarakat akan motor anjlok. Astrea Grand maupun Supra yang lagi merintis naik, rada susah terjangkau kantong. Di era ini, Star edisi terakhir muncul, yakni tahun 1997/1998, dengan warna strip yang cukup ngejreng, dan blok mesinnya berwarna hitam.
    Era keemasan Star, yang menurut sambalbawang ada di rentang tahun 1986-1990, sulit dikejar para bebek lain. Inilah permulaan motor Honda merajai jalanan. Suzuki yang meluncurkan seri perdana RC dua tak, maupun Alfa yang baru merenda varian pertamanya, tak bisa mengimbangi Star. 
    Astrea Star memang diciptakan untuk menjadi “Star” pada era-nya. Irit BBM, handling mudah, nyaman dikendarai, desain bodi yang mutakhir (kala itu), belum bisa diimbangi bebek-bebek lansiran pabrikan lain. Bebek Suzuki dan Yamaha pun belum melirik pasar empat tak.
    Sambalbawang pernah merasakan beberapa varian Star, meski itu motor teman alias meminjam, hehehe. Beruntung pula, motor-motor pinjaman ini kondisinya terawat. Performa Star memang luar biasa, dan ini pengalaman Sambalbawang sendiri. Menuju Kaliurang, ziarah ke Sendangsono, hingga naik ke Gunung Kidul, enteng saja, meski berboncengan.
    Di paruh kedua Astrea Star meluncur, ketika Grand dan Supra ditelurkan Honda, Star mulai ditempatkan pada level bawah. Supra yang teratas, disusul Grand, barulah Star. Namun itu tidak mereduksi kehandalan Star, yang meski sempat diragukan--terutama Star varian edisi terakhir (96-98). Edisi akhir Star, seperti ini, yang juga diambil dari internet.


  Pada varian Star inilah, generasi Honda berkubikasi 90 CC terakhir tercipta. Era selanjutnya adalah era bebek 100 CC. Astrea Star menjadi generasi terakhir Honda yang mengadopsi suspensi depan lengan ayun. Satu lagi, Star mengawali era mesin 4 percepatan motor bebek. "Kegalauan" kala menggeber mesin Astrea 800, seakan dituntaskan oleh mesin Star.
  Seorang kawan mengatakan, suara mesin Star bahkan lebih halus suaranya dan getarannya daripada Grand. Sambalbawang sih cukup setuju. Lebih setuju lagi jika ada seseorang menjual Star-nya. Aha.


BACA JUGA : 

SUPRA GTR 150 SI BEBEK (RASA) SPORT
MOTOR-MOTOR OKE YANG JEBLOK DI PASARAN
TENTANG HONDA (1) DARI HONDA PISPOT SAMPAI UNYIL
TENTANG HONDA (2) DARI ASTREA 700 SAMPAI ASTREA 800
SUZUKI NEX - LINCAH DAN IRIT
AVANZA VS WULING VS XPANDER
7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
LEBIH BAIK NAIK VESPA

TENTANG HONDA TIGER
JURASSIC WORLD VS JURASSIC PARK

*semua foto diambil dari internet (istimewa)

Minggu, 19 April 2015

(NYARIS) SEMUANYA MENUNDUK

        Pemandangannya nyaris sama, di hampir setiap tempat, waktu, dan kondisi. Menjadi terasing ketika sesungguhnya ada manusia di sekitar. Jiwa dikuasai benda segenggam yang menyampaikan kehebatan digital terkini. Merebut ruang-ruang pribadi.
        Tertawa kini tak lagi menjadi menu harian yang bisa mudah digapai bersama. Bahkan hanya sejengkal berlarian, barangkali tak lagi menarik. Teralihkan oleh layar sekian inchi yang mendorong kita agar (terus) dianggap melek teknologi.
       Aku merindukan anak-anak bercelana pendek warna merah dan berkemeja putih, berlarian di halaman sekolah. Merindukan mereka bergerombol muncul dari sebuah gang, pada sebuah sore, dengan bola sepak yang mereka tendang-tendang.
       Aku merindukan mereka yang menggenggam kelereng dan sepotong kreweng yang ditaruh di kantong celana. Merindukan mereka yang bersemangat menggaris tanah dan berteriak bahwa pertandingan dimulai.
      Aku merindukan mereka meronce karet gelang dan saling berdiskusi untuk memilih karet gelang terbaik untuk dirakit menjadi tali. Aku merindukan kibaran rambut anak-anak yang meloncat-loncat tanpa henti sembari tertawa.
     Aku merindukan melihat sesosok pria kecil yang pulang ke rumah dalam kondisi dekil namun tertawa girang. Dan orang tua mereka yang menyambut dengan sedikit marah, namun segera memupusya dengan segelas teh hangat.
     Aku merindukan mereka, yang menemani sang ibu berbelanja ke pasar dan membantu memasak meski hanya mencucikan sayuran dan mengupas bawang, Aku merindukan mereka yang menyapa sang ayah di kala sore, dan bercengkrama bersama.
     Benda ini semakin membuatku marah... Marah pada diri sendiri dan keadaan, tanpa tahu harus berbuat apa. Hanya bisa menghela napas panjang ketika melihat mereka, yang seharusnya berlarian, hanya terpekur di depan layar itu.
    Menunduk. Nyaris, nyaris semua anak-anak kini "takluk" pada benda itu.  Siapa yang jago main kelereng dan lompat tali, sekarang? Siapa yang masih mau menjamah dapur, untuk memasak menu untuk ayah bundanya?
     Keluh...

BACA JUGA
PETE YANG MENGHARUKAN
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019









Kamis, 16 April 2015

TENTANG HONDA (2) DARI ASTREA 700 SAMPAI ASTREA 800

Bebek-bebek Honda pada angkatan keluarga besar C50 dan C70 memang menawan. Lelukan serba bundar, material dominan logam, dan mesinnya yang mungil dan membulat-sangat stylish. Tapi, setelah 20-an tahun “membundar” ria, Honda coba “mengotak”. Varian Asrea 700 adalah buktinya.

Dari sekian varian bebek Honda, sambalbawang cukup yakin Astrea 700 yang paling tidak ngetren. Apa mau dikata, doi memang seperti dikutuk untuk tidak termasuk motor klangenan. Alhasil, nampaknya memang tidak ada klub pecinta Honda khusus Astrera 700-motor yang sering juga disebut Super Cub ini. Iya kan? 

By the way, gimana sih wujud Astrea 700 yang menyambung era Pitung ini? Namanya aja seri awal, Astrea perdana ini jelas terlihat unsur coba-cobanya. Desain berubah banyak dari pendahulunya. Doi tampil kotak, dari batok lampu, spion, tebeng, lampu sein, sampai lampu belakang. Kecuali blok mesin yang masih menganut gaya C70, berikut pengapiannya masih memasang platina.

Penasaran lihat tampang Astrea? Ini nih fotonya, Ndoro. Sambalbawang comot dari internet. Makasih banget untuk yang sudah memajang foto ini. 


Barangkali, inilah bebek Honda pertama kali yang bodinya disapu cat warna hitam dan putih, menenami warna klasik sebelumnya: merah dan hijau. Elemen karet mulai banyak disematkan di sini, seperti pembungkus batang spion.

Dan, ini pertama kalinya, ada lampu sein tambahan di kanan-kiri tebeng depan. Dengan mesin yang kapasitasnya naik 10 CC dari para bebek C70-C80, mudah terbaca Astrea ini memang lebih powerful. Asyiknya pula, mesin cukup halus suaranya.

Sayang, kemunculan si benih Astrea di tahun 1981-1983 tidak mampu segemilang era C50, C70, bahkan C80. Jika ditarik ke kanan-kiri, saya rasa, itu tak lepas dari para kompetitor. Yamaha, dengan deretan bebek dua tak-nya, juga mulai mendongkrak dapur pacu. Bebek Kawasaki dua tak, juga ikut berebut kue, meski tidak bisa dibilang sukses.

Era Astrea 700 berbarengan dengan masa jaya motor cowok Honda yang kita kenal sebagai generasi CB. Saat itu pula, Vespa meliirik pasar dan meninggalkan varian Sprint-nya yang bertahan sangat lama (1968-1979). Vespa mengeluarkan varian Exclusive. berbekal mesin 150 CC, yang langsung laris manis.

Karena itulah, barangkali, Honda hanya mengedarkan Astrea 700 selama tiga tahun. Melihat jumlah populasi di jalanan pun, kita cukup paham jika varian Honda yang satu ini tidak terlalu sukses, walau juga tak bisa dicap gagal total. Secara fenomena, kemunculan perdananya memang menggemparkan. Maklum varian pitung kan kelamaan beredar. Khalayak ramai butuh model bebek anyar yang fresh.

Keluarlah si Astrea 700 ini, yang jenis pertamanya berkelir hitam dan merah. Dulu, saya yakin, doi sempat ngetop, tapi era tahun 2000-an, makluk ini sudah mulai langka terlihat di jalanan. Seorang kawan bahkan menggeletakkan begitu saja SuperCub-nya di garasi rumah. 

Pernah hadir SuperCub Astrea 700 ini di keluarga saya. Tapi, ya tidak terlalu terkesan meski jelas terbukti doi motor harian yang cukup mumpuni dan irit bensin. Desain lampu, sein, lampu belakang, semuanya kaku. Semakin kurang serasi dengan desain knalpot yang canggung antara mempertahankan model cerutu atau mulai membazoka. 

Tapi, secara mesin, Astrea 700 termasuk kategori lumayan. Mesinnya terkenal bandel, tahan banting. Meski demikian, motor ini tidak istimewa. Meski, perlu juga dicermati bahwa motor ini termasuk varian bebek Honda pertama yang mulai digandrungi remaja untuk di...permak, dimodifikasi.

Kalau tidak percaya, bisa dicermati film-film di era 80-an yang berlatar belakang anak-anak SMA. Jika ada adegan menampilkan suasana parkiran motor, atau kendaraan, agaknya Astrea 700 kemungkinan besar terlihat walau sekelebat. Contohnya film ACI, Aku Cinta Indonesia. Ada bu guru yang makai motor itu lho. Hahaha.

Wokeh. Lanjut cerita. Era 700 ini langsung disegel habis Honda dan diganti model baru yang kita kenal sebagai Astrea 800, pada tahun 1983/1984. Inilah pertama kali Astrea dikenalkan dan terbukti langgeng sampai varian Astrea terakhir pada tahun 1999. Ada apa dengan Astrea 800 yang mengusung mesin 86 cc ini, kok begitu terkenal.


Saya mencoba menganalisis sendiri, ah.  Jadi, Astrea 800 pada waktu itu, adalah desain tercantik dari para bebek yang ada. Pengapian sudah menganut CDI, bentuk mengotak tapi tidak sekaku kakaknya. Satu lagi, mesin 86 CC si Astrea ini, bener-bener bandel, dan haluuus. Boleh saya bertaruh, inilah varian Honda yang paling halus suara mesinnya (jika motor dalam kondisi terawat).

Pada Astrea 800 inilah, posisi kunci starter pertama kalinya disematkan di posisi patennya yang bertahan hingga kini. Yup di sisi kanan, bawah setang kanan. Perlu dicatat pula, inilah motor Honda pertama yang lampu belakangnya mengotak tiga sudut. Juga, dilindungi dengan “teralis”, meskipun nampak agak wagu.

Astrea 800 inilah generasi bebek Honda pertama yang wajah setangnya berukuran lebar. Agak syok juga sih mengingat bebek sebelumnya pada mungil. Tapi karena ukuran wajah setang yang lebar itulah, melihat panel instrumennya pun jadi lega. Kalau tidak salah, ada panel penunjuk kondisi oli mesinnya. Cukup hore pada zaman itu.

Kelemahan atau kekurangan Astrea 800, barangkali pada desain kepala yang kegedean. Rada kontras dengan bodi yang masih tergolong mungil dan ban depan belakang yang masih mengadopsi ukuran 2.25 dan 2.50. Haha. Satu lagi kejanggalan, tiang spionnya nggak modis, kepanjangan.

Tapi eniwei, inilah cikal bakal keluarga besar Astrea yang akan merajai aspal jalanan hingga tahun 2000. Astrea 800 jadi embrio desain keluarga besar Astrea yang nantinya menuai sukses. Gempuran Suzuki yang membawa armada RC-nya, disusul Yamaha yang mulai ancang-ancang mengeluarkan varian perdana Alfa, membuat Honda memang harus merevisi tampilan dan performa Astrea 800. 

Astrea 800 yang dibikin terakhir tahun 1986, menandai era terakhir Honda memasang konsep tiga percepatan pada bebek-bebeknya. Inilah menariknya. Jujur saja, Astrea yang ini termasuk varian bebek Honda idaman. Suatu saat ingin sambalbawang miliki, dan kendarai naik-turun bukit di Kota Balikpapan.

Tidak untuk menjadikannya motor harian. Hanya, sekadar pengingat dan menuntaskan rasa penasaran pada keunikannya. Karena, saya yakin, pada Astrea 800 inilah, Honda dikenal pertama kalinya sebagai pabrikan yang jago menghasilkan bebek-bebek raja tanjakan.

Salam wek-wek..


BACA JUGA  :  TENTANG HONDA (3) INILAH STAR'S FAMILY (ASTREA STAR)
BACA JUGA  :  TENTANG HONDA (1) DARI HONDA PISPOT SAMPAI UNYIL
BACA JUGA  :  SUPRA GTR 150 SI BEBEK (RASA) SPORT
BACA JUGA  :  BANYAK MOTOR SEDIKIT MEREK, SEDIKIT MOBIL BANYAK MEREK
BACA JUGA :   NASIBMU SUZUKI
BACA JUGA  :  SUZUKI NEX LINCAH IRIT KALEM
BACA JUGA  :  MOTOR-MOTOR OKE YANG JEBLOK DI PASARAN
BACA JUGA  :  7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
BACA JUGA  : LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
BACA JUGA  :  avanza vs wuling vs xpander
BACA JUGA  :  LEBIH BAIK NAIK VESPA
BACA JUGA  :  24 FINALIS DUTA WISATA BALIKPAPAN 2017 PAKAI BAJU SAMANTHA
BACA JUGA  :  TENTANG HONDA TIGER
BACA JUGA  :  FORD LASER SONIC - BALADA FORDI (2)
BACA JUGA  :  TENTANG HONDA TIGER
BACA JUGA  :  AKU DI BELAKANGMU, TIGER WONG
BACA JUGA  :  THE SAMANTHA
BACA JUGA  :  HORE IKUT LELANG HAPE JADUL
BACA JUGA  :  MUSIK ZAMAN DAHULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS?
BACA JUGA  :  "MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA

*semua foto diambil dari internet

Rabu, 15 April 2015

AKU, SIANG, DAN MALAM

 

Aku masih muda, marah, terluka

Selalu terlupa di keramaian kota

Aku ingin menumpahkan murka pada siang

Karena datang terlalu cepat dan pulang terlalu lambat


Aku masih muda, marah, terluka

Sedikit terlupa di pinggiran kota

Aku ingin malam lebih panjang

Resahku ingin bercerita lebih lama

 

Malam dan siang memang berkawan

Membagi waktu dengan ceria

Malam senang mendekap mesra

Siang senang merangkul seharian

 

 

Tapi siang pun sering memarahiku

Dan malam tak mau menimbun perasaan

Mereka enggan membohongi egonya

Memilih untuk mengguncangku

 

Siang dan malam..

Menidurkan sekaligus membangunkan

Memelukku, memakiku

Tertawa terbahak sambil menunjukku

 

Malam menyuruhku bermimpi

Siang memaksaku berlari

Mereka hampir berhasil kini

Selangkah lagi, jiwa terkunci

 

Namun mataku terlalu lelah untuk terlelap

Raga tak cukup kuat untuk terjaga

Aku hanya bisa membiarkan

Siang dan malam bersama-sama.. memelukku

 

 


BACA JUGA ARTIKEL LAIN:

"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
HANACARAKA AKSARA JAWA YANG INDAH
BASA WALIKAN
NGGUDEG DULU
THE AQUARIAN ? 
MAMMAIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN

Rabu, 01 April 2015

TENTANG HONDA (1) DARI PISPOT SAMPAI PITUNG

Ngobrolin motor bebek, tak bisa lepas dari kiprah Honda. Pabrikan berlogo sayap mengepak, memang paling sip mengeluarkan deretan bebek-bebek legendarisnya dan merajai jalanan Tanah Air dalam kurun waktu hampir setengah abad. Apa ya varian bebek pertama Honda itu? Sambalbawang penasaran.

Ternyata Honda Passport, alias Honda Pispot, yang tayang perdana di penghujung tahun 50-an lalu. Tepatnya tahun 1958. Sang Pispot ini, entah mengapa, kerap dipanggil Honda "Unyil". Pispot berbadan mungil, ramping, dan secara kapasitas mesin, doi dikategorikan keluarga besar Honda C50.  

Setelah meluncur kesana-kemari, akhirnya nemu juga penampakan si Unyil. Makasih banget sama yang mempostingnya di internet. Begini nih, tampang Unyil.



Pispot bukan termasuk keluarga pitung alias C70--varian paling legendaris dari jajaran bebek lawasan Honda. Ukuran tubuh, selisih dikit. C70 tidak seperti para "adiknya", alias Si Pitung itu, yang diproduksi lebih massal.

Cerita kita diawali dari Pispot. Varian ini akhirnya disapa "Pispot" agar.... memundahkan pelafalan Passport. Ah, sesimpel itu ternyata. Tapi boleh juga, sah-sah saja julukan yang disematkan para bikers era itu. Tapi, tunggu dulu. Kalau nama “Unyil”, latar belakangnya apa? Sambalbawang belum mendapat jawabannya, nih.

Tapi barangkali karena tampilannya yang mungil, mirip Unyil, tokoh utama di serial anak-anak Si Unyil, yang merajai TVRI di era 70-an. Sebutan Unyil muncul belakangan, karena orang lebih dulu menyebut C50 sebagai Pispot. 

Unyil a.k.a Pispot dibikin pertama kali tahun 1958. Bodi dan mesinnya diracik di negeri pembuatnya. Merentang ke belakang, tahun 1958 adalah 13 tahun setelah Kota Hiroshima dan Nagasaki di bom atom oleh Amrik. Peristiwa itu menyegel akhir Perang Dunia II, dan membuat nyaris semua industri di Jepang, rontok. 

Namun Jepang cepat bangun dan menyadari bahwa industri otomotifnya--selain elektronik--harus mengejar pertumbuhan ekonomi di barisan depan. Harus ekspansi ke mana-mana. Pengalaman menjajah, ahahaha, nampaknya memberi gambaran bagi para insinyur Jepang bahwa berjualan motor adalah yang paling menguntungkan.  Dan, cepat. Apalagi, Jepang sudah berpengalaman soal permesinan. 

Ingat pesawat Mitshubishi Zero, yang performanya sempat bikin Amrik ketar-ketir di awal Perang Dunia II? Kawasaki sudah duluan ngetop sebagai pembuat mesin kapal, jauh sebelum perang dimulai. Artinya, kalau membikin motor, akan lebih mudah, berbiaya jauh lebih murah, dan tinggi peluang pemasarannya. 

Hm... tapi mari sejenak kita lihat “peta” otomotif dan sejumput suasana di era akhir 1950 itu. Kebutuhan penduduk bumi akan transportasi, telah terbaca, dan semakin kencang. Di sisi lain, sepeda--yang sampai tahun 1950 jadi favorit--mulai dianggap kurang cepat. Ketika jalanan mulai banyak diperhalus (diaspal), kebutuhan akan sepeda motor, mulai menyusul kebutuhan akan mobil.

Sebelum tahun 1960-an adalah era motor gede--meskipun ada juga yang bukan moge lantaran bermesin 125 CC. Namun saat itu, sepertinya, belum muncul motor wek-wek berkubikasi di bawah 100 CC. Belum dianggap perlu, barangkali. Motor-motor yang oke saat itu, menurut ayahanda sambalbawang, masih diasumsikan motor yang gede karena lebih stabil dan mantap melahap jalanan. 

Karena itu pula, Honda, menurut sambalbawang, melakuan riset panjang dan hati-hati kala mengeluarkan si Pispot dari kurungan, eh, pabrik, tahun 1958 silam. Produksi Pispot jelas dibikin minim. Honda tahu, “pertempuran pertama” di ranah "perbebekan motor" boleh jadi penentu “hasil akhir” kemudian hari.

Sebelum Pispot nongol, orang Indonesia sudah mengenal motor kecil. Istilahnya moped, motor ber-CC kecil (kalau tidak salah sekitar 50 CC). Dua moped yang kesohor waktu itu adalah DKW Hummel dan Zundapp. Keduanya keluaran Eropa. Kecil bodinya, irit bahan bakar, ada lampunya, dan bisa boncengan. Kalau hendak distarter, tinggal pancal pedal. Kalau bensinnya habis, pedalnya tinggal dikayuh.

Moped-moped sempat ngetren. Namun, lama-lama dianggap tidak nyaman. Menurut cerita ayahanda sambalbawang, suku cadang moped juga terbilang mahal. Jauh lebih mahal ketimbang sparepart Vespa yang juga keluaran Eropa. Dan, dari sinilah Honda nampaknya mengambil manfaat berdasarkan pengalaman dan kekurangan moped. Satu kesimpulannya: motor idaman orang Indonesia hingga di era 1960 adalah motor yang irit bensin, bodi tak terlalu gambot, muat dua orang, cukup kuat di tanjakan, mesinnya tidak suka rewel, dan enak dikendarai.

Honda juga tahu, mereka bisa meraih perhatian dengan menyelaraskan pengalaman, ilmu, teknologi, strategi, dan instuisi. Maka jadilah si Pispot tadi. Mesinnya dibikin juga berkubikasi 50 CC, yang pastinya membuat bimbang para penggemar moped. Ditambah lagi, tampilan Pispot dibikin rada mirip moped. Belum lagi harga. Ayahanda bilang harga moped jauh lebih mahal ketimbang Pispot.

Coba sejenak melihat si Unyil periode awal yang lampu depannya nampak “melorot”, tampilannya kan seperti moped. Tapi, perbedaan Pispot dan moped, tentu saja ada dan banyak. Pispot ogah mewarisi “pedal sepeda” ala moped sebagai pengungkit start. Pispot sudah dilengkapi lampu sein, yang itu belum dipunyai personel keluarga moped. 

Tentang lampu sein tersebut, boleh jadi merupakan satu kisah unik. Inilah salah satu gebrakan Honda yang "mengguncang". Lha wong Vespa--yang mulai laris di pertengahan tahun 1960--baru menyadari perlunya pakai lampu sein (juga spion) di era 80-an ketika memunculkan varian Exclusive. Berarti Honda selangkah di depan dong? Akur? 

Karena dulu belum ada diler Honda di Tanah Air, konon, Unyil dibawa oleh mereka yang pernah ke Jepang. Mungkin oleh pedagang yang visioner, hehe. Ada pula yang menyebut, para pelaut-lah yang memboyong. Namun entah, jua, siapa yang bener. Yang jelas, Unyil sukses besar. Jepang mulai serius menggarap pasar Indonesia. Di era itu, infrastruktur jalan mulai diperhatikan. Jepang pasti dalam keyakinan tinggi, karena sebelumnya pasar cukup merespons sepeda-sepeda bikinannya.

Begitu muncul, Pispot segera jadi fenomena baru di belantikan permotoran. Tapi, usut punya usut, ternyata di era ini, sepeda motor tidak (atau belum) mengenal nomer rangka. Waduh, ngeri-ngeri sedap juga ya, karena motor rentan “dipinjem” maling walaupun dulu belum zaman begal motor.

Menyoal tampang Pispot alias Unyil, meski jadul, sebetulnya cukup oke. Lampu nggantung seakan melorot di bawah setang, menyematkan kesan modern saat itu. Tapi yang bikin sambalbawang terkekeh adalah letak rumah kunci starter (kontak) yang nempel di samping (bawah) jok. Tidak habis mikir mengapa si desainer meletakkannya di sana. Hahaha.

Si Unyil-Pispot, joknya terpisah, depan dan belakang. Enggak tahu juga kenapa, tapi sambalbawang cukup yakin itu juga sedikit banyak sebagai imbas para kompetitor, entah Vespa maupun motor-motor lain. Oya, si Pispot ini, belum mengadopsi starter electric alias masih berkonsep engkol by kaki.

Usai Pispot diluncurkan, Honda tak berpuas diri. Honda lalu mengeluarkan C70 yang belakangan akrab dipanggil Pitung, kalau tidak salah tahun 1972-1973. Mudah ditebak, Pitung adalah penyempurnaan yang sempurna dari varian Unyil (Pispot). Secara tampang, fitur, dan lain-lain, Pitung sudah cukup komplet.


Keseriusan negeri sakura dan respon publik berujung pada berdirinya PT Federal Motor tahun 1971, sekaligus menandai era perakitan motor-motor Honda di Indonesia. Bahan-bahan materialnya memang masih diimpor. Saat itu pasti harganya muaahal sekaleee, dan hanya orang (cukup) kaya yang sanggup menebus dan “memelihara” Pispot.


Menyoal nama, Pitung mengacu pada era tahun keluarnya varian itu: pitungpuluh. Ini seturut pula kapasitas dapur pacunya, yang dipatok pada 72 CC. Motor ini "meledak" di pasaran. Honda Pitung yang laris manis ini punya julukan lain, lho, yakni “Astuti”. Embuh gimana jalan ceritanya kok bisa demikian, tapi kita amini saja.

Pitung mengawali keran masuknya pitung-pitung berikutnya dan sepertinya menjadi tonggak meloncatnya desain-desain motor yang semakin memungil. Imbas lain, sang kompetitor, terbangun. Yamaha, misalnya, segera melansir dan mengekspor Yamaha 2 tak generasi awal (V75)--yang akrab disapa sebagai Yamaha Robot. Suzuki juga demikian, langsung ikut berjibaku menghunus "katana” dengan varian andalannya FR78.  

Suzuki dan Yamaha memilih segmen mesin dua tak. Alhasil, hanya Honda yang sendirian menggarap mesin empat tak (langkah). Honda bisa dibilang tidak mendapat tantangan berarti di ranah yang sama. Kompetitor lain, Vespa, juga terus bermain di ranah dua tak, seturut DNA-nya.

Saat itu, motor mesin dua tak lebih dianggap bertenaga, kuat di tanjakan, dan simpel ketimbang empat tak.  Namun sebelum pabrikan lain mengambil alih posisi, Honda dengan cerdik meluncurkan varian C70 a.k.a Pitung tersebut. Tonggak kedigdayaan Honda pun, dimulai. Kelak, Kawasaki yang paling duluan mengejar Honda untuk membuat bebek empat tak pertamanya--dengan varian Binter Joy.

Oke, kembali ke Pitung. Tampilannya memang keren bin cakep. Stang lengan kecil tetap dipertahankan. Posisi lampu depan dinaikkan, jadi seakan bertetangga kanan-kiri sama lampu sein yang nonjol keluar dari tangan setang. Dua fairing menjadi sayapnya.

Dari sisi tampang keseluruhan, Pitung masih rada mirip Unyil kecuali beberapa bagian, seperti di lampu depan. Knalpot, suspensi, model rangka, lengkungan, sapit urang, hingga lengan ayun si Pitung, masih Unyil banget. Bodi Pitung hanya mengenal dua warna nampaknya, yakni merah sama hijau. 

Beberapa menit berselancar di dunia mbah Google, akhirnya nemu bentuk C70 yang bikin pecinta motor klasik bakal gelisah ingin memiliknya. Gini nih, C70 yang kesohor :


Era pitung sepertinya langsung menyetop era motor gede (moge). Moge dianggap sebagai motor yang kurang praktis dari segi apapun. Hehe, ya iya, lah. Lalu, dari hasil tanya sana-tanya sini, sambalbawang mendapat kesimpulan: Pitung terbayak adalah produksi tahun 1973-1979. Menariknya lagi, efek Honda bebek awal ini bikin Vespa ikut tancap gas.

Coba sejenak kita balik ke Pispot. Motor ini muncul tahun 1958, saat Vespa masih adem-ayem dengan variannya yang lahir di era tahun 1953-1957 dengan ciri khas lampu nangkring di spakbor depan, dan mengusung mesin berkubikasi 150 CC. Vespa pun masih anteng di awal kemunculan Pispot. 

Tetapi, pabrikan Italia itu menyadari masifnya Honda. Vespa tersentak, dan segera mencetak skuter bermesin kecil. Lahirlah skuter yang bermesin 90 CC di tahun 1970-1971. Cukup mengejutkan bagi para skuteris saat itu, lantaran varian sebelumnya bermesin gambot 150 CC. 

Namun kemunculan Vespa yang bodinya pun mungil ini cukup sukes menjaga keloyalan penggemar Vespa untuk tidak berpindah ke lain hati. Mencomot cerita ayahanda, skuter kecil ini banyak dipakai remaja cewek saat itu. Namun skuter kecil ini memang bukan untuk menghadang Pitung, karena berbeda "genre".

Meski demikian, Vespa terus menggelontorkan deretan variannya seperti Super dan Sprint, direntang kelahiran Pitung. Semakin mulai membaca peluang pasar, Honda pun membikin Pitung secara massal. Sama-sama massal karena Vespa Super dan Sprint juga dibikin secara massal.

Vespa dan Honda sama-sama berjaya di era itu. Namun melihat perbedaan tipikal mesin, persebaran dua motor ini awalnya tersegmentasi. Sambalbawang amati, Vespa yang bermesin 2 tak, menawarkan torsi tenaga melimpah, sehingga "merajai" perbukitan dan pegunungan. Sedangkan Pispot hingga Pitung yang menggembol mesin 4 tak, banyak "dipelihara" di perkotaan dan pedesaan yang topografinya relatif enggak berbukit.

Beruntung dan jelinya Honda, Pitung memang penyempurnaan Unyil. Performa dan wajah Pitung secara sepintas pun, lebih asyik ketimbang pendahulunya. Lebih good looking--lah. Di Pitung, posisi lampu dinaikkan, sehingga lampunya seperti "bertetangga" kanan-kiri sama lampu sein yang nonjol keluar dari tangan setang.

Sedangkan secara wujud, Pitung masih rada mirip sama Unyil. Dari bodi sampai bentuk knalpot, dan suspensi yang masih mengusung tipe lengan ayun. Tebeng plastik kanan-kiri, dan bagian tengah masih menyatu. Tuas chooke menempel di kepala setang, persis di depan mata pengendara. Unyu..dah..

Beranjak ke bagian panel indikator, petunjuk posisi gigi percepatan hanya ada satu lampu, yakni netral. Lampunya berwarna hijau. Hahaha. Rentang kecepatan juga berhenti di angka 100. Oya ada juga panel odometer. Konon kecepataan maksimal Pitung hanya sampai 80 km per jam. Tapi untuk ukuran dulu, sudah lumayan banget. Satu lagi yang menarik, ruang untuk saringan karburator di Pitung, berbentuk mirip lambung manusia.

Di era akhir Pitung, kalau tidak salah tahun 1977, mulai dikenalkan varian yang telah membawa piranti stater elektrik. Ini (kalau tidak salah) era pertama motor bebek yang memakai starter elektrik. Catet, 'Ndan. Jadi penasaran lihat gimana wujud aki (accu), yang ternyata hanya terdiri atas tiga bilik sel ini. Mungilnyaaaaa.

Pitung diproduksi cukup lama, sekitar 13-14 tahun. Beberapa penyegaran, pun, juga dilakukan. Sebagai catatan lagi, selama periode Unyil-Pitung itu, varian Honda juga dikenal sebagai varian "Super Cub", yang secara garis besar, terbagi atas tiga generasi. Generasi pertama, kedua, dan ketiga.

Untuk memberi tempat bagi varian-varian lain, Honda akhirnya menghentikan edisi terakhir Pitung pada tahun 1981, dan meluncurkan Astrea 700. Seperti apa sih fenomena dan wujud Astrea 700? Sabar ya, tunggu tulisan sambalbawang selanjutnya. Ada kok di blog ini. Salam hore.



SUPRA GTR 150 SI BEBEK (RASA) SPORT
Lebih Baik Naik Vespa
NASIBMU SUZUKI
SUZUKI NEX LINCAH IRIT KALEM
MOTOR-MOTOR OKE YANG JEBLOK DI PASARAN
FORD LASER SONIC - BALADA FORDI (2)
7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA


*semua foto diambil dari sumber internet