Sabtu, 13 Juni 2015
PERTAMA ( cerpen - 1 )
"Halo?" suara di seberang, terdengar pelan. "Halo, ini siapa?" ulangnya. "Hai....ini aku, Setya" sahutku, tak kalah pelan, beberapa saat kemudian. "Oh kamu, toh. Ada apa, ya?" katanya. Nada bicaranya masih datar, seakan tidak bersemangat. Membuatku ragu untuk mengawali obrolan. Sebuah ajakan, tepatnya. "Apa kabar?" balasku. Dan, ah, baru kusadari itu adalah sapaan terkonyol sedunia, karena baru tadi pagi kami betemu di kampus. Kodok pun tahu itu. "Baik, lah. Lha kita kan tadi ketemu," ujarnya seketika. Nah, kan, sudah ketebak jawabannya.
Masih ketus nada bicaranya. Gagang telepon kugenggam dengan erat. Kotak bernama boks telepon umum ini kuketuk-ketuk, Mencoba mencari inspirasi kata-kata yang ampuh untuk menyambung obrolan yang mulai menuju garing. "Iya, tadi kan ketemu. Hehe," aku menjawab sekenanya.
"Oke. Lalu?" suara di seberang melanjutkan pertanyaan. Aku yakin dia paham ini adalah obrolan nan tandus laksana gurun sahara. Tapi, untunglah, dia sudah mulai paham ke mana arah pembicaraanku. Setidaknya, nada suaranya mulai sedikit ramah. "Ada apa?"..
"Mmmm, bolehkah aku mengajakmu mengikuti misa di gereja, Sabtu besok?" kataku sembari terbata-bata. Disusul keringat mengucur di sekujur badan serta kepala. Beberapa detik berlalu, suasana hening. Orang di luar bilik kaca ini mulai serius memehatikanku. Agaknya, dari luar, aku terlihat seperti patung yang tengah menelepon.
"Baiklah. Kamu jemput aku, ya," terdengar suaranya. Akhirnya. Lega. Disepakati, kami akan bersama-sama mengikuti misa Sabtu malam. Tempatnya di sebuah gereja. Bukan gereja tempatnya misa mingguan, juga bukan gereja yang biasa kudatangi.
"Malu kalau ketemu teman," begitu alasanya. Sama seperti alasanku. Ini adalah acara pertamaku mengajak seorang perempuan. Apakah ini kencan? Ah, tidak juga. Atau dia yang sungkan menolak ajakanku? Aku tidak tahu. Ah, untuk apa memikirkan itu.
Yang penting aku bisa mengajaknya. Mungkin menapak tahapan selanjutnya yang orang-orang sebut dengan kencan. Aha, kencan. "Kencan, kencan.. Kencan, kencan..." suara itu terus teringang di telingaku hingga 24 jam ke depan.
.....
Sabtu sore. Cuaca cerah. Dunia merestuiku. Asyik. Kupacu pelan motorku, si bebek dua tak yang umurnya lebih tua empat tahun dari tahun kelahiranku. Butuh 30 menit menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan, tak henti-henti aku merapal "mantra" agar rencana tidak berantakan.
Akhirnya sampai juga aku di depan rumahnya. Rumah yang sederhana, sesederhana perempuan yang sebentar lagi kuajak pergi. Pintu kuketuk, dan dia sendiri yang membuka. Seorang gadis manis ada di depanku. Dengan senyum terpasang indah di wajahnya yang mungil.
Ah, ada sang kakak di belakang si dia. Menatap dengan penuh selidik siapa gerangan lelaki yang berani mengajak adiknya pergi. Jurus basa-basi harus segera diluncurkan untuk mendapat tiket kencan. Ah, kencan lagi yang otak ini pikirkan.
Singkat cerita, tiket mengajak dia untuk keluar rumah, kudapat. Dengan catatan harus pulang lagi kerumah sebelum pukul 21.00. Ah itu soal gampang. Aku pasti mengembalikan ke rumah gadis bermata mungil ini. Orkestra detak jantung mulai bergemuruh, seiring motor kustrarter. Yes ! Hari bersejarah ini harus kucatat. 22 Desember. Catat !
Setumpuk kata melintas di kepala sepanjang perjalanan. Barangkali kamu pun demikian. Andaikan aku bisa melihat raut wajahmu saat itu. Kalau saja aku boleh berandai-andai, aku ingin kamu memelukku. Melingkatkan tanganmu ke pinggangku. Andai. Tapi, aku bisa merasakan posisi dudukmu jauh di sisi belakang jok. Dan ada tas di antara kita.
"Mungkin, aku pria kesekian yang mengajakmu ke gereja. Tetapi kamulah wanita pertama di semesta ini yang kuajak ke gereja," satu sisi pikiranku berbicara padaku. Ah. Entahlah. "Mungkin dia wanitamu kelak. Ambillah hatinya, miliki dia," sisi lain pikiranku menimpali.
Di tengah silang imajinasi itu, kami melaju berdua, membelah ruas-ruas jalan. Ah, 15 menit rasanya terlalu cepat sampai ke gereja. Kami bahkan belum sempat bercakap-cakap. Dua-tiga perempatan terlampaui tanpa berhenti karena lampu lalu lintas menyala hijau.
Akhirnya, sampailah kami di gereja itu. Kami duduk di salah satu sudut. Misa pun dimulai, lagu demi lagu dinyanyikan. Sungguh, aku ingin mendengar suaramu. Merdukah suaramu saat bernyanyi. Seindah apa suaramu? Namun nampaknya kamu hanya membuka mulut, tanpa disertai suara.
Satu setengah jam aku duduk bersebelahan dengannya. Tanpa satu kata pun yang terlontar. Sepertinya aku ingin berteriak agar seisi gereja ini mendengar. Inilah perempuan yang menyita malam dan siangku. Inilah perempuan yang tatapannya meremukkan rongga dada dan mencekat nafasku.
Tiga atau empat kali aku mencoba mencuri pandang. Tapi, sialnya, selalu ketahuan. Dan berakhir dengan kepalanya yang langsung menunduk. Sungguh, aku malu dan tersipu. Tapi karena aku lelaki, aku tidak boleh terlihat malu, kan? Aku mencoba menyelami pikirannya. Mungkin dua merasa malu jika ketahuan teman. Karena itu, sikap tubuhnya pasif.
Begitulah.... Aku tidak pernah menyangka bahwa itulah kali pertama dan juga kali terakhir dia mau kuajak pergi berdua. Begitulah. Tidak ada yang salah bukan? Hanya ada yang keliru. Sebab, sampai hari ini, setiap mengikuti misa di gereja itu, aku selalu duduk di kursi tempat kita duduk, dahulu..
BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
PELUKAN (CERPEN)
BASA WALIKAN
Kamis, 11 Juni 2015
KRETEEEEK, KRETEEEEK,.... NIKMATNYA
Serentetan bunyi yang ritmis dan melodis. Juga terkadang hanya bersuara lirih “tik..” atau "tak" yang bersumber dari relung-relung tulang kaki, tangan, punggung, dan leher. Atau kadang malah bersuara "kraaaak" seperti dahan patah terinjak. Tidak bisa dibilang merdu, tapi sedap terasa.
Memang, skill untuk urusan gini, tidak penting. Namun, jujur aja, cracking memang mengasyikkan. Di kemudian hari, "ajian" itu saya tularkan ke sohib sambalbawang lainnya. Meski, ya tetap belum ada yang level ilmnya setingkat sambalbawang. Hihi.
Sementara itu, posisi "pelaku" nangkring di atas punggung "korban". Tempatkan tapak tangan di kedua sisi punggung korban, tapi awas jangan mengenai tulang belakang. Lalu, mencari titik terbaik, untuk merasakan susunan pertulangan. Nah ini yang butuh jam terbang. Kalau sudah cocik, tekan dengan kekuatan sedang.
Kreeeek. kreteeek... Suara seperti tulang yang diremuk, atau kadang mirip tulang yang patah, pun, terdengar. Seiring dengan itu, lenguhan kenikmatan pun terlagukan. "Ini hari apa? Aku siapa, kamu siapa," begitu kata seorang teman menggambarkan sensasi betapa kretekan ini sungguh nikmat.
Cracking memang cihui. Seakan-akan sanggup melonggarkan otot dan sendi yang pegal dan kaku. Tulang yang penat seperti ditarik ceria, dan dibikin lega. Namun ternyata cracking tidaklah seindah rasanya, jika ditengok dari sisi kesehatan.
Cracking tidak berbahaya jika tidak sering dilakukan, tapi jangan jadi kebiasaan. Sayangnya inilah yang terjadi pada saya yang fana ini. padahal, dampaknya, bisa saja terjadi trauma ringan pada tulang dan pergeseran jaringan ikat. Haduhlala...
Tapi sekali lagi, itu kok ya sulit. Sejenak melihat rekaman video di youtube, ternyata banyak orang yang cara meng-cracking leher-nya lebih “ganas” ketimbang saya. Asal puntir, bahkan sampai ada yang berbunyi "klak". Ngerinya.
Ketika leher terasa pegal, maka otomatis mesti ditarik perlahan ke samping. Karena tidak bunyi-bunyi juga, nariknya dikuatin. Lho, mana bunyi itu? Kok masih enggak bunyi juga nih leher, maka level dorongan ditambah. Akhirnya satu sentakan menuntaskan sekian hentakan yang gagal tadi.
Terdengarlah bunyi “kreek” disertai efek “dueeeng” yang membuat kepala ini sedikit “berdentang”. Selama 1-2 detik berikutnya, seakan hilang sehelai kesadaran dan mata ini hanya bisa ketap-ketip. Sejumput penyesalan pun datang belakangan, karena takut leher patah.
Namun segera kenikmatan menerpa, menyelubungi jiwa. Kelegaan melingkupi, seperti terlepas dari beban berat. Kecemasan tadi, mendadak lalu tertutup kenekatan sesaat demi meraih sensasi aneh yang ngeri-ngeri sedap ini.
PENDEKAR TONGKAT EMAS WELL DONE
NGGUDEG DULU
7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
PETE YANG MENGHARUKAN
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
JURASSIC WORLD VS JURASSIC PARK
BASA WALIKAN
Rabu, 10 Juni 2015
TENTANG HONDA (3) INILAH STAR'S FAMILY
Tebeng plastik ala Astrea 800 masih dipertahankan, namun jauh lebih kecil ukurannya. Namun lengan ayun depan, masih mengadopsi Astrea 800, tetapi dengan level "bantingan" yang jauh lebih lembut.
Star membawa perubahan besar dari desain-desain Honda bebek. Juga dari sisi kenyamanan. Untuk pertama kali, ruang indikator pada kepala bebek Honda, desainnya indah. Masih berwujud kotak (mengotak) namun yang tidak kegedean.
Astrea Star memang diciptakan untuk menjadi “Star” pada era-nya. Irit BBM, handling mudah, nyaman dikendarai, desain bodi yang mutakhir (kala itu), belum bisa diimbangi bebek-bebek lansiran pabrikan lain. Bebek Suzuki dan Yamaha pun belum melirik pasar empat tak.
Pada varian Star inilah, generasi Honda berkubikasi 90 CC terakhir tercipta. Era selanjutnya adalah era bebek 100 CC. Astrea Star menjadi generasi terakhir Honda yang mengadopsi suspensi depan lengan ayun. Satu lagi, Star mengawali era mesin 4 percepatan motor bebek. "Kegalauan" kala menggeber mesin Astrea 800, seakan dituntaskan oleh mesin Star.
BACA JUGA :
SUPRA GTR 150 SI BEBEK (RASA) SPORT
MOTOR-MOTOR OKE YANG JEBLOK DI PASARAN
TENTANG HONDA (1) DARI HONDA PISPOT SAMPAI UNYIL
TENTANG HONDA (2) DARI ASTREA 700 SAMPAI ASTREA 800
SUZUKI NEX - LINCAH DAN IRIT
AVANZA VS WULING VS XPANDER
7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
LEBIH BAIK NAIK VESPA
TENTANG HONDA TIGER
JURASSIC WORLD VS JURASSIC PARK
*semua foto diambil dari internet (istimewa)
Minggu, 19 April 2015
(NYARIS) SEMUANYA MENUNDUK
Tertawa kini tak lagi menjadi menu harian yang bisa mudah digapai bersama. Bahkan hanya sejengkal berlarian, barangkali tak lagi menarik. Teralihkan oleh layar sekian inchi yang mendorong kita agar (terus) dianggap melek teknologi.
Aku merindukan anak-anak bercelana pendek warna merah dan berkemeja putih, berlarian di halaman sekolah. Merindukan mereka bergerombol muncul dari sebuah gang, pada sebuah sore, dengan bola sepak yang mereka tendang-tendang.
Aku merindukan mereka yang menggenggam kelereng dan sepotong kreweng yang ditaruh di kantong celana. Merindukan mereka yang bersemangat menggaris tanah dan berteriak bahwa pertandingan dimulai.
Aku merindukan mereka meronce karet gelang dan saling berdiskusi untuk memilih karet gelang terbaik untuk dirakit menjadi tali. Aku merindukan kibaran rambut anak-anak yang meloncat-loncat tanpa henti sembari tertawa.
Aku merindukan melihat sesosok pria kecil yang pulang ke rumah dalam kondisi dekil namun tertawa girang. Dan orang tua mereka yang menyambut dengan sedikit marah, namun segera memupusya dengan segelas teh hangat.
Aku merindukan mereka, yang menemani sang ibu berbelanja ke pasar dan membantu memasak meski hanya mencucikan sayuran dan mengupas bawang, Aku merindukan mereka yang menyapa sang ayah di kala sore, dan bercengkrama bersama.
Benda ini semakin membuatku marah... Marah pada diri sendiri dan keadaan, tanpa tahu harus berbuat apa. Hanya bisa menghela napas panjang ketika melihat mereka, yang seharusnya berlarian, hanya terpekur di depan layar itu.
Menunduk. Nyaris, nyaris semua anak-anak kini "takluk" pada benda itu. Siapa yang jago main kelereng dan lompat tali, sekarang? Siapa yang masih mau menjamah dapur, untuk memasak menu untuk ayah bundanya?
Keluh...
BACA JUGA
PETE YANG MENGHARUKAN
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019
Kamis, 16 April 2015
TENTANG HONDA (2) DARI ASTREA 700 SAMPAI ASTREA 800
By the way, gimana sih wujud Astrea 700 yang menyambung era Pitung ini? Namanya aja seri awal, Astrea perdana ini jelas terlihat unsur coba-cobanya. Desain berubah banyak dari pendahulunya. Doi tampil kotak, dari batok lampu, spion, tebeng, lampu sein, sampai lampu belakang. Kecuali blok mesin yang masih menganut gaya C70, berikut pengapiannya masih memasang platina.
Penasaran lihat tampang Astrea? Ini nih fotonya, Ndoro. Sambalbawang comot dari internet. Makasih banget untuk yang sudah memajang foto ini.
Barangkali, inilah bebek Honda pertama kali yang bodinya disapu cat warna hitam dan putih, menenami warna klasik sebelumnya: merah dan hijau. Elemen karet mulai banyak disematkan di sini, seperti pembungkus batang spion.
Sayang,
kemunculan si benih Astrea di tahun 1981-1983 tidak mampu segemilang era C50, C70, bahkan C80. Jika ditarik ke
kanan-kiri, saya rasa, itu tak lepas dari para kompetitor. Yamaha, dengan
deretan bebek dua tak-nya, juga mulai mendongkrak dapur pacu. Bebek Kawasaki
dua tak, juga ikut berebut kue, meski tidak bisa dibilang sukses.Keluarlah si Astrea 700 ini, yang jenis pertamanya berkelir hitam dan merah. Dulu, saya yakin, doi sempat ngetop, tapi era tahun 2000-an, makluk ini sudah mulai langka terlihat di jalanan. Seorang kawan bahkan menggeletakkan begitu saja SuperCub-nya di garasi rumah.
Pernah hadir SuperCub Astrea 700 ini di keluarga saya. Tapi, ya tidak terlalu terkesan meski jelas terbukti doi motor harian yang cukup mumpuni dan irit bensin. Desain lampu, sein, lampu belakang, semuanya kaku. Semakin kurang serasi dengan desain knalpot yang canggung antara mempertahankan model cerutu atau mulai membazoka.

Saya mencoba menganalisis sendiri, ah. Jadi, Astrea 800 pada waktu itu, adalah desain tercantik dari para bebek yang ada. Pengapian sudah menganut CDI, bentuk mengotak tapi tidak sekaku kakaknya. Satu lagi, mesin 86 CC si Astrea ini, bener-bener bandel, dan haluuus. Boleh saya bertaruh, inilah varian Honda yang paling halus suara mesinnya (jika motor dalam kondisi terawat).
Pada Astrea 800 inilah, posisi kunci starter pertama kalinya disematkan di posisi patennya yang bertahan hingga kini. Yup di sisi kanan, bawah setang kanan. Perlu dicatat pula, inilah motor Honda pertama yang lampu belakangnya mengotak tiga sudut. Juga, dilindungi dengan “teralis”, meskipun nampak agak wagu.
Astrea 800
inilah generasi bebek Honda pertama yang wajah setangnya berukuran lebar. Agak syok juga sih mengingat bebek sebelumnya pada mungil. Tapi karena ukuran wajah setang yang lebar itulah, melihat panel
instrumennya pun jadi lega. Kalau tidak salah, ada panel penunjuk kondisi oli
mesinnya. Cukup hore pada zaman itu. Kelemahan atau kekurangan Astrea 800, barangkali pada desain kepala yang kegedean. Rada kontras dengan bodi yang masih tergolong mungil dan ban depan belakang yang masih mengadopsi ukuran 2.25 dan 2.50. Haha. Satu lagi kejanggalan, tiang spionnya nggak modis, kepanjangan.
Astrea 800 yang dibikin terakhir tahun 1986, menandai era terakhir Honda memasang konsep tiga percepatan pada bebek-bebeknya. Inilah menariknya. Jujur saja, Astrea yang ini termasuk varian bebek Honda idaman. Suatu saat ingin sambalbawang miliki, dan kendarai naik-turun bukit di Kota Balikpapan.
Tidak untuk menjadikannya motor harian. Hanya, sekadar pengingat dan menuntaskan rasa penasaran pada keunikannya. Karena, saya yakin, pada Astrea 800 inilah, Honda dikenal pertama kalinya sebagai pabrikan yang jago menghasilkan bebek-bebek raja tanjakan.
Salam wek-wek..
BACA JUGA : TENTANG HONDA (3) INILAH STAR'S FAMILY (ASTREA STAR)
BACA JUGA : TENTANG HONDA (1) DARI HONDA PISPOT SAMPAI UNYIL
BACA JUGA : SUPRA GTR 150 SI BEBEK (RASA) SPORT
BACA JUGA : BANYAK MOTOR SEDIKIT MEREK, SEDIKIT MOBIL BANYAK MEREK
BACA JUGA : NASIBMU SUZUKI
BACA JUGA : SUZUKI NEX LINCAH IRIT KALEM
BACA JUGA : MOTOR-MOTOR OKE YANG JEBLOK DI PASARAN
BACA JUGA : 7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
BACA JUGA : LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
BACA JUGA : avanza vs wuling vs xpander
BACA JUGA : LEBIH BAIK NAIK VESPA
BACA JUGA : 24 FINALIS DUTA WISATA BALIKPAPAN 2017 PAKAI BAJU SAMANTHA
BACA JUGA : TENTANG HONDA TIGER
BACA JUGA : FORD LASER SONIC - BALADA FORDI (2)
BACA JUGA : TENTANG HONDA TIGER
BACA JUGA : AKU DI BELAKANGMU, TIGER WONG
BACA JUGA : THE SAMANTHA
BACA JUGA : HORE IKUT LELANG HAPE JADUL
BACA JUGA : MUSIK ZAMAN DAHULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS?
BACA JUGA : "MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
*semua foto diambil dari internet
Rabu, 15 April 2015
AKU, SIANG, DAN MALAM
Aku masih muda, marah, terluka
Selalu terlupa di keramaian kota
Aku ingin menumpahkan murka pada siang
Karena datang terlalu cepat dan pulang terlalu lambat
Aku masih muda, marah, terluka
Sedikit terlupa di pinggiran kota
Aku ingin malam lebih panjang
Resahku ingin bercerita lebih lama
Malam dan siang memang berkawan
Membagi waktu dengan ceria
Malam senang mendekap mesra
Siang senang merangkul seharian
Tapi siang pun sering memarahiku
Dan malam tak mau menimbun perasaan
Mereka enggan membohongi egonya
Memilih untuk mengguncangku
Siang dan malam..
Menidurkan sekaligus membangunkan
Memelukku, memakiku
Tertawa terbahak sambil menunjukku
Malam menyuruhku bermimpi
Siang memaksaku berlari
Mereka hampir berhasil kini
Selangkah lagi, jiwa terkunci
Namun mataku terlalu lelah untuk terlelap
Raga tak cukup kuat untuk terjaga
Aku hanya bisa membiarkan
Siang dan malam bersama-sama.. memelukku
BACA JUGA ARTIKEL LAIN:
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
HANACARAKA AKSARA JAWA YANG INDAH
BASA WALIKAN
NGGUDEG DULU
THE AQUARIAN ?
MAMMAIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
Rabu, 01 April 2015
TENTANG HONDA (1) DARI PISPOT SAMPAI PITUNG
Setelah meluncur kesana-kemari, akhirnya nemu juga penampakan si Unyil. Makasih banget sama yang mempostingnya di internet. Begini nih, tampang Unyil.
Pispot bukan termasuk keluarga pitung alias C70--varian paling legendaris dari jajaran bebek lawasan Honda. Ukuran tubuh, selisih dikit. C70 tidak seperti para "adiknya", alias Si Pitung itu, yang diproduksi lebih massal.
Tapi barangkali karena tampilannya yang mungil, mirip Unyil, tokoh utama di serial anak-anak Si Unyil, yang merajai TVRI di era 70-an. Sebutan Unyil muncul belakangan, karena orang lebih dulu menyebut C50 sebagai Pispot.
Unyil a.k.a Pispot dibikin pertama kali tahun 1958. Bodi dan mesinnya diracik di negeri pembuatnya. Merentang ke belakang, tahun 1958 adalah 13 tahun setelah Kota Hiroshima dan Nagasaki di bom atom oleh Amrik. Peristiwa itu menyegel akhir Perang Dunia II, dan membuat nyaris semua industri di Jepang, rontok.
Namun Jepang cepat bangun dan menyadari bahwa industri otomotifnya--selain elektronik--harus mengejar pertumbuhan ekonomi di barisan depan. Harus ekspansi ke mana-mana. Pengalaman menjajah, ahahaha, nampaknya memberi gambaran bagi para insinyur Jepang bahwa berjualan motor adalah yang paling menguntungkan. Dan, cepat. Apalagi, Jepang sudah berpengalaman soal permesinan.
Hm... tapi mari sejenak kita lihat “peta” otomotif dan sejumput suasana di era akhir 1950 itu. Kebutuhan penduduk bumi akan transportasi, telah terbaca, dan semakin kencang. Di sisi lain, sepeda--yang sampai tahun 1950 jadi favorit--mulai dianggap kurang cepat. Ketika jalanan mulai banyak diperhalus (diaspal), kebutuhan akan sepeda motor, mulai menyusul kebutuhan akan mobil.
Coba sejenak melihat si Unyil periode awal yang lampu depannya nampak “melorot”, tampilannya kan seperti moped. Tapi, perbedaan Pispot dan moped, tentu saja ada dan banyak. Pispot ogah mewarisi “pedal sepeda” ala moped sebagai pengungkit start. Pispot sudah dilengkapi lampu sein, yang itu belum dipunyai personel keluarga moped.
Tentang lampu sein tersebut, boleh jadi merupakan satu kisah unik. Inilah salah satu gebrakan Honda yang "mengguncang". Lha wong Vespa--yang mulai laris di pertengahan tahun 1960--baru menyadari perlunya pakai lampu sein (juga spion) di era 80-an ketika memunculkan varian Exclusive. Berarti Honda selangkah di depan dong? Akur?
Menyoal nama, Pitung mengacu pada era tahun keluarnya varian itu: pitungpuluh. Ini seturut pula kapasitas dapur pacunya, yang dipatok pada 72 CC. Motor ini "meledak" di pasaran. Honda Pitung yang laris manis ini punya julukan lain, lho, yakni “Astuti”. Embuh gimana jalan ceritanya kok bisa demikian, tapi kita amini saja.
Saat itu, motor mesin dua tak lebih dianggap bertenaga, kuat di tanjakan, dan simpel ketimbang empat tak. Namun sebelum pabrikan lain mengambil alih posisi, Honda dengan cerdik meluncurkan varian C70 a.k.a Pitung tersebut. Tonggak kedigdayaan Honda pun, dimulai. Kelak, Kawasaki yang paling duluan mengejar Honda untuk membuat bebek empat tak pertamanya--dengan varian Binter Joy.
Oke, kembali ke Pitung. Tampilannya memang keren bin cakep. Stang lengan kecil tetap dipertahankan. Posisi lampu depan dinaikkan, jadi seakan bertetangga kanan-kiri sama lampu sein yang nonjol keluar dari tangan setang. Dua fairing menjadi sayapnya.
Dari sisi tampang keseluruhan, Pitung masih rada mirip Unyil kecuali beberapa bagian, seperti di lampu depan. Knalpot, suspensi, model rangka, lengkungan, sapit urang, hingga lengan ayun si Pitung, masih Unyil banget. Bodi Pitung hanya mengenal dua warna nampaknya, yakni merah sama hijau.
Beberapa menit berselancar di dunia mbah Google, akhirnya nemu bentuk C70 yang bikin pecinta motor klasik bakal gelisah ingin memiliknya. Gini nih, C70 yang kesohor :
Era pitung sepertinya langsung menyetop era motor gede (moge). Moge dianggap sebagai motor yang kurang praktis dari segi apapun. Hehe, ya iya, lah. Lalu, dari hasil tanya sana-tanya sini, sambalbawang mendapat kesimpulan: Pitung terbayak adalah produksi tahun 1973-1979. Menariknya lagi, efek Honda bebek awal ini bikin Vespa ikut tancap gas.
Coba sejenak kita balik ke Pispot. Motor ini muncul tahun 1958, saat Vespa masih adem-ayem dengan variannya yang lahir di era tahun 1953-1957 dengan ciri khas lampu nangkring di spakbor depan, dan mengusung mesin berkubikasi 150 CC. Vespa pun masih anteng di awal kemunculan Pispot.
Tetapi, pabrikan Italia itu menyadari masifnya Honda. Vespa tersentak, dan segera mencetak skuter bermesin kecil. Lahirlah skuter yang bermesin 90 CC di tahun 1970-1971. Cukup mengejutkan bagi para skuteris saat itu, lantaran varian sebelumnya bermesin gambot 150 CC.
Namun kemunculan Vespa yang bodinya pun mungil ini cukup sukes menjaga keloyalan penggemar Vespa untuk tidak berpindah ke lain hati. Mencomot cerita ayahanda, skuter kecil ini banyak dipakai remaja cewek saat itu. Namun skuter kecil ini memang bukan untuk menghadang Pitung, karena berbeda "genre".
Meski demikian, Vespa terus menggelontorkan deretan variannya seperti Super dan Sprint, direntang kelahiran Pitung. Semakin mulai membaca peluang pasar, Honda pun membikin Pitung secara massal. Sama-sama massal karena Vespa Super dan Sprint juga dibikin secara massal.
Vespa dan Honda sama-sama berjaya di era itu. Namun melihat perbedaan tipikal mesin, persebaran dua motor ini awalnya tersegmentasi. Sambalbawang amati, Vespa yang bermesin 2 tak, menawarkan torsi tenaga melimpah, sehingga "merajai" perbukitan dan pegunungan. Sedangkan Pispot hingga Pitung yang menggembol mesin 4 tak, banyak "dipelihara" di perkotaan dan pedesaan yang topografinya relatif enggak berbukit.
Beruntung dan jelinya Honda, Pitung memang penyempurnaan Unyil. Performa dan wajah Pitung secara sepintas pun, lebih asyik ketimbang pendahulunya. Lebih good looking--lah. Di Pitung, posisi lampu dinaikkan, sehingga lampunya seperti "bertetangga" kanan-kiri sama lampu sein yang nonjol keluar dari tangan setang.
Sedangkan secara wujud, Pitung masih rada mirip sama Unyil. Dari bodi sampai bentuk knalpot, dan suspensi yang masih mengusung tipe lengan ayun. Tebeng plastik kanan-kiri, dan bagian tengah masih menyatu. Tuas chooke menempel di kepala setang, persis di depan mata pengendara. Unyu..dah..
Beranjak ke bagian panel indikator, petunjuk posisi gigi percepatan hanya ada satu lampu, yakni netral. Lampunya berwarna hijau. Hahaha. Rentang kecepatan juga berhenti di angka 100. Oya ada juga panel odometer. Konon kecepataan maksimal Pitung hanya sampai 80 km per jam. Tapi untuk ukuran dulu, sudah lumayan banget. Satu lagi yang menarik, ruang untuk saringan karburator di Pitung, berbentuk mirip lambung manusia.
Di era akhir Pitung, kalau tidak salah tahun 1977, mulai dikenalkan varian yang telah membawa piranti stater elektrik. Ini (kalau tidak salah) era pertama motor bebek yang memakai starter elektrik. Catet, 'Ndan. Jadi penasaran lihat gimana wujud aki (accu), yang ternyata hanya terdiri atas tiga bilik sel ini. Mungilnyaaaaa.
Pitung diproduksi cukup lama, sekitar 13-14 tahun. Beberapa penyegaran, pun, juga dilakukan. Sebagai catatan lagi, selama periode Unyil-Pitung itu, varian Honda juga dikenal sebagai varian "Super Cub", yang secara garis besar, terbagi atas tiga generasi. Generasi pertama, kedua, dan ketiga.
Untuk memberi tempat bagi varian-varian lain, Honda akhirnya menghentikan edisi terakhir Pitung pada tahun 1981, dan meluncurkan Astrea 700. Seperti apa sih fenomena dan wujud Astrea 700? Sabar ya, tunggu tulisan sambalbawang selanjutnya. Ada kok di blog ini. Salam hore.
Lebih Baik Naik Vespa
NASIBMU SUZUKI
SUZUKI NEX LINCAH IRIT KALEM
MOTOR-MOTOR OKE YANG JEBLOK DI PASARAN
FORD LASER SONIC - BALADA FORDI (2)
7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
*semua foto diambil dari sumber internet





