Lupakan sejenak soal bahaya vetsin (MSG), sakarin, dan zat pewarnanya yang di zaman sekarang terus dikumandangkan sebagai sesuatu yang membahayakan kesehatan. Hoho. Dulu, kisahnya lain. Sewaktu saya masih SD, enggak ada yang berpikiran gitu.
Es limun yang warnanya seperti salah satu dari tiga warna lampu lalu-lintas, misalnya, segera saya seruput habis tanpa pikir panjang. Mie kering berbumbu gurih "level mampus", juga langsung masuk mulut tanpa pertanyaan ke penjualnya. Kembang gula yang berwarna-warni, cepat pula dieksekusi. Tak ketinggalan, serbuk rasa buah artifisial, pun, langsung tenggak habis.
Begitulah masa kanak-kanak sambalbawang, yang termasuk anggota militan generasi 80-90'an. Masa yang menyenangkan meski terbalut sembrono untuk urusan higienitas pangan. Masa-masa indah, di mana menyempatkan sejumput waktu di sela-sela jam istirahat, untuk berlari ke pagar depan sekolah, hanya untuk berburu jajanan. Mengharukan.
Aktivitas jajan kadang dilanjutkan sore hari, dengan menyambangi warung kelontong. Aneka camilan, pasti kami pernah beli. Bahkan demi camilan, order perintah dari ibu, akan saya laksanakan, secepatnya, hehe. Yang penting bisa jajan.
Dulu, jajanan anak-anak terasa sangat berkesan. Masih teringat betapa Anak Mas yang rasa keju benar-benar membuat terpaku hingga butiran serbuk bumbu terakhir, Cokelat superman yang rasanya tak ada duanya. Sempat berpikir jika Superman itu riil, dia juga pasti suka coklat wafer ini. Lalu, adalagi Krip-krip yang gurihnya dasyat.
Mari melisting jajanan sambalbawang, dikhususkan yang bermerek resmi. Ini bisa untuk edisi camilan jadul part 1. Hahaha. Ada Anak Mas, Krip-krip, Cokelat Superman, permen Sarmento, permen Tic-tac, Chiki, Choki-choki, coklat koin, coklat Jago, permen karet Yosan, snack Gulai Ayam, tablet jeruk Ciz-ciz, es krim Woody, snack Tic-tic, kwaci cap Gajah, permen siul, dan permen karet Lotte kemasan kotak kecil.
Apa lagi ya. Sepertinya bisa mencantumkan permen rokok, permen karet Chiclets, permen Butternut Collins, permen t-drops, Menta, Nano-nano, permen Pindy Twist, wafer Khong Guan yang plastiknya bening, permen coklat (isi kacang) Bobo, kue koya Delima tawon, coklat serbuk cap Teko,
Di jajaran minuman, ada cukup banyak opsi. Ada Gogo, Teh Kotak, Capri-Sonne, Mr Jussie, hingga susu cokelat Ultramikl. By the way, kalian masih ingat lagunya iklan minuman Mr Jussie? Hoho, sambalbawang masih ingat. Begini liriknya. "Halo, halo, salam jumpa teman baru... Mr Jussie, Mr Jussie, Mr.. Jussie. Dalam kemasan kotak, Mr Jussie mengandung sari buah asli. Kesukaan anak-anak, Mr Jussie...". Horeee.... Sruuput, sembari membayangkan kandungan vitamin C ini merasuk ke tubuh.
BACA JUGA
KOKORO NO TOMO
10 BREGADA KERATON YOGYAKARTA YANG KEREN
MAMMA MIA ! HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
TEH VS KOPI
PELUKAN (CERPEN)
Selasa, 07 Juli 2015
Jumat, 26 Juni 2015
BELUM ADA JUDUL
Belum ada judul,
Untuk menggambarkan perjalanan hidup ini.
Terlalu banyak peristiwa dan rasa yang terjadi.
Cukuplah sejenak berdiam, sesekali.
Kala lelah, marah, dan bosan menerpa.
Sedikit menengok mungkin akan baik.
Ke belakang, kiri, dan ke kanan.
Memahami seberapa lambat aku berlari.
Atau seberapa cepat aku tertinggal.
Bukan untuk menggali kenangan.
Bukan untuk menggerutu berkepanjangan.
Bukan untuk meratap.
Namun agar sempat merenung.
Bahwa hidup ini indah, apapun yang terjadi.
Di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan..
BACA JUGA :
AGNETHA FALTSKOG vs ANNI-FRID "FRIDA" LYNGSTAD ABBA
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
Untuk menggambarkan perjalanan hidup ini.
Terlalu banyak peristiwa dan rasa yang terjadi.
Cukuplah sejenak berdiam, sesekali.
Kala lelah, marah, dan bosan menerpa.
Sedikit menengok mungkin akan baik.
Ke belakang, kiri, dan ke kanan.
Memahami seberapa lambat aku berlari.
Atau seberapa cepat aku tertinggal.
Bukan untuk menggali kenangan.
Bukan untuk menggerutu berkepanjangan.
Bukan untuk meratap.
Namun agar sempat merenung.
Bahwa hidup ini indah, apapun yang terjadi.
Di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan..
BACA JUGA :
AGNETHA FALTSKOG vs ANNI-FRID "FRIDA" LYNGSTAD ABBA
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
Sekarang, banyak orang suka mengurutkan sesuatu hal atau keadaan, yang diranking berdasarkan parameter-parameter tertentu. Tujuh yang ter...., atau sepuluh yang ter...., kira-kira demikian. Memang ini penilaian yang sangat subyektif. Tetapi, sah-sah saja.
Sambalbawang pun penasaran. Setelah merenung, ditemani segelas teh, ide pun muncul. Topiknya adalah tentang motor. Sambalbawang mencoba memilih 7 motor bebek terbaik sepanjang masa. Aha.. Tapi ini penilaian yang subyektif, lho, sesuai selera.
Langsung saja kita mulai.. Di posisi juru kunci, sambalbawang milih bebek bernama Alfa IIR buatan tahun 1991. Cukup yakin ini masterpiece wek-wek dua langkah (tak) yang pernah dilahirkan Yamaha. Pertama kali Alfa nongol tahun 1988, tapi yang terkeren adalah Alfa keluaran 1991. Motor bermesin 100 CC ini sukses didesain sebagai motor handal, kencang, dan tahan lama. Tipikal motor keluarga, ya, bisa juga, sih. Ngebutnya sip. Top speed yang pernah sambalbawang bukukan dengan Alfa 110 km per jam, dalam posisi gas dipelintir maksimal. Sekadar catatan, Alfa adalah motor yang nggak suka rewel. Asal tertib menjenguk kondisi busi dan membersihkan, serta setel karbu, dan pilih oli samping yang berkualitas prima, Alfa bakal sukses ngacir. Penampakannya Alfa begini, sis and bro. Nyomot gambar dari internet.

Naik ke peringkat ke-6, diisi Honda Astrea Star buatan tahun 1986. Varian pertama klan Star dengan tebeng putih, lampu depan kotak persegi, garpu depan lengan ayun, dan lampu belakang persegi-siku ini, dibekali mesin berkubikasi 90 CC. Mungil dan simpel, baik tampilan maupun ukurannya. Tapi jangan "tertipu" kapasitas dapur pacunya, karena Star ini "kecil-kecil cabe rawit". Handal untuk urusan durability dan oke diajak menanjak. Istimewanya pula, suara mesin si Bintang seakan "senyap", saking halus bunyinya. Sisi plus Star lainnya adalah bodi ramping, tampang yang elegan, irit bensin, dan perawatannya termasuk gampang. Bagi sambalbawang, Star 86 pionir kesuksesan keluarga Astrea Star yang terentang panjang hingga 1997/1998. Satu lagi, yang menarik, desain blok mesin Star 86 mengawali desain blok mesin khas pabrikan sayap kepak yang kelak diadopsi dengan sukses oleh seri Astrea Grand. Ini penampakan Star 86, gambar dari internet.
Posisi kelima wajib disematkan ke Suzuki Shogun R lansiran tahun 2000. Inilah si-Suzi dari keluarga besar bebek yang desainnya terkeren sepanjang masa. Sumpaaah, deh. Rada pesimistis Suzi akan bikin desain seindah Shogun R lagi. Bahkan sampai sekarang sambalbawang belum menemukan desain bebek seseksi Shogun R. Sejak pertama kali muncul, doi yang menggembol mesin 115 cc sudah bikin terpesona. Untuk urusan mesin, pada jamannya dulu, dan di kelas dapur pacu selevel, Shogun R adalah yang paling bertenaga. Material penyusunnya, pun, oke. Handling dan suspensinya empuk dan asyik. Suzuki beneran serius kala menyiapkan bebek ini agar bisa "berenang" dengan baik, dan berhasil. Sayangnya Shogun ini tak sempat terbeli, hehe. Tetapi, ya, sudahlah, memang itu nasib sambalbawang. Namun yang menyedihkan, sayangnya, sekarang sulit menjumpai doi yang dalam kondisi tokcer, kinclong, dan semulus saat dia dikenalkan ke dunia 15 tahun silam. Btw, wujudnya kayak gini, nih. (masih nyomot dari internet).

Lanjut ke peringkat ke-4. Di sini bertengger Honda Supra-X keluaran perdana, tahun 1997. Apa ya istimewanya ? Hm, perlu dicatat, inilah pertama kali Honda menyematkan rem cakram pada roda depan seri bebeknya. Juga mengawali langkah Honda memakai ban ukuran 2.50 dan 2.75, lebih besar setingkat dari ban lawas yang dipasang di seluruh bebek keluaran sebelum 1997. Pionir, nih, doi. Imbas dari pemasangan ban lebar, Supra-X lebih "memeluk" aspal. Supra-X juga memulai konsep Honda bahwa motor bebek, rantainya enggak lagi diselubungi ketengkas. Rantai memang jadi lebih suka dipeluk kotoran dan kerikil, namun tampilan keseluruhan Supra-X jadi tjakep ! Urusan power, lumayan. Hanya saja karena Supra-X membawa mesin 100 CC, tenaganya ya sama-lah dengan Grand. Namun untuk urusan kecepatan, Supra-X rasa-rasanya kok kalah ya sama Grand. Walau begitu, Supra-X menang handling dan kenyamanan berkendara jarak jauh. Tongkrongan yang lebih gede dan tinggi, berimbas ke hasil akhir penampilan Supra-X yang paling macho, dari semua kakak-kakak bebek yang pernah diciptakan Honda. Penasaran tampang Supra-X ini? Setelah selancaran di dunia maya, ini barangnya.
Sementara itu, urutan ketiga motor terkeren direbut oleh Kawasaki Kaze keluaran perdana yang nongol tahun 1995. Mengusung dapur pacu 110 CC, Kaze mengawali era 110 CC bagi para bebek mesin yang saat itu masih berkutat di 100 CC. Kaze ini, sejauh yang sambalbawang coba, adalah bebak paling mantap untuk diajak berkendara. Kaze membuktikan tak lupa membawa DNA produk Kawasaki yang dikenal karena kestabilannya. Meski demikina, Kaze tidak melupakan urusan perwajahan. Nah, Kaze yang ini, beneran diciptakan sebagai makhluk bermesin yang nice and good looking. Tak sia-sia Kawasaki vakum keluyuran di Tanah Air selama 10 tahun sebelum memutuskan menyebar Kaze ke jalanan Indonesia. Si Kaze ini muncul dengan segepok hal baru. Misalnya, bebek pertama yang menyematkan piranti filter oli. Desain knalpot Kaze yang berwujud "corong bambu" juga terbilang fantastis dan "segar" pada saat itu. Maklum bebek lain, masih memasang knalpot jenis "pentungan" dan "cerutu". Untuk menggambarkan indahnya penampakan Kaze, nampaknya hanya bisa terjawab dengan melihat sendiri. Ini beneran motor serius, gan. Seserius apa? Mbah Google membantu ngasih gambarannnya.
Lanjut. Untuk posisi runner up, sambalbawang memilih Astrea Grand tahun 1994. Varian yang ini adalah penyempurnaan yang terbilang sempurna dari Astrea Grand seri perdana-yang diluncurkan tiga tahun sebelumnya. Lampu belakang yang "susun dua" adalah ciri paten, sementara mesinnya masih sama-sama mengusung kapasitas 100 CC. Untuk ciri lainnya, Grand 94 sama plek dengan Grand 91-93. Di era Grand inilah, bebek Honda mulai menambahkan piranti kunci roda depan yang dipasang di garpu depannya. Juga memisahkan lengan untuk pijakan kaki pengendara, terpisah dari lengan ayun belakang, dan ini berdampak pada kaki yang tidak terlalu merasakan getaran mesin. Inovasi menarik yang menginspirasi para bebek lain, karena setelah itu, semuanya mengadopsi sistem itu. Aha. Tentang Grand ini, sambalbawang cukup yakin, bahwa inilah motor yang sukses menggabungkan performa, kualitas bahan, tampang, dan kesederhanaan sebuah motor. Bisa dibilang, Grand adalah varian tersukses Honda untuk bebek-bebeknya. Tapi, khusus untuk Grand 94, dia adalah juara di keluarga Grand yang diluncurkan sejak 1992 hingga 1999. Gimana sih sensasi mengendarainya? Mereka yang pernah mengendarai motor ini di masa jayanya dulu, pasti paham. Penasaran lihat tampangnya? Setelah mencari wajahnya di internet, ketemu deh si dia.
Akhirnya tibalah di posisi jawara, yang mau tidak mau harus diberikan ke Honda Astrea Prima 1991. Seri terakhir keluarga Prima yang cuma dibikin limited alias terbatas dan hanya tiga tahun (1988-1991) ini, meski berbobot ringan, tetapi terbukti top untuk urusan performa, tampang, durability (ketahanan), kualitas mesin, material, dan lain-lainnya. No double starter, no problemo bagi bebek spesial ini. Prima mengawali era suspensi teleskopik para bebek Honda-menggantikan suspensi lengan ayun yang lama banget dianut-sejak bebek Honda Unyil. Si Prima ini juga bikin sensasi karena menyematkan pengatur kekerasan shockbreaker belakang. Ada satu tuas untuk mengatur seberapa keras suspensi yang kita kehendaki. Motor mau dipakai sendiri, atau berboncengan, tinggal putar tuas itu. Luar biasa bukan pada jamannya? Pesona fisik Prima berlanjut ke soal performa yang menawan. Memelintir gas si Prima, bakal tak percaya doi cuma menggembol mesin 97 cc. Seorang kawan pernah menjajal performa Grand dan Prima, dan hasilnya si Prima lebih kencang dikit ketimbang Grand, namun raungan mesinnya lebih pelan. Sesuai namanya, Prima 91 yang dirakit di Jepang ini, memang prima. So, bagaimana cantik dan sekseeh-nya dik prima ini, begini jawabannya setelah berinternet-ria:
Mau sedikit bukti kalau Astrea Prima itu motor favorit yang termasuk most wanted bagi kolektor maupun penikmat bebek? Coba deh iseng tanya ke diler-diler motor bekas. Sangat-sangat sulit untuk menjumpai si Prima itu nangkring di sana. "Kalau saya dapat Prima, saya yang akan beli sendiri, Mas," ujar seorang karyawan diler di Yogyakarta kepada sambalbawang. Nah...
Baca juga :
Zundapp, Lambretta, Jawa, dan CB200 Nongol di Pameran MACI Balikpapan
HONDA REVO 110 CC TIDAK POWERFUL TAPI NYAMAN
APA KABAR SUZUKI
SUZUKI NEX IRIT LINCAH MANTAP KALEM
SUPRA GTR 150 SI BEBEK RASA SPORT
MOTOR-MOTOR OKE YANG JEBLOK DI PASARAN
TENTANG HONDA (1) DARI PISPOT SAMPAI PITUNG
TENTANG HONDA (2) DARI ASTREA 700 KE ASTREA 800
TENTANG HONDA (3) INILAH KELUARGA HONDA STAR
Ford Laser Sonic - Balada Fordi 1
Ford Laser Sonic - Balada Fordi 2
BANYAK MOTOR SEDIKIT MEREK - SEDIKIT MOBIL BANYAK MEREK
Lebih Baik Naik Vespa
MOTOR APA YANG PALING NYAMAN?
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
Sambalbawang pun penasaran. Setelah merenung, ditemani segelas teh, ide pun muncul. Topiknya adalah tentang motor. Sambalbawang mencoba memilih 7 motor bebek terbaik sepanjang masa. Aha.. Tapi ini penilaian yang subyektif, lho, sesuai selera.
Langsung saja kita mulai.. Di posisi juru kunci, sambalbawang milih bebek bernama Alfa IIR buatan tahun 1991. Cukup yakin ini masterpiece wek-wek dua langkah (tak) yang pernah dilahirkan Yamaha. Pertama kali Alfa nongol tahun 1988, tapi yang terkeren adalah Alfa keluaran 1991. Motor bermesin 100 CC ini sukses didesain sebagai motor handal, kencang, dan tahan lama. Tipikal motor keluarga, ya, bisa juga, sih. Ngebutnya sip. Top speed yang pernah sambalbawang bukukan dengan Alfa 110 km per jam, dalam posisi gas dipelintir maksimal. Sekadar catatan, Alfa adalah motor yang nggak suka rewel. Asal tertib menjenguk kondisi busi dan membersihkan, serta setel karbu, dan pilih oli samping yang berkualitas prima, Alfa bakal sukses ngacir. Penampakannya Alfa begini, sis and bro. Nyomot gambar dari internet.

Naik ke peringkat ke-6, diisi Honda Astrea Star buatan tahun 1986. Varian pertama klan Star dengan tebeng putih, lampu depan kotak persegi, garpu depan lengan ayun, dan lampu belakang persegi-siku ini, dibekali mesin berkubikasi 90 CC. Mungil dan simpel, baik tampilan maupun ukurannya. Tapi jangan "tertipu" kapasitas dapur pacunya, karena Star ini "kecil-kecil cabe rawit". Handal untuk urusan durability dan oke diajak menanjak. Istimewanya pula, suara mesin si Bintang seakan "senyap", saking halus bunyinya. Sisi plus Star lainnya adalah bodi ramping, tampang yang elegan, irit bensin, dan perawatannya termasuk gampang. Bagi sambalbawang, Star 86 pionir kesuksesan keluarga Astrea Star yang terentang panjang hingga 1997/1998. Satu lagi, yang menarik, desain blok mesin Star 86 mengawali desain blok mesin khas pabrikan sayap kepak yang kelak diadopsi dengan sukses oleh seri Astrea Grand. Ini penampakan Star 86, gambar dari internet.
Posisi kelima wajib disematkan ke Suzuki Shogun R lansiran tahun 2000. Inilah si-Suzi dari keluarga besar bebek yang desainnya terkeren sepanjang masa. Sumpaaah, deh. Rada pesimistis Suzi akan bikin desain seindah Shogun R lagi. Bahkan sampai sekarang sambalbawang belum menemukan desain bebek seseksi Shogun R. Sejak pertama kali muncul, doi yang menggembol mesin 115 cc sudah bikin terpesona. Untuk urusan mesin, pada jamannya dulu, dan di kelas dapur pacu selevel, Shogun R adalah yang paling bertenaga. Material penyusunnya, pun, oke. Handling dan suspensinya empuk dan asyik. Suzuki beneran serius kala menyiapkan bebek ini agar bisa "berenang" dengan baik, dan berhasil. Sayangnya Shogun ini tak sempat terbeli, hehe. Tetapi, ya, sudahlah, memang itu nasib sambalbawang. Namun yang menyedihkan, sayangnya, sekarang sulit menjumpai doi yang dalam kondisi tokcer, kinclong, dan semulus saat dia dikenalkan ke dunia 15 tahun silam. Btw, wujudnya kayak gini, nih. (masih nyomot dari internet).
Lanjut ke peringkat ke-4. Di sini bertengger Honda Supra-X keluaran perdana, tahun 1997. Apa ya istimewanya ? Hm, perlu dicatat, inilah pertama kali Honda menyematkan rem cakram pada roda depan seri bebeknya. Juga mengawali langkah Honda memakai ban ukuran 2.50 dan 2.75, lebih besar setingkat dari ban lawas yang dipasang di seluruh bebek keluaran sebelum 1997. Pionir, nih, doi. Imbas dari pemasangan ban lebar, Supra-X lebih "memeluk" aspal. Supra-X juga memulai konsep Honda bahwa motor bebek, rantainya enggak lagi diselubungi ketengkas. Rantai memang jadi lebih suka dipeluk kotoran dan kerikil, namun tampilan keseluruhan Supra-X jadi tjakep ! Urusan power, lumayan. Hanya saja karena Supra-X membawa mesin 100 CC, tenaganya ya sama-lah dengan Grand. Namun untuk urusan kecepatan, Supra-X rasa-rasanya kok kalah ya sama Grand. Walau begitu, Supra-X menang handling dan kenyamanan berkendara jarak jauh. Tongkrongan yang lebih gede dan tinggi, berimbas ke hasil akhir penampilan Supra-X yang paling macho, dari semua kakak-kakak bebek yang pernah diciptakan Honda. Penasaran tampang Supra-X ini? Setelah selancaran di dunia maya, ini barangnya.
Sementara itu, urutan ketiga motor terkeren direbut oleh Kawasaki Kaze keluaran perdana yang nongol tahun 1995. Mengusung dapur pacu 110 CC, Kaze mengawali era 110 CC bagi para bebek mesin yang saat itu masih berkutat di 100 CC. Kaze ini, sejauh yang sambalbawang coba, adalah bebak paling mantap untuk diajak berkendara. Kaze membuktikan tak lupa membawa DNA produk Kawasaki yang dikenal karena kestabilannya. Meski demikina, Kaze tidak melupakan urusan perwajahan. Nah, Kaze yang ini, beneran diciptakan sebagai makhluk bermesin yang nice and good looking. Tak sia-sia Kawasaki vakum keluyuran di Tanah Air selama 10 tahun sebelum memutuskan menyebar Kaze ke jalanan Indonesia. Si Kaze ini muncul dengan segepok hal baru. Misalnya, bebek pertama yang menyematkan piranti filter oli. Desain knalpot Kaze yang berwujud "corong bambu" juga terbilang fantastis dan "segar" pada saat itu. Maklum bebek lain, masih memasang knalpot jenis "pentungan" dan "cerutu". Untuk menggambarkan indahnya penampakan Kaze, nampaknya hanya bisa terjawab dengan melihat sendiri. Ini beneran motor serius, gan. Seserius apa? Mbah Google membantu ngasih gambarannnya.
Lanjut. Untuk posisi runner up, sambalbawang memilih Astrea Grand tahun 1994. Varian yang ini adalah penyempurnaan yang terbilang sempurna dari Astrea Grand seri perdana-yang diluncurkan tiga tahun sebelumnya. Lampu belakang yang "susun dua" adalah ciri paten, sementara mesinnya masih sama-sama mengusung kapasitas 100 CC. Untuk ciri lainnya, Grand 94 sama plek dengan Grand 91-93. Di era Grand inilah, bebek Honda mulai menambahkan piranti kunci roda depan yang dipasang di garpu depannya. Juga memisahkan lengan untuk pijakan kaki pengendara, terpisah dari lengan ayun belakang, dan ini berdampak pada kaki yang tidak terlalu merasakan getaran mesin. Inovasi menarik yang menginspirasi para bebek lain, karena setelah itu, semuanya mengadopsi sistem itu. Aha. Tentang Grand ini, sambalbawang cukup yakin, bahwa inilah motor yang sukses menggabungkan performa, kualitas bahan, tampang, dan kesederhanaan sebuah motor. Bisa dibilang, Grand adalah varian tersukses Honda untuk bebek-bebeknya. Tapi, khusus untuk Grand 94, dia adalah juara di keluarga Grand yang diluncurkan sejak 1992 hingga 1999. Gimana sih sensasi mengendarainya? Mereka yang pernah mengendarai motor ini di masa jayanya dulu, pasti paham. Penasaran lihat tampangnya? Setelah mencari wajahnya di internet, ketemu deh si dia.
Akhirnya tibalah di posisi jawara, yang mau tidak mau harus diberikan ke Honda Astrea Prima 1991. Seri terakhir keluarga Prima yang cuma dibikin limited alias terbatas dan hanya tiga tahun (1988-1991) ini, meski berbobot ringan, tetapi terbukti top untuk urusan performa, tampang, durability (ketahanan), kualitas mesin, material, dan lain-lainnya. No double starter, no problemo bagi bebek spesial ini. Prima mengawali era suspensi teleskopik para bebek Honda-menggantikan suspensi lengan ayun yang lama banget dianut-sejak bebek Honda Unyil. Si Prima ini juga bikin sensasi karena menyematkan pengatur kekerasan shockbreaker belakang. Ada satu tuas untuk mengatur seberapa keras suspensi yang kita kehendaki. Motor mau dipakai sendiri, atau berboncengan, tinggal putar tuas itu. Luar biasa bukan pada jamannya? Pesona fisik Prima berlanjut ke soal performa yang menawan. Memelintir gas si Prima, bakal tak percaya doi cuma menggembol mesin 97 cc. Seorang kawan pernah menjajal performa Grand dan Prima, dan hasilnya si Prima lebih kencang dikit ketimbang Grand, namun raungan mesinnya lebih pelan. Sesuai namanya, Prima 91 yang dirakit di Jepang ini, memang prima. So, bagaimana cantik dan sekseeh-nya dik prima ini, begini jawabannya setelah berinternet-ria:
Mau sedikit bukti kalau Astrea Prima itu motor favorit yang termasuk most wanted bagi kolektor maupun penikmat bebek? Coba deh iseng tanya ke diler-diler motor bekas. Sangat-sangat sulit untuk menjumpai si Prima itu nangkring di sana. "Kalau saya dapat Prima, saya yang akan beli sendiri, Mas," ujar seorang karyawan diler di Yogyakarta kepada sambalbawang. Nah...
Baca juga :
Zundapp, Lambretta, Jawa, dan CB200 Nongol di Pameran MACI Balikpapan
HONDA REVO 110 CC TIDAK POWERFUL TAPI NYAMAN
APA KABAR SUZUKI
SUZUKI NEX IRIT LINCAH MANTAP KALEM
SUPRA GTR 150 SI BEBEK RASA SPORT
MOTOR-MOTOR OKE YANG JEBLOK DI PASARAN
TENTANG HONDA (1) DARI PISPOT SAMPAI PITUNG
TENTANG HONDA (2) DARI ASTREA 700 KE ASTREA 800
TENTANG HONDA (3) INILAH KELUARGA HONDA STAR
Ford Laser Sonic - Balada Fordi 1
Ford Laser Sonic - Balada Fordi 2
BANYAK MOTOR SEDIKIT MEREK - SEDIKIT MOBIL BANYAK MEREK
Lebih Baik Naik Vespa
MOTOR APA YANG PALING NYAMAN?
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
Selasa, 23 Juni 2015
TENTANG SINETRON DAN SERIAL LEPAS TV KABEL
Cukup sekali sambalbawang nonton serial lepas di saluran TV kabel, gegara penasaran melihat bojo yang selalu bilang kalau film bikinan luar
negeri itu ceritanya cukup asyik. Enggak gembeng dan enggak menye-menye kayak
sinetron sini.
Jadi, akhirnya nonton. Judulnya.... lupa, tapi serial itu
tentang kisah seorang cewek berumur 20-an. Lugu, berkulit putih, dan lumayan cakep tampangnya.
Tapi, tunggu dulu, ternyata dia yang beberapa kali membunuh pria. Akhirnya
ketahuan, sih, dan berhasil ditangkap. Sambalbawang enggak jadi mendaftar sebagai fans-nya.
Kalau tiba-tiba dikapak, dan dibelah, gimana coba?
Si cewek itu, kita panggil saja dengan nama “Y”. Nah, Y punya kisah hidup bak Cinderella. Sejak kecil sudah pisah sama ortu, dan dia milih ngikut bapaknya yang ternyata pengidap pedofil. Selepas bapaknya meninggal, Y sendirian.
Hari-harinya terbungkus fantasi. Dia merasa bak Cinderella yang
menanti seorang pangeran tampan menghampirinya suatu hari nanti, sembari membawa sebelah sepatu kacanya yang ketinggalan
di pesta. Pangeran yang juga baik hati, kaya, memesona, dan tak hanya ingin mencicip tubuhnya.
Sayangnya, pangeran yang kayak gitu, susah didapat di dunia nyata. Karena itu Cinderella, eh Y jual tampang untuk narik gebetan. Namun sekian kencan dan obrolan selanjutnya bareng beberapa cowok, enggak berakhir manis.
Jalan cerita bergulir dengan Y yang terus mencari gebetan, eh korban. Dan korban terakhir Y adalah pria ganteng, masih remaja, tajir melintir. Digebet waktu ajeb-ajeb di diskotek.
Habis dansa-dansa dan minum-minum, mereka berdua kabur menuju tempat sepi. Eng... ing... eng. Ceritanya sih mudah ditebak. Si cowok mau lebih jauh dari sebatas sun pipi kanan dan kiri. Karena Y menolak, marahlah si cowok, dan melempar Y ke luar mobil.
Habis dansa-dansa dan minum-minum, mereka berdua kabur menuju tempat sepi. Eng... ing... eng. Ceritanya sih mudah ditebak. Si cowok mau lebih jauh dari sebatas sun pipi kanan dan kiri. Karena Y menolak, marahlah si cowok, dan melempar Y ke luar mobil.
Tapi sebelum si cowok sempat memutar mobil untuk kabur,
Y mendadak bangkit dan muncul dengan sebuah batu di tangan. Lalu, “bruuuk...” Batu dihantamkan keras ke kepala cowok remaja itu, yang
segera ambruk. Hidup si pemuda lalu dituntaskan dengan hentakan sepatu hak tinggi yang
melubangi leher. Busyet.
Pak polisi yang awalnya bingung mencari sang pembunuh, akhirnya mulai melacak bukti demi bukti. Sementara Y, mulai mencari korban. Oh iya, Y ini karyawan usaha laundri. Tapi kerjaannya enggak beres. Beberapa baju pelanggan raib karena ditilep, sehingga dia dipecat.
Bosnya Y yang punya laundri punya anak cowok cakep, dan naksir Y. Maka, dia mencoba menarik perhatian Y dan tentu saja disambut. Semua seperti berjalan lancar sampai ketika Y minta diantar ke areal pemakaman. Si cowok dibohongi kalau itu makam bapaknya Y.
Si cowok nurut saja. Dia pun enggak minta "gituan" sama Y. Namun si cowok heran ketika makam yang mereka datangi, tidak mencantumkan nama bapaknya Y. Makam siapa itu coba? Di sinilah drama menjelang film berakhir.
Si cowok nurut saja. Dia pun enggak minta "gituan" sama Y. Namun si cowok heran ketika makam yang mereka datangi, tidak mencantumkan nama bapaknya Y. Makam siapa itu coba? Di sinilah drama menjelang film berakhir.
Merasa tersudut, Y malah ngotot, marah, lalu akhirnya menimpuk kepala si cowok yang
sudah berbaik hati itu. Nah tepat sebelum nyawa si cowok melayang, pak polisi
muncul. Tapi bukan tembakan yang menghentikan Y.
Salah satu polisi cowok mencoba cara negosiasi yang unik karena sudah memetakan strategi Cinderella si Y ke para korban sebelumnya. Maka, dia pun coba menyakinkan Y bahwa dia pria yang tepat sebagai pendamping Y.
Polisi cowok--yang kebetulan juga cakep itu--mengulurkan sepatu yang hanya sebelah. Strateginya berhasil, dan Y lantas digelandang masuk mobil polisi.
Serial pun selesai, meninggalkan sambalbawang yang terbengong sendirian di depan TV. Ah, kisah Cinderella ternyata bisa dibelokkan alurnya. Menjadi kisah yang lumayan fresh, unik, cukup menghibur, dan yang terpenting, tidak seperti sinetron-sinetron murahan sini.
Tentu saja kisah Cinderella di film ini agak susah dicari sisi edukasinya. Meski kalau dicari-cari ya nemu juga. Misalnya, film ini menyerukan pesan bahwa pendidikan anak itu penting sejak di keluarga. Menjadi apa anak saat dia gede nanti, tak lepas dari pola pengasuhan keluarga.
Polisi cowok--yang kebetulan juga cakep itu--mengulurkan sepatu yang hanya sebelah. Strateginya berhasil, dan Y lantas digelandang masuk mobil polisi.
Serial pun selesai, meninggalkan sambalbawang yang terbengong sendirian di depan TV. Ah, kisah Cinderella ternyata bisa dibelokkan alurnya. Menjadi kisah yang lumayan fresh, unik, cukup menghibur, dan yang terpenting, tidak seperti sinetron-sinetron murahan sini.
Tentu saja kisah Cinderella di film ini agak susah dicari sisi edukasinya. Meski kalau dicari-cari ya nemu juga. Misalnya, film ini menyerukan pesan bahwa pendidikan anak itu penting sejak di keluarga. Menjadi apa anak saat dia gede nanti, tak lepas dari pola pengasuhan keluarga.
Sambalbawang enggak melihat serial lepas di TV kabel itu sebagai tayangan yang berkualitas selevel konten Natgeo. Itu hanya serial biasa, film pendek, yang dibikin
dengan biaya--yang sambalbawang yakin--enggak banyak.
Kembali ke negeri ini, ada banyak sinetron berbiaya produksi yang
(nampaknya) murah. Tapi hanya menampilkan orang-orang emosi, mendelik, atau komat-kamit merapal (membatin) mantra, umpatan, dan harapan jahat. Belum lagi adegan mencak-mencak.
Sinetron sini memang ada alurnya, meski ya kadang bikin ketawa terbahak saking ajaibnya. Tapi, jelas tak memiliki
cukup kekuatan sebagai cerita utuh. Dangkal, tepatnya.
Ceritanya pun lambat, diisi adegan-adegan tidak logis, dan .... yap, menye-menye akut. Untunglah sinetron terakhir yang sambalbawang tonton adalah Si Doel Anak Sekolahan.
Ceritanya pun lambat, diisi adegan-adegan tidak logis, dan .... yap, menye-menye akut. Untunglah sinetron terakhir yang sambalbawang tonton adalah Si Doel Anak Sekolahan.
Sambalbawang enggak paham jalan cerita sinetron sekarang, karena memang malas nonton. Sudah menghabiskan waktu, juga enggak bikin tambah pinter. Tambah emosi, sih, iya.
Kita mestinya belajar sedikit dari film-film pendek luar negeri. Harusnya bisa, sinetron sini dibikin cukup apik ditonton dan
logis jalan ceritanya.
Lupakan dulu bening wajah dan mulus kulit artis pemerannya, karena itu enggak berkorelasi dengan "kemulusan" dan "beningnya" kualitas. Di atas semua itu, mari selamatkan penduduk negeri ini dari tayangan tak berkualitas.
Lupakan dulu bening wajah dan mulus kulit artis pemerannya, karena itu enggak berkorelasi dengan "kemulusan" dan "beningnya" kualitas. Di atas semua itu, mari selamatkan penduduk negeri ini dari tayangan tak berkualitas.
Minggu, 21 Juni 2015
MENGIRIM BERITA DARI BALIK BILIK WARTEL
Suatu petang,
di Klaten, Jawa Tengah, pada rentang waktu akhir 2004. Saya-masih kurus-terpaku menatap layar laptop, resah, merapal mantra demi mantra agar kalimat demi kalimat segera terselesaikan. Hari semakin gelap, beranjak
malam. Hujan deras di luar seakan menambah kekalutan.
Ponsel saya
yang gedenya hampir sebesar senter ini, beberapa kali berdering. Ah, kantor menelepon. "Mas, beritanya sudah jadi?" suara di seberang. Kawan saya yang bertugas memastikan berita telah dikirim atau belum. "Belum, belum. Bentar lagi," kataku. "Cepet, ojo wengi-wengi," katanya.
Menjelang
deadline adalah saat-saat genting bagi jurnalis, terlebih bagi mereka yang
masih yunior dan gampang kalang-kabut, seperti saya. Kecemasan dobel kuadrat
karena usai mengetik, masih ditambah harus mengirim berita. Belum ada modem. Satu-satunya cara untuk
mengirim tulisan adalah ke wartel.
Dan itu bukan pekerjaan mudah. Begitu
selesai mengetik, laptop saya biarkan dalam posisi terbuka, saya “selimuti”
plastik atau tas keresek. Langsung saya meloncat keluar kamar kos-kosan. Payung dikembangkan, dan
langsung berlari menembus hujan, menuju wartel terdekat, 150-an meter jaraknya.
Hati langsung ciut begitu melihat lebih dari lima orang mengantre di depan bilik telepon. Lima menit per orang, berarti minimal harus menunggu 25 menit. Tak ada waktu, saya meneruskan “pelarian” ke warnet terdekat yang berjarak 200-an meter.
Hati langsung ciut begitu melihat lebih dari lima orang mengantre di depan bilik telepon. Lima menit per orang, berarti minimal harus menunggu 25 menit. Tak ada waktu, saya meneruskan “pelarian” ke warnet terdekat yang berjarak 200-an meter.
Akhirnya
sampai jua. Agak lupa berapa menit harus mengantre, namun masih masuk kalkukasi toleransi. Masuk ke bilik, seketika mencabut kabel telepon, lalu menancapkannya ke
leptop. Setelah lima menit-an persiapan, siap mengirim. Tapi, masalah tak berhenti
di sini, karena mengirim foto adalah “sesuatu banget”.
Problem
muncul ketika foto tidak terkirim-kirim. Apa gerangan? Sampai akhirnya saya putuskan menelpon
kawan di Kulon Progo. “Oi, kamu lagi ngirim foto,kah?” teriak saya. “Iya,
tunggu, ini juga tidak masuk-masuk,” begitu suara di seberang.
Yah, apa
boleh buat. Mengirim foto-dan sepertinya juga berita-memakai pogram ini, 12 tahun silam, memang dituntut sabar. Dan lawan saya mengantre ada dua orang, satu di Kulon Progo,
satunya di Gunung Kidul sonooo. Mengirim satu foto, jika lancar pun, bisa
bermenit-menit. Modiaarr...
Setelah 45-an menit, akhirnya saya bisa mengirim, dan lega pascamendengar bunyi cempreng “Eo !!” setiap file sukses terkirim. Rasa tenang mulai mengurai kepanikan yang sudah tercipta beberapa jam lalu. Namun, celakanya, langsung
terusik dengan pandangan mata si penjaga wartel. Oh, saya mengerti.
Segera
teringat bahwa ini bukan wartel langganan. Dia belum paham apa yang saya lakukan di
bilik telepon. Saya pasti dikiranya melakukan apa gitu. Teringat saran kawan, saya pun mempraktekkan. Sudah masuk bilik telpon, kok malah buka leptop, tidak menelpon, dan malah tercenung, gitu.
Mainkan strategi. Gagang telepon saya angkat, dan mulai berbicara seperti orang gila. Tentu saja, kan kabelnya saya pindah ke laptop. Ngomong sama diri sendiri, asal komat-kamit sedapatnya. Sedikit ekspresi wajah, tentu saja. Jangan sampai lupa.
Mainkan strategi. Gagang telepon saya angkat, dan mulai berbicara seperti orang gila. Tentu saja, kan kabelnya saya pindah ke laptop. Ngomong sama diri sendiri, asal komat-kamit sedapatnya. Sedikit ekspresi wajah, tentu saja. Jangan sampai lupa.
Pandangan
mata si penjaga wartel, mereda. Aman. Menjelaskan ke dia bahwa file bisa dikirim
via telepon wartel yang kabelnya dicolok ke laptop, saya kira nggak bakalan menyelesaikan masalah. Malah bisa dikira mencuri pulsa dengan modus baru.
Total
jendral, lebih satu jam berada di bilik telepon. Sekitar 75 persen waktu
adalah untuk menunggu giliran file masuk. Dan sekali keluar karena ada satu
orang pengantre yang matanya melotot pertanda protes. “Ngapain di dalam
bilik telepon cuma bengong sambil mantengin leptop?” mungkin itu pikirnya.
Akhirnya
selesai. Laptop segera masuk tas plastik,
dan saya berjalan pelan menuju kos, masih menerabas hujan. Sampai di kos langsung terkapar. Menghirup nafas dalam-dalam, meredakan
degup jantung.
Selesailah
tugas hari ini. Berharap tulisan berita saya baik-baik saja sehingga tidak perlu
ditelepon redaktur. Sejam menanti, tiada yang menelepon. Artinya aman.
Saatnya mencari warung makan dan menyeruput teh panas.
Merentang penjuru kota Klaten di malam hari, menjadi opsi memungkasi malam. Sejenak bercanda dengan penghuni kos lain, akan menyempurnakan hari. Dan tentu saja, semakin perfect tatkala menyambar gitar.
Merentang penjuru kota Klaten di malam hari, menjadi opsi memungkasi malam. Sejenak bercanda dengan penghuni kos lain, akan menyempurnakan hari. Dan tentu saja, semakin perfect tatkala menyambar gitar.
BACA JUGA :
AGNETHA FALTSKOG vs ANNI-FRID FRIDA ABBA
PETE YANG MENGHARUKAN
MAMMA MIA ! HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
Kamis, 18 Juni 2015
TENTANG LAGU JADUL
Memburu lagu-lagu jadul itu susah-susah mudah. Lebih banyak susah, sebenarnya. Lagu-lagu itu tak banyak tersematkan ke rekaman CD maupun ditampilkan dalam acara tembang lawas di televisi. Situs gratisan pun jadi acuan, untuk mencarinya.
Terlampau banyak lagu lawas yang tak sempat terekam di telinga sehingga menelusurinya (bertahun-tahun kemudian) menjadi urusan yang tidak gampang. Tapi satu demi satu lagi akhirnya terlacak, dan masuk menjadi koleksi music di ponsel.
Beberapa tembang lawas yang terlacak, misalnya "Seputih Melati" yang dipopulerkan Dian Pramana Poetra di medio 80-an. Ada pula "Frustrasi" oleh Kembar Grup, lalu "Ada Kamu" oleh Hari Mukti. Kemudian "Cintaku Terkatung-katung" yang dinyanyikan Richie Ricardo, serta "Astaga" oleh Arie Wibowo.Wahyu OS juga akhirnya saya temukan dengan lagunya "Ingin Memiliki". Jamal Mirdad menyumbang "Hati Lebur Jadi Debu".
Dari deretan lagu barat, misalnya "Body Rock" oleh Maria Vidal yang mengingatkan saya pada era keemasan breakdance di awal tahun 1980. Lalu theme song World Cup 1990 yakni "To Be Number One". Victor Wood yang mempopulerkan "Sweet Caroline" dan "Daddy Cool", tak ketinggalan melengkapi koleksi.
Ada lagi lagu "Lost In Your Eyes"-nya Debbie Gibson, yang cukup lama sambalbawang lupa judulnya, akhirnya ketemu. Juga lagu bergenre rap-hiphop "Informer" oleh Snow-lagu yang saya kenal gara-gara seorang teman SMP nyanyi lagu itu terus tiap hari. Mbak Dolly Parton juga pernah nyanyi lho, judulnya "You Are". Aha.
Secara tak sengaja pula menemukan lagu yang asyik-nyeleneh seperti "Malah Ngiwo" dari Genk Kobra, Atau theme song (instrumentalia) film (supersedih) Oshin dan theme song film Gaban, sang polisi luar angkasa (terharu...).
Ada pula lagu yang dulu samar-samar sambalbawang kenal, tapi belakangan tahu apa lagunya, dan baru saja saya tulis sebagai status di fesbuk. Judulnya "Jaranan", dinyanyikan oleh No (mo) Koes. Lagu ini seingat saya, pernah dinyanyikan Joan Tanamal dalam versi yang tidak terlalu mirip. Tapi sambalbawang suka lagu ini dan tentu saja, sudah sambalbawang selesaikan gimana gitaran dan kentrungannya.
Namun masih banyak lagu yang dulu suka bingits, tapi sekarang lupa judulnya, dan beberapa hanya ingat sepenggal liriknya. Seperti lagunya Gombloh, yang liriknya (kira-kira) gini: Dilidili dam booo, dilidili dam.... Lagu itu tak ada dalam dua CD Gombloh yang sambalbawang miliki, dan tak terlacak di Mbah Gugel ataupun situs lain.
Tapi suatu saat nanti, sambalbawang pasti temukan lagu itu.. Janji !
BACA JUGA
PETE YANG MENGHARUKAN
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
MENGAPA HARUS NGEBLOG
Terlampau banyak lagu lawas yang tak sempat terekam di telinga sehingga menelusurinya (bertahun-tahun kemudian) menjadi urusan yang tidak gampang. Tapi satu demi satu lagi akhirnya terlacak, dan masuk menjadi koleksi music di ponsel.
Beberapa tembang lawas yang terlacak, misalnya "Seputih Melati" yang dipopulerkan Dian Pramana Poetra di medio 80-an. Ada pula "Frustrasi" oleh Kembar Grup, lalu "Ada Kamu" oleh Hari Mukti. Kemudian "Cintaku Terkatung-katung" yang dinyanyikan Richie Ricardo, serta "Astaga" oleh Arie Wibowo.Wahyu OS juga akhirnya saya temukan dengan lagunya "Ingin Memiliki". Jamal Mirdad menyumbang "Hati Lebur Jadi Debu".
Dari deretan lagu barat, misalnya "Body Rock" oleh Maria Vidal yang mengingatkan saya pada era keemasan breakdance di awal tahun 1980. Lalu theme song World Cup 1990 yakni "To Be Number One". Victor Wood yang mempopulerkan "Sweet Caroline" dan "Daddy Cool", tak ketinggalan melengkapi koleksi.
Ada lagi lagu "Lost In Your Eyes"-nya Debbie Gibson, yang cukup lama sambalbawang lupa judulnya, akhirnya ketemu. Juga lagu bergenre rap-hiphop "Informer" oleh Snow-lagu yang saya kenal gara-gara seorang teman SMP nyanyi lagu itu terus tiap hari. Mbak Dolly Parton juga pernah nyanyi lho, judulnya "You Are". Aha.
Secara tak sengaja pula menemukan lagu yang asyik-nyeleneh seperti "Malah Ngiwo" dari Genk Kobra, Atau theme song (instrumentalia) film (supersedih) Oshin dan theme song film Gaban, sang polisi luar angkasa (terharu...).
Ada pula lagu yang dulu samar-samar sambalbawang kenal, tapi belakangan tahu apa lagunya, dan baru saja saya tulis sebagai status di fesbuk. Judulnya "Jaranan", dinyanyikan oleh No (mo) Koes. Lagu ini seingat saya, pernah dinyanyikan Joan Tanamal dalam versi yang tidak terlalu mirip. Tapi sambalbawang suka lagu ini dan tentu saja, sudah sambalbawang selesaikan gimana gitaran dan kentrungannya.
Namun masih banyak lagu yang dulu suka bingits, tapi sekarang lupa judulnya, dan beberapa hanya ingat sepenggal liriknya. Seperti lagunya Gombloh, yang liriknya (kira-kira) gini: Dilidili dam booo, dilidili dam.... Lagu itu tak ada dalam dua CD Gombloh yang sambalbawang miliki, dan tak terlacak di Mbah Gugel ataupun situs lain.
Tapi suatu saat nanti, sambalbawang pasti temukan lagu itu.. Janji !
BACA JUGA
PETE YANG MENGHARUKAN
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
MENGAPA HARUS NGEBLOG
Rabu, 17 Juni 2015
JURASSIC WORLD vs JURASSIC PARK
Sebuah film yang mencoba “memanggil” memori kesuksesan sekuel perdananya,
sulit menjadi suksesor, seberapa pun usaha yang dilakukan. Itulah yang
nampaknya menimpa film “Jurassic World” yang tayang sejak pekan lalu. Begitu laman
dinanti, ternyata harapan cukup jauh dari kenyataan.
Sebagai penikmat film perdananya yakni “Jurassic Park” yang dirilis 22 tahun
silam, dan terkagum-kagum atas kualitas sinematografi film tersebut, terasa
benar bahwa Jurassic World sulit mengimbangi. Bukan berarti Jurassic World
gagal total, lho, tetapi memang sungguh beda greget.
Entah kebetulan atau tidak-tapi saya yakin itu iya dan disengaja-Jurassic World
memang mengesampingkan The Lost World dan Jurassic Park III, yang merupakan
sekuel lanjutan Jurassic Park. Ini sebenarnya pilihan yang cerdik mengingat
sekuel kedua dan ketiga itu menuai kritikan.
Namun karena (sepertinya) terbawa semangat Jurassic Park, maka Jurassic World rada
“terjebak” dalam alur cerita Jurassic Park. Kelengahan petugas kebun binatang
(kebun dinosaurus) membuat sang predator, T-Rex berkeliaran di Jurassic Park.
Sedangkan di film Jurassic World, peran itu diambil oleh Indominus Rex.
Jika pada Jurassic Park, ada dua orang anak-cucu pemilik kebun dinosaurus-yang
diuber oleh T-rex, maka pada Jurassic World, juga ada dua anak: Gray dan Zach.
Mereka diburu oleh Indominus Rex. By the way, Indominus Rex ini digambarkan
sebagai T-rex hibrida, T-rex yang DNA-nya dari beberapa satwa.
Jurassic World meneruskan euforia taman Jurassic Park. Taman yang
sudah tutup, ternyata dibuka lagi. Orang-orang pun lupa bagaimana chaos-nya kejadian di taman itu dulu. Jurassic World memilih mengenyahkan soal recovery taman para satwa zaman prasejarah ini. Hmm.. jadi inget, di bagian akhir
film Jurassic Park, John Hammod-usai meninggalkan taman yang porak-poranda,
berkata bahwa hewan-hewan purba ini butuh ketidakhadiran manusia.
Enggak diberi ruang untuk flashback, Colin Trevorrow, sang
sutradara Jurassic Worl langsung meloncat dengan cerita bahwa taman purba
(edisi kedua) menuai kesuksesan. Pengunjung berjubel seperti cendol. Tapi di
balik itu ada kecemasan kalau tren penunjung turun, karena bosan melihat satwa
gede cuma itu dan itu lagi.
Demi menjaga hasrat penonton yang demen akan satwa buas, pembaruan mutlak
dilakukan. Pada satu waktu nanti, T-rex sudah dianggap satwa biasa, serem-nya ya
sudah biasa. Pengunjung dan pengelola butuh satwa baru yang lebih gede, lebih
ganas,lebih kenceng larinya, lebih banyak gigi, dan (diharapkan) lebih pinter
dikitan ketimbang T-rex. Intinya, lebih menakutkan daripada si T-rex yang
selama ini jadi satwa terkeji di situ.
Maka, dibikinlah Indominus Rex di laboratorium, secara rahasia, yang formulanya diramu oleh tim ilmuwan dengan cara menyintesa DNA dari sekian binatang purba. Sejak bayi sampai umur 10 tahun, Indominus Rex ini, dipingit alias “disembunyikan”. Sampai saatnya tiba, untuk dimunculkan.
Nah, doi sekarang sudah gede, tinggi, giginya pun dah tumbuh (banyak dan tajam). Juga sudah pinter, pada akhirnya bikin gara-gara yang bikin pengelola Jurassic World panas-dingin. Indominus Rex ini lantas mengelabuhi petugas lapas, eh, petugas taman purba. Jadilah si T-rex modifikasi ini urung show perdana, karena segera menghadirkan hari buruk. Seberapa buruknya polah-tingkah satwa blasteran ini, silahkan disimak sendiri, ya.
Nah, doi sekarang sudah gede, tinggi, giginya pun dah tumbuh (banyak dan tajam). Juga sudah pinter, pada akhirnya bikin gara-gara yang bikin pengelola Jurassic World panas-dingin. Indominus Rex ini lantas mengelabuhi petugas lapas, eh, petugas taman purba. Jadilah si T-rex modifikasi ini urung show perdana, karena segera menghadirkan hari buruk. Seberapa buruknya polah-tingkah satwa blasteran ini, silahkan disimak sendiri, ya.
Membahas lainnnya saja. Nah, untuk urusan tokoh pemeran, tidak ada yang spesial dari film ini. Karakter si jahat, ada. Karakter si baik, ada. Owen Grady,
yang diperankan Chris Pratt, menjadi pria maskulin berbadan atletis yang
membereskan kekacauan. Owen ini adalah karyawan yang diserahi tugas melatih
empat velociraptor-sejak mereka dilahirkan di laboratorium.
Namanya juga film barat, bumbu asmara tak lupa diangkut, dengan
keberadaan Mbak Claire, tante-nya Gray dan Zach itu. Awalnya Claire (yang kayaknya
pernah deketan ama Owen-pada suatu masa yang entah kapan) mencuekin Owen. Tapi Claire-mudah ditebak-lalu luluh melihat Owen.
Dalam film berdurasi 1,5 jam-an ini, Claire setahu saya hanya sekali kissing sama mas Owen (saat situasi lagi chaos). Sempat-sempatnya. Untung cepet ketahuan, sehingga mereka cuma gituan beberapa detik. Tapi sebagai penikmat film yang sebel dengan adegan ciuman-apalagi di tengah kepanikan-adegan mereka cipokan itu, adalah penggal terjelek dari keseluruhan film.
Dalam film berdurasi 1,5 jam-an ini, Claire setahu saya hanya sekali kissing sama mas Owen (saat situasi lagi chaos). Sempat-sempatnya. Untung cepet ketahuan, sehingga mereka cuma gituan beberapa detik. Tapi sebagai penikmat film yang sebel dengan adegan ciuman-apalagi di tengah kepanikan-adegan mereka cipokan itu, adalah penggal terjelek dari keseluruhan film.
Menyoal sutradara, Trevorrow, saya yakin jelas menyimak habis
(berkali-kali) film Jurassic Park sebelum memutuskan gimana plot cerita
Jurrasic World, dan mau dibawa ke mana alurnya. Dia pasti mikir agar alur
cerita Jurassic World dengan Jurassic World jangan sama persis, tapi juga
jangan beda jauh.
Karena itu pula, saya pun semakin yakin Trevorrow malah jadi kesulitan
menghadirkan kehebatan jalan cerita Jurassic World. Beberapa penggal nampak terlalu biasa untuk ukuran film yang mestinya luar biasa. Kelihatan, Jurassic Park-yang
disutradarai Steven Spielberg, belum tertandingi kekuatan ceritanya.
Untunglah, teknologi yang disentuhkan sangat menolong kelemahan (kekurangkuatan) alur cerita Jurassic
World. Teknologi membuat adegan demi adegan memancing ucapan “wah”, takjub, dan
penasaran. Seperti ketika Mosasaurus melompat dari kolam untuk melahap hiu
putih yang dipasang sebagai umpan.
Sayangnya, banyak hal detil Jurassic World tak terancang dengan baik. Mas sutradara rada kurang sukses dalam setia pada idenya sendiri. Itu, misalnya, terlihat
ketika Owen berhati-hati masuk ke kandang velociraptor-yang dipelihara sejak
kecil. Begitu selesai menyelamatkan karyawan baru yang "kecemplung" kandang, Owen terjun ke kandang, aba-aba dikit sama piaraannya itu, lalu (ujung-ujungnya) terbirit keluar juga.
Meski peliharaan, kata Owen, mereka tetap punya insting membunuh sebagai warisan sifat. Tetapi di adegan selanjutnya, Owen (tanpa takut), naik motor cowok-trail, menerobos semak belukar hutan, memimpin empat raptor itu memburu Indominus Rex. Dan empat velociraptor itu pun mendadak nurut sama si-Owen.
Jika diukur dari tensi ketegangan, tingkat horor yang ditimbulkan tokoh (satwa) utama yakni Indominus Rex tidak maksimal. Dari namanya saja, sudah gagal. Nama "Indominus Rex" kesannya kurang seram, kurang gahar. Kalau boleh usul, sambalbawang ajukan alternatif nama, yaitu X-Rex. Atau Trevor-Rex. Lebih gahar, dikit, kan.
Kegagalan kedua, ternyata Indominus bukan yang bikin teror ke 20-an ribu pengunjung taman. Peran mengobrak-abrik kerumunan pengunjung yang panik dan histeris, malah diserahkan ke puluhan burung Pteranodon.
Ketegangan yang tercipta lebih pada adegan kejar-kejaran empat tokoh di atas versus Indominus Rex. Sang sutradara menambah porsi ketegangan dengan menghadirkan T-rex ras murni--penghuni lama taman--yang dilepaskan oleh Claire dari kandang. Untuk melawan si Indominus itu.
Sayangnya, sutradara kembali lupa karakter satwa. Waktu berhadapan dengan empat Velociraptor, misalnya, si Indominus bisa berkomunikasi, karena di tubuhnya punya DNA Velociraptor. Keempat Velociraptor itu pun urung melawan Indominus, bahkan sempat berbalik mengancam Owen.
Tapi saat duel melawan T-rex ras murni, si Indominus agaknya lupa untuk berkomunikasi dengan T-rex itu. Jadilah mereka saling gigit dan banting. Padahal lebih seru jika si T-rex bisa dipengaruhi si Indominus, dan mereka tandem mengobrak-abrik taman.
Sambalbawang lalu mengira-ira siapa yang paling tidak suka Jurassic World. Dan cukup yakin kalau arkeolog--yang pernah nonton Jurassic Park--kurang suka. Sebabnya ya karena kemunculan Indominus tadi, hehe.
Para arkeolog--penggemar film Jurassic--sepertinya akan membandingkan kedua film tersebut. Jurassic Park akan dilihat lebih memberi sentuhan edukasi, setidaknya anak-anak bisa mengenal macam-macam dinosaurus secara benar.
Sambalbawang maklum karena Jurassic Park sukses membentuk isi benak anak-anak dan para remaja, gimana keluarga besar si dino. Ya bentuknya, ya makanannya, dan bagaimana sifat alaminya. Sambalbawang, saat Jurrasic Park dirilis, masih SMP, dan jadi lebih antusias baca buku dinosaurus. Oh ya satu lagi, ngefans triceratops.
Kembali ke film Jurassic World. Film ini sengaja melenceng jauh dari fakta ilmiah. Sebenarnya ya sah-sah saja, namanya juga film fiksi. Namun terlepas dari setumpuk kritis, Jurassic World cukup sukses jadi pengobat rindu bagi para penggemar film dinosaurus, terutama Jurassic Park, yang lama menanti sekuelnya muncul.
Pada akhirnya Jurassic World tak lebih sebatas film yang hanya mengedepankan aspek hiburan khas Hollywood, yang adegan demi adegannya ditunjang efek komputer yang keren. Semuanya bermuara pada tayangan yang cukup bikin terkesima. Kalau sudah begini, plot cerita tak lagi jadi hal utama. Nikmati saja ini sebatas film.
Meski peliharaan, kata Owen, mereka tetap punya insting membunuh sebagai warisan sifat. Tetapi di adegan selanjutnya, Owen (tanpa takut), naik motor cowok-trail, menerobos semak belukar hutan, memimpin empat raptor itu memburu Indominus Rex. Dan empat velociraptor itu pun mendadak nurut sama si-Owen.
Jika diukur dari tensi ketegangan, tingkat horor yang ditimbulkan tokoh (satwa) utama yakni Indominus Rex tidak maksimal. Dari namanya saja, sudah gagal. Nama "Indominus Rex" kesannya kurang seram, kurang gahar. Kalau boleh usul, sambalbawang ajukan alternatif nama, yaitu X-Rex. Atau Trevor-Rex. Lebih gahar, dikit, kan.
Kegagalan kedua, ternyata Indominus bukan yang bikin teror ke 20-an ribu pengunjung taman. Peran mengobrak-abrik kerumunan pengunjung yang panik dan histeris, malah diserahkan ke puluhan burung Pteranodon.
Ketegangan yang tercipta lebih pada adegan kejar-kejaran empat tokoh di atas versus Indominus Rex. Sang sutradara menambah porsi ketegangan dengan menghadirkan T-rex ras murni--penghuni lama taman--yang dilepaskan oleh Claire dari kandang. Untuk melawan si Indominus itu.
Sayangnya, sutradara kembali lupa karakter satwa. Waktu berhadapan dengan empat Velociraptor, misalnya, si Indominus bisa berkomunikasi, karena di tubuhnya punya DNA Velociraptor. Keempat Velociraptor itu pun urung melawan Indominus, bahkan sempat berbalik mengancam Owen.
Tapi saat duel melawan T-rex ras murni, si Indominus agaknya lupa untuk berkomunikasi dengan T-rex itu. Jadilah mereka saling gigit dan banting. Padahal lebih seru jika si T-rex bisa dipengaruhi si Indominus, dan mereka tandem mengobrak-abrik taman.
Sambalbawang lalu mengira-ira siapa yang paling tidak suka Jurassic World. Dan cukup yakin kalau arkeolog--yang pernah nonton Jurassic Park--kurang suka. Sebabnya ya karena kemunculan Indominus tadi, hehe.
Para arkeolog--penggemar film Jurassic--sepertinya akan membandingkan kedua film tersebut. Jurassic Park akan dilihat lebih memberi sentuhan edukasi, setidaknya anak-anak bisa mengenal macam-macam dinosaurus secara benar.
Sambalbawang maklum karena Jurassic Park sukses membentuk isi benak anak-anak dan para remaja, gimana keluarga besar si dino. Ya bentuknya, ya makanannya, dan bagaimana sifat alaminya. Sambalbawang, saat Jurrasic Park dirilis, masih SMP, dan jadi lebih antusias baca buku dinosaurus. Oh ya satu lagi, ngefans triceratops.
Kembali ke film Jurassic World. Film ini sengaja melenceng jauh dari fakta ilmiah. Sebenarnya ya sah-sah saja, namanya juga film fiksi. Namun terlepas dari setumpuk kritis, Jurassic World cukup sukses jadi pengobat rindu bagi para penggemar film dinosaurus, terutama Jurassic Park, yang lama menanti sekuelnya muncul.
Pada akhirnya Jurassic World tak lebih sebatas film yang hanya mengedepankan aspek hiburan khas Hollywood, yang adegan demi adegannya ditunjang efek komputer yang keren. Semuanya bermuara pada tayangan yang cukup bikin terkesima. Kalau sudah begini, plot cerita tak lagi jadi hal utama. Nikmati saja ini sebatas film.
BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK "MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
MENGAPA HARUS NGEBLOG
EVEREST
MAMMAMIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
PENDEKAR TONGKAT EMAS WELL DONE
MBANGUN DESA YANG NGANGENI
MUSIK ZAMAN DAHULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS?
LEBIH BAIK NAIK VESPA
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK "MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
MENGAPA HARUS NGEBLOG
EVEREST
MAMMAMIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
PENDEKAR TONGKAT EMAS WELL DONE
MBANGUN DESA YANG NGANGENI
MUSIK ZAMAN DAHULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS?
LEBIH BAIK NAIK VESPA
Langganan:
Postingan (Atom)




