Jumat, 21 Oktober 2016

TEH vs KOPI

Tidak bisa. Sungguh. Minuman teh, bagi sambalbawang, tidak bisa ditandingkan dengan kopi. Penggemar kopi tidak berhak menyebut teh adalah minuman kelas dua. Penikmat teh juga tidak berhak menuding kopi bukan minuman enak. Teh dan kopi, keduanya sama kasta.

Teh adalah minuman terenak di muka bumi. Dedaunan dan batang-batang teh melebur dalam air yang akhirnya menjadikannya berwarna coklat bening. Ditambah harum melati, terciptalah teh enak nan eksotis. Ada rasa mantap, kental, dan sepet di sana. Soal gula adalah selera personal. Meski teh nasgitel adalah yang tersahih bagi sebagian orang.

Kopi juga minuman terenak di muka bumi. Biji kopi yang sudah dihaluskan, kala dituang air panas, akan menguarkan aroma dan rasa pahit yang bakal bikin ketagihan. Bolehlah ditambah gula atau susu kental manis untuk "melembutkan". Atau biarkan saja kopi tersaji pahit, bahkan benar-benar pahit, karena itulah kegarangan dari kopi.

Kopi memang terasa nikmat diseruput tiap hari. Sambalbawang sebenarnya lebih terbiasa menyeruput teh ketimbang kopi, karena itulah kebiasaan sejak kecil. Namun juga menyukai kopi. Dan kala sekian hari menyeduh teh, kecintaan akan kopi tidak berkurang. Sambalbawang yang lahir dari keluarga peminum teh, kini. atau tepatnya sejak tahun 2013, juga menjadi penikmat kopi. Kopi yang "serius" tentunya. Bukan kopi sachet.

Dan tentunya lagi, hanya teh "serius" yang juga memberi kegembiraaan bagi sambalbawang. Teh dan kopi memang tercipta untuk menggembirakan manusia, meleburkan sekat-sekat kala mereka terhidang di atas meja. Sebagai bahasa pergaulan? Mungkin saja...

Jika ada perbedaan antara kopi dan teh, barangkali hanya soal harga dan bagaimana disajikan. Ada kopi yang harganya mihil bingits. Namun ada juga teh yang juga muahaal. Ada kopi sasetan disajikan warung pinggir jalan seharga Rp 5.000 dan tidak enak. Ada teh di kafe besar yang juga hanya teh celup.

Jadi, jangan bandingkan kedua minuman favorit sambalbawang ini. Keduanya minuman istimewa.

baca juga :
TEH NASGITEL PET
KOKORO NO TOMO
1O BREGADA KERATON YOGYAKARTA YANG KEREN
BASA WALIKAN
MAMMA MIA ! HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
MENGAPA HARUS NGEBLOG

Rabu, 05 Oktober 2016

KOKORO NO TOMO

" Anata kara kurushi mi o ubaeta sono toki
Watashi nimo ikite yuku, yuki nga wa ite kuru
Anata to de au made wa kodoku nasasurati bito
Sono te no nukumori o kanji sasete

Ai wa itsumo rarabai, tabi ni tsukareta toki
Tada kokoro no tomo to watashi o yonde

Shinjiau kokoro sae doko ka ni wasurete
Hito wa naze sungita hi no shiawase oikakeru
Shizuka ni mabuta tojite kokoto no doa o hiraki
Watashi o tsukandara namida fuite

Ai wa itsumo rarabai, anata ga yowai toki
Tada kokoro no tomo to watashi o yonde

Ai wa itsumo rarabai, tabi ni tsukareta toki
Tada kokoro no tomo to watashi o yonde "


Lirik di atas--yang sambalbawang comot dari internet karena enggak faham-adalah lagu Jepang yang barangkali paling populer di Indonesia sampai saat ini. "Kokoro no tomo", judulnya, menjadi hits di era 80-an. Dinyanyikan oleh Mayumi Itsuwa.

Si mbak ini juga yang melantunkan "Amayadori", yang kepopulerannya satu strip di bawah Kokoro no tomo-semoga bener nulisnya. Gegara nemukan kaset berisi kompilasi lagu hits era itu, dan ada lagu ini, sambalbawang jadi hapal. Sejak SMP, malah.

Enggak sempat dipilih Warkop sebagai lagu yang diplesetkan-lantaran milihnya Sukiyaki menjadi Nyanyian Kode- Kokoro no tomo,justru yang paling berkesan. Enggak tahu artinya, pokoknya suka.

Baru beberapa tahun lalu, sambalbawang iseng mencari arti lirik lagu ini. Meminta bantuan mbah Gugel, dan ketemulah.Ternyata memang tidak jauh-jauh amat dengan penggalan sebuah kisah di masa lalu. Ah.

Skip-skip. Enggak usah ditanya juga berapa lama menghapal liriknya. Intinya, lagu ini, syahdu. Mau dibilang melow, boleh. Mau dikategorikan romantis, ya boleh. Kokoro no tomo artinya teman hati (semoga bener). Nah, bener, kan, melow. 

Namun, bukan masa lalu yang menyeret sambalbawang menggandrungi lagu ini. Namun karena inilah lagu Jepang pertama yang sambalbawang kenal dan syukurlah, hapal. Padahal zaman berganti, dan lagu Jepang makin banyak.

Tapi entah mengapa, ini lagu tetap terasa asyik, meski sudah berumur 30 tahun lebih. Coba saja ndengerin. Tambah menarik kalau tahu arti liriknya, dan inilah dia :

" Saat itu mampu kulepaskan kepedihan dari hatimu
Semangatku pun bergelora menapaki jalan hidup ini
Sebelum berjumpa denganmu, kesepian aku berkelana
Biar kurasakan hangatnya jemarimu
Cinta senantiasa meninabobokan
Tatkala lelah dalam perjalanan
Ingatlah diriku sebagai teman hati
Bahkan hati yang saling percaya terlupa entah di mana
Mengapa orang-orang mengejar kebahagiaan yang telah berlalu
Pejamkan matamu perlahan dan singkapkan jendela hatimu
Raih tanganku dan usap air matamu
Cinta senantiasa meninabobokan
Ketika lelah dalam perjalanan
Ingatlah diriku sebagai teman hati
Cinta senantiasa meninabobokan
Tatkala lelah dalam perjalanan
Ingatlah diriku sebagai teman hati "


HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG UNYIL KUCING
HANACARAKA AKSARA JAWA YANG INDAH
TEH NASGITEL PET
BASA WALIKAN
KILAUMU BAGAIKAN MUTIARA
MENGAPA HARUS NGEBLOG
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019

Kamis, 29 September 2016

SUPRA GTR 150, SI BEBEK (RASA) SPORT

Bebek rasa sport. Itu kesimpulan tatkala melihat dan menjajal sejenak performa Supra GTR 150, varian anyar Honda yang dirilis awal tahun 2016 ini. Bagi yang berharap Supra GTR 150 ini masih bercita rasa Supra, siap-siap saja untuk terkejut. Supra yang ini tidak sekalem kakak-kakaknya.

Setelah sekian bulan penasaran, akhirnya sambalbawang berkesempatan juga melakukan test drive motor yang sempat menghebohkan para biker itu. Sore hari, sambalbawang meminjam sejenak motor itu dari diler Honda Harapan Utama, Balikpapan. Penasaran kan memang harus dituntaskan biar kelar. Ini dia tampangnya.




Jauh sebelumnya, Mei lalu, sambalbawang sudah berpapasan dengan GTR 150. Namun hanya sempat memelototi tampangnya, ketika serombongan bikers mampir Balikpapan, di sela-sela turing antarpulau. Sempat ngobrol dengan beberapa biker, katanya GTR 150 sip untuk turing.

Jadi, mari kita bahas sedikit gimana makhluk ini. Diawali, tentu saja dari tampang. Dimensinya cukup bongsor, dengan lekukan-lekukan sudut tajam. Mengingatkan sejenak dengan sosok bebek sport yang dibesut pabrikan lain. Namun bodi GTR 150 lebih “menjulang” dan seimbang.

Beranjak ke tampang depan, desain lampunya sepintas mengajak memori bernostalgia mengingat si legendaris Supra X 125 yang tak lekang dimakan usia. Tapi, bedanya ya tetap jauh sih, karena lampu depan GTR 150 ini sudah menganut dual LED, lampu jauh dan dekatnya terpisah.

Menuju ke bahan material, plastik bodi penutup tampang dan bagian tebeng, meski tidak terlalu tebal, tapi cukup “serius” dan rapat, dibanding kawanan bebek lain. Menandakan bebek sport ini tidak akan banyak berisik “mengepakkan sayap” kala bergetar mesinnya.

Jika dipantengin dari samping dan belakang, tampilan GTR 150 termasuk kalem jika parameternya adalah sport murni. Namun tampaknya inilah satu daya tarik, agar kaum hawa-yang ingin tampil sedikit macho-pun melirik. Ibarat berotot, boleh, tapi nggak perlu harus seperti binagarawan. Kan? Aha.

Kembali ke topik utama. Oh ya, satu yang paling mengesankan adalah desain knalpot. Cukup slim, kokoh, namun sporty dan good looking. Dentuman suaranya pun, tidak malu-maluin, tapi juga tidak bikin sebel pengendara sebelah. Tidak juga bikin pak RT terpaksa keluar rumah sambil bawa pentungan, kala ini motor lewat gang kampung.

Dengan moncong mendongak ke belakang lumayan tinggi, GTR 150 akan aman dan baik-baik saja jika dipaksa melewati genangan air hingga 40 cm. Inilah bebek-dan mungkin juga bebek sport- yang secara teori paling aman menerabas banjir. Bisa jadi opsi bagi mereka yang kerap lewat daerah banjir.

Beranjak ke fitur, terutama melongok panel-panel indikator, nuansanya sih, standar. Gabungan analog dan digital. Penunjuk RPM masih berupa jarum, tapi selain itu sudah digital. Apik. Semua penanda indikator, cukup jelas terbaca. Kalau toh dicari satu “kelemahan”, sepertinya hanya menyoal penanda RPM yang space-nya kegedean. Sepertinya dari sektor inilah GTR 150 terasa masih ada “bebek” nya.

Okey. Cukup pantauan secara visual. Sekarang saatnya berkendara alias test drive. Lima menit pertama, langsung terbaca mengapa bebek ini diklaim bersahabat kalau diajak turing jarak sedang hingga jauh, dan naik-naik ke puncak gunung. Para biker yang terlanjur beli GTR 150, sepertinya tidak menyesal.

Dari aspek ergonomi, lumayan dapet. Diajak putar-putar Kota Balikpapan, tangan dan telapak tangan tidak pegal. Posisi kaki juga nyaman. Posisi stang yang tinggi membuat badan tidak dipaksa membungkuk. Sambalbawang yang tinggi badannya 171 cm, masih bisa menebar senyum ke kanan-kiri saat berkendara.

Konfigurasi kopling manual lumayan sukses disematkan di Supra GTR 150. Tuas kopling empuk ditarik jemari tangan, tugas persneling gigi di kaki, pun, enteng dipijak. Saat posisi gigi berpindah, entakannya lumayan anteng. Jika terbiasa mengendarai motor cowok, mengendarai GTR 150 yang bertipe mesin DOHC dan setingan giginya sampai enam ini, bisa sambil “merem”, lantaran mudah. Nggak perlu narik kopling ful tenaga, gigi sudah bisa dipindah dengan smooth. Enyak kan.

Beranjak ke suspensi, GTR 150 lebih bersahabat ketimbang bebek sport lain. Sambalbawang sengaja “menghajar” jalanan aspal berlubang, dan sejenak melewati jalan bergelombang-berbatu-batu, dan ternyata...motor ini cukup anteng. Suspensi belakang bertipe tunggal (mono shock), tak hanya sekadar mempermanis tampilan sisi tengah motor, tapi juga oke meredam getaran. Berikutnya, tentang jok, sebenarnya cukup keras, namun pengendara terbantu oleh fungsi suspensi yang lumayan sip.

Roda depan berukuran 90/80-17 sedangkan belakang 120/70-17. Dimensi yang cukup lebar untuk memeluk aspal, dan mantap untuk mencengkeram saat pedal rem diinjak. Dobel rem cakram, depan-belakang, menjadi nilai tambah. Sambalbawang mencoba mengerem rada “kejam” saat laju motor cukup kencang. Supra GTR 150 ini akur-akur saja, mau berhenti tanpa bikin pengendaranya panik.

Lalu, mesinnya bagaimana? Supra GTR 150 berkubikasi 149 cc dan berteknologi injeksi penuh ini, terbilang cukup bertenaga. Sepintas dicicipi, karakter mesinnya mirip Sonic, tapi lebih kalem. Lebih jinak, dikit. Di putaran bawah, sedang, hingga tingi, tenaganya masih bisa “ngisi”.

Mesin tetap cukup adem lantaran ada radiatornya. Dibawa lari sampai 90 km per jam, motor ini belum melayang. Masih bisa “nancep” ke aspal. Handling juga tidak “lepas”. Tapi ngapain juga kencang-kencang membejek gas sampai segitunya, kalau kecepatan nyaman ada di kisaran 50-70 km per jam. Turing kan tidak harus ngebut, kan?

Melongok ke fitur lain, memang terasa ada yang dikorbankan demi tampilan GTR 150 yang ca’em ini. Apa saja itu? Pertama, bagasi. Hanya tersedia sejumput space yang itu pun tidak muat untuk sebiji jas hujan. Paling hanya muat notes. Tapi, ruang kecil ini sebaiknya tidak diisi barang, karena untuk "bernapas" mesin.

Kedua, tidak ada cantolan tempat menggantungkan bawaan di bagian tebeng. Dengan desain rapat segitu, motor ini memang bukan motor untuk belanja ke pasar. Dibikin cantolan sih, bisa dan sah-sah saja, kan ini urusan selera dan fungsionalitas. Meski konfigurasi tebeng-nya tidak mentolerir untuk itu. Tapi kan kalau turing, masa juga sembari bawa plastik isi soto.

Supra GTR 150-yang dilanjutkan dengan All New Supra GTR 150-diklaim hanya menghabiskan 1 liter BBM untuk menempuh jarak 42-an km. Ini termasuk hemat, bro and sis. Ada rider bilang motor ini bisa dipancal sampai 120-an km tanpa mesin tersengal-sengal kehabisan napas. Tapi karena sambalbawang bukan penggila speed, melainkan pendamba kenyamanan berkendara, maka, tidak terlalu penting membuktikan batas speed tersebut.

Oya satu lagi, untuk menikmati sensasi berkendara yang ideal, Supra GTR 150 ini meminta minuman jenis pertamax, bukan BBM subsidi. Pertalite, sih, sepertinya cukup oke, tapi sebaiknya kita suapin pertamax. Bebek nan “mewah” gini, bermesin injeksi pula, cocoknya ya dikasih pertamax.

Singkat kata, bebek sport ini bisa diajak berpetualang tanpa bikin pantat cepat terasa pegal, dan tetap dapat santai berkendara. Boncenger juga cukup diperhatikan “nasibnya” lantaran jok Supra GTR 150 tidak nungging-nungging amat. Turing berdua ke luar kota, masih bisa hepi sampai tujuan.

Diler Honda di Kota Minyak ini, membanderol Supra GTR 150 Rp 22-Rp 23 juta di Balikpapan. Sambalbawang tidak mau menilai ini harga yang murah atau tidak, lantaran harga kan menyesuaikan bagaimana material dan performa kendaraan. Pilihlah motor sesuai keinginan dan kebutuhan. Kalau masih suka ke pasar, motor ini enggak cocok. Kalau suka turing, tapi santai-santai saja melahap km demi km, GTR 150 bisa dipinang di diler. Begitu, jreng...


BACA JUGA

7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
ZUNDAPP LAMBRETTA JAWA CB200 DI PAMERAN MACI BALIKPAPAN
TENTANG HONDA (3) INILAH STAR'S FAMILY
TENTANG HONDA (2) DARI ASTREA 700 HINGGA ASTREA 800
TENTANG HONDA (1) DARI PISPOT SAMPAI PITUNG
BANYAK MOTOR SEDIKIT MEREK, SEDIKIT MOBIL BANYAK MEREK
SUZUKI NEX - IRIT LINCAH MANTAP KALEM
FORD LASER SONIC - BALADA FORDI (1)
AVANZA VS WULING VS EXPANDER

Senin, 19 September 2016

NGGAK MAU BIKIN TEH ENAK, BIKIN SIRUP SAJA, SANA

Entah mengapa, belakangan ini, atau tepatnya empat tahun terakhir, saya anti minum es teh di warung. Bukan lagi soal tehnya beraroma vanila, tetapi lebih ke si penjual yang nggak mau denger permintaan konsumen.

Saya, sebagai konsumen, sebetulnya berhak menentukan "rasa", ketika sudah ngomong "tehnya panas, manis, kental", dan sudah diiyakan si penjual. Dalam hal ini, saya sudah menghilangkan keinginan citarasa "sepet".

Komposisi teh yang sejati, ya empat unsur tadi. Jika ingin sempurna, ya tehnya beraroma melati. Nasgitelpet, panas-legi-kentel-sepet. Rumus bakunya gitu. Dan, saya sudah lumayan berdamai ketika mau menerima teh rasa vanila-jika itu yang terhidang.

Namun, teh yang dihidangkan di warung, 90 persen sepertinya "asal teh". Lebih ke air segelas yang kecemplungan secara tidak ikhlas oleh teh celup. Bahkan kalau boleh berpendapat, teh celup bikinan saya, pun, masih jauh lebih enak.

Oke, jika penjual memilih minuman sebagai "tambang uang", daripada makanan. Namun tidak bisa donk teh dihidangkan asal-asalan. Bahkan, "sembarang" teh pun, masih masuk akal, bagi saya, daripada "sembarang" cara bikin teh.

Alasannya, semua teh bisa dibikin enak. Menjadi tidak enak jika cara bikinnya salah. Airnya kebanyakan, takaran tehnya kelewat pelit, airnya sudah nggak segar, diseduh tidak dalam kondisi mendidih, terlalu lama disimpan,

Diperparah lagi kalau takaran gulanya, kelewatan. Maksud saya, untuk ukuran saya yang terbiasa minum teh manis saja, tarakarannya tetap kelewatan. Kebangetan. Kebayang, kan? Teh yang nikmat memang manis, tapi ingat, itu setelah ada faktor "nas-tel-pet"nya, yang terpenuhi. Kalau hanya manis doang, ya tidak enak. Apalagi jika satu teh celup untuk empat gelas.

Jika syarat teh enak diabaikan, teh akan terasa ambyar. Celakanya lagi, salah satu "benteng" terakhir penjual teh di Balikpapan, yakni warung angkringan, nyaris tidak ada yang menganggap teh itu minuman penting.

"Teh (rasa ambyar) seperti ini saja, laku. Ngapain repot bikin teh yang repot," sepertinya itu pikiran banyak penjual dari tingkat warung, restoran, hingga angkringan. "Mbikin teh itu, ya repot," begitu kata salah satu pedagang angkringan yang syukurlah, masih resah jika teh bikinannya gagal-dan tidak berani menyajikan teh asal ke saya.

Karena teh seperti "candu", maka, jika makan di warung, saya tetap membeli minuman teh. Tapi teh botol, atau teh dalam kemasan kotak. Setidaknya, keduanya, baik teh botol maupun teh yang dikemas kotak itu, rasanya masih lebih serius daripada teh yang "asal teh" itu.

Kalau mau rasa teh yang enak, ya mesti mau repot. Sedikit repot, tepatnya. Mau tahu kerepotan lain? Teh itu nggak enak jika diwadahi gelas plastik, maupn diaduk memakai sendok plastik. Nah, jadi, kalau mau mudah, ya bikin minuman sirup saja. Atau bikin es batu. Ho, oh, kan?



Senin, 15 Agustus 2016

KEMBALI BERSUA ( cerpen 8 )

Kaos berwarna putih, tanpa lengan, dan celana pendek berbahan jins yang digunting sampai di atas lutut. Itu kostummu sore ini. Bedak sedikit tebal, menempel di wajah. Bau badan yang sepertinya campuran antara sabun mandi dan parfum ketengan,

Kamu melihatku. Tatapan matamu seakan menyelidik. Seakan pula berharap, entah harapan apa. Harapan yang nantinya berujung uang, atau harapan bahwa sesosok pria di depannya ini bukan seseorang yang akan mengusirnya.

Hani, namanya. Umur 34. Asal dari sebuah kota di Jawa Tengah. Janda satu anak. Tubuh ramping, tinggi 155 cm, kecil mungil, rambut kepang, suara serak, dan sebungkus rokok kretek di tangan. Tangan satunya lagi, menggenggam bungkusan plastik berisi es teh. 
  
"Kita, aku yakin, pernah bersua di suatu tempat," ujarku membuka percakapan. Berharap dia "terpancing" obrolan pembuka ini. Rokoknya tidak jadi disulut. Hani menatapku. "Kamu kah pria itu? Maksudku salah satu pria itu?"

"Sepertinya bukan," kataku. "Namun aku pernah melihatmu. Bersama salah satu kawanku. Mungkin 2-3 tahun lalu. Bukan di sini," jawabku. Sebelum dia membuka mulut, aku berkata lagi, "Salah satu temanmu, yang aku ingat, saat itu berteriak-teriak,"

"Aku tidak tahu kejadian setelah itu. Yang aku ingat, aku langsung ditarik kawanku yang mendadak muncul entah dari mana. Kami segera menyingir dari tempat tersebut," ucapku.

"Tapi aku mengenalmu karena satu jam sebelumnya sempat berbincang denganmu. Kamu sempat menawarkan sepotong tempe goreng dan teh, kepadaku. Meski, yah, berbagi mulut gelas denganmu," kataku pada Hani.

Dia terdiam. "Aku lupa, Banyak pria kutawari minuman karena itu kebiasaanku. Mungkin aku akan rada ingat besok, tapi kalau sekarang, aku lupa," katanya sembari mengangkat bahu. "Nanti deh, kalau ada waktu, kuingat-ingat lagi," ucapmu.

Di sebuah gang sempit, sore itu, aku bersua Hani. Rumah-rumah di sepanjang gang ini, berimpitan. . Sore yang rada ramai. Salah satu "pesertanya" adalah seorang penjual gorengan. Sebut saja Bu Titik.

Bu Titik ini langganan Hani. Dan sore itu, Hani memang sedang menunggunya. Bu Titik, dengan wajah ceria, menurunkan gendongannya, menggelar dagangan. Plastik kresek dibuka. Dua tahu, dua tempe, dua bakwan. Enam atau tujuh cabai, disertakan.

"Aku ditraktir dong," tiba-tiba Hani berkata dengan nada manja. "Ah, tadi kamu kutanya, ketus," sahutku. "Kamu sih pakai nanya-nanya. Ngapain. Sudah tho, Traktir aku donk," katanya sewot. Matanya melotot, lubang hidungnya membesar.

"Oke. Begini perjanjiannya. Kamu kutraktir tapi aku kamu temenin sebentar. Paling 30 menit lagi," kataku membuka penawaran. Dia menjawab, "Oke, deal".. Hani mendatangi tempatku duduk, dan mengambil tempat di sebelahku.

Aku bisa melihat tengkuk dan lekuk kakinya. Dia balik menatap heran. "Ngapain sih kamu liat-lihat," katanya dengan nada bicara sedikit sebal. "Aku pernah melihatmu, dua-tiga tahun lalu. Dan aku hanya bertanya padamu, apakah itu benar?" ujarku.

"Kamu mau bakwan, ini satu untukmu," jawabmu cuek. "Ah sok tahu saja kamu. Emang hanya kamu yang datang menemuiku?" lanjut Hani. Aku mengambil bakwan yang kamu sodorkan. "Matamu bulat. Rambutmu bagus. Kamu baik. Dan kamu semestinya tidak merokok," kataku.

Dia terdiam..Lalu berkata, "Hanya satu orang yang pernah mengatakan kata-kata itu kepadaku. Aku memang pernah bersua denganmu. Tapi mengapa juga kamu menemuiku?" 

"Aku tidak berencana menemuimu. Namun aku berada di tempat yang sama pada saat yang sama denganmu, Aku pun tidak tahu apakah akan bersua denganmu lagi. Tapi sebelum aku pergi, bolehkan aku meminta senyummu?"

Hani tambah heran, Memiringkan kepalanya. Menatap aku tak berkedip. Semenit-dua menit. Dia lalu tersenyum renyah, dan berkata, "Apakah aku dulu pernah berkata bahwa suatu saat akan bertemu denganmu?".. Kujawab," Betul." 












  

Rabu, 20 Juli 2016

NABRAK MAKHLUK MANIS DI LAPANGAN (CERPEN-7)

Lucunya, aku mendadak mengingatmu. Setelah sekian tahun, dan sederet peristiwa terlewati. Tiba-tiba aku ingin mengingat senyum renyah, dan cekung lesung pipitmu. Juga dua bola mata sebulat kelereng, dan deretan gigi nan rapi di balik kawat gigi.

Menjelang malam, aku bertandang ke rumahmu. Berjalan kaki, menenteng raket bulutangkis, dan botol air minum. Kamu-dan adikmu yang sering menganggu itu-telah menantiku di teras rumah. Seperti biasa, ini malah kita, bukan?

Aku dan kamu melangkah memasuki lapangan. Ganda campuran, begitulah konsep kerja sama aku dan kamu. Di dunia kita, banyak ganda lawan yang sudah kita kalahkan, bukan? Tapi tanding antar teman begini, tak ada medalinya.

Aku selalu menantikan laga. Dan aku suka bisikanmu.  "Jangan biarkan mereka menang," katamu dengan muka serius, yang jujur saja, lebih terlihat jenakanya. "Kalau menang, aku pinjem buku ceritamu, ya," jawabku. Dia menyahut, "Beres.."

Lengan mungilmu keras mengayun. Langkah kakimu mengejar ke mana arah laju bola kok. Ah, aku suka mendengar lepas tawamu saat lawan tak sanggup mengembalikan bola. Dan aku suka melihat peluh deras berjatuhan dari dagumu.

Kadang, aku menunggu senyum kikukmu saat beradu pandang. Aku pun masih ingat bau keringatmu. Dan aku mengingat raut sebal wajahmu ketika bapakmu menjemput karena jam jarum telah menunjuk angka 12 malam.

Hei, kita beberapa kali bertabrakan gara-gara memburu laju bola. Cukup keras benturan itu, sampai membuat tubuh mungilmu terpelanting dan jatuh. Dan aku selalu mengulurkan tangan, membantumu bangkit. Pipimu pasti memerah saat itu.

Aku tertawa terbahak-bahak malam ini. Dua puluh tahun setelah kita memutuskan gantung raket, tanpa pernah melangkah bersama.Aku yakin kamu pun terbahak-bahak di sana.


BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
THE AQUARIAN ?


Senin, 11 Juli 2016

HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG... UNYIL KUCING !!!

Anak-anak jaman dulu berhutang banyak dengan sosok ini. Drs Suyadi alias Pak Raden. Tanpa dia, tidak akan ada film boneka si Unyil, yang memaksa kita duduk manis setiap Minggu pukul 08.00 di depan TV.  Selama 30 menit, Unyil sebagai tokoh utama, bersama Ucrit, Melani, Cuplis, Usrok, bergantian mengisi kecerian di pagi hari.

Pak Raden, Pak Ogah dan tandem sejatinya yakni Pak Ableh, juga Bu Bariah, pun, tak ketinggalan muncul. Ada juga Kinoy, adiknya Unyil, serta Bun Bun, adiknya Melani. Mereka tinggal di Desa Sukamaju. Hidup berdampingan dengan damai, ceria, meski kadang ada kejadian. Komplet juga dengan hutan, dan para satwanya. Ah.

Pak Raden itu galak, tapi kami mencintainya. Pak Raden marah-marah ketika Unyil dan Ucrit sembunyi di pagar tanaman depan rumahnya. Unyil dan Ucrit diusir. Pak Raden juga malah “ngasih tahu” penjahat ke mana arah larinya Unyil dan Ucrit. Tapi Pak Raden nggak salah. Malah, Pak Raden itu sebenarnya orang baik.

Pak Raden, eh, Pak Suyadi lah yang mengkreasi film boneka yang ngetop di awal 80 itu. Dia secara “halus” menyematkan nilai toleransi, dan nilai positif lainnya, dalam kesederhanaan jalan cerita si Unyil. Coba simak salah satu judul film ini “Pengorbanan Seorang Ibu”, misalnya.

Adegan diawali dari Unyil yang tengah menunggu Ucrit yang sedang sembahyang di gereja. Ah di latar belakang sana, ada bangunan gereja. Mereka berdua hendak bermain. Agenda wajib anak-anak jaman dulu. Nggak ikut main, nggak keren,lah. 

(nb: ini gambar nyomot dari internet..)

Datanglah Usrok, yang lalu diajak Unyil. Usrok sih oke-oke saja. Namun Usrok yang sedang repot bawa belanjaan ini, mesti pulang ke rumah dulu. Unyil sontak meledek, katanya, “Kok kayak perempuan, pakai belanja,”. Usrok menjawab, “Ah ya enggak, ini kan bantu ibu,”.

Sampai segini, dasyat kan makna obrolan ringan itu. Lanjut ke cerita. Ucrit sudah pulang dari gereja, dan bersama Unyil nyampiri Usrok. Tapi Usrok lagi disuruh ibunya menyapu halaman sampai bersih. “Kebersihan itu untuk dirimu dan lingkungan. Rumah ini kita dapat dengan susah payah,” kata ibu Usrok. Secara sambalbawang "kenyang" ngontrak rumah, ini nasehat nan bijak. Setuju !

Nah, karena permainan harus ada Usrok agar seru, maka solusi yang diambil Unyil dan Ucrit adalah.....membantu Usrok menyapu agar cepat selesai. Muaranya, biar Usrok diizinkan ibunya untuk bermain. “Wah gawat ni, kalau begitu kita bantu nyapu,” ujar Unyil. Keren kan, solusinya. Apapun dilakukan demi bisa main bareng. Ini khas anak zaman dulu, hihi.

Ketika Usrok lagi kena jaga dalam permainan, Unyil dan Ucrit segera lari sembunyi. Celakanya mereka ini sembunyi (tapi ribut) di rerimbunan pagar tanaman rumah pak Raden, yang tentu saja langsung diusir si empunya rumah. “Apa ini rame-rame kayak pasar. Pergi,” hardik Pak Raden, yang lalu dijawab Unyil dan Ucrit sembari ketawa. “Mana tahaaan...”. 

Akhirnya ketemu juga rerimbunan ideal tempat ngumpet. Saat sembunyi itulah, seorang kakek lewat sembari bernyanyi “Walang Kekek”. Si kakek nggak nyadar dompetnya jatuh. Unyil spontan mengambil dan berseru kalau uangnya cukup banyak, bisa untuk jajan. Tapi Ucrit spontan mengingatkan, “Jangan, Nyil. Itu tidak baik. Kasian kakek.Siapa tahu uangnya untuk anak dan cucunya. Yuk kita kembalikan,”.

Di bagian lain, si kakek mulai panik lantaran dompetnya raib. “We lha, mati aku. Sing jenenge dompet ki endi parane (wah mati aku. Yang namanya dompet, di mana)” kata kakek. Untunglah dia lantas ketemu pak hansip, yang segera membantu mencarikan.

Sementara itu, di sudut kampung, Unyil dan Ucrit disergap seorang perampok yang ternyata juga melihat kala dompet kakek itu saat terjatuh. Ucrit yang apes, ketangkap, Sedangkan Unyil berhasil kabur tunggang langgang, dengan membawa dompet itu. Unyil akhirnya bersua pak hansip dan si kakek. Pak hansip pun sigap bertindak.

Adegan berikut, si kakek ingin memberi sedikit uang ke Unyil cs, karena nemukan dompetnya. Tapi Unyil menolak. Hebat, kan? Nah, singkat cerita, di hari lain, Unyil bersama Usrok dan Ucrit sengaja main ke rumah si kakek tersebut. Mereka disambut gembira. “Ini cucuku yang jujur, yang ngembalikan dompet,” kata kakek.

Tiga sekawan kecil ini lalu pamit, tapi ditahan. Si kakek menawarkan untuk mendongeng dan tentu saja itu tak bisa ditolak. Anak-anak gitu, lho. Dengar ada yang mau ndongeng, sakau, deh. Nah, sebelum si kakek mendongeng, dia masuk dulu rumah untuk mematikan kompor (yang tentu masih minyak tanah). Mau tahu celetukan si kakek gimana. Gini: “Sayang minyaknya. Penghematan energi,”. Kalau dipanjangkan, itu penghematan minyak tanah. Hihi. 

Lanjut. Tiga sekawan ini lalu ngobrol-ngobrol iseng, “Rupanya kakek sudah tidak punya nenek,”.. “Gampang, nenek yang tinggal di pinggir hutan, kita berikan saja ke kakek ini,”... “Hus ngawur...”. Mereka pun cekikikan. Untung saja, si kakek nggak denger.

Nah, balik lagi ke kakek itu. Dongeng pun dimulai, Kisahnya tentang seorang anak nakal, yang tinggal di tepi hutan bersama ibunya. Sang ayah sudah tiada. Si anak yang bernama Atu ini, hobi berburu, dan bangga setiap pulang menenteng buruannya. Demikian pula hari itu, ia menyumpit anak kera. Kelakuan Atu, bikin ibunya sedih.

Sementara itu, jauh di dalam hutan, induk rusa, induk kelinci dan induk kera tengah berkumpul dan ngobrol. Mereka membahas tabiat Atu yang sudah menghabisi nyawa anak-anak mereka. “Hutang garam bayar garam. Hutang jiwa bayar jiwa,” begitu kata induk kera. 

Lalu ketiga satwa ini bertemu ibunya Atu. Mereka menyampaikan hal itu. Ibunya Atu pun sedih. “Anakku jangan diapa-apakan. Sebagi gantinya, ambillah nyawaku sekarang juga,” kata si ibu yang turut larut dalam kesedihan para induk satwa.

Namun para induk satwa itu, tidak mau. Sesampainya di rumah, ibu menasehati Atu.. “Membunuh binatang adalah perbuatan sangat berdosa. Binatang itu memiliki perasaan seperti kita. Mereka akan bersedih bila anak mereka ada yang membunuh....” Busyet.. Daleeeem....

Ah, rasanya sekian dulu sekilas ceritanya. Versi lengkap silakan pemirsa cari sendiri di belantara youtube. Filmnya cepet kok, tidak sampai 20 menit. Tapi banyak makna tersurat dan tersirat... Hm. sambalbawang coba mendeskripsikan, jadi segini nih:.

- Hormat kepada ibu dan kakek
- Setia kawan
- Jujur
- Toleransi beragama
- Bertanggung jawab
- Sayang binatang
- Kepolosan anak-anak
- Yang jahat selalu kalah
- Penghematan energi
- Anak cowok tidak gengsi belanj ke pasar...

Kesimpulannya, terima kasih ya (alm) Pak Raden.. Kamu memang top se-top-top-nya..
Hompimpa, alaium gambreng... Unyil kucing !!!

Ehm.. sekadar catatan, "hompimpa, alaium gambreng" itu, setelah sambalbawang baca di sekian alamat, berarti: "Dari Tuhan kembali ke Tuhan, Mari kita bermain".
Buseet, kan.. Daleeeem....


BACA JUGA
BAHASA JAWA (1) BAHASA YANG (MUNGKIN) TERUMIT
GATOTKACA TAK HANYA OTOT KAWAT BALUNG WESI
LILAC SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
JURASSIC WORLD VS JURASSIC PARK
AKU DI BELAKANGMU, TIGER
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
LEBIH BAIK NAIK VESPA