Kamis, 31 Oktober 2013

DARI GPS, PETA, SAMPAI "ILMU PURBA"

     Gara-gara ponsel belum bisa--atau tidak bisa--diinstal aplikasi GPS, sambalbawang pernah sebulan penuh mengukur jalanan Jakarta mengandalkan peta manual. Ini peta dalam bentuk lembaran yang ukuran hampir semeter persegi.  Repot dan ribet, tapi lumayan. 
      Sayangnya peta tetap tidak menyeluruh. Gambarnya "dikorting". Ketika sambalbawang bersama seorang teman hendak menuju kawasan Meruya, Jakarta Barat, gambar peta mentok sampai pertigaan jalan. Entah jalan mana. 
      Dengan kata lain, masih jauuuuh dari tujuaan. Peta ini sepertinya hanya menggambarkan sekitar 30 persen wilayah Jakarta Barat. Sampai tujuan, sih, iya. Tapi mesti banyak bertanya dan kesasar-sasar. Untung pakai brompit (motor).
     Hari berikutnya, sambalbawang berencana meluncur ke arah Condet, Jaktim. Sebelumnya  sudah memelajari peta tersebut. Tapi entah mengapa, lokasinya tetap tidak ketemu. Tidak semua area Jakarta Timur nongol di peta. Cuma dapat garis besar menuju kesana. Akhirnya, mengandalkan lagi cara lama: bertanya ke orang-orang. Barulah sampai tujuan. 
      Kembali lagi menerapkan "ilmu purba": tanya-tanya orang. Benar juga peribahasa bilang malu bertanya sesat di jalan. Jadi, secara teknis, bertanya yang paling efektif itu begini: sebelum motor sampai persimpangan jalan, wajib bertanya. Ini Jakarta, bung. Salah belok,a tau telanjur bablas, bisa lama dan jauh putar baliknya.
       Contoh kesasar-sasar lain, tak perlu dituang semua di blog. Kebanyakan, lha wong hampir tiap hari mengalami. Beginilah nasib "orang daerah" di ibu kota, yang tidak punya jalan tol dan jalan yang bertumpuk-tumpuk. 
        Membahas soal alamat yang tidak ketemu kala mengacu peta, sempat sambalbawang curiga lokasi (jalan) itu tersembunyi di kotak "Legenda". Kota ini ada di sisi kanan bawah peta. Lumayan gede, yang menutup mungkin area satu kelurahan.
     Jadi, kesimpulannya, peta itu "curang" terhadap sambalbawang. Judul peta itu, "Jakarta" mestinya diubah menjadi "75-80 Persen Jakarta" biar enggak memberi harapan palsu. Atau saatnya beralih ke GPS? 
      Teman saya nyeletuk, "Mbok ya menginstal GPS, toh, ya. Lumayan bener, dan cukup mudah memelajarinya. Enggak ribet,". Nampaknya harus begitu. Akhirnya terinstallah GPS di ponsel, tepatnya salah satu program (aplikasi) penunjuk rute. 
       Setelah mempelajari semalaman, dan menerapkan esok hari, saya tetap kesasar-sasar. Apa yang salah? Agaknya sambalbawang tidak mahir membaca peta digital.  Jadi, akhirnya, kembali bermotor-ria di Jakarta dengan mengandalkan "ilmu purba". 
       "Bisa juga kan pakai aplikasinya. Enak?" tanya kawan itu begitu sambalbawang balik. "Enggak bisa pakai," jawabku. "Lho kok bisa sampai dan bisa pulang?" tanya dia lagi. "Itulah hebatnya aku," jawab sambalbawang.

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
BASA WALIKAN
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019

Senin, 07 Oktober 2013

JIAN, KAPOKMU, KAPAN ?

     "Jiaan, ... kapokmu kapan,"  begitu celetuk seorang kawan, ketika dia membungkus cindera mata berukuran besar, dengan berbekal beberapa lembar koran dan selotip. Sembari mengucapkan itu, tangannya menepuk bungkusan. Saya yang kebetulan ikut nimbrung mbantuin membungkus, sejenak tercenung...
     Sudah sekian tahun saya tidak mendengar ada (orang  Jawa) yang bilang "kapokmu kapan".. Kangen betul mendengar kata yang nyaris punah itu. Dalam bahasa Jawa, kapokmu kapan itu, dimaksudkan sebagai bentuk celetukan terhadap sesuatu/seseorang yang berulah/ribet, namun akhirnya kena batunya, atau bisa kita taklukkkan.
    Nah, kawan saya, yang adalah kakak kelas yang mendaftar kuliah 10 tahun lebih duluan itu, mengucapkan "kapokmu kapan" setelah dia berhasil membuntel, menyelimuti cinderamatanya dengan koran. 
     Plus, mengakali agar cenderamata lain yang juga berukuran lumayan besar, bisa nempel pula. Cenderamata lain itu sempat terlepas, tapi bisa disematkan lagi. Akhirnya, kemasannya emang secara visual memang acakadut, tapi pokoknya bisa kebungkus.        
    Kapokmu kapan juga bisa dialamatkan pada orang jahil/usil/bandel/nyebai yang akhirnya kena batunya. Misalnya ada anak yang suka ngebut pakai motor, dan akhirnya kecelakaan sehingga opname. Nah si ortu yang merasa nasehatnya dulu enggak pernah didengar, kemudian ngomong ke anaknya itu," kapokmu kapan"
    Saya jadi tiba-tiba ingin mengingat kata-kata (bahasa Jawa) sejenis dari kapokmu kapan itu. Saya menemukan beberapa. Misalnya: edan taun, tobat encit, horohtoyoh, mbligung, sontoloyo, trondolo, kicat-kicat, (yang lain lupa-menyusul deh-janji).
     Itu semua dari bahasa Jawa, dan saya belum merunut itu, apakah berasal dari kawasan Jawa Tengah, Barat atawa Timur. Namun mari coba kita telusur artinyaa, hihi.. (menurut analisis saya, sih).   
       Pertama  edan taun. Ini seperti celetukan "edan" yang berarti gila. Namun "taun" nya berarti banget. Dengan kata lain, edan taun itu artinya edan banget yang benar-benar tak terpikirkan. 
   Lalu tobat encit. Ini berarti ucapan bermakna tobat (kapok) sampai benar-benar tobat tingkat dewa. Tobat yang telah mencapai level sempurna, sehingga pelakunya pun nggak bakalan melakukan kesalahan/hal serupa.
    Ada lagi "Horohtoyoh" . Ini celetukan bagi orang lain (yang kita lihat), sedang kesulitan dan mendadak kena masalah (tambahan). Misalnya saia lihat si Anu lagi mbawa dua karung beras. Saya menawarkan. 
     Percakapannya kira-kiri gini: Need a help, friend? No, thanks, begitu jawab si Anu. Dan tiba-tiba, si Anu kepeleset dan kebetulan saya melihat. Saya pun ikut terkejut. Maka saya nyeletuk horohtoyoh..
   Kemudian, Mbligung, artinya : kondisi tidak pakai pakaian (tapi masih bercelana). Namun tak hanya itu. Orang tersebut biasanya dalam posisi tidur-tiduran nyantai dan badannya agak keringatan. Biasanya lagi, si orang itu lagi ngisis (menikmati angin). Dan kita agak risi memandangnya. Nah, dia itu  kita sebut sedang mbligung.
    Sontoloyo, ini berarti kurang ajar. Dikasih tugas apapun, endak pernah mengerjakan. Disuruh ingat sesuatu, lupa terus. Diajak ngomong, sulit nyambung. Nggak bisa dipercaya dalam hal apa saja. Dia berarti sontoloyo.
   Trondolo, artinya kira-kira adalah orang yang menjengkelkan. Namun levelnya masih bisaaa agak terampuni. Karena bentuk menjengkelkannya itu masih bisa ditoleransi. Misalnya sering lupa. Kadang bikin onar dan bikin orang seisi rumah blingsatan nyari dia. Dia orang yang trondolo.
   Lanjut, adalah Kicat-kicat. Menurut saya, ini level panasnya air yang paling tinggi. Teman saya yang tinggal di Gunung Bakaran, pernah diskusi sama saya soal kicat-kicat. Dan kami sepakat bahwa kicat-kicat ini adalah keadaan air mendidih yang paling puanas.
     Kalau air mendidih 100 derajat celcius, naa kicat-kicat ini pas 100 derajat itu. Kicat-kicat lebih merujuk ke air mendidih sempurna (maksimal) yang untuk dijadikan minuman (misalnya teh). 
     Meski sempat ditiap-tiup, lidah kita segera kerasa kebakaar begitu bibir tersentuh air panas itu. Itulah panas yang kicat-kicat. Naah, level panas di bawah kicat-kicat ini, ada banyak lho.  Misalnya, ada anget, rodok panas, umep, moah-moah. 
      Hm, merenungi itu semua, ternyata bahasa ibu (di semua daerah), benar-benar luar biasa. Permenungan saya berakhir pada pertanyan: apakah generasi penerus, sudah kita bekali dengan kosakata "ajaib-jenaka-wagu" seperti kata-kata tersebut? ...(kepala menunduk)...


BACA JUGA :
CHINMI JAGOAN KUNGFU DARI KUIL DAIRIN 
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK 
BASA JAWA (3) DARI MECUCU SAMPAI NYANDRA
LEBIH BAIK NAIK VESPA
THE AQUARIAN ? 
PELUKAN (CERPEN)
TENTANG HONDA (2) DARI ASTREA 700 KE ASTREA 800
7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
AKU DI BELAKANGMU, TIGER WONG
ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA
MAMMA MIA ! HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
HORE IKUT LELANG HAPE JADUL

Sabtu, 28 September 2013

VEGETARIAN ITU EKSTREM ? AH MASA IYA SIH, AH YANG BENER AJA

      "Wah, kamu termasuk vegetarian yang ekstrem ya," begitu komentar banyak orang terhadap saya. Kalau dijumlah, yang bilang begitu ke saya, sudah puluhan orang. Tentu, sah-sah saja pendapat orang.
      Cuma, saya heran ketika komentar itu dialamatkan ke saya. Orang lain heran, saya juga berhak heran, bukan? Bukannya saya mempertanyakan untuk mengajak debat kusir, tapi mengajak melihat dari sisi yang logis.
     Baiklah, karena saya memang penyantap sayuran, bisa disebut vegetarian yang ekstrem. Kesannya kok ngeri. Namun bagaimana dengan para penyantap satwa darat dan satwa air? Mereka kan juga bisa disebut "karnivora ekstrem" ? Mm, atau perokok berat, wajar jika dikategorikan "perokok ekstrem" ?
     Menurut saya, menjadi vegetarian itu tidak ekstrem. Malah kembali ke konsep alam, back to nature. Lha wong semakin sayang binatang kok dikatakan semakin ekstrem. Betul, kan? 
     Saya jadi teringat kicauan seseorang beberapa hari lalu, saat siang hari yang terik dan menuju acara makan siang.  "Wah kamu vegetarian ya. Itu tuh, ada daun, makan saja, hahaha," guraunya.
    Sebenarnya saya hendak membalas berkicau ke dia. Tapi sayangnya, siang itu kok tidak ada ayam broiler, sapi, atau kambing yang melintas, agar saya bisa berkata "Wah kamu karnivora? Itu tuh ada ayam broiler, sapi, dan kambing. Makan tuh (mentah-mentah)," ....
     Tetapi tenang saja, saya tidak akan seperti itu kok dalam konsep serius. Bagi saya, candaan yang gitu tidaklah penting. Gimana ya, tapi maaf saja, "level" saya dalam menjalani pola makan vegetarian ini, bukan untuk mengurusi pendapat orang. 
    Level saya sudah bisa merasakan enaknya sayuran. Saya bisa merasakan enaknya sawi hijau, pete, kangkung, oseng-oseng godhong telo, tempe goreng, sambal, es degan, es jeruk, es teh.  Demikian juga saya menyukai lodeh, plus tempe bacem, sambal tomat, dan kerupuk. Bisa geleng-geleng kepala, deh. Apalagi dilengkapi keroto dan irisan pete. Benar-benar enak bukan?
     Habis, itu terus menyeruput wedang teh yang nasgitel (panas-legi-kenthel)... Atau secangkir kopi? Atau segelas jus sirsak, atau teh botol? Enak, bukan?  Kalau Anda setuju, berarti tidak ada vegetarian ekstrem di bumi ini.  Nanti kalau saya sudah tidak vegetarian, misalnya, gimana coba.

 BACA JUGA :
PETE YANG MENGHARUKAN

Rabu, 25 September 2013

MENGAPA TEMPE DAN SAYUR SELALU DIMASAK BELAKANGAN ?


        Hari masih pagi. Sekitar pukul 09.30, beberapa waktu lalu, saya menyambangi sebuah warung makan. Sebuah warung kecil di Balikpapan, yang ruangannya nemplok satu bangunan dengan sebuah kantor, alias kantin kantor. Seorang teman menginformasikan bahwa warung tersebut sudah buka pukul 08.00 dan menunya lumayan sip.
       Karena saya tidak mengonsumsi satwa darat dan air, saya celingak-celinguk memindai setiap baskom dan piring yang berisi lauk-pauk. Tapi ape daye, yang ada cuman potongan jerohan, iwak, sampai iwak pithik.     
     Kemana menu kaporit saya? Kemana tempe, tahu, sayur lodeh, oseng-oseng, dan bakwan jagung? "Waduh, Mas. Belum dimasak," begitu jawab si penjual, ketika saya menanyakan. Saya cuman bisa menjawab,"Ooooo,,,". Garuk-garuk kepala.
    Peserta berikut, seorang bapak yg masuk ke warung juga ikut tengak-tengok mencari lauk tempe. Tak mendapat yang dicari, ia akhirnya menjumput ikan goreng, lalu bersantap. Bisa terbaca si bapak juga kecewa. Singkat kata, menu saya pagi itu hanya mi goreng. 
      Kejadian seperti ini,  masuk warung makan di pagi hari tetapi tempe tahu belum digoreng, sudah saya alami sekian puluh kali. Berbagai pemikiran nempel dan menari-nari di kepala. "Tempe dan tahu kan masaknya gampang, tinggal cemplung. Beda sama 'i-we-a-ka' yang kudu disiapkan lama,"..
      Mengapa dan mengapa, kok tempe dan tahu selalu dimasak belakangan,  hu,hu,hu? ... Jagad dewa batara, it's not fair ... Bukankah asik kalau tempe dan tahu senantiasa tersedia duluan. Lebih murah, dan mayoritas manusia Indonesia menggemarinya. Iya, kan?
       Selang beberapa hari, seorang teman yang saya sambati soal itu, coba menghibur. "Ya sudah, sabar. Masakan apa dimasak duluan di warung, itu kan terkait kebiasaan. Orang yang biasa nyabut rumput baru beres-beres, tentu akan melakukan itu. Kalau bares-beres dulu baru nyabut rumput, nggak terbiasa," gitu katanya.
     Sebelum saya melontarkan setumpuk argumen, teman saya yang pakar mesin itu, melanjutkan pendapatnya. "Ya di mana-mana, kebiasaan orang yg masuk dalam kategori mayoritas, tidak sejalan dengan yang dikehendaki orang minoritas,"...
      Skak mat, deh. Hm, memang, tak terasa, saya secara sadar dan tidak sadar masuk dalam "golongan minoritas", sudah sekitar lima tahun.  Menjadi penyantap sayuran, atau istilah kerennya diistilahkan vegetarian. 
    Tidak apa-apa dan tidak ada yang salah, ketika kita masuk kategori minoritas. Saia minoritas dalam hal menu makan. Tapi, saia yg "minoritas" juga masih bisa berteman sama sohib saya yang "mayoritas" itu.  
    Meskipun saya tetap mempertanyakan mengapa sayur dan tempe selalu dimasak belakangan, namun saya dan dia masih bisa duduk maem bareng di satu warung. Sering, malah.. Hehehe (jingkrak-jingkrak)...
    Tapi, nanti kalau saya buka warung, yang saya masak duluan tempe dan sayur. Yang saya masak belakangan adalah sayur dan tempe juga. He. 


  

Selasa, 17 September 2013

E HONDA SELALU KALAH OLEH RYU DAN KEN

        Beberapa waktu lalu, sambalbawang iseng berselancar ke dunia maya, sengaja mencari game yang satu ini dan syukur jika nemu dan bisa didonlot. Eureka, ketemu juga gem-nya. Street Fighter, demikian judul gem baku hantam itu.


      Secara visual, gem ini sudah nggak menarik, maklum Street Fighter yang edisi II. Tokok-tokohnya pun terbatas, macam Ryu, Blanka, Guile, Ken, Dhalsim, Zangief, Chun Li, dan tentu saja E. Hondaaaa, jagoan saya.
      Ketika kotak dialog ngasih tau kalo game-nya sukses didonlot, hati bersorak. Tulisan "Capcom" pun muncul di layar. Mari memilih gacoan. Terpilihlah E Honda. "Round one, fight !" begitu teriakan dari spiker pertanda saling jotos dimulai.
     Si Honda ini,punya jurus "tangan cepat". Doi bisa meng-KO Zangief dengan mudah. Chun Li, yang bisa nendang dengan posisi salto, Blanka yang bisa nyetrum,  juga Guile yang bantingannya paling oke, semua keok sama Honda. 
      Namun, giliran bersua mas Ken dan pakde Ryu, entah mengapa kang Honda mendadak melempem. Hilang kesaktian. Kena terus soriyuken sama bulan sabit terbang mereka, tanpa banyak membalas. Ini dia tampilan E Honda melawan Ken, yang saya searching dari internet.


     Dan setelah dua ronde, E Honda kalah nyaris telak. Mau diulang terus, hasilnya sama saja. Kang Honda ini nampaknya emang nggak bisa menang tanding di tanah kelahiran sendiri, di Jepang. Sudah nasib.
      Street Figter, game yang simpel. Tapi yang menarik bukan visualnya, tapi kenangan 20 tahun silam. Ketika kang Honda, mbakyu Chun Li, dkk berjaya. Mereka bisa dijumpai dalam arena dingdong. 
      Masa-masa itu, dingdong-lah yang terkeren, mengawali era ketika gembot mulai menepi. Cukup Rp 100, dimasukkan ke mesin ketika di layar tertulis "insert coin". Ah jadi teringat masa-masa itu.
     Pernah ada pelajar sebaya dari SMP tetangga, yang jago mainin street Fighter. Dia selalu mainkan E Honda. Nah, sambalbawang diam-diam menyerap ilmu cara bermainnya. Mencari trik-trik jurus, yeah.
    Mesti cukup lihai memainkan game ini, karena sambalbawang hanya bisa maksimal menyemplungkan 2 koin ke mesinnya sesuai jatah uang saku. Jadi sambalbawang keterusan memainkan E Honda... Bahkan sampai 20 tahun kemudian ini.
     Dan (masih saja) tidak pernah bisa ngalahkan Ryu sama Ken...  

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
LEBIH BAIK NAIK VESPA
KONSER REUNI ABBA DALAMBENTUK HOLOGRAM ?
MAMMA MIA ! HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
BASA WALIKAN 

Minggu, 15 September 2013

DEMI PILKADA, DEMIKIANLAH PILKADA

       Pilkada Kaltim sudah berlalu. Coblosan 10 September lalu syukurlah dapat terlampaui dengan aman sentosa. Sambalbawang kembali beringsut pulang ke Balikpapan setelah berjibaku di Samarinda selama lima hari untuk mantengin prosesnya.
      Sudah bisa ditebak, Pilkada Kaltim berjalan datar-datar saja. Hasilnya, juga sudah tertebak. Namun yang menarik bagi saya, bukan siapa menang. Tetapi tentang sulitnya nyoblos di luar kota. Nah, ini yang saya alami di Samarinda. 
      Ceritanya gini, ni.. Karena wajib ke Samarinda untuk memenuhi panggilan tugas negara, maka tentu tak bisa nyoblos di kota asal, yakni Balikpapan. Namun hati berharap tetap dapat undangan untuk memilih, setidaknya itu bisa saya konversi ke kantor kelurahan untuk mendapat blanko pengantar. 
      Sayang, Pak RT atau siapa lah yg kudunya membagi tuh undangan, tak kunjung nongol. Tak punya waktu untuk merunut, ya sudah, lah. Memang, untuk memilih, sejatinya boleh tidak membawa kartu undangan/pemilih, asal bawa KTP sama KK. Asalkan, mencoblosnya di TPS sesuai alamat.
     Dari sini lah masalah berawal, karena sambalbawang tidak bisa masuk bilik TPS di Samarinda di hari H. Petugas di empat TPS yang disambangi, sembari liputan tentunya, pada menggeleng ketika sambalbawang menyodorkan KTP berikut KK. 
      Mau memakai strategi wajah memelas, pun, kayaknya juga sia-sia. "Pakai KTP dan KK bisa, tapi nyoblosnya di Balikpapan, Mas," ujar salah seorang petugas.
   Seorang bapak paruh baya yang mengenakan kostum hijau dengan tulisan "Linmas" di sakunya, memandangi sambalbawang. Wajahnya ikut menunjukkan penyesalan. "Sayang ya Mas, padahal sudah jauh-jauh dari Balikpapan," ucapnya. Saya mengangguk dan ikut ketawa garing, menyikapi kenyataan. 
     Mungkin para kontestan Pilkada tidak terlalu mempedulikan kesulitan-kesulitan teknis seperti kejadian tersebut. Namun seperti lirik lagu Tipe-X, "kamu nggak sendirian", tepat menggambarkan. Bukan sambalbawang saja yang bernasib begitu.
     Respon warga terhadap pesta politik bertajuk Pilkada ini, semakin turun dari waktu ke waktu. Bahkan mungkin respon penyelenggara Pilkada pun merosot, ikut terimbas anjloknya animo masyarakat.
     Mereka yang berteriak kampanye, berkutat di kantor partai, dan menyiapkan manuver demi manuver politik, barangkali hanya sekian persen dari warga. Mayoritas warga memilih mengurusi diri sendiri.
      Tapi, yah, pesta demokrasi memang seperti sudah disiapkan sistemnya oleh mereka yang mengincar kepentingan politik. Untuk memperjuangkan rakyat, maka wakil rakyat butuh terjun ke politik, bukan? 
      Saya tentu memberi apresiasi pada mereka yang terjun ke dunia politik, dengan catatan mereka memang maju untuk memberikan pencerahan dan perbaikan. Namun, jujur saja, susah meraba tujuannya ketika tumpang-menumpang kepentingan menjadi menu yang sudah teramat biasa dalam percaturan politik.
     Apresiasi saya yang tidak luntur adalah kepada warga yang masih mau jadi petugas di TPS, di PPS, maupun PPK. Ditengah apatisme masyarakat menyambut Pilkada, mereka masih mau jadi bemper depan perhelatan 5 tahunan itu. 
     Namun saya juga sedih melihat petugas di TPS. Mereka menyiapkan lokasi beberapa hari sebelum hari-H, datang ke TPS tepat waktu, dan menyiapkan semua formulir. Bahkan mendandani TPS-nya agar keren.
     Hanya saja, sering dalam satu TPS, peserta pencoblosan nggak sampai separuh dari jumlah warga yang tercatat sebagai pemilih. Seperti nampak di sebuah TPS di Samarinda,  sudah dilengkapi alunan musik. Tapi, yah, hanya separo pemilih yang datang.
     Kembali ke persoalan teknis yang saya alami tadi, saya jadi merenung. Jangan-jangan kisah seperti inilah yang ikut menyumbang jumlah golput. Walau demikian, saya pun ragu, kalau toh aturan diperbaiki, apakah itu solusi?
    Seorang teman nyeletuk, "Saya berparitisipasi kok di Pilkada. Kemaren datang ke TPS untuk menghargai petugas di TPS karena dia sudah mengantarkan undangan ke rumah saya," begitu komentar dia. 
    Terus sambalbawang tanya lagi, "Di bilik suara, nyoblos gak?". Dia terkekeh riang, lantas berujar, "Hehe. Nggak ada calon yang cocok. Saya pun nggak kenal calon-calonnya. Saya ya tidak nyobos di bilik suara. Tetapi saye ke TPS," .
      Sambalbawang kembali manggut-manggut, kembali ketawa garing..

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019

Jumat, 13 September 2013

SUSAH BENER BIKIN PUISI

      Suatu malam, seusai menyelesaikan kerjaan, saya membuka laptop. Di temani secangkir kopi, saya coba mewujudkan tekad, yakni membuat puisi.Beberapa puluh menit berlalu, tak ada kata tercetak di layar 10 inchi ini. Duuuh, susah beneeer.
    Satu, dua, tiga kata terketik, satu kalimat tercetak, langsung otomatis tangan menyentuh tombol "del".. Kurang pas, lah. Kurang sip, lah. Kurang ritmis, lah. Terlalu lebay,lah. Pokoknya, ndak jadi kalimat.
     Laptop saya tutup. Kepala digaruk-garuk. Apa sebab? Perasaan, dulu saya termasuk "puisi maker" sejak SMP sampai SMA. Bisa dicek kok kebenaran ini, hahaha. Tapi sekarang? Haduh. 
    Seiring waktu, kemampuan bikin puisi, semakin hilang. "Nol puthul", begitu kata orang untuk menggambarkan sesuatu yang benar-benar nol. Padahal dulu, karya puisi saya pernah nongol beberapa kali di surat kabar.
   Kenapa ya? Apa karena dulu adalah zaman susah, maka puisi lebih gampang tersusun? Apa karena dulu kisah cinta saya nan pahit, maka puisi lebih mudah berkobar? Atau karena dulu masih labil jiwa?
     Seorang teman, beberapa waktu lalu, sempat "menantang" saya kembali membikin puisi....Saya bilang, ayoook. Tapi aduuh, susah bener mbikin puisi... Buktinya, malam ini sudah bertekad bikin. Tapi malah nulis di blog.


BACA JUGA ARTIKEL LAIN :

PELUKAN (CERPEN)