Jumat, 12 Februari 2016

COKLAT VALENTINE - 2

Satu jam lagi bersua denganmu. Aku membayangkan bidadari cantik nan wangi, menungguku, Dan satu jam lagi aku mungkin bisa menggengam tanganmu. Dan kamu terkejab-kejab gembira menerima coklat yang kubenamkan di saku baju.

Sore ini nan cerah. Seharian mendung menggelayut namun tiada hujan tercurah. Motor bututku, sayangnya, seperti tak mendukung. Dua kali aku menghindari orang yang menyeberang mendadak, dan dua kali itu pula mesin motor ini ikutan kaget lalu ngadat. 

Sedikit "terbatuk" motor dua tak warisan budhe ini, terus melaju. Membelah jalanan. Akhirnya sampai juga di depan rumahmu. Nampak sebuah motor yang sangat kukenal, terparkir di halaman rumah itu. Semoga itu pertanda si empunya berada di dalam. 

Ternyata kau sudah menantiku. Hati setengah bersorak ketika kamu mempersilakanku masuk dan duduk di ruang tamu yang lapang nan bersih. Aku mendadak merasa bahwa "kasta" kita cukup jauh terentang. Aku membenamkan diri dalam sofa yang empuk, memandang dinding tembok yang penuh benda foto. Dan kupandangi perempuan di depanku ini. Ah manisnya.

Baru saja mulutku akan membuka, engkau sudah mendahului obrolan. "Maaf ya, aku tidak punya banyak waktu. Mau keluar, ketemu teman," katamu. Datar. Tanpa ekspresi. "Kamu enggak apa-apa, kan. Aku pas sibuk nih," sambungmu lagi.

Kupandangi lagi seraut wajah itu, dan bibir yang baru saja menguncapkan kata-kata itu. Tenangkan dirimu, dinginkan kepalamu, begitu suara hati berbisik. Ingat siapa dirimu, dan siapa dirinya. Suasana mendadak terasa dingin.

"Oh, baiklah. Apakah besok sore aku boleh kemari lagi? Atau lusa? Atau kapan pun kamu ada waktu?" balasku. Penuh harap, meski sebenarnya sudah tak lagi berharap. 

Dan dia menjawab kalau aku tidak perlu repot-repot ke rumahnya, "Takut entar nggak ketemu. Ketemu di kampus saja," katamu. Ah, sebuah sindiran halus. Eh, bukan. Ini kata-kata bernada mengusir. Ya, mengusir aku dari kehidupannya.

Ah, begini juga akhirnya. "Baiklah. Sepertinya aku juga sibuk dalam waktu dekat ini. Mungkin juga enggak akan sempat mampir sini lagi. Takut menganggu kamu. Tapi boleh enggak kalau aku memberimu coklat? Kali ini saja, terimalah," kataku.

Dia mengangguk. Kukeluarkan sebungkus coklat dari balik saku bajuku. Kuulurkan coklat itu ke arahnya, sembari menatap matanya yang bulat. "Makasih, ya," katanya. Sedetik kemudian dia bersuara lagi, "Mau pulang sekarang?"
  
Oh tentu. Kedatanganku memang harus dipersingkat. Sepuluh menit di ruangan ini pun sudah terasa sangat lama bagiku. Aku berlalu. Sore ini menyisakan setumpuk penyesalan mengapa aku membeli dan memberikan coklat itu. 

"Jika hadiahmu tidak berkenan baginya, bolehlah kamu memberikan itu untukku,", terngiang-ngiang ucapan salah satu sahabat wanitaku. Tempat curhatku. Ah mungkin dia yang lebih layak mendapat hadiah ini.

BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA :
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN

Rabu, 10 Februari 2016

COKLAT VALENTINE - 1


Aku mendatangimu lagi malam itu, dengan setumpuk resah dan sebungkus tanda tanya. Seturut janji tadi pagi saat bersua denganmu di parkiran kampus. Hujan masih mengguyur deras saat sampai ke teras rumahmu. Sebentuk wajah mungil menyeruak dari helai-helai gorden kamar tamu.

Pintu dibuka seiring aku yang langsung meloncat ke dalam rumah. Kedinginan. “Bagaimana hasilnya tadi?” begitu pertanyaanmu sembari memandangiku. Aku masih menggigil. “Oke, aku buatkan minuman hangat dulu, ya,” lanjutnya lagi, dengan tatapan penuh selidik, dan mungkin berbalut iba.

Hujan malam ini sungguh kejam. Satu jam untuk menerabasnya sungguh membuat nyeri sampai ke dalam tulang. Belum lagi motor tuaku yang karena disiram hujan yang disempurnakan angin, ditambah melindas puluhan genangan, maka jalannya pun terkentut-kentut sepanjang jalan. 

Begitu dingin malam ini. Sungguh. Gigi mulai bergemeletuk. Kulit ujung jariku sudah nampak berkerut, Tetes-tetes air masih meluncur deras membasahi lantai. Maaf aku membuat lantai rumahmu menjadi basah. 

Sekian menit berlalu, sejenak waktu untuk menata jiwa. Engkau menghampiriku dengan segelas teh panas yang segera kuseruput. Tenggorokan yang nyaris beku ini, perlahan menghangat. Gelas kudekap erat dengan kedua telapak tanganku. Aku sejenak melihat senyummu. Hangat namun entah.

“Bagaimana hasilnya tadi? Apakah masih tetap sama seperti sebelumnya. Kamu baik-baik saja, kah?” sederet pertanyaan meluncur dari bibirnya yang mungil, mengarah telak ke arahku. Aku mengatupkan kedua bibirku, sembari menatapmu. “Begitulah....bukan kabar baik,” jawabku pelan dan lirih, dan sepertinya nyaris tak terdengar olehnya.

“Oh...” katamu. Selama beberapa menit selanjutnya, ruangan kamar tamu yang sempit ini lantas hening. Kami saling berpandangan. Di luar hujan masih deras mengguyur, dengan kilat yang menyambar. “Jadi, sekarang apa yang akan kamu lakukan? Seperti kesepakatan semula, kah?” tanyamu memecah kesenyapan.

“Sepertinya begitu..” sahutku. Aku membuka tas, mengeluarkan plastik kecil, dan mengeluarkan isinya. Sebungkus coklat. Kubeli tadi pagi, khusus untuk seseorang yang sejam lalu enggan mempersilakanku masuk ke rumahnya.

“Ini untukmu, saja. Aku tidak bisa menyimpan coklat ini, apalagi memakannya. Dan nampaknya lebih baik kuberikan ke orang lain. Kamu. Seperti yang kubilang tadi pagi. Janji, lho,” kataku seraya mengulurkan coklat itu.

Sedetik-dua detik dia menatapku lekat, sebelum kemudian tersungging senyum simpul. Aku tahu coklat itu tidak terlalu membuatmu gembira. Kamu menanti coklat dari lelaki lain yang beberapa kali kamu kisahkan ke aku. 

Namun mungkin kedatanganku yang sejenak, ditambah momen yang kurang tepat ini cukup bisa membuatnya terhibur. Meski aku yakin tidak. Tapi setidaknya kamu mau menemuiku, dan masih sudi melempar senyum.  

Aku ingin yang didepanku adalah dia. Aku ingin yang di depanku ini nanti menggantikan dia. Namun perempuan manis bertubuh kecil dan berambut sedikit poni di depanku ini pun juga resah karena mestinya bukan aku yang mendatanginya di tengah sambaran kilat.

Perempuan yang menatapku ini masih mencoba melabuhkan hati kepada lelaki lain. 
Pelabuhannya pun belum teraih. Ah. Kembali tatapanmu menyudutkanku. Aku melihat lagi bening dan bundar bola matamu.

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
PELUKAN (CERPEN)

Senin, 08 Februari 2016

NGASEM

Setiap kali mudik ke Yogyakarta, setiap kali itu pula sambalbawang sempatkan mampir pasar-pasar tradisional. Sejenak menggali memori masa kecil. Semua berkesan: Pasar Ngading, Ngasem, Prawirotaman, hingga Rejodani.

Tidak ada lagi mbah-mbah tua penjual nangka di dekat tangga Pasar Ngasem yang kini wajahnya telah berubah, tak lagi seperti 30 tahun silam. Mbah penjual lopis di Pasar Ngasem yang waktu sambalbawang SD saja sudah sepuh, juga tak terlihat lagi. Kalau toh dia hidup, umurnya pasti sudah 100 lebih.

Mudik Bulan Januari lalu, sambalbawang hanya sempat menengok Pasar Rejodani dan Ngasem. Tetap berburu menu kesukaan, sayur daun singkong, cap cai, hingga bakmi. Oh ya cap cai di sini dalam artian cap cai murah, cap cai kelas bawah, yang lebih dikenal dengan nama “cap jaek”.  

Bakmi lethek-berwarna putih buthek-juga tak terlewatkan untuk dibeli. Termasuk bakmi kuning yang hanya dihiasi kubis, loncang, taburan bawang merah “sekenanya” dan sambal pedas yang rada cemplang rasanya. Tentu saja, porsi semua menu di atas, untuk anak-anak. Tahu kan, maksud sambalbawang.

Agenda paling menarik, setelah berbelanja menu printhilan tadi, adalah menikmatinya. Nah disinilah yang asyik, karena sambalbawang punya tempat favorit yakni di halaman belakang Pasar Ngasem. Ah, pasar ini akhirnya menjelma menjadi lebih indah, dan menyenangkan.

Duduk di kursi beton, di bawah rerindangan pohon, dengan latar belakang Taman Sari yang memesona. Ah, revitalisasi pasar ini memang tepat. Pasar Ngasem tak lagi identik dengan pasar burung dan satwa, namun para penjualnya pindah ke tempat baru di utara ringroad selatan, yang kini menjadi ikon baru.

Beruntungnya pernah mengalami wajah Ngasem dulu dan sekarang. Juga mencatat sejumput perubahannya dalam sejumlah berita yang saya tulis. Ngasem menjadi lebih bersih dan nyaman. Protes para pedagang yang dipindah, mereda seiring lokasi baru yang ternyata ramai juga.

Ah, jadi ingat pak Herry Zudianto, wali kota Yogyakarta. Sebelum revitalisasi pasar selesai, dia pernah bilang, lihat saja nanti hasilnya. Memang benar. Dan ketika beberapa waktu lalu sambalbawang bersua pak Herry di Samarinda, ah, terlihat betapa leganya dia. Warga Jogja beruntung pernah dipimpin walikota seperti dia.

Kembali ke Ngasem, pasar ini pun lebih memanusiakan pengunjung. Tersedia beberapa titik keran air, tempat sampah plastik, dan tempat parkir yang lumayan. Menyantap menu-menu janan pasar di halaman belakang pasar ini, nampaknya bakal menjadi rutinitas waktu mudik.

Ditambah lagi dengan para penjual yang gigih melancarkan kata-kata rayuan agar dagangannya dibeli. “Menika benguk, mubeng-mubeng njur tetenguk..” ujar salah satu pedagang jajan pasar yang selalu bisa menjadi partner gojek sambalbawang.

“Mboten,” sambalbawang menolak membeli benguknya. “Lha sampun kathah blanjanipun. Lha mangke bengukipun dingge sinten,” sambungku. Mbak penjual itu lalu menyahut,” Lha nggih dingge kegiatan...”. hahaha. Kami pun tertawa bareng.


Dan satu lagi yang bikin sambalbawang kangen adalah, para pedagang, terutama yang sudah rada sepuh, selalu mengatakan “matur sembah nuwun” setiap kali uang diterima pertanda jualannya dibeli. Ah, mengharukan.

Rabu, 03 Februari 2016

SATU MASA DI GUNUNG BUTHAK

Kami serombongan mahasiswa yang akan menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN), berdesakan di atas truk yang melaju mendaki Gunung Kidul. Suatu waktu di pertengahan tahun 2001. Satu demi satu teman telah turun, sudah sampai ke lokasi.

Tinggal kami berenam, satu kelompok, satu kloter terakhir. Persis ketika kami sudah tidak lagi melihat tiang listrik, salah seorang teman berseru ,” Selamat tinggal, peradaban,”. Gunung Buthak, nama dusun yang terletak di Kecamatan Tepus, telah menanti.

Bebatuan tandus, tidak ada listrik, tidak ada air PDAM, tidak ada warung makan, tidak ada jalan beraspal, dan tidak ada tambal ban. Sekitar 6 km jarak dusun ini dari jalan raya terdekat. Kami saling berpandangan. Yeah, apa boleh buat.

Dan begitulah, dua bulan ke depan, kami berenam menjalani KKN di dusun ini.  Tiga cewek, tiga cowok. Lima orang ribut, satu orang rada kalem. Enam orang, dua motor. Kami tinggal di salah satu rumah warga, yang seisi rumah sangat ramah.

Hari pertama sudah diwarnai beberapa kejadian. Begitu perkenalan dengan empunya rumah, jam biologis berdentang. Terbiasa tidak menunda, sambalbawang langsung ngacir ke belakang dan menjumpai toilet khas desa masa lalu. Terbuka atapnya, pintunya hanya anyaman bambu.

Di dekat WC sempit berukuran 1,5 x 1,5 meter ini, ada komplet. Kandang kambing, sapi, dan ayam. Hm, ya, Anda benar. Asyik juga kok beol sambil rada-rada kepanasan gitu. Bisa mengaburkan kenyataan bahwa air tadah hujan yang dipakai ini, tidak sepenuhnya bening. Ada partikel-partikel warna hitamnya. Ah.

Seorang kawan yang tidak terbiasa beol dalam situasi open, mencoba menahan. Tiga hari, pertahanan pun jebol. Dia pun menyerah. Dan begitulah lama-lama kami terbiasa. Mulai dari mencuci baju di danau, hingga mandi sekalian.

Dan saya “beruntung” pernah mandi satu danau dengan sapi. Agak gimana-gimana gitu saat mencebur dan mata para sapi itu memandangi saya. Akhirnya ya cuek saja. Yang penting kan dia tidak nyenggol gua.

Skip skip lah tentang acara KKN. Yang menarik justru beberapa kegiatan yang mungkin paling nyentrik dilakukan mahasiswa KKN. Kawan saya, kebetulan bisa nukang, dan nambal ban, membawa alat tambal ban. Dan ternyata itu sangat berguna.

Jadi, singkat kata, ada sedikit kursus tentang menambal ban yang pelaksaannya acak dan sesuai order. Dan kadang, jika kami keluar dusun, alat itu kami bawa sekaligus. Bukan untuk gaya-gayaan, loh, tapi untuk antisipasi.

Dan, ah, tentu saja kami ikut banyak kegiatan kampung. Dari pertemuan RT, kenduri, hingga Cuma nongkrong doank di malam hari. Gelap gelapan, tentu saja. Ndak usah bicara berapa kali kaki saya kesandung batu, ya. Malu..

Dan, kami tidur di atas tempat tidur beralas tikar, yang bersuara “kriiiet..krieet”. Menjelang tidur, kami berenam sering mengobrol, dengan empunya rumah. Tentu saja sering disertai camilan khas desa, seperti ubi dan kacang tanah.

Jika ingin beranjangsana ke dusun sebelah, saya berangkat pagi hari. Berlari-lari kecil 20-25 menit mencapai dusun sebelah. Teman kami di sana, sedikit lebih beruntung karena dusunnya dialiri listrik meski yah, begitulah.

Namun anehnya, kami yang berada di dusun paling terpencil, malah betah di Gunung Buthak. Praktis selama dua bulan, tidak ada yang mengagendakan pulang rumah. Kami nyaman di sini, merasa asyik, entah mengapa.

Kami menikmati semua keterbatasan. Menikmati setiap lenguhan sapi. Menikmati tontonan kelahiran anak sapi, hingga memasak. Menikmati setiap teh yang kami seruput di pagi hari begitu bangun pagi. Menikmati mandi dengan air hujan.

Dan ketika kami berpamitan pertanda selesai tugas KKN, beberapa warga menangis. Ah, jujur saja, saya pun menangis. Kami melambai tangan pada mereka yang sebagian melepas kepulangan kami. Dan, ah, ya, kami meninggalkan oleh-oleh: alat tambal ban.


BACA JUGA :

CHINMI JAGHOAN KUNGFU DARI KUIL DAIRIN
HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG UNYIL KUCING
PELUKAN (CERPEN)



Rabu, 06 Januari 2016

BASA JAWA (3) DARI MECUCU SAMPAI NYANDRA

       Satu lagi “kekayaan” Bahasa Jawa, adalah keberagaman kosa kata yang terkait dengan anggota tubuh maupun panca indera, dan kadang bersinggungan dengan kondisi emosi. Mulai dari mata, mulut, hingga tangan dan kaki, aktivitasnya cukup komplet tercakup dalam kosa kata. Dan itu bakalan panjang jika di-Bahasa Indonesia-kan maupun di-Bahasa Inggris-kan.  
      Mau tahu apa saja itu, yuk. Kita mulai dari mulut dan mata dulu ya, hehe. Ada beberapa aktivitas atau perilaku menarik dari mulut, seperti  “mecucu”, “menjeb”, “klecam-klecem”. Apa itu mecucu? Secara garis besar, itu diartikan kondisi bibir bawah dan bibir atas diposisikan mengerucut ke arah depan. Sehingga bibir atas nempel ke hidung, dan hidung terlihat pesek. Nah, mecucu ini menyiratkan kondisi bad mood, namun juga rasa jengkel.
       Lalu “menjep”, adalah ketika bibir bawah ditekuk melengkung ke bawah. Nekuknya boleh dikit, boleh sampai menyentuh dagu. Menjep adalah ekspresi kecewa, ketidakpercayaan, atau meng-underestimate seseorang.
       Kemudian “klecam-klecem”. Ini adalah kondisi orang tersenyum malu-malu. Biasanya terbungkus dengan isin (malu). Tersenyum malu-malu, seakan (dan biasanya memang begitu) menyembunyikan sesuatu yang ingin diungkapkan.  Senyum yang mengandung setumpuk makna, kira-kira demikian. Dan entah mengapa, semoga saya benar, klecam-klecem ini lebih cocok diekspresikan seseorang yang dalam posisi berdiri.
         Untuk panca indera mata, dalam Bahasa Jawa, ada beberapa aktivitas terkait tatapan mata, seperti “ndelok”, “nyawang”, “mandeng”, “ngematke”, “mlirik”, “mlerok”, “metoto”, "mecicil" dan “nyandra”. Yang pertama, “ndelok”, diartikan sebagai melihat sesuatu atau seseorang secara umum. Hanya sebagai penegas bahwa kita pernah menyaksikan seseorang atau sesuatu itu. Misalnya, aku ndelok kowe ning stasiun (saya melihat kamu di stasiun), atau aku ndelok TV (saya melihat siaran TV).
      Nah, kalau “nyawang”, berhubungan dengan obyek pandangan yang indah dan menarik, seperti suasana pantai, gunung, dan wanita cantik. Khusus yang terakhir ini, “nyawang” kadang dipakai.  Misalnya, Aku nyawang sliramu (aku memandang wajahmu).  
      Sedangkan “ngematke” lebih seperti kondisi melihat seseorang atau sesuatu, selama beberapa saat, namun sembari otak berpikir (plus menganalisis) tentang obyek pandangan tersebut. Jika Anda ingin menyelidiki seseorang, dan anda menemukan orang itu, maka tatapan mata anda adalah “ngematke”. Hehehe. Kira-kira begitu.
     “Mlirik” berarti melirik alias mengerlingkan mata dalam kondisi mata tidak membuka penuh dan berdurasi singkat, sepersekian detik-lah, myehehe. Sementara “mlerok” berarti melirik yang kondisi mata cukup terbuka penuh. Mlerok biasanya berkaitan dengan ekspresi ketidaksukaan.
Kalau “metoto” itu kondisi mata yang melotot penuh, fokus ke depan. Bisa diartikan sebuah ekspresi keheranan level tinggi. Kadang lebih mantap dibarengi mulut yang menganga.
      Sedangkan "mecicil" adalah kondisi mata mendelik, fokus ke arah lawan bicara, yang biasanya dipicu perselisihan yang dipadu dengan adu mulut. Bisa juga ditambah visual berupa tangan menuding-nuding lawan bicara. Namun mecicil juga dapat dipakai dengan kondisi mata melotot gitu, tapi mengirim pesan menantang balik.
     Satu lagi, mecicil ini bisa juga kondisi mata melotot, dibarengi gerakan menendang, mengerang, alias kesurupan. Yup, jika kesurupan, maka biasanya mata yang kesurupan kan melotot-lotot gitu, nah itulah mecicil. Hampir saja istilah mecicil ini terlewat saya tulis, hehe, untunglah seorang kawan tak sengaja menyebutkan kosakata itu, dan langsung "tuing", muncul ide..
        Lantas, bagaimana dengan “nyandra” yang dibaca “nyondro” ? Nyandra (semoga benar), sejauh saya tahu, lebih pada aktivitas melihat benda yang menarik perhatian. Sesuatu yang biasanya benda kesukaan. Misalnya, Anda penyuka sepeda kuno, dan suatu ketika anda kedatangan tamu. Seorang teman, membawa sepeda kuno.
      Anda tidak pernah melihat sepeda jenis itu, atau jarang. Maka Anda akan mengamati sepeda itu dari ujung ke ujung, melihat lekuk demi keluk. Dari atas, bawah, samping kiri dan kanan. Dan mungkin berulang kali, hingga bermenit-menit, bahkan berpuluh menit. Lalu dipungkasi dengan asumsi atau kesimpulan. Itulah “nyandra”.
Begitu, Jreng....

BACA JUGA :
LILAC SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
THE AQUARIAN ?
HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG UNYIL KUCING
GATOTKACA TAK HANYA OTOT KAWAT BALUNG WESI
TEH NASGITEL PET
YEN ING TAWANG ANA LINTANG
KONSER REUNI ABBA DALAM BENTUK HOLOGRAM ?
KOKORO NO TOMO
BANYAK MOTOR SEDIKIT MEREK, SEDIKIT MOBIL BANYAK MEREK

Senin, 04 Januari 2016

BASA JAWA (2) BEDA KONDISI, BEDA KUANTITAS, BEDA TEMPERATUR, BEDA BAHASA

Bahasa Jawa dialek Yogyakarta punya segudang kisah nan lucu, unik, menarik, sekaligus ribet. Namun saya lebih suka membingkainya dengan satu kata: kaya. Apa saja itu, wah sampai saya jenggoten pun tak bakal habis dibahas.

Maka dari itu, coba saya urai satu demi satu “kekayaan” itu. Yang pertama adalah tentang sesuatu kejadian atau hal yang sama, namun bisa berbeda bahasanya, karena kuantitas dan kondisinya. Apa contohnya?

Kondisi suhu sebuah minuman misalnya. Sering kita dengar orang menyebut “wedangan” yang berarti aktivitas minum. Namun bukan sembarang apa yang diminum karena itu berkonotasi dengan minuman yang hangat dan minuman panas.

Ngobrolin tentang kondisi panas sebuah minuman, Bahasa Jawa pun mengenal beberapa tingkatan sesuai suhu (temperatur) maupun kuantitasnya. Kondisi minuman yang panas biasa dan bisa langsung diseruput tanpa sensasi lidah terbakar, itu, bisa diistilahkan sebagai “kemepyar”.

Kondisi kemepyar ini setidaknya tergambar pada minuman teh yang disajikan oleh warung angkringan atau warung teh yang “serius”. Efek kemepyar itu adalah kepala terasa enteng, pandangan mata menjadi terang, dan sedikit keringat mengalir dari dahi serta kulit kepala.

Kalau lebih panas lagi, panas yang “mongah-mongah”. Entah suhunya berapa namun saya cukup yakin itu hampir 100 derajat Celcius. Air mesti diciduk memakai sendok dulu, lalu ditiup sampai kondisi “kemepyar” tadi. Namun seingat saja, kondisi mongah-mongah ini bisa berlaku pula pada kuah, seperti kuah bakso yang baru dituang penjualnya ke mangkok.

Nah, di atas level mongah-mongah tadi, ada “kicat-kicat”. Yang ini kondisi air atau minuman yang panasnya maksimal. Misalnya si penjual merebus air sampai mendidih maksimal, lalu airnya kita ambil pakai sendok dan kita cicipin. Lidah langsung seperti kebas dan terbakar. 
Itulah kondisi minuman pada level kicat-kicat.

Kondisi panas pun bisa berbeda bahasa Jawa-nya, jika itu untuk sesuatu yang bukan minuman. Misalnya panas sinar matahari. Jika panasnya lumayan terik, dan mulai bikin haus, kondisi itu sering diistilahkan "panas ndrandang". Ketika sengatan sinar mentari menjadi sangat terik, berimbas sampai ke ubun-ubun, hingga bikin kepala pusing menjadi seketika, maka, diistilahkan dengan “ngenthang-enthang”. 

Selain tentang minuman itu, hujan (udan dalam Bahasa Jawa) juga punya klasifikasi sesuai kuantitas. Jika rintik-rintik tahap pertama hujan mulai turun-yang biasanya butiran air hujannya masih besar, dan masih bisa dihitung suaranya saat menyentuh genteng, hujan yang demikian dinamakan “tlethik”.

Nah, kalau hujan sudah turun menuju deras, dan butiran hujannya mulai kecil-kecil (lembut menerpa wajah), itu dinamakan “gerimis”. Lalu jika sudah deras dan semakin deras, disebut “udan deres”. Tetapi ketika hujannya mulai mereda, tinggal gerimis skala kecil, kondisi itu dinamakan “trenceng”.

Menangis (bahasa Jawa ngoko: nangis), juga ada tingkatannya, lho, sesuai kuantitas dan kencangnya suara yang ditimbulkan. Saya hanya tahu tingkatannya antara lain “mbrambangi”, “mbrebes mili”, “mewek”, “ngguguk”, “mbeker-mbeker” dan “gero-gero”. 

Untuk "mbrambangi",ini adalah kondisi menangis yang masih dalam tahap berkaca-kaca, persis seperti efek mengiris bawang merah (brambang, dalam bahasa Jawa). Berikutnya, "mbrebes mili", sejauh yang saya tahu, adalah kondisi menangis yang baru mengalir air mata turun ke pipi, namun mulut belum bersuara. 

Level selanjutnya adalah "mewek". Ini kondisi menangis di mana mulut belum bersuara, namun mulut sudah posisi terbuka-mengkerut ke bagian bawah-untuk mengirim pesan siap menangis bersuara. Di atas mewek itu, ada nangis “ngguguk”, yakni kondisi menangis tersedu-sedu. 

Jika sudah melewati tahap ngguguk dan tangisan menjadi lebih keras dan mulai menarik perhatian, kondisinya diistilahkan “mbeker-mbeker”. Sekadar catatan, bayi dan anak kecil biasanya si “pemilik” tangisan yang mbeker-mbeker ini. Hihihi. Semoga saya benar.

Kemudian, jika tangisan mulai lebih keras terdengar, dan terkadang seperti lenguhan keras, itulah nangis “gero-gero”. Durasi gero-gero ini bisa lama bisa sebentar, tergantung stamina. Sebab, level tangisan yang satu ini bisa bikin nafas pendek dan tersengal-sengal. Bahkan bisa berujung sampai pingsan.

Selain sekian level nangis itu, saya masih menemukan satu lagi yakni nangis “keloro-loro”. Ini kondisi menangis yang cukup kencang, berirama mendayu-dayu sedih, dan menyayat hati. Jenis nangis keloro-loro ini, biasanya bernuansa sakit hati akibat perlakuan tidak adil atau tidak menyenangkan.

Rumit, kan, Bahasa Jawa. Hahaha....


Rabu, 30 Desember 2015

NGGUDEG DULU

       Berawal dari "kegelisahan" mencari gudeg di kota minyak ini, yang sesuai standar lidah, dan sayangnya belum nemu, akhirnya sambalbawang mbikin gudeg sendiri. Bukan gudeg yang komplet, sih, mengingat sambalbawang dan saudara bojo enggak menyantap daging. Suwiran daging, dan krecek, skip..skip..
      Setelah berselancar mencari informasi, akhirnya diputuskan bahwa yang mesti dibeli adalah...panci presto. Cacahan nangka konon lebih cepet empuk jika dikurung di panci jenis itu, sembari disembur api. Satu panci pun diangkut dari toko. 
       Hasil akhir gudeg yang kami bikin itu tidak terlalu mengecewakan, untuk kali pertama membuat masakan tersebut. Akhirnya bisa menikmati gudeg bercita rasa Jogja yang manisnya bikin ketap-ketip. Dan.. tentu saja, gudeg yang diguyur kuah areh, alias kuah santan yang kental.
       Sodara bojo memfoto gudegnya, jadi gini penampakannya.
       

       Rasanya tentu saja belum sempurna. Namun sudah lebih dari lumayan untuk menuntaskan kangen gudeg yang terkunkung lama ini, myehehe.  Akhirnya bikin gudeg pun jadi ketagihan. Repot memakai panci presto, akhirnya pilihan jatuh ke slow cooker.
       Seperti falsafah orang Jawa, alon-alon waton kelakon. Pelan-pelan yang penting terlaksana. Kira-kira begitulah penggambaran dari memasak gudeng menggunakan slow cooker. Memang slow bingit. Nyaris dua hari durasi total memasaknya.
      Karena sambalbawang tidak diperkenankan mencampuri racikan bumbu oleh saudara bojo, maka tugas saya dalam memasak lebih pada abdi dalem angkat-junjung dan iris-iris. Intruksi bojo cuma satu, yakni bikin sambal pedas mampus.
      Tengah malam duduk bersimpuh sembari mengupas brambang-bawang dan seluruh ubarampe-nya itu, sesuatu banget. Meramu sambal bawang yang bikin cacing perut saya nyaris kolaps, juga sesuatu banget. Demikian pula merebus dan mengupas satu demi satu telur. Pekerjaan massal, pokoknya.
      Salah satu sebabnya, karena kami pun menggelar openhouse gudeg dengan mengundang sejumlah kawan. Sekaligus menjajal skil bikin gudeg, yang asyiknya, lumayan mendapat respons positi. Jadi kepikiran, bisa jadi besuk buka warung gudeg. 
      Nah, gara-gara memasak gudeg ini, menu makan kami selama 2-3 hari adalah gudeg dan gudeg. Pokoknya gudeg mulu, gudeg mulu. Tapi "cobaan" itu tetap terasa membahagiakan, karena cita rasa gudeg  makin enak kala disimpan. Namun menginjak hari keempat, gudeg mulai tidak lagi menarik.
      Krupuk ndeso bervetsin tinggi pun tidak lagi mempan menemani. Maka mendoan dan gembus pun digoreng tepung sebagai kawan bersantap. Telur mata sapi pun terkadang ikut dihamparkan di atas nasi gudeg. Begitulah.
     Setelah sekian minggu absen memasak gudeg, biasanya keinginan memasak lagi, muncul. Diawali dari glenak-glenik menatap warung gudeg. Mudah ditebak. Sekian kali membeli gudeg, dorongan untuk memasak gudeg semakin tinggi. Dan, saudara bojo selalu punya tandem memasak gudeg yang militan. Yup, itu adalah saya, sambalbawang.

BACA JUGA ARTIKEL LAIN  :

MUSIC ZAMAN DAHULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS?
10 BREGADA KERATON YOGYAKARTA YANG KEREN
HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG UNYIL KUCING
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN      
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA         
BANYAK MOTOR SEDIKIT MEREK, SEDIKIT MOBIL BANYAK MEREK