Rabu, 06 Januari 2016

BASA JAWA (3) DARI MECUCU SAMPAI NYANDRA

       Satu lagi “kekayaan” Bahasa Jawa, adalah keberagaman kosa kata yang terkait dengan anggota tubuh maupun panca indera, dan kadang bersinggungan dengan kondisi emosi. Mulai dari mata, mulut, hingga tangan dan kaki, aktivitasnya cukup komplet tercakup dalam kosa kata. Dan itu bakalan panjang jika di-Bahasa Indonesia-kan maupun di-Bahasa Inggris-kan.  
      Mau tahu apa saja itu, yuk. Kita mulai dari mulut dan mata dulu ya, hehe. Ada beberapa aktivitas atau perilaku menarik dari mulut, seperti  “mecucu”, “menjeb”, “klecam-klecem”. Apa itu mecucu? Secara garis besar, itu diartikan kondisi bibir bawah dan bibir atas diposisikan mengerucut ke arah depan. Sehingga bibir atas nempel ke hidung, dan hidung terlihat pesek. Nah, mecucu ini menyiratkan kondisi bad mood, namun juga rasa jengkel.
       Lalu “menjep”, adalah ketika bibir bawah ditekuk melengkung ke bawah. Nekuknya boleh dikit, boleh sampai menyentuh dagu. Menjep adalah ekspresi kecewa, ketidakpercayaan, atau meng-underestimate seseorang.
       Kemudian “klecam-klecem”. Ini adalah kondisi orang tersenyum malu-malu. Biasanya terbungkus dengan isin (malu). Tersenyum malu-malu, seakan (dan biasanya memang begitu) menyembunyikan sesuatu yang ingin diungkapkan.  Senyum yang mengandung setumpuk makna, kira-kira demikian. Dan entah mengapa, semoga saya benar, klecam-klecem ini lebih cocok diekspresikan seseorang yang dalam posisi berdiri.
         Untuk panca indera mata, dalam Bahasa Jawa, ada beberapa aktivitas terkait tatapan mata, seperti “ndelok”, “nyawang”, “mandeng”, “ngematke”, “mlirik”, “mlerok”, “metoto”, "mecicil" dan “nyandra”. Yang pertama, “ndelok”, diartikan sebagai melihat sesuatu atau seseorang secara umum. Hanya sebagai penegas bahwa kita pernah menyaksikan seseorang atau sesuatu itu. Misalnya, aku ndelok kowe ning stasiun (saya melihat kamu di stasiun), atau aku ndelok TV (saya melihat siaran TV).
      Nah, kalau “nyawang”, berhubungan dengan obyek pandangan yang indah dan menarik, seperti suasana pantai, gunung, dan wanita cantik. Khusus yang terakhir ini, “nyawang” kadang dipakai.  Misalnya, Aku nyawang sliramu (aku memandang wajahmu).  
      Sedangkan “ngematke” lebih seperti kondisi melihat seseorang atau sesuatu, selama beberapa saat, namun sembari otak berpikir (plus menganalisis) tentang obyek pandangan tersebut. Jika Anda ingin menyelidiki seseorang, dan anda menemukan orang itu, maka tatapan mata anda adalah “ngematke”. Hehehe. Kira-kira begitu.
     “Mlirik” berarti melirik alias mengerlingkan mata dalam kondisi mata tidak membuka penuh dan berdurasi singkat, sepersekian detik-lah, myehehe. Sementara “mlerok” berarti melirik yang kondisi mata cukup terbuka penuh. Mlerok biasanya berkaitan dengan ekspresi ketidaksukaan.
Kalau “metoto” itu kondisi mata yang melotot penuh, fokus ke depan. Bisa diartikan sebuah ekspresi keheranan level tinggi. Kadang lebih mantap dibarengi mulut yang menganga.
      Sedangkan "mecicil" adalah kondisi mata mendelik, fokus ke arah lawan bicara, yang biasanya dipicu perselisihan yang dipadu dengan adu mulut. Bisa juga ditambah visual berupa tangan menuding-nuding lawan bicara. Namun mecicil juga dapat dipakai dengan kondisi mata melotot gitu, tapi mengirim pesan menantang balik.
     Satu lagi, mecicil ini bisa juga kondisi mata melotot, dibarengi gerakan menendang, mengerang, alias kesurupan. Yup, jika kesurupan, maka biasanya mata yang kesurupan kan melotot-lotot gitu, nah itulah mecicil. Hampir saja istilah mecicil ini terlewat saya tulis, hehe, untunglah seorang kawan tak sengaja menyebutkan kosakata itu, dan langsung "tuing", muncul ide..
        Lantas, bagaimana dengan “nyandra” yang dibaca “nyondro” ? Nyandra (semoga benar), sejauh saya tahu, lebih pada aktivitas melihat benda yang menarik perhatian. Sesuatu yang biasanya benda kesukaan. Misalnya, Anda penyuka sepeda kuno, dan suatu ketika anda kedatangan tamu. Seorang teman, membawa sepeda kuno.
      Anda tidak pernah melihat sepeda jenis itu, atau jarang. Maka Anda akan mengamati sepeda itu dari ujung ke ujung, melihat lekuk demi keluk. Dari atas, bawah, samping kiri dan kanan. Dan mungkin berulang kali, hingga bermenit-menit, bahkan berpuluh menit. Lalu dipungkasi dengan asumsi atau kesimpulan. Itulah “nyandra”.
Begitu, Jreng....

BACA JUGA :
LILAC SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
THE AQUARIAN ?
HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG UNYIL KUCING
GATOTKACA TAK HANYA OTOT KAWAT BALUNG WESI
TEH NASGITEL PET
YEN ING TAWANG ANA LINTANG
KONSER REUNI ABBA DALAM BENTUK HOLOGRAM ?
KOKORO NO TOMO
BANYAK MOTOR SEDIKIT MEREK, SEDIKIT MOBIL BANYAK MEREK

Senin, 04 Januari 2016

BASA JAWA (2) BEDA KONDISI, BEDA KUANTITAS, BEDA TEMPERATUR, BEDA BAHASA

Bahasa Jawa dialek Yogyakarta punya segudang kisah nan lucu, unik, menarik, sekaligus ribet. Namun saya lebih suka membingkainya dengan satu kata: kaya. Apa saja itu, wah sampai saya jenggoten pun tak bakal habis dibahas.

Maka dari itu, coba saya urai satu demi satu “kekayaan” itu. Yang pertama adalah tentang sesuatu kejadian atau hal yang sama, namun bisa berbeda bahasanya, karena kuantitas dan kondisinya. Apa contohnya?

Kondisi suhu sebuah minuman misalnya. Sering kita dengar orang menyebut “wedangan” yang berarti aktivitas minum. Namun bukan sembarang apa yang diminum karena itu berkonotasi dengan minuman yang hangat dan minuman panas.

Ngobrolin tentang kondisi panas sebuah minuman, Bahasa Jawa pun mengenal beberapa tingkatan sesuai suhu (temperatur) maupun kuantitasnya. Kondisi minuman yang panas biasa dan bisa langsung diseruput tanpa sensasi lidah terbakar, itu, bisa diistilahkan sebagai “kemepyar”.

Kondisi kemepyar ini setidaknya tergambar pada minuman teh yang disajikan oleh warung angkringan atau warung teh yang “serius”. Efek kemepyar itu adalah kepala terasa enteng, pandangan mata menjadi terang, dan sedikit keringat mengalir dari dahi serta kulit kepala.

Kalau lebih panas lagi, panas yang “mongah-mongah”. Entah suhunya berapa namun saya cukup yakin itu hampir 100 derajat Celcius. Air mesti diciduk memakai sendok dulu, lalu ditiup sampai kondisi “kemepyar” tadi. Namun seingat saja, kondisi mongah-mongah ini bisa berlaku pula pada kuah, seperti kuah bakso yang baru dituang penjualnya ke mangkok.

Nah, di atas level mongah-mongah tadi, ada “kicat-kicat”. Yang ini kondisi air atau minuman yang panasnya maksimal. Misalnya si penjual merebus air sampai mendidih maksimal, lalu airnya kita ambil pakai sendok dan kita cicipin. Lidah langsung seperti kebas dan terbakar. 
Itulah kondisi minuman pada level kicat-kicat.

Kondisi panas pun bisa berbeda bahasa Jawa-nya, jika itu untuk sesuatu yang bukan minuman. Misalnya panas sinar matahari. Jika panasnya lumayan terik, dan mulai bikin haus, kondisi itu sering diistilahkan "panas ndrandang". Ketika sengatan sinar mentari menjadi sangat terik, berimbas sampai ke ubun-ubun, hingga bikin kepala pusing menjadi seketika, maka, diistilahkan dengan “ngenthang-enthang”. 

Selain tentang minuman itu, hujan (udan dalam Bahasa Jawa) juga punya klasifikasi sesuai kuantitas. Jika rintik-rintik tahap pertama hujan mulai turun-yang biasanya butiran air hujannya masih besar, dan masih bisa dihitung suaranya saat menyentuh genteng, hujan yang demikian dinamakan “tlethik”.

Nah, kalau hujan sudah turun menuju deras, dan butiran hujannya mulai kecil-kecil (lembut menerpa wajah), itu dinamakan “gerimis”. Lalu jika sudah deras dan semakin deras, disebut “udan deres”. Tetapi ketika hujannya mulai mereda, tinggal gerimis skala kecil, kondisi itu dinamakan “trenceng”.

Menangis (bahasa Jawa ngoko: nangis), juga ada tingkatannya, lho, sesuai kuantitas dan kencangnya suara yang ditimbulkan. Saya hanya tahu tingkatannya antara lain “mbrambangi”, “mbrebes mili”, “mewek”, “ngguguk”, “mbeker-mbeker” dan “gero-gero”. 

Untuk "mbrambangi",ini adalah kondisi menangis yang masih dalam tahap berkaca-kaca, persis seperti efek mengiris bawang merah (brambang, dalam bahasa Jawa). Berikutnya, "mbrebes mili", sejauh yang saya tahu, adalah kondisi menangis yang baru mengalir air mata turun ke pipi, namun mulut belum bersuara. 

Level selanjutnya adalah "mewek". Ini kondisi menangis di mana mulut belum bersuara, namun mulut sudah posisi terbuka-mengkerut ke bagian bawah-untuk mengirim pesan siap menangis bersuara. Di atas mewek itu, ada nangis “ngguguk”, yakni kondisi menangis tersedu-sedu. 

Jika sudah melewati tahap ngguguk dan tangisan menjadi lebih keras dan mulai menarik perhatian, kondisinya diistilahkan “mbeker-mbeker”. Sekadar catatan, bayi dan anak kecil biasanya si “pemilik” tangisan yang mbeker-mbeker ini. Hihihi. Semoga saya benar.

Kemudian, jika tangisan mulai lebih keras terdengar, dan terkadang seperti lenguhan keras, itulah nangis “gero-gero”. Durasi gero-gero ini bisa lama bisa sebentar, tergantung stamina. Sebab, level tangisan yang satu ini bisa bikin nafas pendek dan tersengal-sengal. Bahkan bisa berujung sampai pingsan.

Selain sekian level nangis itu, saya masih menemukan satu lagi yakni nangis “keloro-loro”. Ini kondisi menangis yang cukup kencang, berirama mendayu-dayu sedih, dan menyayat hati. Jenis nangis keloro-loro ini, biasanya bernuansa sakit hati akibat perlakuan tidak adil atau tidak menyenangkan.

Rumit, kan, Bahasa Jawa. Hahaha....


Rabu, 30 Desember 2015

NGGUDEG DULU

       Berawal dari "kegelisahan" mencari gudeg di kota minyak ini, yang sesuai standar lidah, dan sayangnya belum nemu, akhirnya sambalbawang mbikin gudeg sendiri. Bukan gudeg yang komplet, sih, mengingat sambalbawang dan saudara bojo enggak menyantap daging. Suwiran daging, dan krecek, skip..skip..
      Setelah berselancar mencari informasi, akhirnya diputuskan bahwa yang mesti dibeli adalah...panci presto. Cacahan nangka konon lebih cepet empuk jika dikurung di panci jenis itu, sembari disembur api. Satu panci pun diangkut dari toko. 
       Hasil akhir gudeg yang kami bikin itu tidak terlalu mengecewakan, untuk kali pertama membuat masakan tersebut. Akhirnya bisa menikmati gudeg bercita rasa Jogja yang manisnya bikin ketap-ketip. Dan.. tentu saja, gudeg yang diguyur kuah areh, alias kuah santan yang kental.
       Sodara bojo memfoto gudegnya, jadi gini penampakannya.
       

       Rasanya tentu saja belum sempurna. Namun sudah lebih dari lumayan untuk menuntaskan kangen gudeg yang terkunkung lama ini, myehehe.  Akhirnya bikin gudeg pun jadi ketagihan. Repot memakai panci presto, akhirnya pilihan jatuh ke slow cooker.
       Seperti falsafah orang Jawa, alon-alon waton kelakon. Pelan-pelan yang penting terlaksana. Kira-kira begitulah penggambaran dari memasak gudeng menggunakan slow cooker. Memang slow bingit. Nyaris dua hari durasi total memasaknya.
      Karena sambalbawang tidak diperkenankan mencampuri racikan bumbu oleh saudara bojo, maka tugas saya dalam memasak lebih pada abdi dalem angkat-junjung dan iris-iris. Intruksi bojo cuma satu, yakni bikin sambal pedas mampus.
      Tengah malam duduk bersimpuh sembari mengupas brambang-bawang dan seluruh ubarampe-nya itu, sesuatu banget. Meramu sambal bawang yang bikin cacing perut saya nyaris kolaps, juga sesuatu banget. Demikian pula merebus dan mengupas satu demi satu telur. Pekerjaan massal, pokoknya.
      Salah satu sebabnya, karena kami pun menggelar openhouse gudeg dengan mengundang sejumlah kawan. Sekaligus menjajal skil bikin gudeg, yang asyiknya, lumayan mendapat respons positi. Jadi kepikiran, bisa jadi besuk buka warung gudeg. 
      Nah, gara-gara memasak gudeg ini, menu makan kami selama 2-3 hari adalah gudeg dan gudeg. Pokoknya gudeg mulu, gudeg mulu. Tapi "cobaan" itu tetap terasa membahagiakan, karena cita rasa gudeg  makin enak kala disimpan. Namun menginjak hari keempat, gudeg mulai tidak lagi menarik.
      Krupuk ndeso bervetsin tinggi pun tidak lagi mempan menemani. Maka mendoan dan gembus pun digoreng tepung sebagai kawan bersantap. Telur mata sapi pun terkadang ikut dihamparkan di atas nasi gudeg. Begitulah.
     Setelah sekian minggu absen memasak gudeg, biasanya keinginan memasak lagi, muncul. Diawali dari glenak-glenik menatap warung gudeg. Mudah ditebak. Sekian kali membeli gudeg, dorongan untuk memasak gudeg semakin tinggi. Dan, saudara bojo selalu punya tandem memasak gudeg yang militan. Yup, itu adalah saya, sambalbawang.

BACA JUGA ARTIKEL LAIN  :

MUSIC ZAMAN DAHULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS?
10 BREGADA KERATON YOGYAKARTA YANG KEREN
HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG UNYIL KUCING
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN      
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA         
BANYAK MOTOR SEDIKIT MEREK, SEDIKIT MOBIL BANYAK MEREK       

      

Senin, 30 November 2015

WELCOMING DAYS WITH SAMANTHA PROJECT


Sekali lagi, kami menjadi peserta pameran. Setelah lumayan sukses mengisi Look Pop Up Market 1-4 Oktober lalu, sekaligus menjadi pengalaman pertama, kali ini kami, tepatnya saudara bojo, mengikuti pameran bertajuk "Welcoming Days" yang dihelat pada 28-29 November. Nyam.

Kabar bahwa Samantha Project, lini usaha modiste-clothing line kami, diminta berpartisipasi di acara pengenalan Telkomsel 4G-LTE itu, langsung disambar. Ada 36 tenan, dan asyiknya, banyak partisipan yang sebelumnya juga peserta Look Pop Up Market. Aha, ada temennya.

Seperti sebelumnya, seputar jahit-menjahit tetap dipromosikan, meski sebenarnya mayoritas pengunjung mengira kami hanya sebatas jualan kain. Tapi it's oke, karena itu merupakan kondisi yang tidak terhindarkan, dan tidak usah dihindari. Karena, memang kalau dipikir-pikir, saya pun belum pernah lihat ada penjahit berpameran.


Karena itulah, urusan properti, kekompletannya jadi minim. Namanya penjahit, "senjata" yang dimiliki kan hanya mesin jahit, obras, metlen, pembuat kancing buntel, sama jarum. Sebelumnya, di Look Pop Up Market, stand ukuran 2 meter x 4 meter, setidaknya oke untuk ditaruh lemari besar, lemari susun, manekin, hingga sepeda onthel sebagai pemanis.

Tapi yang pameran terakhir ini, stannya lebih lapang, berukuran 2,5 meter x 5 meter. Agar tidak nampak kosong, diputuskan mengangkut Sprint 77 ke arena. Onthel masih sama, diangkut ke stan, untuk dipasangi papan "Samantha Project".

Dua hari pameran, memeriahkan acara peluncuran Telkomsel 4G-LTE itu, tidak secapek pameran sebelumnya yang digelontor empat hari. Kami masih bisa ketawa-ketiwi saat pulang. Asyiknya lagi ada mas penyedia jasa angkutan yang ramah dan tarifnya murah. Seorang kawan juga membantu bongkar-muat barang.

Pameran kedua ini, lebih ramai pengunjung. Mungkin karena faktor lokasi, di parkiran eWalk mal Balikpapan Super Block, jadi kebanjiran orang. Meski, tentu saja, stan kuliner yang lalu cepat sold out dagangannya.


Stan fashion seperti kami, memang hanya diseliweri sekian orang. Namun bagi kami, itu sudah cukup, dan malah sudah melebihi ekspektasi. Menyenangkan melihat lini usaha kami ternyata membantu banyak orang untuk lebih fashionable. hehe.

"Mbak, kalau beli kain di sini, njahitnya gimana ya," ujar mbak-mbak ke istri saya. "Ke saya saja, bisa," sahut saudara bojo. Pucuk dicinta ulam tiba. Yup, bawa atau pilih sendiri kainmu, jahitkan ke Samantha Project. Tagline kami "pantes lan prayogi". Monggo,,,,


yang ini foto saudara bojo sama genk peserta pameran.. myehehe.

BACA JUGA
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK 
MUSIK ZAMAN DAHULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS?
TEH VS KOPI
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
BANYAK MOTOR SEDIKIT MEREK, SEDIKIT MOBIL BANYAK MEREK


Minggu, 22 November 2015

BASA JAWA (1) BAHASA YANG (MUNGKIN) TERUMIT


Bahasa Jawa barangkali bahasa yang paling rumit di muka bumi. Tingkatannya berlapis-lapis, dan penggunaannya pun sesuai kondisi dan lawan bicara. Berbahasa Jawa, tidak hanya sekadar bisa berbahasa Jawa, namun juga tentang menghargai orang lain.

Nah, dalam blog ini, saya nggak akan membahas tinjauan yang sulit-njelimet itu, karena saya hanya orang awam yang kebetulan wong Jogja.Ntar salah, kan malah berabe, Jadi, saya cuman menyentil sedikit tentang Bahasa Jawa dialeg Yogyakarta.

Sejak kecil, dari mulai merangkak, saya dikenalkan dengan bahasa ibu, ya Bahasa Jawa ini. Beruntungnya saya, bapak-ibu orang Jogja, jadi ya seperti meneruskan keseharian saja. Untungnya lagi, saya bebas mengolah Bahasa Jawa, terutama ucapan, dengan batasan yang "cair". Sebisa mungkin berbahasa Jawa yang halus kepada yang sepuh. Namun jika sudah mentok, ya masih dibolehkan mencampurnya dengan Bahasa Indonesia.

Meski demikian, untungnya sekali lagi, pelajaran sewaktu SD hingga SMP, lumayan memberikan bekal. Memang hanya sebatas tahu dan (sekarang) mengingat. Yah, meski hanya sebatas paham apa saja tingkat tutur Bahasa Jawa ini, yakni ngoko, madya, krama, kedaton (bagongan), dan kasar. Kelima tingkat itu masih direntangkan lagi, menjadi 13 tingkatan, dengan level terhalus adalah "Krama Hinggil" dan level terkasar adalah "kasar".

Untuk Krama Hinggil ini, diposisikan sebagai bahasa yang diucapkan orang muda kepada orang tua yang sudah sepuh, atau setidaknya "tokoh" teladan. Seperti saya jika berbicara dengan eyang maupun eyang buyut. Meski dalam praktik, saya lebih sering berbahasa Indonesia kepada eyang buyut saya (almarhum), juga orangtua, karena takut salah.

Urusan salah memakai "tingkat" berbahasa ini. bagi orang Jawa, boleh dibilang cukup memalukan. Saya pernah dijiwit ibuk karena salah melontarkan. Nah dari sekian tingkat itu, yang paling familiar alias sering saya gunakan adalah "ngoko lugu". Ini tingkat bahasa sesama "kasta", seperti antarteman.

Saya paling menyukai (meski tidak menguasai) kala menyimak "bagongan", bahasa di lingkup keraton yang menurut saya paling indah dan "ber-lagu". Kalau tidak salah-semoga saya benar-tingkatan keraton ini dipakai hanya pada situasi tertentu. Selain di lingkungan keraton, tentu saja. juga tersaji dalam wayang orang, ketoprak, maupun sendratari. Satu lagi, dalam pernikahan adat Jawa-yang dibawakan oleh MC.

Generasi saya, sayangnya adalah generasi pertama atau kedua yang perlahan "mengubur" kekayaan bahasa Jawa. Sebagai wong Jogja yang masih mencoba "fanatik" dengan Bahasa Jawa, saya merasakan dengan pilu betapa satu demi satu kosa kata mulai hilang dan terlupa.


BACA JUGA  :
BASA JAWA (3) DARI MECUCU SAMPAI NYANDRA
BASA JAWA (2) BEDA KONDISI KUANTITAS TEMPERATUR BAHASA
10 BREGADA KERATON YOGYAKARTA YANG KEREN
TEH NASGITEL PET
SARADAN







Minggu, 15 November 2015

KAU SATU TERINDAH

Benar kata orang, kalau membuat itu lebih susah ketimbang mengkreasi apa yang sudah ada. Setidaknya itu terjadi pada saya, yang beberapa bulan terakhir mencoba membuat lagu. Tepatnya, mengingat lagu-lagu yang pernah saya buat.

Dahulu kala, ketika perasaan jiwa masih melow dan labil-meski tetap menyimpan optimistis-di era akhir 90-an dan awal 2000, sejumlah lagu pernah saya bikin. Berbekal gitar bolong dan dukungan beberapa bala kurawa.

Mungkin sudah 20 -anlagu yang sambalbawang bikin. Sebagian besar "menguap" alias banyak yangt idak direkam. Hanya tertinggal 7 lagu yang masih melekat di kepala, dan 5 lagu di antaranya yang masih sering saya nyanyikan.

Satu lagu pernah saya ditampilkan dalam sebuah audisi kecil-kecilan yang pada akhirnya juga tidak tembus. Kami berempat waktu itu, mencoba sejumput peruntungan. Grup kami, yang kami beri nama "Opus", akhirnya bubar seiring aktivitas masing-masing anggota.

Sebelumnya, level pentas saya cuma sebatas upacara 17 Agustus, mengisi acara di gereja, hingga acara mudika-mudiki. Pernah nyoba jadi gitaris, bassis, sampai vokalis. Jangan membahas soal skil ya, karena jelas di bawah standar, hahaha.

Pekerjaan akhirnya merentang jarak semakin jauh dari aktivitas bermusik. Menggenjreng pun menjadi hanya sesekali, sesempatnya. Satu demi satu gitaran lagu yang pernah dikuasai, terbang entah kemana. Hanya tersisa segelintir.

Beberapa pekan ini, saya coba menggali lagi lagu-lagu itu. Menyanyikan lagi berkali-kali dan mencoba merasakan semangat ala muda dahulu. Jujur saja, spiritnya memang sudah beda karena seiring waktu, banyak kejadian bukan? Tapi, tak mengapa, lah.


"....Kau satu terindah yang sempat kupuja di hati.." gitu deh sejumput bocoran lirik salah satu lagu yang saya bikin tahun 2002-2003 lalu, untuk someone di sana yang barangkali enggak menyangka pernah jadi inspirasi bagi sambalbawang untuk bikin.

Mungkin, dan mungkin, lagu ini kelak bisa sempat dinyanyikan anak saya saat pentas di acara sekolahan. Semoga saja. Who knows?

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
MUSIK ZAMAN DAHULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS?
PELUKAN (CERPEN)
MENGAPA HARUS NGEBLOG
CHINMI JAGOAN KUNGFU DARI KUIL DAIRIN

Rabu, 04 November 2015

MAAFKAN KAMI, GENERASI PENGEMIS SUBSIDI

Semingguan ini, "kelangkaan" elpiji ukuran 3 kg menyeruak di seantero Kota Balikpapan. Isu "kelangkaan" yang kesekian, tepatnya. Tidak lagi cukup menarik. Bukan karena saya ndak makai elpiji "melon" itu, tapi karena kondisi riil yang ada.

Mengapa saya beri tanda kutipan untuk kelangkaan, ya karena saya yakin itu nggak langka. Fenomena, ciee, kondisi ini kan persis BBM subsidi. Ada orang tidak mampu yang nggak bisa dapat barang subsidi, sebaliknya banyak orang mampu memburu barang subsidi.

Saya lebih suka mengistilahkan mereka sebagai "pengemis" subsidi. Empat tahun lalu, saya "menemukan" satu rumah yang punya stok elpiji melon sampai 4-5 biji. Ada juga rumah yang punya elpiji 12 kg, tapi cadangannya elpiji melon 2 tabung.

Lalu ada warung tempel yang nyetok 10 tabung melon di dapurnya. Saya mikir, warung kecil aja bisa nyimpen segitu, apalagi warung gede. Lagi, ada juga temen cerita kalau ada toko yang elpiji melonya masih ada. "Majangnya sih dikit. Tapi elpijinya ada terus...."

Seorang pengantre elpiji melon, pernah saya lihat datang membawa motor sport. Ndak nampak dia orang yang butuh disubsidi, meski dia bilang elpiji melon untuk dirinya. "Lha karena murah, saya beli,...".. Eaaa..

Nah, lho. Gemana penjelasan terkait itu. Yaaa persis kondisi BBM subsidi. Tidak ada aturan tegas sejak awal, tak ada yang mengawasi serius, akhirnya sebagian warga terombang-ambing ketidakpastian stok.

Kalau sudah begini, tak ada yang mau disalahkan, kan? Ya iyalah, Tapi saya mau disalahkan, atas nama generasi saya. Maafkanlah kami generasi penerus. Karena kami pengemis subsidi, mungkin kalian yang nanti kena getahnya.

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019