Tujuh tahun aku tidak membuka amplop yang berwarna putih ini. Isinya adalah sepucuk surat. Ya, itu surat yang kutulis tujuh tahun lalu untuk seorang teman. Ah, ya, tentu saja, dia adalah perempuan. Teman perempuan. Berkulit gelap, rambut sebahu-berponi, mata sedikit sipit, wajah tirus, dan badan yang kurus menuju ceking.
Dia tidak termasuk dalam daftar gadis-gadis modern di kampus yang berpakaian modis. Ataupun gadis idola kampus. Malah, mungkin rada jauh dari itu. Dia adalah gadis yang tampil biasa, kalem, dan seadanya. Sapuan bedak di wajahnya pun, kadang terlihat tidak rata. Dia tak terlalu suka berdandan. Namun dia menawan bagiku, setidaknya saat itu, ketika gairah muda menggelora.
Awal mengenal, kami sempat sering bertukar sapa dan canda. Namun segala sesuatu menjadi kaku setelah tiga tahun aku mengenalnya. Tepatnya, sejak aku memberanikan diri mengantarkannya pulang. Sejak itu, tawanya seakan bukan lagi untukku, meski masih ditebar seantero kampus. Senyumnya pun demikian, tidak menuju ke arahku. Cerianya pun seakan dialamatkan pada yang lain.
Tentu saja, semua pasti ada alasan dan penjelasannya. Beberapa petunjuk mulai terlacak olehku. Seseorang, lelaki berperawakan tinggi yang jika ke kampus menyemplak motor keluaran terbaru, terpantau sebagai pihak yang paling sering mendapat perhatiannya. Aku tidak terlalu kenal dengan lelaki itu, meski kampus kami hanya saling berseberangan. Saya hanya tahu namanya. Namun kami pernah bertemu di lorong kampus dan hanya bertegur sapa. "Hei.,,".
Itu saja. Garing, memang. Namun formula garing itulah yang paling tepat kuracik untuk memberi bumbu bagaimana kisah segitiga ini terjalin. Ups, maaf, bukan kisah segitiga sih, sebenarnya, karena lebih tepatnya kisah cinta searah seperti jalan tol yang tidak ada putar baliknya. Namun istilah "garing" inilah yang kurasa tepat untuk membingkai sekian peristiwa selama aku mengenal mereka.
Satu hal yang kuhindari adalah melihat dia bersama dengan temen perempuan pujaan hatiku ini. Namun tampaknya harapan tak sesuai realitas. Aku malah sering menjumpai mereka, sedang berdua. Apakah sulit melihatnya? Tidak juga sih. Hanya saja, yang tersulit itu membalas lambaian tangan mereka. Dan kalau sudah begitu, aku hanya bisa menggerutu. "Ngapain pula aku lewat jalan ini?"
Namun dari semua peristiwa, tidak semuanya garing, kok. Ada juga kisah yang bisa membuatku tersenyum meski bukan senyum ikhlas. Aku pernah dikirimi kartu ucapan selamat tahun baru, meski itu karena mungkin aku mengirimnya duluan. Aku pernah duduk berdua di ruang tamu rumahnya, walau itu lebih sebatas aku mengembalikan buku catatannya.
Tapi agaknya aku paling ingat saat-saat dia membiarkanku membelai rambutnya. Tubuhku basah kuyup waktu itu, karena nekat menerobos hujan datang ke rumahnya. Mantel yang sudah bertahun-tahun kupakai, mulai sobek di sana-sini, sehingga tak kuasa lagi menahan terjangan air.
Aku membelai rambutnya, dengan jari-jemari tangan yang mengkerut dan gigi yang menggeletuk, saking dinginnya malam itu dan derasnya hujan. Dia membiarkanku melakukan itu, namun tak lebih semenit. Sebelum tangannya memegang tanganku dan menurunkannya. "Kau tahu, aku tidak bisa...." ucapmu. Aku mencoba membelai keningmu, tapi kamu sudah menarik tubuh ke belakang.
Suara kakakmu dari dalam rumah mengerem langkahku. Aku kecewa. Aku pun tak ingat lagi apa perkataanmu setelah kalimat itu. Aku terlalu kedinginan karena menerabas hujan deras sejauh 15 km dengan motor bututku. Aku memilih pulang, dan tak mau melihat lagi tatapanmu. Kurasa engkau juga tidak tahu kalau aku meraung menangis di sepanjang perjalanan pulang.
Malam itu pula, aku memutuskan mengurungkan menyerahkan amplop ini kepadamu. Tak perlu kukatakan apa isi amplop itu, meski kamu pun mungkin juga tak bisa 100 persen menebak apa yang kutulis. Tapi baiklah jika pada suatu saat nanti kamu memaksaku untuk mengatakannya.
Meski begitu,aku tidak yakin kamu akan memintaku untuk mengatakannya. Karena toh kamu juga tidak tahu bahwa aku menulis surat ini untukmu, bukan? Cukuplah beberapa suratku yang kulayangkan untukmu. Tak perlu ditambahi lagi oleh satu surat ini.
Hm, baiklah, sekarang, tujuh tahun sejak aku memasukkan surat ke dalam amplop ini, aku akan membacakannya untukmu. Semoga, yah, semoga saja, angin malam yang dingin, dan hujan rintik di luar sana, bisa membawa gema suaraku ke telingamu.
Perlahan, aku merobek sisi samping amplop ini dan mengeluarkan selembar kertas dari dalamnya. Sudah agak lusuh, tapi lipatannya masih cukup rapi. Perlahan aku membaca surat itu, sembari menyeruput teh tubruk, dan duduk di teras rumah. Tak ada yang terucap. Surat ini tak mencantumkan barang satu huruf pun maupun goresan tinta.
Butuh lima menit aku "membaca" surat yang tak ada isinya itu. Sekian helaan nafas disertai tegukan teh hangat yang melapangkan tenggorokan. Memang tiada pesan yang ingin aku sampaikan kepadamu melalui surat itu, beberapa tahun lalu. Sekian surat yang kusampaikan padamu, sudah cukup bercerita, bukan?
Minggu, 20 September 2015
Kamis, 20 Agustus 2015
30 LAGU BARAT TERBAIK SEPANJANG MASA
Setelah mencoba mengurutkan mana saja motor-motor terbaik versi sendiri, ehem, sekarang giliran tema lainnya saya luncurkan. Apa itu? Cuma lagu saja, kok. Biar gampang, maka, untuk edisi pertama tulisan ini, hehe, saya batasi dulu hanya pada lagu-lagu barat.
Ngemeng-ngemeng soal lagu, mana saja yang bagus, jelas mengarah soal selera. Karena memang sudah ditakdirkan demikian, pilihan lagu maupun genre musik yan paling "ter...", menjadi sangat subyektif. Belum tentu saya sepaham sama yang lain.
Jadi, di sini saya membatasi lagu terbaik hanya 30 lagu saja. Enggak perlu banyak-banyak karena makin susah memilih dan mengurutkan. Kriterianya simpel saja, yakni lagu itu tak lekang dimakan waktu, easy listening tapi bukan lagu murahan. Dan tentu saja, lagunya dikenal oleh banyak orang.
Ada 30 lagu yang saya anggap terbaik, dari genre rock dan pop, juga campuran keduanya. Dimulai dari nomer urut 30 ya, lalu menuju ke nomer 1 sebagai lagu terbaik sepanjang masa pilihan saya.
30. Wherever I May Roam (Metallica)
29. Teenage Senorita (Teddy Randazzo)
28. Sweet Child O'Mine (Guns N Roses)
27. How Do You Do (Roxette)
26. Ode To My Family (Cranberries)
25. Making Love Out Of Nothing At All (Air Supply)
24. The Man Who Sold The World (Nirvana)
23. November Rain (Guns N Roses)
22. Nikita (Elton John)
21. Heal The World (Michael Jackson)
20. Smells Like Teen Spirit (Nirvana)
19. In These Arms (Bon Jovi)
18. Just As I Am (Air Supply)
17. If It Wasn't For The Night (ABBA)
16. Even The Night Are Better (Air Supply)
15. Imagine (John Lennon)
14. Hasta Manana (ABBA)
13. And Your Bird Can Sing (The Beatles)
12. One (Metallica)
11. Let It Be (The Beatles)
10. Love of My Life (Queen)
09. If I fell (The Beatles)
08. The Ballad of John and Yoko (The Beatles)
07. A Kind of Magic (Queen)
06. Hasta Manana (ABBA)
05. La Isla Bonita (Madona)
04. Something (The Beatles)
03. Dancing Queen (ABBA).
02. I want To Break Free (Queen).
01. Bohemian Rhapsody (Queen).
Selesai. Jadi begitulah, 30 lagu barat terbaik pilihan saya. Kalau ada yang tidak cocok, ya muaap, kan selera orang berbeda, seperti sudah dipaparkan di atas. Hoho. Tapi yakinlah, milih 30 lagu itu saja, juga sulit. Maklum ada ratusan kandidat. Oh ya satu lagi, mungkin saja 30 lagu di atas ini besok bisa berubah.
Jadi, jangan ke mana-mana. Tetap pantengin sambalbawangkangadi.
BACA JUGA
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
MAMA by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
HANACARAKA AKSARA JAWA YANG INDAH
BASA JAWA (3) DARI MECUCU SAMPAI NYANDRA
Ngemeng-ngemeng soal lagu, mana saja yang bagus, jelas mengarah soal selera. Karena memang sudah ditakdirkan demikian, pilihan lagu maupun genre musik yan paling "ter...", menjadi sangat subyektif. Belum tentu saya sepaham sama yang lain.
Jadi, di sini saya membatasi lagu terbaik hanya 30 lagu saja. Enggak perlu banyak-banyak karena makin susah memilih dan mengurutkan. Kriterianya simpel saja, yakni lagu itu tak lekang dimakan waktu, easy listening tapi bukan lagu murahan. Dan tentu saja, lagunya dikenal oleh banyak orang.
Ada 30 lagu yang saya anggap terbaik, dari genre rock dan pop, juga campuran keduanya. Dimulai dari nomer urut 30 ya, lalu menuju ke nomer 1 sebagai lagu terbaik sepanjang masa pilihan saya.
30. Wherever I May Roam (Metallica)
29. Teenage Senorita (Teddy Randazzo)
28. Sweet Child O'Mine (Guns N Roses)
27. How Do You Do (Roxette)
26. Ode To My Family (Cranberries)
25. Making Love Out Of Nothing At All (Air Supply)
24. The Man Who Sold The World (Nirvana)
23. November Rain (Guns N Roses)
22. Nikita (Elton John)
21. Heal The World (Michael Jackson)
20. Smells Like Teen Spirit (Nirvana)
19. In These Arms (Bon Jovi)
18. Just As I Am (Air Supply)
17. If It Wasn't For The Night (ABBA)
16. Even The Night Are Better (Air Supply)
15. Imagine (John Lennon)
14. Hasta Manana (ABBA)
13. And Your Bird Can Sing (The Beatles)
12. One (Metallica)
11. Let It Be (The Beatles)
10. Love of My Life (Queen)
09. If I fell (The Beatles)
08. The Ballad of John and Yoko (The Beatles)
07. A Kind of Magic (Queen)
06. Hasta Manana (ABBA)
05. La Isla Bonita (Madona)
04. Something (The Beatles)
03. Dancing Queen (ABBA).
02. I want To Break Free (Queen).
01. Bohemian Rhapsody (Queen).
Selesai. Jadi begitulah, 30 lagu barat terbaik pilihan saya. Kalau ada yang tidak cocok, ya muaap, kan selera orang berbeda, seperti sudah dipaparkan di atas. Hoho. Tapi yakinlah, milih 30 lagu itu saja, juga sulit. Maklum ada ratusan kandidat. Oh ya satu lagi, mungkin saja 30 lagu di atas ini besok bisa berubah.
Jadi, jangan ke mana-mana. Tetap pantengin sambalbawangkangadi.
BACA JUGA
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
MAMA by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
HANACARAKA AKSARA JAWA YANG INDAH
BASA JAWA (3) DARI MECUCU SAMPAI NYANDRA
Selasa, 04 Agustus 2015
TEMPE BACEM BU DINI
Bu Dini, begitu sambalbawang memanggilnya. Perempuan berumur 60-an tahun, berperawakan kecil, keriput di wajah dan sapaan yang hangat. Dia penjual tempe - tahu bacem terenak di muka bumi ini, setidaknya itu pendapat saya dulu. Menu andalannya, tempe bacem.
Hampir tiap pagi, sebelum ngacir ke sekolah, sambalbawang rutin menyambangi Bu Dini, yang warung jualannya hanya warung tempel-beratap seng yang nempel di tembok Alun-Alun Selatan, Yogyakarta. Bersama suaminya dia mengelola usaha tersebut.
Bisa dibilang sambalbawang-lah peserta rutin di warungnya kala pagi. Tempe bacem Bu Dini yang paling saya suka, dan itulah yang sering sambalbawang beli. Tentu dengan instruksi orang tua dan rupiahnya. Cukup berlari 15-20 detik, sudah sampai di warungnya.
Bu Dini tidak membuka warung makan, karena hanya berjualan di tempat. Sebuah wajan berukuran besar menjadi alat masak Bu Dini, dan bangku kayu kecil (dingklik) yang sudah kucel, menjadi tempat duduk khusus buat saya untuk menunggu Bu Dini menggoreng tempe bacemnya.
Tempe bacemnya sangat lezat. Diangkat dari panci usai dibacem saya sudah bikin saya berkejab-kejab, Apalagi ketika mulai diluncurkan ke wajan berisi minyak goreng mendidih. Bau harum menyeruak, menguar, membuat saya tak sabar.
Bu Dini paham kalau sambalbawang suka tempe bacem. Karena itu dia sering memberi bonus tempe bacem ke saya. Biasanya tempe bacem yang bocel, yang bentuknya tidak sempurna akibat proses membacem berjam-jam. Tapi tak masalah, yang penting enak.
Bonus tempe bacem itu, tentu saja tak masuk hitungan yang dibawa pulang kerumah, karena pasti sambalbawang habiskan di TKP. Bu Dini meletakkan tempe bacem itu di atas piring blek (seng) kecil, Dan sambalbawang biasanya duduk di bangku kayu kecil, persis dekat wajan, menunggu tempe matang.
Biasanya tempe bonus ini diberikan kalau saya harus menunggu beberapa kloter penggorengan. Maklum, tempe bacem Bu Dini sudah kesohor enaknya. Jika kebetulan sedang kehabisan, Bu Dini seperinya tidak sampai hati mengatakan.
Ibu sangat paham level kegemaran sambalbawang akan tempe bacem. Artinya, menyuruh membeli tempe bacem, bukan sesuatu yang sulit. Sering sambalbawangb bahkan sudah meloncat lari, sebelum ibu membuka dompet. Dan uang disusulkan belakangan ke Bu Dini.
Oh ya satu tempe bacem ini harganya Rp 25. Murah bukan? Tentu saja, lha wong itu harga tahun 1985-an. Ibarat kecanduan, saya tidak berenergi jika tidak menyantap tempe bacem Bu Dini. Bau harum bacemannya itu saja sudah bikin saya tergaga-gaga, dan mengangkat hidung. Endus-endus.
Saking ngefansnya sama tempe bacem Bu Dini, sambalbawang pernah sampai tidak masuk sekolah. Atau tepatnya pulang pagi. Ceritanya, saya menghabiskan 10 tempe bacem. Alhasil, belum genap sejam di sekolah, jadi terserang diare. Ibu pun menceritakan ke para guru tentang 10 tempe bacem itu yang semuanya sambalbawang makan. Betapa malunya...
Tempe bacem Bu Dini menemani sepanjang sambalawang duduk di bangku SD, minus 1,5 tahun ketika saya meneruskan sekolah ke Ambon. Selepas SD, atau sewaktu SMP, sambalbawang sudah tidak menjumpai lagi warung Bu Dini. Tak ada yang bisa menjelaskan ke mana Bu Dini pergi, atau pindah ke mana warung kecilnya itu. Ah.
Warungnya kembali menjadi padang ilalang seluas 60-an meter persegi. Lalu ketika duduk di bangku SMA, lahan itu sudah ditumbuhi rumah. Beberapa kali melintasi gang di depan lokasi itu, sambalbawang membayangkan aktivitas pagi 30-an tahun silam.
Di sana, yah, di dingklik kayu itu, pernah ada seorang pria kecil, yang saban pagi duduk. Bermenit-menit, menunggu tempe bacem selesai digoreng. Dan kadang juga diselingi nasehat dari Bu Dini bahwa sambalbawang mesti rajin belajar. Ah (lagi)..
Sampai sekarang sambalbawang belum menemukan tempe bacem seenak tempe bacem Bu Dini itu...
BACA JUGA
MUSIK ZAMAN DAHULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS?
KOKORO NO TOMO
10 BREGADA KERATON YOGYAKARTA YANG KEREN
TEH VS KOPI
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019
Hampir tiap pagi, sebelum ngacir ke sekolah, sambalbawang rutin menyambangi Bu Dini, yang warung jualannya hanya warung tempel-beratap seng yang nempel di tembok Alun-Alun Selatan, Yogyakarta. Bersama suaminya dia mengelola usaha tersebut.
Bisa dibilang sambalbawang-lah peserta rutin di warungnya kala pagi. Tempe bacem Bu Dini yang paling saya suka, dan itulah yang sering sambalbawang beli. Tentu dengan instruksi orang tua dan rupiahnya. Cukup berlari 15-20 detik, sudah sampai di warungnya.
Bu Dini tidak membuka warung makan, karena hanya berjualan di tempat. Sebuah wajan berukuran besar menjadi alat masak Bu Dini, dan bangku kayu kecil (dingklik) yang sudah kucel, menjadi tempat duduk khusus buat saya untuk menunggu Bu Dini menggoreng tempe bacemnya.
Tempe bacemnya sangat lezat. Diangkat dari panci usai dibacem saya sudah bikin saya berkejab-kejab, Apalagi ketika mulai diluncurkan ke wajan berisi minyak goreng mendidih. Bau harum menyeruak, menguar, membuat saya tak sabar.
Bu Dini paham kalau sambalbawang suka tempe bacem. Karena itu dia sering memberi bonus tempe bacem ke saya. Biasanya tempe bacem yang bocel, yang bentuknya tidak sempurna akibat proses membacem berjam-jam. Tapi tak masalah, yang penting enak.
Bonus tempe bacem itu, tentu saja tak masuk hitungan yang dibawa pulang kerumah, karena pasti sambalbawang habiskan di TKP. Bu Dini meletakkan tempe bacem itu di atas piring blek (seng) kecil, Dan sambalbawang biasanya duduk di bangku kayu kecil, persis dekat wajan, menunggu tempe matang.
Biasanya tempe bonus ini diberikan kalau saya harus menunggu beberapa kloter penggorengan. Maklum, tempe bacem Bu Dini sudah kesohor enaknya. Jika kebetulan sedang kehabisan, Bu Dini seperinya tidak sampai hati mengatakan.
Ibu sangat paham level kegemaran sambalbawang akan tempe bacem. Artinya, menyuruh membeli tempe bacem, bukan sesuatu yang sulit. Sering sambalbawangb bahkan sudah meloncat lari, sebelum ibu membuka dompet. Dan uang disusulkan belakangan ke Bu Dini.
Oh ya satu tempe bacem ini harganya Rp 25. Murah bukan? Tentu saja, lha wong itu harga tahun 1985-an. Ibarat kecanduan, saya tidak berenergi jika tidak menyantap tempe bacem Bu Dini. Bau harum bacemannya itu saja sudah bikin saya tergaga-gaga, dan mengangkat hidung. Endus-endus.
Saking ngefansnya sama tempe bacem Bu Dini, sambalbawang pernah sampai tidak masuk sekolah. Atau tepatnya pulang pagi. Ceritanya, saya menghabiskan 10 tempe bacem. Alhasil, belum genap sejam di sekolah, jadi terserang diare. Ibu pun menceritakan ke para guru tentang 10 tempe bacem itu yang semuanya sambalbawang makan. Betapa malunya...
Tempe bacem Bu Dini menemani sepanjang sambalawang duduk di bangku SD, minus 1,5 tahun ketika saya meneruskan sekolah ke Ambon. Selepas SD, atau sewaktu SMP, sambalbawang sudah tidak menjumpai lagi warung Bu Dini. Tak ada yang bisa menjelaskan ke mana Bu Dini pergi, atau pindah ke mana warung kecilnya itu. Ah.Warungnya kembali menjadi padang ilalang seluas 60-an meter persegi. Lalu ketika duduk di bangku SMA, lahan itu sudah ditumbuhi rumah. Beberapa kali melintasi gang di depan lokasi itu, sambalbawang membayangkan aktivitas pagi 30-an tahun silam.
Di sana, yah, di dingklik kayu itu, pernah ada seorang pria kecil, yang saban pagi duduk. Bermenit-menit, menunggu tempe bacem selesai digoreng. Dan kadang juga diselingi nasehat dari Bu Dini bahwa sambalbawang mesti rajin belajar. Ah (lagi)..
Sampai sekarang sambalbawang belum menemukan tempe bacem seenak tempe bacem Bu Dini itu...
BACA JUGA
MUSIK ZAMAN DAHULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS?
KOKORO NO TOMO
10 BREGADA KERATON YOGYAKARTA YANG KEREN
TEH VS KOPI
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019
Jumat, 24 Juli 2015
GENERASI BAHAGIA
Setiap generasi pasti punya pengalaman yang hepi-hepi. Banyak orang sudah menuliskan
versi bahagia generasi mereka masing-masing, baik itu mereka yang lahir di era 70, 80, hingga 90. Jadi, boleh juga dong
saya ikut-ikutan, hehe.
Kami adalah bagian dari generasi bahagia yang lahir menjelang tahun 1980. Kamilah mungkin generasi terakhir yang berangkat dan pulang sekolah dengan cerita, tak terbebani pelajaran, meski pekerjaan rumah ya tetap ada. Untunglah, tidak sampai dalam level overdosis yang membelenggu acara bermain.
Kami generasi terakhir yang masih menjumpai tanah lapang dan sering menyambanginya. Kamilah juga sering sengaja keluar rumah hanya untuk berhujan-hujan bersama teman-teman. "Pasukan" bermain kami cukup komplet, karena tidak ada yang ikut les. Sore hari itu, kalau nggak bermain, ya bermain.
Kami adalah bagian dari generasi bahagia yang lahir menjelang tahun 1980. Kamilah mungkin generasi terakhir yang berangkat dan pulang sekolah dengan cerita, tak terbebani pelajaran, meski pekerjaan rumah ya tetap ada. Untunglah, tidak sampai dalam level overdosis yang membelenggu acara bermain.
Kami generasi terakhir yang masih menjumpai tanah lapang dan sering menyambanginya. Kamilah juga sering sengaja keluar rumah hanya untuk berhujan-hujan bersama teman-teman. "Pasukan" bermain kami cukup komplet, karena tidak ada yang ikut les. Sore hari itu, kalau nggak bermain, ya bermain.
Sepertinya, kami generasi terakhir yang menguasai banyak permainan tradisional. Kamilah mungkin generasi terakhir yang hapal dan tahu banyak soal lagu anak-anak,
rutin mendengarkan sandiwara radio, dan mengoleksi kaset Sanggar Cerita.
Kami juga generasi terakhir yang (dipaksa) harus tertib sebelum menonton TV. Harus mandi dulu,
lalu sisiran, duduk manis, dan masih ditambahi aturan agar tidak ribut. Jarak TV dan posisi duduk setidaknya 3 meter. Lucu juga sih, karena hanya untuk nonton TV
layar 14 inchi saja, kami harus begitu.
Oh iya, kami juga generasi terakhir yang pernah meneriaki helikopter untuk meminta koran. Aneh, bukan? Meski ketika gede, saya semakin sangsi, apakah suara saya waktu itu terdengar sampai kabin helikopter. Setidaknya kami, atau segelintir secuil dari kami, pernah melakukan itu.
Oh iya, kami juga generasi terakhir yang pernah meneriaki helikopter untuk meminta koran. Aneh, bukan? Meski ketika gede, saya semakin sangsi, apakah suara saya waktu itu terdengar sampai kabin helikopter. Setidaknya kami, atau segelintir secuil dari kami, pernah melakukan itu.
Kami generasi yang masih dibolehkan menikmati sinar matahari, debu, sungai, dan lumpur,
sampai kulit menghitam (bisa dilihat dari foto-foto kami). Dan
mungkin karena itulah kami "tangguh" saat upacara bendera, seterik
apapun, pantang "tumbang".
Kami sepertinya generasi terakhir yang masih merasakan asyiknya berkirim surat kepada sang pujaan
hati. Memakai kertas yang wangi, tentu saja. Juga berkirim salam pesan ke stasiun radio
agar diputarkan lagu tertentu. Karena itulah, kami terlatih antre, karena
itulah "sesi latihan" kami di depan telepon umum.
Kami pula generasi terakhir yang masih merasakan hukuman dari guru yakni berdiri di depan kelas, menghadap tembok, dengan satu kaki diangkat.
Sepertinya, dan bisa jadi, karena itulah, kami hapal nama dan wajah menteri kabinet
pembangunan IV.
Dan kami generasi yang tahu apa itu "mencongak" dan terlatih untuk tidak kagetan. Kami pula yang pertama kali terkagum-kagum dengan kehadiran penghapus tinta pena berupa cairan putih yang ternyata belakangan bernama tipex. Oh ya, kami pula generasi terakhir yang masih memakai mesin ketik untuk mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.
Buku tulis kami juga mengasyikkan. Bergambar bintang film di sampul depannya, dan jadwal pelajaran di sampul belakangnya.
Dan kami generasi yang tahu apa itu "mencongak" dan terlatih untuk tidak kagetan. Kami pula yang pertama kali terkagum-kagum dengan kehadiran penghapus tinta pena berupa cairan putih yang ternyata belakangan bernama tipex. Oh ya, kami pula generasi terakhir yang masih memakai mesin ketik untuk mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.
Buku tulis kami juga mengasyikkan. Bergambar bintang film di sampul depannya, dan jadwal pelajaran di sampul belakangnya.
Saya dan semua teman-teman, juga punya diari, dengan kunci
gembok sederhana. Diari itu akan berputar seantero teman-teman, dan bisa menjadi memori 25 tahun kemudian.
Kami generasi yang menikmati serunya bermain ding-dong di pusat perbelanjaan, juga generasi pertama (anak-anak) penikmat game watch (gembot), video kaset Betamax, hingga game-game legendaris seperti Mario Bross, Tetris, dan Street Figter.
Kami generasi pertama yang melintasi teknologi yang cepat, baik itu era komputer, gadget, TV, ataupun player. Kami yang pertama menikmati tayangan parabola, dan merasakan satu RT dilayani hanya dengan satu parabola. Kami juga menikmati pergantian era telepon koin ke telepon kartu, hingga pager.
Kami generasi yang menikmati serunya bermain ding-dong di pusat perbelanjaan, juga generasi pertama (anak-anak) penikmat game watch (gembot), video kaset Betamax, hingga game-game legendaris seperti Mario Bross, Tetris, dan Street Figter.
Kami generasi pertama yang melintasi teknologi yang cepat, baik itu era komputer, gadget, TV, ataupun player. Kami yang pertama menikmati tayangan parabola, dan merasakan satu RT dilayani hanya dengan satu parabola. Kami juga menikmati pergantian era telepon koin ke telepon kartu, hingga pager.
Kami belajar "menaklukkan" program bintang kata-kata a.k.a Wordstar. Juga generasi pengoleksi disket di dalam tas. Kami mulai mencoba “nakal” via
chatting di dunia maya saat MIRC hadir. Kami juga generasi pertama yang patungan
untuk menyewa internet di warnet. Karena itu kami memandang kehadiran modem sebagai "keajaiban" hahaha.
Kami generasi yang hidup di era keemasan musik yang nampaknya sulit untuk
terulang. Dari Metallica, GNR, Bonjovi, Roxette, White Lion, MLTR, hingga Nirvana. Dari Trio Libels, Kla Project, Slank, Dewa, Gigi, Sheila, hingga Padi.
Kami barangkali adalah generasi terakhir yang mungkin masih (diharuskan) untuk membukakan pintu gerbang untuk guru. Juga sesekali mengelap sepeda mereka. Dan kami pula generasi terakhir yang masih memijat orang tua saat mereka kecapaian.
Kami barangkali adalah generasi terakhir yang mungkin masih (diharuskan) untuk membukakan pintu gerbang untuk guru. Juga sesekali mengelap sepeda mereka. Dan kami pula generasi terakhir yang masih memijat orang tua saat mereka kecapaian.
Kami menikmati era kami, era di mana urusan sekolah dan tugas sekolah jangan sampai mengorbankan waktu bermain dan kumpul bareng temen-temen. Tidak ada, atau sangat jarang, ada yang berani membolos bermain kelereng, hanya karena demi les, atau bahkan ulangan esok harinya.
Tapi kami juga generasi yang sedih karena banyak hal. Salah satunya adalah, kami mungkin generasi terakhir yang bisa berbahasa daerah dengan cukup
benar. Tapi sayangnya, melakukan "kesalahan fatal" ketika tak mewariskan itu, ke adik-adik kami.
Ah...
Selasa, 21 Juli 2015
PERHAPS... ( cerpen - 2)
"Mungkinkah kita bisa bersua?". Lirih, nyaris tak terdengar suaramu sehingga aku harus memintamu mengulangi kalimat itu agar tak salah dengar. "Mungkinkah kita ketemu?" katamu lagi. "Sejam saja, atau beberapa menit. Atau semenit saja, jika hanya itu yang bisa,.."
Aku menggeleng, dan baru kusadari engkau tak bisa melihatku. Kita terbentang ruang, terpenjara waktu, dan tersekat oleh kabel. "Sepertinya tidak," sahutku, yang ternyata juga seperti suara tercekat. Suasana pun kembali hening.
Telepon selulerku mulai terasa panas. Kulihat durasi kami berbicara: 50 menit. Belum ada tanda-tanda selesai.. Ini tahap ketiga kami berbicara setelah sebelumnya saya menelponnya 15 menit, lalu dia balik menelpon 20 menit,
"Aku sudah tahu kalau akhirnya begini, tapi bodohnya aku melakukan itu lagi," sambungmu. "Tak ada yang bodoh, baik aku atau kamu," jawabku mencoba menghibur. "Ah, engkau pasti hanya akan bilang kalau waktu tak berpihak padamu, kan?" begitu suara di seberang. Ada nada putus asa, atau entah apa.
Beberapa menit berlalu, sebelum akhirnya kujawab pelan, "Iya, Memang waktu tak pernah berpihak padaku. Sekali berpihak pun, tetap saja aku tidak merasa berada di pihak yang diuntungkan, meski juga tak dirugikan. Mungkin,".
"Ah....," katamu dengan nada penuh kecewa. Suara gemerisik terdengar. Kamu menangis, aku tahu itu. Beberapa menit terisi suara-suara itu, kadang pelan, kadang terhenti, kadang sesunggukan, sampai kemudian kamu membuka suara lagi. "Sudah,lah. Tapi tolong kembalikan senyumku, besok..."
"Ah..."
BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
MAMAMMIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
Aku menggeleng, dan baru kusadari engkau tak bisa melihatku. Kita terbentang ruang, terpenjara waktu, dan tersekat oleh kabel. "Sepertinya tidak," sahutku, yang ternyata juga seperti suara tercekat. Suasana pun kembali hening.
Telepon selulerku mulai terasa panas. Kulihat durasi kami berbicara: 50 menit. Belum ada tanda-tanda selesai.. Ini tahap ketiga kami berbicara setelah sebelumnya saya menelponnya 15 menit, lalu dia balik menelpon 20 menit,
"Aku sudah tahu kalau akhirnya begini, tapi bodohnya aku melakukan itu lagi," sambungmu. "Tak ada yang bodoh, baik aku atau kamu," jawabku mencoba menghibur. "Ah, engkau pasti hanya akan bilang kalau waktu tak berpihak padamu, kan?" begitu suara di seberang. Ada nada putus asa, atau entah apa.
Beberapa menit berlalu, sebelum akhirnya kujawab pelan, "Iya, Memang waktu tak pernah berpihak padaku. Sekali berpihak pun, tetap saja aku tidak merasa berada di pihak yang diuntungkan, meski juga tak dirugikan. Mungkin,".
"Ah....," katamu dengan nada penuh kecewa. Suara gemerisik terdengar. Kamu menangis, aku tahu itu. Beberapa menit terisi suara-suara itu, kadang pelan, kadang terhenti, kadang sesunggukan, sampai kemudian kamu membuka suara lagi. "Sudah,lah. Tapi tolong kembalikan senyumku, besok..."
"Ah..."
BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
MAMAMMIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
Rabu, 15 Juli 2015
TEH NASGITEL-PET
Tidak semua orang bisa bikin minuman teh yang enak. Apakah susah teh? Sebenarnya sih tidak, meski juga enggak bisa dibilang gampang. Kalau enggak percaya, bolehlah sesekali menyambangi warung-warung. Saya cukup yakin, banyak warung menyajikan citarasa teh yang "memprihatinkan". Gregetan, kan?
Baiklah, selera menyoal citarasa teh, maka jelas berbeda menurut benak masing-masing orang. Namun semua nampaknya sepakat bahwa teh yang terlalu encer dan terlampau manis, pasti bukan teh yang mantap. Teh yang enak, ya akan enak kalau diseruput dalam kondisi panas, maupun dingin.
Sayangnya, banyak warung, juga orang yang tidak memikirkan pentingnya citarasa teh. Cenderung mbikin teh secara asal-asalan, pokoknya asal jadi, asal cepet. Malah banyak yang pakai teh celup, dan "hajar" dengan takaran gula overdosis. Masih diperparah karena sepertinya satu teh celup dipaksa untuk "mewarnai" dua gelas.
Sudah puluhan kali sambalbawang iseng melongok isi dapur warung dan melihat bagaimana mereka meramu dan menyiapkan teh. Kesimpulannya, ya kembali ke tadi. Teh masih saja tidak terpikirkan untuk dibikin serius. Ambil contoh, teh yang disajikan dalam gelas plastik, menurut saya, jelas tak termaafkan..
Oke, teh memang tak serumit kopi. Namun bikin teh enggak bisa sembarangan. Mereka yang bukan penikmat teh, barangkali tak keberatan dengan teh celup yang encer serta rasa manis kebangeten. Atau sudah cukup puas dengan sajian teh yang cuma apik visual luarnya : diwadahi poci tanah liat dan dipadu gula batu.
Bagi mereka yang bukan penikmat teh, maka teh hanyalah satu dari sekian minuman. Cuma minuman untuk mengguyur tenggorokan supaya dahaga hengkang, maka bereslah sudah. Namun tidak bisa (atau sangat sulit) bagi seorang penikmat teh untuk menyeruput asal teh. Apalagi jika sang penikmat teh ini cukup piawai meramu teh.
Artinya pula, bagi penikmat teh seperti saya, juga istri, minumah teh harus istimewa. Dengan kata lain, rasa dan tampilan teh yang seadanya adalah hal yang cukup fatal. Semakin kecewa karena tak mungkin menyalahkan si pemilik warung yang mendulang rupiah dengan cara menjual teh encer.
Bagi sambalbawang, adalah"haram" hukumnya jika teh rasanya nanggung. Sebab, rasa teh yang enak dan "benar" sudah melekat di lidah (mungkin) sejak sambalbawang belajar merangkak. Ibu selalu menyediakan teh sehari dua kali. Ada semacam "tea time" di rumah, meski kadang tidak rutin. Tapi lumayan sering. Kakak sambalbawang, lumayan jago bikin teh yang sip.
Kesukaan pada teh, saat dewasa, ternyata berimbas pada perburuan teh. Tak terhitung berapa merek teh sambalbawang coba. Mungkin lebih 50 merek. Dari merek-merek teh yang sudah kesohor dan merupakan andalan keluarga, hingga merek teh "biasa". Satu per satu sudah diseduh. Beberapa dioplos alias diracik.
Secara garis besar, hasilnya begini. Ada teh yang rasanya "kacau", meski orang lain bilang itu enak. Pernah juga sambalbawang meracik teh "kacau" itu dengan skill meracik teh seperti biasa. Rasanya mmm..tidak terlampau buruk, meski juga nggak bisa dibilang enak. Hahahaha. Tapi, sepertinya teh-teh yang kayak gini, mesti saya evakuasi dari dapur.
Keasyikan meracik adalah, seni mengoplos satu merek dengan merek lain. Pernah sambalbawang mencampur sampai 4 merek teh untuk membikin satu gelas teh. Pernah juga tiga merek dioplos. Tapi lebih sering cukup 2 merek saja disatukan.
Tentang merek, memang lagi-lagi subyektif. Tergantung selera orang. Namun pernah seorang kawan, yang kampung halamannya Banjarmasin, Kalsel, sepakat dengan sambalbawang soal teh yang enak ketika menyeruput bersama di angkringan. Hm, bukankah itu membuktikan kalau rasa teh bisa juga universal?
Cerita lainnya, ada penjual angkringan di Balikpapan (berasal dari Jawa) berdiskusi sama saya dan istri soal teh. Ketika teh terhidang, rasanya njut-enjutan. Nampaknya dia enggak paham gimana bikin teh. Tapi urusan nggak paham bikin teh juga ada di kampung saya, Yogyakarta, dan juga di angkringan. Bingung?
Kembali ke warung makan, satu hal yang saya pantengin adalah, banyak yang menghidangkan teh supermanis, yang standar manisnya level dewa. Sudah dituangin air putih separuh gelas pun, rasa manisnya tetap aduhai gila.
Kalau enggak gitu, ada juga teh yang rasanya malah seperti "sabun". Entah terlalu wangi, atau gimana, yang jelas, teh "sabun" itu terlalu aneh rasanya. Bukan berasa sabun, dalam arti sabun sebenarnya, tetapi teh yang terlampau wangi. Tapi ya itu, sekali lagi, kan urusan selera personal.
Termasuk juga soal gula. Memang, teh akan terasa dasyat jika dipadukan dengan gula batu. Namun bisa disubstitusi dengan gula pasir. Susah lho mencari gula batu yang enak. Apalagi di Balikpapan. Belum lagi harganya. Hm.
Balik ke teh. Berbeda dengan minuman lain, teh adalah minumal yang jelas (relatif) murah. Kalau murah, harusnya ya bisa enak. Iya nggak, iya nggak? Tapi sayang seribu sayang, itu pun hanya sebatas mimpi, karena kenyataannya, teh (yang rasanya dataaar banget pun) tetap dibanderol mahal.
Kalau dihitung, harga teh yang super enak saja hanya Rp 5.000-Rp 6.000 per bungkus. Ukuran segitu, cukup untuk bikin 10 gelas (yang kentalnya pooool). Nggak mahal, kan? Nah, gimana dengan harga bahan baku lainnya?
Untuk membuat segelas teh, diperlukan 1-2 sendok makan teh, yang itu mungkin hanya Rp 500. Jika ditambah gula, katakanlah maksimal Rp 1.000, biaya gas elpiji Rp 500, serta air Rp 1.000, maka ongkos segelas teh jadi Rp 3.000. Muriih, kan? Okelah kalau di warung dilego Rp 4.000 per gelas. Masih wajar.
Artinya jika harga segelas teh Rp 4.000, dan masih mendapat teh yang datar rasanya, ya berarti pemilik warung tak peduli apa yang dihidangkannya apakah sudah memuaskan konsumen atau tidak. Pembeli masih saja "dihajar" dengan teh yang encer dan kebanyakan gula, dan kadang gelas yang belum bersih.
Jelas sudah, bahwa meskipun teh adalah komponen termurah dalam sebuah sajian teh, tapi tidak ditempatkan dalam keinginan menghidangkannya sebagai minuman teh terbaik. Kalau sudah gitu, mending nggak usah pesan teh di warung sembarang. Lha memang iya, itulah yang saya lakukan hampir 4 th.
Jika bersantap di warung, dan ingin nyeruput teh, mendingan mengambil teh botol dan teh dalam kemasan kotak. Setidaknya itu lebih berasa teh. Suka tidak suka, daripada pesan es teh atau teh panas, tapi malah bikin kecewa dan bete seharian.
Karena ada istilah "tea time" maka saya yakin kalau teh harus disajikan sebaik mungin, seenak mungkin. Karena itulah, saya menempatkan teh dalam strata tertinggi yang dalam bahan dan pembuatannya harus sip. Teh yang sedap adalah yang nasgitel, alias panas legi kentel. Tambah satu lagi, sepet. Jadi teh "Nasgitel-pet"
Sebab, hanya teh nasgitel-pet yang sanggup menghadirkan sensasi "kemepyar" yang sulit dilukiskan dengan kata. Kemepyar (bahasa Jawa) ini berarti menciptakan efek antara lain mata jadi melek, keluar keringat, dan sensasi segar. Dunia seakan menjadi "terang". Rasa sepet pun melekat di langit-langit mulut.
Lalu berimbas pada kepala yang jadi cespleng. Mungkin mengangguk-angguk kecil. Oh ya kemepyar ini, adalah ketika level panas air 90-an derajat Celcius. Kalau untuk es teh, gimana? Gini, sensasi kemepyar tidak didapat dalam es teh. Seger dan bikin "nyandu", itulah yang didapat dalam es teh.
Kalau mau disimpulkan, teh yang nasgitel-pet, itu, gini rumusannya: Ada aroma mantap daun-batang teh yang khas, berpadu dengan rasa sepet (bukan pahit) yang eksotis, harum wangi bunga melati yang kalem, serta sensasi manis gula pasir (atau gula batu) yang takarannya sedikit di atas rata-rata.
Satu dari faktor itu tidak ada, maka bukan teh nasgitel-pet. Salam teh !
BACA JUGA :
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
HAPPY MOTHER'S DAY 2019, LIVE ACCOUSTIC "MAMA"
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
10 BREGADA KERATON YOGYAKARTA YANG KEREN
TEH vs KOPI
HANACARAKA AKSARA JAWA YANG INDAH
LAGU-LAGU ABBA, LIRIK DAN VIDEO
MAMMA MIA ! HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
MENGAPA HARUS NGEBLOG
THE AQUARIAN ?
Selasa, 07 Juli 2015
CAMILAN JADUL (1)
Lupakan sejenak soal bahaya vetsin (MSG), sakarin, dan zat pewarnanya yang di zaman sekarang terus dikumandangkan sebagai sesuatu yang membahayakan kesehatan. Hoho. Dulu, kisahnya lain. Sewaktu saya masih SD, enggak ada yang berpikiran gitu.
Es limun yang warnanya seperti salah satu dari tiga warna lampu lalu-lintas, misalnya, segera saya seruput habis tanpa pikir panjang. Mie kering berbumbu gurih "level mampus", juga langsung masuk mulut tanpa pertanyaan ke penjualnya. Kembang gula yang berwarna-warni, cepat pula dieksekusi. Tak ketinggalan, serbuk rasa buah artifisial, pun, langsung tenggak habis.
Begitulah masa kanak-kanak sambalbawang, yang termasuk anggota militan generasi 80-90'an. Masa yang menyenangkan meski terbalut sembrono untuk urusan higienitas pangan. Masa-masa indah, di mana menyempatkan sejumput waktu di sela-sela jam istirahat, untuk berlari ke pagar depan sekolah, hanya untuk berburu jajanan. Mengharukan.
Aktivitas jajan kadang dilanjutkan sore hari, dengan menyambangi warung kelontong. Aneka camilan, pasti kami pernah beli. Bahkan demi camilan, order perintah dari ibu, akan saya laksanakan, secepatnya, hehe. Yang penting bisa jajan.
Dulu, jajanan anak-anak terasa sangat berkesan. Masih teringat betapa Anak Mas yang rasa keju benar-benar membuat terpaku hingga butiran serbuk bumbu terakhir, Cokelat superman yang rasanya tak ada duanya. Sempat berpikir jika Superman itu riil, dia juga pasti suka coklat wafer ini. Lalu, adalagi Krip-krip yang gurihnya dasyat.
Mari melisting jajanan sambalbawang, dikhususkan yang bermerek resmi. Ini bisa untuk edisi camilan jadul part 1. Hahaha. Ada Anak Mas, Krip-krip, Cokelat Superman, permen Sarmento, permen Tic-tac, Chiki, Choki-choki, coklat koin, coklat Jago, permen karet Yosan, snack Gulai Ayam, tablet jeruk Ciz-ciz, es krim Woody, snack Tic-tic, kwaci cap Gajah, permen siul, dan permen karet Lotte kemasan kotak kecil.
Apa lagi ya. Sepertinya bisa mencantumkan permen rokok, permen karet Chiclets, permen Butternut Collins, permen t-drops, Menta, Nano-nano, permen Pindy Twist, wafer Khong Guan yang plastiknya bening, permen coklat (isi kacang) Bobo, kue koya Delima tawon, coklat serbuk cap Teko,
Di jajaran minuman, ada cukup banyak opsi. Ada Gogo, Teh Kotak, Capri-Sonne, Mr Jussie, hingga susu cokelat Ultramikl. By the way, kalian masih ingat lagunya iklan minuman Mr Jussie? Hoho, sambalbawang masih ingat. Begini liriknya. "Halo, halo, salam jumpa teman baru... Mr Jussie, Mr Jussie, Mr.. Jussie. Dalam kemasan kotak, Mr Jussie mengandung sari buah asli. Kesukaan anak-anak, Mr Jussie...". Horeee.... Sruuput, sembari membayangkan kandungan vitamin C ini merasuk ke tubuh.
BACA JUGA
KOKORO NO TOMO
10 BREGADA KERATON YOGYAKARTA YANG KEREN
MAMMA MIA ! HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
TEH VS KOPI
PELUKAN (CERPEN)
Es limun yang warnanya seperti salah satu dari tiga warna lampu lalu-lintas, misalnya, segera saya seruput habis tanpa pikir panjang. Mie kering berbumbu gurih "level mampus", juga langsung masuk mulut tanpa pertanyaan ke penjualnya. Kembang gula yang berwarna-warni, cepat pula dieksekusi. Tak ketinggalan, serbuk rasa buah artifisial, pun, langsung tenggak habis.
Begitulah masa kanak-kanak sambalbawang, yang termasuk anggota militan generasi 80-90'an. Masa yang menyenangkan meski terbalut sembrono untuk urusan higienitas pangan. Masa-masa indah, di mana menyempatkan sejumput waktu di sela-sela jam istirahat, untuk berlari ke pagar depan sekolah, hanya untuk berburu jajanan. Mengharukan.
Aktivitas jajan kadang dilanjutkan sore hari, dengan menyambangi warung kelontong. Aneka camilan, pasti kami pernah beli. Bahkan demi camilan, order perintah dari ibu, akan saya laksanakan, secepatnya, hehe. Yang penting bisa jajan.
Dulu, jajanan anak-anak terasa sangat berkesan. Masih teringat betapa Anak Mas yang rasa keju benar-benar membuat terpaku hingga butiran serbuk bumbu terakhir, Cokelat superman yang rasanya tak ada duanya. Sempat berpikir jika Superman itu riil, dia juga pasti suka coklat wafer ini. Lalu, adalagi Krip-krip yang gurihnya dasyat.
Mari melisting jajanan sambalbawang, dikhususkan yang bermerek resmi. Ini bisa untuk edisi camilan jadul part 1. Hahaha. Ada Anak Mas, Krip-krip, Cokelat Superman, permen Sarmento, permen Tic-tac, Chiki, Choki-choki, coklat koin, coklat Jago, permen karet Yosan, snack Gulai Ayam, tablet jeruk Ciz-ciz, es krim Woody, snack Tic-tic, kwaci cap Gajah, permen siul, dan permen karet Lotte kemasan kotak kecil.
Apa lagi ya. Sepertinya bisa mencantumkan permen rokok, permen karet Chiclets, permen Butternut Collins, permen t-drops, Menta, Nano-nano, permen Pindy Twist, wafer Khong Guan yang plastiknya bening, permen coklat (isi kacang) Bobo, kue koya Delima tawon, coklat serbuk cap Teko,
Di jajaran minuman, ada cukup banyak opsi. Ada Gogo, Teh Kotak, Capri-Sonne, Mr Jussie, hingga susu cokelat Ultramikl. By the way, kalian masih ingat lagunya iklan minuman Mr Jussie? Hoho, sambalbawang masih ingat. Begini liriknya. "Halo, halo, salam jumpa teman baru... Mr Jussie, Mr Jussie, Mr.. Jussie. Dalam kemasan kotak, Mr Jussie mengandung sari buah asli. Kesukaan anak-anak, Mr Jussie...". Horeee.... Sruuput, sembari membayangkan kandungan vitamin C ini merasuk ke tubuh.
BACA JUGA
KOKORO NO TOMO
10 BREGADA KERATON YOGYAKARTA YANG KEREN
MAMMA MIA ! HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
TEH VS KOPI
PELUKAN (CERPEN)
Langganan:
Postingan (Atom)


