Rabu, 01 Januari 2014

DENGERIN 'TUH PETASAN DENGAN KUPINGMU SENDIRI !!


      Setelah lewat tiga jam, pukul 03.00 tanggal 1 Januari 2014, langit mulai reda dari bunyi petasan yang memekakkan telinga. Setelah beberapa jam sebelumnya sudah terhantam badai bunyi petasan, telinga saya dapat steril kembali.
      Sejujurnya, tidak ada yang terlampau menarik dari perayaan tahun baru. Mungkin, tidak perlu juga dirayakan. Namun memang pesona perayaan pergantian tahun memang demikian. 
      Setidaknya, tetap memelintir gas motor menyisir jalanan kota meski tak lebih 1,5 jam. Sedangkan teman saya, sesama murid padepokan "peremuk tulang" berkomentar, "Mau liat kembang api, tuh banyak di langit".
     Menyoal kembang api, dalam skala besar, yakni petasan, saya sebenarnya tidak setuju itu sebagai hiburan. Bahkan menurut saya, petasan bersuara bak petir muncul mendadak ini, tidak indah.
      Sejak kecil sambalbawang tidak pernah tertarik dengan petasan yang kayak gitu. Saya lebih suka kembang api air mancur dan kembang api tetes. Alasannya sih simpel, yakni lebih murah dan durasinya lama.
    Tidak suka main petasan bukan berarti tidak "berjiwa" nakal. Sejarah masa kecil sambalbawang, tepatnya di rentang kelas 1-4 SD, cukup diwarnai rentetan kisah mbeling. Mulai dari beberapa kali hilang di pasar, hilang di pasar malam, kesasar, sampai dolan ke Madukismo, dan terlambat pulang ke rumah.
      Di pabrik gula itu, sambalbawang sering meloncat meraih batang-batang tebu di bak belakang truk, juga saat lori berjalan (pelan). Pernah pula manjat pohon jambu, terpeleset, dan sampai jatuh. Atau ngebut pakai sepeda, dan mendadak "terjun bebas" masuk selokan. Juga nyemplung ke sawah. Belum termasuk urusan main yang ketika pulang pasti dalam kondisi baju kotor.
      Pernah juga dijewer pak guru karena ketahuan bolos. Tapi ke-mbelingan terbesar sambalbawang adalah tetap saja nonton siarang langsung Liga Champions pada dini hari, meski esoknya menjalani Ebta/Ebtanas. Ibu, tentu saja marah-marah.  
      Ketika menempuh pendidikan di TK, sambalbawang juga hampir drop out sekolah gara-gara menerapkan syarat harus ditemani ibu saat di kelas. Buset, kan. Siapa yang sekolah, coba. Dan ibu mengalah. Bahkan ibu pernah meminta agar sambalbawang jangan dikeluarkan dari sekolah.
      Pengorbanan seorang ibu. Yah, kalau tidak diantar dan ditunggui, sambalbawang waktu itu beneran enggak mau sekolah. Mendingan dirumah atau keluyuran pakai sepeda. Kenakalan saya terhenti ketika ibu saya pingsan, kecapaian. 
      Dari semua kenakalan masa kecil, tak ada yang membahas soal menyalakan petasan. Usut punya usut, ternyata itu dipicu kisah seram. Jadi, ada anak, mungkin seumuran saya, jarinya putus karena nyumet mercon. 
    Nah, apa jadinya jika itu menimpa sambalbawang. Sebagai lelaki kecil yang cukup gape bermain kelereng, dan suka bikin mainan gerobak pakai kulit jeruk bali, dan main karet, kabar itu tentu sangat menakutkan. 
       Menyesal,kah? Oho,ho, ho, tidak. Bangga, malah. Karena sambalbawang bisa berkontribusi menyelamatkan para orangtua yang ketakutan dengan suara mercon. Barangkali bisa kita tanya pendapat mereka. 
     Sambalbawang punya ayah, punya ibu, yang selalu deg-deg-an mendengar suara mercon. Sumpah, itu suara membuat keringat dingin bercucuran. Pernah ayah sampai lari ke luar rumah, menghardik anak-anak yang menyalakan mercon. 
    Tentu saja, sambalbawang mendukung ayahanda. Saya tahu mereka, anak-anak, bayi-bayi itu, belum paham seberapa pentingnya orang tua. Dan mungkin, orangtua mereka dulu juga menyumet mercon. 
    Sambalbawang setidaknya bisa bangga karena tak pernah menyalakan mercon yang memekakkan telinga. Tapi sekaligus prihatin karena mereka yang nyumet mercon, malah menutup telinga sendiri. Bukankah suara keras tujuannya? Kok malah nggak didengerin? 
    Kalian, manusia yang tidak logis. Maaf saja, ya kalian memang tidak rasional.  

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
BASA WALIKAN
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019

 



Selasa, 10 Desember 2013

GITAR, SKILL BERGITAR, BUKU LAGU, DAN SUHU

      Niat untuk membawa dua buku lagu kesayangan ke Balikpapan, kesampaian juga setelah tiga tahun memendamnya. 
      Satu buku, penuh tulisan tangan, berisi lirik puluhan lagu yang pernah hits di era 80 sampai 90-an, sebagian lengkap dengan kunci-kunci gitarnya. Ada lagunya Ebiet, Sheila on7, Gigi, Titi DJ, Java Jive, sampai Dewa19. Ini semuanya tulisan sambalbawang saat SMA dan awal kuliah. 
     Buku kedua adalah fotokopian buku saku berisi lagu-lagu The Beatles. Seukuran separuh majalah. Bersampul biru muda dengan gambar keempat personel band asal Liverpool itu. Gambarnya sudah rada kabur. Sambalbawang masih ingat, di mana memfotokopinya. Toko di selatan Mirota Kampus, Jogja. Saat itu masih kelas III SMP, usia yang lagi getol-getolnya belajar gitar dan berburu lagu.
    Kedua buku itu bagian dari sekian buku lirik lagu yang sambalbawang tulis di rentang waktu SMP hingga kuliah. Menjadi semacam "pegangan wajib" bagi sambalbawang yang saat itu tengah mendalami ilmu bergitar-demi eksistensi diri. Belajar secara otodidak.  Ahaaa.
     Tentu, sambalbawang punya beberapa "guru" gitar yang tidak resmi. Mereka adalah teman-teman sendiri, masih terbilang tetangga rumah. Dari mereka, sambalbawang mencomot skill bergitar, sepotong demi sepotong, dari menggenjreng ceria, memetik senarnya, hingga mulai memelototi solo gitar.  
      Dari satu "guru" tadi, sambalbawang mulai belajar menerjemahkan not balok ke nada-nada gitar. Dari guru lainnya, latihan menyimak cara memencet senar untuk memainkan intro Sweet Child O'Mine-nya GNR. Penting ini, bro, agar jari-jari enggak kesrimpet ke kolong senar. Maklum masih pemula.
    Dari guru yang lain, yang jelas fanatik cinta mati sama Nirvana, betotan bas di lagu Come As You Are, terselesaikan sempurna. Dari teman bersepeda, dan ini masih termasuk suhu, he, terserap skill memainkan KKEB-nya Andre Hehanusa.


    Yap, sambalbawang menyerap skill bergitar mereka secara potongan. Tidak utuh. Bukan memantengin dari pagi sampai malam, namun memperhatikannya sekilas. Bertanya detil, mana senar yang dipetik duluan, tabu, lah, yaw.
     Kerja keras berlatih, itu wajib hukumnya untuk dikerjakan di rumah. Sebelum ketemu para suhu tadi, ya sudah mulai berjuang. Bersenjatakan sebuah gitar bolong merek Arista.
    Gitar ini warisan pacar kakak (yang skarang statusnya sudah jadi kakak ipar). Ehm, seingat sambalbawang, gitar itu pertama dimainkan sewaktu SMP kelas 1. Namun baru ditelateni begitu kelas II SMP. Ketika tangan mulai "sampai", maklum gitarnya gede. 
    Agar menambah semangat, satu demi satu stiker ditempel ke badan gitar. Dari yang bergambar Batman, tiga personel Nirvana, Shinchan, Donald Bebek, logo coklat impor, stiker identitas SMA, sampai kuliah.
    Sepertinya masih kurang, sambalbawang sematkan juga stiker tanda sudah bayar pajak motor tahunan.Stiker SMA kakak saya, tempelin juga. Total jendral, kayaknya ada 30 stiker yang menutup lapisan cat coklatnya.
     Maka, latihan gencar pun menjadi rutinitas. Durasinya bisa berjam-jam tiap hari. Aktivitas ini mengikis habis lapisan kulit ujung jari, sehingga sidik jari pun sepertnya pernah terhapus beberapa "garis". 
      Aktivitas berjam-jam, seperti anak autis karena bisa setenga hari ngumpet di kamar itu, tentu saja berbuah omelan ortu. Tak usah dihitung intensitasnya. Juga tak usah dihitung berapa puluh senar sambalbawang bikin putus.
     Kembali ke buku-buku lagu tadi, satu demi satu mulai terisi potongan lagu, juga salinan lirik dan kunci gitarnya. Entah sudah berapa ratus lagi sambalbawang dapat dan tempelkan, atau tulis. 
    Dari majalah, koran sendiri, koran tetangga, sampai menyalin dari sampul kaset teman. Hehe. Benar-benar gigih.  Nah, setelah sekian tahun berlatih, saatnya sambalbawang unjuk gigi di depan publik. Tentu saja.
      Lokasinya adalah halaman depan rumah, sembari duduk di bawah pohon mangga. Begitu ada kerumunan orang berjalan di depan rumah, senar mulai digenjreng lumayan keras. Setidaknya mereka sejenak menoleh. 
     Lagu andalan yang pertama dikuasai (standar) adalah Bengawan Solo-nya Gesang, dan Don't Forget To Remember-nya Bee Gees. Lalu Guantanamera. Pokoknya lagu yang kunci gitarnya berkisar C, F, G.
     Hari demi hari, kemampuan bergitar otomatis bertambah meski sebenarnya secara perlahan mirip kura-kura. Mulai nongol "kapal" di ujung jemari, pertanda skala kegigihan berlatih. 
     Dari sekadar asal genjreng, bisa menyetem, lalu berganti ke petikan. Meningkat lagi, mencoba "mempersiskan" dengan lagu asli. Beberapa lagu sambalbawang rekam. Kadang hanya bagian solo gitarnya direkam.
     Langkah selanjutnya adalah mencoba-coba. Satu demi satu lagu bisa mulai digitarin seperti aslinya. Hore. Eurekaaaa. Kepercayaan diri tumbuh pelan-pelan. Mulai berani mengajak teman berduet.
      Mulai banyak nongkrong, sambil menenteng gitar, skill pun bertambah. Sampai akhirnya menyewa studio musik di bilangan Pengok Yogyakarta. Sambalbawang mengayuh sepeda 7 km ke tempat itu. Uang sewa ditanggung rame-rame.
     Karena ada teman lebih gape main gitar, sambalbawang harus "iklas" kebagian memainkan bas. Sering juga dikasih posisi teriak-teriak di depan mikrofon, meski sebetulnya ya dipaksa jadi vokalis mendadak, karbitan, gegara lama kami enggak dapat vokalis "murni". Saat itu menu lagu utamanya Nirvana dan Green Day.  
     Berawal dari itu pula, ajakan berlatih bareng mulai ada. Skala kecil, kalau enggak dibilang skala mungil. Akhirnya sambalbawang mencicip juga pentas perdana. Bangga dong, meski itu hanya di acara 17-an kompleks perumahan. 
     Dan pentaslah sambalbawang dengan menenteng bas. Bikin seneng sih, tapi juga enggak bisa dimasukkan secara bangga ke "curicullum vitae" perjalanan musik. Tapi manggung ditonton warga, itu tetap pengalaman mendebarkan, dan berharga. Sayang banget enggak ada dokumentasi. 
      Oke cerita kita lanjutkan. Beranjak kuliah, sambalbawang bertemu suhu gitar lain, yang lebih memacu adrenalin dalam bergitar. Namun nampaknya, inilah level bergitar saya mencapai maksimal. Tak bisa mengalahkan sang suhu, dan tentu saja sepertinya enggak bisa naik lagi levelnya. 
      Tak apalah, setidaknya semua sudah sesuai target. Salah satu target tersebut adalah, bisa ikut audisi. Nama audisinya adalah.... rahasia. Gagal total, hasilnya. Sebel dan rada jengkel, meski mengamini lantaran skil juga masih belepotan. Mana di awal lagu sempat suara basnya raib. Huff. Skip-skip cerita gagalnya. Yang jelas, dibalik kepahitan, itu adalah pengalaman yang asyik-gila-hore.
      Ketika lulus kuliah dan mulai bekerja, skill bergitar sambalbawang makin terkikis karena kesibukan menyita. Waktu dan tenaga sudah habis rontok di jalanan, di atas dua roda, dan juga saat di kantor. Intensitas bergitar pun meredup. 
     Gitar yang penuh stiker itu pun, semakin jarang sambalbawang peluk. Jika dulu sering harus tidur sambil memeluk gitar--agar bisa tidur--kini gitarnya sering tidur sendirian. Berhari-hari sering menganggur, malah kadang sampai berdebu karena seminggu enggak digenjreng. 
     Namun untunglah sebagian sisa kejayaan belum pudar. Setidaknya, masih bisa bikin kagum orang lain meski ya itu sang istri. Hahaha. Cukup, lah. Semakin asyik, karena gitar itu pun masih ada dan terawat.  Juga ada buku berisi lagu-lagu tersebut, untuk bisa sejenak memanggil memori. 
    Dan, empat tahun silam, sambalbawang bawang membeli satu gitar. Yang ini untuk dipakai istri, dan memang sengaja beli yang ukurannya enggak gede. Di rumah kini ada dua gitar. Jadi kami bisa berduet gitaran sembari bernyanyi. Aha.



BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
MENGAPA HARUS NGEBLOG
THE BEATLES FOREVER
JURASSIC WORLD VS JURASSIC PARK

Minggu, 24 November 2013

ADUH CANTIKNYA KAMU


     Obrolan bersama beberapa teman, pada suatu siang, tiba-tiba sejenak membahas seputar kisah cinta masa lalu. Bukan kisahnya sih, tetapi teknisnya. Tentang bagaimana mengungkapkan cinta, pada waktu itu, era 80 akhir-awal 90.

     "Dulu mau memegang tangan si dia, minta izin dulu," kata teman saya, laki-laki berumur 37 tahun yang sering mengenakan topi. "Menyatakan cinta, rasanya susah. Nggak seperti sekarang, tinggal pencet SMS-an dan BBM-an," sambungnya lagi.
    Eh, saya jadi teringat masa muda dulu. Ketika merentang cerita cintreng kala duduk di bangku SD hingga SMA, lalu dilanjutkan pda awal kuliah, sampai menjelang kerja. 
     Kala SD, mungkin saja saya memiliki pemuja rahasia. Beberapa kali ditunggui temen cewek yang antusias ingin mentraktir ondhol-ondhol (sejenis siomay), sepulang sekolah. 
     Secara tampang, seringat saya, dia cukup manis. Barangkali cewek termanis sekelas. Bahkan kalau dipikir-pikir bisa jadi dia yang termanis sesekolah.Tapi kog ya saya nggak berpikir jauh. Hahaha, namanya juga anak SD, yang hanya paham bermain kelereng.
      Seorang teman SD, membantu memori saya yang buruk ini. Ternyata pernah ada kejadian "kedip-kedipan" antara teman saya itu, saya, dan si cewek tersebut. Aksi saling kedip ini berdurasi panjang, selama perjalan bis saat berwisata ke Baturraden.
     "Capek, lho, kedip-kedipan selama berjam-jam," kata teman saya sembari tertawa. Kalau dia capek, saya yang gantian berkedip ke temen cewek itu. Begitu seterusnya.
     Masa SD berlalu hanya dengan tentang cerita cinta monyet. Sekilas hilang, dan mulai terlupakan. Nah yang mulai seru, ada di bangku SMP. Mulai ada bidadari singgah di hati.,
      Namanya tidak usah disebut, tapi cukup dinyatakan bahwa dia banyak penggemar. Saya cuma salah satu fansnya. Sedih. Hasil akhirnya, sudah bisa ditebak, jadi tak perlu dipaparkan.
    Tapi, ada satu adegan yang masih teringiang di kepala tentang dirinya. Jadi, insiden itu ketika si dia melempar senyum ke saia. Ini momen langka nan mengejutkan.
     Tempat kejadian perkara-nya adalah ruang kelas. Dikasih senyum semanis madu, tentu saya "melayang". Sakau dah otak ini. Dan pastinya saya membalas senyum.
     Tapi, lalu senyum dia direvisi cepat-cepat. Usut punya usut, doi bukan lempar senyum penuh arti ke saya, tapi senyum prihatin. Karena senyum dia, mengarah ke cowok lain. 
     Namun demikian, saya tetap berterima kasih padanya. Sebab, "bakat" puisi saya menjadi terasah sampai level "gila" karena pesona dirinya yang astaganaga itu. 
     Hampir setiap hari, ada saja puisi terbikin. Temanya, sih, mayoritas, mengharu biru. Dari putus harapan, patah hati, patah semangat, sampai pernyataa sikap cuek akan dirinya. 
     Mungkin, kalau dikumpulkan, itu sudah bisa jadi beberapa buku puisi. Tapi, untunglah, saya tidak sendirian, karena ada dua teman saya juga juga tukang bikin puisi.
     Nah kisah cinta mereka mungkin agak lebih dasyat. Sama-sama terhantam sih, tapi kami baik-baik saja (sampai sekarang). Yang jelas, kami satu nasib.
     Bahkan, satu di antaranya terhempas oleh cewek yang sama dengan yang saya incar tadi. Hebat, bukan? Atau tragis? Tetapi kami akur, kok, malah cocok dan sering curcol.
    Kami bertiga sering menghabiskan waktu di sore hari untuk menyusun puisi. Lokasinya, semua tempat. Sering sambil nangkring di atas pohon. Tak lupa bertukar puisi, dan menertawakan bersama.
    Agar insipirasi datang, sering kami melihat si subyek. Haha. Jadi, si cewek sering kami pantau jika dia keluar gerbang sekolah. Saat dijemput mamanya yang naik motor Yamaha pitung.
    Melihat tampangnya saja, sudah seneng selangit. Teman saya malah pernah lompat-lompat gembir. Benar-benar terenyuh, kan. Tapi begitulah ekspresi kami melihat pujaan hati. 
     Kisah saya juga terselingi kisah teman lain. Seorang teman, dari sekolah lain ikut nimbrung berburu teman satu kelas. Untunglah bukan cewek gebetan saya.
     Singkat cerita, saya disuruh menyampaikan surat cinta ke kawan sekelas saya itu. Kisah cinta teman saya itu juga berakhir pilu. Ditolak mentah-mentah.
     Adegan selanjutnya adalah, saya menemani teman saya itu seharian. Menghibur bahwa ketika cinta ditolak bukan berarti dunia kiamat. Hm, ya sepertinya juga ikut menghibur diri sendiri.
     Ketika sudah beranjak SMA, saya perna sekali iseng untuk dolan ke rumahnya. Naik sepeda dengan semangat 45. Yah siapa tahu. tapi kemungkinan terburuk juga telah dipikirkan.
      Sesampai di depan rumahnya, nampak si dia lagi berkebun di halaman. Dia tidak melihat saya. Tetapi, kok rasanya lidah ini kelu, tak berani menyapa. Tak sanggup mampir.
     Hanya sempat melihat seraut wajahnya. Jantung berdegup kencang, mata berkunang-kunang. Duh Gusti, Jagat dewa batara... Aduh, cantiknya kamu, dik... Habis terpana, saya pulang.
     Merentang kisah, tidak semua tentang cerita sedih. Ada juga cerita asyiknya walau seiprit. Antara lain pernah mendapat surat dari adik kelas. Isinya sih tidak romantis, tapi cukup-lah menghibur. Kami nyaris tak pernah bicara, hanya berkirim surat. 
     Beranjak ke bangku kuliah, tahun pertama adalah tahun ketika saya mengenal sesosok makhluk perempuan lainnya. Terpesona akan poni dan cekingnya, resmilah dia jadi target.
      Hasil akhirnya gagal. Si dia ngumpul terus sama geng-nya, susah dideketin dan mencari waktu luangnya. Suatu sore saya memberanikan diri menepon ke rumahnya. 
     "Halo, ini siapa?" terdengar suara di seberang.  Aduh, kenapa pula ibunya yang menerima telepon. Hati pun langsung ciut, gagang telepon saya letakkan kembali...
      Baru pada usaha menelepon kedua, saya berani melontarkan "apakah saya bisa berbicara dengan ...?" Dan terdengarlah suara cempreng si dia. "Ini siapa?"
     "Aku, temen kuliahmu," sahutku. "Ehm, apa kabar? Sehat-sehat saja kan? Bagaimana kuliahnya?".... Pertanyaan standar... Tapi percayalah, butuh perjuangan untuk mengucapkan itu.



BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
BASA WALIKAN
BLOGER BALIKAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019
    




     
    


Kamis, 31 Oktober 2013

DARI GPS, PETA, SAMPAI "ILMU PURBA"

     Gara-gara ponsel belum bisa--atau tidak bisa--diinstal aplikasi GPS, sambalbawang pernah sebulan penuh mengukur jalanan Jakarta mengandalkan peta manual. Ini peta dalam bentuk lembaran yang ukuran hampir semeter persegi.  Repot dan ribet, tapi lumayan. 
      Sayangnya peta tetap tidak menyeluruh. Gambarnya "dikorting". Ketika sambalbawang bersama seorang teman hendak menuju kawasan Meruya, Jakarta Barat, gambar peta mentok sampai pertigaan jalan. Entah jalan mana. 
      Dengan kata lain, masih jauuuuh dari tujuaan. Peta ini sepertinya hanya menggambarkan sekitar 30 persen wilayah Jakarta Barat. Sampai tujuan, sih, iya. Tapi mesti banyak bertanya dan kesasar-sasar. Untung pakai brompit (motor).
     Hari berikutnya, sambalbawang berencana meluncur ke arah Condet, Jaktim. Sebelumnya  sudah memelajari peta tersebut. Tapi entah mengapa, lokasinya tetap tidak ketemu. Tidak semua area Jakarta Timur nongol di peta. Cuma dapat garis besar menuju kesana. Akhirnya, mengandalkan lagi cara lama: bertanya ke orang-orang. Barulah sampai tujuan. 
      Kembali lagi menerapkan "ilmu purba": tanya-tanya orang. Benar juga peribahasa bilang malu bertanya sesat di jalan. Jadi, secara teknis, bertanya yang paling efektif itu begini: sebelum motor sampai persimpangan jalan, wajib bertanya. Ini Jakarta, bung. Salah belok,a tau telanjur bablas, bisa lama dan jauh putar baliknya.
       Contoh kesasar-sasar lain, tak perlu dituang semua di blog. Kebanyakan, lha wong hampir tiap hari mengalami. Beginilah nasib "orang daerah" di ibu kota, yang tidak punya jalan tol dan jalan yang bertumpuk-tumpuk. 
        Membahas soal alamat yang tidak ketemu kala mengacu peta, sempat sambalbawang curiga lokasi (jalan) itu tersembunyi di kotak "Legenda". Kota ini ada di sisi kanan bawah peta. Lumayan gede, yang menutup mungkin area satu kelurahan.
     Jadi, kesimpulannya, peta itu "curang" terhadap sambalbawang. Judul peta itu, "Jakarta" mestinya diubah menjadi "75-80 Persen Jakarta" biar enggak memberi harapan palsu. Atau saatnya beralih ke GPS? 
      Teman saya nyeletuk, "Mbok ya menginstal GPS, toh, ya. Lumayan bener, dan cukup mudah memelajarinya. Enggak ribet,". Nampaknya harus begitu. Akhirnya terinstallah GPS di ponsel, tepatnya salah satu program (aplikasi) penunjuk rute. 
       Setelah mempelajari semalaman, dan menerapkan esok hari, saya tetap kesasar-sasar. Apa yang salah? Agaknya sambalbawang tidak mahir membaca peta digital.  Jadi, akhirnya, kembali bermotor-ria di Jakarta dengan mengandalkan "ilmu purba". 
       "Bisa juga kan pakai aplikasinya. Enak?" tanya kawan itu begitu sambalbawang balik. "Enggak bisa pakai," jawabku. "Lho kok bisa sampai dan bisa pulang?" tanya dia lagi. "Itulah hebatnya aku," jawab sambalbawang.

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
BASA WALIKAN
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019

Senin, 07 Oktober 2013

JIAN, KAPOKMU, KAPAN ?

     "Jiaan, ... kapokmu kapan,"  begitu celetuk seorang kawan, ketika dia membungkus cindera mata berukuran besar, dengan berbekal beberapa lembar koran dan selotip. Sembari mengucapkan itu, tangannya menepuk bungkusan. Saya yang kebetulan ikut nimbrung mbantuin membungkus, sejenak tercenung...
     Sudah sekian tahun saya tidak mendengar ada (orang  Jawa) yang bilang "kapokmu kapan".. Kangen betul mendengar kata yang nyaris punah itu. Dalam bahasa Jawa, kapokmu kapan itu, dimaksudkan sebagai bentuk celetukan terhadap sesuatu/seseorang yang berulah/ribet, namun akhirnya kena batunya, atau bisa kita taklukkkan.
    Nah, kawan saya, yang adalah kakak kelas yang mendaftar kuliah 10 tahun lebih duluan itu, mengucapkan "kapokmu kapan" setelah dia berhasil membuntel, menyelimuti cinderamatanya dengan koran. 
     Plus, mengakali agar cenderamata lain yang juga berukuran lumayan besar, bisa nempel pula. Cenderamata lain itu sempat terlepas, tapi bisa disematkan lagi. Akhirnya, kemasannya emang secara visual memang acakadut, tapi pokoknya bisa kebungkus.        
    Kapokmu kapan juga bisa dialamatkan pada orang jahil/usil/bandel/nyebai yang akhirnya kena batunya. Misalnya ada anak yang suka ngebut pakai motor, dan akhirnya kecelakaan sehingga opname. Nah si ortu yang merasa nasehatnya dulu enggak pernah didengar, kemudian ngomong ke anaknya itu," kapokmu kapan"
    Saya jadi tiba-tiba ingin mengingat kata-kata (bahasa Jawa) sejenis dari kapokmu kapan itu. Saya menemukan beberapa. Misalnya: edan taun, tobat encit, horohtoyoh, mbligung, sontoloyo, trondolo, kicat-kicat, (yang lain lupa-menyusul deh-janji).
     Itu semua dari bahasa Jawa, dan saya belum merunut itu, apakah berasal dari kawasan Jawa Tengah, Barat atawa Timur. Namun mari coba kita telusur artinyaa, hihi.. (menurut analisis saya, sih).   
       Pertama  edan taun. Ini seperti celetukan "edan" yang berarti gila. Namun "taun" nya berarti banget. Dengan kata lain, edan taun itu artinya edan banget yang benar-benar tak terpikirkan. 
   Lalu tobat encit. Ini berarti ucapan bermakna tobat (kapok) sampai benar-benar tobat tingkat dewa. Tobat yang telah mencapai level sempurna, sehingga pelakunya pun nggak bakalan melakukan kesalahan/hal serupa.
    Ada lagi "Horohtoyoh" . Ini celetukan bagi orang lain (yang kita lihat), sedang kesulitan dan mendadak kena masalah (tambahan). Misalnya saia lihat si Anu lagi mbawa dua karung beras. Saya menawarkan. 
     Percakapannya kira-kiri gini: Need a help, friend? No, thanks, begitu jawab si Anu. Dan tiba-tiba, si Anu kepeleset dan kebetulan saya melihat. Saya pun ikut terkejut. Maka saya nyeletuk horohtoyoh..
   Kemudian, Mbligung, artinya : kondisi tidak pakai pakaian (tapi masih bercelana). Namun tak hanya itu. Orang tersebut biasanya dalam posisi tidur-tiduran nyantai dan badannya agak keringatan. Biasanya lagi, si orang itu lagi ngisis (menikmati angin). Dan kita agak risi memandangnya. Nah, dia itu  kita sebut sedang mbligung.
    Sontoloyo, ini berarti kurang ajar. Dikasih tugas apapun, endak pernah mengerjakan. Disuruh ingat sesuatu, lupa terus. Diajak ngomong, sulit nyambung. Nggak bisa dipercaya dalam hal apa saja. Dia berarti sontoloyo.
   Trondolo, artinya kira-kira adalah orang yang menjengkelkan. Namun levelnya masih bisaaa agak terampuni. Karena bentuk menjengkelkannya itu masih bisa ditoleransi. Misalnya sering lupa. Kadang bikin onar dan bikin orang seisi rumah blingsatan nyari dia. Dia orang yang trondolo.
   Lanjut, adalah Kicat-kicat. Menurut saya, ini level panasnya air yang paling tinggi. Teman saya yang tinggal di Gunung Bakaran, pernah diskusi sama saya soal kicat-kicat. Dan kami sepakat bahwa kicat-kicat ini adalah keadaan air mendidih yang paling puanas.
     Kalau air mendidih 100 derajat celcius, naa kicat-kicat ini pas 100 derajat itu. Kicat-kicat lebih merujuk ke air mendidih sempurna (maksimal) yang untuk dijadikan minuman (misalnya teh). 
     Meski sempat ditiap-tiup, lidah kita segera kerasa kebakaar begitu bibir tersentuh air panas itu. Itulah panas yang kicat-kicat. Naah, level panas di bawah kicat-kicat ini, ada banyak lho.  Misalnya, ada anget, rodok panas, umep, moah-moah. 
      Hm, merenungi itu semua, ternyata bahasa ibu (di semua daerah), benar-benar luar biasa. Permenungan saya berakhir pada pertanyan: apakah generasi penerus, sudah kita bekali dengan kosakata "ajaib-jenaka-wagu" seperti kata-kata tersebut? ...(kepala menunduk)...


BACA JUGA :
CHINMI JAGOAN KUNGFU DARI KUIL DAIRIN 
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK 
BASA JAWA (3) DARI MECUCU SAMPAI NYANDRA
LEBIH BAIK NAIK VESPA
THE AQUARIAN ? 
PELUKAN (CERPEN)
TENTANG HONDA (2) DARI ASTREA 700 KE ASTREA 800
7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
AKU DI BELAKANGMU, TIGER WONG
ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA
MAMMA MIA ! HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
HORE IKUT LELANG HAPE JADUL

Sabtu, 28 September 2013

VEGETARIAN ITU EKSTREM ? AH MASA IYA SIH, AH YANG BENER AJA

      "Wah, kamu termasuk vegetarian yang ekstrem ya," begitu komentar banyak orang terhadap saya. Kalau dijumlah, yang bilang begitu ke saya, sudah puluhan orang. Tentu, sah-sah saja pendapat orang.
      Cuma, saya heran ketika komentar itu dialamatkan ke saya. Orang lain heran, saya juga berhak heran, bukan? Bukannya saya mempertanyakan untuk mengajak debat kusir, tapi mengajak melihat dari sisi yang logis.
     Baiklah, karena saya memang penyantap sayuran, bisa disebut vegetarian yang ekstrem. Kesannya kok ngeri. Namun bagaimana dengan para penyantap satwa darat dan satwa air? Mereka kan juga bisa disebut "karnivora ekstrem" ? Mm, atau perokok berat, wajar jika dikategorikan "perokok ekstrem" ?
     Menurut saya, menjadi vegetarian itu tidak ekstrem. Malah kembali ke konsep alam, back to nature. Lha wong semakin sayang binatang kok dikatakan semakin ekstrem. Betul, kan? 
     Saya jadi teringat kicauan seseorang beberapa hari lalu, saat siang hari yang terik dan menuju acara makan siang.  "Wah kamu vegetarian ya. Itu tuh, ada daun, makan saja, hahaha," guraunya.
    Sebenarnya saya hendak membalas berkicau ke dia. Tapi sayangnya, siang itu kok tidak ada ayam broiler, sapi, atau kambing yang melintas, agar saya bisa berkata "Wah kamu karnivora? Itu tuh ada ayam broiler, sapi, dan kambing. Makan tuh (mentah-mentah)," ....
     Tetapi tenang saja, saya tidak akan seperti itu kok dalam konsep serius. Bagi saya, candaan yang gitu tidaklah penting. Gimana ya, tapi maaf saja, "level" saya dalam menjalani pola makan vegetarian ini, bukan untuk mengurusi pendapat orang. 
    Level saya sudah bisa merasakan enaknya sayuran. Saya bisa merasakan enaknya sawi hijau, pete, kangkung, oseng-oseng godhong telo, tempe goreng, sambal, es degan, es jeruk, es teh.  Demikian juga saya menyukai lodeh, plus tempe bacem, sambal tomat, dan kerupuk. Bisa geleng-geleng kepala, deh. Apalagi dilengkapi keroto dan irisan pete. Benar-benar enak bukan?
     Habis, itu terus menyeruput wedang teh yang nasgitel (panas-legi-kenthel)... Atau secangkir kopi? Atau segelas jus sirsak, atau teh botol? Enak, bukan?  Kalau Anda setuju, berarti tidak ada vegetarian ekstrem di bumi ini.  Nanti kalau saya sudah tidak vegetarian, misalnya, gimana coba.

 BACA JUGA :
PETE YANG MENGHARUKAN

Rabu, 25 September 2013

MENGAPA TEMPE DAN SAYUR SELALU DIMASAK BELAKANGAN ?


        Hari masih pagi. Sekitar pukul 09.30, beberapa waktu lalu, saya menyambangi sebuah warung makan. Sebuah warung kecil di Balikpapan, yang ruangannya nemplok satu bangunan dengan sebuah kantor, alias kantin kantor. Seorang teman menginformasikan bahwa warung tersebut sudah buka pukul 08.00 dan menunya lumayan sip.
       Karena saya tidak mengonsumsi satwa darat dan air, saya celingak-celinguk memindai setiap baskom dan piring yang berisi lauk-pauk. Tapi ape daye, yang ada cuman potongan jerohan, iwak, sampai iwak pithik.     
     Kemana menu kaporit saya? Kemana tempe, tahu, sayur lodeh, oseng-oseng, dan bakwan jagung? "Waduh, Mas. Belum dimasak," begitu jawab si penjual, ketika saya menanyakan. Saya cuman bisa menjawab,"Ooooo,,,". Garuk-garuk kepala.
    Peserta berikut, seorang bapak yg masuk ke warung juga ikut tengak-tengok mencari lauk tempe. Tak mendapat yang dicari, ia akhirnya menjumput ikan goreng, lalu bersantap. Bisa terbaca si bapak juga kecewa. Singkat kata, menu saya pagi itu hanya mi goreng. 
      Kejadian seperti ini,  masuk warung makan di pagi hari tetapi tempe tahu belum digoreng, sudah saya alami sekian puluh kali. Berbagai pemikiran nempel dan menari-nari di kepala. "Tempe dan tahu kan masaknya gampang, tinggal cemplung. Beda sama 'i-we-a-ka' yang kudu disiapkan lama,"..
      Mengapa dan mengapa, kok tempe dan tahu selalu dimasak belakangan,  hu,hu,hu? ... Jagad dewa batara, it's not fair ... Bukankah asik kalau tempe dan tahu senantiasa tersedia duluan. Lebih murah, dan mayoritas manusia Indonesia menggemarinya. Iya, kan?
       Selang beberapa hari, seorang teman yang saya sambati soal itu, coba menghibur. "Ya sudah, sabar. Masakan apa dimasak duluan di warung, itu kan terkait kebiasaan. Orang yang biasa nyabut rumput baru beres-beres, tentu akan melakukan itu. Kalau bares-beres dulu baru nyabut rumput, nggak terbiasa," gitu katanya.
     Sebelum saya melontarkan setumpuk argumen, teman saya yang pakar mesin itu, melanjutkan pendapatnya. "Ya di mana-mana, kebiasaan orang yg masuk dalam kategori mayoritas, tidak sejalan dengan yang dikehendaki orang minoritas,"...
      Skak mat, deh. Hm, memang, tak terasa, saya secara sadar dan tidak sadar masuk dalam "golongan minoritas", sudah sekitar lima tahun.  Menjadi penyantap sayuran, atau istilah kerennya diistilahkan vegetarian. 
    Tidak apa-apa dan tidak ada yang salah, ketika kita masuk kategori minoritas. Saia minoritas dalam hal menu makan. Tapi, saia yg "minoritas" juga masih bisa berteman sama sohib saya yang "mayoritas" itu.  
    Meskipun saya tetap mempertanyakan mengapa sayur dan tempe selalu dimasak belakangan, namun saya dan dia masih bisa duduk maem bareng di satu warung. Sering, malah.. Hehehe (jingkrak-jingkrak)...
    Tapi, nanti kalau saya buka warung, yang saya masak duluan tempe dan sayur. Yang saya masak belakangan adalah sayur dan tempe juga. He.