Senin, 14 Maret 2016

TEH KOTAK DAN CHIKI

Ada suatu masa ketika dua benda ini: Teh Kotak dan Chiki, menjadi bagian penting dalam hidup. Jika tidak ada keduanya, barangkali sambalbawang tidak bakal lulus Taman Kanak-kanak (TK). Certanya dimulai saat hari-hari pertama sekolah.

Masa-masa indah saat duduk di bangku TK--karena hanya bernyanyi dan tepuk tangan--teh kotak dan chiki mulai menjadi jajanan favorit ini. Entah kandungan apa di kedua produk itu sehingga menjadi dambaan anak-anak, dan akhirnya sambalbawang usulkan sebagai bekal (bersekolah). Aturannya adalah : tak ada keduanya, artinya batal sekolah.

 

Pernah suatu ketika jajanan itu tidak didapat ibu, maka sambalbawang mutung. Ibu pun kelabakan mencari dari warung ke warung. Wafer Superman, wafer Khong Guan, ampyang, coklat koin, disodorkan, tapi tidak mempan. Ketika teh kotak diganti teh hangat dalam termos kecil, juga bukan solusi. Sambalbawang terus merapal jurus andalan : rewel.

Sambalbawang sungguh tidak peduli dunia bakal runtuh, atau kesamber geledek, sebab yang penting ada Chiki dan Teh Kotak. Sekali lagi, entah apa "resep" rahasia dalam Chiki dan Teh Kotak sehingga otak ini seperti tersihir, pengin lagi dan lagi. Apa pun itu, yang pasti adalah kombinasi asyik untuk dinikmati di dalam kelas, atau ketika acara bermain.

Apakah Teh Kotak dan Chiki membuat sambalbawang lantas giat bersekolah? Sayangnya, ternyata tidak juga. Karena itu masih ditambah dengan ibu yang wajib ada di dalam kelas. Selama tiga bulan di hari-hari pertama bersekolah, ibu menemani masuk kelas. Sambalbawang duduk di bangku, ibu bersimpuh di lantai.

Semua sindiran dan bujukan dari para guru, benar-benar tidak mempan. Sampai suatu hari, ibu sambalbawang pingsan di pasar dekat sekolah. Di sela-sela acara bermain bersama teman, saat itulah ibu bisa pergi ke pasar. Ternyata ibu kecapekan, ditambah masuk angin.

Gegerlah seisi sekolah. Sambalbawang pun akhirnya "disidang" khusus di ruang guru. Dasar mbeling, ya tetap saja sembari menyeruput Teh Kotak dan mendekap Chiki. Awalnya tidak tahu apa yang terjadi. Namun sepertinya ada sesuatu yang serius terjadi, dan ibu dikerubuti banyak orang, dan itu penyebabnya sudah jelas sambalbawang.

Dan entah mengapa, sejak itu sambalbawang "mengizinkan" ibu untuk tidak perlu masuk kelas--ya iya lah, memang yang sekolah seharusnya siapa. Meski beberapa waktu lamanya tetap ada syaratnya, yakni ibu harus mencatelkan tas belanjaan di pintu kelas. Ini agar sambalbawang merasa ibu hadir di kelas.

Memori yang tidak bisa dianggap indah, karena bikin malu. Namun tetap membekas. Tiga puluh tahun kemudian, sambalbawang ternyata juga masih sesekali membeli Teh Kotak dan Chiki. Memang, sudah tidak lagi terobsesi pada rasanya yang dasyat, tapi sekadar memanggil memori.

Ada cerita, banyak cerita yang terbayang tatkala memandangi Teh Kotak dan Chiki. Love you, mom. with all my heart. I love you, I love you.

Baca juga ARTIKEL LAIN:
HANACARAKA, AKSARA JAWA YANG INDAH
YEN ING TAWANG ANA LINTANG
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019

LUAR BIASA, BEGITU BANYAK FILM DOKUMENTER PERANG DUNIA II 

Senin, 07 Maret 2016

MOTOR-MOTOR OKE YANG JEBLOK DI PASARAN

Setelah sebelumnya membahas soal motor bebek tertjakep yang pernah mengaspal di Tanah Air, sekarang giliran merunut motor-motor yang “gagal” di pasaran dan muncul di era 1994-2010.  Bukan berarti produknya jelek, lho, namun memang, apes, kurang mendapat atensi publik dan jeblok di pasaran. Apa saja kah, motor-motor itu? 

Yang pertama adalah Honda Kirana. Lahir di tahun 2002, motor bebek 125 cc ini tak banyak terdengar kiprahnya. Malah langsung disuntik mati dua tahun kemudian. Digadang-gadang “membantu” publik yang agak belum ngeh dengan kehadiran Legenda, Kirana malah jeblok. Penasaran dengan Kirana? Berseluncur internet, ketemu deh tampang Kirana.

Penulis merasa Kirana muncul di saat yang rada nggak tepat. Nongolnya Honda Kharisma, yang meski bentuknya rada wagu dan gambot, segera mengganggu pasar Kirana.  Honda terus berbenah. Desain lanjutan Kharisma, yang dikasih nama Kharisma-X, yang tampilannya lebih asyik, langsung mengoreksi kelemahan Kharisma.

Sementara Supra-X 125 yang hadir dengan bodi “kekinian” di zamannya, secara tidak langsung ikut “menumpas” Kirana. Supra-X 125 yang lahir 2004, awalnya dikonsep untuk kalangan lebih berduit. Namun pasar merespons. 

Ketika era motor sudah bergerak menuju desain yang tidak lagi ramping, menuju futuristik, dan berlekuk sudut tajam, semua spesifikasi kuda besi segera terkoreksi. Ban motor misalnya, ukuran depan dan belakang sudah 2.50-17/2.75-17. Ukuran ban motor lama yang mungil, 2.25-17/2.50-17, untuk menyangga tubuh mungil motor, sudah lewat.

Celakanya, Kirana malah muncul dengan ukuran ban yang kecil tadi. Tatkala yang lain mulai melirik rem cakram, Kirana masih saja mengadopsi tromol. Ditambah desain tampang dan perawakan yang  seperti melorot, maka mesin berkubikasi lumayan-125 CC-pun, tak sanggup menolong Kirana.  

Banyak yang menyebut DNA Honda Grand gagal dititiskan ke Kirana. Ada benarnya, sih. Namun penulis, alias saya ini, melihat Kirana sebagai merek transisi Honda yang ingin segera beralih ke desain yang meninggalkan aura Grand, menuju lebih sporty, tapi rada ragu.

Maka jadilah si-Kirana itu. Tapi bagaimana dengan performanya? Penulis pernah beberapa kali minjem Kirana dari seorang kawan di Klaten. Tarikannya enteng, larinya ngibrit ringan seperti tidak punya beban utang. Motor ini asli, nyaman, dan menyenangkan. Pernah dibujuk untuk beli, tapi penulis masih setia menyemplak Grand Impressa. Hihi.

##

Lanjut ke motor kedua adalah Yamaha Sigma. Doi muncul sekitar tahun 94-98. Berkubikasi mesin 102 cc dan berjenis dua tak. Ingin melanjutkan era keemasan Yamaha Alfa, pabrikan berlogo garputala ini agak lupa bahwa dua tak sudah memasuki zaman senja di dunia perbebekan motor.

Kesampingkan dulu kompetitor. Di jajaran dua tak, Yamaha punya jagoan lain, F1Z yang masih laris manis. F1Z berhasil sebagai suksesor Force 1.  Sementara di sebelah, ada Suzuki Tornado yang berkubikasi 110 CC-dan ternyata menjadi raja dua tak yang terakhir kali di belantika bebek kopling otomatis.

Yamaha memang cepat menyadari perubahan zaman, ketika kemudian meluncurkan Yamaha Crypton, bebek 4 tak. Crypton nggak terlalu sukses, tapi sukses “menidurkan” Sigma, yang notabene satu pabrikan. Tetangga sebelah, Honda, juga mulai menemukan formula ampuh, di tubuh Supra. Cerita Sigma pun tamat.

Sungguh sulit menemukan Sigma yang masih mengaspal. Setahu penulis, saat Sigma kudunya jaya, era 96-98, juga satu kawan yang menyemplaknya ke kampus. Apa mau dikata, Sigma gagal sebagai suksesor Alfa. Mereka yang pernah merasakan kedasyatan Alfa, sepertinya bakal sepakat dengan penulis.Penasaran pengen lihat kayak apa Sigma. Mbah google menemukannya, makasih yang mengupload foto ini:



Apakah Sigma produk gagal, penulis tidak bisa mengatakan demikian. Perkara agak memble di tanjakan, Sigma iya. Desain kurang yaksip, yoi. Namun secara kenyamanan berkendara dan tarikan awal yang responsif, Sigma tidak buruk. Letupan suara knalpotnya pun lebih merdu dan kalem ketimbang bebek dua tak Yamaha sebelumnya.

Penulis pernah menjajal Sigma beberapa kali. Bukan milik sendiri, tapi milik temen cewek yang raut wajahnya manis, berambut panjang, berlesung pipit, dan tertawanya renyah. Sudah, ah, skip...skip, bikin teringat masa lalu saja. Yang pasti Sigma adik ini, terawat bener, jadi saya bisa menggambarkan kalau Sigma masih mewarisi kekhasan Alfa, meski urusan speed, harus angkat tangan. Menangnya di suspensi doank dan konsumsi BBM.


###

Motor yang ketiga, hehe, dari paguyuban genk ijo. Kawasaki memang jago bikin motor sport tetapi kurang jeli menggarap para bebek. ZX-130 adalah buktinya. Kehadirannya tahun 2005 lalu sebetulnya mengundang decak kagum. Desainnya swear beda dari bebek lain, tetapi para bebek, eh, publik, malah dibikin kaget, ketimbang kagum. Ini dia profilnya, masih mencomot dari internet.



Mesin 130 CC menjadikan Kawak (Kawasaki) ini unggul atas bebek lain yang baru bermain di kolam berdimensi 125 CC. Kawak ini tanki besinnya di depan, jadi tidak perlu turun jok ketika mampir di SPBU. Bener-bener di depan. Kalau mau buka tutup tangki, maka sepenggal tedeng plastik di bawah lampu, akan turun. Karena plat nomer depan nempek di tedeng sepengal ini, maka plat pun ikut melorot turun. Bensin pun ditengak dari “kerongkongan” langsung. Fitur menarik, tapi tidak penting-penting amat. Malah jadi kagok.

Menyoal bentuk dari samping, sebetulnya tidak fatal. Namun ketika duduk di atas jok, baru terasa fatalnya. Panel-panel terlalu ramai, seperti lampu indikator penunjuk posisi persneling. Tiga bagian bundar di panel, penanda kecepatan, stok bensin, dan RPM, dibikin nyaris sama gede, sehingga mengokupasi ruang. Bagian anjungan, daerah tebeng hingga leher belakang, terasa gambot, sebagai kompensasi untuk tangki.

Ketika Kawak ini muncul, seingat saya-semoga betul-Suzuki masih punya jagoan Shogun. Jangan lupakan pula Supra-X dan Jupiter MX, yang desainnya sangat kawula muda. Supra-X menyempurnakan Supra, Jupiter MX menemani Jupiter Z dan memberi opsi. Kawak ZX-130 pun terkapar. Entah mengapa. Tapi saya inget, Kawak ini dulu tidak kencang promosinya. Mungkin itu juga penyebab. Mungkin.

Nah, kalau ditanya performa, ZX-130 sebenarnya tidak terlalu mengecewakan. Penulis pernah nyicip ni motor beberapa kali. Nyaman,  antep, anteng khas Kawasaki. Namun urusan tenaga, sepertinya penulis lebih memilih Supra-X.   Overall, secara desain, Kawak yang ini tidak masuk dalam selera mayoritas bikers Tanah Air.

###

Nah, yang terakhir, adalah dari pabrikan Suzi Suzuki. Dari beberapa produk yang jeblok di pasaran, penulis memilih Arashi. Ini juga bebek yang tidak bisa berenang, tapi larinya asyik. Tapi sayang kesalip mulu sama tetangga sebelah. Nah, apa itu Arashi? Teringkat celetukan seorang teman beberapa tahun silam. Nah.

Penulis ngefans berat sama Shogun’s family yang seksi. Kemunculan New Shogun 110 dan New Shogun 125, pun, masih oke. Namun mendadak, para bebek Shogun di nina-bobok-kan, seiring Arashi dilahirkan tahun 2006. Beberapa orang bilang Arashi hanya ganti baju, karena masih mencomot mesin New Shogun 125.

Desain mas Arashi sebenarnya futuristik. Namun nampaknya saat itu publik malah terkaget-kaget. Rada persis kondisinya ketika Kawak melempar ZX-130, meski Arashi masih rada “diterima”. Setidaknya Arashi tidak menggendong tangki bensin di depan. Desainnya pun tajam, dengan knalpot “tabung silinder” dipasang miring ke belakang-atas. Ah mengingatkan pada Revo yang diluncurkan dua tahun kemudian. Dari internet, dapet deh, wajah Arashi.

Nuansa sport jelas cukup didapat Arashi. Coba lihat bagian perisai depannya, dan coba diingat kira-kira mirip motor apa. Sudah ketemu? Bagus. Paham kan maksud penulis ketika berpendapat bahwa Suzi jenis ini sebetulnya pionir.  Selepas Arashi, beberapa produk sebelah yang meluncur, kan ya didesain kayak gitu.

Arashi muncul dalam dua tampang, Arashi 125 dan Arashi 125 R. Yang satu standar berkopling otomatis, satunya lagi berkopling manual. Keren, bukan? Arashi memang mencomot basis mesin Shogun, tapi penulis merasa tarikan gas Arashi lebih ringan. Enak buat balapan-pemula. Oh ya sekadar catatan, penulis baru sekali mencicip bebek sport ini. Rada lupa kesan yang tertangkap, namun masih agak teringat gasnya mudah dipelintir, dan suspensinya empuk. Khas suzi-lah.

Arashi dipensiunkan 2009, tanpa sempat mengecap kue penjualan yang manis. Setumpuk bebek yang berlompatan di era hidup Arashi, tidak memberi ruang. Desain yang futuristik meski tidak mengadopsi banyak sisi tajam-tegas, malah kurang mendapat sambutan. Arashi sebenarnya dicipta sebagai bebek yang setingkat di atas Shogun, tapi apa daya, publik terlancur cinte matek sama Shogun. Terutama model lawasnya.

Sejauh ini, khususnya di Balikpapan, penulis sangat jarang melihat Arashi berseliweran.Sedikit kesimpulan, Arashi secara performa cukup oke, namun entah mengapa gagal di pasaran. Apakah itu tentang promosi dan after sales? Ah biarkan para petinggi Suzuki yang menjawabnya. Ssst jangan salah, penulis pun termasuk fans Suzuki, karena terbukti memilih untuk memelihara Nex. Khusus terakhir ini, ntar penulis bahas di tulisan selanjutnya.

Kembali ke topik, apakah hanya empat motor ini yang terhitung jeblok di pasaran padahal oke, sepertinya tidak. Masih ada beberapa jenis bebek yang juga kurang cihui, namun empat dulu yang penulis paparkan. 

Kamis, 03 Maret 2016

SELALU ADA WAKTU UNTUK MESIN-MESINKU

Jelas merepotkan memelihara lebih dari satu kendaraan, apalagi usia kendaraan tak lagi muda. Tambah merepotkan kalau pengennya kendaraan senantiasa tampil prima dan bersih. Namun di sinilah letak keasyikannya. Selalu ada waktu untuk membersihkan dan mencucinya, juga ke bengkel.

Selalu ada waktu untuk menyalakan satu per satu mesinnya, dan selalu ada waktu untuk mengecek fungsi kelistrikan hingga membersihkan busi. Maklum besi "piaraan" sambalbawang ada juga yang berjenis skuter lansiran 1977 dan mobil keluaran 90-an.

Tidak semuanya diserahkan ke bengkel resmi. Urusan mengecek dan memompa ban, bisa dilakukan di rumah. Urusan yang remeh-temeh, tetapi cukup menghemat duit. Hitung saja jika satu kali mengisi angin Rp 2.000, dan setiap tiga minggu sekali mesti mengeraskan ban.

Itulah mengapa sambalbawang kadang heran mengapa banyak pengendara tidak memiliki pompa angin, dan "memilih" menjadi peserta rutin di kios pompa angin. Mungkin sama herannya dengan warga kompleks yang melihat saya memompa ban mobil dengan pompa angin.

Khusus motor, memang tercipta untuk masih bisa melaju dengan perawatan minim. Meski ban sudah sehalus kulit bayi, rantai kendor dan berkarat, rem kurang pakem, tarikan gas tidak lancar, bahkan lampu mati pun, pengendara masih berani keluyuran. Shock breaker keras, knalpot hampir copot, dan tanpa spion, pun, juga masih bisa dikendarai.

Namun, sambalbawangmenempatkan kenyamanan berkendara sebagai hal penting. Dengan kata lain, kondisi di atas tidak bakal terjadi. Mari penulis beritahu sedikit. Sambalbawang pernah melihat seseorang terjungkal gara-gara rantainya putus mendadak di tanjakan. Rantainya ternyata berkarat dan kendor, dan sebenarnya itu sudah disadari si empunya motor.

Apakah dengan perawatan, kendaraan dijamin tidak mogok'an? Sebenarnya tidak juga. Motor bebek sambalbawang pernah mendadak ogah berenang gegara busi mati mendadak. Skuter, apalagi. Walaupun diservis rutin, rajin minum pertalite, hingga menenggak oli yang kualitas prima, masih suka ngadat hingga mogok.

Ketika ada sesuatu yang tidak beres, entah itu lampu-lampu mati, mesin terdengar "kurang merdu", atau rem mendadak aneh rasanya saat dipijak, bergegas pula kabur ke bengkel. Apalagi jika itu terjadi pada mobil.

Tidak ada cerita tentang tentang rem yang tidak pakem. Tidak ada cerita tentang panel instrumen yang padam. Tidak ada cerita tentang kick starter yang sulit "ditendang". Tidak ada cerita kehabisan air accu (aki). Tidak akan ada cerita soal ban yang gundul.

Demi kenyamanan berkendara, tentu banyak "pengorbanan" yang hanya bisa dipahami oleh mereka para penikmat berkendara. Dan maaf, penikmat berkendara seperti sambalbawang tidak peduli dengan aksesoris tambahan yang bikin boros pengeluaran tanpa hasil signifikan.

Dulu, di zaman muda, sambalbawang pernah berkeinginan mengilapkan blok mesin peliharaan saya, motor dua tak keluaran 70-an. Dengan batu hijau (watu ijo). Caranya begini: batunya diiris sekeping, lalu dicampur dengan pengilap (cairan) Braso. Lalu gosokkan ke blok mesin, pakai kain gombal. 

Agar jelaga tidak menumpuk di dinding silinder, maka silinder wajib rutin dibuka untuk dibersihkan. Diamplas dindingnya. Knalpot juga tak ketinggalan ikut dicopot, dibakar dalamnya, lalu disodok dengan besi panjang untuk mengeluarkan jelaga yang "mengristal".

Busi Denso atau NGK selalu tersedia. Sekring cadangan pun nangkring di dalam "rumah"-nya. Motor dua tak butut yang selalu kinclong ini, pun, seakan nurut sama penulis. Tatkala hujan deras, memang sering terkentut tapi tidak macet. 

Sedan tua milik sambalbawang pun juga masih terasa nyaman. Masih pula orisinil. Tidak bisa mencapai level seperti sedan kelas premium karena memang beda kelas, namun sudah cukup oke sebagai pembawa badan kemana-mana. Masih sering ke bengkel untuk perawatan, tentu saja, ketimbang terpaksa ke bengkel gegara macet mendadak di jalan.

Rabu, 02 Maret 2016

SEPEDA BARU

Pertengahan tahun 1997. Stadion Mandala Krida Yogyakarta penuh sesak oleh kawula muda. Sambalbawang salah satunya. Tercenung menatap lembar soal yang selama beberapa jam terus dibolak-balik. Bangku beton tribun penonton ini, bukan kursi yang nyaman untuk mengisi bulatan di lembar jawaban dengan arsiran pensil.

Selesai sudah. Kami, sambalbawang dan beberapa kawan sekelas, melanjutkan obrolan dan bercanda. Menanti saat yang mendebarkan, yang mencengangkan. Sekian speaker yang ditempel seantero stadion pun berteriak mengabarkan satu demi satu manusia beruntung siang itu.

"Kira-kira gimana ni kansmu mendapat doorprize?" tanya kawan. Sambalbawang hanya mengangkat bahu, sembari memegang kertas berisi nama peserta tryout persiapan menghadapi UMPTN ini. Tertulis disitu "Dimetrio Albertoto".

Tidak ada hubungannya dengan legenda AC Milan yang namanya Dimetrio Albertini. Namanya juga cuma iseng. Iseng-iseng berhadiah.Tipis peluang menang, bahkan untuk sekedar mendapat hadiah hiburan, mengingat peserta tryout ini saja sepertinya menyentuh 3.000 kepala.

Dan, betul, saja. Satu demi satu hadiah berpindah tangan. Sampai speaker nun jauh di panggung "berteriak" saatnya memilih pemenang utama. Hadiahnya, waw, sepeda gunung. Cocok untuk mengganti sepada gunungku yang mulai tidak bersahabat.

"Kalau aku menang sepeda itu, motorku kamu bawa," ujar sambalbawang ke seorang kawan di sebelah. Dia menyeringai. Dan detik-detik menjelang siapa pelajar beruntung itu dilontarkan, aku berkata, "Sepeda itu, aku yang menang.."

"Dimetrio Albertoto !!!" suara spiker menyalak menggema. Sambalbawang terbelalak dan melongo. Memandang ke kanan ke kiri, celingukan.  "Dimetrio Albertoto !!!" teriak si MC via speaker, mengulangi. "Itu kan, nama yang tadi kamu daftarin..." kata kawan sembari menepuk pundak sambalbawang. Haaaa??

Bukan mimpi. Ini nyata. Serasa mengambang ketika sambalbawang berjalan ke arah panggung. Memadang ke arah sepeda. Beneran nih dapat sepeda? Oh Tuhan. "Ayo sepedanya dinaiki, putar-putar stadion," kata si pembawa acara.

Sejenak, sambalbawang pun berkeliling menjajal sepeda itu beberapa putaran, diiringi tatapan mata sekian orang dan sorak-sorai membahana. Ada perasaan yang aneh berkecamuk, sambalbawang tak bisa menjelaskan. Tapi ini menyenangkan. Sambalbawang tertawa kegirangan.

Sambalbawang mengayuh, meluncur pulang, beriringan bersama kawanku yang gantian naik motor butut sambalbawang. Plastik masih membungkus sepeda ini. Sekian kayuhan, aku melintasi Gereja Kotabaru. Mendadak ingin sebentar mampir. Hendak bertanya sama Tuhan, tentang kejadian barusan.

Sekian puluh menit sambalbawang bersimpuh di depan altar. Tetap tak tahu apa yang baru saja terjadi. Sampai ketika sampai di rumah, ibu menyambut. Kutumpahkan seluruh cerita padanya. "Tuhan tahu kamu perlu sepeda baru. Tuhan sayang kamu.." kata ibu.

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019

Rabu, 24 Februari 2016

DI WARUNG BAKSO -- CERPEN

Siang ini kita akhirnya bertemu, sepulang kuliah. Di sebuah warung bakso dekat kampus, tempat kesepakatan bersama dua hari lalu. "Tidak ada temanku yang tahu. Tapi kamu juga jangan bilang ke temen karibmu ya. Ini rahasia," katamu.  

Setengah jam berlalu. Canda-tawa seperlunya mengalir. Sedikit berbasa-basi. Sedikit tatap mata. Sedikit respons darimu. Sedikit perhatianmu. Sedikit kata-kata yang terlontar dari bibir kecilmu. Tanpa bertanya, tetapi hanya jawaban sekenanya. Perbincangan yang bikin gerah. Bahkan posisi duduk kita bersebelahan, bukan berhadapan. 

Dudukmu pun mulai nampak jengah. “Ada yang sebenarnya ingin kamu sampaikan?” tanyamu. Kutatap lekat matanya. “Kamu sudah bisa menebak, atau perlukah aku menegaskannya sekali lagi?" sahutku. “Sekali lagi? Maksudmu?” jawabmu dengan nada keheranan. Kamu memutar tubuhmu, sehingga berhadapan denganku.

Ah, perlukah aku ngomog lagi alasanku sering bertandang kerumahmu? Memberanikan diri datang ke rumahmu dan menjawab satu demi satu pertanyaan ibumu? Menatap rumahmu yang besar saja, aku merasa kecil. Apalagi isi rumah dan isi garasi rumahmu. Apakah kau tahu? Ah tapi sudahlah, tidak perlu juga kamu tahu. Tapi kuyakin kamu tahu jika aku tinggal di rumah kontrakan.

Jadi, membawamu sampai ke warung ini, sudah sebentuk keberhasilan bagiku. Setelah, tentu saja, sekian ajakanku yang kamu tepikan. Tapi mungkin kamu mengiyakan ajakan seorang kawan yang barusan kamu kenal. Sudahlah, aku tahu itu kok. 

“Jadi, maksudmu gimana,” katamu mencoba tersenyum. Aku tahu banget, itu adalah senyum yang dipaksakan. Tapi aku menghargainya. Masih ada sejumput kebaikan di jiwamu. Membolehkan aku menyita waktumu yang padat, dan perhatianmu yang jarang. Iya, lah, siapa juga aku. Tapi aku berhak... Berhak menyatakan rasa.

Aku menatapmu lekat-lekat. Aku suka dua bola mata yang didepannya terlindungi kaca ini. Aku suka gelombang-gelombang rambutmu yang berwarna hitam pekat. Dan aku suka tawamu yang sepertinya dititiskan ibumu padamu. Aku suka apa yang terpampang di seluruh wajahmu. Matamu, hidungmu, telingamu, pipimu, gigimu. Juga tengkukmu. Bahkan betis kakimu dan cempreng suaramu. Oh Tuhan. 

Mendadak aku ingin memegang tanganmu. Sekarang atau tidak. Dirimu sontak terkaget, namun entah mengapa, membiarkan aku mengusap-usap jemarimu. Aku memberanikan diri untuk mengusap-usap keningmu, dan mencium tanganmu. Dua-tiga menit berlalu tanpa kata.  

Beberapa detik, kata itu akhirnya terlontar dariku. Melesat pelan seperti anak panah yang enggan meninggalkan busurnya. Atau mungkin melesat lebih cepat dari kedipan mata. Jawabannya tak butuh waktu lama. Engkau menggeleng pelan. Seperti perkiraanku, memang tidak ada keajaiban menimpaku. 

Pertemuan ini pun usai. Bakso ini langsung terasa hambar, es jeruk pun mendadak terasa pahit. Jarimu tak lagi terasa halus.  "Ini rahasia kita, ya," katamu memecah kesunyian. Datar. Dunia kita jauh berbeda.  

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
PELUKAN (CERPEN)
MENGAPA HARUS NGEBLOG

Minggu, 21 Februari 2016

SIA - SIA


Sayangnya, aku masih ingat apa kostummu saat mengecat tembok kelas, 19 tahun lalu. Kaos putih identitas sekolah, celana pendek, topi bermotif loreng, dan tas selempang kecil berwarna hijau. Satu lagi, sepatu kets putih. Cakep. Aku sangat yakin dirimu perempuan terayu sedunia saat itu.

Minggu pagi ini nampaknya akan berakhir ceria. Aku punya sekian menit untuk mengobrol denganmu. Tadi malam aku sudah berdoa minta keberanian kepada Tuhan.Tapi ternyata kok tidak terjadi. Acara bersih-bersih kelas ini, tak memberi kesempatan. Belum sempat menyusun tekad, rontok lah sudah. Sekompi teman-teman merubungimu, menutup ruang gerakku. 

Rencana kedua, tentu ada. Menyerahkan sepucuk surat. Celakanya, ini pun kandas. Sepertinya hari ini semua berantakan. Empat jam selama mengecat pun mendadak menjadi acara yang sangat kubenci. Berlalu begitu saja, sampai bayangmu menghilang di balik asap knalpot motormu. Aku kalah bertaruh. Temanku tertawa tatkala traktiran tahu goreng wajib kukabulkan. 

Ah, sudahlah. Tapi, esoknya, aku kembali disulut seorang teman. “Kalau dia mau diboncengin kamu pulang sampai rumahnya, kamu boleh bawa motorku,” tantang temanku itu. Taruhan yang kedua kali ini, sulit dibendung. Iseng-iseng berhadiah, ambil saja. 

Atas kebaikan temanku itu, aku bisa meminjam motor bebeknya. Keluaran terbaru, belum genap tiga bulan dikeluarkan dari diler. Motor bututku kutitip sejenak padanya, lengkap dengan sekian panduan lisan jika nanti mesinya ngadat.

Itu jika dalam skenario aku menang. Sayangnya tidak demikian. Entah mengapa, nampaknya kamu memang sudah merancang sejak 100 tahun silam, bersiap menolak ajakanmu. “Nggak mau. Ngapain?” sahutnya dengan nada tinggi, Ah, kalah taruhan lagi.

Kukembalikan anak kunci motor ke temanku, diriingi tatap iba meski separuh mulut ingin memuntahkan tawa. “Next time better,” hiburnya, sembari menawarkan traktiran di kantin sekolah. Next better? Oke. Aku harus tahu rumahnya di mana. Besok, manuver baru, begitu tekadku.

Keesokan hari, dia tidak membawa motor dua taknya. Sedikit diluar rencana, tapi tak masalah. Seorang teman menawarkan bantuan untuk menemani, dengan perjanjian bahwa menjelang rumahnya, dia wajib “menghilang”. Deal, kami berangkat. Maksudnya menanti di tepi jalan, sebelum dia keluar sekolah..

Seiring langkah kakinya meloncat masuk ke mobil omprengan, gas pun dipelintir. Menutup wajah rapat-rapat di balik helm, agar dia tidak tahu. Mirip agen rahasia menguntit korbannya dalam film-film. Begitu dia turun dari omprengan, kami pun menepi.

Dia meloncat lagi ke dalam bus, gas kembali menyalak. Bus berlari kencang, meninggalkan raungan mesin motor butut yang memekik. Dia berganti tumpangan ke omprengan lain, kami menepi lagi. Sampai akhirnya dia berjalan menuju rumahnya.

Temanku harus “dienyahkan” dulu. Sekarang tinggal aku dan engkau. Sekarang atau tidak sama sekali. Sedetik setelah di sampai di halaman rumah, aku menyusulnya, dan langsung disambut kata-kata pedas. “Ngapain kamu nguntit aku?”.

Tak lebih 15 menit, tanpa obrolan. Hanya selaksa tatapan yang sepertinya memaksaku hengkang. Ibumu keluar membawakan teh hangat untukku. Ramah mempersilakanku, meski sembari menatap heran ke arahmu. Mulutmu masih terkunci.

Selesai. Sia-sia. 

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
MENGAPA HARUS NGEBLOG

Rabu, 17 Februari 2016

COKLAT VALENTINE - 3

Aku selalu suka pada wangi bau tubuhmu setelah mandi. Tetapi aku lebih suka senyummu yang renyah mengembang. Lebih suka lagi dengan tawa ceriamu ketika menyambut setumpuk canda dariku. Wajah tirus, rambut ikal berwarna hitam kelam, kerlingan, dan suara kecilmu itu.

Seperti itu juga yang kujumpai malam ini. Matamu berbinar cerah ketika menerima sebatang coklat dariku, yang hanya kubungkus dengan kertas kado bekas. Coklat kelas medium, yang kubeli usai mendapat honor sebagai asisten praktikum di kampus. “Eh, ibukmu jangan sampai tahu, ya,” kataku, takut-takut. Dia mengangguk.

Aku selalu suka kemari, meski itu harus mencari-cari waktu yang tepat, dan sering hanya sekelebat. Tentu saja, aku tidak ingin kawan karibmu tahu. Bukan, bukan karena dia menyukaiku. Melainkan dia, dan teman-teman sekelompok yang selalu bersama-sama seperti pasukan. Siap menertawakan apa saja yang dirasa janggal.

Mengapa coklat ini harus kuberikan kepadamu. Jadi, begini kira-kira sejumput kisahnya. Setahun lalu, usai dentang bel sekolah, ketika aku mengayuh cepat sepedaku mengejar laju sepedamu. Hari itu aku kembali mendapat sedikit “ceramah” darimu.  Aku, muda, kurus, 16 tahun, belum cukup paham mencerna kalimat darimu, yang seumuran denganku.

Tapi itu setahun lalu, bukan? Dan kini, aku masih saja mendatangimu ke rumah. Pasti, dengan tatapan menyelidik dari ibumu, yang segera lumer ketika aku membungkuk dan bersalaman. Dan tak lupa, menyapa adikmu yang ceria itu.

Oh ya, kembali ke coklat tadi, kamu bergegas menyimpannya di dalam lipatan sebuah majalah. “Bener ya, coklatnya dimakan. Jangan dibagi, itu untuk kamu. Jangan ketahuan ibumu. Malu,” kataku lagi. Dia tertawa.

Deretan gigi yang rapi dan berwarna putih, adalah satu hal lagi yang kusuka darimu. Padu-padan pakaian yang indah, melengkapi sore ini. Seperti biasa. “Aku suka dengan hal-hal sederhana,” begitu penjelasanmu.

Aku percaya. Dan coklat ini sebagai bukti, salah satu bukti untuk membenarkan hal itu. Kamu pun tahu. Kesederhanaanmu itulah yang membuatku betah duduk di depanmu hingga satu jam lebih. Satu jam lebih beberapa menit, aku harus pulang.

Aku tak ingin membuat senyummu berkerut. Juga tak ingin membuat ibumu, juga bapakmu tak lagi terkesan. Jadi, aku sudahi dulu perjumpaan ini. Perjumpaan, ya itu istilahku yang dalam bahasamu barangkali hanya “dolan sejenak”.

Oh adikmu melambai juga ke arahku. Tentu, dia mendapat lambaian juga dariku. Sekian menit dari kunjunganku, memang untuk menyapa dia. Kadang, ingin kubisikkan sesuatu ke telinga adikmu itu. “Kakakmu manis. Kakakmu baik...”

“Udah sana pulang. Nggak enak lama-lama di depan pintu,” katamu. “Coklatnya, jangan lupa dimakan. Jangan dibuang ke sampah. Janji, ya?” balasku. “Iya, janji. Aku juga nggak akan bilang kalau dapat coklat darimu,” jawabmu.

Tiga kali valentine aku memberikan coklat untukmu. Aku mendapatkan senyummu, tapi tidak dirimu. “Kau tahu sebabnya....Tidak harus memiliki, kan,” begitu katamu. “Terima kasih atas coklatnya, itu berarti bagiku...”   

BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA :
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN