Minggu, 18 Oktober 2015

BAWA KAINMU, JAHITKAN KE SAMANTHA PROJECT




        Jadi, ceritanya, begini: saya beneran mengikuti pameran. Look Pop Up Market, gitu judul pameran yang berlokasi di halaman parkir Mal Fantasy Balikpapan Baru, Balikpapan, 1-4 Oktober lalu. Seorang kawan yang dulunya wartawan, menginformasikan itu kepada saya.
       Tujuh bulan lalu, saya dan saudara bojo memulai usaha modiste dan clothing line yang kami beri judul "Samantha Project". Jadi, kabar adanya pameran langsung menjadi topik pembahasan serius berhari-hari di antara kami.




       Tidak punya properti apapun selain mesin jahit, ditambah waktu yang hanya tersisa tiga minggu, maka dimulailah hari-hari super sibuk. Merancang tempat display kain, menjahit sejumlah contoh baju dan blus, hingga meminta saran dari kanan-kiri.
       Tante dari saudara bojo ikut menyambut riang dan langsung sepakat mengirimkan tas-tas kualitas premium untuk menyemarakkan isi stan. Tempat memajang kain, berupa lemari portable yang bisa dibongkar pasang, dua rak bambu, akhirnya terkumpul. Termasuk papan kayu "Samantha Project" yang nanti dipajang di atas sepeda.





      Seorang kawan mesti dipanggil untuk ikut bolak-balik berjibaku mengusung aneka properti itu ke arena stan pada H-1. Termasuk juga waktu selesai pameran. Saudara bojo selama hampir tiga pekan memulai nge-gas dengan mesin jahit listriknya. Antara merampungkan order pesanan baju hingga membuat sejumlah baju untuk dipajang.
      Empat hari pameran yang super melelahkan, terhampar. Tentu berbeda halnya ketika tahun 2010 lalu saya mengikuti pameran sepeda onthel di Yogyakarta yang hanya tinggal menyiapkan dua sepeda dan tidak menunggui selama pameran.
     Keputusan mengambil cuti selama empat hari, memang tepat. Saudara bojo seharian berjibaku mengurusi pengunjung dan beramah-tamah, sementara saya kebagian tugas wira-wiri. Termasuk keluyuran dari stan ke stan.



      Semua berjalan lumayan "aman" sampai ketika di malam pada hari ketiga, saya diberi tahu bahwa panitia memutuskan menggelar fashion runway, peragaan busana skala kecil-kecilan. What? Nggak salah denger nih? Tapi, okelah.
     Namun yang bikin panik adalah acara itu dihelat pada esok malam, alias tinggal tersisa kurang dari sehari. Lima model cewek sudah disiapkan dan malam itu mereka menggelar gladi resik. Waduh, ini serius. Hm, baiklah. Kesempatan musti disikat, bukan?
     Singkat kata, acaranya sukses. Namun yang asyik, ini ajang pertama saudara bojo naik panggung dan sedikit cuap-cuap menjelaskan apa itu Samantha Project. Inilah kali pertama saya melihat bojo yang punya kebiasaan "demam panggung" ini, beneran berdiri di atas panggung.
    Sejumlah kain terjual, sekian order jahit berdatangan, dan setumpuk calon pelanggan yang berpotensi jadi klien, menjadi imbas yang menyenangkan dari pameran. Sepeda onthel yang ikutan dipajang pun sempat ditawar pengunjung. Aha...




    Jadi, bawa sendiri kain pilihanmu, kemudian jahitkan ke kami, Samantha Project, hadir untuk memberi perbedaan. Simpel namun menarik. Pantes lan prayogi.,, Myehehe..





     

Minggu, 27 September 2015

EVEREST

Seorang teman, dengan antusias, mengajak saya menonton film Everest. “Jarang ada film tentang pendaki gunung seperti ini. Paling, kita hanya kenal dengan dua film yang bercerita soal pendakian, yakni Cliff Hanger dan Vertical Limit,” demikian kata temen saya itu.

Baiklah, keputusan diambil yakni nonton. Kembali ke dua film sebelumnya itu, saya sih pernah menontonnya, namun sungguh lupa detil bagaimana penceritaan di situ. Maklum bukan anak mapala, sih, jadi tidak ngeh dengan film soal pendakian.

Dengan embel-embel based on true story, Everest ingin menghadirkan bagaimana alam lebih berkuasa ketimbang manusia. Everest mengangkat sekelumit kisah seorang pemandu pendakian bernama Robert Edwin Hall-diperankan Jason Clarke.

Singkatnya, seorang cowok bernama Robert alias Rob, membuka jasa pemandu pendakian bertajuk Adventure Consultan. Kliennya adalah para pendaki amatir. Meski sebenarnya bukan amatir sih karena mereka yang nekat ke Everest tentu pernah naik gunung. Jadi, singkatnya, mereka membayar Rob untuk memandu ke Everest. 

Namun pada pendakian di awal 1996 itu, musibah terjadi. Sekelompok pendaki mencoba menggapai puncak gunung itu. Satu yang saya ingat adalah Yasuko-diperankan Naoko Mori-cewek Jepang berumur 47 tahun yang sudah mendaki enam gunung tertinggi dunia. Kurang satu yang belum, yakni Everest, gunung tertinggi, 8.848 meter di atas permukaan air laut ini. 

Ada juga seorang jurnalis cowok bernama Krakauer, yang difilm ini diperankan oleh Michael Kelly.
Lalu Beck (diperankan Josh Brolin), pria paruh baya yang katanya lupa mengabari istrinya ketika hendak berangkat mendaki. Kemudian, ada tukang pos bernama Doug-diperankan John Hawkes. Kombinasi para pendaki yang menarik. 

Dari sinilah kisah bergulir. Sang sutradara berupaya membangun Everest agar tidak hanya bisa dinikmati para pendaki gunung. Saya merasa salah satunya. Mendaki gunung satu pun belum pernah, dalam arti serius beneran mendaki. Jadi, sebelum film dimulai, saya sudah ancang-ancang menebak gimana film ini.

Untuk mendaki Everest yang suhunya ekstrem dingin ini, tekad membara enggak cukup. Di sini, Rob harus mengalah menghadapi sisi keras kepala pendaki gunung, ciee. Sayangnya, Rob “terpancing” dengan ulah para kliennya ini. Misalnya ketika membantu anggota timnya untuk menapak puncak, padahal rombongan sudah turun.

Rob akhirnya terjebak dalam badai yang buruk. Yang dibantunya pun mulai berhalusinasi, seiring oksigen yang menipis. Saya jadi tahu bahwa pendaki bisa merasa kepanasan-bahkan sampai melepas jaket-jika terhantam badai nan dingin menusuk tulang. Saya juga jadi tahu bahwa tabung oksigen wajib tersedia di titik-titik tertentu.

Di penghujung film, Rob akhirnya meninggal. Badai yang tak berkesudahan menghalangi tim penyelamat untuk menemukan dirinya. Ending kisah Rob, sudah saya ketahui.  Namun yang menarik bagi saya adalah kisah Beck. Merasa tenaganya habis, Beck menuruti saran Rob untuk berhenti. Beck pun sempat dianggap sudah mati. Namun Beck yang sudah membiru-menghitam ini, “hidup” kembali dan sanggup berjalan menuju tenda.

Sebenarnya bukan film yang menurut saya luar biasa. Tapi lumayan bagus untuk menggambarkan tentang pendakian gunung kepada orang awam. Penonton diajak untuk memotret sisi emosional-psikologis para pendaki.

Dari sisi dramatisasi, Everest bisa menjadi film yang simpel. Sanggup mengerem agar tak menjelma sebagai film melankolis yang meratapi insiden tersebut. Everest bisa menanamkan kenyataan bahwa alam tidak bisa dilawan, meski oleh pendaki hebat sekalipun. Karena itu, tak semua pendaki sukses mendaki Everest.

Beck memang tidak sampai puncak, namun kembali ke rumah adalah kemenangan besar baginya. Ah, inilah intisari yang saya sukai. Tekad Beck untuk bertahan hidup dengan turun gunung, lebih besar ketimbang tekadnya menaklukkan puncak. Asik.

Kalau pun toh ada yang menganggu terkait film ini, hanya soal penontonnya. Sial, karena saya melihat seorang penonton memanggul tas ransel ala pendaki gunung. Melihat cepatnya dia berjalan ke kursi, mudah ditebak tasnya kosong...dan sepertinya baru dibeli. Ah, sampai sebegitunya.


BACA JUGA
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA
MAMMA MIA ! HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG UNYIL KUCING

Selasa, 22 September 2015

MENIKMATI HIDUP

Menikmati hidup itu boleh dibilang susah-susah gampang. Setiap orang tentu berbeda mengartikan. Penjelasannya terlampau banyak, dengan setumpuk argumen yang tak kalah rumit. Seorang teman menjawab, hidup perlu dinikmati dengan berwisata. Halaman fesbuknya penuh dengan foto selfie dirinya di tempat-tempat wisata.

Satu teman saya lagi, berpendapat, menikmati hidup dengan mengayuh sepeda. Menikmati sesuatu yang berjalan melambat. Di tengah hiruk-pikuk pekerjaan dan semua yang bergerak cepat, kita perlu melambatkan ritme. Baiklah.

Yang lain dengan mantap menjawab bahwa naik gunung patut dijajal untuk aktivitas menikmati hidup. Mendaki ramai-ramai dan berkemah. Jika sudah sampai di puncak gunung, akan terbentang semesta yang membuat manusia tampak kecil nan kerdil.

"Hei, mengapa kamu tidak memperdalam bakat musikmu?" ujar seorang kawan yang pernah saya perdengarkan lagu ciptaan saya. Musik bisa melampiaskan hasrat. Saya setuju. Namun entah pada akhirnya musik hanya saya nikmati, tidak saya mainkan.

Jika ingin menikmati hidup, lakukan apa yang kamu mau. Itu ujar satu teman lagi sembari menyeringai. Aha. Fantasi akan tubuh perempuan, memang sudah menjadi jalurnya. Menyenangkan, memang, mungkin. Namun saya ingin lebih menikmati hidup.

"Menikmati hidup itu, adalah, mari berpikir saja tentang kita. Ayo melakukan apa yang aku dan kamu inginkan, meski itu harus melepas rupiah cukup banyak. Hanya aku dan kamu," ujar istri saya, sembari menyeruput teh.

Aku mengangkat gelasku, ikut menyeruput teh. Ah, jadi begitulah menikmati hidup dari kaca mata perempuan yang menjadi bagian hidupku. Aku setuju denganmu. Mari kita bersiap dan berkemas.

Minggu, 20 September 2015

SURAT ( cerpen - 3 )

Tujuh tahun aku tidak membuka amplop yang berwarna putih ini. Isinya adalah sepucuk surat. Ya, itu surat yang kutulis tujuh tahun lalu untuk seorang teman. Ah, ya, tentu saja, dia adalah perempuan. Teman perempuan. Berkulit gelap, rambut sebahu-berponi, mata sedikit sipit, wajah tirus, dan badan yang kurus menuju ceking.

Dia tidak termasuk dalam daftar gadis-gadis modern di kampus yang berpakaian modis. Ataupun gadis idola kampus. Malah, mungkin rada jauh dari itu. Dia adalah gadis yang tampil biasa, kalem, dan seadanya. Sapuan bedak di wajahnya pun, kadang terlihat tidak rata. Dia tak terlalu suka berdandan. Namun dia menawan bagiku, setidaknya saat itu, ketika gairah muda menggelora.

Awal mengenal, kami sempat sering bertukar sapa dan canda. Namun segala sesuatu menjadi kaku setelah tiga tahun aku mengenalnya. Tepatnya, sejak aku memberanikan diri mengantarkannya pulang. Sejak itu, tawanya seakan bukan lagi untukku, meski masih ditebar seantero kampus. Senyumnya pun demikian, tidak menuju ke arahku. Cerianya pun seakan dialamatkan pada yang lain.

Tentu saja, semua pasti ada alasan dan penjelasannya. Beberapa petunjuk mulai terlacak olehku. Seseorang, lelaki berperawakan tinggi yang jika ke kampus menyemplak motor keluaran terbaru, terpantau sebagai pihak yang paling sering mendapat perhatiannya. Aku tidak terlalu kenal dengan lelaki itu, meski kampus kami hanya saling berseberangan. Saya hanya tahu namanya. Namun kami pernah bertemu di lorong kampus dan hanya bertegur sapa. "Hei.,,".

Itu saja. Garing, memang. Namun formula garing itulah yang paling tepat kuracik untuk memberi bumbu bagaimana kisah segitiga ini terjalin. Ups, maaf,  bukan kisah segitiga sih, sebenarnya, karena lebih tepatnya kisah cinta searah seperti jalan tol yang tidak ada putar baliknya. Namun istilah "garing" inilah yang kurasa tepat untuk membingkai sekian peristiwa selama aku mengenal mereka.
 
Satu hal yang kuhindari adalah melihat dia bersama dengan temen perempuan pujaan hatiku ini. Namun tampaknya harapan tak sesuai realitas. Aku malah sering menjumpai mereka, sedang berdua. Apakah sulit melihatnya? Tidak juga sih. Hanya saja, yang tersulit itu membalas lambaian tangan mereka. Dan kalau sudah begitu, aku hanya bisa menggerutu. "Ngapain pula aku lewat jalan ini?"

Namun dari semua peristiwa, tidak semuanya garing, kok. Ada juga kisah yang bisa membuatku tersenyum meski bukan senyum ikhlas. Aku pernah dikirimi kartu ucapan selamat tahun baru, meski itu karena mungkin aku mengirimnya duluan. Aku pernah duduk berdua di ruang tamu rumahnya, walau itu lebih sebatas aku mengembalikan buku catatannya.

Tapi agaknya aku paling ingat saat-saat dia membiarkanku membelai rambutnya. Tubuhku basah kuyup waktu itu, karena nekat menerobos hujan datang ke rumahnya. Mantel yang sudah bertahun-tahun kupakai, mulai sobek di sana-sini, sehingga tak kuasa lagi menahan terjangan air.

Aku membelai rambutnya, dengan jari-jemari tangan yang mengkerut dan gigi yang menggeletuk, saking dinginnya malam itu dan derasnya hujan. Dia membiarkanku melakukan itu, namun tak lebih semenit. Sebelum tangannya memegang tanganku dan menurunkannya. "Kau tahu, aku tidak bisa...." ucapmu. Aku mencoba membelai keningmu, tapi kamu sudah menarik tubuh ke belakang.

Suara kakakmu dari dalam rumah mengerem langkahku. Aku kecewa. Aku pun tak ingat lagi apa perkataanmu setelah kalimat itu. Aku terlalu kedinginan karena menerabas hujan deras sejauh 15 km dengan motor bututku. Aku memilih pulang, dan tak mau melihat lagi tatapanmu. Kurasa engkau juga tidak tahu kalau aku meraung menangis di sepanjang perjalanan pulang.

Malam itu pula, aku memutuskan mengurungkan menyerahkan amplop ini kepadamu. Tak perlu kukatakan apa isi amplop itu, meski kamu pun mungkin juga tak bisa 100 persen menebak apa yang kutulis. Tapi baiklah jika pada suatu saat nanti kamu memaksaku untuk mengatakannya.

Meski begitu,aku tidak yakin kamu akan memintaku untuk mengatakannya. Karena toh kamu juga tidak tahu bahwa aku menulis surat ini untukmu, bukan? Cukuplah beberapa suratku yang kulayangkan untukmu. Tak perlu ditambahi lagi oleh satu surat ini.

Hm, baiklah, sekarang, tujuh tahun sejak aku memasukkan surat ke dalam amplop ini, aku akan membacakannya untukmu. Semoga, yah, semoga saja, angin malam yang dingin, dan hujan rintik di luar sana, bisa membawa gema suaraku ke telingamu.

Perlahan, aku merobek sisi samping amplop ini dan mengeluarkan selembar kertas dari dalamnya. Sudah agak lusuh, tapi lipatannya masih cukup rapi. Perlahan aku membaca surat itu, sembari menyeruput teh tubruk, dan duduk di teras rumah. Tak ada yang terucap. Surat ini tak mencantumkan barang satu huruf pun maupun goresan tinta.

Butuh lima menit aku "membaca" surat yang tak ada isinya itu. Sekian helaan nafas disertai tegukan teh hangat yang melapangkan tenggorokan. Memang tiada pesan yang ingin aku sampaikan kepadamu melalui surat itu, beberapa tahun lalu. Sekian surat yang kusampaikan padamu, sudah cukup bercerita, bukan?

Kamis, 20 Agustus 2015

30 LAGU BARAT TERBAIK SEPANJANG MASA

Setelah mencoba mengurutkan mana saja motor-motor terbaik versi sendiri, ehem, sekarang giliran tema lainnya saya luncurkan. Apa itu? Cuma lagu saja, kok. Biar gampang, maka, untuk edisi pertama tulisan ini, hehe, saya batasi dulu hanya pada lagu-lagu barat.

Ngemeng-ngemeng soal lagu, mana saja yang bagus, jelas mengarah soal selera. Karena memang sudah ditakdirkan demikian, pilihan lagu maupun genre musik yan paling "ter...", menjadi sangat subyektif. Belum tentu saya sepaham sama yang lain.

Jadi, di sini saya membatasi lagu terbaik hanya 30 lagu saja. Enggak perlu banyak-banyak karena makin susah memilih dan mengurutkan. Kriterianya simpel saja, yakni lagu itu tak lekang dimakan waktu, easy listening tapi bukan lagu murahan. Dan tentu saja, lagunya dikenal oleh banyak orang.

Ada 30 lagu yang saya anggap terbaik, dari genre rock dan pop, juga campuran keduanya. Dimulai dari nomer urut 30 ya, lalu menuju ke nomer 1 sebagai lagu terbaik sepanjang masa pilihan saya.

30. Wherever I May Roam (Metallica)
29. Teenage Senorita (Teddy Randazzo)
28. Sweet Child O'Mine (Guns N Roses)
27. How Do You Do (Roxette)
26. Ode To My Family (Cranberries)
25. Making Love Out Of Nothing At All (Air Supply)
24. The Man Who Sold The World (Nirvana)
23. November Rain (Guns N Roses)
22. Nikita (Elton John)
21. Heal The World (Michael Jackson)
20. Smells Like Teen Spirit (Nirvana)
19. In These Arms (Bon Jovi)
18. Just As I Am (Air Supply)
17. If It Wasn't For The Night (ABBA)
16. Even The Night Are Better (Air Supply)
15. Imagine (John Lennon)
14. Hasta Manana (ABBA)
13. And Your Bird Can Sing (The Beatles)
12. One (Metallica)
11. Let It Be (The Beatles)
10. Love of My Life (Queen)
09. If I fell (The Beatles)
08. The Ballad of John and Yoko (The Beatles)
07. A Kind of Magic (Queen)
06. Hasta Manana (ABBA)
05. La Isla Bonita (Madona)
04. Something (The Beatles)
03. Dancing Queen (ABBA).
02. I want To Break Free (Queen).
01. Bohemian Rhapsody (Queen).

Selesai. Jadi begitulah, 30 lagu barat terbaik pilihan saya. Kalau ada yang tidak cocok, ya muaap, kan selera orang berbeda, seperti sudah dipaparkan di atas. Hoho. Tapi yakinlah, milih 30 lagu itu saja, juga sulit. Maklum ada ratusan kandidat. Oh ya satu lagi, mungkin saja 30 lagu di atas ini besok bisa berubah.
Jadi, jangan ke mana-mana. Tetap pantengin sambalbawangkangadi.

BACA JUGA

LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
MAMA by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
HANACARAKA AKSARA JAWA YANG INDAH
BASA JAWA (3) DARI MECUCU SAMPAI NYANDRA

Selasa, 04 Agustus 2015

TEMPE BACEM BU DINI

Bu Dini, begitu sambalbawang memanggilnya. Perempuan berumur 60-an tahun, berperawakan kecil, keriput di wajah dan sapaan yang hangat. Dia penjual tempe - tahu bacem terenak di muka bumi ini, setidaknya itu pendapat saya dulu. Menu andalannya, tempe bacem.

Hampir tiap pagi, sebelum ngacir ke sekolah, sambalbawang rutin menyambangi Bu Dini, yang warung jualannya hanya warung tempel-beratap seng yang nempel di tembok Alun-Alun Selatan, Yogyakarta. Bersama suaminya dia mengelola usaha tersebut.

Bisa dibilang sambalbawang-lah peserta rutin di warungnya kala pagi. Tempe bacem Bu Dini yang paling saya suka, dan itulah yang sering sambalbawang beli. Tentu dengan instruksi orang tua dan rupiahnya. Cukup berlari 15-20 detik, sudah sampai di warungnya.

Bu Dini tidak membuka warung makan, karena hanya berjualan di tempat. Sebuah wajan berukuran besar menjadi alat masak Bu Dini, dan bangku kayu kecil (dingklik) yang sudah kucel, menjadi tempat duduk khusus buat saya untuk menunggu Bu Dini menggoreng tempe bacemnya.

Tempe bacemnya sangat lezat. Diangkat dari panci usai dibacem saya sudah bikin saya berkejab-kejab, Apalagi ketika mulai diluncurkan ke wajan berisi minyak goreng mendidih. Bau harum menyeruak, menguar, membuat saya tak sabar.

Bu Dini paham kalau sambalbawang suka tempe bacem. Karena itu dia sering memberi bonus tempe bacem ke saya. Biasanya tempe bacem yang bocel, yang bentuknya tidak sempurna akibat proses membacem berjam-jam. Tapi tak masalah, yang penting enak.

Bonus tempe bacem itu, tentu saja tak masuk hitungan yang dibawa pulang kerumah, karena pasti sambalbawang habiskan di TKP. Bu Dini meletakkan tempe bacem itu di atas piring blek (seng) kecil, Dan sambalbawang biasanya duduk di bangku kayu kecil, persis dekat wajan, menunggu tempe matang.

Biasanya tempe bonus ini diberikan kalau saya harus menunggu beberapa kloter penggorengan. Maklum, tempe bacem Bu Dini sudah kesohor enaknya. Jika kebetulan sedang kehabisan, Bu Dini seperinya tidak sampai hati mengatakan.

Ibu sangat paham level kegemaran sambalbawang akan tempe bacem. Artinya, menyuruh membeli tempe bacem, bukan sesuatu yang sulit. Sering sambalbawangb bahkan sudah meloncat lari, sebelum ibu membuka dompet. Dan uang disusulkan belakangan ke Bu Dini.

Oh ya satu tempe bacem ini harganya Rp 25. Murah bukan? Tentu saja, lha wong itu harga tahun 1985-an. Ibarat kecanduan, saya tidak berenergi jika tidak menyantap tempe bacem Bu Dini. Bau harum bacemannya itu saja sudah bikin saya tergaga-gaga, dan mengangkat hidung. Endus-endus.

Saking ngefansnya sama tempe bacem Bu Dini, sambalbawang pernah sampai tidak masuk sekolah. Atau tepatnya pulang pagi. Ceritanya, saya menghabiskan 10 tempe bacem. Alhasil, belum genap sejam di sekolah, jadi terserang diare. Ibu pun menceritakan ke para guru tentang 10 tempe bacem itu yang semuanya sambalbawang makan. Betapa malunya...

Tempe bacem Bu Dini menemani sepanjang sambalawang duduk di bangku SD, minus 1,5 tahun ketika saya meneruskan sekolah ke Ambon. Selepas SD, atau sewaktu SMP, sambalbawang sudah tidak menjumpai lagi warung Bu Dini. Tak ada yang bisa menjelaskan ke mana Bu Dini pergi, atau pindah ke mana warung kecilnya itu. Ah.

Warungnya kembali menjadi  padang ilalang seluas 60-an meter persegi. Lalu ketika duduk di bangku SMA, lahan itu sudah ditumbuhi rumah. Beberapa kali melintasi gang di depan lokasi itu, sambalbawang membayangkan aktivitas pagi 30-an tahun silam.

Di sana, yah, di dingklik kayu itu, pernah ada seorang pria kecil, yang saban pagi duduk. Bermenit-menit, menunggu tempe bacem selesai digoreng. Dan kadang juga diselingi nasehat dari Bu Dini bahwa sambalbawang mesti rajin belajar. Ah (lagi)..

Sampai sekarang sambalbawang belum menemukan tempe bacem seenak tempe bacem Bu Dini itu...

BACA JUGA

MUSIK ZAMAN DAHULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS?
KOKORO NO TOMO
10 BREGADA KERATON YOGYAKARTA YANG KEREN
TEH VS KOPI
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019

Jumat, 24 Juli 2015

GENERASI BAHAGIA


       Setiap generasi pasti punya pengalaman yang hepi-hepi. Banyak orang sudah menuliskan versi bahagia generasi mereka masing-masing, baik itu mereka yang lahir di era 70, 80, hingga 90. Jadi, boleh juga dong saya ikut-ikutan, hehe. 
     Kami adalah bagian dari generasi bahagia yang lahir menjelang tahun 1980. Kamilah mungkin generasi terakhir yang berangkat dan pulang sekolah dengan cerita, tak terbebani pelajaran, meski pekerjaan rumah ya tetap ada. Untunglah, tidak sampai dalam level overdosis yang membelenggu acara bermain.
      Kami generasi terakhir yang masih menjumpai tanah lapang dan sering menyambanginya. Kamilah juga sering sengaja keluar rumah hanya untuk berhujan-hujan bersama teman-teman. "Pasukan" bermain kami cukup komplet, karena tidak ada yang ikut les. Sore hari itu, kalau nggak bermain, ya bermain.
      Sepertinya, kami generasi terakhir yang menguasai banyak permainan tradisional. Kamilah mungkin generasi terakhir yang hapal dan tahu banyak soal lagu anak-anak, rutin mendengarkan sandiwara radio, dan mengoleksi kaset Sanggar Cerita.
      Kami juga generasi terakhir yang (dipaksa) harus tertib sebelum menonton TV. Harus mandi dulu, lalu sisiran, duduk manis, dan masih ditambahi aturan agar tidak ribut. Jarak TV dan posisi duduk setidaknya 3 meter. Lucu juga sih, karena hanya untuk nonton TV layar 14 inchi saja, kami harus begitu. 
     Oh iya, kami juga generasi terakhir yang pernah meneriaki helikopter untuk meminta koran. Aneh, bukan? Meski ketika gede, saya semakin sangsi, apakah suara saya waktu itu terdengar sampai kabin helikopter. Setidaknya kami, atau segelintir secuil dari kami, pernah melakukan itu.  
      Kami generasi yang masih dibolehkan menikmati sinar matahari, debu, sungai, dan lumpur, sampai kulit menghitam (bisa dilihat dari foto-foto kami). Dan mungkin karena itulah kami "tangguh" saat upacara bendera, seterik apapun, pantang "tumbang".
       Kami sepertinya generasi terakhir yang masih merasakan asyiknya berkirim surat kepada sang pujaan hati. Memakai kertas yang wangi, tentu saja. Juga berkirim salam pesan ke stasiun radio agar diputarkan lagu tertentu. Karena itulah, kami terlatih antre, karena itulah "sesi latihan" kami di depan telepon umum.
       Kami pula generasi terakhir yang masih merasakan hukuman dari guru yakni berdiri di depan kelas, menghadap tembok, dengan satu kaki diangkat. Sepertinya, dan bisa jadi, karena itulah, kami hapal nama dan wajah menteri kabinet pembangunan IV.
       Dan kami generasi yang tahu apa itu "mencongak" dan terlatih untuk tidak kagetan. Kami pula yang pertama kali terkagum-kagum dengan kehadiran penghapus tinta pena berupa cairan putih yang ternyata belakangan bernama tipex. Oh ya, kami pula generasi terakhir yang masih memakai mesin ketik untuk mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. 
     Buku tulis kami juga mengasyikkan. Bergambar bintang film di sampul depannya, dan jadwal pelajaran di sampul belakangnya.
Saya dan semua teman-teman, juga punya diari, dengan kunci gembok sederhana. Diari itu akan berputar seantero teman-teman, dan bisa menjadi memori 25 tahun kemudian. 
    Kami generasi yang menikmati serunya bermain ding-dong di pusat perbelanjaan, juga generasi pertama (anak-anak) penikmat game watch (gembot), video kaset Betamax, hingga game-game legendaris seperti Mario Bross, Tetris, dan Street Figter.
       Kami generasi pertama yang melintasi teknologi yang cepat, baik itu era komputer, gadget, TV, ataupun player. Kami yang pertama menikmati tayangan parabola, dan merasakan satu RT dilayani hanya dengan satu parabola. Kami juga menikmati pergantian era telepon koin ke telepon kartu, hingga pager. 
      Kami belajar "menaklukkan" program bintang kata-kata a.k.a Wordstar. Juga generasi pengoleksi disket di dalam tas. Kami mulai mencoba “nakal” via chatting di dunia maya saat MIRC hadir. Kami juga generasi pertama yang patungan untuk menyewa internet di warnet. Karena itu kami memandang kehadiran modem sebagai "keajaiban" hahaha.  
       Kami generasi yang hidup di era keemasan musik yang nampaknya sulit untuk terulang. Dari Metallica, GNR, Bonjovi, Roxette, White Lion, MLTR, hingga Nirvana. Dari Trio Libels, Kla Project, Slank, Dewa, Gigi, Sheila, hingga Padi. 
    Kami barangkali adalah generasi terakhir yang mungkin masih (diharuskan) untuk membukakan pintu gerbang untuk guru. Juga sesekali mengelap sepeda mereka. Dan kami pula generasi terakhir yang masih memijat orang tua saat mereka kecapaian. 
     


    Kami menikmati era kami, era di mana urusan sekolah dan tugas sekolah jangan sampai mengorbankan waktu bermain dan kumpul bareng temen-temen. Tidak ada, atau sangat jarang, ada yang berani membolos bermain kelereng, hanya karena demi les, atau bahkan ulangan esok harinya.
      Tapi kami juga generasi yang sedih karena banyak hal. Salah satunya adalah, kami mungkin generasi terakhir yang bisa berbahasa daerah dengan cukup benar. Tapi sayangnya, melakukan "kesalahan fatal" ketika tak mewariskan itu, ke adik-adik kami.
    Ah...