Rabu, 15 November 2017

BUFFON MENANGIS, ITALIA "KIAMAT", PIALA DUNIA 2018 (MUNGKIN) CEMPLANG

Sepak bola Italia seakan kiamat tahun 1990 lalu, tatkala pesta akbar empat tahunan Piala Dunia dihelat di negeri pizza itu mencapai babak semifinal. Italia harus takluk atas Argentina lewat adu penalti. Padahal saat itu Italia tim bertabur bintang. Benar, ada Maradona di Argentina. Tapi ada Baresi, Roberto Baggio, Carlo Ancelotti, sampai Walter Zenga, di Italia.

Namun ternyata Italia lebih “kiamat” lagi nasibnya di Piala Dunia 1994 Amerika Serikat. Kembali “hantu” adu penalti memupus mimpi Italia di babak final. Sang bintang, Roberto Baggio, seakan menjadi tertuduh tunggal, lantaran sepakannya jauh terbang tinggi di atas mistar gawang tim Brasil yang dijaga Taffarel. 

Di kedua piala dunia itu, tim Italia dan juga sepak bola Italia lagi bagus-bagusnya. Setidaknya siaran langsung liga-nya yang menyita perhatian dunia, jadi parameter termudah bagi penggila bola yang haus akan tontontan. Tetapi, Italia memang belum beruntung.

Kiamat sepertinya sudah menyingkir dari “Gli Azzuri” ketika trophy Piala Dunia 2006 digenggam, usai membekap Perancis. Hebatnya, Italia menang di babak tos-tosan dengan skor 5-3. David Trezeguet, eksekutor keempat Perancis, gagal. Sedangkan lima algojo Italia, sukses, yakni Pirlo, Materazzi, De Rossi, Del Piero, dan Grosso.

Dua Piala Dunia selanjutnya, 2010 dan 2014, Italia tidak banyak berbicara. Sampai tibalah pada babak playoff Piala Dunia 2018. Dan di sinilah kiamat Italia yang (mungkin) sebenarnya. Tepatnya, sepak bola Italia kiamat lagi setelah 50 tahun lalu juga kiamat. Italia, pada Piala Dunia 1958 di Swedia, juga absen.

Hanya saja, cerita kiamatnya Gli Azzuri kali ini lebih tragis rasanya. Kalah oleh Swedia yang bahkan sudah ditinggalkan sang bintang Ibrahimovic lantaran pensiun. Leg pertama Italia takluk 0-1 di Swedia. Leg kedua, skor kaca mata 0-0 di Italia. Benar Swedia kalah kelas, tapi menang permainan.

Menonton laga Swedia versus Italia seperti makan kacang garing yang tidak asin rasanya. Tidak menggigit serangan italia. Swedia yang bahkan beberapa kali membuat degup jantung fans Italia tak karuan. Mungkin Pirlo yang nonton laga itu, akan membanting gelas. Mungkin Pirlo agak menyesal karena barusan memilih pensiun.

Tak ada jendral di lapangan tengah yang mengoordinir permainan timnas negara asal Vespa dan Fiat ini. Italia era 90-an punya Baggio. Sesudah itu ada Pirlo. Sesudah Pirlo,  yang membawa Italia merengkuh jawara dunia 2006 serta finalis Piala Eropa 2012, tak ada yang menggantikan.

Hanya tersisa satu pemain berkharisma di skuat Italia. Dia adalah Gianluigi Buffon, yang jadi opsi utama di bawah mistar gawang Italia sejak tahun 1999. Gigi—panggilannya---kini berusia 39 tahun. Piala Dunia 2018 mestinya menjadi Piala Dunia keenamnya dan akhir kariernya tapi sayang rekor itu tak jadi terpatri.

Siapapun yang menyaksikan laga, pasti sepakat, kegagalan Italia bukan salah Buffon sang kapten tim. Bahkan, mungkin hanya dia saja pemain Italia di atas lapangan Stadion San Siro yang tampil bagus. Tak ada yang menyalahkan Buffon atas penampilan monoton nan menjemukan yang disajikan para pemain Italia.

Wajar ketika Buffon menangis di akhir laga. Kiper Juventus ini tentu tidak menangisi pensiunnya tapi absennya Italia di Rusia tahun depan. Seiring tangisan Buffon, penggila bola pun melongo, seakan tak percaya Italia absen tahun depan di Rusia.

"Lalu siapa yang akan mengalahkan Jerman,” kata seorang kawan yang yakin banget hanya Italia yang sanggup mengimbangi bahkan mengandaskan Jerman. 

Tapi pertanyaan besarnya, adalah Piala Dunia 2018 bakalan cemplang jika Italia tidak berpartisipasi. Masih agak gampang membayangkan Belanda yang absen. Tapi membayangkan Italia tidak masuk putaran final di Rusia nanti, tidak mudah. Baggio pun mungkin juga masih tak percaya. Bahkan juga Maradona.

Sang pelatih, Gian Piero Ventura, jadi kambing hitamnya. Permintaan maafnya, pun, tak cukup bagi publik Italia. Dia pelatih pertama Italia yang barangkali masih akan dihujat sampai bertahun-tahun ke depan. Pelatih tanpa prestasi di level atas, karena prestasi terbesarnya “hanya” membawa Lecce juara Serie-C1, kompetisi kasta lapis ketiga Italia.

Satu-satunya hal positif dari kegagalan Italia adalah, kita akan melihat Italia yang jauh berbeda, mungkin 2-3 tahun lagi. Permainan catenaccio alias gerendel andalan Italia yang terlihat “porak-poranda” di era Ventura, bisa jadi akan kembali dimunculkan. Tapi bisa juga Italia menjelma menjadi tim yang offensif nan efektif seperti Jerman. Bukankah pengalaman adalah guru paling berharga. Apalagi kalau pengalamannya termasuk pahit.

Italia tak pernah kekurangan talenta. Italia hanya kekurangan jenderal lapangan tengah yang kharismatik dan jadi panutan. Buffon barangkali bisa melakukan itu jika ia adalah seorang gelandang. Jika saya adalah pelatih Italia, dan bisa membawa Italia masuk putaran Piala Dunia 2022, Buffon harus masuk tim. Meski ia harus berstatus sebagai kiper ketiga. Setuju, kan?



foto mencomot dari internet...   

Baca juga :
Mencari Trio Belanda, Belum Ketemu
ENGGAK PERNAH BISA TIKI TAKA
KILAUMU BAGAIKAN MUTIARA
AKU DI BELAKANGMU, TIGER WONG
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN

Selasa, 14 November 2017

TRESNAMU NGUNGKULI TRESNANE


Sliraku ijih eling, Nimas, nalika sliramu uluk pitakonan sing uwis kapendem ning jroning atimu. Luh netes saka netramu. Sajak abot, anggonmu nata swara. Sliraku mangerteni.Saiki utawa mengko, kabeh kuwi bakal kedadeyan.

Ora ana sing kepenak, kahananku uga kahananmu. Nanging temtu kudu dilakoni kanthi semeleh amarga pancen kuwi sing paling becik, wektu iku. “Urip katon ora nyenengake, kangmas. Sliraku ora bisa gathuk karo liyane kejaba sliramu,” gunemmu kanthi mbrambangi.

Tak jaluk pangapuramu, Nimas. Sliraku uga ora kuwasa nadhang tresna marang liyane. Mbokmenawa kuwi pancen uwis ginaris lan ra orane bisa diendhani. Tresna iki ora bisa dijabarke kudu piye, utawa kudu karo sapa anggonku nyelehke ati. 

Nalika rasa tresna ini kadung temancep ning sawijining kenya sing ijih pernah sedulurmu, kuwi uga uwis ginaris. Arepa diwalik-jungkir, sing tak impi-impi tetap dudu sliramu, Nimas. Sanajan sliraku tekan saiki yo durung entuk slirane.

Sliraku tampa kahanan sing ora bisa miturut panjalukku. Semana uga sliramu, Nimas. Amarga kuwi, sliraku njaluk kanthi temenan, sliramu mesthi bisa nampa kahanan. Sliraku sarujuk, kahanan iki durung ana jabar-jereng rampunge kepiye. 

Sliraku mung bisa meneng, lan ngematke, semana uga sliramu. Atiku lara keranta-ranta, semana uga atimu. Wengi iki sliramu kepethuk sliraku. Sliraku ora bisa natap netramu sing bening kuwi metu luh’e. Tresnamu, Nimas, ngungkuli tresnane.

Jumat, 27 Oktober 2017

BERCERMINLAH, BERKACALAH (SEDIKIT), KAWAN

Entah mengapa, bunyi pesan masuk di ponselku yang sudah disetel volume lirih ini masih terdengar oleh telinga. Menyiagakan ragaku yang terbenam sekian jam dalam luapan tidur dan mimpi yang menyenangkan .

“Coba lihat status fesbukku,” begitu kalimat SMS di layar ponselku, yang diakhiri tanda seru dan emoticon orang tertawa renyah. Ah, ngapain juga buka fesbuk sepagi ini, gerutuku sambil melirik jam dinding yang jelas menunjuk angka 6.

Aku pun kembali terlelap dan mendengkur. Meski dua jam kemudian terbangun dan segera meloncat menyambar motor. Dan kembali menjalankan rutinitis, berkeliaran di jalanan. Jaket butut, sepatu buluk, tas sobek, dan topi kumal.

Sampai ketika malam hendak berganti pagi, baru kuingat pesan itu. Dengan malas kubuka media sosial yang entah mengapa tidak pernah membuatku tertarik untuk eksis. Berubah apanya sih temanku satu itu.

Dan aku mendadak tercekat kala membaca status fesbukmu itu, kawan. Seperti bukan kawanku yang menuliskannya. Segera ku menuju kotak percakapan dan menuliskan “Kamu berubah?”.

Tak lebih semenit, kamu langsung membalas panjang lebar yang inti omonganmu pun aku sudah tak paham. “Kamu paham enggak, sih? Mau jadi lebih baik, enggak, sih?” tanyamu di kotak chatting-an fesbuk.

Tak sadar kuketik kalimat ini. “Kamu aja tersesat, gimana bisa membuat aku lebih baik?”, dan kukirimkan kepadamu. Kamu pun membalas membabi-buta dengan sejuta kalimat pembenaran. 

Sepertinya mencari tanda silang di ujung layar komputer ini akan membuat nyaman. Klik, saja. Mau tidur. Besok pagi aku mau ke toko, membeli cermin ukuran cukup besar, yang akan kuhadiahkan untukmu, kawan. Untuk bercermin, sejenak saja.

BACA JUGA
JADI "GURU" DADAKAN DI PERBATASAN

Minggu, 08 Oktober 2017

GEK 'NDANG MILI

Lingsir wengi, kudu tangi..
Nuju turu, kudu ngisi..
Mbendina ngene, kapan prei..

banyu banyu mbok mili'ya..
jo nggawe kabeh rekasa..
tangga teparo dipekso ronda..

mata dijereng nganti kejenggit
lambe komat-kamit
nungga-nunggu banyu, ra wedi dhemit

duh, aduh, Pangeran
tobat encit tenanan
koyo ngene kahanan

ngenteni banyu koyo dolanan delik'an..
lena sithik, tandon ra keduman..
mantheng sewengi, banyu ra sowan..

nunggoni suara mancur..
krungune endah koyo tekukur..
selak awak ajur mumur..

BACA JUGA ARTIKEL LAIN:
MAMMA MIA ! FILM MUSIKAL FULL LAGU ABBA


Sabtu, 23 September 2017

AVANZA vs WULING vs XPANDER


Tahun ini, si kembar Avanza dan Xenia memulai pertarungan sesungguhnya seiring masuknya Wuling Confero dan Mitsubishi Xpander. Sejak tahun 2003 atau 14 tahun bertahta di nomor satu kategori MPV 7 kursi, wajar saja kalau si kembar tentu bikin gerah pabrikan-pabrikan sebelah.


Pertanyaannya, adalah, mampukah Avanza dan Xenia tergusur? atau setidaknya terganggu? Jawabannya adalah bisa, meski itu butuh waktu nan panjang. Masih inget sama Nokia yang jadi raja ponsel sejak era 90 sampai menjelang 2008? Akhirnya tumbang jua. Nokia dengan Symbiannya, terempas dengan cepat gegara android. Siapa yang dulu menyangka hal ini.

Avanza dan saudara kembarnya, Xenia, ini, hadir pertama kali tahun 2003 dan langsung mengguncang. Saat itu dunia permobilan Tanah Air memang tidak punya jenis kendaraan MPV 7 seat yang bentuknya rada ramping. AvXen muncul di saat tepat.

Barangkali, hanya ada Isuzu Panther dan Kijang Kapsul, yang dapat dimunculkan sebagai opsi mobil keluarga dengan mesin di depan. Suzuki dengan seabrek keluarga Carry-nya dan Mitsubishi dengan T-120 SS nya, juga opsi. Tapi jelas beda segmen.

Avanza dan Xenia adalah gebrakan yang dirancang matang. Mengawali tren mobil keluarga jenis MPV yang "fleksibel". Juga solusi atas kondisi ekonomi. Saat muncul AvXen ini termasuk murah lho untuk ukuran mobil baru. Terbuki dua sejoli ini kelamaan bertahta sebagai mobil terlaris yang dimiliki sejuta umat. Di sini senang di sana senang, di mana-mana hatiku senang. Eh, di mana-mana ada Avansa Xenia.

Ertiga yang coba menggoyang 8 tahun kemudian, termasuk rada telat. Ertiga ternyata sampai tahun ini, belum kunjung menyundul. Chevrolet Spin, giliran muncul kemudian. Tapi pabrik yang bikin Spin, di Bekasi, pun ternyata tutup, setelah dua tahun buka. Sebagian orang kecewa.

Keinginan sambalbawang melihat Spin merangsek klasemen atas, pupus sudah. Spin pun harus rela menemani Ertiga, sama-sama (rutin) di belakang AvXen dalam penjualan. Pasca-Spin dan Ertiga, Mobilio yang lalu nongol. Mobilio bikinan Honda ini, ternyata juga masih belum bisa nyundul maksimal.

Pertengahan tahun ini, muncul Xpander dan Confero. Mereka yang sudah bosen AvXen bersorak. Hore ada pilihan lain. Tapi, bisa apa ya, keduanya menghadang AvXen? Antara ragu, penasaran, pesimis, optimis. 

Xpander dan Confero nampaknya mesti mengenal pasar Indonesia yang unik. Coba kita tengok ke belakang, mengapa Ertiga dan Spin belum bisa menggusur AvXen. Alasannya simpel. Karena Ertiga dan Spin tidak (dianggap) banyak memberi apa yang diinginkan pasar (dibaca : orang Indonesia yang ingin membeli mobil 7 kursi penumpang).

Gampangnya gini. Asal mau persis, AvXen bisa ditandingi para kompetitor. AvXen menang karena "mengenal" jalanan dan aspal. Maka dari itu, masukkan juga faktor kondisi jalan. Dan gimana cerewetnya orang kita untuk urusan mobil. Pasar ingin mobil MPV 7 seat yang ground clearance (jarak terendah ke tanah) cukup tinggi, kuat di tanjakan, ukuran cukup mungil, bentuk oke, easy driving, dan ruang kabin lega.

Kompetitor mesti ngalahkan AvXen di situ. Iya, di situ. Bikin ground clearance lebih tinggi, jadi satu syarat utama. Kabin wajib lega, dan ruang belakang mesti bisa untuk muat 4 galon air. Jangan sepelekan ini. Sayangnya, ini yang tidak dilakukan oleh Ertiga, Mobilio, dan bahkan Spin sekalipun. Keempatnya malah lebih panjang dan lebih lebar dari duo kembar Toyota-Daihatsu.

Kedua, tanjakan butuh mobil penggerak roda belakang. Ini seperti kuat mana, narik (penggerak roda depan) dengan mendorong (penggerak depan). Ertiga, Spin, Mobilio malah berpenggerak roda depan.Tidak salah sih. Penggerak depan toh punya sisi plus, seperti lincah bermanuver, irit BBM, hingga kenyamanan. Sambalbawang mengamini itu.

Tapi, orang Indonesia pingin mobil yang seperti AvXen, sebab kadung jatuh cinta. Penggerak roda belakang, lebih tahan banting. Maklum, sebab, kondisi jalan kita masih gini. Banyak masih ancur kayak kulit jerawatan. Coba deh menjelajah jalanan Kalimantan. Penggerak roda depan, bisa terancam remuk. 

Hal lain, orang kita ingin mobil yang servisnya nyaman. Kesampingkan suku cadang ya dan purnajual, karena kalau hanya itu parameter, AvXen menang telak. Servis, penting. Penampilan dan pelayanan, Toyota-Daihatu, sejauh ini, unggul.

Okelah pabrikan lain juga bisa menyamai. Tapi butuh waktu. Ertiga sudah 6 tahun. Tambah Mobilio, dan Spin. Belum juga menggeser AvXen, terutama si-Av. Terbukti kan, teori sambalbawang. Penggerak roda depan dan ground clearance adalah kuntji.

Pasar Indonesia, yang bisa mulai bergerak jenuh (bosan dengan AvXen) agak meleset ditangkap pabrikan lain. Bertahun-tahun begini. Sekarang, Wuling dan Mitsubishi masuk. Wuling punya pengalaman di negeri sana. Termasuk mobil laris. Tapi Mitsubishi? Xpander adalah coba-coba yang “ngeri”. Xpander paling susah diraba pasarnya.

Xpander mengusung penggerak roda depan. Wuling, memilih penggerak roda belakang. Okelah, sekali lagi, kenyamanan dikedepankan. Tapi yang memakai MPV tidak hanya keluarga yang butuh kenyamanan berkendara, tapi juga rental mobil yang butuh mobil dengan biaya operasional dan perawatan terjangkau. Jumlahnya mobil yang dijalankan rental, cukup banyak lho.

Dengan asumsi itu saja, Xpander bakal sulit menembus menyeruak ke atas menggeser AvXen. Wuling mungkin yang malah pelan-pelan merangsek, tapi belum keliatan sekarang. Pasar masih menunggu. Satu-dua tahun ke depan, Wuling akan “berbicara” banyak.

Xpander memang laris di bulan-bulan awal, tapi kondisi ini agak mirip dengan kemunculan Ertiga, Spin, dan Mobilio. Respon pasar baru akan terbaca tahun depan, setelah sekian pengguna bertestimoni. Iya, nggak.

Wuling sambalbawang rasa yang akan memenangkan pertempuran dalam 2-3 tahun mendatang, setidaknya mengungguli Xpander. Faktor harga yang murah menjadi pertimbangan menarik.

Avanza tetap di nomor satu nampaknya, meski semakin tipis market share yang didapat. Avanza, khususnya, tetap akan di nomor satu, karena makhluk satu ini paling ngerti kebutuhan masyarakat. “Sudah sejak 2003 dipercaya....” begitu paling slogan Avanza yang juga disetujui pihak Xenia. Hehe.

Dua-tiga tahun lagi, mungkin kondisi berubah di mana Mobilio, Ertiga, mungkin akan gantian bertengger di posisi 2-4. Ertiga paling mungkin sering duduk di posisi dua dan Xenia di posisi tiga. Wuling sepertinya bakal masuk peringkat lima atau enam. Prediksi sih, merek itu (wuling) banyak di lima.

Spin, dan Xpander, pertarungan akan sedikit dimenangkan Xpander, untuk merebut posisi enam. Tapi selisihnya bakal dikit. Brand Mitsubishi akan sangat menolong Xpander sehingga bisa saja sesekali nyundul minggirkan Wuling. Lalu, kok bisa selisih dikit? Karena Wuling mengusung jargon murah. Versi tertinggi Wuling pun, harganya masih di bawah versi termurah Avanza. Ngeri-ngeri sedap, bukan.

Memang, itu hanya prediksi. Tapi mestinya beberapa bulan lagi prediksi itu idealnya saya ganti lagi. Penasaran lihat ekspansi Wuling. Swear. Pasar masih “trauma” dengan motor Cina, dan itu PR terbesar Wuling. Masih inget motor Cina di era tahun 2000 yang ternyata gagal total. Chery QQ, city car bikinan Cina, juga bisa jadi gambaran. Cuma jualan doang, mana laku di Indoesia. Kualitas saja belum cukup. Klise ya.

Oya, menengok dikit di lini penjual, sebagai ujung tombak diler, ada cerita menarik terhimpun. Ternyata ada temen bilang kalau sales-sales Avanza paling gigih, setidaknya lumayan rutin, memberi informasi produk dan harga. Iseng-seng akan sambalbawang buktikan. Dan, eh, bener juga.

Padahal cukup berharap ditelpon sales Wuling atau Xpander, juga Mobilio dan Ertiga untuk sekedar test drive. Hahaha. Maklum, beberapa kali sengaja duduk di mobil-mobil itu pas pameran. Sembari koleksi brosur. Siapa tahun besok pagi langsung ke dealer, beli mobil guna kulakan kain dan benang.

Tentu prediksi bisa meleset. Sambalbawang kan bukan cenayang. Namanya juga coret-coret sesuai isi hati. Untuk mobil idaman, tetep, sedan. Selalu di hati. Kemarin pas ada pameran di mal, sempat melirik Suzuki Baleno. 

Hanya saja, ketika menengok isi dompet dan saldo tabungan, sambalbawang mesti menghela nafas panjang (banget). Masih lumayan jauh cita-cita itu terwujud, hehe. Brosurnya dulu yang bisa diboyong pulang ke rumah. Mobilnya sih, ya, entar-entar doeloe.. pakai banget, pula.

Begitulah.

BACA JUGA  :  TENTANG HONDA (1) DARI HONDA PISPOT SAMPAI UNYIL
BACA JUGA  :  TENTANG HONDA (2) DARI ASTREA 700 SAMPAI ASTREA 800
BACA JUGA  :  ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA

Jumat, 25 Agustus 2017

SEGELAS TEH DARI IBUMU

Seraut wajah ayu yang sudah keriput itu, sangat mengenalku. Ah, kembali kuterabas batas hatiku yang semakin menipis. Sore yang aneh. Tatapan mata yang iba itu benar-benar menusuk sampai relung jiwaku. Seakan palu godam, tapi tak jua terhujam.

Gemetar langkah kaki memasuki rumahnya. Wajahku menunduk, dan kepala semakin tertunduk ketika suara tertuju kepadaku. Menata serpihan hati yang diremukkan anakmu, tidak mudah mengucapkan bahwa aku sore ini kembali lagi, mencari buah hatimu.

Kursi kayu ini pun benar-benar terasa panas, seakan aku duduk di atas lembaran seng yang seharian tersengat terik mentari tanpa ampun. Kulihat lagi wajahnya. Senyum di bibirnya, teduh tatapannya, aku tahu engkau pernah dalam situasi seperti ini. Situasi yang sekarang dialami anakmu. Hanya saja, barangkali kisah dan ending-nya berbeda jauh.

Engkau tersenyum lagi. Lembut kau panggil buah hatimu. Gadis 16 tahun, berambut pendek, dengan kerling mata nan jenaka, dan lesung pipit, itu, masih bersembunyi di kamar. Selalu begitu. Samar kudengar suaranya, menjawab panggilan ibunda tercinta. Aku semakin gemetar.

Kursi kuremas kuat, mulut mengatup rapat, keringat dingin mulai mengalir. Aku sebenarnya tidak lagi sanggup menatap wajah sang remaja ini. Masih sedikit sanggup kutatap wajah ibundanya. Tapi menatap dia, sungguh mendebarkan.

Detik serasa menit. Menit serasa jam. Engkau akhirnya menampakkan diri. Duduk di depanku. Mengenakan kaos putih bergambar logo sekolah kita. Tak ada kata terlontar sampai ibundamu memecah keheningan dengan menawarkan membuat minuman teh. Ah, ibu.

Aku mengiyakan. Aku tahu engkau memberiku waktu dan kesempatan untuk berbincang dengan putri tersayangmu. Meski selama sepuluh menit sebelum teh terhidang, nyaris tak ada kata terlontar dari anakmu. Selain tentu saja, menanyakan mengapa aku masih datang.

"Aku datang untuk kamu. Seperti biasa. Aku hanya mencoba datang di hadapanmu," kataku. Kamu terdiam. "Jika kehadiranku tidak membuatmu berkenan, bolehlah kamu anggap kedatanganku hanya untuk menyapa orangtuamu,"

Tak ada reaksi. Aku tahu saatnya pergi. Tak ada lagi yang bisa kuharapkan dari gadis yang siang-malam kupuja dalam sunyi ini. Kuputuskan pulang. Entah, sore ini adalah kegagalanku yang keberapa untuk mengajakmu membuka suara.

Segelas teh yang telah tersaji, kuminum. Sepet-manis yang pas. Saatnya berpamitan. Ibundamu muncul, dengan tatapan mata yang teduh. "Lain kali datang lagi, ya, dik," katanya. Aku mengangguk pelan. Aku tahu itu hanya untuk menghiburku.

"Pasti, bu," jawabku seriang mungkin meski aku tahu engkau menangkap kesedihanku. Aku pasti akan datang lagi untuk bersilaturahmi denganmu, ibu. Tidak ada yang salah dengan anakmu. Dan tidak ada yang salah juga dengan diriku.

Akhir pertemuan sore itu, ternyata masih berlangsung beberapa menit lagi. Sial. Motor butut yang setia menemaniku, ini, kembali ngambek. Seperti tuannya. "Macet lagi ya dik, skuternya," kata ibundamu dengan tatap mata iba.

Aku hanya bisa mengangguk sembari meringis malu.

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :

"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
MENGAPA HARUS NGEBLOG
DI RELUNG KAMARKU (cerpen)
BASA WALIKAN
THE AQUARIAN ?

Kamis, 24 Agustus 2017

WELCOME, KIMI SI KURA-KURA

Suatu sore yang cerah. Sambalbawang tengah bersantai memeluk gitar. Mendadak terdengar suara "braaak". Cukup keras bunyinya. Sesuatu pasti jatuh dari atas dan menimpa atap seng rumah. Celingak-celinguk. Sebentuk benda terlihat, berwarna kehijauan. Mendadak benda itu bergerak-gerak.

Segera kacamata dipasang dan cepat berlari mendekat. Apa itu gerangan? Badalaaah.. Seekor kura-kura brazil !!. Seberat hampir sekilo. Berkedip-kedip matanya, mungkin dia bingung dirinya berada dimana. Sama seperti herannya sambalbawang. Mestinya dia tahu, ini halaman belakang rumah.

Tapi dia tidak tahu, pastinya. Entah jua darimana dan bagaimana dia bisa terjatuh dari atap. Dugaan terbesar, naik lantai dua rumah tetangga. Dan meluncur turun. Putus asa? Bunuh dirikah? Emang dalam sejarah kura-kura, pernah putus asa lalu tetiba bunuh diri?

Dikonfirmasi ke tetangga, tidak ada yang merasa memiliki si kura-kura. Sampai ada satu warga yang merasa itu kura-kuranya, tapi hilang setahun lalu. Entah juga ini kura-kuranya atau tidak, hanya si kura yang tahu. Habis wajah mereka sama semua.

Tapi sudahlah, yang pasti, dia menjadi anggota keluarga besar Samantha Modiste Balikpapan. Sehari setelah kejadian si kura-kura ijo terjun bebas ini, kami sudah dapat nama untuknya. Kimi.

Dan begitulah si Kimi. Sukanya makan, berendam, jalan-jalan mengitari halaman, berjemur, seperti layaknya kura-kura brazil lainnya.

Baca juga :
KILAUMU BAGAIKAN MUTIARA
DI RELUNG KAMARKU (CERPEN)
JADI "GURU" DADAKAN DI PERBATASAN
MENGAPA HARUS NGEBLOG
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
THE AQUARIAN ?

LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK