Jumat, 27 Oktober 2017

BERCERMINLAH, BERKACALAH (SEDIKIT), KAWAN

Entah mengapa, bunyi pesan masuk di ponselku yang sudah disetel volume lirih ini masih terdengar oleh telinga. Menyiagakan ragaku yang terbenam sekian jam dalam luapan tidur dan mimpi yang menyenangkan .

“Coba lihat status fesbukku,” begitu kalimat SMS di layar ponselku, yang diakhiri tanda seru dan emoticon orang tertawa renyah. Ah, ngapain juga buka fesbuk sepagi ini, gerutuku sambil melirik jam dinding yang jelas menunjuk angka 6.

Aku pun kembali terlelap dan mendengkur. Meski dua jam kemudian terbangun dan segera meloncat menyambar motor. Dan kembali menjalankan rutinitis, berkeliaran di jalanan. Jaket butut, sepatu buluk, tas sobek, dan topi kumal.

Sampai ketika malam hendak berganti pagi, baru kuingat pesan itu. Dengan malas kubuka media sosial yang entah mengapa tidak pernah membuatku tertarik untuk eksis. Berubah apanya sih temanku satu itu.

Dan aku mendadak tercekat kala membaca status fesbukmu itu, kawan. Seperti bukan kawanku yang menuliskannya. Segera ku menuju kotak percakapan dan menuliskan “Kamu berubah?”.

Tak lebih semenit, kamu langsung membalas panjang lebar yang inti omonganmu pun aku sudah tak paham. “Kamu paham enggak, sih? Mau jadi lebih baik, enggak, sih?” tanyamu di kotak chatting-an fesbuk.

Tak sadar kuketik kalimat ini. “Kamu aja tersesat, gimana bisa membuat aku lebih baik?”, dan kukirimkan kepadamu. Kamu pun membalas membabi-buta dengan sejuta kalimat pembenaran. 

Sepertinya mencari tanda silang di ujung layar komputer ini akan membuat nyaman. Klik, saja. Mau tidur. Besok pagi aku mau ke toko, membeli cermin ukuran cukup besar, yang akan kuhadiahkan untukmu, kawan. Untuk bercermin, sejenak saja.

BACA JUGA
JADI "GURU" DADAKAN DI PERBATASAN

Minggu, 08 Oktober 2017

GEK 'NDANG MILI

Lingsir wengi, kudu tangi..
Nuju turu, kudu ngisi..
Mbendina ngene, kapan prei..

banyu banyu mbok mili'ya..
jo nggawe kabeh rekasa..
tangga teparo dipekso ronda..

mata dijereng nganti kejenggit
lambe komat-kamit
nungga-nunggu banyu, ra wedi dhemit

duh, aduh, Pangeran
tobat encit tenanan
koyo ngene kahanan

ngenteni banyu koyo dolanan delik'an..
lena sithik, tandon ra keduman..
mantheng sewengi, banyu ra sowan..

nunggoni suara mancur..
krungune endah koyo tekukur..
selak awak ajur mumur..

BACA JUGA ARTIKEL LAIN:
MAMMA MIA ! FILM MUSIKAL FULL LAGU ABBA


Sabtu, 23 September 2017

AVANZA vs WULING vs XPANDER


Tahun ini, si kembar Avanza dan Xenia memulai pertarungan sesungguhnya seiring masuknya Wuling Confero dan Mitsubishi Xpander. Sejak tahun 2003 atau 14 tahun bertahta di nomor satu kategori MPV 7 kursi, wajar saja kalau si kembar tentu bikin gerah pabrikan-pabrikan sebelah.


Pertanyaannya, adalah, mampukah Avanza dan Xenia tergusur? atau setidaknya terganggu? Jawabannya adalah bisa, meski itu butuh waktu nan panjang. Masih inget sama Nokia yang jadi raja ponsel sejak era 90 sampai menjelang 2008? Akhirnya tumbang jua. Nokia dengan Symbiannya, terempas dengan cepat gegara android. Siapa yang dulu menyangka hal ini.

Avanza dan saudara kembarnya, Xenia, ini, hadir pertama kali tahun 2003 dan langsung mengguncang. Saat itu dunia permobilan Tanah Air memang tidak punya jenis kendaraan MPV 7 seat yang bentuknya rada ramping. AvXen muncul di saat tepat.

Barangkali, hanya ada Isuzu Panther dan Kijang Kapsul, yang dapat dimunculkan sebagai opsi mobil keluarga dengan mesin di depan. Suzuki dengan seabrek keluarga Carry-nya dan Mitsubishi dengan T-120 SS nya, juga opsi. Tapi jelas beda segmen.

Avanza dan Xenia adalah gebrakan yang dirancang matang. Mengawali tren mobil keluarga jenis MPV yang "fleksibel". Juga solusi atas kondisi ekonomi. Saat muncul AvXen ini termasuk murah lho untuk ukuran mobil baru. Terbuki dua sejoli ini kelamaan bertahta sebagai mobil terlaris yang dimiliki sejuta umat. Di sini senang di sana senang, di mana-mana hatiku senang. Eh, di mana-mana ada Avansa Xenia.

Ertiga yang coba menggoyang 8 tahun kemudian, termasuk rada telat. Ertiga ternyata sampai tahun ini, belum kunjung menyundul. Chevrolet Spin, giliran muncul kemudian. Tapi pabrik yang bikin Spin, di Bekasi, pun ternyata tutup, setelah dua tahun buka. Sebagian orang kecewa.

Keinginan sambalbawang melihat Spin merangsek klasemen atas, pupus sudah. Spin pun harus rela menemani Ertiga, sama-sama (rutin) di belakang AvXen dalam penjualan. Pasca-Spin dan Ertiga, Mobilio yang lalu nongol. Mobilio bikinan Honda ini, ternyata juga masih belum bisa nyundul maksimal.

Pertengahan tahun ini, muncul Xpander dan Confero. Mereka yang sudah bosen AvXen bersorak. Hore ada pilihan lain. Tapi, bisa apa ya, keduanya menghadang AvXen? Antara ragu, penasaran, pesimis, optimis. 

Xpander dan Confero nampaknya mesti mengenal pasar Indonesia yang unik. Coba kita tengok ke belakang, mengapa Ertiga dan Spin belum bisa menggusur AvXen. Alasannya simpel. Karena Ertiga dan Spin tidak (dianggap) banyak memberi apa yang diinginkan pasar (dibaca : orang Indonesia yang ingin membeli mobil 7 kursi penumpang).

Gampangnya gini. Asal mau persis, AvXen bisa ditandingi para kompetitor. AvXen menang karena "mengenal" jalanan dan aspal. Maka dari itu, masukkan juga faktor kondisi jalan. Dan gimana cerewetnya orang kita untuk urusan mobil. Pasar ingin mobil MPV 7 seat yang ground clearance (jarak terendah ke tanah) cukup tinggi, kuat di tanjakan, ukuran cukup mungil, bentuk oke, easy driving, dan ruang kabin lega.

Kompetitor mesti ngalahkan AvXen di situ. Iya, di situ. Bikin ground clearance lebih tinggi, jadi satu syarat utama. Kabin wajib lega, dan ruang belakang mesti bisa untuk muat 4 galon air. Jangan sepelekan ini. Sayangnya, ini yang tidak dilakukan oleh Ertiga, Mobilio, dan bahkan Spin sekalipun. Keempatnya malah lebih panjang dan lebih lebar dari duo kembar Toyota-Daihatsu.

Kedua, tanjakan butuh mobil penggerak roda belakang. Ini seperti kuat mana, narik (penggerak roda depan) dengan mendorong (penggerak depan). Ertiga, Spin, Mobilio malah berpenggerak roda depan.Tidak salah sih. Penggerak depan toh punya sisi plus, seperti lincah bermanuver, irit BBM, hingga kenyamanan. Sambalbawang mengamini itu.

Tapi, orang Indonesia pingin mobil yang seperti AvXen, sebab kadung jatuh cinta. Penggerak roda belakang, lebih tahan banting. Maklum, sebab, kondisi jalan kita masih gini. Banyak masih ancur kayak kulit jerawatan. Coba deh menjelajah jalanan Kalimantan. Penggerak roda depan, bisa terancam remuk. 

Hal lain, orang kita ingin mobil yang servisnya nyaman. Kesampingkan suku cadang ya dan purnajual, karena kalau hanya itu parameter, AvXen menang telak. Servis, penting. Penampilan dan pelayanan, Toyota-Daihatu, sejauh ini, unggul.

Okelah pabrikan lain juga bisa menyamai. Tapi butuh waktu. Ertiga sudah 6 tahun. Tambah Mobilio, dan Spin. Belum juga menggeser AvXen, terutama si-Av. Terbukti kan, teori sambalbawang. Penggerak roda depan dan ground clearance adalah kuntji.

Pasar Indonesia, yang bisa mulai bergerak jenuh (bosan dengan AvXen) agak meleset ditangkap pabrikan lain. Bertahun-tahun begini. Sekarang, Wuling dan Mitsubishi masuk. Wuling punya pengalaman di negeri sana. Termasuk mobil laris. Tapi Mitsubishi? Xpander adalah coba-coba yang “ngeri”. Xpander paling susah diraba pasarnya.

Xpander mengusung penggerak roda depan. Wuling, memilih penggerak roda belakang. Okelah, sekali lagi, kenyamanan dikedepankan. Tapi yang memakai MPV tidak hanya keluarga yang butuh kenyamanan berkendara, tapi juga rental mobil yang butuh mobil dengan biaya operasional dan perawatan terjangkau. Jumlahnya mobil yang dijalankan rental, cukup banyak lho.

Dengan asumsi itu saja, Xpander bakal sulit menembus menyeruak ke atas menggeser AvXen. Wuling mungkin yang malah pelan-pelan merangsek, tapi belum keliatan sekarang. Pasar masih menunggu. Satu-dua tahun ke depan, Wuling akan “berbicara” banyak.

Xpander memang laris di bulan-bulan awal, tapi kondisi ini agak mirip dengan kemunculan Ertiga, Spin, dan Mobilio. Respon pasar baru akan terbaca tahun depan, setelah sekian pengguna bertestimoni. Iya, nggak.

Wuling sambalbawang rasa yang akan memenangkan pertempuran dalam 2-3 tahun mendatang, setidaknya mengungguli Xpander. Faktor harga yang murah menjadi pertimbangan menarik.

Avanza tetap di nomor satu nampaknya, meski semakin tipis market share yang didapat. Avanza, khususnya, tetap akan di nomor satu, karena makhluk satu ini paling ngerti kebutuhan masyarakat. “Sudah sejak 2003 dipercaya....” begitu paling slogan Avanza yang juga disetujui pihak Xenia. Hehe.

Dua-tiga tahun lagi, mungkin kondisi berubah di mana Mobilio, Ertiga, mungkin akan gantian bertengger di posisi 2-4. Ertiga paling mungkin sering duduk di posisi dua dan Xenia di posisi tiga. Wuling sepertinya bakal masuk peringkat lima atau enam. Prediksi sih, merek itu (wuling) banyak di lima.

Spin, dan Xpander, pertarungan akan sedikit dimenangkan Xpander, untuk merebut posisi enam. Tapi selisihnya bakal dikit. Brand Mitsubishi akan sangat menolong Xpander sehingga bisa saja sesekali nyundul minggirkan Wuling. Lalu, kok bisa selisih dikit? Karena Wuling mengusung jargon murah. Versi tertinggi Wuling pun, harganya masih di bawah versi termurah Avanza. Ngeri-ngeri sedap, bukan.

Memang, itu hanya prediksi. Tapi mestinya beberapa bulan lagi prediksi itu idealnya saya ganti lagi. Penasaran lihat ekspansi Wuling. Swear. Pasar masih “trauma” dengan motor Cina, dan itu PR terbesar Wuling. Masih inget motor Cina di era tahun 2000 yang ternyata gagal total. Chery QQ, city car bikinan Cina, juga bisa jadi gambaran. Cuma jualan doang, mana laku di Indoesia. Kualitas saja belum cukup. Klise ya.

Oya, menengok dikit di lini penjual, sebagai ujung tombak diler, ada cerita menarik terhimpun. Ternyata ada temen bilang kalau sales-sales Avanza paling gigih, setidaknya lumayan rutin, memberi informasi produk dan harga. Iseng-seng akan sambalbawang buktikan. Dan, eh, bener juga.

Padahal cukup berharap ditelpon sales Wuling atau Xpander, juga Mobilio dan Ertiga untuk sekedar test drive. Hahaha. Maklum, beberapa kali sengaja duduk di mobil-mobil itu pas pameran. Sembari koleksi brosur. Siapa tahun besok pagi langsung ke dealer, beli mobil guna kulakan kain dan benang.

Tentu prediksi bisa meleset. Sambalbawang kan bukan cenayang. Namanya juga coret-coret sesuai isi hati. Untuk mobil idaman, tetep, sedan. Selalu di hati. Kemarin pas ada pameran di mal, sempat melirik Suzuki Baleno. 

Hanya saja, ketika menengok isi dompet dan saldo tabungan, sambalbawang mesti menghela nafas panjang (banget). Masih lumayan jauh cita-cita itu terwujud, hehe. Brosurnya dulu yang bisa diboyong pulang ke rumah. Mobilnya sih, ya, entar-entar doeloe.. pakai banget, pula.

Begitulah.

BACA JUGA  :  TENTANG HONDA (1) DARI HONDA PISPOT SAMPAI UNYIL
BACA JUGA  :  TENTANG HONDA (2) DARI ASTREA 700 SAMPAI ASTREA 800
BACA JUGA  :  ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA

Jumat, 25 Agustus 2017

SEGELAS TEH DARI IBUMU

Seraut wajah ayu yang sudah keriput itu, sangat mengenalku. Ah, kembali kuterabas batas hatiku yang semakin menipis. Sore yang aneh. Tatapan mata yang iba itu benar-benar menusuk sampai relung jiwaku. Seakan palu godam, tapi tak jua terhujam.

Gemetar langkah kaki memasuki rumahnya. Wajahku menunduk, dan kepala semakin tertunduk ketika suara tertuju kepadaku. Menata serpihan hati yang diremukkan anakmu, tidak mudah mengucapkan bahwa aku sore ini kembali lagi, mencari buah hatimu.

Kursi kayu ini pun benar-benar terasa panas, seakan aku duduk di atas lembaran seng yang seharian tersengat terik mentari tanpa ampun. Kulihat lagi wajahnya. Senyum di bibirnya, teduh tatapannya, aku tahu engkau pernah dalam situasi seperti ini. Situasi yang sekarang dialami anakmu. Hanya saja, barangkali kisah dan ending-nya berbeda jauh.

Engkau tersenyum lagi. Lembut kau panggil buah hatimu. Gadis 16 tahun, berambut pendek, dengan kerling mata nan jenaka, dan lesung pipit, itu, masih bersembunyi di kamar. Selalu begitu. Samar kudengar suaranya, menjawab panggilan ibunda tercinta. Aku semakin gemetar.

Kursi kuremas kuat, mulut mengatup rapat, keringat dingin mulai mengalir. Aku sebenarnya tidak lagi sanggup menatap wajah sang remaja ini. Masih sedikit sanggup kutatap wajah ibundanya. Tapi menatap dia, sungguh mendebarkan.

Detik serasa menit. Menit serasa jam. Engkau akhirnya menampakkan diri. Duduk di depanku. Mengenakan kaos putih bergambar logo sekolah kita. Tak ada kata terlontar sampai ibundamu memecah keheningan dengan menawarkan membuat minuman teh. Ah, ibu.

Aku mengiyakan. Aku tahu engkau memberiku waktu dan kesempatan untuk berbincang dengan putri tersayangmu. Meski selama sepuluh menit sebelum teh terhidang, nyaris tak ada kata terlontar dari anakmu. Selain tentu saja, menanyakan mengapa aku masih datang.

"Aku datang untuk kamu. Seperti biasa. Aku hanya mencoba datang di hadapanmu," kataku. Kamu terdiam. "Jika kehadiranku tidak membuatmu berkenan, bolehlah kamu anggap kedatanganku hanya untuk menyapa orangtuamu,"

Tak ada reaksi. Aku tahu saatnya pergi. Tak ada lagi yang bisa kuharapkan dari gadis yang siang-malam kupuja dalam sunyi ini. Kuputuskan pulang. Entah, sore ini adalah kegagalanku yang keberapa untuk mengajakmu membuka suara.

Segelas teh yang telah tersaji, kuminum. Sepet-manis yang pas. Saatnya berpamitan. Ibundamu muncul, dengan tatapan mata yang teduh. "Lain kali datang lagi, ya, dik," katanya. Aku mengangguk pelan. Aku tahu itu hanya untuk menghiburku.

"Pasti, bu," jawabku seriang mungkin meski aku tahu engkau menangkap kesedihanku. Aku pasti akan datang lagi untuk bersilaturahmi denganmu, ibu. Tidak ada yang salah dengan anakmu. Dan tidak ada yang salah juga dengan diriku.

Akhir pertemuan sore itu, ternyata masih berlangsung beberapa menit lagi. Sial. Motor butut yang setia menemaniku, ini, kembali ngambek. Seperti tuannya. "Macet lagi ya dik, skuternya," kata ibundamu dengan tatap mata iba.

Aku hanya bisa mengangguk sembari meringis malu.

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :

"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
MENGAPA HARUS NGEBLOG
DI RELUNG KAMARKU (cerpen)
BASA WALIKAN
THE AQUARIAN ?

Kamis, 24 Agustus 2017

WELCOME, KIMI SI KURA-KURA

Suatu sore yang cerah. Sambalbawang tengah bersantai memeluk gitar. Mendadak terdengar suara "braaak". Cukup keras bunyinya. Sesuatu pasti jatuh dari atas dan menimpa atap seng rumah. Celingak-celinguk. Sebentuk benda terlihat, berwarna kehijauan. Mendadak benda itu bergerak-gerak.

Segera kacamata dipasang dan cepat berlari mendekat. Apa itu gerangan? Badalaaah.. Seekor kura-kura brazil !!. Seberat hampir sekilo. Berkedip-kedip matanya, mungkin dia bingung dirinya berada dimana. Sama seperti herannya sambalbawang. Mestinya dia tahu, ini halaman belakang rumah.

Tapi dia tidak tahu, pastinya. Entah jua darimana dan bagaimana dia bisa terjatuh dari atap. Dugaan terbesar, naik lantai dua rumah tetangga. Dan meluncur turun. Putus asa? Bunuh dirikah? Emang dalam sejarah kura-kura, pernah putus asa lalu tetiba bunuh diri?

Dikonfirmasi ke tetangga, tidak ada yang merasa memiliki si kura-kura. Sampai ada satu warga yang merasa itu kura-kuranya, tapi hilang setahun lalu. Entah juga ini kura-kuranya atau tidak, hanya si kura yang tahu. Habis wajah mereka sama semua.

Tapi sudahlah, yang pasti, dia menjadi anggota keluarga besar Samantha Modiste Balikpapan. Sehari setelah kejadian si kura-kura ijo terjun bebas ini, kami sudah dapat nama untuknya. Kimi.

Dan begitulah si Kimi. Sukanya makan, berendam, jalan-jalan mengitari halaman, berjemur, seperti layaknya kura-kura brazil lainnya.

Baca juga :
KILAUMU BAGAIKAN MUTIARA
DI RELUNG KAMARKU (CERPEN)
JADI "GURU" DADAKAN DI PERBATASAN
MENGAPA HARUS NGEBLOG
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
THE AQUARIAN ?

LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK 

Sabtu, 08 Juli 2017

MODISTE IKUT PAMERAN ? ITU KAMI, SAMANTHA PROJECT BALIKPAPAN

Sambalbawang belum pernah melihat penjahit busana mengikuti pameran. Setidaknya begitu. Sampai kemudian menemukan, dan, hehe, asyiknya, itu adalah stan sendiri. Setelah setengah tahun membuka lapak, pameran pertama itu muncul. Tak terduga.

Balikpapan Loop Pop Up Market, event pertama, sungguh menggoda. Nyaris tidak ada persiapan, sambalbawang dan saudara bojo kelabakan. Keasyikan menerima order, dan sendirian mengerjakan, berimbas tiadanya stok.

Nggak lucu dong kalau ngikut pameran tapi cuma bawa mesin jahit. Dua minggu sebelum pameran, Agustus 2015 lalu, saudara bojo pontang-panting membikin baju untuk dipajang. Nggak lucu pula, kan, kalau hanya majang sehelai baju.

Saudara bojo mendadak juga butuh manekin. Juga butuh rak kayu untuk memajang baju. Dipetakan sekilas, ruang stan masih cukup lapang, Tante dari sodara bojo yang notabene perajin tas, memberi secercah peluang.

Namun juga tetap harus berburu rak susun untuk meletakkan tas-tas handmade ini. Mesti pula beli tempat pajangan kain, yang akhirnya diputuskan seminggu sebelum hari-H. Langsung order dua unit ke perajin rotan, yang untunglah disanggupi.

Urusan masih panjang. Balik lagi ke tukang kayu untuk pesan papan nama. Masih pesen lagi dua gepok kartu nama. Sodara bojo menjadi "komandan" untuk urusan tata letak dan pemilihan bahan, Diputuskan pula, sepeda tua di rumah, ikut diangkut.

Pameran kedua, Welcoming Days Telkomsel 4G-LTE pada 1-4 Oktober 2015 di parkiran Mal Balikpapan Super Block (BSB). Hal uni terjadi di sini, yakni pembayaran memakai T-Cash. Uang elektronik. Rada ribet, tapi mengasyikkan juga karena baru pertama kali begini. Merasakan pertama kali "bayaran" dengan cara "digesek", hehe.

Pameran ketiga, 31 Maret-3 April 2016, bertajuk Telkomsel Loop Pop Up Market, dihelat di parkiran mal Balikpapan Baru. Di tempat yang sama, pameran keempat, berjudul Pop Up Market, diadakan, 28 September-2 Oktober 2016.

Lalu dilanjutkan pameran kelima di roof top Bandara Sepinggan, Balikpapan, 3-7 Mei 2017 lalu. Di empat pameran pertama, Samantha mengisi puncak acara, yakni trunk show, fashion show skala kecil. Para model dari Srinthil Agency Balikpapan, didandani mbak Samantha, menyita perhatian para pengunjung pameran.

Sedangkan pada pameran kelima, urung digelar trunk show, lantaran hujan deras. Pawang hujan nampaknya kurang "perkasa" menangkal hujan. Rada sebel, sih, tapi tidak mengapa, namanya juga hujan. Alam tak bisa dilawan. Setidaknya karya masterpiece kami bisa dipajang di bengkel mode Samantha di Cluster Berau, Wika.

Dan inilah tampang stan Samantha saat pameran keenam, Mei lalu. Samantha berbagi kapling dengan Barakati, produsen rok nan kece, di Balikpapan.



Ah, jadi gimana dan kapan pameran keenam Modiste Samantha a.k.a Samantha Project? So pasti seru, lah.Jadi tunggu saja tanggal putarnya. Tertarik dan penasaran gimana modiste Samantha, silakan kunjungi web kami :  MODISTE SAMANTHA BALIKPAPAN
Atau instagram  : @samanthaproject


BACA JUGA  :  24 FINALIS DUTA WISATA BALIKPAPAN PAKAI BAJU SAMANTHA
BACA JUGA  :  ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA
BACA JUGA  :  GATOTKACA TAK HANYA OTOT KAWAT BALUNG WESI
BACA JUGA  :  KELAS SHIBORI ALA SAMANTHA PROJECT BALIKPAPAN

Sabtu, 24 Juni 2017

BALIKPAPAN JADOEL - NOSTALGIA SEBENTAR SAMA BARANG LAWASAN

Semakin ke sini, generasi 90 semakin menunjukkan ke-eksis-annya, kejadulannya. Jaman memang sudah berubah bahkan berlari, tetapi generasi era ini masih bercita-cita merasakan lagi nostalgia. Istilah kekiniannya, susah move on.

Sambalbawang termasuk bagian generasi 90. Makanya tidak heran, ketika dikasih tahu ada pameran bertopik serba jadul, langsung saja girang hati dan bodi. Segera tancap gas ke lokasi pameran bertitel “Sound of Ramadhan” di Pentacity Mall Balikpapan, 17 Juni lalu, bersama sodara Bojo yang juga pecinta lawasan.


Om Yudi, salah satu kolektor barang lawasan di Kota Minyak, lagi jaga stan malam itu. Mengawal sederet “harta karun” yang terhampar, bikin mata-berkunang-kunang karena kepengen. Pakai banget, lagi. 

Masuk ke pameran, mata langsung “ditampar” beberapa walkman jadul. Ada Sanyo M-G31 yang masih “sarungan” kulit. Kata Om Yudi, nih walkman bikinan tahun 1979. Ini mah tahun sambalbawang lahir.

Mendengarkan "Chiquitita", tembang lawas ABBA, pakai walkman itu, saat itu, pasti mengasyikan. Anti mainstream. Karena yang mainstream adalah tape compo dan tape deck yang kagak bisa dijinjing, apalagi dicantolkan pinggang.

Balik lagi ke pameran. Merek lain di jajaran walkman, diwakili oleh Sony dan JVC, dua brand asal Jepang. Oke. Oh iya, barangkali masih ada yang penasaran, mengapa walkman begitu legendaris? Untuk menjawab, kita mesti balik arah dulu ke era sambalbawang masih duduk di bangku SD dan SMP.

Siapa yang bawa walkman, bisa dipastikan akan terkenal. Khazanah musiknya di atas rata-rata, juga isi kantongnya. Sedikit banyak juga menggambarkan gimana “strata” sosial. 

Sambalbawang punya walkman pertama kali ketika duduk di kelas 2 SMP. Mereknya Sunny, bahannya plastik. Harganya, yah kira-kira seperlima walkman merek Jepang yang termurah. Dibeli di supermarket setelah menabung beberapa minggu. 

Di pameran yang langka ini, ada juga real tape portabel merek National, bikinan tahun 1960-an. Kata om Yudi, isi di dalamnya adalah rekaman suara Titiek Puspa saat nyanyi dan sedang siaran. Ini piranti wajib radio-radio kala itu, ya.

Ada pula tape compo bermerek Telesonic. Wah, ini satu lagi merek asal negeri sakura, yang (dulu) amat terkenal, tapi tak lagi berlanjut. Ada pula tape merek Sanyo MS400K dobel speaker, yang sayangnya tidak berfungsi. Selain merek-merek di atas, dipajang tape dek merek Nakamichi. 

Gramaphone engkol juga ditaruh sebagai penanda ini adalah zona jadul "garis keras". Saudara bojo tak henti-henti menatap alat itu. Kayaknya rada takjub menyadari bahwa kita pernah hidup di masa ketika pemutar musik hanya bisa dilakukan memakai gramaphone. Duh, susah banget ya menikmati musik, kayaknya. 

Dan satu hal lain yang juga asyik, adalah ratusan kaset terhampar. Rapi jali berderet di susun di rak kayu dan di atas meja kayu. Ada beberapa kaset grup legenda semisal Gigi, Nugie, GNR, Metallica, Green Day, Sheila on7, Dewa, Jamrud, sampai Karakatau. Kaset Hari Moekti, Vina, dan Crisye, juga ada.

Kaset-kaset Nirvana, White Lion, Muse, Scorpions, Halloween, Santana, dan Bon Jovi, ada. Oscar Harris pun, ada. Dan yang mengharukan, ada satu kaset Sanggar Cerita. Jadi kepengen nanyi “Slamat berjumpa dengan sanggar cerita, dalam kisah lagu dan cerita, lalala. Mari kita dengarkan, mari kita nikmati..”

Di tengah stan pameran, ada satu kotak terlihat, dan isinya ternyata sejumlah piringan hitam (vynil). Mendadak jadi inget turntable sambalbawang yang sudah 4 bulan ini koit, tidak bunyi. Hm, sebagian kaset dan vynil ini boleh dibeli pengunjung. Namun mayoritas kaset, tidak untuk dijual. Hiks.

Om Yudi juga menjual satu box set The Beatles. Nyaris pingsan melihatnya. Ada 14 album ditambah buku tebal berisi foto-foto empat musisi asal Liverpool itu. Secara sambalbawang termasuk die hard-nya Beatles sejak SD, it’s amazing.

“Yang satu box set ini saya jual murah,” kata om Yudi, yang di instagram bernama “babetopbs” ini. Nah siapa berminat? Murah lho. Tinggal telpon saja si-om Yudi. Mau nanya seputar servis barang lawasan, bisa ngontak dia juga.

Pameran seperti ini penting bagi Balikpapan agar terus terjaga kejadulan warganya, terutama para generasi 90-an. Jadul itu keren, dan ketje bukan? Enggak jadul, enggak seru. Enggak jadul, ke laut aje. Enggak jadul, ketinggalan zaman. Enggak jadul, cape dech.

Semakin keren dan wawawa, karena sambalbawang bisa menebus dan membawa pulang satu kaset Metallica yang black album. yang kovernya item memplak itu loh. Ini adalah kaset ketiga black album milik sambalbawang, setelah dua sebelumnya sudah pensiun. Nggak usah tanya mengapa kaset-kaset bisa pensiun.

Begitulah, jreng.





Baca Juga  :  THE BEATLES FOREVER
Baca Juga  :  KILAUMU BAGAIKAN MUTIARA
Baca Juga  :  SARADAN