Senin, 30 November 2015
WELCOMING DAYS WITH SAMANTHA PROJECT
Sekali lagi, kami menjadi peserta pameran. Setelah lumayan sukses mengisi Look Pop Up Market 1-4 Oktober lalu, sekaligus menjadi pengalaman pertama, kali ini kami, tepatnya saudara bojo, mengikuti pameran bertajuk "Welcoming Days" yang dihelat pada 28-29 November. Nyam.
Kabar bahwa Samantha Project, lini usaha modiste-clothing line kami, diminta berpartisipasi di acara pengenalan Telkomsel 4G-LTE itu, langsung disambar. Ada 36 tenan, dan asyiknya, banyak partisipan yang sebelumnya juga peserta Look Pop Up Market. Aha, ada temennya.
Seperti sebelumnya, seputar jahit-menjahit tetap dipromosikan, meski sebenarnya mayoritas pengunjung mengira kami hanya sebatas jualan kain. Tapi it's oke, karena itu merupakan kondisi yang tidak terhindarkan, dan tidak usah dihindari. Karena, memang kalau dipikir-pikir, saya pun belum pernah lihat ada penjahit berpameran.
Karena itulah, urusan properti, kekompletannya jadi minim. Namanya penjahit, "senjata" yang dimiliki kan hanya mesin jahit, obras, metlen, pembuat kancing buntel, sama jarum. Sebelumnya, di Look Pop Up Market, stand ukuran 2 meter x 4 meter, setidaknya oke untuk ditaruh lemari besar, lemari susun, manekin, hingga sepeda onthel sebagai pemanis.
Tapi yang pameran terakhir ini, stannya lebih lapang, berukuran 2,5 meter x 5 meter. Agar tidak nampak kosong, diputuskan mengangkut Sprint 77 ke arena. Onthel masih sama, diangkut ke stan, untuk dipasangi papan "Samantha Project".
Dua hari pameran, memeriahkan acara peluncuran Telkomsel 4G-LTE itu, tidak secapek pameran sebelumnya yang digelontor empat hari. Kami masih bisa ketawa-ketiwi saat pulang. Asyiknya lagi ada mas penyedia jasa angkutan yang ramah dan tarifnya murah. Seorang kawan juga membantu bongkar-muat barang.
Pameran kedua ini, lebih ramai pengunjung. Mungkin karena faktor lokasi, di parkiran eWalk mal Balikpapan Super Block, jadi kebanjiran orang. Meski, tentu saja, stan kuliner yang lalu cepat sold out dagangannya.
Stan fashion seperti kami, memang hanya diseliweri sekian orang. Namun bagi kami, itu sudah cukup, dan malah sudah melebihi ekspektasi. Menyenangkan melihat lini usaha kami ternyata membantu banyak orang untuk lebih fashionable. hehe.
"Mbak, kalau beli kain di sini, njahitnya gimana ya," ujar mbak-mbak ke istri saya. "Ke saya saja, bisa," sahut saudara bojo. Pucuk dicinta ulam tiba. Yup, bawa atau pilih sendiri kainmu, jahitkan ke Samantha Project. Tagline kami "pantes lan prayogi". Monggo,,,,
yang ini foto saudara bojo sama genk peserta pameran.. myehehe.
BACA JUGA
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
MUSIK ZAMAN DAHULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS?
TEH VS KOPI
MAMMA MIA HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
BANYAK MOTOR SEDIKIT MEREK, SEDIKIT MOBIL BANYAK MEREK
Minggu, 22 November 2015
BASA JAWA (1) BAHASA YANG (MUNGKIN) TERUMIT
Bahasa Jawa barangkali bahasa yang paling rumit di muka bumi. Tingkatannya berlapis-lapis, dan penggunaannya pun sesuai kondisi dan lawan bicara. Berbahasa Jawa, tidak hanya sekadar bisa berbahasa Jawa, namun juga tentang menghargai orang lain.
Nah, dalam blog ini, saya nggak akan membahas tinjauan yang sulit-njelimet itu, karena saya hanya orang awam yang kebetulan wong Jogja.Ntar salah, kan malah berabe, Jadi, saya cuman menyentil sedikit tentang Bahasa Jawa dialeg Yogyakarta.
Sejak kecil, dari mulai merangkak, saya dikenalkan dengan bahasa ibu, ya Bahasa Jawa ini. Beruntungnya saya, bapak-ibu orang Jogja, jadi ya seperti meneruskan keseharian saja. Untungnya lagi, saya bebas mengolah Bahasa Jawa, terutama ucapan, dengan batasan yang "cair". Sebisa mungkin berbahasa Jawa yang halus kepada yang sepuh. Namun jika sudah mentok, ya masih dibolehkan mencampurnya dengan Bahasa Indonesia.
Meski demikian, untungnya sekali lagi, pelajaran sewaktu SD hingga SMP, lumayan memberikan bekal. Memang hanya sebatas tahu dan (sekarang) mengingat. Yah, meski hanya sebatas paham apa saja tingkat tutur Bahasa Jawa ini, yakni ngoko, madya, krama, kedaton (bagongan), dan kasar. Kelima tingkat itu masih direntangkan lagi, menjadi 13 tingkatan, dengan level terhalus adalah "Krama Hinggil" dan level terkasar adalah "kasar".
Untuk Krama Hinggil ini, diposisikan sebagai bahasa yang diucapkan orang muda kepada orang tua yang sudah sepuh, atau setidaknya "tokoh" teladan. Seperti saya jika berbicara dengan eyang maupun eyang buyut. Meski dalam praktik, saya lebih sering berbahasa Indonesia kepada eyang buyut saya (almarhum), juga orangtua, karena takut salah.
Urusan salah memakai "tingkat" berbahasa ini. bagi orang Jawa, boleh dibilang cukup memalukan. Saya pernah dijiwit ibuk karena salah melontarkan. Nah dari sekian tingkat itu, yang paling familiar alias sering saya gunakan adalah "ngoko lugu". Ini tingkat bahasa sesama "kasta", seperti antarteman.
Saya paling menyukai (meski tidak menguasai) kala menyimak "bagongan", bahasa di lingkup keraton yang menurut saya paling indah dan "ber-lagu". Kalau tidak salah-semoga saya benar-tingkatan keraton ini dipakai hanya pada situasi tertentu. Selain di lingkungan keraton, tentu saja. juga tersaji dalam wayang orang, ketoprak, maupun sendratari. Satu lagi, dalam pernikahan adat Jawa-yang dibawakan oleh MC.
Generasi saya, sayangnya adalah generasi pertama atau kedua yang perlahan "mengubur" kekayaan bahasa Jawa. Sebagai wong Jogja yang masih mencoba "fanatik" dengan Bahasa Jawa, saya merasakan dengan pilu betapa satu demi satu kosa kata mulai hilang dan terlupa.
BACA JUGA :
BASA JAWA (3) DARI MECUCU SAMPAI NYANDRA
BASA JAWA (2) BEDA KONDISI KUANTITAS TEMPERATUR BAHASA
10 BREGADA KERATON YOGYAKARTA YANG KEREN
TEH NASGITEL PET
SARADAN
Minggu, 15 November 2015
KAU SATU TERINDAH
Benar kata orang, kalau membuat itu lebih susah ketimbang mengkreasi apa yang sudah ada. Setidaknya itu terjadi pada saya, yang beberapa bulan terakhir mencoba membuat lagu. Tepatnya, mengingat lagu-lagu yang pernah saya buat.
Dahulu kala, ketika perasaan jiwa masih melow dan labil-meski tetap menyimpan optimistis-di era akhir 90-an dan awal 2000, sejumlah lagu pernah saya bikin. Berbekal gitar bolong dan dukungan beberapa bala kurawa.
Mungkin sudah 20 -anlagu yang sambalbawang bikin. Sebagian besar "menguap" alias banyak yangt idak direkam. Hanya tertinggal 7 lagu yang masih melekat di kepala, dan 5 lagu di antaranya yang masih sering saya nyanyikan.
Satu lagu pernah saya ditampilkan dalam sebuah audisi kecil-kecilan yang pada akhirnya juga tidak tembus. Kami berempat waktu itu, mencoba sejumput peruntungan. Grup kami, yang kami beri nama "Opus", akhirnya bubar seiring aktivitas masing-masing anggota.
Sebelumnya, level pentas saya cuma sebatas upacara 17 Agustus, mengisi acara di gereja, hingga acara mudika-mudiki. Pernah nyoba jadi gitaris, bassis, sampai vokalis. Jangan membahas soal skil ya, karena jelas di bawah standar, hahaha.
Pekerjaan akhirnya merentang jarak semakin jauh dari aktivitas bermusik. Menggenjreng pun menjadi hanya sesekali, sesempatnya. Satu demi satu gitaran lagu yang pernah dikuasai, terbang entah kemana. Hanya tersisa segelintir.
Beberapa pekan ini, saya coba menggali lagi lagu-lagu itu. Menyanyikan lagi berkali-kali dan mencoba merasakan semangat ala muda dahulu. Jujur saja, spiritnya memang sudah beda karena seiring waktu, banyak kejadian bukan? Tapi, tak mengapa, lah.
"....Kau satu terindah yang sempat kupuja di hati.." gitu deh sejumput bocoran lirik salah satu lagu yang saya bikin tahun 2002-2003 lalu, untuk someone di sana yang barangkali enggak menyangka pernah jadi inspirasi bagi sambalbawang untuk bikin.
Mungkin, dan mungkin, lagu ini kelak bisa sempat dinyanyikan anak saya saat pentas di acara sekolahan. Semoga saja. Who knows?
BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
MUSIK ZAMAN DAHULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS?
PELUKAN (CERPEN)
MENGAPA HARUS NGEBLOG
CHINMI JAGOAN KUNGFU DARI KUIL DAIRIN
Dahulu kala, ketika perasaan jiwa masih melow dan labil-meski tetap menyimpan optimistis-di era akhir 90-an dan awal 2000, sejumlah lagu pernah saya bikin. Berbekal gitar bolong dan dukungan beberapa bala kurawa.
Mungkin sudah 20 -anlagu yang sambalbawang bikin. Sebagian besar "menguap" alias banyak yangt idak direkam. Hanya tertinggal 7 lagu yang masih melekat di kepala, dan 5 lagu di antaranya yang masih sering saya nyanyikan.
Satu lagu pernah saya ditampilkan dalam sebuah audisi kecil-kecilan yang pada akhirnya juga tidak tembus. Kami berempat waktu itu, mencoba sejumput peruntungan. Grup kami, yang kami beri nama "Opus", akhirnya bubar seiring aktivitas masing-masing anggota.
Sebelumnya, level pentas saya cuma sebatas upacara 17 Agustus, mengisi acara di gereja, hingga acara mudika-mudiki. Pernah nyoba jadi gitaris, bassis, sampai vokalis. Jangan membahas soal skil ya, karena jelas di bawah standar, hahaha.
Pekerjaan akhirnya merentang jarak semakin jauh dari aktivitas bermusik. Menggenjreng pun menjadi hanya sesekali, sesempatnya. Satu demi satu gitaran lagu yang pernah dikuasai, terbang entah kemana. Hanya tersisa segelintir.
Beberapa pekan ini, saya coba menggali lagi lagu-lagu itu. Menyanyikan lagi berkali-kali dan mencoba merasakan semangat ala muda dahulu. Jujur saja, spiritnya memang sudah beda karena seiring waktu, banyak kejadian bukan? Tapi, tak mengapa, lah.
"....Kau satu terindah yang sempat kupuja di hati.." gitu deh sejumput bocoran lirik salah satu lagu yang saya bikin tahun 2002-2003 lalu, untuk someone di sana yang barangkali enggak menyangka pernah jadi inspirasi bagi sambalbawang untuk bikin.
Mungkin, dan mungkin, lagu ini kelak bisa sempat dinyanyikan anak saya saat pentas di acara sekolahan. Semoga saja. Who knows?
BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
MUSIK ZAMAN DAHULU VS ZAMAN NOW, MANA YANG BERKUALITAS?
PELUKAN (CERPEN)
MENGAPA HARUS NGEBLOG
CHINMI JAGOAN KUNGFU DARI KUIL DAIRIN
Rabu, 04 November 2015
MAAFKAN KAMI, GENERASI PENGEMIS SUBSIDI
Semingguan ini, "kelangkaan" elpiji ukuran 3 kg menyeruak di seantero Kota Balikpapan. Isu "kelangkaan" yang kesekian, tepatnya. Tidak lagi cukup menarik. Bukan karena saya ndak makai elpiji "melon" itu, tapi karena kondisi riil yang ada.
Mengapa saya beri tanda kutipan untuk kelangkaan, ya karena saya yakin itu nggak langka. Fenomena, ciee, kondisi ini kan persis BBM subsidi. Ada orang tidak mampu yang nggak bisa dapat barang subsidi, sebaliknya banyak orang mampu memburu barang subsidi.
Saya lebih suka mengistilahkan mereka sebagai "pengemis" subsidi. Empat tahun lalu, saya "menemukan" satu rumah yang punya stok elpiji melon sampai 4-5 biji. Ada juga rumah yang punya elpiji 12 kg, tapi cadangannya elpiji melon 2 tabung.
Lalu ada warung tempel yang nyetok 10 tabung melon di dapurnya. Saya mikir, warung kecil aja bisa nyimpen segitu, apalagi warung gede. Lagi, ada juga temen cerita kalau ada toko yang elpiji melonya masih ada. "Majangnya sih dikit. Tapi elpijinya ada terus...."
Seorang pengantre elpiji melon, pernah saya lihat datang membawa motor sport. Ndak nampak dia orang yang butuh disubsidi, meski dia bilang elpiji melon untuk dirinya. "Lha karena murah, saya beli,...".. Eaaa..
Nah, lho. Gemana penjelasan terkait itu. Yaaa persis kondisi BBM subsidi. Tidak ada aturan tegas sejak awal, tak ada yang mengawasi serius, akhirnya sebagian warga terombang-ambing ketidakpastian stok.
Kalau sudah begini, tak ada yang mau disalahkan, kan? Ya iyalah, Tapi saya mau disalahkan, atas nama generasi saya. Maafkanlah kami generasi penerus. Karena kami pengemis subsidi, mungkin kalian yang nanti kena getahnya.
BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019
Mengapa saya beri tanda kutipan untuk kelangkaan, ya karena saya yakin itu nggak langka. Fenomena, ciee, kondisi ini kan persis BBM subsidi. Ada orang tidak mampu yang nggak bisa dapat barang subsidi, sebaliknya banyak orang mampu memburu barang subsidi.
Saya lebih suka mengistilahkan mereka sebagai "pengemis" subsidi. Empat tahun lalu, saya "menemukan" satu rumah yang punya stok elpiji melon sampai 4-5 biji. Ada juga rumah yang punya elpiji 12 kg, tapi cadangannya elpiji melon 2 tabung.
Lalu ada warung tempel yang nyetok 10 tabung melon di dapurnya. Saya mikir, warung kecil aja bisa nyimpen segitu, apalagi warung gede. Lagi, ada juga temen cerita kalau ada toko yang elpiji melonya masih ada. "Majangnya sih dikit. Tapi elpijinya ada terus...."
Seorang pengantre elpiji melon, pernah saya lihat datang membawa motor sport. Ndak nampak dia orang yang butuh disubsidi, meski dia bilang elpiji melon untuk dirinya. "Lha karena murah, saya beli,...".. Eaaa..
Nah, lho. Gemana penjelasan terkait itu. Yaaa persis kondisi BBM subsidi. Tidak ada aturan tegas sejak awal, tak ada yang mengawasi serius, akhirnya sebagian warga terombang-ambing ketidakpastian stok.
Kalau sudah begini, tak ada yang mau disalahkan, kan? Ya iyalah, Tapi saya mau disalahkan, atas nama generasi saya. Maafkanlah kami generasi penerus. Karena kami pengemis subsidi, mungkin kalian yang nanti kena getahnya.
BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019
Minggu, 18 Oktober 2015
BAWA KAINMU, JAHITKAN KE SAMANTHA PROJECT
Jadi, ceritanya, begini: saya beneran mengikuti pameran. Look Pop Up Market, gitu judul pameran yang berlokasi di halaman parkir Mal Fantasy Balikpapan Baru, Balikpapan, 1-4 Oktober lalu. Seorang kawan yang dulunya wartawan, menginformasikan itu kepada saya.Tujuh bulan lalu, saya dan saudara bojo memulai usaha modiste dan clothing line yang kami beri judul "Samantha Project". Jadi, kabar adanya pameran langsung menjadi topik pembahasan serius berhari-hari di antara kami.

Tidak punya properti apapun selain mesin jahit, ditambah waktu yang hanya tersisa tiga minggu, maka dimulailah hari-hari super sibuk. Merancang tempat display kain, menjahit sejumlah contoh baju dan blus, hingga meminta saran dari kanan-kiri.
Tante dari saudara bojo ikut menyambut riang dan langsung sepakat mengirimkan tas-tas kualitas premium untuk menyemarakkan isi stan. Tempat memajang kain, berupa lemari portable yang bisa dibongkar pasang, dua rak bambu, akhirnya terkumpul. Termasuk papan kayu "Samantha Project" yang nanti dipajang di atas sepeda.
Seorang kawan mesti dipanggil untuk ikut bolak-balik berjibaku mengusung aneka properti itu ke arena stan pada H-1. Termasuk juga waktu selesai pameran. Saudara bojo selama hampir tiga pekan memulai nge-gas dengan mesin jahit listriknya. Antara merampungkan order pesanan baju hingga membuat sejumlah baju untuk dipajang.
Empat hari pameran yang super melelahkan, terhampar. Tentu berbeda halnya ketika tahun 2010 lalu saya mengikuti pameran sepeda onthel di Yogyakarta yang hanya tinggal menyiapkan dua sepeda dan tidak menunggui selama pameran.
Keputusan mengambil cuti selama empat hari, memang tepat. Saudara bojo seharian berjibaku mengurusi pengunjung dan beramah-tamah, sementara saya kebagian tugas wira-wiri. Termasuk keluyuran dari stan ke stan.
Semua berjalan lumayan "aman" sampai ketika di malam pada hari ketiga, saya diberi tahu bahwa panitia memutuskan menggelar fashion runway, peragaan busana skala kecil-kecilan. What? Nggak salah denger nih? Tapi, okelah.
Namun yang bikin panik adalah acara itu dihelat pada esok malam, alias tinggal tersisa kurang dari sehari. Lima model cewek sudah disiapkan dan malam itu mereka menggelar gladi resik. Waduh, ini serius. Hm, baiklah. Kesempatan musti disikat, bukan?
Singkat kata, acaranya sukses. Namun yang asyik, ini ajang pertama saudara bojo naik panggung dan sedikit cuap-cuap menjelaskan apa itu Samantha Project. Inilah kali pertama saya melihat bojo yang punya kebiasaan "demam panggung" ini, beneran berdiri di atas panggung.
Sejumlah kain terjual, sekian order jahit berdatangan, dan setumpuk calon pelanggan yang berpotensi jadi klien, menjadi imbas yang menyenangkan dari pameran. Sepeda onthel yang ikutan dipajang pun sempat ditawar pengunjung. Aha...

Jadi, bawa sendiri kain pilihanmu, kemudian jahitkan ke kami, Samantha Project, hadir untuk memberi perbedaan. Simpel namun menarik. Pantes lan prayogi.,, Myehehe..
Minggu, 27 September 2015
EVEREST
Seorang teman, dengan antusias, mengajak saya menonton film
Everest. “Jarang ada film tentang pendaki gunung seperti ini. Paling, kita
hanya kenal dengan dua film yang bercerita soal pendakian, yakni Cliff Hanger dan
Vertical Limit,” demikian kata temen saya itu.
Baiklah, keputusan diambil yakni nonton. Kembali ke dua film
sebelumnya itu, saya sih pernah menontonnya, namun sungguh lupa detil bagaimana
penceritaan di situ. Maklum bukan anak mapala, sih, jadi tidak ngeh dengan film
soal pendakian.
Dengan embel-embel based on true story, Everest ingin
menghadirkan bagaimana alam lebih berkuasa ketimbang manusia. Everest mengangkat
sekelumit kisah seorang pemandu pendakian bernama Robert Edwin Hall-diperankan
Jason Clarke.
Singkatnya, seorang cowok bernama Robert alias Rob, membuka jasa pemandu pendakian bertajuk Adventure
Consultan. Kliennya adalah para pendaki
amatir. Meski sebenarnya bukan amatir sih karena mereka yang nekat ke Everest
tentu pernah naik gunung. Jadi, singkatnya, mereka membayar Rob untuk memandu
ke Everest.
Namun pada pendakian di awal 1996 itu, musibah terjadi. Sekelompok pendaki mencoba menggapai puncak gunung itu. Satu
yang saya ingat adalah Yasuko-diperankan Naoko Mori-cewek Jepang berumur 47
tahun yang sudah mendaki enam gunung tertinggi dunia. Kurang satu yang belum,
yakni Everest, gunung tertinggi, 8.848 meter di atas permukaan air laut ini.
Ada
juga seorang jurnalis cowok bernama Krakauer, yang difilm ini diperankan oleh Michael
Kelly.
Lalu Beck (diperankan Josh Brolin), pria paruh baya yang
katanya lupa mengabari istrinya ketika hendak berangkat mendaki. Kemudian, ada
tukang pos bernama Doug-diperankan John Hawkes. Kombinasi para pendaki yang menarik.
Dari sinilah kisah bergulir. Sang sutradara berupaya
membangun Everest agar tidak hanya bisa dinikmati para pendaki gunung. Saya
merasa salah satunya. Mendaki gunung satu pun belum pernah, dalam arti serius
beneran mendaki. Jadi, sebelum film dimulai, saya sudah ancang-ancang menebak
gimana film ini.
Untuk mendaki Everest yang suhunya ekstrem dingin ini, tekad
membara enggak cukup. Di sini, Rob harus mengalah menghadapi sisi keras kepala
pendaki gunung, ciee. Sayangnya, Rob “terpancing” dengan ulah para kliennya
ini. Misalnya ketika membantu anggota timnya untuk menapak puncak, padahal
rombongan sudah turun.
Rob akhirnya terjebak dalam badai yang buruk. Yang
dibantunya pun mulai berhalusinasi, seiring oksigen yang menipis. Saya jadi
tahu bahwa pendaki bisa merasa kepanasan-bahkan sampai melepas jaket-jika
terhantam badai nan dingin menusuk tulang. Saya juga jadi tahu bahwa tabung
oksigen wajib tersedia di titik-titik tertentu.
Di penghujung film, Rob akhirnya meninggal. Badai yang tak
berkesudahan menghalangi tim penyelamat untuk menemukan dirinya. Ending kisah
Rob, sudah saya ketahui. Namun yang
menarik bagi saya adalah kisah Beck. Merasa tenaganya habis, Beck menuruti
saran Rob untuk berhenti. Beck pun sempat dianggap sudah mati. Namun Beck yang
sudah membiru-menghitam ini, “hidup” kembali dan sanggup berjalan menuju tenda.
Sebenarnya bukan film yang menurut saya luar biasa. Tapi
lumayan bagus untuk menggambarkan tentang pendakian gunung kepada orang awam. Penonton
diajak untuk memotret sisi emosional-psikologis para pendaki.
Dari sisi dramatisasi, Everest bisa menjadi film yang
simpel. Sanggup mengerem agar tak menjelma sebagai film melankolis yang meratapi
insiden tersebut. Everest bisa menanamkan kenyataan bahwa alam tidak bisa
dilawan, meski oleh pendaki hebat sekalipun. Karena itu, tak semua pendaki
sukses mendaki Everest.
Beck memang tidak sampai puncak, namun kembali ke rumah
adalah kemenangan besar baginya. Ah, inilah intisari yang saya sukai. Tekad
Beck untuk bertahan hidup dengan turun gunung, lebih besar ketimbang tekadnya
menaklukkan puncak. Asik.
Kalau pun toh ada yang menganggu terkait film ini, hanya
soal penontonnya. Sial, karena saya melihat seorang penonton memanggul tas
ransel ala pendaki gunung. Melihat cepatnya dia berjalan ke kursi, mudah
ditebak tasnya kosong...dan sepertinya baru dibeli. Ah, sampai sebegitunya.
BACA JUGA
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA
MAMMA MIA ! HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG UNYIL KUCING
BACA JUGA
"MAMA" by PAULINA, PROYEK LAGU PERTAMA
ABBA TALENTA TERBAIK MUSIK SWEDIA
MAMMA MIA ! HERE WE GO AGAIN, ABBA AGAIN
HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG UNYIL KUCING
Selasa, 22 September 2015
MENIKMATI HIDUP
Menikmati hidup itu boleh dibilang susah-susah gampang. Setiap orang tentu berbeda mengartikan. Penjelasannya terlampau banyak, dengan setumpuk argumen yang tak kalah rumit. Seorang teman menjawab, hidup perlu dinikmati dengan berwisata. Halaman fesbuknya penuh dengan foto selfie dirinya di tempat-tempat wisata.
Satu teman saya lagi, berpendapat, menikmati hidup dengan mengayuh sepeda. Menikmati sesuatu yang berjalan melambat. Di tengah hiruk-pikuk pekerjaan dan semua yang bergerak cepat, kita perlu melambatkan ritme. Baiklah.
Yang lain dengan mantap menjawab bahwa naik gunung patut dijajal untuk aktivitas menikmati hidup. Mendaki ramai-ramai dan berkemah. Jika sudah sampai di puncak gunung, akan terbentang semesta yang membuat manusia tampak kecil nan kerdil.
"Hei, mengapa kamu tidak memperdalam bakat musikmu?" ujar seorang kawan yang pernah saya perdengarkan lagu ciptaan saya. Musik bisa melampiaskan hasrat. Saya setuju. Namun entah pada akhirnya musik hanya saya nikmati, tidak saya mainkan.
Jika ingin menikmati hidup, lakukan apa yang kamu mau. Itu ujar satu teman lagi sembari menyeringai. Aha. Fantasi akan tubuh perempuan, memang sudah menjadi jalurnya. Menyenangkan, memang, mungkin. Namun saya ingin lebih menikmati hidup.
"Menikmati hidup itu, adalah, mari berpikir saja tentang kita. Ayo melakukan apa yang aku dan kamu inginkan, meski itu harus melepas rupiah cukup banyak. Hanya aku dan kamu," ujar istri saya, sembari menyeruput teh.
Aku mengangkat gelasku, ikut menyeruput teh. Ah, jadi begitulah menikmati hidup dari kaca mata perempuan yang menjadi bagian hidupku. Aku setuju denganmu. Mari kita bersiap dan berkemas.
Satu teman saya lagi, berpendapat, menikmati hidup dengan mengayuh sepeda. Menikmati sesuatu yang berjalan melambat. Di tengah hiruk-pikuk pekerjaan dan semua yang bergerak cepat, kita perlu melambatkan ritme. Baiklah.
Yang lain dengan mantap menjawab bahwa naik gunung patut dijajal untuk aktivitas menikmati hidup. Mendaki ramai-ramai dan berkemah. Jika sudah sampai di puncak gunung, akan terbentang semesta yang membuat manusia tampak kecil nan kerdil.
"Hei, mengapa kamu tidak memperdalam bakat musikmu?" ujar seorang kawan yang pernah saya perdengarkan lagu ciptaan saya. Musik bisa melampiaskan hasrat. Saya setuju. Namun entah pada akhirnya musik hanya saya nikmati, tidak saya mainkan.
Jika ingin menikmati hidup, lakukan apa yang kamu mau. Itu ujar satu teman lagi sembari menyeringai. Aha. Fantasi akan tubuh perempuan, memang sudah menjadi jalurnya. Menyenangkan, memang, mungkin. Namun saya ingin lebih menikmati hidup.
"Menikmati hidup itu, adalah, mari berpikir saja tentang kita. Ayo melakukan apa yang aku dan kamu inginkan, meski itu harus melepas rupiah cukup banyak. Hanya aku dan kamu," ujar istri saya, sembari menyeruput teh.
Aku mengangkat gelasku, ikut menyeruput teh. Ah, jadi begitulah menikmati hidup dari kaca mata perempuan yang menjadi bagian hidupku. Aku setuju denganmu. Mari kita bersiap dan berkemas.
Langganan:
Postingan (Atom)







