Senin, 04 Agustus 2014

ENGGAK PERNAH BISA "TIKI-TAKA"

      Salah satu “sihir” Piala Dunia adalah bikin orang seplanet ini jadi gila sepakbola. Yang separuh gila, bisa jadi gila full. Saya termasuk yang ikut tersihir, dimulai dari perhelatan event itu di Mexico 1986. Emang sih, enggak ada laga yang ditonton karena saya berumur 7 tahun waktu itu. Masih unyu pastinya.

      Tapi saya masih ingat, pertandingan final nyaris 30 tahun silam itu. Kalau enggak salah, saya lihat (sepotong) siaran tundanya dan membaca berkali-kali berita dan ulasannya. Ada pemain hebat di Argentina - tim juara1986 - yang baru setahun kemudian saya tahu dia bernama Diego Armando Maradona.


     Berawal dari hiruk-pikuk ajang ajaib empat tahunan itu, saya mulai menyukai bola. Berita olahraga di TVRI jadi satu menu wajib karena pasti ada sepak bolanya-dan tentu cuplikan gol-gol kompetisi luar. Bermain bola juga? Tentu saja masuk agenda. Cukup rutin.
      Sayangnya dan celakanya, itulah sumber masalah, tantangan, teka-teki, sekaligus misteri sepanjang masa. Entah mengapa, untuk urusan main bola, saya beneran enggak ahli. Enggak bisa mendribel, apalagi meliuk-liuk. Enggak bisa juga menyundul kencang, apalagi melakukan tendangan first time keras ke gawang ala Batistuta sampai berujung gol. 
      Menyongsong umpan lambung? Jangan banyak berharap karena 50 persen kemungkinannya pasti lepas. Meleset. Bahkan kena wajah, tangan, punggung, Lha, apa yang bisa? Ya, kayaknya cuma nendang pelan yang kadang kencang.  Untunglah saya bisa lari-lari di sepanjang laga. Lumayan.

      Beneran cukup ruwet menganalisis skil saya yang "memalukan" itu. Saya sih pasrah sama aspek yang jelas bukan talenta. Tapi mungkin, penjelasan paling masuk akal adalah memang enggak berbakat. Kalau toh dicari sisi positifnya, ya itu tadi : sanggup bermain 2x45 menit, dan cukup militan di lapangan.
      Dari dulu, posisi ideal adalah menemani kiper alias jadi bek. Statusnya : bek abadi. Selama SD, kalau main bola, saya tidak pernah melewati separuh lapangan. Kadang dimarahi teman karena saya lebih banyak ngobrol, jagongan, sama kiper sendiri.
     Skill memble, fiks. Tapi ternyata (thanks God), ada yang skill-nya lebih parah dari saya. Siapa orangnya? Hoho, dia teman sejak kelas 1 SD, dan bahkan sampai sekarang --tahun 2014--kami (kebetulan) tinggal di satu kota. Balikpapan. Dia ini bek yang lebih “ajaib” parahnya. Sering melakukan blunder yang beberapa kali berujung pada kemelut tak penting depan gawang, dimarahi setim, dan apesnya, ya kadang kebobolan.
       Kami biasanya hanya bercanda selama laga. Baru ketika ada serangan lawan, kami berlari menyongsong terbirit-birit. Ada aturan tidak tertulis : kawan saya itu yang mesti lari menghadang duluan. Sebab, persentase dia gagal menghalau bola, lebih tinggi. 

      Saya wajib mengamankan bola. Nyebelin kan tugas ini. Meski sebenarnya saya ya bukan mengamankan bola untuk kemudian memulai serangan balik. Cuma sekedar "membuang" bola sejauh mungkin. Tak peduli arahnya, keras atau pelan, yang penting bola jangan sampai mampir kaki lawan.
        Begitulah masa-masa SD yang berlal. Masa SMP pun tiba. Kami melanjutkan ke sekolah yang berbeda. Saya tetap jadi peserta rutin sepak bola, di sekolah, maupun di lingkungan rumah. Ala tarkam, nyeker. Kalau pakai sepatu ya bukan sepatu bola. Kalau teman saya itu, beneran emoh main bola. Nonton saja ogah, dia. 
       Selama masa remaja, saya lumayan intens bermain. Saya tetap jadi bek dan mungkin itu posisi kutukan. Cuman, bedanya, saya mulai penasaran maju, bahkan sampai ke depan gawang lawan. Sesekali sih. Saya hanya mau maju kalau tim dalam posisi unggul. Pengen juga dong mencatatkan nama di papan skor alias bikin gol.
        Saat yang dinanti tiba. Gol pertama terbukukan jua. Horeeee !! Saya masih cukup ingat proses terciptanya gol yang sebenarnya 100 persen kebetulan. Jadi begini : ada teman yang menendang bola ke gawang, tetapi bola membentur dengkul saya, dan meluncur masuk gawang. Ah. Gol tipikal Inzaghi banget....
        Biarlah.. Gol berbau keberuntungan, kan juga tetap gol. Kabar baiknya, setelah itu, keran gol mulai deh, terbuka. Gol kedua, tetep... masih berkat jasa teman. Berawal dari tendangan bebas, bola diberikan (ke belakang) menuju saya yang refleks menyambut dengan sepakan first time. 
      Bola meluncur lurus ke pojok kiri gawang. Masuk ! Saya malah kaget. Seumur-umur (bahkan sampai detik ini), itu adalah tendangan kena bola yang paling bener, juga paling kencang, dan bisa gol. Gol itu, cukup indah sebenarnya, karena sampai membuat kiper "terbang". 
       Dua atau tiga gol selanjutnya, saya lupa kapan dan gimana prosesnya. Namun seingat saya, pernah sekali mencetak gol lewat kepala. Keren? Tetap enggak juga, karena tinggal meng-heading, lha wong bola hasil rebutan setelah tendangan penjuru, melambung pelan, dan "milih" menuju ke kepala saya. 
       Saya hanya refleks menoleh dikit. Itu saja enggak yakin bolanya kena. Eh, gol. Jadi, ini bukan gol hasil “duel udara” satu lawan satu atau tandukan mematikan ala Olivier Bierhoff. Lha trus kiper di mana. Kipernya sudah mati langkah dong. Atau bingung menebak kemana bola meluncur. Ah, peduli amat.
      Ketika beranjak SMA, main bola tetap lanjut. Saya sempat mencetak gol saat tim mudika lingkungan bertanding melawan tim tetangga kampung sebelah. Tapi saya lupa prosesnya. Tapi yang saya ingat, gol itu lagi-lagi karena kebaikan hati teman. 

       Dalam sebuah skema serangan balik, teman saya ini mendribel bola, meliuk-liuk melewati lawan. Dia meminta saya berlari ke arah gawang lawan. Kiper akhirnya dilewati, dan dia lalu menyodorkan bola ke saya. Ini sih, namanya umpan mateng. Ibarat dilempar sepiring nasi pecel komplit sama krupuk dan teh anget, pas perut lapar.


       Bola saya coba tendang keras. Eh tidak sukses. Kena sih kena. Dikit. Bolanya menggelinding pelan ke arah gawang. Sedikit kena tiang, sebelum masuk gawang. Sempat deg-degan. Jika enggak berujung gol, saya pasti bakal menyesal seumur hidup. Meskipun, sebetulnya, kalau pun tidak berujung gol, tim tetap menang. 
       Mencetak gol adalah kebanggaan semua pemain. Namun bisa menjaga lini pertahanan agar tidak mudah ditembus, juga kebanggaan. Saya memegang etos kerja. Tak peduli gimana caranya, yang penting enggak hand ball. Tempel lawan kayak perangko. 
      Cukup gigih mengejar bola. Kalau jatuh, ya bangun lagi, dan kalau pas bangun, mikir bisa jatuh lagi. Hehe... enggak ding. Pokoknya saya mesti mengintimidasi lawan, meski pastilah lawan ketawa karena dijaga bek amatir. Tapi jangan berpikir mudah melewati. 
      Dua kaki ini pokoknya "mengayun" ke sana-sini. Bisa lari cukup cepet, ternyata sangat lumayan membantu menutup kekurangan. Lawan bisa lari, tapi enggak nyaman. Kalau kalah duel, saya kejar. Pernah saya teriak keras sampai lawan kaget. Ujung-ujungnya dia enggak fokus mengontrol bola. Dan bola langsung sepak saja sejauh mungkin... 
      Pengalaman buruk, yaa pernah nyaris dipukul, gara-gara menekel terlampau keras. Saking semangatnya. Enggak percaya kalau kaki saya yang tidak kekar ini kuat? Sebaiknya, percayalah. Ahahahahaha...

      Dalam satu masa, saya pernah mendapat julukan “si penggagal serangan”. Kata salah satu teman, saya punya intuisi membaca arah bola dan tipikal pergerakan (striker) lawan. Entah itu bener atau enggak, saya nggak yakin juga. Seingat saya, kalau pas main ditonton temen-temen cewek, saya bersemangat sekali. Biar nggak ketahuan bodo-bodo banget. 
     Pernah pula dipanggil Grasshoper, karena kaki saya yang (kayaknya) panjang dan berlarinya acak tak karuan, kayak belalang. Jangankan lawan, kawan sendiri pun mungkin sulit menebak pergerakan tanpa bola saya, hahahha.
      Skill nyaris nol, mau tak mau ya (mencoba) berani meladeni duel satu lawan satu untuk urusan bodi kontak atau rebutan bola. Di sisi lain, lha ini cuma laga skala lokal, yang tidak memperebutkan piala. Laga persahabatan, istilah kerennya. Mainnya tanpa beban.

        Kembali ke tekel-menekel dan bodi-membodi itu. Barangkali, saya rasanya perlu meminta maaf terhadap beberapa teman yang pernah saya tekel dan dorong dengan cukup keras. Percayalah saya memang tidak sengaja, atau tepatnya, saya nggak paham cara menekel yang baik. Swear.


      Tapi sekarang tidak ada yang harus saya minta maafnya, karena sudah nyaris enggak pernah main sepak bola. Sejak mata kaki retak gegara kecelakaan sepeda motor hampir 10 tahun silam, sudah tak lagi cukup oke untuk merumput. Dokter bilang, jangan, daripada nanti jadi bermasalah mata kaki saya.

  
        Terakhir masuk lapangan beberapa bulan silam, lokasinya di lapangan futsal. Cukup 30 menit, sudah merasa badan berat. Kaki serasa susah menjejak bumi. Nafas memburu seperti dikejar serombongan T-rex yang ingin "ngemil" manusia. Segera angkat tangan, minta diganti. Belum capek, sih, tapi tiba-tiba ingat jantung. Detak sudah bertalu-talu. Umur tak lagi muda.
       Sekarang, aktivitas yang terkait sepakbola hanya sebatas menonton pertandingan di TV dan membaca koran serta berita online. Dan tentu saja, meliput pertandingan, meski ya hanya sesekali. Bisa dibilang, saya sudah lama "gantung sepatu" tanpa sempat bergabung di klub manapun. Ya iya, lah. Masa ya iya dong. Mulan Jamilaaah, masa Mulan jami dong..
      Selama rentang karier bersepakbola saya yang tidak membanggakan itu, syukurlah, masih ada prestasi teraih. Apa itu? Enggak spesial sih, lantaran prestasinya (kalau itu bisa disebut prestasi) adalah : tidak pernah bikin gol bunuh diri. Lumayan, bukan?

    Akhir kata, tentu ada pesan moral. Skill bermain itu nomor dua, karena nomor satu adalah kegembiraan bermain. Dah gitu aja..

Baca Juga :
AGNETHA FALTSKOG vs ANNI-FRID FRIDA LYNGSTAD ABBA
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
THE AQUARIAN ?

Jumat, 30 Mei 2014

VEGETARIAN WANNA BE


    Adaaa satu kategori kaum penyantap tanaman yang tak pernah disebut dalam buku atau tulisan soal vegetarian. yakni vegetarian wanna be.. makhluk apa itu? ehm, ternyata, menurut penerawangan saia, kalangan ini banyaaak.
  Mengapa bisa demikan? Dan apa sih pemikiran mereka? nah ini yang menarik, dan ..asli, bikin saya ketawa ngakak. percampuran antara gembira, takjub, prihatin, bengong, ketap-ketip, dan hanya bisa bilang “Ohh…”.
    “Saya ini vegetarian kok. Paling Cuma makan ikan sekali dalam sebulan,” begitu ujar seorang pria berumur 45 tahun, yang sudah menduduki jabatan bergengsi di sebuah perusahaan yang sudah go publik dan cas-cis cus dalam berbahasa Inggris…
 “EE saya juga vegetarian looh. Makan daging Cuma pas kondangan,” ujar teman saya, perempuan centil yang secara tampang bolehlah dikasih nilai “8,5”… Doi sarjana S-1 kampus terkenaal..
“Kalau saya, sudah bisa dibilang vegetarian juga. Sudah nggak makan daging merah,” kata seorang teman saya yang rajinnya gak ketulungan. “Kalau ikan, nggak termasuk daging khan?” lanjutnya lagi.. Gubrak, mau semaput saya..
Ada pula seorang teman, yang ini malah sudah bergelar S-2 yang bilang, bahwa ia sudah mulai menjalankan pola makan vege. “Paling kalau bikin sop, Cuma dikasih kaldu dikit. Daging sudah tak saya masukkan dalam panci,”… gitu katanya.
Bukannya mau mendebatkan, namun memang, suer, pengetahuan mereka ttg vegetarian, kok ya cukup bikin saya terenyuh… bingung jadinya… Walau yah semakin menguatkan teori saya bahwa, jadi vegetarian di tanah air ini laksana alien.
Walau begitu, ada juga beberaapa orang yang asik-asik gimana memandanginya, pas bilang,”Padahal saya sudah bertekad nggak makan daging. Eh, nggak sengaja masuk warung bakso….”.. kata teman saya sambil menggaruk-garuk kepala. Dan dia,sudah sekian tahun bertekad, tapi selalu saja gagal, dengan alasan a-z, balik ke a lalu ke z, dst..
Ealah, hwarakadah

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
BASA WALIKAN
  

Jumat, 07 Maret 2014

DAGING-DAGINGAN VS DAGING BENERAN

    
Sering, sangat sering saya ditanya soal vegetarian. Dari sekian pertanyaan itu, ada beberapa yang menggelitik. Cukup "menantang" bagaimana cara dan apa jawabannya. Pertanyaan soal "daging-dagingan". 

Bole dong sedikit saya kerucutkan pertanyaan itu, menjadi kira-kira begini: "Tapi menjadi vegetarian kan berarti mengeluarkan biaya makan yang lebih mahal? Karena makannya daging-dagingan.."  

Lalu pertanyaan yang biasanya menggeling untuk mengikutinya adalah : “Mengapa daging-dagingan di warung vegetarian itu harus dibentuk seperti olahan atau daging betulan ?"

Untuk pertanyaan yang pertama, beneran membuat saya pengin ketawa. Bukan menertawakan yang bertanya, loh. Namun itu semakin menegaskan bahwa ada kondisi dan latar belakang yang mengilhami pertanyaan mereka.

Memang, tidak saya pungkiri, perihal "daging-dagingan" itu adalah pertanyaan menohok. Ibarat petinju, seperti memahami benar di mana harus melancarkan kepalan di bagian mana dari lawannya.

Begitulah pertanyaan yang kerap ditujukan kepada para vegetarian. (Hm perlu ditekankan, dalam beberapa hal, saya rada tidak terlalu cihui memakai istilah vegetarian-mendingan penyantap sayur-mayur). 

Tapi, saya pun tidak terlalu suka dengan istilah daging-dagingan. Kesannya seperti daging palsu yang tidak bisa disantap, padahal kenyataannya daging-dagingan itu lebih lezat ketimbang daging beneran. He.

Meski begitu, menjadi pusing juga memikirkan mengapa para penyantap sayuran dianggap selalu makan daging-dagingan. Seakan tidak bisa hidup tanpa benda itu. Seakan lupa bahwa banyak menu selain daging maupun ikan.

Untunglah, saya selalu paham, bahwa mereka bukan vegetarian. Dalam arti yang memang belum pernah bersinggungan dekat dengan para sayur mania. Dunia mereka adalah dunia yang masih menyantap satwa.

Wajar jika pertanyaan mereka ya demikian. Mereka yang tidak makan daging/ikan, akan dianggap aneh. Lha semua orang (nampaknya) suka sesuatu yang kenyal-amis begitu, masa saya tidak suka. 

Tentu, ketika melihat ada daging nabati (istilah resmi daging-dagingan), otak mereka merespons. Kok vegetarian masih makan benda yang bukan daging tapi dibentuk dan dibumbui seperti daging?

Semakin menemukan pembenaran ketika semua warung makan dan restoran vegetarian punya menu andalan “daging-dagingan”. Ada yang dibentuk bakso, sate, ikan, hamburger, sarden, seafood, sampai tempura. 

“Kayak sate betulan. Tapi nggak amis,” begitu pendapat seorang kawan yang selanjutnya cukup rutin menyantap menu tersebut. Dia sampai sekarang bukan vegetarian, tapi menyukai menu vegetarian.

Dengan harga yang dibanderol di atas rata-rata tarif warung makan umum, daging nabati adalah opsi menu. Dibeli ketika kocek masih lumayan terisi. Jadi, anggapan bahwa daging-dagingan mahal, memang benar.

Bagaimana tidak mahal, kalau sebagian adalah barang impor, antara lain bikinan Taiwan, China (Tiongkok), dan Malaysia. Makin mahal pula, karena daging-dagingan itu semuanya dikemas beku.

Pernah saya bandingkan, harga daging-dagingan yang semacam nugget, dengan skala berat gram yang sama, harganya mencapai 1,5-2 x lipat dari nugget betulan yang terbuat dari olahan daging ayam dan sapi. Gile.

Nah, barangkali itulah yang “terbaca” dan “terlihat” oleh mereka yang tidak vegetarian. Nggak salah koq. Hanya saja mungkin, itu tidak seperti yang terbaca dan terlihat.

Namun urusan mahal ini jadi hal relatif ketika sudut pandangnya berbeda. Bagi saya, itu adalah opsi menu. Sampeyan punya uang banyak, ya bisa beli daging-dagingan. Kalau lagi rada tongpes, sayur opsi menarik.

Menurut pendapat saya, apa pun yang dibeli adalah sama, yakni kebutuhan dan keinginan, setelah menimbang manfaat dan sekian aspek lainnya. Tapi, intinya, sama-sama mengeluarkan uang, bukan? 
Mana yang lebih mahal, antara membeli daging betulan dan daging nabati? Jika itu dilontarkan ke saya, saya akan menjawab lebih murah membeli daging nabati. 

Alasan pertama, lebih enak. Alasan kedua, saya tidak doyan daging dan ikan. Alasan ketiga, daging nabati tidak amis, dan tidak bikin darah tinggi, juga kolesterol.

Yah tentu saja saya juga mengamini jika ada yang tidak setuju itu. Mereka, mungkin menjawab dan menimpali dengan kalimat begini; “Daging-dagingan ada juga pengawetnya, seperti nugget dan frozen food lain, dst..”.

Saya setuju. Namun sudut pandang saya tentu dan sah-sah saja berbeda dengan mereka yang masih karnivora. Bagi saia, daging-dagingan hanya sebatas menu. Karena itu saya juga masih cukup sering membelinya.

Di satu warung vegetarian, saya nggak protes harga bakso seporsi kecil dibanderol Rp 14.000. Kalau mau nambah sebutir bakso yang terbuat dari olahan batang jamur itu, harganya Rp 1.000 sebutir. 

Biasanya nambah lima butir, jadi seporsi bisa hampir Rp 20.000. Makan bersama istri, total jendral Rp 40.000. Ditambah minum, dan kerupuk, maksimal Rp 50.000 harus dipaksa keluar dari dompet.

Tapi saya tidak protes harganya. Kondisi ini, sebenarnya kan sama seperti semua orang juga nggak pernah protes pada mahalnya harga bakso daging yang seporsi Rp 10.000-Rp 20.000. Atau seloyang pizza yang dipatok Rp 70.000 dengan tambahan topping.

Orang-orang juga nggak protes dengan harga seporsi menu kepiting yang dibanderol Rp 150.000-Rp 160.000. Ditambah makannya pun ribet, harus memakai pemotong. Kita juga tidak protes dengan harga secangkir kopi di warung café yang minimal Rp 15.000.

Lalu, tentang hal berikutnya, mengapa daging-dagingan dibentuk sama seperti daging betulan. Susah juga menjawab, karena saya juga kadang memandang heran pada udang-udangan dan ikan-ikanan. 
Okelah kalau itu bakso, karena memang mau dibikin gimana lagi kalau nggak bundar. Namun saya pernah terperangah juga melihat ada ikan nabati yang dibentuk seperti ikan utuh. Warnanya pun dibikin mirip.

Namun, karena sudut pandang saya beda, saya melihat itu sebagai kehebatan membuat makanan olahan. Jujur, saya nggak melihat pada bentuk, tapi memang daging-dagingan itu enak dan cihui. 

Tapi itu juga saya lihat sebatas strategi menarik konsumen. Ini kan seperti bagaimana sepotong daging kambing yang amis, akhirnya bisa tersaji indah di piring. Dan semua tahu bahwa keamisan dagingnya tertutup karena proses pengolahan dan pembumbuan.

Sah-sah saja strategi mengolah bahan baku makanan. Tak ada yang harus diributkan. Pada akhirnya, semua berpulang ke perut masing-masing. Jadi karena ini perut saya, terserah mau saya masukkan apa ke dalamnya.
Sesimpel itu saja, kok.






Rabu, 05 Maret 2014

LEBIH BAIK NAIK VESPA

        Motor itu akhirnya sampai, setelah nyaris setahun teraih, namun terhambat sejenak untuk memboyongnya. Akhirnya sukses mengoleksi si semok berpelat AB. Vespa !! Skuter langsung distempel kirim ke Balikpapan, urusan balik nama menyusul belakangan.


       Pagi hari, bergegas saya ke menuju kantor pos. Menjumpai si semok terbalut karung goni yang dijahit di sana-sini, dan tempelan busa di banyak sudut. Si semok terparkir diam di sudut ruangan. Tjakep. Tetapi begitu hendak dituntun, tuas rem-nya ketahuan patah. 
      Tambah berkerut nih kening, ketika melongok ke kolong, melihat bensin bercampur oli pun menetes kencang dari mulut knalpot.
      Ah, proses pengiriman berdampak mengewakan. Sudah diduga, sih, meski ini melebihi perkiraan. Tak mungkin "jemari" Vespa Sprint 77 patah begitu saja, kalau nggak jatuh lumayan keras. Ah, bapak-nya di sana, jelas tak mungkin disalahkan. 
    "Dicari saja ya barang itu, nanti nota bisa diklaimkan," begitu katanya bapak petugas dengan ramah. Hedeh, ya sutra-lah, apa boleh buat. Resiko mengirim benda berbahan besi-baja-kaku-berat macam semok memang kayak gini. Lebih dari 120 kg berat si Semok, rentan cidera di perjalanan.
    Namun masalah tidak selesai di sana. Semok skuter ini nggak mau menyalak galak seperti gonggongan anjing di deket rumah, meski starter sudah dipancal sampai sol sandal menipis dan dengkul menuju pegel. Mesinnya tiarap. Dicekoki seliter bensin plus oli campur, tetap bungkam.
    Terpaksa berkeliaran dulu mencari bengkel, yang akhirnya ketemu setelah sekian jam kemudian. Doi segera masuk "UGD" untuk mencari akar masalahnya di mana. Dua hari menjalani opname bedah tulang dan perut, kuda besi lumayan sehat. Meski tuas rem belum terpasang. 
     Agenda berikut adalah berburu tuas rem itu. Untunglah bisa menemukan. "Asli, yang ini bikinan Danmotor," kata seorang teman yang punya usaha aksesoris Vespa di kawasan Kampung Timur, Balikpapan. 
     Malam itu juga saya sambangin ke rumah si mas itu. Tuas didapat, esoknya langsung mencelat ke bengkel. Satu tuas patah, dan satu tuas sebelahnya disimpan. Tuas baru yang mengkilat karena sapuan krom ini, terpasanglah sudah.
     Vespa sembuh. Setidaknya cukup waras diajak jalan-jalan santai. Namun, karena dilahirkan 37 tahun silam, kondisinya perlu perbaikan di sana-sini. Apalagi dapatnya seken, dari seseorang yang tentu tak diketahui standar perawatannya.
     Perkabelan, yang jelas, perlu dibereskan agar tidak kusut dan semrawut. Jantung karbu pun perlu disetel manis, agar tidak pilek dan bersin. Demikian juga detak pengapian di platina, musti presisi. 
     Seorang kawan merekomendasikan sebuah bengkel. Tidak ada salahnya dicoba. Maka, meluncurlah saya ke bengkel itu, dan meninggalkan si Vespa seharian untuk dibedah. Menjelang senja, saatnya membawa pulang. 
      Namun baru 400 meter melaju, mesinnya mendadak ngadat. Memaksa saya menuntun benda seberat lebih 130 kg ini melewati tanjakan yang menguras stamina dan energi. Jadi cukup paham mengapa Vespa kurang populer di kota ini dan nggak terlalu diminati anak muda.
     "Platinanya beres, juga karbu dan kelistrikannya" ujar salah satu mekanik di bengkel itu, setelah mengutak-atik 30-an menit. "Coba dicopot mblenduknya, mungkin konslet," kata teman si mekanik itu.
     Benar saja, doi nurut dan langsung menyalak riang. Kedua mekanik yang sudah kenyang pengalaman ngubrek Vespa itu pun lalu tertawa. beberapa kabel yang mungkin berpotensi konslet, dibalut plester.  Ah, cuma perlu gituan...
     Si bapak mekanik lalu menepuk-nepuk kepala dan tebeng doi. "Masih kaleng. Tadi sudah ada yang menawar. lho, Mas. Tapi nampaknya nggak bakal dilepas," ujar si bapak tertawa. "Sampeyan tentu menyukai Vespa,". 
    Hm tidak salah si bapak ini. Saya kenal Vespa sejak kecil. Bapak miara endog 61 sejak zama SMA. Lalu si endog inilah yang rutin saya bawa saat kuliah di kampus selatan Selokan Mataram. Saya nggak jago utak-atik mesin sih. Tapi bapak yang cukup mahir berbengkel ria ala rumahan.
     Kembali ke cerita awal. Usai dari bengkel, malam hari itu juga doi kembali berulah. Sempat ngadat di halaman parkir sebuah minimarket. Dikasih bensin, masih ogah menyala. Setelah sekian menit merenung, iseng saya tarik tuas chooke lebih panjang. Dan, mesin pun menyala.    Vespa memang motor yang aneh. Terlebih lagi vespa keluaran jaman 60-80 yang belum ber-CDI maupun belum ber-sein. Kendaraan ini sangat ribet jika diandalkan harian. Mesti inget menuang oli ketika bensin disetor ke tangki, bersihin busi, sampai nyetel kabel kopling. Mesti sedia tali kopling cadangan pula.
     Saat melewati lubang, Vespa pun rentan terguling karena ukuran rodanya kecil. Kalau hujan juga mesti ekstra hati-hati, sebab rem tromol-nya bisa jadi (mendadak) tidak terlalu pakem. Grip gas dan kopling pun bisa ikutan licin.     Belum lagi ditambah ketiadaan lampu sein depan belakang, dan spion yang posisinya kurang ideal-karena menyesuaikan dudukan baut di setang. Mesin di bokong kanan, juga butuh penyeimbang karena pantat mesti rada digeser ke kiri. Itulah mengapa penampakan skuteris dari belakang seperti "berat" ke kiri.
       Seorang teman nyeletuk mengapa benda lawas ini tetap nekat saya beli. Semakin masuk akal juga jika mengingat ongkos kirimnya pun sejuta lebih. Tentang ini, susah menjelaskan. Urusan selera, sering rumit diterangkan, bukan?
      Memelihara benda uzur ini, yah bisa dibilang adalah semata kegemaran, bukan kebutuhan. Untuk pembenaran diri, ehm, barangkali analoginya saya miripkan dengan mereka pengoleksi bokeka figure.
       Atau seperti penggemar tas atau game PS. Vespa ini paling harganya hanya 25-30 kali lipat dari boneka figure termurah yang ukurannya cuma setinggi ponsel candybar. Juga lebih mahal dikit dari game PS.
    Jadi, sah-sah saja kok saya memiliki motor dari negara asal pizaa tersebut. Lagipula, ada unsur memorinya. Banyak, malah. Meski jika dipresisikan, memorinya bersentuhan dengan Vespa lain.
     Oya, si print 77 "berkawan" dengan si endog. Pernah satu garasi. Bedanya, si endog, a.k.a Vespa 61 ini, duluan menghuni rumah sejak tahun 1961. Dulunya, endog dibawa bapak sejak SMA hingga kuliah. Sementara itu, si Sprint ditebus tahun lalu. Bedanya lagi, si endog di Jogja, sedangkan si Sprint mangkal di Balikpapan.
     Teramat banyak memori terkait endog yang satu itu. Saking banyaknya bingung mana yang paling asyik diceritakan. Dulu si endog kawan kuliah, sekarang kawan mengukur jalan jika pas mudik saja. Kang Adi wedhok alias istri selalu ngotot membonceng vespa itu karena sensasinya dapat. Ahai.     Sebenarnya, dulu, tak ada orang yang melirik Vespa 61 ini. Ketika saya menungganginya, perasan sih, tidak ada cewek yang menoleh dan minta diapelin. Jangankan itu, minta diboncengin aja, tidak ada yang mendaftar. 
    Apalagi kalau penyemplaknya sering jongkok akibat Vespa mogok. Ya saya itu, hehe. Apalagi juga ketika melihat lelaki itu mengunci Vespa tersebut di parkiran kampus, dengan ...kunci mobil yang berbentuk tongkat.
     Istri saya saja masih suka terbengong-bengong kala mendengar cerita itu. "Beneran tuh skuter endog pernah dikunci pakai kunci stang stir mobil?" tanya dia. "Lalu mobilnya mana, kan ada kuncinya?" tanya dia lagi. Emang punya kunci mobil harus punya mobil?
     Ah, dia tidak tahu bagaimana dulu Vespa telah menemani saya. Sama seperti si biru Yamaha 75 mengiringi. Dari mengantar kuliah, praktikum, hangout, sampai membawa mesin ketik. Pernah juga saya bawa untuk apel ke rumah seorang cewek. Macet persis di gang rumahnya.      Vespa adalah tentang kerepotan dan mesin yang suka mogok. Tetapi, anehnya, saya bisa menikmati semua itu. Meskipun, tentu saja harus "iklas" karena sandal semakin tipis dan pergelangan tangan pegal.
     Alasan ini tak mudah dipahami sebagian orang. Kecuali mereka yang pernah dalam hidupnya memelihara benda itu. Dan merasakan unik hentakannya serta tatapan mata pengendara lain. Setidaknya itu "pembenaran" para skuteris. 
     Bagi kami, motor Yamaha memang Semakin Di Depan, Honda Lebih Unggul, Suzuki adalah The Way of Life, sedagkan Kawasaki Let The Good Times Rolls,... tetapi..Lebih Baik Naik Vespa... Dan inilah penampakan vespa masterpiece itu, dan tentu saja bersama penyemplak sejati Vespa, my lovely dad



BACA JUGA :

LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK 
NGGUDEG DULU
7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA     
AKU DI BELAKANGMU, TIGER
LINTAS GENRE, SATU LAGI KUALITAS MUSIK ABBA
THE AQUARIAN ?  

     

Jumat, 03 Januari 2014

TENTANG HONDA TIGER

       Suatu ketika pada medio 90-an. Ada satu kuda besi yang begitu menyita perhatian para penggemar motor. Tiger, nama pendatang baru di belantika otomotif Indonesia, muncul untuk menggusur era motor cowok yang sebelumnya dipegang GLpro maupun RX King.

    Beginilah tambang Tiger itu. Si Macan langsung jadi primadona berkat tampilan keren, performa mantap, dan waktu yang tepat. Lebih dari cukup untuk mendongkrak tampilan pemiliknya. Dipakai pria disukai wanita, kira-kira begitu efek "si Macan".

      Beberapa kawan, tetangga, kenalan, hingga temennya tetangga, mulai nampak berkeliaran naik Macan. Sambalbawang cuma bisa menyimpan brosur-nya, memandangi berkali-kali, yang lalu dibuang. Harga Macan yang dua kali lipat harga motor bebek, adalah alasan utama doi tak terbeli.

    Sekian waktu memendam hasrat, pucuk dicinta ulam tiba. Seorang teman pemilik Macan memberi saya kesempatan. Sebentar saja, sih, durasinya, namun setidaknya Ringroad Gamping, Sleman menjadi saksinya. 

    Sejenak, tongkrongan sendiri, bebek dua langkah keluaran 1976, terlupakan. Hahaha. Perbedaan kapasitas mesin, antara si wekwek dan macan, memang ibarat langit dan bumi. Macan dibekali mesin berkubikasi 200 cc, sementara si bebek Yamaha pitung sambalbawang cuman 75 CC. 




     Kembali ke geber-menggeber "harimau" tadi, speedometer sempat menunjukkan angka 120. Rekor top speed berkendara menggunakan motor, tercipta sudah. Untung saja, badan sambalbawang yang masih tipis kala itu tidak terempas angin dan terbang.
      
           Ngomongin si Tiger ini memang tiada habis. Doi sempat dilahirkan berulang-ulang hingga 20 tahun sesudah edisi perdana. Dengan tampang yang berganti-ganti, dan teknologi yang berbeda. Tiger versi karburator pun dibuang, ganti injeksi. Ah, jadi teringat dulu sempat marak pencurian karbu Tiger. Maklum saat itu pun harganya sejutaan.
     
     Dari semua tiger yang beredar setidaknya 15 tahun, yup, tiger edisi perdana yang sepertinya paling keren. Memang ini sih selera. Masih menjadi impian sambalbawang untuk menebusnya, kelak. Hehehehe. Meski tentu saja, setelah GL-pro duluan parkir di garasi.


 baca juga:
7 MOTOR BEBEK TERBAIK SEPANJANG MASA
TENTANG HONDA (1) DARI PISPOT SAMPAI PITUNG
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK 
         

    

Rabu, 01 Januari 2014

DENGERIN 'TUH PETASAN DENGAN KUPINGMU SENDIRI !!


      Setelah lewat tiga jam, pukul 03.00 tanggal 1 Januari 2014, langit mulai reda dari bunyi petasan yang memekakkan telinga. Setelah beberapa jam sebelumnya sudah terhantam badai bunyi petasan, telinga saya dapat steril kembali.
      Sejujurnya, tidak ada yang terlampau menarik dari perayaan tahun baru. Mungkin, tidak perlu juga dirayakan. Namun memang pesona perayaan pergantian tahun memang demikian. 
      Setidaknya, tetap memelintir gas motor menyisir jalanan kota meski tak lebih 1,5 jam. Sedangkan teman saya, sesama murid padepokan "peremuk tulang" berkomentar, "Mau liat kembang api, tuh banyak di langit".
     Menyoal kembang api, dalam skala besar, yakni petasan, saya sebenarnya tidak setuju itu sebagai hiburan. Bahkan menurut saya, petasan bersuara bak petir muncul mendadak ini, tidak indah.
      Sejak kecil sambalbawang tidak pernah tertarik dengan petasan yang kayak gitu. Saya lebih suka kembang api air mancur dan kembang api tetes. Alasannya sih simpel, yakni lebih murah dan durasinya lama.
    Tidak suka main petasan bukan berarti tidak "berjiwa" nakal. Sejarah masa kecil sambalbawang, tepatnya di rentang kelas 1-4 SD, cukup diwarnai rentetan kisah mbeling. Mulai dari beberapa kali hilang di pasar, hilang di pasar malam, kesasar, sampai dolan ke Madukismo, dan terlambat pulang ke rumah.
      Di pabrik gula itu, sambalbawang sering meloncat meraih batang-batang tebu di bak belakang truk, juga saat lori berjalan (pelan). Pernah pula manjat pohon jambu, terpeleset, dan sampai jatuh. Atau ngebut pakai sepeda, dan mendadak "terjun bebas" masuk selokan. Juga nyemplung ke sawah. Belum termasuk urusan main yang ketika pulang pasti dalam kondisi baju kotor.
      Pernah juga dijewer pak guru karena ketahuan bolos. Tapi ke-mbelingan terbesar sambalbawang adalah tetap saja nonton siarang langsung Liga Champions pada dini hari, meski esoknya menjalani Ebta/Ebtanas. Ibu, tentu saja marah-marah.  
      Ketika menempuh pendidikan di TK, sambalbawang juga hampir drop out sekolah gara-gara menerapkan syarat harus ditemani ibu saat di kelas. Buset, kan. Siapa yang sekolah, coba. Dan ibu mengalah. Bahkan ibu pernah meminta agar sambalbawang jangan dikeluarkan dari sekolah.
      Pengorbanan seorang ibu. Yah, kalau tidak diantar dan ditunggui, sambalbawang waktu itu beneran enggak mau sekolah. Mendingan dirumah atau keluyuran pakai sepeda. Kenakalan saya terhenti ketika ibu saya pingsan, kecapaian. 
      Dari semua kenakalan masa kecil, tak ada yang membahas soal menyalakan petasan. Usut punya usut, ternyata itu dipicu kisah seram. Jadi, ada anak, mungkin seumuran saya, jarinya putus karena nyumet mercon. 
    Nah, apa jadinya jika itu menimpa sambalbawang. Sebagai lelaki kecil yang cukup gape bermain kelereng, dan suka bikin mainan gerobak pakai kulit jeruk bali, dan main karet, kabar itu tentu sangat menakutkan. 
       Menyesal,kah? Oho,ho, ho, tidak. Bangga, malah. Karena sambalbawang bisa berkontribusi menyelamatkan para orangtua yang ketakutan dengan suara mercon. Barangkali bisa kita tanya pendapat mereka. 
     Sambalbawang punya ayah, punya ibu, yang selalu deg-deg-an mendengar suara mercon. Sumpah, itu suara membuat keringat dingin bercucuran. Pernah ayah sampai lari ke luar rumah, menghardik anak-anak yang menyalakan mercon. 
    Tentu saja, sambalbawang mendukung ayahanda. Saya tahu mereka, anak-anak, bayi-bayi itu, belum paham seberapa pentingnya orang tua. Dan mungkin, orangtua mereka dulu juga menyumet mercon. 
    Sambalbawang setidaknya bisa bangga karena tak pernah menyalakan mercon yang memekakkan telinga. Tapi sekaligus prihatin karena mereka yang nyumet mercon, malah menutup telinga sendiri. Bukankah suara keras tujuannya? Kok malah nggak didengerin? 
    Kalian, manusia yang tidak logis. Maaf saja, ya kalian memang tidak rasional.  

BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
BASA WALIKAN
BLOGER BALIKPAPAN RAYAKAN HARI BLOGER NASIONAL 2019

 



Selasa, 10 Desember 2013

GITAR, SKILL BERGITAR, BUKU LAGU, DAN SUHU

      Niat untuk membawa dua buku lagu kesayangan ke Balikpapan, kesampaian juga setelah tiga tahun memendamnya. 
      Satu buku, penuh tulisan tangan, berisi lirik puluhan lagu yang pernah hits di era 80 sampai 90-an, sebagian lengkap dengan kunci-kunci gitarnya. Ada lagunya Ebiet, Sheila on7, Gigi, Titi DJ, Java Jive, sampai Dewa19. Ini semuanya tulisan sambalbawang saat SMA dan awal kuliah. 
     Buku kedua adalah fotokopian buku saku berisi lagu-lagu The Beatles. Seukuran separuh majalah. Bersampul biru muda dengan gambar keempat personel band asal Liverpool itu. Gambarnya sudah rada kabur. Sambalbawang masih ingat, di mana memfotokopinya. Toko di selatan Mirota Kampus, Jogja. Saat itu masih kelas III SMP, usia yang lagi getol-getolnya belajar gitar dan berburu lagu.
    Kedua buku itu bagian dari sekian buku lirik lagu yang sambalbawang tulis di rentang waktu SMP hingga kuliah. Menjadi semacam "pegangan wajib" bagi sambalbawang yang saat itu tengah mendalami ilmu bergitar-demi eksistensi diri. Belajar secara otodidak.  Ahaaa.
     Tentu, sambalbawang punya beberapa "guru" gitar yang tidak resmi. Mereka adalah teman-teman sendiri, masih terbilang tetangga rumah. Dari mereka, sambalbawang mencomot skill bergitar, sepotong demi sepotong, dari menggenjreng ceria, memetik senarnya, hingga mulai memelototi solo gitar.  
      Dari satu "guru" tadi, sambalbawang mulai belajar menerjemahkan not balok ke nada-nada gitar. Dari guru lainnya, latihan menyimak cara memencet senar untuk memainkan intro Sweet Child O'Mine-nya GNR. Penting ini, bro, agar jari-jari enggak kesrimpet ke kolong senar. Maklum masih pemula.
    Dari guru yang lain, yang jelas fanatik cinta mati sama Nirvana, betotan bas di lagu Come As You Are, terselesaikan sempurna. Dari teman bersepeda, dan ini masih termasuk suhu, he, terserap skill memainkan KKEB-nya Andre Hehanusa.


    Yap, sambalbawang menyerap skill bergitar mereka secara potongan. Tidak utuh. Bukan memantengin dari pagi sampai malam, namun memperhatikannya sekilas. Bertanya detil, mana senar yang dipetik duluan, tabu, lah, yaw.
     Kerja keras berlatih, itu wajib hukumnya untuk dikerjakan di rumah. Sebelum ketemu para suhu tadi, ya sudah mulai berjuang. Bersenjatakan sebuah gitar bolong merek Arista.
    Gitar ini warisan pacar kakak (yang skarang statusnya sudah jadi kakak ipar). Ehm, seingat sambalbawang, gitar itu pertama dimainkan sewaktu SMP kelas 1. Namun baru ditelateni begitu kelas II SMP. Ketika tangan mulai "sampai", maklum gitarnya gede. 
    Agar menambah semangat, satu demi satu stiker ditempel ke badan gitar. Dari yang bergambar Batman, tiga personel Nirvana, Shinchan, Donald Bebek, logo coklat impor, stiker identitas SMA, sampai kuliah.
    Sepertinya masih kurang, sambalbawang sematkan juga stiker tanda sudah bayar pajak motor tahunan.Stiker SMA kakak saya, tempelin juga. Total jendral, kayaknya ada 30 stiker yang menutup lapisan cat coklatnya.
     Maka, latihan gencar pun menjadi rutinitas. Durasinya bisa berjam-jam tiap hari. Aktivitas ini mengikis habis lapisan kulit ujung jari, sehingga sidik jari pun sepertnya pernah terhapus beberapa "garis". 
      Aktivitas berjam-jam, seperti anak autis karena bisa setenga hari ngumpet di kamar itu, tentu saja berbuah omelan ortu. Tak usah dihitung intensitasnya. Juga tak usah dihitung berapa puluh senar sambalbawang bikin putus.
     Kembali ke buku-buku lagu tadi, satu demi satu mulai terisi potongan lagu, juga salinan lirik dan kunci gitarnya. Entah sudah berapa ratus lagi sambalbawang dapat dan tempelkan, atau tulis. 
    Dari majalah, koran sendiri, koran tetangga, sampai menyalin dari sampul kaset teman. Hehe. Benar-benar gigih.  Nah, setelah sekian tahun berlatih, saatnya sambalbawang unjuk gigi di depan publik. Tentu saja.
      Lokasinya adalah halaman depan rumah, sembari duduk di bawah pohon mangga. Begitu ada kerumunan orang berjalan di depan rumah, senar mulai digenjreng lumayan keras. Setidaknya mereka sejenak menoleh. 
     Lagu andalan yang pertama dikuasai (standar) adalah Bengawan Solo-nya Gesang, dan Don't Forget To Remember-nya Bee Gees. Lalu Guantanamera. Pokoknya lagu yang kunci gitarnya berkisar C, F, G.
     Hari demi hari, kemampuan bergitar otomatis bertambah meski sebenarnya secara perlahan mirip kura-kura. Mulai nongol "kapal" di ujung jemari, pertanda skala kegigihan berlatih. 
     Dari sekadar asal genjreng, bisa menyetem, lalu berganti ke petikan. Meningkat lagi, mencoba "mempersiskan" dengan lagu asli. Beberapa lagu sambalbawang rekam. Kadang hanya bagian solo gitarnya direkam.
     Langkah selanjutnya adalah mencoba-coba. Satu demi satu lagu bisa mulai digitarin seperti aslinya. Hore. Eurekaaaa. Kepercayaan diri tumbuh pelan-pelan. Mulai berani mengajak teman berduet.
      Mulai banyak nongkrong, sambil menenteng gitar, skill pun bertambah. Sampai akhirnya menyewa studio musik di bilangan Pengok Yogyakarta. Sambalbawang mengayuh sepeda 7 km ke tempat itu. Uang sewa ditanggung rame-rame.
     Karena ada teman lebih gape main gitar, sambalbawang harus "iklas" kebagian memainkan bas. Sering juga dikasih posisi teriak-teriak di depan mikrofon, meski sebetulnya ya dipaksa jadi vokalis mendadak, karbitan, gegara lama kami enggak dapat vokalis "murni". Saat itu menu lagu utamanya Nirvana dan Green Day.  
     Berawal dari itu pula, ajakan berlatih bareng mulai ada. Skala kecil, kalau enggak dibilang skala mungil. Akhirnya sambalbawang mencicip juga pentas perdana. Bangga dong, meski itu hanya di acara 17-an kompleks perumahan. 
     Dan pentaslah sambalbawang dengan menenteng bas. Bikin seneng sih, tapi juga enggak bisa dimasukkan secara bangga ke "curicullum vitae" perjalanan musik. Tapi manggung ditonton warga, itu tetap pengalaman mendebarkan, dan berharga. Sayang banget enggak ada dokumentasi. 
      Oke cerita kita lanjutkan. Beranjak kuliah, sambalbawang bertemu suhu gitar lain, yang lebih memacu adrenalin dalam bergitar. Namun nampaknya, inilah level bergitar saya mencapai maksimal. Tak bisa mengalahkan sang suhu, dan tentu saja sepertinya enggak bisa naik lagi levelnya. 
      Tak apalah, setidaknya semua sudah sesuai target. Salah satu target tersebut adalah, bisa ikut audisi. Nama audisinya adalah.... rahasia. Gagal total, hasilnya. Sebel dan rada jengkel, meski mengamini lantaran skil juga masih belepotan. Mana di awal lagu sempat suara basnya raib. Huff. Skip-skip cerita gagalnya. Yang jelas, dibalik kepahitan, itu adalah pengalaman yang asyik-gila-hore.
      Ketika lulus kuliah dan mulai bekerja, skill bergitar sambalbawang makin terkikis karena kesibukan menyita. Waktu dan tenaga sudah habis rontok di jalanan, di atas dua roda, dan juga saat di kantor. Intensitas bergitar pun meredup. 
     Gitar yang penuh stiker itu pun, semakin jarang sambalbawang peluk. Jika dulu sering harus tidur sambil memeluk gitar--agar bisa tidur--kini gitarnya sering tidur sendirian. Berhari-hari sering menganggur, malah kadang sampai berdebu karena seminggu enggak digenjreng. 
     Namun untunglah sebagian sisa kejayaan belum pudar. Setidaknya, masih bisa bikin kagum orang lain meski ya itu sang istri. Hahaha. Cukup, lah. Semakin asyik, karena gitar itu pun masih ada dan terawat.  Juga ada buku berisi lagu-lagu tersebut, untuk bisa sejenak memanggil memori. 
    Dan, empat tahun silam, sambalbawang bawang membeli satu gitar. Yang ini untuk dipakai istri, dan memang sengaja beli yang ukurannya enggak gede. Di rumah kini ada dua gitar. Jadi kami bisa berduet gitaran sembari bernyanyi. Aha.



BACA JUGA ARTIKEL LAIN :
LILAC, SEPENGGAL CERITA TENTANG PASSION BERMUSIK
MENGAPA HARUS NGEBLOG
THE BEATLES FOREVER
JURASSIC WORLD VS JURASSIC PARK